Permata Ungu

Summary:

Tak peduli seberapa cerdik Byakuya melindungi adiknya, Aizen menemukan jalan untuk mendapatkan Rukia. IchiRuki, AiRuki. AU.

Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.

Chapter 7

.-.-.

Byakuya melesat menuju stall kudanya begitu selesai membaca surat Renji. Dengan cekatan pria itu memilih kuda terbaiknya dan memacunya menuju Karakura. Belum pernah dia setegang itu. Mendung sangat pekat dan kabut mulai turun, tapi situasi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk segera sampai.

Renji telah menunggunya. Sigap, pria berambut merah itu menuntun kuda Byakuya dan mengikatnya di stall. Tanpa menunggu, Byakuya menghambur masuk. Walau wajahnya tidak sarat emosi, terpancar kelegaan luar biasa menyelimuti rautnya ketika melihat Rukia duduk di bantal bulu angsa di ruang tengah.

Jubahnya berkibar keras saat pria itu menyeberangi ruangan dan meraih bahu Rukia, merengkuhnya. Sesaat kemudian dia melepaskannya, meneliti adiknya baik-baik.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas.

Rukia menggeleng. "Kenapa?" tanyanya. "Kenapa dengan Aizen?"

Byakuya terkesiap. Matanya mencari Renji, yang sudah berdiri di ambang pintu. Renji menggeleng, mengisyaratkan bahwa dia tidak memberitahu Rukia apapun.

"Darimana kau menduga seperti itu?" Byakuya balik bertanya, nadanya datar.

"Aku tidak bodoh," jawab Rukia kasar. "Begitu tahu pria yang bersamaku bernama Aizen, Renji menarikku dan akhirnya kami semua pulang. Jadi aku menyimpulkannya sendiri," lanjut Rukia.

Dalam keadaan normal, tidak mungkin dia akan berkata sekasar itu, terutama pada kakaknya. Rukia sangat menyayangi kakaknya. Selama ini dia menerima apapun yang diminta Byakuya, tidak mempertanyakan banyak hal. Dia sadar Byakuya menanggung suatu beban yang sampai sekarang tidak –atau belum- diceritakan padanya.

Byakuya terdiam. "Ceritanya panjang Rukia," ujarnya berenigma.

"Aku ingin mendengarnya," pernyataan itu lebih terdengar sebagai tuntutan.

"Yang penting kau aman di sini," kata Byakuya lagi.

"Di sini? Aku ingin pulang ke rumah," pekik Rukia. Dia menatap garang pada sang kakak.

"Ini juga rumahmu," ucap Byakuya sabar, berusaha menanamkan fakta yang mungkin dilupakan adiknya.

"Rumah di Seireitei," sergah Rukia cepat. "Aku ingin pulang."

Detik berikutnya dia sudah terisak.

Byakuya menatap sedih adiknya. Dalam hati sudah lama dia berdebat dengan dirinya sendiri. Menjauhkan Rukia dari rumah bukan ide brilian, dia tahu itu. Tapi prioritas Byakuya adalah kerahasiaan Rukia.

Sekali lagi dia merengkuh adiknya. Benarkah Rukia sekurus ini? Diusapnya lengan Rukia. Meski kelihatannya kurang berperasaan, hatinya pedih melihat adik, dan satu-satunya keluarga yang dimilikinya berurai air mata dan berulang-ulang menggumamkan 'Aku ingin pulang.'

"Baiklah, Rukia. Aku akan menceritakannya padamu," ucapan Byakuya mampu sedikit meredakan tangis Rukia. "Tapi tidak di sini. Begitu hujan reda, kita pulang."

"Kita bisa ke Seireitei sekarang," Renji yang sedari tadi diam kini membuka suara, memberi usul. "Aku yang mengendalikan kereta," katanya menawarkan diri.

"Tidak. Kita menunggu hujan reda. Aku tidak ingin kusir sekaligus pengawal Rukia sakit gara-gara kehujanan," putus Byakuya tegas.

"Aku tidak selemah itu, Tuan," bantah Renji tidak suka.

Byakuya melirik Renji. Mata hitamnya menusuk mata Renji, terus ke hatinya, membuat pemuda itu tidak tenang. "Baiklah," kata Renji akhirnya.

.-.-.

Rukia tersenyum ketika memasuki rumah yang dirindukannya. Walau hatinya berat, terlebih ketika mendengar pernyataan Byakuya bahwa Renji ternyata berada di dekatnya sebagai pengawal, bukan hanya sebagai sahabat, gadis itu tidak bisa mencegah rasa gembiranya menginjakkan kaki di rumah.

