Disclamer: : Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama.
Warning: AU, OOC, Shounen-ai
Just Like Moon and Sun
-Epilogue-
Takdir telah mempermainkan cinta dua pemuda ini, mereka terjatuh ke dalam pusaran takdir tragis yang membuat mereka berpisah. Meski mereka selalu berusaha untuk menyatukan cinta ini tapi berakhir dengan kematian mereka berdua. Apakah ini akhir dari cerita cinta mereka? Apakah dengan keduanya yang menutup mata tidak ada yang bisa mengingat kisah cinta ini?
Tidak, masih ada yang mengingat kisah mereka.
Kelima saksi yang melihat pengorbanan mereka tahu seberapa kuat kedua pemuda itu berjuang demi cinta terlarang yang mereka rajut. Cinta yang indah sekaligus menyakitkan untuk dikenang. Dunia itu memang menyimpan sejuta misteri hidup dan tidak ada seorangpun yang tahu jawaban dari takdir mereka masing-masing.
Tapi percayakah kau pada reinkarnasi?
Ketika kau terlahir kembali, kehidupan sebelum dirimu juga ikut terbawa dan bisa saja membawa kenangan yang lalu bersama dengannya. Satu wujud manusia tapi seperti memiliki dua jiwa di dalamnya.
"Aduh! Aku harus cepat!" teriak pemuda berambut coklat dengan manik hijaunya, ia terlihat buru-buru untuk memakai seragamnya. "Mikasa, dimana kau taruh kaos kakiku?"
"Ada di lemarimu, kau tidak melihatnya?" ujar seorang gadis bernama Mikasa yang dengan tenang menyiapkan sarapan bersama dengan seorang wanita.
"Eren, lagi-lagi kau menaruh barangmu di sembarangan tempat." gumam wanita itu, Carla Jaeger yang meletakkan sarapan di meja makan.
Akhirnya Eren sudah menemukan kaos kaki miliknya dan memakainya tapi karena tidak melihat tangga ia sampai terjatuh dan mengaduh kesakitan. Mikasa yang mendengar suara ribut di tangga bergegas mendekatinya dan melihat Eren yang sedang mengusap bokongnya yang terkena lantai lebih dulu.
"Eren, kau baik-baik saja?" tanya Mikasa.
"Iya. Aku tidak apa kok." ujar Eren yang langsung bangun dan ke ruang makan.
Di rumah keluarga Jaeger ini tampak damai dan seperti keluarga lainnya yang khas. Mikasa sebenarnya bukan anak kandung keluarga Jaeger, ia adalah anak angkat mereka. Ibu Mikasa meninggal karena sakit keras dan Mikasa tinggal berdua dengan ayahnya, tetapi setahun setelah ibunya meninggal sang ayah menyusul karena kecelakaan. Karena Mikasa sebatang kara, Tuan Jaeger mengangkat Mikasa menjadi anaknya dan hidup bersama dengan mereka.
"Eren, Mikasa ayo dimakan sarapannya. Nanti kalian terlambat ke sekolah." ujar Carla.
"Iya..." ujar mereka berdua.
Kedua remaja ini memakan sarapannya dan tidak lama mereka pamit untuk berangkat ke sekolah. Eren langsung saja berlari karena tidak ingin terlambat ke sekolah dan Mikasa menyusulnya, sepertinya Eren tidak melihat seseorang yang akan melewatinya. Manik hijau Eren hanya fokus ke jalanan saja dan sebelum Mikasa sempat memberitahunya Eren telah menabrak seseorang itu hingga dirinya terjatuh.
"Aduh..." keluh Eren.
"Eren!" Mikasa langsung mendekati Eren.
"Kau tidak apa? Kalau jalan jangan terburu-buru begitu." ujar orang itu.
Eren yang tadi masih mengaduh kesakitan langsung menatap orang itu, ia melihat seorang pemuda dengan rambut hitam dan warna mata yang senada. Ia langsung bangun dan menatap pemuda itu dalam diam, ternyata pemuda itu lebih pendek darinya. Pemuda itu menatap datar ke arah Eren dan Mikasa.
"Maafkan aku Sir." ujar Eren langsung.
