Permata Ungu

Summary:

Tak peduli seberapa cerdik Byakuya melindungi adiknya, Aizen menemukan jalan untuk mendapatkan Rukia. IchiRuki, AiRuki. AU.

Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.

Chapter 5

.-.-.

Shirayuki bagai gambaran wanita dalam dongeng terkenal. Kecantikannya diibaratkan Putri Salju. Rambutnya biru pucat, garis wajahnya klasik dan unik. Wanita itu cantiknya bukan main, dan sesuai julukannya, dia mirip Putri Salju –secara harafiah. Walau keelokan parasnya tak tertandingi, judesnya setengah mati, sikapnya dingin dan tidak bersahabat.

Mau mencoba menggodanya dengan rayuan gombal? Jangan harap akan mendapatinya tertunduk dan tersipu malu. Bukannya bisa menaklukkan Shirayuki, mereka yang nekat bisa tewas berdiri karena aura mematikannya yang bermakna 'Dekati aku dan mati.'

Para pengagumnya hanya bisa mengamatinya dari jauh. Bahkan berhayal atau berfantasi tentangnya pun para pria itu surut nyalinya. Mereka yang pernah mencoba merayunya kembali seperti anjing dengan ekor di antara kaki.

Shirayuki tidak menggubris perhatian pengagumnya. Satu-satunya yang menarik perhatiannya adalah mengasuh dua bocah besar yang tinggal bersamanya. Salah satu bocah itu, Renji Abarai, sudah dua puluh tiga tahun dan sejak tahun-tahun sebelumnya telah mandiri dan bisa diandalkan. Sedang yang satu lagi –dan inilah alasan kenapa dia menghabiskan sisa hidupnya di salah satu tempat di Karakura yang tenang- Rukia Kuchiki, nona muda yang dipasrahkan olehnya.

"Kau bertemu pemuda aneh?" cetus Shirayuki datar.

"Ya, pemuda tengik yang mengatai Rukia 'pixie'," jawab Renji tak sabar. Siang itu mereka makan siang di restoran yang jadi satu dengan penginapan yang mereka sewa. Rukia dan Shirayuki menempati kamar yang sama, sedang Renji di kamar depannya. Setelah makan mereka naik ke kamar Shirayuki. Rukia tertidur, jadi dua orang lainnya mengobrol di ruang sebelum beranda.

"Terlebih, Ichigo –itu namanya- juga menyewa penginapan ini. Aku agak was-was, jangan-jangan dia orang Aizen," Renji melirihkan suaranya.

Sama seperti Renji, Shirayuki tahu alasan dibalik disembunyikannya Rukia. Diam-diam wanita cantik namun galak itu prihatin. Ketika ibunda Byakuya hamil lagi, orang-orang di keluarga Kuchiki mati-matian menyembunyikan berita kehamilan nyonya mereka. Ketika berita itu bocor dan tidak bisa ditutupi lagi, orang dalam mulai panik dan menyiapkan yang terbaik untuk sang nyonya dan janin dalam kandungannya.

Yang menyedihkan, sesaat setelah melahirkan Rukia, Nyonya Kuchiki menghembuskan napas terakhirnya. Ditengah duka yang menyelimuti, tindakan ekstrim terpaksa diambil. Dengan berat hati, bayi yang baru lahir itu segera dibawa keluar dari rumah megah itu.

Dan bersamaan dengan meninggalnya Nyonya Kuchiki, isu bahwa bayinya ikut meninggal juga sengaja dihembuskan. Menjadikan Byakuya sebagai keturunan terakhir Kuchiki. Generasi keempat sejauh ini.

Byakuya masih sangat muda saat kejadian itu terjadi. Adik bayi yang dinantikannya akhirnya menanggung dampaknya. Rahasia mengenai perjanjian generasi kelima yang harus dikembalikan ke Hueco Mundo diturunkan secara turun temurun. Bahkan setelah tahu pun, mereka tutup mulut rapat-rapat, berharap jika tidak ada reaksi dari mereka keluarga Aizen akan mengasumsikan batalnya kesepakatan yang usianya sudah lebih dari seratus tahun itu.

"Aku belum bisa memastikan hal itu," ujar Shirayuki lugas. Dihirupnya napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Sejauh ini keluarga Aizen tenang-tenang saja. Tapi Byakuya memperingatkan kita untuk ekstra waspada. Kelihatannya Sousuke Aizen orang yang tidak mudah dikelabui, dan berbeda dengan pendahulunya."

.-.-.

Ichigo nyengir lebar ketika sore di hari yang sama dia menjumpai Rukia melihat-lihat bunga di taman penginapan. Gadis itu begitu serius sampai-sampai tidak menyadari Ichigo yang sudah berdiri di belakangnya.

