Permata Ungu

Summary:

Tak peduli seberapa cerdik Byakuya melindungi adiknya, Aizen menemukan jalan untuk mendapatkan Rukia. IchiRuki, AiRuki. AU.

Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.

Chapter 6

.-.-.

Aizen selalu menikmati teh dimanapun dia berada. Di rumahnya saat santai, atau bahkan saat keadaan genting yang menuntutnya mengambil keputusan besar. Menurutnya, teh bisa menstimulasi pikirannya supaya tetap berpikir jernih.

"Sampai kapan kita di sini?" tanya Gin. Wajahnya tetap seperti rubah, hanya saja kini ada sedikit kerutan di alisnya.

"Beberapa hari lagi," jawab Aizen seraya menghirup udara dalam-dalam.

"Anda selalu memilih tempat seperti ini," komentar Gin.

Aizen tersenyum kecil. "Ironis, bukan? Sudah jauh-jauh dari Hueco Mundo, masih saja menjatuhkan pilihan tempat yang udara dan letak geografisnya tak jauh beda dari keadaan rumah kita," katanya menanggapi.

"Saya tidak keberatan," sanggah Gin buru-buru.

"Kapan kau pernah keberatan?" ada kilat geli dalam mata coklat Aizen. "Kau selalu oke kemanapun kita melanglang buana."

Gin nyengir, selebar yang bisa dilakukan bibirnya. Dia pria santai yang selalu menikmati situasi apapun.

Aizen menyibakkan rambut, mengamati orang-orang yang berlalu lalang menaiki kuda atau mereka yang berusaha menapaki jalan mulus dari air terjun dengan berjalan kaki. Matanya memperhatikan kepala-kepala berambut beraneka ragam, tapi tak ada yang diam-diam dicarinya.

Gin di depannya hanya menyeringai ketika seorang perempuan takut-takut duduk di pelana seekor kuda hitam. Baju putihnya berkibar diterpa angin, dan menilik tubuh kerempengnya, wajar saja Gin memakai baju tebal beberapa lapis.

Orang-orang di sini berkulit pucat seperti Gin. Tapi Aizen, yang memang terlahir dengan pigmen cukup, nampak agak mencolok. Kalau dia menyibak lengan bajunya, biasanya orang akan terpaku menatap kulit kecoklatannya. Tidak pucat dan nampak sehat. Membuatnya kelihatan berkilau ketika sinar matahari menimpanya.

"Mungkin kapan-kapan kita pergi ke daerah panas saja," usul Aizen sembari mengawasi rekan yang lebih muda di depannya. "Jadi dalam sehari kau tidak perlu mengenakan baju yang normalnya dipakai orang selama seminggu," sindirnya.

Gin terkekeh. Matanya semakin menyipit, seringainya semakin lebar. "Saya tidak kurus kerontang, kok," elak Gin, yang percuma saja berbohong.

"Kemana larinya makanan yang masuk ke perutmu itu," lanjut Aizen.

"Tapi Anda tidak suka tempat panas, Tuan," ujar Gin.

Aizen mengangguk. Beberapa helai rambut coklatnya ikut bergoyang dan jatuh mengenai matanya. Mungkin berhubungan dengan tempat tinggalnya, pria itu lebih menyukai tempat sejuk.

"Tuanku, benarkah legenda mengenai Hisana, bahwa tangannya ampuh menumbuhkan pepohonan?" tanya Gin tiba-tiba.

"Menurutku tidak sedahsyat itu," komentar Aizen setelah beberapa saat. "Beberapa orang dikaruniai tangan hijau, apapun yang ditanamnya bakal tumbuh. Banyak juga yang meski sudah berusaha keras, bahkan rumpun bunga liar yang susah payah ditanamnya malah mati."

"Jadi, Anda tidak percaya?"

Aizen tersenyum simpul. "Aku percaya Hisana bertangan hijau, tapi jangan lupa, tanah di tempat kita sangat subur. Jadi, menurutku dua faktor itu ikut andil dan sama-sama berkontribusi."

"Saya pikir Anda berniat mengambil Rukia karena alasan pertama," ungkap Gin.

"Tidak, aku hanya ingin menarik yang seharusnya berada di Hueco Mundo. Terlebih, ilmuwan kita sudah cukup hebat. Dia bisa mengatasi kendala yang bisa muncul dari tanah pertanian kita."

