NARUTO © Masashi Kishimoto

LOVE IS © Evellyn Ayuzawa

Title: Love Is [Chapter 4]

Author: Evellyn Ayuzawa (Elva Agustina ManDa)

Genre: Romance, Hurt, Drama

Length: Chaptered

Rated: M (for Mature Content)

Cast:

Sasuke U. x Sakura H. x Shikamaru N.

Warning: OOC, Typo, EyD Amburadul, etc.

Special Thanks to:

Happy Reading!

NO BASH, NO PLAGIAT, RnR PLEASE!

Hati-hati Typo bertebaran ^_^

Story Begin

.

.

.

.

.

-Normal Pov.-

"Shi... kha...," Sakura sangat terkejut melihat sosok lelaki yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya, setelah menghilang selama satu tahun dan Ia kira Shika telah meninggal dunia.

Shika menatap Sakura yang hanya terbalut dengan kain putih tipis di atas sofa, Ia memejamkan matanya lalu lekas berbalik menuju pintu keluar apartemen itu. Namun tak berapa lama Shika kembali memasuki apartemen itu, berjalan menuju tempat Sakura duduk. Sasuke yang mengetahui bahwa Shikamaru melangkah mendekati istrinya, Iapun segera menghalangi Shikamaru dengan menahan lengannya.

"Cukup," ucap Sasuke datar namun terdengar dingin.

"Minggir!" Shikamaru pun menghempaskan tangan Sasuke dari lengannya dan hendak melanjutkan lagi langkahnya mendekati Sakura.

"Dia milikku sekarang." Lagi-lagi Sasuke menghentikan Shikamaru –masih tetap dengan mencengkram lengan lelaki itu.

Mata Shikamaru berkilat, Ia mulai marah. Emosi yang Ia tahan sedari tadi mulai tersulut. Shikamaru kembali menghempaskan tangan Sasuke dan mendorongnya hingga tersungkur ke belakang. Melihat peluang untuk melanjutkan langkahnya, Shikamaru segera melangkah mendekati Sakura. Ia melepaskan jas yang dipakainya lalu memakaikannya pada Sakura.

Sakura sedikit bingung dengan apa yang dilakukan oleh Shikamaru. Ia hendak menolak Shikamaru namun di sisi lain Ia takut. Shikamaru membimbing Sakura untuk berdiri dan menggenggam tangan kanan gadis itu. Namun tak lama Sasuke ikut menggenggam tangan kiri istrinya.

"Lepaskan istriku!" Sasuke sudah tak dapat mengontrol emosinya. Ia seketika marah melihat tangan Shikamaru menyentuh tangan istrinya.

"Kau yang lepaskan!" Shikamaru juga tak mau kalah. Ia juga sudah emosi karena lagi-lagi Sasuke menghalangi jalannya untuk membawa Sakura.

Sakura menarik lengan istrinya dengan kasar hingga membuat istrinya sedikit meringis kesakitan. Karena tak mau kalah, Shikamaru juga ikut menarik lengan Sakura ke sisinya. Sasuke dan Shikamaru saling tarik menarik tangan Sakura dan semakin membuat gadis itu meringis kesakitan.

"BERHENTI KALIAN BERDUA!" Akhirnya sang pemilik tangan mengeluarkan suaranya. Meskipun sudah berteriak namun tetap saja suaranya tak sekeras suara kedua pria tersebut. Namun hal itu sudah cukup membuat kedua lelaki yang menarik tangannya itu berhenti.

"Dia yang memulainya!" Shikamaru menunjuk Sasuke yang berada di seberangnya.

"Dia istriku! Kau yang seharusnya melepasnya!" Sasuke menarik Sakura dan mendekap gadis itu. Membuat Shikamaru kembali emosi. Shikamaru hendak menarik Sakura dari dekapan Sasuke.

"Sudah cukup!" Kata-kata itulah yang kembali keluar dari mulut Sakura. Membuat Shikamaru tak meneruskan apa yang ingin Ia lakukan yaitu menarik Sakura.