"Hai, Pixie," sapa Ichigo riang.

Rukia mengerjabkan matanya. Sesaat dia berpikir warna oranye menyilaukan itu mirip matahari, tapi bahkan rambut itu berwarna keemasan unik tanpa perlu ada pantulan dari sinar matahari. Barulah setelah mata Rukia turun sedikit, melongok sepasang bola mata yang warnanya tidak bisa dia jabarkan, hidungnya mengernyit tidak suka. Tanpa mempedulikan Ichigo, dia meninggalkannya.

"Dasar pemarah. Belum sampai umur tiga puluh wajahmu bakal dihiasi keriput dan cepat tua, lho," tukas Ichigo ringan.

Rukia menarik topinya merah muda pucatnya dalam-dalam. Walau kesal luar biasa mendengar Ichigo, dia bertekad tidak akan menyerah dan meladeni kata-katanya.

"Iya, deh. Aku minta maaf sudah memanggilmu 'pixie'," kata Ichigo akhirnya. Dia mengira Rukia masih akan terus mengacuhkannya. Nyatanya gadis itu berbalik dan menatapnya dingin.

"Kumaafkan," balasnya pedas. Dia sudah hendak terus berjalan ketika Ichigo tersenyum. Senyumnya aneh. Walau bibirnya tertarik ke atas, kerutan di antara alisnya tetap nampak. Membuat Rukia terkesima.

"Baiklah, Rukia," ucap Ichigo. "Duduk di sini, yuk," ajak Ichigo. Kebetulan taman itu bersambungan dengan restoran yang berada di luar, yang dinaungi atap bambu.

Tanpa berkata lagi mereka duduk di kursi.

"Apa itu?" tunjuk Rukia.

"Ini?" Ichigo mengangkat dua kotak biru dari kertas karton. "Masker dan sarung tangan," jawabnya.

"Untuk apa?" tanya Rukia lagi, keheranan.

Ichigo membuka dua kotak itu, mengeluarkan masing-masing selembar dari kotak itu. Pemuda itu mengibarkan sebuah sarung tangan karet dan masker hijau muda bertali putih. Tanpa sadar Rukia mengambil kotak itu, mengamati informasi yang tertera. Ada lima puluh masker dan seratus sarung tangan.

"Untuk bertugas, dong," jawab Ichigo seakan pertanyaan Rukia sama wajarnya dengan kenapa orang menggoreng telur dengan wajan dan bukannya dengan panci. Melihat kilatan penasaran yang belum terpuaskan di mata Rukia, Ichigo melanjutkan. "Aku seorang perawat. Tahu kan? Yang merawat orang sakit," terang Ichigo, sedikit khawatir Rukia tidak tahu arti kata 'perawat'.

Ichigo tersenyum puas melihat ekspresi terkejut terang-terangan di wajah Rukia. "Tidak menyangka, ya?" desaknya.

"Mana mungkin orang sepertimu seorang perawat?" Rukia mendengus keras-keras. "Bisa tambah parah pasienmu."

"Hmph, tentu saja aku profesional kalau sudah bertugas," balas Ichigo sambil memasukkan kembali sarung tangan dan maskernya.

"Terus, untuk apa sebanyak ini?" tunjuk Rukia lagi.

"Masker dan sarung tangan adalah benda sekali pakai," urai Ichigo panjang lebar. "Sangat tidak disarankan memakai sarung tangan yang sama kalau sudah digunakan untuk satu pasien. Dan kalau masker," kini Ichigo mengangkat bahu. "Yah, pokoknya harus sekali pakai."

Rukia terdiam, mengamati Ichigo menata kotak itu beserta buku ke dalam tas besar. "Kenapa bukan dokter?" tanya Rukia.

"Karena aku perawat. Pertanyaanmu tidak bermutu," Ichigo tertawa mengejek.

"Maaf kalau pertanyaanku tidak berbobot," sergah Rukia panas. Tapi rupanya dia tidak betah berlama-lama marah. Ichigo adalah teman pertamanya, selain Renji dan orang-orang di rumah Kuchiki tentunya. Rasanya sebal sekaligus menyenangkan ada orang lain yang bisa diajak berdebat dan saling mencemoh. Seperti...normal.

"Ayahku seorang dokter," tutur Ichigo tanpa ditanya. "Ada klinik kecil di rumah. Aku memutuskan menjadi perawat untuk melengkapi bantuan yang bisa kuberikan di klinik."

"Apa bedanya?"

"Dokter dan perawat?" Ichigo melihat Rukia mengangguk. "Dokter diajari untuk mengobati orang sakit, sedang perawat dibekali ilmu bagaimana merawat orang. Subjeknya tidak sama."

Rukia mengangguk. "Apa yang kau lakukan di sini? Kerja?"