Ilmuwan yang dimaksud adalah seorang pria berkacamata modis dari gading gajah, dan berambut permen yang sangat percaya diri. Meski sering tinggi hati dan perkataannya selembut tusukan belati, dia orang yang kompeten di bidangnya. Szayel Apporo Grantz pintar menciptakan formula pupuk yang tepat dan menyilangkan tumbuhan. Obsesi yang belum kesampaian, Szayel ingin menumbuhkan bibit nanas yang berbuah semangka, dan paprika rasa tomat.

.-.-.

Renji memasukkan sehelai surat ke lengan bajunya, mengabarkan keadaan mereka pada Byakuya. Setelah bertanya letak jasa kurir pada pemilik penginapan, dia turun.

Pria berambut mencuat seperti nanas itu selalu berhati-hati. Bahkan pesanan atau barang dari Seireitei untuk Rukia tidak pernah dialamatkan ke rumah. Selalu mampir di tempat Hanataro, yang merupakan kerabat Unohana, rekan Byakuya yang tahu cerita dibalik diasingkannya Rukia. Barulah setelah barang sampai di kediaman dokter kecil itu, Renji membawanya pulang.

Renji menapaki tangga batu alami yang terakhir ketika Rukia mendongak dari balik topi ungunya. "Mau kemana?" tanya gadis itu.

"Ada perlu sebentar, Rukia," jawab Renji. "Hei, Ichigo, titip Rukia beberapa menit."

"Beres," Ichigo nyengir. "Kujaga teman kecilmu ini."

Tentu saja Renji tidak langsung percaya pada seseorang yang baru dikenal beberapa hari. Di jendela atas sana, Shirayuki memasang mata.

"Apa ini?" Rukia bergidik ngeri melihat beberapa gambar yang memperlihatkan organ dalam manusia. "Kau mempelajari beginian?"

"Yup," balas Ichigo santai. "Inilah yang sehari-hari kupelajari," tukasnya seraya melambaikan helaian kertas yang dijepit.

Rukia tidak ingin melihat gambar-gambar organ manusia maupun jenis-jenis penyakit lagi. Ichigo tertawa melihatnya.

"Kenapa kau bawa-bawa buku seperti ini? Katamu ini waktu liburanmu," tanya Rukia tak bisa menahan rasa ingin tahunya.

"Takut lupa kalau tidak dibaca terus," jawab Ichigo.

Rukia sudah berkali-kali bertemu dengan orang bertampang aneh, tapi tidak ada yang menimbulkan rasa penasaran, dan beberapa perasaan lain, seperti yang ditimbulkan Ichigo. Gadis itu tidak mengerti. Tiap melihat wajahnya, rasanya detak jantungnya berdegup berkali-kali lipat. Ada semacam desir aneh yang mampir ke dada dan perutnya saat matanya menatap Ichigo.

Diam-diam ini mengganggu Rukia.

"Kau sakit ya?" tegur Ichigo tiba-tiba.

Rukia tergagap. "Apa?"

"Wajahmu mendadak aneh," komentar Ichigo.

"Kau yang aneh!" sembur Rukia tidak mau kalah. Ichigo hanya mengangkat bahu.

Pria itu sudah sering mendengar kata 'aneh' dialamatkan padanya. Rambutnya berwarna aneh, dan kulitnya yang lebih gelap dari kebanyakan orang di rumahnya juga tidak biasa. Tapi mendengarnya dari mulut Rukia membuatnya agak kesal. Dia tak tahu kenapa.

"Ternyata dunia ini selebar daun kelor, ya," gumam Rukia ketika tahu mereka berasal dari kota yang sama.

"Tapi Karakura jelas lebih lebar daripada sepucuk daun, Rukia," sanggah Ichigo.

Dibanding Seireitei, daerah Karakura memang lebih kecil, namun tetap saja masih luas.

"Kudengar ada dokter hebat di sana," kata Ichigo. "Kebetulan aku akan membantunya praktek selama beberapa waktu."

"Dokter siapa?" tanya Rukia. "Ada banyak orang dengan segala profesi, lho."

"Hanataro Yamada," jawab Ichigo setelah berpikir beberapa detik.

"Hanataro?" pekik Rukia riang. "Aku kenal dia. Orangnya kecil dan kelihatan lemah, tapi sebenarnya dia pintar," sambungnya memberi informasi.