Pemuda itu terdiam dan Eren bergegas pergi meninggalkan pemuda itu, Mikasa menyusul langkah Eren. Mereka berdua sudah pergi meninggalkan pemuda itu dan terlihat senyum tipis dari wajah pemuda ini. Angin pagi yang sejuk menemani dirinya dan mata hitamnya memperhatikan punggung pemuda berambut coklat yang sudah menjauh dari hadapannya.
'Akhirnya aku menemukanmu, Eren.' batin pemuda itu yang kembali melanjutkan perjalanannya.
Sekarang percayakah kau akan reinkarnasi? Lalu sosok kehidupan sebelum dirimu membawa kenangannya dan membuat kenangan itu teringat dalam dirimu dan kau sudah menyatu dengan dirinya. Itulah yang Rivaille alami, di kehidupan sebelumnya ia adalah seorang pencuri sekaligus pembunuh keji yang akhirnya bunuh diri demi kekasihnya yang adalah musuhnya.
500 tahun telah berlalu sejak kejadian itu dan Rivaille kembali hidup, lebih tepatnya ia kembali menjadi dirinya di kehidupan setelah ia meninggal. Ketika ia hidup, ia merasa semuanya biasa saja dan ia terus mencari sosok kekasihnya. Memori kehidupan sebelumnya terbawa hingga sekarang dan membuatnya terus mencari Eren tapi ia tidak pernah menemukannya.
Apakah takdir kembali mempermainkan mereka?
Hanya dengan kejadian sepele seperti tadi, Rivaille berhasil menemukan sang pujaan hati. Tidak sia-sia selama ini ia berharap suatu saat dapat bertemu kembali dengan Eren. Ternyata sosok kekasihnya masih sama seperti yang dulu, rambut coklat yang indah, manik hijau yang cerah bagai matahari. Semuanya masih sama seperti dulu, sosok kekasihnya masih sama.
Hari sudah sore dan Eren memutuskan untuk pulang ke rumahnya, Mikasa tidak pulang bersama karena ada urusan di kegiatan clubnya. Ia berjalan dengan perlahan dan melewati sebuah jalanan biasa, manik hijau itu menatap ke arah danau yang ada disana. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing, ia tidak mengerti kenapa ia seperti melihat dirinya dan sosok seorang pria dengan pakaian serba hitam di sampingnya.
'Eren.'
Eren merasa ada suara yang bergema dalam benaknya, suara yang memanggil namanya. Ia melihat di benaknya bahwa sosoknya dan seorang pria sedang bersama di dekat danau, saling bergandengan tangan dan berciuman dengan mesra. Ia memejamkan mata dan tidak lama membukanya.
"Apa itu tadi?" gumam Eren bingung.
Ia memijat keningnya dan terdiam, masih jelas di benaknya tentang sosok pemuda berpakaian serba hitam dengan warna mata dan rambut yang senada. Entah kenapa sosok pemuda itu seperti tidak asing, ia merasa pernah melihatnya. Tapi ia tidak tahu dimana ia melihat sosok itu.
'Apa aku pernah bertemu dengannya?' batin Eren.
Saat ia meneruskan perjalanannya ia bertemu dengan orang yang tadi pagi, pemuda berambut hitam dengan warna mata yang senada. Mereka saling berpandangan dan entah kenapa Eren merasa jantungnye berdetak lebih cepat, ia merasa memori yang dilihatnya kembali bermain di benaknya. Ia sampai memegang sisi jembatan agar tidak jatuh, buru-buru pemuda itu mendekati Eren dan berada disampingnya.
"Kau tidak apa?" tanya Rivaille.
"Ah? Ha-hanya pusing sedikit. Aku tidak apa." jawab Eren pelan.
Rivaille menatap Eren dengan raut wajah khawatirnya, ia membelai wajah Eren dan tersenyum tipis sekali. Eren terkejut dengan tindakan pemuda itu, entah kenapa sentuhan tangannya tidak asing untuknya. Rasanya hangat dan menenangkan dirinya, terlihat rona merah di wajahnya dan ia menunduk malu.
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja." ujar Rivaille.
"I-iya..." gumam Eren.