Sakura tetap pada dekapan Sasuke. Ia menatap Shikamaru yang tampak marah namun matanya terlihat sendu dan berkaca-kaca. Sakura sangat tidak tega melihat ekspresi Shikamaru seperti itu, namun jika tetap diam pasti kedua lelaki itu kembali menariknya ke sisi masing-masing.

"Shika, maaf..." Sakura mengalihkan pandangannya dari Shikamaru dan memilih untuk menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.

Seperti tersambar petir yang berkekuatan besar dan serasa terhempas begitu saja ke dasar jurang yang terdalam itulah yang dirasakan Shikamaru saat ini setelah mendengar kata maaf dari gadis yang sangat Ia rindukan. Bukan ini yang seharusnya terjadi, yang Shikamaru inginkan adalah pergi bersama Sakura dan memulai hidup baru bahagia selamanya.

Shikamaru merasa sangat kecewa dan marah mendengar hal itu. Ia memejamkan matanya untuk meredam emosi yang sudah ingin diluapkannya. Setetes air mata jatuh begitu saja dari kedua mata Shikamaru. Ia mengusap kasar air mata tersebut lalu melangkah keluar dan meninggalkan apartemen itu.

Setelah suara pintu tertutup seketika itu pula tangisan Sakura terdengar. Sasuke semakin memperdalam pelukannya pada tubuh gadis itu. Ia tahu bahwa Sakura tak sekuat itu. Ia tahu betapa Sakura sangat merindukan sosok Shikamaru. Ia juga tahu bahwa rasa cinta gadis itu pada Shikamaru masih sangat besar.

Sasuke mencoba menenangkan gadis itu yang dirasa sudah terlalu lama menangis. Ia mulai dengan membisikkan kalimat-kalimat yang indah pada pendengaran gadis itu dan mengucapkan berbagai macam kata-kata cinta. Sampai Sasuke mengucapkan,"Cintaku lebih besar dari cinta lelaki itu." Seketika tangisan Sakura berhenti. Sasuke terlihat lega akhirnya Sakura berhenti menangis. Namun ternyata dugaannya salah bahwa Sakura berhenti menangis karena kata-katanya melainkan gadis itu pingsan.

Sasuke sedikit terkejut karena tiba-tiba tubuh Sakura sedikit berat dan tangannya yang tadinya melingkar erat di pinggang Sasuke terlepas. Ia merenggangkan dekapannya untuk melihat wajah gadis itu. Sakura memejamkan mata, Sasuke tak berpikir kalau gadis itu tertidur, Ia tahu bahwa gadis itu pingsan. Karena jika Sakura tertidur pasti masih sedikit terdengar suara sesenggukan dari gadis itu karena habis menangis. Namun kali ini seketika gadis itu berhenti menangis dan tidak ada suara apapun darinya.

Segera Sasuke menggendong gadis itu dan membawanya ke kamar mereka. Ia membaringkan tubuh lemas tak berdaya milik istrinya itu lalu menyelimutinya. Ia keluar dari kamarnya dan tak berapa lama Sasuke kembali dengan membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil.

Sasuke duduk di samping tubuh istrinya yang kini masih tak sadarkan diri. Ia menyibakkan rambut yang menutupi wajah Sakura lalu lekas menyeka wajah dan tubuh gadis itu dengan handuk yang sudah Ia basahi dengan air hangat.

Setelah selesai menyeka tubuh Sakura, Ia beranjak menuju lemari yang tak jauh darinya dan membuka lemari itu. Ia mengambil kemejanya dan kembali pada Sakura. Ia segera memakaikan kemejanya pada tubuh polos istrinya.

Sasuke mencium kening istrinya dan menatap sayang pada wajah tenang istrinya yang kini tengah terlelap. Lalu membelai pelan puncak kepala gadis itu. Setelah itu Ia beranjak keluar dari kamarnya menuju kamar mandi. Setelah bersiap-siap, Sasuke mengambil kunci mobilnya dan keluar dari apartemen.

Ia harus menemui Shikamaru.

.

.

.

.

.

