Disclamer: : Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama.

Warning: AU, OOC, Shounen-ai


Just Like Moon and Sun


Ide Sasha itu membuat keempat orang ini terdiam, tapi yang paling setuju dengan ide ini adalah Mikasa. Gadis berambut hitam ini ingin sekali bertemu dengan Eren dan membawanya pulang dari tangan rivalnya. Mata hitam Mikasa berkilat semangat dan ia mengangguk untuk menyetujui ide itu.

"Lalu kapan kita akan menjalankan rencana ini?" tanya Annie.

"Bagaimana kalau nanti malam? Kita tidak mungkin berlama-lama disini bukan?" ujar Jean.

Semuanya terlihat setuju dan tidak ada yang keberatan, mereka memang sudah menyiapkan semuanya untuk bertarung dengan Dark. Tapi mereka tidak menyangka akan menempuh jalan yang penuh resiko seperti ini. Menculik balik Eren dan membawanya pergi dari Rivaille, itu pekerjaan yang sangat beresiko.

"Aku akan membawa Eren." ujar Mikasa.

"Lalu kita akan menghadapi Dark begitu?" tanya Jean.

"Kurasa jika kita memakai ide ini ada kemungkinan kita tidak sempat membawa Eren jauh dari jangkauan Dark dan berujung pada pertarungan kita dengan Dark atau jika Dark tidak sadar Eren dibawa dan kita berhasil membawa Eren pulang tapi Eren tidak akan melaksanakan misi ini. Semua pilihan ada untung dan ruginya dan kurasa lebih banyak kerugian yang kita terima." ujar Armin.

Mereka semua terdiam mendengar ucapan Armin, tentu saja mereka memikirkan hal yang sama. Apapun pilihannya mereka akan bertarung dengan Dark, tidak mudah rasanya untuk mendapatkan Eren kembali. Apalagi lawan mereka adalah Dark, lawan yang sangat sulit untuk dikalahkan.

Mikasa mengepalkan tangannya, sepertinya ia sudah memiliki tekad yang bulat untuk menyelamatkan Eren dengan menjalankan ide Sasha. Bahkan keempat orang ini sudah tahu Mikasa akan segera melakukan ide ini, makanya ia setuju jika mereka melakukan misi ini nanti malam. Tapi entah kenapa Armin merasa akan ada suatu hal besar yang akan terjadi.

'Apa hanya perasaanku saja?' batin Armin.


Malam hari telah tiba, Eren hanya merenung saja di kamarnya. Rivaille yang baru menyelesaikan makan malamnya menatap wajah sang kekasih yang murung itu. Ia mendekati Eren dan membelai pipinya, membuat Eren terkejut dan menoleh ke arah Rivaille dengan semu merah yang menghiasi wajahnya.

"Ke-kenapa Rivaille?" tanya Eren.

"Justru aku yang harusnya bertanya seperti itu. Kenapa kau murung? Apa ada masalah?" tanya Rivaille yang membelai rambut Eren.

Eren terdiam dan menunduk malu, jantungnya berdetak kencang. Ia tidak tahu apakah ia harus menceritakan pertemuannya dengan Mikasa dan teman-temannya. Ia takut terjadi hal buruk yang tidak diinginkannya, tapi ia juga merasa segan jika tidak mengatakan yang sebenarnya pada Rivaille.

"Tadi aku..." gumam Eren yang masih menggantungkan ucapannya.

"Ada apa?" tanya Rivaille.

"Tadi aku bertemu dengan Mikasa."

Rivaille terdiam dan tampak terkejut mendengar ucapan Eren tapi ia masih setia memasang wajah datarnya, Eren melirik ke arah Rivaille. Ia takut jika Rivaille tiba-tiba marah tapi bukan omelan yang didapatnya tapi ia mendapatkan pelukan hangat dari Rivaille. Wajah Eren memerah dan jantungnya berdetak sangat kencang.

"Ri-Rivaille?" panggil Eren malu.

"Dia kemari untuk membawamu kan? Aku akan menjagamu agar kau tidak jatuh ke tangannya." ujar Rivaille dengan suara yang mampu menenangkan hati Eren.

"Tapi nanti kau dan Mikasa..."

"Eren, aku melakukan ini demi kamu. Jadi biarkan aku dan adikmu itu yang menyelesaikan semuanya."

Eren terkejut mendengar ucapan Rivaille, ucapan yang seolah mengatakan bahwa sang kekasih akan melawan rival terkuatnya. Eren tidak buta dan ia tahu bahwa Mikasa juga Rivaille memperebutkannya, tapi ia tetap berpegang pada perasaannya. Hanya Rivaille yang ia cintai sebagai kekasih, bahkan mereka telah bertunangan dan ia memakai cincin pemberian Rivaille. Rivaille juga serius untuk mengikat Eren dalam ikatan suci, mereka berdua tidak ingin ada yang menghentikan cinta mereka.

"Jadi serahkan saja padaku." ujar Rivaille yang mencium bibir Eren lembut.

Eren terdiam dan menerima ciuman sang kekasih, sesekali membiarkannya mendominasi ciuman itu. Eren hanya pasrah dalam menerima tindakan orang yang paling ia cintai. Lagipula cinta itu mampu membutakan mereka berdua, mereka hampir mendekati inti dari cinta mereka. Sedikit lagi, sedikit lagi perjuangan untuk mempertahankan cinta ini dan akan berakhir dengan pernikahan yang indah.

.

.

.

Mikasa, Annie, Sasha, Armin dan Jean sedang berjalan ke arah penginapan dimana ketiga gadis ini melihat Eren. Tidak lama mereka sampai di depan penginapan itu, tapi tentu saja mereka tidak bisa langsung membawa Eren begitu saja. Apalagi sekarang masih banyak orang yang berlalu lalang melewati jalanan, sebisa mungkin mereka tidak ingin menarik perhatian masyrakat.

"Jadi disini tempatnya." gumam Jean.

"Sekarang masih jam tujuh malam, kita bisa pergi mencari makan. Aku lapar." ujar Sasha santai.

"Kau masih memikirkan masalah makanan?" tanya Mikasa bingung.

"Kalau lapar kita tidak bisa bertarung."

"Lebih baik kita ke tempat lain dulu saja." usul Armin.

Mereka semua setuju dengan usul Armin dan mencari tempat lain untuk makan malam, lagipula pertarungan yang sesungguhnya akan terjadi nanti. Selama mereka masih bisa berkumpul dan berharap agar semuanya baik-baik saja sepertinya tidak akan terjadi hal yang buruk. Tapi sedari tadi Armin tidak bisa tenang, tampaknya Jean menyadari sikap Armin yang berbeda dari biasanya. Armin tampak lebih cemas dan hanya berbicara seperlunya saja.

"Ada apa dengan dirimu, Armin? Apa kau ada masalah?" tanya Jean.

"Eh? Ah, tidak," jawab Armin sambil tersenyum. "Hanya saja..."

Jean terdiam dan membiarkan Armin untuk menyelesaikan kalimatnya. Tapi ia bisa melihat raut cemas dari wajah Armin, Jean tahu pasti pemuda berambut pirang ini memikirkan sesuatu. Tapi Jean tidak tahu isi pikiran Armin.

"Jean, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang buruk." gumam Armin.

"Sesuatu yang buruk?" tanya Jean.

"Iya. Sepertinya akan terjadi suatu hal yang lebih buruk dari pertarungan kita dengan Dark selama ini."

"Mungkin itu hanya perasaanmu saja."

"Mungkin saja."

Armin berusaha percaya dengan ucapan Jean dan menganggap apa yang ia rasakan hanyalah imajinasinya belaka, mungkin ia terlalu lelah atau banyak pikiran sehingga merasakan aura negatif. Jean tersenyum dan mengacak-acak rambut pirang Armin, Armin terkejut dan melihat Jean yang mengalihkan wajahnya ke arah lain.

"Jangan murung seperti itu, ada aku yang akan menemanimu." ujar Jean.

Wajah Armin memerah mendengar ucapan Jean itu, ia menunduk malu dan mengangguk pelan. Ia berusaha yakin meski mereka kalah dan gagal menjalankan misi setidaknya semuanya akan baik-baik saja. Setidaknya mereka berenam harus pulang ke kota dengan selamat.


Malam semakin larut dan sekarang sudah pukul 12 tengah malam, kelima anggota muda Recon Corps sudah memutuskan untuk melaksanakan misi mereka. Mereka sudah berada di depan penginapan Eren, Mikasa memutuskan untuk mencari tempat yang bisa ia gunakan untuk melompat dan melihat kamar Eren.