"Kalau kau memujinya seperti itu, aku percaya, deh," Ichigo nyengir.

Rukia tertawa pelan. Tanpa disadarinya, Ichigo memperhatikan wajahnya yang terlihat lebih jelas meski ada topi yang menaungi wajah kecilnya. Kalau tersenyum atau tertawa, bibir Rukia akan tertarik ke atas. Sudut matanya berkerut dan ada binar cemerlang di mata besarnya. Wajahnya cantik, tapi sepertinya dia berbeda dengan gadis kebanyakan, batin Ichigo. Gadis itu kelihatan selalu berhati-hati, menjaga jarak dengan siapapun yang ditemuinya. Sejauh ini, yang dilihat Ichigo sering bersamanya adalah seorang pemuda yang nampaknya lebih tua dari mereka berdua.

"Rumahmu dekat rumah Hanataro?" setelah menemukan suaranya, Ichigo melontarkan pertanyaan, berharap mengalihkan perhatian. Dia merasa terganggu dengan ketertarikannya pada wajah Rukia.

"Tidak jauh," sahut Rukia.

"Kalau aku sudah di sana, aku main ke rumahmu, ya?"

Rukia terdiam, terpekur. Selama ini yang mengunjunginya hanyalah kakaknya dan Hanataro plus Unohana, yang selalu mengecek kesehatannya. Dia merasa ragu.

"Hmn, boleh," katanya akhirnya, pelan dengan suara kecil.

.-.-.

Renji sudah memastikan bahwa di antara sekian banyak turis di tempat itu tidak ada yang perlu dicurigai. Dia melakukan observasi, mengecek keamanan penginapan dan lokasi sekitar air terjun dan sekitarnya. Aman, begitulah pikirnya. Sayangnya ada beberapa orang yang luput dari pengamatannya.

Kadang Shirayuki atau Renji menemani Rukia jika gadis itu menuruni undakan menuju air terjun atau kuil di dekat situ. Banyak orang berlalu lalang, dan alasan itulah yang membuat dua orang itu sepakat bahwa situasi yang tidak sepi itu tidak akan memungkinkan siapapun mengenali Rukia.

Mendapat titah menjaga Rukia membuat Renji paranoid. Apapun yang terjadi, nona muda itu adalah prioritasnya. Berbeda jika dia sendirian, pemuda itu agak santai.

Byakuya tahu di mana mereka berada sekarang. Dia mengabarkan sesegera mungkin akan berkunjung ke Karakura.

Hujan deras yang kemarin sore mengguyur desa itu menyisakan becek dimana-mana. Jalanan lembab, tanah dan rerumputan pun masih basah. Renji dan Shirayuki membiarkan Rukia mengelilingi daerah pertokoan dekat penginapan sendirian. Sang nona memaksa mereka untuk berhenti mengkhawatirkannya, dan melanjutkan urusan mereka. Menyerah, kedua orang itu setuju.

Ada banyak toko yang berderet, tapi yang paling menarik minat Rukia adalah toko bunga yang bertebaran. Mungkin karena terguyur hujan, bunga di pot luar tampak lebih segar.

Angin yang berhembus kencang membuat Rukia merapatkan jaket kuningnya. Menurut Shirayuki,kuning sangat serasi dengannya. Wanita itu memang sering berbelanja untuknya. Rukia hanya pasrah, toh dia akan memakai apapun yang dibelikan.

Topinya terbang, terpelanting tersapu angin ke arah utara. Secepat kakinya bisa berlari, Rukia berusaha meraihnya kembali. Malang, angin menerbangkannya entah kemana.

Rukia menghela napas. Rambut hitamnya berantakan, dan tanpa topi, wajahnya lebih terekspos. Tapi entah kenapa, rasanya lebih bebas. Aneh memang. Dia hendak berbalik ketika kepalanya menabrak dada seseorang dengan keras.

Gadis itu meringis, mengusap dahinya. Dia terbelalak ketika tahu pria yang ditabraknya sudah jongkok memungut pot bunga yang terjatuh.

"Maafkan aku," kata Rukia buru-buru.

Pria berambut coklat itu hanya tersenyum kecil. "Tidak apa," katanya. "Salahku tidak memperhatikan jalan."

Tapi Rukia terlanjur merasa bersalah. Bunga yang dibeli laki-laki itu masih berada di pot, tapi tanahnya sudah berhamburan. Rukia ikut jongkok.