"Apa maumu sekarang?" Tanya Sasuke pada pemuda di hadapannya yang tadi pagi muncul di apartemennya dan dengan seenaknya menyeret istrinya untuk ikut pergi namun tak berhasil. Ya pemuda tersebut tak lain adalah Shikamaru –mantan kekasih istrinya.

Ya, sekarang Sasuke dan Shikamaru tengah berhadapan di salah satu bangku kafé klasik yang terletak tak jauh dari gedung tempat tinggal Sasuke. Sasuke bersyukur karena ia tak perlu repot-repot mencari tahu di mana Shikamaru berada, karena saat Sasuke keluar dari apartemennya, ternyata pemuda tersebut jelas-jelas sedang menunggu Sasuke tepat di depan pintu apartemen dengan tubuh yang disandarkan di tembok dan kedua tangan terlipat di dada.

"Ck! Bukankah kau tahu apa yang aku mau," jawab Shikamaru datar tanpa mengalihkan tatapan tajam dari pria yang tadi menanyainya.

Sasuke balik menatap pemuda tersebut tak kalah tajam, "Jika yang kau mau adalah Sakura, sayang sekali –" Sasuke menyeringai tipis lalu melanjutkan "–tak akan aku biarkan. Dia milikku. Coba saja kau rebut dia dariku, jika kau sudah tak sayang nyawamu."

"Kau! Kau memang brengsek! Setelah apa yang kau lakukan padaku untuk merebutnya dariku, kini kau dengan lantang mengancamku agar tak merebut dia darimu, dasar orang kaya tak tahu malu!" Shikamaru mulai terpancing emosinya, ia menatap tajam pria yang menurutnya sungguh brengsek dan tak tahu malu itu.

Sasuke tak lagi menatap Shikamaru dengan tajam, melainkan tatapan yang sendu. Shikamaru menatap kesal pria di depannya itu, ia tetap memandangnya dengan tajam.

"Maaf. Maafkan aku..." dan kalimat yang keluar dari mulut Sasuke membuat Shikamaru tersentak tak percaya mendengarnya.

"Maaf, Nara. Tapi aku mencintainya, sangat mencintainya."

"Apa maksud kata maafmu itu? Dan bagaimana bisa kau sangat mencintainya kalau nyatanya Sakura bahkan tak mengenalmu sebelum perjodohan kalian."

"Maafkan aku karena telah mencelakaimu, itu adalah satu-satunya cara agar Sakura bersedia menikah denganku. Yaitu dengan lenyapnya dirimu, Nara."

Shikamaru tak menjawab. Ia lebih memilih menunggu Sasuke menjelaskan pertanyaan keduanya.

"Aku dan Sakura adalah teman sedari kecil," ucap Sasuke tanpa menunjukkan ekspresi yang berarti –datar dan dingin.

"Tapi Sakura tak mengenalmu, bahkan dia sangat membencimu saat ia tahu akan bertunangan denganmu."

"Biarkan aku menyelesaikan ceritaku," Shikamaru mengangguk.

"Usiaku baru 7th saat kami pertama kali bertemu, dia berusia 2th. Karena ibu kami sangat dekat, jadi aku atau Sakura sering bertemu. Dari situ kami mulai saling mengenal, dulu dia gadis kecil mungil yang sangat merepotkan, tapi itulah daya tariknya. Kaupun pasti juga tahu itu, bukan?" Shikamaru hanya bergeming menanggapi Sasuke.

"Waktu usiaku 18th aku sekeluarga pindah ke Kanada. Dan aku melanjutkan studiku di sana. Setelah lulus kuliah, aku kembali ke Jepang untuk mengambil alih perusahaan cabang di sini. Karena perusahaanku bekerjasama dengan perusahaan keluarga Sakura, keluarga kami kembali dekat. Dan kedua keluarga setuju untuk menjodohkan kami. Aku senang, sangat senang. Tapi hatiku sakit saat tahu dia menolakku secara tak langsung. Dia mengacuhkanku dan selalu memandangku penuh kebencian. Padahal kami sangat dekat dari kecil, lalu aku diberitahu ibuku..." Sasuke berhenti berbicara lalu menatap Sehun.

"Ibumu memberitahu apa?" tanya Shikamaru merasa penasaran.