Mikasa memang nekad dan sekarang ia melompat ke arah beberapa tempat hingga ia sampai di atas atap penginapan itu, ia melihat beberapa jendela kamar yang terlihat. Mereka berempat juga melakukan hal yang sama seperti Mikasa, tujuan mereka sama untuk mencari letak kamar Eren.

Annie melihat ada jendela sebuah kamar yang tidak ditutup dan melihat sosok pemuda berambut coklat yang sedang menatap ke arah jendela. Ia sangat yakin itu adalah Eren, tapi ia juga melihat ada sosok berambut hitam di belakangnya. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu, tapi Annie merasa bukan hal itu yang dilakukan kedua pemuda ini. Ia melihat bahwa Eren sedang berpegangan pada jendela dan wajahnya tampak berbeda dari biasanya.

"Annie, apa kau menemukan kamar Eren?" tanya Armin yang mendekat pada Annie.

Annie masih memperhatikan kamar itu, ia sudah menebak bahwa dua pemuda itu sedang melakukan suatu hal, sebut saja bercinta jika kau mau menggunakan bahasa yang lebih frontal lagi. Armin menatap Annie yang hanya terdiam dan melihat ke arah jendela kamar yang diperhatikan Annie, betapa terkejutnya ia melihat Eren disana.

"Eren?" gumam Armin.

Sepertinya pendengaran Mikasa cukup tajam dan mendekati Annie juga Armin yang menatap ke arah salah satu jendela. Gadis ini sangat terkejut melihat sosok Eren disana, tanpa pikir panjang lagi ia langsung saja melompat ke arah terdekat dan mengeluarkan pistolnya. Ia hendak menembak kaca jendela itu, sepertinya tidak perlu mencuri secara diam-diam lebih baik langsung menyerang begitu saja.

Sedangkan Rivaille yang sedang menjilat leher belakang Eren dan membuat sebuah tanda kemerahan disana menyadari ada seseorang yang memperhatikan mereka, ia berhenti menyentuh Eren dan mendorong pemuda yang lebih muda ke lantai. Eren terkejut dengan tindakan Rivaille dan pemuda berambut hitam itu menghindar, tidak lama kaca jendela mereka pecah. Eren benar-benar terkejut melihatnya dan Rivaille hanya mendengus pelan.

"Sepertinya ada yang tidak sabar." ujar Rivaille dan ia melihat ke luar, sosok Mikasa dengan pistolnya itu memandangnya tajam dan berusaha melompat ke jendela kamar mereka yang telah pecah.

Mikasa berhasil masuk ke dalam kamar itu dan melihat Eren yang berada di lantai, wajah Eren terlihat sangat terkejut. Mikasa langsung mendekatinya tapi Rivaille menghalangi langkah gadis itu, Mikasa terlihat kesal dan menggenggam pistolnya dengan kuat.

"Minggir pendek! Aku akan membawa Eren!" ujar Mikasa kesal.

"Ternyata kau keras kepala sekali hingga berani mengikuti kami kemari," ujar Rivaille yang menatap datar ke arah Mikasa. "Kau nekad dan gila."

"Aku tidak peduli!"

Eren langsung bangun dan merapikan pakaiannya, ia memakai baju biasa bukan seragam Recon Corps lagi tapi ia masih membawanya untuk berjaga-jaga. Rivaille melirik ke arah Eren yang terdiam, sepertinya Eren tidak tahu harus mengatakan apa. Mikasa langsung saja berjalan melewati Rivaille dan menggenggam tangan Eren.

"Eren, ayo kenakan seragammu dan kita pergi dari sini." ujar Mikasa.

"Mikasa? Aku tidak ingin ikut denganmu. Aku sudah memantapkan pikiranku, tolong terima keputusanku." ujar Eren.

"Tapi Eren?! Kau tidak aman dengannya."

Eren melepaskan tangan Mikasa yang menggenggam tangannya, ia menuju lemari dan mengeluarkan seragamnya. Ia langsung saja mengganti pakaiannya dengan seragam Recon Corps, baik Rivaille dan Mikasa tidak melakukan apa-apa. Mereka berdua menatap Eren yang dengan santainya ganti baju, tidak lama Eren sudah selesai mengganti pakaiannya dan membawa pistolnya.

"Aku sudah ganti baju tapi bukan untuk ikut denganmu, Mikasa." ujar Eren.

Rivaille langsung saja menjauh dari Mikasa dan mengambil pedangnya, ia hanya memakai kemeja putih dan celana panjang hitam tanpa jubah yang menutupinya. Sosok Rivaille di mata Eren sangat keren, Mikasa tampak tidak suka dan langsung mengacungkan pistolnya pada Rivaille.

"Kau tidak mungkin membuat keributan di tempat ramai seperti ini." ujar Rivaille yang berjalan dan ia melompat keluar dari jendela.

"Tunggu!" teriak Mikasa yang langsung saja melompat untuk menyusul Rivaille.

Eren juga mengikuti Mikasa dan sekarang mereka berada di atas atap penginapan ini. Armin, Annie, Jean dan Sasha memperhatikan mereka. Sasha melihat Eren dan ia merasa lega, tapi sepertinya mereka tidak melakukan misi untuk menculik Eren. Sasha melirik ke arah Mikasa, Mikasa menyadari hal itu dan melihat Eren. Langsung saja ia menarik tangan Eren dan membawanya pergi.

"Mikasa?! Lepaskan aku!" teriak Eren.

Rivaille menyadari hal itu dan ingin menyusulnya tapi dihadang oleh keempat orang ini, mereka semua mengacungkan pistol pada Rivaille dan bersiap dalam posisi menembak. Rivaille tetap memandang mereka dengan wajah datarnya, Armin melirik ke arah teman-temannya. Seharusnya ada yang bisa mengikuti Mikasa dan Eren, tapi mereka berempat tidak melakukannya karena menahan serangan Rivaille.

"Sepertinya kalian semua datang kemari." gumam Rivaille yang mengeluarkan pedang dari sarungnya.

"Kami datang untuk mengalahkanmu lalu membawa Eren pergi." ujar Annie.

Rivaille tidak mengatakan apa-apa, ia tersenyum tipis sekali dan hendak menghunuskan pedangnya kepada keempat anggota muda Recon Corps ini. Mereka semua memiliki gerak refleks yang cepat hingga mampu menghindar, tapi gerakan seperti itu tidak cukup untuk membuat mereka selamat dari serangan Dark.

Sekarang Rivaille sudah menangkap Armin dan mendekatkan pedangnya pada leher pemuda berambut pirang itu, kedua tangan Armin juga ditahan dengan satu tangan. Annie, Jean dan Sasha terkejut melihatnya. Armin berusaha menggerakkan tangannya untuk menembak tapi gerakan itu terbaca hingga Rivaille melepaskan tangan Armin dan menangkap pistol itu lalu membuangnya ke sembarangan arah.

"Kau tidak bisa bermain-main lagi." ujar Rivaille yang menusuk tangan Armin dengan pedang.

Armin menjerit kesakitan dan Jean langsung mengacungkan pistolnya untuk menembak Rivaille tapi Rivaille dengan cepat menangkis peluru itu. Ia langsung saja hendak menusuk Jean tapi Sasha dan Annie memberikan tembakan, Rivaille berusaha menghindarinya tapi sisi tangan sebelah kirinya terkena peluru.

"Cih." decih Rivaille.

Ia langsung saja menusuk tangannya untuk mengeluarkan peluru itu, ia tidak peduli dengan darah yang mulai keluar. Ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini dan menatap dua gadis yang menembaknya. Tanpa basa-basi Rivaille langsung saja mendekati mereka dengan kecepatan kilat dan menusuk kaki kedua gadis itu.

Serangan Rivaille hanya sementara saja, setelah melihat keempat orang ini tumbang ia pergi meninggalkan mereka untuk menyusul Mikasa yang membawa Eren pergi darinya. Mereka berempat terkejut dan memperkirakan hal seperti ini akan terjadi. Armin merasakan darah mengalir dari tangannya tapi ia tidak peduli, ia mengeluarkan pistol cadangan yang ia miliki. Jean langsung mendekatinya, sedangkan Sasha dan Annie berusaha menahan rasa sakit mereka dan bangkit juga.

"Kita harus menyusul mereka." ujar Jean.

Semuanya tampak setuju dan memutuskan untuk menyusul Rivaille, memang dalam hal ini Annie dan Sasha sedikit tidak diuntungkan karena kaki mereka sakit. Tapi mereka berdua adalah gadis yang kuat dan sering sekali menghadapi pertarungan, tusukan pedang Rivaille tadi tidak terlalu mempengaruhi mereka. Tekad berjuang mereka yang membuat rasa sakit itu seperti menghilang entah kemana.

.

.

.