Ichigo menggeleng. "Liburan, menyegarkan diri sebelum mulai bertugas lagi. Kalau kau, apa yang kau lakukan?"

"Eh?" Rukia terperanjat. "Aku...bercocok tanam," jawabnya sekenanya. Di rumah terdapat petak luas tanah. Biasanya Rukia menanaminya dengan seledri, tomat, bunga. "Katamu tadi kau sudah mengunjungi beberapa tempat?" tiba-tiba Rukia teringat ucapan Ichigo tadi pagi, ketika pemuda itu menuduhnya pixie.

"Yah, waktu studi. Aku dan teman-temanku praktek di beberapa tempat, di beberapa rumah sakit. Kadang tepat di tengah keramaian kota, dan di lain waktu di daerah yang jauh dari keramaian. Cari pengalaman, Rukia."

Jika Ichigo pergi ke beberapa tempat demi pengalaman, Rukia demi kesenangan. Byakuya lebih dari mampu untuk membawanya ke tempat jauh, dari yang dingin sampai yang eksotis.

Tiba-tiba perhatian Ichigo terarah ke topi lebar Rukia. "Kenapa kau pakai topi terus?" tanyanya langsung.

"Alergi matahari. Dan karena aku suka," tandas Rukia pendek. Rupanya Ichigo menangkap pesan enggan dalam nada suaranya, karena dia tidak menyinggung lagi soal itu.

.-.-.

"Kau tidak pernah melepaskan mata dari Nona Muda, rupanya," tegur halus suara wanita.

Renji mengerutkan dahi. Dia duduk tersembunyi di balik bayangan pohon palem dan beberapa tanaman dalam ruangan. Teguran Shirayuki tidak membuatnya mengalihkan matanya.

"Itulah tugas keberadaanku, Shirayuki," kata Renji pelan. "Melindungi Rukia dan mengawasi siapapun yang berada di dekatnya sampai ada bukti orang itu tidak berbahaya."

Shirayuki mendesah. Renji boleh saja terlihat kasar tapi dia teguh. Shirayuki terenyuh.

Renji tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, tapi prioritasnya sekarang adalah Rukia. Bukan hanya Rukia sebenarnya. Dua orang menempati top prioritas sepanjang hidupnya. Bukan dirinya, tapi Rukia dan orang itu.

.-.-.

"Rukia Kuchiki, harta paling berharga keluarga Kuchiki. Kakaknya, Anda sudah tahu sendiri, sangat merahasiakan keberadaannya. Tinggal dengan seorang wanita bertampang cantik dan laki-laki berambut seperti nanas," Gin menuturkan fakta yang diketahuinya.

Aizen mengangguk sedikit, mengawasi Rukia yang sedang mengobrol dengan seorang pria muda berambut oranye menyala dari restoran seberang. Kulitnya yang agak kecoklatan kontras dengan kulit putih pucat Gin. Terlebih ketika sinar matahari sore jatuh menimpanya, membuat wajah dan lengannya bersinar.

Mengikuti arah pandangan tuannya, Gin segera menyahut. "Byakuya Kuchiki sangat protektif terhadap adiknya, dan pemuda itu baru dikenalnya tadi. Nona Kuchiki belum bertunangan atau menikah, Tuanku."

"Kau tahu, Gin, aku mengerti kenapa kakaknya berusaha mati-matian melindunginya," kata Aizen kalem, namun matanya penuh kalkulasi. "Tidak ada yang rela menyerahkan anggota keluarganya pada orang asing. Apalagi jika gadis itu adalah satu-satunya keluarga yang tersisa yang dimiliki Byakuya. Tapi bagaimanapun aku akan membawanya ke Hueco Mundo, dengan persetujuan atau dengan paksaan."

"Menculiknya sekarang?" tanya Gin.

Aizen tertawa kecil. "Bukan seperti itu. Aku tidak akan mengambil tindakan sedrastis itu. Jangan bebani kepalamu dengan hal itu sekarang, Gin. Kita telah berusaha keras untuk menemukannya. Sekarang ini," pria itu meminum tehnya. "Marilah kita nikmati keadaan yang tenang ini sebelum badai datang."

.-.-.

TBC

A/N: Kemarin my brother beli masker dan sarung tangan dua kardus kecil. Jumlahnya bikin saya geleng-geleng kepala. Dan penjelasannya seperti yang diungkapkan Ichigo di atas. Bau sarung tangannya sangat, ugh, sangat-tidak-enak-sekali. Kebetulan sekali profesi Ichigo tidak jauh beda dengan pekerjaan ayahnya, dan karena ada sumber yang bisa saya tanyai, akhirnya saya bisa tahu sedikit tentang apa saja yang dilakukan Ichigo sebagai perawat.