"Sakura mengalami amnesia."

"APA? Kau bercanda!" Shikamaru tak percaya sampai-sampai ia sekarang tak sadar kalau posisinya berdiri dengan kedua tangan di meja.

"Tenanglah, Bodoh! Kau membuat kita menjadi pusat perhatian," ucap Sasuke datar.

Shikamaru yang kembali tersadar mulai menjaga kembali sikapnya dan membenahi posisinya kembali duduk. "Maaf."

"2th setelah aku pergi, di usianya yang menginjak 14th dia mengalami kecelakaan dan karena kecelakaan itu membuatnya amnesia."

"Apa itu permanen?" tanya Shikamaru kembali.

Sasuke mengangguk lemah, "Sepertinya iya, tapi tak menutup kemungkinan jika suatu saat dia akan mendapatkan kembali memorinya yang hilang. Bahkan ia sempat mengalami kesulitan berbicara dan mendengar. Ia juga awalnya tak mengenali siapa dirinya dan orang-orang terdekatnya."

"Mengapa dia tak memberi tahuku?" Shikamaru menunduk dan bergumam lirih.

"Dia tak mengetahui kalau dia amnesia. Dokter yang menanganinya menganjurkan agar tak ada yang memberitahunya kalau ia mengalami amnesia. Alasannya untuk menghindari kemungkinan hilangnya kendali cara kerja otak." Shikamaru mengangguk lemah, mengerti maksud Sasuke.

"Kumohon, Nara. Lepaskan Sakura, biarkan dia bahagia bersamaku," ucap Sasuke tegas, tak ada nada bimbang yang terdengar dari nada bicaranya.

Setelah mengakhiri kalimatnya, Sasuke bangkit dari duduknya dan bergegas meninggalkan Shikamaru tanpa mendengar jawaban dari mulut lawan bicaranya terlebih dahulu. Tak sekalipun ia menengok ke arah Shikamaru yang masih terdiam di tempatnya.

Sasuke tak langsung kembali ke apartemennya, ia memutuskan untuk mengunjungi tempatnya bekerja barang sebentar. Menjadi seorang pewaris perusahaan yang dikelola keluarganya, menuntutnya untuk terus mengontrol lajunya perusahaan agar tak mengalami apa saja hal-hal atau masalah yang tak diinginkan, misalnya merugi.

.

.

.

.

.

Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia menatap langit-langit di ruangan itu, sembari mengingat-ingat apa yang terjadi beberapa waktu lalu dan kenapa Ia tiba-tiba terbangun di dalam kamarnya dan telah memakai baju.

Setelah beberapa lama mengingatnya, hati Sakura terasa ngilu dan sakit, juga terasa sedikit sesak. Merasa nafasnya sedikit memburu akhirnya Sakura mendudukkan posisinya dari semula berbaring. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Ia berpikir terlalu banyak tidur membuatnya pusing.

Sakura melihat jam dinding yang ada di nakas sebelah tempat tidurnya. Ini sudah jam sembilan malam. Ruangan ini terasa sepi dan gelap. Ia melihat ke samping dan tidak ditemuinya Sasuke.

"Di mana dia?" Sakura bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak mencari suaminya. Namun setelah Ia cari di seluruh ruangan tetap tidak menemukan sosok suaminya.

"Kemana sih dia?" Sakura berjalan tak menentu, Ia mondar-mandir ke sana-sini dan tetap tak menemukan keberadaan Sasuke. Lalu Ia berjalan menuju dapur dan mengambil air minum di lemari es. Matanya menangkap sesuatu yang menempel di pintu lemari es, "Apa ini? Catatan?" Sakura membaca tulisan yang ada di lembaran kertas kecil itu.

Maaf, aku pergi sebentar. Jika kau lapar bukalah tudung makanan yang ada di meja makan. Aku sudah membuatkanmu makanan. Kalau kau bangun dan makanannya sudah dingin kau bisa memanaskannya.

With Love : You Husband

"Your Husband?" Sakura sedikit tersenyum dengan tulisan itu. Sungguh lucu Sasuke menulis namanya dengan istilah your husband.