Mikasa terus membawa Eren lari dari pertarungan itu, lebih tepatnya ia telah menculik saudara tirinya sendiri. Eren berusaha melepaskan diri tapi karena Mikasa menggendongnya dan membuat Eren sedikit kesulitan melepaskan diri. Jika dilihat posisi Mikasa yang menggendong Eren layaknya pangeran yang menggendong putrinya.

"Mikasa, turunkan aku!" teriak Eren.

Mikasa tidak mendengarkan teriakan Eren dan terus membawa pemuda itu lari dengannya, karena sekarang sudah tengah malam mereka tidak akan menarik perhatian banyak orang. Tapi Mikasa merasakan ada seseorang yang mengejar mereka, ia melirik ke belakang dan betapa terkejutnya ia melihat sosok Rivaille sudah berada tepat di belakang mereka dan menghunuskan pedang. Mikasa langsung menghindar dan tidak terkena serangan tapi rambut belakangnya sedikit terpotong karena pedang itu.

"Cih!" decih Mikasa kesal.

"Ri-Rivaille?!" panggil Eren.

"Jangan meremehkanku, gadis keras kepala." ujar Rivaille datar dan ia mulai menghunuskan pedang lagi.

Mikasa berusaha menghindar dan memastikan Eren baik-baik saja dalam gendongannya, ia tidak ingin membuat pemuda itu terjatuh. Eren secara refleks berpegangan erat pada Mikasa dan melirik ke arah Rivaille. Rivaille tidak menyerah begitu saja dan ia menghunuskan pedangnya ke lengan Mikasa, gadis itu tidak sempat menghindar dan merasa tangannya sakit.

"Mikasa!" teriak Eren panik.

Rivaille langsung saja menarik tangan Mikasa menyebabkan gadis itu dan Eren terjatuh ke tanah, ia tidak peduli jika gadis itu harus kesakitan. Eren juga memiliki gerakan refleks yang cepat dan ia langsung melompat dari Mikasa hingga ia tidak terjatuh terlalu keras ke tanah. Rivaille mendekati mereka dan menatap tajam ke arah Mikasa.

"Aku tidak menyangka kau akan membawa Eren dengan cara seperti itu, kau juga tidak bisa melawanku. Payah sekali." ujar Rivaille dengan nada suara yang tampak merendahkan.

Kekesalan terlihat dari raut wajah gadis berambut hitam itu, ia memilih untuk melihat ke arah lain daripada harus menatap wajah pemuda yang berani menculik saudara angkatnya itu. Siapa yang lebih pengecut sekarang? Seseorang yang mencuri begitu saja atau seseorang yang datang untuk mengambil secara terbuka? Mikasa hanya kembali untuk mengambil 'miliknya'. Ia menganggap Eren itu miliknya tapi Eren bukanlah barang yang bisa Mikasa klaim sesukanya.

"Eren itu saudara yang berarti untukku." ujar Mikasa.

"Tapi ia tidak ingin kembali denganmu, kan?" ujar Rivaille.

Mikasa langsung bangun dan menatap Rivaille dengan tatapan tajam, ia mengeluarkan pistolnya dan hendak menembak tapi Rivaille berhasil menghindari serangan Mikasa. Ia malah menggunakan pedang itu untuk kembali menyerang lengan Mikasa, sepertinya Mikasa mulai memperkirakan gerakan Rivaille dan menahan serangan itu dengan pistolnya. Tapi pertarungan jarak dekat sangat merugikan Mikasa, berbeda dengan Rivaille yang menguasai pertarungan jarak dekat dan jauh.

"Mikasa!" terdengar suara seorang gadis yang memanggilnya.

Mereka semua menoleh dan melihat Sasha, Annie, Armin dan Jean yang baru saja tiba. Keempat orang ini berkumpul dan melihat Mikasa yang sedang bertarung dengan Rivaille, mereka mengeluarkan pistol dan hendak menembak Rivaille. Tapi Eren langsung saja mengeluarkan pistol dan mengarahkannya kepada teman-temannya. Semuanya terkejut melihat tindakan Eren.

"Eren?" gumam Armin bingung.

"Apa yang kau lakukan, Eren?!" teriak Jean kesal.

"A-aku tidak akan membiarkan kalian membunuh Rivaille!" ujar Eren.

"Eren! Otakmu telah dicuci oleh pria brengsek itu!" Mikasa tampak emosi dan berusaha menangkis serangan Rivaille, tapi Rivaille tidak jadi menghunuskan pedang itu pada Mikasa. Sebagai gantinya ia menendang kaki Mikasa hingga Mikasa terjatuh.

"Eren! Kau masih bagian dari tim kita kan?!" Jean tampak emosi dan ia mendekati Eren, langsung saja pemuda itu mencengkeram kerah kemeja Eren. "Kau tidak bisa mengkhianati timmu begitu saja. Inikah caramu menunjukkan rasa setia kawan?"

Eren terdiam dan melirik ke arah lain, ia tidak ingin menjawab pertanyaan Jean itu. Memang Eren masih bagian dari tim Recon Corps yang akan memburu Dark atau Rivaille tapi di sisi lain Eren juga memiliki pilihan lain untuk melindungi Rivaille dan jika perlu melawan teman-temannya. Ia tidak ingin Rivaille terluka, ia tahu kekasihnya itu kuat tapi sekuat apapun seseorang ada saat dimana mereka lengah dan kalah bukan?

"Eren, aku tidak menyangka kau akan..." gumam Armin.

"Ini pilihanku!" seru Eren.

"Kau yang memintanya." Annie langsung mengacungkan pistolnya ke arah Eren, semuanya tampak terkejut melihat gerakan gadis berambut pirang itu.

"Annie! Jangan pernah berani untuk menembak Eren!" ancam Mikasa.

Annie tidak bereaksi apapun terhadap ancaman Mikasa dan menatap Eren dengan pandangan dingin, sepertinya pistol itu sudah siap untuk mengeluarkan peluru dan melukai Eren. Ia langsung menembak Eren, tapi Eren menghindar dan membalas tembakan Annie. Armin terkejut melihatnya, ia tidak menyangka akan melihat pertarungan antara Annie dan Eren. Padahal mereka masih dalam tim yang sama.

"He-hentikan, kalian berdua." pinta Sasha.

Tapi baik Annie dan Eren tidak berhenti, mereka saling memberi tembakan satu sama lain. Mereka berdua adalah orang yang hebat dan sulit untuk dikalahkan, makanya mereka sendiri juga kesulitan untuk mengalahkan lawan masing-masing. Mikasa tampak geram melihat Annie dan ia langsung mendekati gadis itu, tanpa segan-segan ia menahan tangan Annie bahkan mencengkeramnya hingga Annie merasa kesakitan.

"Apa yang kau lakukan, Mikasa?" tanya Annie.

"Justru aku yang harusnya bertanya padamu," ujar Mikasa dengan tatapan tajamnya. "Kau akan membunuh Eren?"

"Dia yang tidak ingin bekerja sama dengan kita untuk membunuh Dark, otomatis Eren termasuk ancaman untuk kita juga."

"Tapi bukan seperti ini caranya."

Annie terdiam mendengar ucapan gadis yang lebih tinggi darinya dan ia tidak berniat untuk menembak Eren lagi, apalagi tangannya sudah digenggam Mikasa dengan kuat. Semuanya terdiam melihat Mikasa dan Sasha melirik ke arah Eren.

"Lepaskan tanganku, Mikasa." pinta Annie.

"Kalau kau tidak menembak Eren, aku akan melepaskannya." ujar Mikasa.

Annie mengangguk dan Mikasa melepaskan tangannya dari tangan Annie. Mikasa langsung berjalan mendekati Eren dan menatap pemuda berambut coklat itu, ia langsung menggenggam tangan Eren dan menatap wajah pemuda bermanik hijau dengan wajahnya yang sendu.

"Eren, kumohon kembalilah pada kami dan laksanakan misi kita bersama," pinta Mikasa. "Kita selalu bersama bukan?"

"Tapi aku sudah menentukan pilihanku, Mikasa. Kau sekalipun tidak bisa menghentikanku." ujar Eren dan melepaskan tangan Mikasa.

Rivaille yang sedari tadi melihat mereka berenam hanya terdiam, ia tahu Eren hanyalah remaja biasa yang terkadang tidak yakin dengan pilihannya. Meski Eren sudah memutuskan pilihannya sekalipun ia bisa merasakan bahwa Eren tidak ingin pilihannya itu melukai semua orang, termasuk dirinya dan Mikasa.

"Kalau kau lengah seperti itu, kau hanya berakhir dengan kehilangan semuanya!" teriak Jean.

"Jean?" Sasha melirik ke arah Jean.