"Ikut aku," kata Byakuya.

Rukia berjalan di belakangnya, mengikutinya dalam diam. Rukia merasa percuma saja bertanya pada kakaknya saat itu. Sekali Byakuya berkata sesuatu, dia tidak akan goyah.

Betapa terkejutnya nona muda itu ketika Byakuya membawanya ke ruangan yang selama ini belum pernah dimasukinya –sampai saat itu. Terlebih ketika dia melihat potret besar yang tergantung di dinding.

"Itu...bukan aku," ujarnya lambat-lambat. "Mirip denganku tapi bukan aku."

Byakuya mengamati reaksi Rukia. "Itu Hisana, nenek moyang kita. Yang tidak tahu akan berpikir itu lukisanmu," jelasnya.

Rukia menoleh, menatap kakaknya. "Aku tidak pernah mendengar nama Hisana," gumamnya dengan alis berkerut. "Apa hubungannya dengan Aizen?" tanyanya tiba-tiba.

Byakuya mengatur napas. Dari luar dia terlihat tenang, posturnya kokoh. Tapi dalam hati, pria itu mempersiapkan diri, menyadari bahwa rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat sebentar lagi tidak akan bisa disebut 'rahasia' lagi.

Dengan singkat Byakuya membeberkan kisah asmara rumit yang berbuntut pemutusan pertunangan Hisana dengan pria bermarga Aizen, dan kawin lari wanita itu dengan kakek moyang mereka.

"Jadi, keturunan kelima akan kembali ke Hueco Mundo?" ulang Rukia tak percaya. "Maksudnya, aku harus ke tempat itu?" Gadis itu merasa hampa. Dia mencintai Seireitei, rumahnya dengan sepenuh hati. Tak terbayangkan sebelumnya jika dia harus berada jauh.

"Sayangnya, menurut perjanjian itu, iya," tukas Byakuya dengan berat hati.

"Aku harus menikah dengan Aizen?" tanya Rukia ragu-ragu. Perutnya bergejolak, merasakan sensasi aneh yang baru kali ini dikenalnya. Tenggorokannya terasa kering.

"Tidak, bukan seperti itu," sanggah Byakuya. Wajah tampannya menunjukkan seseorang yang memikul beban dunia di pundaknya. "Saat itu, mereka tidak meminta keturunan kelima untuk menikah dengan keturunan mereka. Disamping itu, gender juga tidak bisa diprediksi atau ditentukan, Rukia. Tuntutan mereka agar generasi kita kembali ke Hueco Mundo, tidak ada syarat harus terikat dalam pernikahan."

Rukia menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya. Dia tersenyum, agak lega. Ide menikah yang diatur oleh orang lain untuk dirinya benar-benar horor baginya. Meski begitu, Rukia tidak tenang. Mengetahui rahasia ini bagai memakan buah simalakama. Saat tidak tahu, dia masih bisa tenang, sadar bahwa segala perlindungan Byakuya memiliki alasan dibaliknya. Dan ketika akhirnya dia mengetahui kejujuran tentangnya, Rukia harus menelan kenyataan pahit bahwa dia adalah orang yang terpilih. Sebagai generasi kelima yang semestinya saat ini berada di tempat asing.

"Karena itukah, aku terpaksa tinggal di Karakura dan bukannya di sini?"

Hati Byakuya seperti digodam palu kasat mata mendengar kata 'terpaksa' meluncur dari bibir Rukia. Mungkin ada hubungannya dengan kenyataan bahwa Rukia seorang wanita, sang adik lebih memiliki ikatan dengan rumahnya. Byakuya menyadarinya, karena itulah dia memberi apapun yang diminta Rukia, sebagai kompensasi atas kesediaannya selama dua puluh dua tahun hidup jauh dari rumah. Mengajak sang adik keliling berbagai tempat supaya dia tidak layu dalam kebosanan.

Byakuya mengangguk.

Terlepas dari informasi tentangnya, Rukia merasa bersalah telah membentak kakaknya. Terlebih saat melihat ekspresi Byakuya yang selama ini hanya sekali ini dilihatnya. Dia benci menyaksikan kelebatan bersalah, pedih, dan khawatir di wajah Byakuya. Sinar di mata kelamnya redup.

"Maaf Rukia, mungkin bukan keputusan bijaksana merahasiakan keberadaanmu, tapi aku terpaksa melakukannya. Aku salah karena mengingkari janji kuno itu, tapi aku juga tidak bisa dikatakan benar dengan membuatmu sedih karena harus jauh dari rumah," sesal Byakuya pahit. Wajahnya pucat , sepucat jubah hitam yang dikenakannya.