Rivaille menyentuh wajah Eren, memaksa pemuda yang lebih muda untuk menatapnya. Manik hijau dan hitam itu kembali bertemu setelah sekian lama menghilang, entah kenapa ada rasa bahagia yang mengalir dalam hati Eren. Serasa sudah sekian lama ia tidak melihat mata itu, entah apa yang menggerakkannya tangan Eren menyentuh wajah Rivaille dan menatapnya dengan senyuman indah miliknya.
"Kenapa aku tidak merasa asing dengan wajahmu? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Eren yang masih menatap Rivaille dengan senyuman manis di wajahnya.
Rivaille tersenyum dan menggenggam tangan Eren yang membelai wajahnya. Tentu saja, di kehidupan sebelumnya mereka adalah pasangan kekasih bahkan sudah bertunangan. Tapi Rivaille tidak tahu kejadian setelahnya ketika ia bunuh diri. Ia yakin Eren hidup tapi entah kenapa Eren yang sekarang belum mengingat dirinya.
"Kenapa kau belum mengingatku?" tanya Rivaille.
"Eh?" Eren tampak bingung mendengar pertanyaan Rivaille.
"Apa kau percaya dengan adanya reinkarnasi, Eren?"
"Ah..."
"Aku percaya karena aku mengalaminya, begitu juga dengan dirimu. Sayangnya, kau belum mengingatku."
Rivaille membelai wajah Eren dan membawa pemuda itu ke dalam pelukannya, Eren terkejut dan jantungnya berdetak kencang. Entah kenapa jantungnya selalu berdetak lebih cepat ketika pemuda ini menyentuhnya. Ada rasa hangat yang tidak asing, seolah-olah ia merindukan sentuhan pemuda itu.
"Tidak peduli meski kau melupakanku, tapi aku akan ada disismu."
"A-aku..."
"Kau tidak perlu memaksa untuk mengingatku, Eren."
Eren tidak menjawab apa-apa dan membiarkan pemuda itu memeluknya dengan erat, ia memejamkan matanya dan di benaknya terlihat bayangan dirinya yang berpelukan dengan seorang pemuda yang mirip sekali dengan pemuda yang memeluknya. Posisi mereka sama dengan yang Eren lihat dalam benaknya, bedanya mereka tidak berciuman.
Meski begitu Eren tidak meminta Rivaille untuk melepaskan pelukannya, ia membiarkan pemuda itu memeluknya dengan erat seperti ini. Ia mulai membalas pelukan itu, entah kenapa tangannya bergerak sendiri sesuai dengan hatinya. Boleh Eren bilang jika badan dan pikirannya tidak sinkron?
Rivaille menatap wajah Eren dan ia terkejut melihat pemuda itu menitikkan air mata, ia tidak mengerti kenapa Eren menangis. Ia berusaha menghapus air mata Eren dengan menjilatnya dan membuat si pemuda berambut coklat terdiam dengan wajah yang memerah. Hari semakin sore dan langit dipenuhi warna oranye karena matahari akan terbenam.
"Jangan menangis, Eren. Meski wajahmu manis saat menangis tapi aku lebih suka melihat wajahmu ketika tersenyum." gumam Rivaille.
"Kenapa... aku tidak bisa mengingatmu ya? Padahal kau mengenalku." ujar Eren dengan wajah sendu.
Rivaille sendiri tidak tahu jawaban dari pertanyaan Eren, tapi satu hal yang pasti perasaan dirinya yang dulu dengan dirinya yang sekarang terhadap Eren tidak akan berubah. Ia yang telah menemukan kembali matahari miliknya dan merasa hidupnya akan lebih baik lagi. Ia tidak peduli jika sang matahari telah melupakan dirinya.
Apakah ini resiko sebuah bulan?
Matahari dan bulan memang pada dasarnya tidak saling bertemu, apalagi jika bersama. Kedua hal itu adalah hal yang berbeda dan tidak bisa disatukan dengan cara apapun. Dahulu mereka berusaha menyatu dan berakhir mengenaskan. Tapi jika mereka memang ditakdirkan untuk berpisah kenapa juga mereka harus dipertemukan lagi?
Takdir, kau ingin mempermainkan perasaan mereka berdua ya?