"Kau itu membuat kami kesusahan seperti ini? Dasar tidak tahu diri!"

"Jaga ucapanmu, Jean! Aku tidak segan untuk menghabisimu." ujar Mikasa dingin.

Sepertinya tidak ada lagi pertarungan, yang ada hanyalah pertengkaran seperti ini. Rivaille menatap mereka dengan wajah datarnya dan menghela napas. Ia membawa pedangnya itu dan langsung menusuk pinggang Jean, mereka semua terkejut melihatnya. Jean yang tidak menyadari serangan itu langsung terjatuh dan menatap Rivaille dengan kesal.

"Kalian semua membuatku kesal." ujar Rivaille dingin.

"Aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!"

Mikasa langsung menembak Rivaille bertubi-tubi, Rivaille menghindar dan ia langsung mendekati Mikasa. Ia menusuk lengan gadis itu tapi ia terkejut saat melihat Sasha dan Annie mengacungkan pistol ke arahnya. Ia langsung saja melepaskan pedang yang menancap di lengan Mikasa dan menedang kedua gadis itu hingga mereka terjatuh. Ia melihat Armin yang menembaknya dan ia menghindar tapi sebagai gantinya ia mampu membuat Armin terluka dengan menusuk pahanya dan membuat pemuda berambut pirang itu terluka.

"Teman-teman..." gumam Eren.

Lagi-lagi Eren melihat semua teman-temannya yang dilukai oleh Rivaille. Kekasihnya itu memang hebat bisa menumbangkan teman-temannya berkali-kali, mungkin teman-temannya lebih hebat karena bisa bangkit untuk melawan Rivaille meski kekalahan selalu menghampiri mereka.

"Kau hanya bisa melihat kami seperti ini, Eren!" teriak Jean. "Dasar lemah!"

Eren terdiam mendengar teriakan Jean, bahkan ia bisa merasakan ucapan itu seperti menghujam jantungnya. Ucapan yang membuat dadanya terasa sesak dan itu menyakitkan. Ia akui bahwa ia lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan ia bertarung dengan Annie yang adalah rekan timnya sendiri. Rivaille berjalan mendekati Eren dan membelai wajah kekasihnya itu.

"Aku sudah mengalahkan teman-temanmu. Kau tidak ingin membalaskan kekalahan mereka?" tanya Rivaille.

"I-itu artinya aku harus bertarung denganmu. Tidak, aku tidak mau!" teriak Eren.

"Lalu kau mau mengorbankan kami, begitu?! Kau tidak punya perasaan, Eren!" Jean menginterupsi pembicaraan Eren dan Rivaille, tapi ia merasa sakit juga karena kebanyakan bicara dengan luka seperti itu.

Mikasa berusaha bangun dan melihat Rivaille yang ada di dekat Eren, ia sangat kesal dan berusaha untuk mengisi lagi pistolnya dengan peluru cadangan yang ia bawa. Armin melirik ke arah teman-temannya yang terluka, ia menatap Jean dan berusaha untuk mengobati Jean padahal dirinya sendiri juga terluka. Sasha sendiri ingin juga mengobati dirinya sendiri dan Annie, tapi ia juga mengkhawatirkan Mikasa.

"Teman-temanmu bahkan memintamu untuk melawanku." ujar Rivaille.

"Tidak! Aku tidak mau melawanmu, kau bilang akan melindungiku, kan? Kita sudah bertunangan dan kau ingin aku melawanmu? Aku tidak mau!" teriak Eren dengan wajah sendu.

Semuanya terkejut mendengar ucapan Eren. Bertunangan? Rivaille dan Eren telah bertunangan. Mendengar hal itu Mikasa langsung bangun dan hendak menghajar Rivaille, tampaknya gadis itu lupa bahwa pertarungan jarak dekat bukan keahliannya. Sekarang Mikasa berada di hadapan Rivaille juga Eren.

"Apa itu benar?" tanya Mikasa.

"Seperti yang kau dengar, kami sudah bertunangan." ujar Rivaille santai.

Mikasa benar-benar geram mendengarnya, ia langsung saja melayangkan tinju ke arah Rivaille tapi tangannya ditahan oleh Rivaille. Rivaille menatap gadis itu dengan tatapan tajam, begitu juga Mikasa. Seolah-olah mereka saling berharap rival mereka bisa tewas dengan ditatap tajam seperti itu.

"Kau! Orang seperti kau tidak pantas memiliki Eren!" teriak Mikasa.

"Mikasa? Harus berapa kali kujelaskan agar kau mengerti?" tanya Eren.

"Aku tidak akan pernah mengerti, Eren. Kau memilih jalan hidup yang sulit demi orang sepertinya. Kenapa?"

Eren terdiam mendengar ucapan Mikasa, ia tahu ia telah memutuskan untuk memilih Rivaille sebagai orang yang ia cintai dan rela menghadapi segala persoalan atas pilihannya itu. Ia telah mengerti dan berusaha untuk menjalankan pilihannya, tapi terkadang Eren juga ragu karena teringat dengan teman-temannya. Ia masih memikirkan teman-temannya dan berharap mereka semua tidak terluka. Sungguh pikiran yang naif.

Eren langsung saja mendekati Rivaille dan memeluk kekasihnya itu, Rivaille terkejut merasakan Eren yang membenamkan wajahnya di dada bidang miliknya. Semua yang melihat hal itu sangat terkejut apalagi Mikasa, ia bahkan hendak melepaskan tangan Rivaille yang menahan tangannya dan ingin menarik Eren. Tapi tampaknya Rivaille bisa mencengkeram tangan Mikasa dengan kuat.

"Ada apa, Eren?" tanya Rivaille dengan suara yang lembut.

"Rivaille, aku tidak bisa menembakmu. Kumohon, jangan paksa aku." ujar Eren.

Rivaille terdiam dan menatap Eren, ia bisa merasakan tubuh pemuda itu bergetar hebat. Ia juga lelah mencengkeram tangan Mikasa, ia melepaskan tangan gadis itu. Mikasa menatapnya kesal tapi ia tidak tega juga melihat Eren yang memeluk Rivaille seperti itu. Di matanya Eren seperti pasrah dalam pelukan itu, tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengawasinya.

Kesal?

Tentu saja Mikasa kesal karena bukan dirinya yang menjadi tempat Eren bersandar, bukan dirinyalah yang menjadi harapan Eren. Bukan dirinya yang dipilih oleh Eren untuk hidup bersama. Sudah tidak ada kesempatan lagi bagi Mikasa untuk mendekati Eren, pintu hati Eren telah tertutup untuk Mikasa. Hanya ada Rivaille, Rivaille dan Rivaille di hati Eren.

"Eren..." gumam Rivaille.

Pemuda berambut hitam dengan warna mata yang senada hanya bisa memeluk tubuh sang kekasih dengan erat, ia tidak keberatan jika Eren memeluknya seperti ini. Tapi ia juga tahu bahwa Eren memiliki tugas yang harus diselesaikan. Kisah cinta mereka layaknya bulan dan matahari ini berusaha menyatu, tapi pada dasarnya matahari dan bulan tidak bisa bersama.

"Takdir kita selalu berputar Eren. Kau tidak bisa mengharapkan akhir yang bahagia selamanya." ujar Rivaille.

"Rivaille? Kenapa?" tanya Eren.

"Teman-temanmu ingin kau melaksanakan misimu lalu aku menginginkanmu bersama denganku selamanya. Lalu apa pilihanmu? Kau memang telah memilihku tapi dalam hatiku, aku juga tidak tega melihatmu dimusuhi oleh teman-temanmu sendiri."

"Rivaille! Aku tidak peduli, asalkan aku bisa berada disampingmu."

"Aku senang kau keras kepala demi diriku tapi kurasa sekarang sudah cukup."

Eren terkejut mendengar ucapan Rivaille, Rivaille melepaskan pelukan itu dan menjatuhkan Eren ke tanah. Semuanya terkejut melihat mereka berdua, mata Mikasa tampak berkilat penuh amarah. Annie melirik ke arah Mikasa yang masih saja terdiam dan gadis berambut hitam itu berusaha menahan emosinya, ia akui bahwa Mikasa hebat bisa juga menahan emosi sampai seperti itu.

"Ri-Rivaille?" tanya Eren.

Rivalle tidak menjawab panggilan Eren dan menatap leher Eren, ia membawa pedangnya dan mengarahkannya ke leher Eren. Manik hijau Eren terbelalak melihat pedang Rivaille yang hanya berjarak beberapa senti dari lehernya, jika ia bergerak ia yakin lehernya akan terluka. Jangankan Eren, semuanya juga terkejut melihat Rivaille seperti itu.

"Lepaskan pedangmu dari Eren!" teriak Mikasa.