Sakura mencium sekilas kertas catatan tersebut lalu kembali menempelkannya di lemari es. Ia berjalan mendekati meja makan dan membuka tudung nasi dan melihat ada beberapa macam jenis makanan.

"Kenapa semuanya terbuat dari sayuran? Haah..tak apa, akan tetap aku makan." Sakura mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi dan mulai memakan makanan yang telah tersedia.

Setelah selesai membereskan meja makan, Sakura duduk di sofa sambil menonton tv dan sekaligus menunggu suaminya pulang. Namun beberapa waktu kemudian Ia merasa bosan. Nyatanya menonton tv saja bukanlah hal yang menyenangkan. Lantas Ia mematikan tv lalu membaringkan tubuhnya di sofa tersebut.

Sekilas Ia melirik ke arah jam dinding yang berada tak jauh dari tempatnya berbaring. Beberapa kali Ia menghela nafas berat dan menghembuskannya kasar,"kenapa dia belum pulang? Sudah pukul setengah dua belas malam."

Sakura bangkit dari posisinya, "Sebaiknya aku mandi dulu sebelum tidur." Segera setelah itu Ia melangkahkan kakinya ke kamar. Mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.

Tak berapa lama setelah Sakura memasuki kamar mandi -untuk mandi tentunya- terdengar suara pintu terbuka dan seorang pria masuk dengan masih menggunakan mantel tebal berwarna hitam,"Aku pulang." ucap Sasuke sesampainya di dalam apartemen.

Sasuke segera melepas sepatu beserta kaos kakinya dan menggantinya dengan sandal rumah, Ia juga melepas mantelnya. Ia langsung menuju dapur dan mengambil minum di dalam lemari es. Ia tak sengaja berbalik, melihat meja yang sudah bersih dan peralatan makan yang sudah kembali ke tempatnya, kemudian tersenyum cerah,"Syukurlah, Ia sudah bangun."

Sasuke tidak langsung menuju kamar setelah minum melainkan berbaring di sofa dan menyalakan tv. Karena menurutnya tidak ada yang menarik di tv, akhirnya tv itupun dimatikan. Sasuke terlentang dengan tangan kiri menyangga kepalanya. Sedangkan matanya tertutup, nampak sangat lelah.

"Aku tidak akan pernah melepaskan Sakura untukmu, Nara. Aku akan membunuhmu sebelum kau dapat menyentuh Sakura." Sasuke membuka kedua matanya yang terlihat berkilat menahan emosi yang tersulut.

Kemudian Ia bangun dari sofa menuju kamarnya. Setelah memasuki kamar, Sasuke menatap sekeliling karena Ia sempat melihat ke ranjang dan tak mendapati istrinya berbaring. Lalu Sasuke menangkap suara gemericik air dari dalam kamar mandi, lantas Ia tersenyum lega.

Sasuke mengetuk pintu kamar mandi,"Sakura, kau di dalam?" tanyanya.

"Ah... kau sudah pulang?" Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Sakura malah balik bertanya dengan sedikit berteriak.

"Emm...," Sasuke hanya bergumam menjawab pertanyaan istrinya lalu melangkahkan kakinya menuju lemari untuk mengambil piyama tidurnya setelah memakai piyama tersebut, Sasuke membaringkan tubuhnya di ranjang sambil menunggu istrinya selesai mandi.

Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Sakura keluar. Ia tersenyum melihat suaminya yang kini tengah berbaring, menatapnya dengan senyuman yang menawan di bibir suaminya itu.

"My husband, selamat datang," sambut Sakura pada suaminya yang telah pulang masih dengan senyuman yang tetap menghiasi wajahnya.

Sasuke tersenyum membalas kata sambutan dari istrinya. Ia melambaikan tangannya pada Sakura agar mendekatinya. Sakura menggeleng pelan menolak lambaian tangan suaminya. Sasuke mengerutkan keningnya tak mengerti dengan tolakan Sakura, "Kenapa? Aku merindukanmu, Sayang."

"Aku mau berpakaian dulu," jawab Sakura singkat lalu segera melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian seadanya yang ada di sana.