Rivaille terdiam dan menatap wajah Eren baik-baik, lalu mulai memperhatikan pemuda itu dari atas hingga bawah. Ia terkejut ketika melihat sebuah kalung milik Eren, lebih tepatnya itu adalah cincin yang dijadikan kalung. Rivaille menyentuh cincin itu dan menatap Eren tajam.
"Cincin ini..." gumam Rivaille.
"Aku mendapatkannya dari ibuku saat kecil. Dia bilang cincin ini untukku." jawab Eren.
Rivaille melepaskan cincin itu dan mengeluarkan cincin dengan warna yang sama dari saku celananya, Eren terkejut bukan main saat melihat cincin itu. Tapi ia mengira cincin itu pasaran dan bisa ditemukan dimana saja. Eren, pikiranmu naif sekali.
'Rivaille.'
Eren terdiam, ia merasa ada suara yang berbicara dalam benaknya. Suara yang memanggil nama seseorang. Apakah pemuda di hadapannya adalah Rivaille? Ia mendekatkan wajahnya pada Rivaille, sinar mata hitamnya bagai malam itu membiusnya. Senyum sedikit terlihat di wajah Rivaille, ia mulai mencium bibir Eren.
Eren sangat terkejut ketika pemuda di hadapannya ini mencium bibirnya. Itu ciuman pertamanya?! Tapi entah kenapa ia tidak menolaknya dan melingkarkan tangannya di leher Rivaille, seperti memberi izin agar pemuda itu menciumnya lebih dalam lagi. Eren tidak mengerti dengan dirinya tapi seiring dengan lamanya mereka berciuman, ia merasa seperti melihat kepingan kenangan masa lalunya.
Tidak lama ciuman itu terlepas dan Rivaille menikmati wajah Eren yang merah, ia membelai wajah itu dan memeluknya dengan erat. Meski Eren belum bisa mengingat dirinya tapi ia akan berada di sisi Eren, ia akan membuat pemuda itu mengingat dirinya perlahan.
"Aku tidak akan menyerah agar kau bisa mengingatku lagi Eren."ujar Rivaille.
"Rivaille..." panggil Eren.
"Eh?"
"Kamu Rivaille kan? Kamu... kekasihku..."
Wajah Eren memerah ketika mengatakan hal itu. Rivaille bingung kenapa Eren tiba-tiba mengingat tentang dirinya? Apakah karena ciuman tadi ingatan kehidupan Eren di masa sebelumnya telah kembali?
"Kau sudah mengingatku, Eren?"
Eren mengangguk dengan wajahnya yang memerah, tampak manis dan polos. Rivaille tersenyum dan kembali memeluk Eren dengan erat. Wajah Eren semaki memerah dan ia bisa merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Rasanya sesak sekali, tapi ia tidak menolak perasaan ini. Ia menyukainya, perasaan cinta dari sosok di kehidupan sebelumnya kembali mengalir. Membuat Eren kembali mencintai Rivaille, tidak peduli waktu yang telah memisahkan mereka tapi pada akhirnya mereka dipertemukan lagi.
"Aku bahagia bisa bertemu denganmu lagi, Rivaille" ujar Eren.
"Aku juga. Cincin ini, seingatku aku belum memberikannya padamu." gumam Rivaille.
"Saat kau sudah tewas... aku menemukannya."
Eren terdiam dan ia mengingat saat-saat itu, dimana perasaannya sangat hancur. Ia tidak menyangka akan melihat kekasihnya tewas di hadapannya sendiri, lalu ia sendiri mengambil langkah yang sama untuk menyusul Rivaille.
Apakah boleh Eren berkata bahwa Tuhan memberi mereka kesempatan sekali lagi?
Sekali lagi kesempatan untuk memulai kisah ini dari awal. Dulu mereka memulai kisah ini dan berakhir dengan cara yang tragis, apakah jika mereka memulainya lagi akhir yang didapat akan berbeda dari yang dulu?
Tidak ada yang tahu, bukan?
Takdir memang mempermainkan perasaan mereka, tapi bukan berarti mereka tidak melangkah untuk menggapai kesempatan yang ada.