Samar Rukia mendengar guntur kembali bergemuruh. Begitu hujan hampir reda, hanya menyisakan rintikan kecil, Renji mengerahkan Zabimaru ke Seireitei. Udara sangat dingin tapi Renji tidak keberatan. Yang lebih mencekam malah suasana di dalam kereta. Hening dan penuh ketidakpastian.

Sekali lagi Rukia mengerling lukisan Hisana, kemudian wajah pias Byakuya. Gadis itu sungguh-sungguh menyesal telah bersikap kasar pada kakak yang sudah mati-matian berusaha menyembunyikannya. Tak ada yang ingin menjauhkan seorang adik dari rumahnya sendiri, pikir Rukia muram, dan pastilah Byakuya melakukannya bukan dengan senang hati.

.-.-.

Rukia menikmati hujan dari dalam kamarnya yang luar biasa luas. Dia berbincang ringan dengan Renji. Pertama ada sedikit rasa marah ketika tahu Renji dan Shirayuki terlebih dulu mengetahui rahasia ini.

Pemuda kepercayaan Byakuya itu bisa merasakan keengganan Rukia membicarakan perjanjian kuno itu lebih lanjut. Renji menurut. Jadi dia mengikuti obrolan Rukia. Ringan dan sama sekali tidak menyinggung Aizen.

"Ichigo tidak tahu kita sudah pulang," ucap Rukia setelah sedikit merenung.

Renji tegang. "Rukia, bukannya aku curiga, tapi tidakkah menurutmu teman barumu itu mencurigakan?" tanyanya hati-hati.

"Oh," gumam Rukia, kecewa.

Renji menyesal telah mengatakannya. Dia bisa melihat Rukia menyukai Ichigo. Selama ini gadis itu tidak pernah berteman akrab dengan siapapun selain dirinya dan Hanataro. Jadi, ketika mendapatkan teman baru, sang nona benar-benar terlihat ceria dan senang.

"Maaf, tidak bermaksud..."

"Tidak apa," potong Rukia, jenuh mendengar kata 'maaf' untuk hari itu. Sudah cukup hatinya tercabik mendengar kata itu keluar dari mulut Byakuya. Dia sudah muak mendengar 'maaf'.

"Mungkin kau benar," desah Rukia, sedih. "Mungkin Ichigo ada hubungannya dengan Aizen. Siapa tahu," katanya sebelum mengedikkan bahu, berusaha terlihat acuh, menutupi kecewa yang membelenggu hatinya.

"Yang terpenting, sekarang kau kembali ke rumah," ujar Renji, berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Iya," desah Rukia. Hujan di luar sudah tidak terlalu deras. Hawa dingin berpendar di ruangan itu, aroma tanah lembab bercampur wangi bunga bercampur lembut. Suasana seperti ini selalu membuat Rukia tenang, terlebih saat ini dia berada di rumah.

Dia mengalihkan matanya dari pemandangan guyuran hujan di luar, kembali menatap Renji. Sahabatnya itu telah berganti baju. Jaketnya yang basah kuyup karena menembus hujan kini digantikan oleh jaket coklat tua. Rambut merah dan basahnya yang panjang terurai melewati bahu, menyentuh pinggangnya.

Warna tanah jaket Renji menyentak ingatan Rukia akan seorang pria berambut coklat dan berwajah tampan. "Menurutmu, Aizen mengenaliku?" tanyanya, membawa subyek yang sedari tadi dihindarinya.

"Aku tidak bisa memastikan, dia tahu atau tidak," jawab Renji setelah mengingat lagi bahasa tubuh Aizen ketika memperkenalkan dirinya tadi pagi. Dia tidak sampai hati mengatakan betapa mencurigakannya pandangan Aizen dan raut wajahnya, seakan memberitahunya non verbal bahwa pria itu tahu lebih banyak daripada yang diperlihatkannya pada Rukia. Bagi mata Renji, Aizen memberi isyarat dia mengenali Rukia.

"Tapi, wajah Hisana mirip sekali denganku, tak mungkin dia tidak mengenaliku," kata Rukia, menyimpulkan. Dia tak tahu pikiran itulah yang juga ada di kepala Renji.

"Jadi, anggap saja Aizen sudah mengenalimu, kalau begitu," putus Renji akhirnya, tidak melihat lagi ada alasan lain yang bisa menutupi pemikiran itu.

"Apa yang harus kulakukan?" tanya Rukia, menatap mata Renji sungguh-sungguh. Putus asa terselip di antara nada suaranya.