"Aku lebih suka melihatmu memakai itu." Sasuke menunjuk pada tubuh Sakura.

"Ini hanya handuk, Sasuke-kun. Bukan baju yang bisa dipakai sebagai pakaian." Sakura kembali menuju kamar mandi.

"Emm... Mau kemana lagi?" tanya Sasuke yang melihat istrinya berbalik dan melangkah pergi.

Sakura menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Sasuke, "Mengganti handuk ini dengan ini." Ia menunjukkan baju yang masih terlipat pada Sasuke.

"Kenapa tidak di sini saja gantinya?" Sasuke tahu pertanyaannya ini begitu bodoh dan tak bermutu namun Ia hanya ingin sedikit menggoda istrinya saja. Sasuke melihat semburat merah di wajah istrinya yang masih menatapnya. Ia bangkit dari posisinya lalu berdiri dan melangkah menuju tempat istrinya yang masih berdiri diam.

"Hmm?" Sasuke mendekap pinggang istrinya yang hanya mengenakan handuk sepaha itu dari belakang. Ia menenggelamkan wajahnya pada leher bagian kanan istrinya dan mulai menghisap aroma manis yang ada pada tubuh istrinya. Seingatnya sabun yang ada di kamar mandi mempunyai wangi anggur dan bukan aroma manis seperti coklat yang menguar pada tubuh istrinya ini.

"Ehnnhh..." Sebuah erangan kecil berhasil lolos dari mulut Sakura yang diakibatkan oleh perbuatan suaminya itu.

Sasuke segera tahu bahwa istrinya sudah terpancing oleh perlakuannya itu. Lantas Ia membalikkan tubuh Sakura. Kini mereka berdua saling berhadapan. Sasuke tak tahan melihat raut muka istrinya yang memerah. Terlihat sangat manis namun juga sangat menggoda.

Sasuke mendekatkan wajahnya pada istrinya dan tak lama kemudian Sakura dapat merasakan sentuhan ringan pada bibirnya. Terjalin sangat indah dan pelan. Sangat lembut tautan bibir Sasuke yang memanggut bibirnya, seakan tak ingin menyakiti bibir ranum itu. Sesekali lidah mereka yang bertemu dan saling memainkan satu sama lain juga memberikan sengatan-sengatan tersendiri pada perasaan mereka yang meminta lebih.

Pakaian yang berada dalam genggaman Sakura terjatuh begitu saja di lantai. Karena kedua tangannya terangkat untuk memeluk leher suaminya. Seakan lepas kendali, lumatan-lumatan yang tadinya halus dan lembut kini telah terganti dengan gigitan-gigitan kecil juga hisapan-hisapan yang menggairahkan.

Tangan Sasuke tidak tinggal diam. Ia mengelus punggung Sakura dan sesekali meremasnya pelan. Sudah tak tertahankan lagi untuk segera melanjutkan hal ini. Sasuke mengangkat kedua kaki Sakura dan mengapitkannya pada tubuhnya tanpa melepas tautan bibir keduanya, membawanya menuju ranjang dan menjatuhkan tubuh Sakura dengan lembut pada permukaan kasur yang empuk itu.

Dengan tidak sabaran, Sasuke menarik satu-satunya kain yang melekat pada tubuh istrinya dan melemparkannya sembarangan. Ia melihat wajah Sakura yang terlihat tersiksa karena menahan desahan yang beberapa kali mendesak keluar.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

A/N: Assalamu'alaikum... gak apa ya aku salam walaupun bikin FF lime *hehee*

FF ini sudah pernah saya post di akun fb saya, namun dengan cast Sehun EXO, Kris EXO sama OC, dengan judul yang sama. Karena saya masih baru di FFn jadi saya ng-remake FF ini. Maaf kalau ada nama yang salah, itu semata-mata kelalaian saya. Maaf kalau pendek terus update yang lemoot banget!

Karena di FFn saya baru, boleh dong minta kritik dan saran dari senpai dan reader semua! Maaf ya belum bisa bales review kalian –saya tidak sempat. Sekian dan terima kasih, Wassalamu'alaikum.