Rivaille dan Eren saling bergandengan tangan, matahari sudah terbenam dan sekarang malam yang telah menemani langit. Perlahan-lahan bulan mulai terlihat di langit begitu juga dengan bintang-bintang yang ada, seperti menemani kedua pemuda ini agar bisa memulai kisah mereka yang indah sekali lagi.
"Aku mencintaimu Eren. Maukah kau menikah denganku?" tanya Rivaille.
"Rivaille..."
Wajah Eren sangat memerah, apalagi ketika Rivaille berlutut di hadapannya dan menggenggam tangannya. Bahkan Rivaille mengecup penggung tangan Eren dengan lembut dan menatap wajah pemuda berambut coklat dengan tatapan mata yang menenangkan. Rasanya Eren bisa saja berhenti bernapas melihat Rivaille seperti ini, jantungnya berdetak sangat cepat. Debaran kencang ini tidak bisa ia tahan lagi. Terlihat air mata yang hendak mengalir dari manik hijau itu.
"Ri-Rivaille... A-aku..." ujar Eren dengan suara yang terbata-bata.
"Aku sangat mencintaimu, Eren."ujar Rivaille yakin.
"A-aku juga mencintaimu..."
"Kalau saat sekarang kau masih terlalu muda untuk menikah ya."
"Eh?"
"Akan kutunggu saat usiamu 18 tahun. Saat itu tiba, bersiaplah."
Rivaille langsung mencium kening Eren dan memberikan sesuatu ke tangan Eren lalu pergi meninggalkan pemuda itu sendirian. Eren menunduk malu saat Rivaille menciumnya seperti itu, rasanya debaran jantung ini tetap kencang. Eren melihat sesuatu di tangannya, ternyata sebuah kartu nama milik Rivaille. Sekarang Rivaille adalah seorang wakil direktur di perusahaan ternama sedangkan ia hanyalah siswa SMA kelas 1. Bayangkan usia mereka yang terpaut jauh.
Tapi Eren tidak mempermasalahkannya. Yang ia pikirkan adalah kata-kata Rivaille tadi, saat ia berusia 18 tahun harus siap menikah dengan Rivaille. Wajahnya merah memikirkan hal itu tapi ia merasa sangat senang. Ia menatap kartu nama itu baik-baik, ada nomor ponsel Rivaille juga disana.
'Aku akan menghubunginya nanti.' batin Eren senang lalu ia berjalan meninggalkan danau itu.
Bukankah cinta itu indah ketika kau bisa mengulanginya lagi dan mencoba menuju akhir yang bahagia? Ketika duu takdir mempermainkan dirimu dan membuatmu merasakan pahitnya cinta, sekarang biarkan takdir memberimu kesempatan untuk merasakan indahnya cinta.
Inilah kesempatan untuk Rivaille dan Eren. Di kehidupan sebelumnya memang kisah mereka berakhir tragis dan hanya membawa kesedihan bagi orang-orang yang mengetahui kisah mereka. Tapi sekarang bisakah jika mereka ingin mencari arti bahagia untuk kisah cinta ini? Memori cinta mereka di kehidupan sebelumnya sudah keluar dan mengalir hingga membuat kedua insan ini kembali mencintai.
Layaknya bulan dan matahari yang berusaha menyatu, meski sulit tapi rintangan apapun akan mereka hadapi. Kisah mereka belum berakhir, kisah mereka akan berakhir jika sudah mencapai akhir yang bahagia. Biarkan kedua pemuda ini saling mencintai untuk sekarang dan selamanya.
The End
A/N: Akhirnya sudah tamat...^^
Terima kasih kepada Azure'czar, guest, Ayuni Yukinojo, Nacchan Sakura, Kim Arlein 17, guest 2, Novula, elfri, sessho ryu, rosencia dan Sedotan Hijau yang telah review di chapter 12 serta para silent reader yang membaca ficku hingga tamat. Maaf ya kalau special chapter ini kurang panjang... XD
Aku bahagia lho kalian mengikuti fic ini hingga selesai seperti sekarang. Ucapan terima kasih mungkin kurang tapi aku bener-bener berterima kasih. #pelukciumsatusatu XD
Untuk sekuel aku belum bisa menjanjikan, semoga saja ada ide dan terpikirkan untuk membuat sekuel. Sampai jumpa di fic berikutnya...^^