"Aku tidak perlu mendengar kata-katamu." ujar Rivaille.

Mikasa tidak banyak bicara dan menembak Rivaille, dengan gerakan cepat Rivaille langsung menangkis peluru itu. Mikasa terlihat kesal dan ia menatap tajam ke arah Rivaille. Annie, Armin dan Sasha berusaha bangun untuk membantu Mikasa. Tapi Jean tidak bisa membantu banyak karena tusukan Rivaille di pinggangnya itu membuatnya merasa sakit dan ia hanya bisa duduk saja.

"Rivaille... Aku mencintaimu dan tidak mungkin membunuhmu. Walaupun kau sendiri yang meminta tapi aku tidak akan melakukannya. Aku tidak peduli dengan masa lalumu itu, aku hanya ingin merasakan dirimu yang kulihat sekarang." ujar Eren dengan senyuman sendu di wajahnya.

Rivaille tersentuh mendengar ucapan Eren, baru kali ini ia melihat seseorang yang mencintainya secara tulus seperti ini. Memang pilihan Rivaille tidak salah menjadikan Eren sebagai cinta sejatinya, bahkan melamarnya menjadi tunangan. Ia tahu Eren rela berkorban demi dirinya dan ia juga akan melakukan hal yang sama.

Rivaille membelai wajah Eren dan wajah sang kekasih memerah, wajah itu memerah karena sentuhan Rivaille. Sentuhan Rivaille terasa memabukkan, padahal hanya belaian di pipi saja. Apa karena dirinya sering disentuh sehingga membuat Eren seperti ini? Entahlah, yang pasti debaran kencang di jantungnya tidak bisa membohongi dirinya.

"Eren, aku mengerti perasaanmu itu. Terima kasih." ujar Rivaille dengan senyuman tipis di wajahnya.

Baru kali ini kelima anggota muda Recon Corps melihat Rivaille tersenyum seperti itu. Mereka tidak menyangka penjahat keji seperti Dark bisa memiliki senyuman seperti itu, kekuatan cinta memang mampu mengubah hati semua orang sekaku dan sedingin apapun hati itu.

"Dark... tersenyum?" gumam Sasha bingung.

"Ada yang tidak beres." ujar Jean pelan.

Annie dan Armin terdiam melihat mereka, sepertinya Annie tidak terlalu tertarik. Berbeda dengan Armin yang tampak takjub melihat mereka, mungkin ia tidak menyangka bisa melihat sisi Eren dan Rivaile yang seperti ini.

"Rivaille, aku mencintaimu." ujar Eren senang.

"Aku juga. Maka dari itu laksanakan misimu dan bertarunglah denganku." ujar Rivaille.

Eren terkejut mendengarnya, lagi-lagi Rivaille meminta hal seperti itu. Eren langsung menggelengkan kepala, ia tidak mau melakukannya meski itu Rivaille yang memintanya sekalipun. Ia memang masih memegang pistol dan tangannya tampak gemetaran. Rivaille menggenggam tangan Eren yang gemetaran itu dan mengecup kening Eren.

"Eh?" wajah Eren semakin memerah ketika merasakan kecupan di keningnya itu.

"Kenapa kau tidak mengabulkan permintaanku, Eren? Aku hanya ingin teman-temanmu tidak memaksamu lagi." ujar Rivaille.

"Tapi ini pilihanku untuk mengikutimu, apapun itu akan kulakukan."

Rivaille langsung saja memeluk Eren dengan erat, Mikasa tidak tahan melihatnya dan ia langsung saja menarik Rivaille agar menjauh dari sosok Eren. Eren tampak tidak suka, begitu juga dengan Rivaille. Tapi Rivaille masih memasang wajah datarnya dan menatap gadis itu dengan tatapan tajam.

"Apa maksud dari tindakanmu itu?" tanya Rivaille.

"Harusnya aku yang bertanya padamu." ujar Mikasa kesal.

Armin memperhatikan mereka, entah kenapa ia merasa kali ini tim mereka tidak bertarung dengan Dark. Ia melihat Mikasa dan Dark yang tampak bersitegang dan saling melempar pandangan tidak suka, atau berusaha menjauhkan Eren dari rival masing-masing seperti tadi.

"Kau tidak perlu tahu."

Rivaille langsung menarik Eren agar bangun dan memeluknya erat, tampaknya Eren tidak bisa melawan Rivaille dan membiarkan pemuda itu memeluknya. Jantung Eren berdetak dengan kencang ketika dipeluk seperti ini, apalagi dilihat oleh semua teman-temannya. Rasanya malu sekali, tapi Eren tidak merasa keberatan.

"Eren, aku hanya ingin kau hidup untukku." bisik Rivaille di telinga Eren.

"Iya, aku tahu itu. Aku akan selalu disampingmu." ujar Eren.

"Tapi apa kau percaya jika suatu saat nanti hal yang kau anggap berharga akan pergi meninggalkanmu?"

"Eh?"

"Aku sering sekali mengalami hal itu sampai aku sendiri lelah. Aku terus merasakan kehilangan dan begitu aku mendapatkanmu aku merasa harus menjagamu baik-baik agar tidak kehilangan dirimu."

Eren terdiam mendengar ucapan Rivaille, ia tahu masa lalu Rivaille itu tidak kelam. Masa lalunya sendiri juga sama, apalagi Mikasa. Mereka semua memiliki masa lalu kelam yang tidak ingin diceritakan atau mungkin tidak ingin diingat-ingat lagi. Tangan Eren digenggam oleh Rivaille, Eren juga membalas genggaman tangan ini. Rasanya hangat sekali bisa menggenggam tangan orang yang kau cintai.

"Maka dari itu jika salah satu dari kita tidak ada... Eren, hiduplah untukku. Aku akan bahagia jika kau bahagia, aku tidak ingin membuatmu berada dalam posisi sulit seperti ini." ujar Rivaille.

"Kau bicara apa, Rivaille? Aku bahagia hidup denganmu, berdua denganmu." ujar Eren.

Rivaille tidak berbicara dan masih menggenggam tangan Eren dengan erat, pistol yang digenggam Eren juga tidak berpindah dari posisinya. Pistol itu tetap digenggam Eren, mungkin lebih tepatnya digenggam mereka berdua. Rivaille melepaskan genggaman tangan itu dan mencium bibir Eren.

"Mmhm?"

Eren terkejut dan wajahnya memerah, ia berusaha menerima ciuman ini. Ciuman lembut tanpa nafsu di dalamnya. Semua terkejut melihatnya dan Mikasa merasa geram, ia ingin menghentikan kegiatan ini tapi langkah Mikasa ditahan oleh Armin. Mikasa langsung saja menoleh dan menatap Armin dengan kesal.

"Mikasa, tolong biarkan Eren untuk saat ini." ujar Armin.

"Tapi! Aku tidak sudi melihat mereka bersama!" teriak Mikasa kesal.

"Aku mengerti perasaanmu itu, tapi menurutku mereka saling mencintai. Kita juga tidak bisa menghalangi cinta seseorang, bukan?"

"Kau harusnya mengerti dengan ucapan Armin." tambah Annie.

Mikasa menatap Annie dengan tatapan kesal dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, daripada ia semakin emosi mendengar gadis berambut pirang itu bicara lebih lanjut. Mikasa hanya bisa memandang saudara angkatnya yang sedang berciuman dengan pemuda lain, hatinya benar-benar terasa sakit.

Rivaille dan Eren terus saja berciuman dengan lembut, Rivaille memeluk pinggang Eren dengan satu tangan dan tangan yang satunya menggenggam tangan Eren yang memegang pistol. Ciuman itu mulai berubah menjadi ganas dan wajah Eren semakin memerah, bahkan pemuda berambut coklat ini mulai mendesah merasakan lidah Rivaille yang bermain dalam rongga mulutnya. Rasanya sesak sekali tapi nikmat.

"Ahmmn, Mhmm..." desah Eren pelan.

Kelima anggota muda Recon Corps tidak ada yang mengganggu mereka, mereka tahu sekarang bahwa misi mereka telah mengantarkan Eren dengan Rivaille dan dua pemuda ini memulai cinta yang seharusnya tidak mereka bangun. Tapi demi profesionalitas, mereka harus membunuh Rivaille dan membuat pembunuh sekaligus pencuri keji itu menghilang untuk selamanya.

Armin melirik ke arah Jean, karena Sasha sudah memberikan Jean pengobatan pertama jadi pemuda itu bisa bangun dan mungkin bisa membantu jika terjadi sesuatu. Mikasa sudah memandang dengan pandangan waspada dan menyiapkan pistol untuk segera menembak. Ia ingin menembak Rivaille begitu ciuman mereka itu terlepas. Ia harus melakukannya sekarang atau tidak sama sekali.