"Rukia, serahkan itu pada Byakuya. Jangan membebani kepalamu dengan 'apa yang akan terjadi' sekarang," tegur Renji tegas.

"Tapi ini menyangkut diriku," sahut Rukia lugas. Mata ungunya menentang Renji.

"Juga menyangkut Byakuya. Dan aku," tambah Renji, matanya mengeras. Dia menggertakkan gigi. "Sebagai kakak, Byakuya akan mencarikan jalan terbaik untukmu. Dan sebagai sahabatmu, bersama Byakuya, aku akan melindungimu. Jangan takut," kata Renji, menenangkan Rukia. Pria yang biasanya kasar dan temperamental itu kini tampak menakutkan, tapi postur siaganya menguarkan rasa tenang pada gadis di meja sampingnya.

Rukia tersenyum. "Tahukah kau, barusan kau tampak menawan, lho," puji Rukia tulus.

"Menawan?" Renji membeo, sedikit kaget dengan komentar Rukia. Aura yang tadinya tebal dan tidak mengenakkan kini terangkat.

"Iya, seperti...seorang pria."

"Hei, aku protes. Aku beneran pria, kok."

"Maksudku, bisa mempesona wanita."

"Oh! Bilang dong!"

"Kau memotong ucapanku sih."

"Tidak!"

"Iya!"

Renji mendelik. Tak peduli berapapun usianya, Rukia selalu bisa menjungkirbalikkan emosinya seperti membalikkan telapak tangan. Gampang.

"Renji," panggil Rukia kemudian. "Tidak pernahkah kau tertarik dengan seseorang?"

Pemuda tinggi itu terperangah. "Kok baru tanya sekarang?" sindirnya.

"Barusan saja penasaran," jawab Rukia sederhana.

Renji mengedikkan bahu. "Belum memikirkannya," katanya asal.

"Bukannya karena menaruh hati padaku, kan?" tanya Rukia penuh curiga.

"Bukan!" secepat kilat Renji menukas. "Jangan membuatku sebal, Nona," katanya kesal. "Buatku, yang paling penting adalah menjagamu."

"Bagaimana kalau sekarang aku tidak perlu dijaga lagi? Aku bukan anak kecil lagi, Renji," ujar Rukia berargumentasi.

"Aku akan memikirkannya saat itu tiba."

Renji, pikir Rukia, benar-benar pemuda teguh yang mengikuti jalan lurus tanpa keinginan untuk berbelok. "Dedikasimu untukku, sungguh luar biasa," ucap Rukia.

Karena Byakuya. Hampir saja Renji membalas seperti itu. Dia hanya menutup mulut.

.-.-.

Diam-diam, tanpa diketahui Rukia, Renji kembali ke Karakura, menelusuri latar belakang Ichigo. Sebelumnya dia menemui Unohana, karena Hanataro masih ada hubungan famili dengannya sedangkan Ichigo akan membantu praktek pria kecil itu. Unohana membenarkan Ichigo akan tinggal sementara di tempat Hanataro. Wanita itu sudah mendengar cerita Renji tentang Aizen, dan setuju dengan rencana Renji menyelidiki asal usul Ichigo.

Bukannya tanpa alasan Renji melakukannya. Walau Ichigo berpotensi menimbulkan kecurigaan dan warna rambutnya menyebalkan, fakta bahwa Rukia berteman dengannya membuat pemuda itu mencari informasi yang bisa mengkonfirmasi bahwa Rukia bisa melanjutkan pertemanannya dengan Ichigo atau tidak. Dia tidak tega melihat Rukia kehilangan seorang teman. Nonanya itu terlalu lama hidup dalam sangkar emas, selalu berhati-hati dan tidak mengenal banyak orang.

Ichigo Kurosaki. Pemuda yang tinggal di bagian lain Karakura, tinggal dengan ayah dan dua adik kembar. Ayahnya menjalankan klinik kecil di rumahnya. Merupakan seorang perawat yang sudah menjelajahi berbagai tempat. Tidak berhubungan dengan Aizen.

Poin terakhir itu melegakan Renji.

Selama beberapa hari Rukia tinggal di Kuchiki Manor. Byakuya berhati-hati menyampaikan bahwa dia masih harus tinggal di Karakura. Jadi jika Aizen bertandang, dia tidak akan menemukan Rukia di bagian manapun rumah itu. Bahkan potret Rukia hanya ada satu, yaitu di ruangan terlarang yang hanya bisa dimasuki Byakuya dan orang terpercayanya, Renji. Dan masih ada kemungkinan terbuka, yaitu Aizen tidak tahu di mana Rukia berada.