Yang tidak diduga orang yang ditabraknya adalah Rukia mengumpulkan tanah yang berceceran dan berusaha mengembalikannya ke pot. "Tidak usah, Nona," tukasnya cepat.

"Aku yang salah."

"Lihat, tanganmu kotor."

"Bisa kucuci nanti."

Sia-sia saja dia mencegah Rukia. Untung pot plastik itu tidak pecah, tanah dan bunganya terselamatkan. Rukia mencuci tangannya di toko tempat pria itu membeli bunga. Si pemilik rupanya wanita separuh baya yang baik hati, karena sekarang di meja kecil depan toko, dia menyediakan teh panas untuk mereka.

Si pria melambai, senyum tetap terpasang di wajahnya. Ragu-ragu Rukia duduk.

"Aku merepotkan, ya," keluhnya.

"Tidak. Hmn, namaku Sousuke Aizen. Kau?"

Rukia tersenyum malu-malu. "Rukia."

"Nama yang cantik, seperti orangnya," puji Aizen.

Anda juga tampan, Tuan, bisik Rukia dalam hati. Diam-diam gadis itu mengamati rambut coklat ikal Aizen yang disibakkan ke belakang. Mata coklatnya jernih dan terang. Wajahnya tampak baik hati.

Obrolan basa-basi mengawali percakapan mereka.

"Hueco Mundo?" ulang Rukia. "Aku pernah selintas mendengarnya, tapi belum pernah ke sana."

Jelas, Byakuya akan menjauhkanmu dari tempat itu selamanya, selama yang bisa diupayakannya, batin Aizen. "Kau harus ke sana kapan-kapan, Nona Rukia. Pemandangannya tidak kalah bagus dengan di sini, tapi hawanya jauh lebih dingin. Anginnya menusuk tulang."

"Aku jadi penasaran," tukasnya tanpa menyembunyikan rasa senangnya mendengar letak geografis tempat yang baru.

Aizen tersenyum cerah. "Semoga kau cepat ke sana," harapnya, disambut anggukan antusias gadis itu. Dan Aizen tidak mengucapkannya hanya untuk sekedar basa-basi.

"Siapa tahu saat itu aku bertemu Anda lagi," balas Rukia, tidak menyadari sekelebatan yang tidak biasa di mata Aizen.

"Pasti," timpal Aizen mantap.

Dari kejauhan, Renji melihat Rukia ngobrol dengan seorang pria. Dia tak tahu kenapa, tapi intuisinya mengirimkan sinyal-sinyal yang membuat hatinya tidak enak. Dia bergegas mendekat.

"Rukia!" serunya seraya menepuk pundak kecil sahabatnya.

Rukia menoleh dan tersenyum lebar. "Renji, dari mana?" tegurnya.

"Menengok kereta kita," jawab Renji segera. Dia melirik pria yang duduk mengamati mereka dengan senang dan cermat. Mata Renji menyipit. "Maaf, Anda siapa?"

Herannya, yang ditanya seakan gembira dengan pertanyaan Renji, seolah dia sudah menanti sedari tadi. Matanya berbinar semakin cemerlang, senyumnya menandakan pria itu sedang senang hatinya. "Aizen, Sousuke Aizen."

Rasanya jantung pemuda itu berhenti berdetak. "A-Aizen?" ulangnya terbata, membuat Aizen semakin riang. Renji terpaku, bahkan kalau tiba-tiba ada petir menggelegar di pagi berkabut dan mendung itu, dia tidak akan terkesiap sehebat itu. Saking terkejutnya, dia tidak menyadari mulutnya yang menganga dan ekspresi yang tergambar jelas di wajahnya.

"Kenapa kau melihatku dengan mata ngeri?" tanya Aizen lugas tanpa merasa sakit hati. Meski wajahnya tetap tenang, matanya menantang Renji.

"Rukia, hampir hujan, ayo pulang ke penginapan," kata Renji sambil menarik lengan Rukia.

Gadis itu bingung. "Sebentar," tahannya. Dia merasa tidak enak dengan sikap yang ditunjukkan Renji. Dia tidak mengerti apa yang terjadi, tapi pria sopan yang barusan dikenalnya membuat hatinya luluh.

"Ayo!" kali ini Renji tidak bisa diajak berkompromi. Nadanya tegas, tidak menyisakan kesempatan untuk dibantah.