Sasha hanya berusaha untuk mengacungkan pistolnya tapi ia menurunkannya lagi karena tidak tega melihat kedua orang ini yang kisah cintanya terhalang oleh misi. Sasha jadi berpikir jika Dark bukanlah penjahat apakah bisa bertemu dengan Eren? Mungkin ia berpikir terlalu jauh.

Ciuman itu terlepas dan wajah Eren sudah sangat memerah, Rivaille merasa ada peluru yang akan kemari. Ia langsung saja menangkisnya dengan pedang dan menatap ke arah Mikasa, ia tahu gadis itu sangat menginginkan kematiannya. Ia berusaha tidak memperdulikan Mikasa dan menatap wajah Eren.

"Hei! Kau tidak bisa mendekati Eren lagi!" teriak Mikasa.

Eren menoleh ke arah Mikasa dan terdiam, pandangan mata Eren dan Mikasa bertemu. Membuat gadis berambut hitam itu terdiam dan menunduk saja, ia tahu bahwa tatapan mata Eren tadi seolah mengatakan bahwa ia harus diam.

"Eren, seperti yang kubilang tadi. Hiduplah untukku, hiduplah untuk dirimu juga. Kurasa lebih baik jika kau hidup untuk dirimu dan kau akan bebas." ujar Rivaille.

"Ke-kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Eren.

"Aku senang sekali kisah kita sampai sejauh ini. Kau pernah bilang aku layaknya bulan dan bagiku kau adalah matahari. Kita berusaha menyatu dan hasil inilah yang kita dapat. Matahari dan bulan tidak bisa menyatu, lalu kita..."

"Ri-Rivaille?"

Rivaille tidak berbicara dan mengarahkan tangan Eren yang memegang pistol itu ke arah kepalanya, tangannya memegang tangan Eren yang ada di pelatuknya. Eren terkejut melihat Rivaille yang mengarahkan pistol itu padanya dan tersenyum.

"Selamat tinggal, Eren. Aku mencintaimu sampai akhir hayatku dan aku rela jika harus mati di tanganmu. Aku hanya ingin melihatmu bekerja dengan baik dan melakukan misi hingga tuntas."

Itu menjadi kata-kata terakhir Rivaille, karena pemuda berambut hitam itu menarik jari Eren yang memegang pelatuk hingga peluru dari pistol itu keluar dan mengenai kepala Rivaille. Rivaille langsung saja ambruk dan darah mengalir dari kepalanya. Eren terkejut melihatnya dan tangannya gemetaran, bahkan seluruh tubuhnya terasa gemetar.

Kelima orang yang lainnya juga terkejut melihat tindakan itu. Tadi Dark menembak dirinya sendiri dengan pistol yang Eren pegang, itu artinya misi mereka berhasil. Meski bukan mereka yang melakukannya tapi Dark telah tewas. Pencuri dan pembunuh keji ini telah tewas, rasanya mereka senang misi yang tiada akhirnya ini bisa selesai juga. Tapi melihat Dark bunuh diri di hadapan mereka itu membuat shock juga.

"HUWAAA! RIVAILLE!"

Terdengar jeritan Eren, mereka semua menoleh dan melihat Eren yang memeluk tubuh Rivaille. Mereka terdiam dan yang terpikirkan di benak mereka adalah sosok Dark yang kuat itu rela menembak kepalanya sendiri di hadapan kekasihnya.

"Huwaaa! Hiks, Rivaille! Kenapa? Hiks..."

Mikasa langsung saja mendekati Eren dan terkejut melihat pemuda itu yang menangis hebat. Air mata tiada hentinya mengalir dari manik hijau yang selalu dianggap Mikasa memancarkan kebahagiaan. Baru kali ini ia melihat Eren tampak putus asa dan menangis sekencang ini karena kehilangan seseorang. Saat mereka kehilangan kedua orangtuanya ia tahu Eren menangis tapi tidak sampai seperti ini.

"Eren." panggil Mikasa pelan.

"Hiks... Rivaille... Padahal kau, hiks... kau janji akan menikahiku. Hiks... kenapa kau seperti ini?" tanya Eren sambil menangis.

Semuanya terdiam mendengar ucapan Eren itu, hati Mikasa terasa sangat sakit. Bahkan di saat seperti ini Eren masih memilih Rivaille yang telah tewas ketimbang dirinya yang masih hidup. Mikasa memeluk Eren dari belakang tapi Eren tidak bereaksi apa-apa, hanya terdengar tangisan pilu dari Eren.

"Eren..." gumam Armin.

"Kenapa?" Sasha tampak tidak tega untuk melanjutkan ucapannya dan memilih untuk diam.

Annie dan Jean tidak mengatakan apa-apa tapi mereka juga memiliki reaksi yang sama dengan semuanya, mereka shock saat melihat Dark menembak kepalanya sendiri apalagi di hadapan Eren. Seolah-olah yang bisa membunuh Dark hanyalah Dark sendiri, mereka merasa misi ini antara sukses dan gagal. Tapi jika dilihat oleh banyak orang, misi ini dianggap sukses.

"Hiks, Rivaille... Kembalilah..." ujar Eren dengan air mata yang masih mengalir dan mencium bibir Rivaille, berharap kekasihnya akan bangun.

Tapi yang ia harapkan tidak akan pernah terwujud, Rivaille telah tewas dan tidak akan pernah kembali hidup. Rivaille sudah pergi meninggalkan Eren untuk selamanya. Hati Eren terasa sangat sakit, semua memori tentang Rivaille kembali keluar dan berputar dengan indah di benaknya layaknya film yang terus berputar tanpa henti.

Eren menatap teman-temannya dan terdiam dengan air mata yang masih saja mengalir dari manik hijaunya. Sasha dan Armin tidak tega melihat Eren seperti itu, apalagi Mikasa yang ada disamping Eren sekarang. Mikasa bisa melihat dengan jelas tubuh Eren gemetaran.

"Kalian semua puas?! Ini yang kalian inginkan, bukan?!" teriak Eren.

"Eren..." gumam Armin.

"Hiks... Padahal Rivaille bilang, hiks... kami akan... hiks... menikah."

Sasha hanya menunduk saja dan tidak berani menatap wajah Eren, ia merasa sedih mendengar hal ini. Ia tidak kuat untuk melihat wajah Eren. Mikasa terdiam dan menggenggam tangan Eren, tapi Eren melepaskannya dan menatap wajah kekasihnya yang telah terbujur kaku dan tidak akan bangun untuk selamanya.

"Rivaille, hiks... Apa... yang harus kulakukan sekarang?" tanya Eren.

Padahal sosok itu tidak akan bisa menjawab pertanyaan Eren lagi. Eren tidak akan bisa merasakan pelukan hangat Rivaille, ciuman lembut dan penuh cinta dari Rivaille, sentuhan Rivaille yang memabukkan, kasih sayang berlimpah yang Rivaille berikan. Semuanya tinggallah kenangan.

Armin menatap sahabatnya itu dengan tatapan iba, ia tahu Eren sangat shock sekarang. Ia mendekati Mikasa dan Eren lalu menatap pemuda berambut coklat itu yang masih menangis. Ia mengeluarkan sebuah buku dan mencatat sesuatu, catatan mengenai target mereka yang telah tewas. Ia akan melaporkan kematian Dark pada atasannya.

Eren menyentuh tubuh Rivaille yang sudah tidak bernyawa itu dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana Rivaille. Ia merasakan ada sesuatu dan mengeluarkannya, ada sebuah kotak kecil berwarna merah disana. Ia membukanya dan betapa terkejutnya ia melihat dua buah cincin disana. Tangisan Eren kembali pecah dan membuat semuanya simpati padanya.

"Hiks, Rivaille... Kau, hiks... curang... Kau memiliki ini tapi hiks, tidak langsung menikahiku..." ujar Eren yang menatap cincin itu.

Semuanya terdiam melihat Eren, satu kata yang mereka pikirkan tentang Eren saat ini adalah iba. Mereka iba melihat Eren sampai seperti ini. Eren memasangkan cincin itu di jari manis Rivaille, lalu ia melepaskan cincin di tangannya dan memakai cincin yang sepasang dengan cincin yang Rivaille pakai.

"Kumohon... Biarkan aku, hiks... menikah denganmu sekarang..." ujar Eren yang masih terisak.

"Eren?!" teriak Mikasa.

"Armin, tolong ya..." pinta Eren.

Armin tidak tega dan ia mengangguk pelan, ia juga merasa sedih melihat Eren seperti ini. Seolah-olah kesedihan Eren bisa ia rasakan sekarang. Ia menatap ke arah Eren yang memeluk Rivaille dengan erat. Ia menunduk dan memejamkan mata, sungguh ia tidak kuat melihat pemandangan seperti ini.