Rukia tidak menolak. Dia tidak tahu, begitu juga Byakuya dan Renji, apa yang akan terjadi. Tapi gadis itu mengerti kesungguhan Byakuya melindunginya.

Begitu kembali ke Karakura, Ichigo sudah ada di tempat Hanataro. Sesuai janjinya, Ichigo sering mampir ke rumah Rukia, kadang bersama Hanataro.

Renji dan Shirayuki lega dengan informasi bahwa Ichigo tidak ada sangkut pautnya dengan Aizen. Mereka hanya bisa mengawasi Rukia ngobrol dengan Ichigo di rumah mereka. Melihat nona mereka bersenda gurau dan riang membuat dua orang itu sekali lagi lega. Sebelumnya mereka mengira Rukia akan bereaksi ekstrim dan muram terus menerus.

.-.-.

Byakuya tidak menduga bahwa Aizen akan mendatangi Kuchiki Manor beberapa hari setelah Rukia kembali ke Karakura. Wajah datar dan tanpa emosinya menyembunyikan was was dan perasaan tidak menyenangkan lain di hatinya. Pria tinggi berambut kelam itu lihai mengatur ekspresi wajahnya, tetap kelihatan tenang tak tergoyahkan dengan postur dan bahasa tubuh yang sama sekali tidak menunjukkan pria itu syok dengan keadaan seekstrim apapun. Kecuali di depan Rukia, hanya adik tercintanya yang bisa membuatnya panik dan membuyarkan wajah topengnya.

"Senang bertemu denganmu, Byakuya Kuchiki," sapa Aizen ramah. "Sepertinya baru kali ini kita bisa ngobrol langsung, meski kalau perhitunganku tidak salah, sudah beberapa kali aku bersua denganmu."

Byakuya nyaris membeku. Nada suara Aizen tidak selayaknya pria pintar yang sedang menuntut haknya. Tidak, pria berjubah bepergian berwarna ungu cerah itu malah duduk tenang dan sapaannya tak ubahnya obrolan ringan seorang kawan lama tentang cuaca yang akhir-akhir ini sering berkabut dan hujan.

"Begitu juga denganku," balas Byakuya datar, meski dia tidak bisa mengacuhkan perasaan bahwa Aizen bukan tipe orang yang bisa diacuhkan dengan gampang. Jadi benar rumor yang beredar, bahwa Aizen adalah pria kharismatik yang mampu menarik kawan ke sisinya dan membuat lawan berubah menjadi sekutu.

"Aku sangat yakin kau bisa menduga maksud kedatanganku," ujar Aizen.

"Tidak, aku tidak tahu," balas Byakuya, nadanya monoton.

"Mungkin saja pendahuluku melupakan yang pernah terjadi antara Hisana dengan kakek moyangmu, tapi tidak denganku," kata Aizen tanpa basa basi. Mata coklatnya serius. Aura ruangan luas itu mendadak dipenuhi ketegangan. "Aku berpegang teguh bahwa suatu saat, generasi kelima Kuchiki setelah insiden itu akan kembali ke tanah kami."

Byakuya tidak merespons. Kadang dia bicara panjang lebar dan murah kata, tapi seringnya dia pelit bicara, hanya membuka suara seperlunya. "Siapa yang harus kuserahkan? Ataukah kau menunggu anakku?" akhirnya dia bicara.

"Bukan anakmu. Adikmu yang harus ke Hueco Mundo," Aizen tersenyum penuh kemenangan. "Aku baru saja bertemu dengannya beberapa waktu lalu. Sekali lihat, aku tahu dia berdarah Kuchiki. Dari wajahnya. Seakan Hisana terlahir kembali."

"Aku tidak tahu siapa yang kau bicarakan," sahut Byakuya dingin.

"Kau tak perlu berpura-pura lagi, Tuan Kuchiki," Aizen menimpali. Walau raut wajahnya tetap baik hati, yang tersirat dalam kalimatnya berubah menjadi ancaman secara halus. "Aku menunggu itikadmu mengembalikannya, tapi kalau kau tetap keras kepala, tahu-tahu saja kau akan mendapatinya sudah berada di Las Noches, kediaman keluarga Aizen."

.-.-.

TBC

A/N: Akhir-akhir ini saya jarang mengupdate cerita-cerita saya. Kesibukan rumah dan kerjaan makin menumpuk, sementara saya menjaga dan mengurus rumah, dan keluarga saya sedang liburan. Argh!