"Aku permisi, Tuan Aizen. Senang bertemu Anda," ujar Rukia buru-buru. Dia sudah bangkit ketika Aizen membalasnya.

"Sama-sama," sahut Aizen ramah. "Semoga kita ketemu lagi."

Hati Renji semakin tidak karuan. Berbagai perasaan berkecamuk di dadanya. Dengan protektif dia melingkarkan tangan kekarnya di bahu Rukia. Diacuhkannya orang-orang yang memandang mereka dengan tatapan heran. Dia berjalan cepat, hampir menyeret Rukia bersamanya.

"Renji, kau kenapa? Hei, jalannya pelan sedikit," protesnya.

"Maaf Rukia, kita harus berkemas sekarang," bisik Renji, ketegangan mewarnai suaranya.

"Eh, kenapa?" tanya Rukia tak mengerti. "Baru beberapa hari lagi kan rencana kita pulang."

"Tidak bisa, kepulangan kita diluar rencana. Ini genting sekali, Rukia," Renji menggeleng kuat-kuat.

Rukia tidak mengeluarkan protes lagi. Jarang sekali Renji bersikap seperti barusan padanya, dengan tegas memintanya tutup mulut tanpa memberinya kesempatan untuk tahu alasan di baliknya.

Sampai di penginapan, Renji mendorong Rukia pada Shirayuki, berbisik sebentar pada wanita itu. Wajah Shirayuki langsung pucat pasi, sama seperti wajah Renji. Dia mengangguk mengerti dan mulai sigap mengemasi barang mereka. Renji kembali ke kamarnya, dan keluar dengan tas berisi pakaiannya.

"Shirayuki, ada apa?" tanya Rukia ikut cemas.

Shirayuki hanya meliriknya sejenak tanpa mengalihkan perhatiannya. "Kita pulang, itu saja," bohongnya.

Ada banyak pertanyaan berloncatan di kepala Rukia. Dia ingin menuntut jawaban atas sikap aneh dua orang itu, tapi ditahannya demi melihat muka pias mereka.

Secepat kilat, mereka bertiga menuruni tangga dan menuju kereta.

Renji memacu kuda yang menarik kereta secepat angin. Dengan brutal dia melarikan keretanya. Dia baru berhenti ketika ada jasa kurir di jalan yang mereka lewati. Dia turun, meminta jasa kurir memberikan surat ke kediaman Byakuya, dan segera melompat lagi ke kereta.

"Kenapa kusir kita? Aku sampai pusing," keluh Rukia.

"Tahan, ya," hibur Shirayuki. Jika normalnya wanita menawan itu dingin, kali ini wajahnya diliputi kekhawatiran. Lebih aneh lagi, dia menyuguhkan senyum super mahalnya.

"Aku perlu tahu kenapa kepulangan kita sampai mendadak begini," tuntut Rukia.

"Kubilang tidak ada apa-apa," sambar Shirayuki.

"Aku perlu tahu!" seru Rukia keras. Hampir saja dia menjerit. Wanita di depannya terlonjak, dan Renji di bangku kusir tak kalah kaget. "Aku muak kalian selalu menyembunyikan rahasia dariku. Kalian kira aku tidak tahu?" emosi Rukia semakin tersulut seiring kecepatan Zabimaru membawa kereta mereka mendekati rumah.

"Baiklah, Rukia," Shirayuki menghela napas panjang. "Ini demi kebaikanmu, itu yang terpenting. Selebihnya, bukan hakku untuk bilang."

"Justru karena menyangkut dirikulah, aku berhak tahu!" suara Rukia meninggi. Di depan, Renji mengernyit masam mendengar lengkingan suara Rukia di sela derap si kuda dan roda kereta.

Segala frustasi Rukia membuncah. Frustasi karena tidak bisa tinggal di rumahnya sendiri, marah karena geraknya tidak bebas, dan benci pada segunung topi yang harus menutupi rambutnya.

Shirayuki tidak mempersiapkan diri berada di hadapan Rukia yang berwajah merah padam karena marah, atau menatap mata nanar penuh murka itu.

"Maaf, aku tidak bisa menjelaskannya," Shirayuki menggeleng, muram.

Rukia menghembuskan napas, putus asa. "Kenapa..." ratapnya sedih. Tapi Shirayuki tidak bisa menghiburnya kali ini.

.-.-.

TBC