"Dark, maksudku Rivaille, apakah kau bersedia untuk mencintai Eren Jaeger seumur hidupmu sampai akhir hayat? Mencintainya di kala sehat maupun sakit, suka maupun duka?" nada bicara Armin pun terasa gemetar, tentu saja ia melaksanakan upacara pernikahan tapi sang pengantin pria telah tewas. Armin sampai sulit untuk berkata-kata.

Hening. Tidak ada jawaban, tentu saja karena Rivaille sudah tidak bisa bicara untuk seumur hidup. Armin juga telah mendengar kata-kata terakhir Rivaille dan ia tahu Rivaille akan mencintai Eren seumur hidupnya.

"Eren Jaeger, apakah kau bersedia untuk mencintai Rivaille seumur hidupmu sampai akhir hayat? Mencintainya di kala sehat maupun sakit, suka maupun duka?" tanya Armin.

"Aku bersedia." ujar Eren.

"Kau bisa mencium pasanganmu."

Seharusnya di upacara pernikahan semuanya berbahagia, tapi yang ada disini hanyalah kesan duka. Sasha tidak tahan dan ia menangis dalam diam, Annie yang melirik ke arah lain, Mikasa yang memasang wajah sendunya sedangkan Jean yang tidak bisa berkata-kata karena terlalu terkejut melihat tindakan nekad yang Eren lakukan ini. Menikahi seseorang yang telah meninggal. Apa dia telah kehilangan akal sehatnya?

Eren berusaha mencium bibir Rivaille, tapi entah kenapa tidak bisa. Ia hanya bisa menitikkan air mata dan mengenai pipi Rivaille, manik hitam seindah malam juga sudah tertutup untuk selamanya. Eren hanya bisa menangis dan memeluk Rivaille.

"Hiks... Rivaille, kau telah... hiks... menjadi suamiku... Aku sangat bahagia..." ujar Eren masih terisak.

Armin menundukkan wajahnya, ia juga tidak kuat melihat pemandangan ini. Kenapa harus Eren yang mengalami hal seperti ini? Ia bisa merasakan kesakitan yang Eren rasakan, jantungnya seperti diremas dan ia sulit bernapas. Melihat Eren sampai seperti ini membuatnya berpikir bahwa Eren sangat mencintai Rivaille.

Eren melepaskan pelukannya dan membelai wajah Rivaille, ia hanya bisa menangis dan menatap ke arah Armin. Mikasa yang selama ini kuat berusaha menahan tangisannya, ia tidak tega juga melihat Eren sampai seperti ini. Eren berusaha menghapus air matanya dan berusaha tidak menangis lagi, meski sekarang matanya terlihat memerah karena sedari tadi ia menangis.

"Armin, misi kita sudah selesai, bukan?" tanya Eren.

"Iya. Sudah selesai, Dark sudah... tewas." ujar Armin.

"Apakah... anggota kita ada yang bisa gugur dalam menjalankan misi?"

"Bisa saja... Marco gugur saat menjalankan misi untuk menangkap Dark."

"Begitu ya. Kalau begitu, tolong catat juga bahwa ada rekan kita yang gugur."

"Ka-kau bicara apa, Eren? Di misi kita ini semuanya selamat, tidak ada yang gugur."

Eren tersenyum sendu dan ia mengambil pistol miliknya lalu meletakkannya di samping kepalanya. Semuanya terkejut melihat Eren dan ternyata benar apa yang mereka perkirakan, Eren menembak kepalanya sendiri dan tewas. Mikasa yang tidak sempat mencegah Eren hanya bisa memandang kematian Eren di depan matanya sendiri dan air mata yang sedari tadi ia tahan telah tumpah.

"EREN!" teriak Mikasa yang langsung memeluk Eren dengan erat.

Semuanya terkejut melihat Eren yang bunuh diri di hadapannya, mereka shock dan tidak menyangka Eren akan mengikuti jejak Rivaille untuk bunuh diri seperti itu. Sekarang Mikasa yang menangis dengan kencang dan memeluk tubuh Eren yang telah ambruk, darah Eren mengalir dengan deras. Armin langsung saja menangis melihat Eren bunuh diri seperti ini, ia tidak kuat melihatnya.

Sasha yang melihatnya langsung terjatuh ke tanah dengan posisi berlutut, ia tidak sanggup melihat dua kematian yang menyedihkan seperti ini berturut-turut. Hatinya terasa sangat sakit. Annie yang cuek langsung terkejut dan ia bergegas mendekati mereka sedangkan Jean hanya berusaha untuk bangun dan mendekati Armin.

"Eren!" teriak Armin. "Kenapa kau juga memilih jalan yang sama dengan Dark?!"

"Eren! Kembalilah Eren!" teriak Mikasa.

Jean memeluk Armin dari belakang, berusaha untuk menenangkan pemuda berambut pirang itu. Ia tahu bahwa Armin dan Mikasa sangat shock melihat kematian Eren di hadapan mereka. Setelah mereka melihat Dark bunuh diri sekarang mereka melihat Eren yang bunuh diri. Apakah mereka berdua memang ditakdirkan untuk berpisah?

Layaknya bulan dan matahari yang tidak akan pernah menyatu, kisah cinta mereka berdua berakhir dengan cara tragis seperti ini. Ketika Eren telah mengucapkan janji pernikahan dan mereka menikah tapi Eren langsung saja menyusul kepergian Rivaille. Mikasa tidak sanggup menahan rasa sedihnya.

"Eren! Kenapa kau tidak membawaku juga bersamamu?" ujar Mikasa dengan air mata yang mengalir di wajah cantiknya. "Kenapa kau memilih hiks... bersama dengannya? Bahkan sampai hiks... akhir hayatpun..."

"Eren... Aku baru saja membuatmu menikah dengan Dark tapi kau..." Armin tidak sanggup meneruskan ucapannya, hatinya terasa sangat sakit.

"Sudah, aku tidak kuat lagi..." terdengar suara pelan Mikasa yang masih memeluk Eren. Ia tidak peduli jika pakaiannya terkena noda darah, ia masih ingin memeluk Eren untuk terakhir kalinya.

"Jean, aku tidak sanggup melihatnya." ujar Armin.

"Aku tahu." ujar Jean pelan.

Armin meminta Jean melepaskan pelukannya dan Jean melakukannya, Armin mengeluarkan buku catatannya dan menuliskan nama Eren sebagai anggota yang gugur dalam misi. Pantas saja Eren bertanya tentang hal itu, ternyata ia bunuh diri demi menyusul orang yang dicintainya. Cinta itu memang buta dan membuat semua orang tidak bisa berpikir dengan jernih, yang tersisa adalah air mata dan rasa kehilangan itu.

Sasha mendekati mereka dan mengajak semuanya untuk pulang. Jean mengajak Armin untuk pulang dan Armin mengangguk pelan. Tapi Mikasa masih terus saja memeluk Eren dan Annie yang membujuk Mikasa untuk pulang.

"Kita harus kembali ke kota kita." ujar Annie.

"Bagaimana kau bisa memasang wajah datarmu, hah? Kau tidak mengerti perasaanku, Annie. Menjauhlah dariku!" teriak Mikasa.

"Kita akan membawa mayat mereka ke kota."

"Bagaimana caranya?" tanya Sasha.

"Memanggil kereta kuda untuk membawa kita dan mereka."

"Mikasa..." gumam Armin.

Akhirnya mereka semua membawa mayat Rivaille dan Eren ke kota mereka, Armin dan Annie memang mencari seseorang yang bisa mengantar mereka. Tidak mudah karena sekarang malam sudah sangat larut dan beruntung saja mereka menemukan seorang pria baik hati yang akan mengantarkan mereka ke kota asal mereka.

Mikasa menatap mayat Eren dengan pandangan kosong dan membelai pipi saudara angkatnya itu. Sekarang kamar di sampingnya akan benar-benar kosong untuk selamanya, ia memang berhasil membawa Eren pulang tapi tidak dalam keadaan hidup.

'Eren...' batin Mikasa sedih.


Mereka semua telah kembali ke kota dan menyerahkan mayat Rivaille kepada Keith Shadis. Keith terkejut karena keenam anggota mudanya berhasil menghabisi Dark walau ia menerima kenyataan bahwa ia kehilangan anggota lainnya dalam misi ini yaitu Eren.

Bertholdt, Reiner, Connie, Christa dan Ymir yang mengetahui hal ini terkejut dan berusaha memastikannya kepada kelima teman mereka. Tapi jangankan untuk menjawab pertanyaan mereka, untuk menceritakan kronologi kejadian saja mereka tampak tidak sanggup terutama Armin dan Mikasa.

Annie yang memberitahukan hal ini pada Keith Shadis dan ketika ditanya oleh teman-teman ia memilih untuk diam, tapi hanya satu jawaban yang selalu ia berikan kepada mereka bahwa Eren meninggal karena tugas. Mereka berlima sepakat tidak akan mengatakan kepada siapapun alasan sebenarnya Eren meninggal. Hanya mereka saja yang akan menjadi saksi dari kisah ini, kisah cinta yang tidak bisa berakhir dengan bahagia.

.

.

.

Pagi hari adalah waktu yang dipilih untuk pemakaman Eren. Semua teman-temannya datang untuk melayat Eren dan melihat sosok itu untuk terakhir kalinya. Mikasa hanya bisa terdiam tapi sedari tadi air matanya terus mengalir, semenjak kematian Eren itu Mikasa selalu menangis. Seolah-olah air matanya tidak bisa mengering dan ia selalu menyebut nama Eren.

Di hadapan mereka semua terdapat sebuah nisan dengan ukiran nama Eren disana, semuanya merasakan duka yang sama. Bagi mereka Eren adalah pemuda yang baik dan ceria, tapi mereka mengerti bahwa kematian Eren adalah karena melaksanakan tugas. Eren telah meninggal dengan terhormat.

Tapi hanya kelima rekan Eren saja yang tahu dengan pasti kejadiannya, mereka juga tidak pernah berbicara mengenai kejelasan misi mereka. Masih sebuah misteri bagi rekan-rekan yang lain bagaimana caranya mereka berenam mengalahkan Dark meski harus kehilangan Eren.

Perlahan-lahan semuanya mulai pergi meninggalkan makam Eren, meski mereka mengenal Eren tapi tidak ada seorangpun yang ingin menyusul Eren. Sekarang hanya tertinggal kelima orang anggota muda Recon Corps. Annie, Armin, Jean, Mikasa dan Sasha menatap datar ke arah nisan Eren. Mikasa mendekatinya dan membelai nisan itu, ia merasa dengan membelainya bisa menyentuh tubuh Eren. Padahal ia tidak pernah melakukannya.

"Eren..." gumam Mikasa pelan.

"Kami tidak mengatakan yang sebenarnya pada mereka semua," ujar Sasha. "A-aku pulang dulu. Aku hanya tidak tega melihatnya seperti ini."

Sasha bergegas meninggalkan mereka, ia tidak sanggup melihat pemandangan seperti ini. Tampaknya Sasha belum tenang dari rasa shock kemarin, tapi bukan hanya Sasha saja yang seperti itu. Mereka semua merasakan hal yang sama, seolah-olah Eren memilih kematian sebagai jawaban yang paling tepat.

"Dia hanya memperdulikan Dark." ujar Annie.

"Kurasa... cinta bisa membuat seseorang gila seperti ini." ujar Jean.

Armin dan Mikasa tidak menjawab apa-apa, mereka merasa ucapan Jean benar tapi mereka tidak berkomentar tentang perasaan Eren pada Rivaille. Annie menatap teman-temannya dan ia langsung pergi begitu saja, sepertinya gadis ini tidak ingin terlibat terlalu jauh. Sedangkan Jean menatap mereka berdua dengan tatapan sendu, ia tahu bahwa mereka berdua yang hatinya paling terluka melihat kematian Eren.

"Armin, Mikasa... Kalian baik-baik saja?" tanya Jean.

"Jean? Ku-kurasa tidak apa..." gumam Armin.

"Kalian tidak bisa seperti ini terus, aku kasihan dengan Eren. Kalau begitu aku pamit dulu."

Jean pergi meninggalkan mereka dan suasana tampak sangat sepi, hanya ada angin yang menemani mereka berdua. Armin dan Mikasa adalah sahabat Eren sejak kecil dan merasakan kehilangan seperti ini membuat hati mereka sangat sakit. Eren yang telah menyelamatkan Mikasa dari rasa kesedihannya, Eren jugalah yang menyelamatkan Armin dari masa lalunya yang kelam dan menyedihkan.

Bolehkah jika mereka bilang Eren adalah matahari untuk mereka berdua juga? Eren yang memberikan mereka harapan untuk hidup dan berusaha melakukan sesuatu dengan lebih baik. Armin juga mengerti kenapa seseorang yang kejam seperti Dark bisa jatuh cinta dengan Eren, ia melirik ke arah Mikasa yang masih saja terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Mikasa, sudah waktunya kita pulang." ujar Armin.

"Aku masih mau disini." ujar Mikasa langsung.

"Tapi kita tidak bisa berada disini terus. Aku yakin... Eren tidak ingin melihat kita seperti ini. Ini adalah keputusan yang telah ia ambil dan ia tahu resikonya. Aku hanya berharap mereka bisa bertemu suatu hari nanti mungkin di kehidupan berikutnya, bukan dipisahkan dengan takdir yang kejam sepert ini.

Mikasa terdiam dan ia memejamkan matanya, ia mengerti dengan ucapan Armin dan sudah sangat yakin dengan cinta Eren pada Rivaille. Bahkan Eren rela kehilangan hidupnya demi Rivaille yang telah pergi menyusulnya. Mikasa baru kali ini merasakan rasa sakit yang luar biasa di hatinya, setelah dulu kehilangan kedua orangtuanya dan sekarang ia kehilangan saudara yang sangat ia sayangi.

"Kau benar, Armin..." gumam Mikasa.

Gadis berambut hitam itu sudah bangun dan menatap nisan itu dengan senyuman sendu di wajahnya, ia membelai nisan itu lagi lalu pergi meninggalkannya bersama dengan Armin. Mikasa memejamkan matanya dan berharap bahwa Eren bahagia dengan pilihan yang telah ia pilih meski menyebabkan dirinya sudah tidak ada di dunia lagi.

'Aku mengerti, Eren. Maafkan aku yang tidak bisa sadar sampai sekarang.' batin Mikasa.

Mereka berdua sudah pergi meninggalkan pemakaman itu dan meninggalkan sosok Eren sendirian disana yang telah terbujur kaku dalam makamnya. Inilah pilihan yang Eren inginkan untuk bisa menyusul Rivaille dengan harapan tidak merasakan kesedihan yang mendalam.

Layaknya bulan dan matahari yang tidak akan pernah bisa bersatu, Rivaille dan Eren juga seperti itu. Mereka berdua berusaha memaksakan cinta mereka agar bersatu dan melawan segala halangan yang menimpa mereka. Kekuatan cinta mereka berhasil melewatinya tapi memang bukan takdir mereka untuk bersama, sekuat apapun mereka berusaha bertahan mereka akan terjatuh dan mengikuti putaran takdir.

Tidak ada yang bisa mengalahkan cinta sejati ini, tapi hanya takdir yang mampu membuat cinta mereka berhenti di tengah jalan. Takdir seperti menertawakan kisah Eren dan Rivaille yang tidak pernah berakhir dengan bahagia. Mereka dulu kesulitan dalam menghadapi rintangan, setelah berhasil melewatinya mereka malah mendapatkan banyak masalah baru. Moment kemesraan mereka terasa sangat singkat, tapi baik Eren atau Rivaille merasa bahagia dengan waktu yang singkat ini.

Terima kasih kepada takdir yang telah mempertemukan mereka meski pada akhirnya mereka dipisahkan. Tidak apa, asalkan mereka bisa bertemu dan memulai kisah cinta ini daripada tidak sama sekali. Kisah cinta Rivaille dan Eren yang manis sekaligus pahit, kisah cinta yang berakhir dengan tragis.

Suatu saat nanti jika mereka terlahir kembali satu hal yang mereka inginkan adalah mereka dapat bertemu kembali dan mengulangi kisah cinta mereka agar tidak rumit seperti sekarang. Kisah cinta yang berakhir dengan bahagia dan ke jenjang yang lebih serius lagi. Sebuah kisah yang akan tertutup dan berisi banyak harapan agar mereka bisa terus bersama.

Suatu saat nanti...

The End

A/N: Hai semunya, akhirnya fic ini selesai juga...^^

Maafkan aku yang tidak membuat happy ending dan malah terpikir sad ending seperti ini. Seperti yang dijanjikan aku akan membuat epilogue singkat di chapter depan, jadi fic ini belum sepenuhnya tamat.

Terima kasih kepada OurieChrome, Kim Arlein 17, Nacchan Sakura, Azure'czar, elfri dan sessho ryu yang telah memberi review di chapter sebelumnya juga kepada readers yang membaca fic ini. Terima kasih kalian semua mau meluangkan waktu membaca fic ini.

Sampai jumpa di spesial chapter...^^