Permata Ungu

Summary:

Tak peduli seberapa cerdik Byakuya melindungi adiknya, Aizen menemukan jalan untuk mendapatkan Rukia. IchiRuki, AiRuki. AU.

Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.

Chapter 8

.-.-.

"Jujur saja, Ichigo. Pria sepertimu tidak cocok jadi perawat," gumam Rukia ketika sore itu –seperti juga sore-sore sebelumnya- Ichigo main ke rumahnya.

Pria yang duduk di kursi rotan di sampingnya hanya merengut masam. Kerutan semakin jelas di dahinya. Bukan karena ia sudah uzur. Ichigo memang selalu mengerutkan kening, baik dalam keadaan susah, senang, bingung, apalagi jika marah.

"Kenapa kau berkata begitu?" tuntutnya tidak suka.

Rukia mengangkat bahu. "Yah, sejauh yang aku tahu, perawat selalu berwajah ramah. Rautnya seolah bertuliskan 'Jangan khawatir, wahai pasien. Kau akan segera sembuh, tidak ada yang perlu ditakutkan' dengan huruf besar-besar."

Ichigo mendengus tapi Rukia tidak berhenti.

"Lihat saja rupamu. Seperti seorang pemarah, bisa-bisa pasien langsung kabur terbirit-birit, tuh..."

"Buktinya tidak ada yang lari seperti katamu," Ichigo menyela. Dia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya berat. "Tampang memang penting, eit, kau tidak salah," sambar Ichigo cepat ketika dilihatnya gadis mungil di sampingnya sudah membuka mulut untuk menyerangnya secara verbal. "Tapi ada lagi yang penting, yaitu profesionalitas dan kinerja ketika berhubungan dengan mereka. Begini-begini, aku tidak akan memarahi pasien, kok," sambung Ichigo membela diri.

Rukia masih kelihatan ragu. Dalam kasusnya, dia bakal lebih memilih dokter dan perawat bertampang ramah dan menenangkan daripada yang memiliki rupa mirip Ichigo. Mujur, Unohana dan Hanataro yang biasanya mengecek kesehatannya berwajah teduh dan menenangkan. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pemuda berambut menyebalkan ini.

Tentu saja Ichigo tidak mengatakan alasan sebenarnya dengan jujur pada gadis yang baru dikenalnya beberapa minggu itu, bahwa alasan dibalik kerutan yang menghabiskan nyaris seluruh alis dan dahinya dikarenakan imej yang selama ini dibangunnya. Kerutan itu membuatnya terlihat tangguh dan macho, bukan?

Ichigo nyengir senang melihat ekspresi wajah Rukia yang jelas-jelas menyiratkan ketidakpuasan. Pemuda berambut oranye menyala itu tidak suka berbohong, tapi memang ada beberapa hal yang tidak perlu diungkapkan. Dulu sekali ketika dia masih kecil, Ichigo membaca sebuah ungkapan berbunyi 'Only fools and children tell the truth'. Dia tidak ingin disebut dungu, dan layaknya anak kecil seumurannya, dia juga enggan disebut anak-anak. Gara-gara sebaris pepatah itulah akhirnya Ichigo lihai memilah mana yang harus dengan gamblang diutarakan dan mana yang harus disembunyikan.

"Omong-omong Rukia, sejak aku membantu Hanataro di daerah sini, aku tidak lagi melihatmu memakai topi," cetus Ichigo tiba-tiba.

Yang ditanya terdiam, wajahnya memucat. Sejak insiden pertemuannya dengan Aizen, Rukia tidak lagi melihat alasan untuk menaungi kepalanya dengan topi lebarnya. Toh pria bermata coklat cemerlang itu sudah melihatnya, melihat Rukia lengkap dengan rambut hitam sebahunya, mata violet besarnya dan profil kecilnya. Diam-diam gadis itu sudah pasrah dengan apapun yang akan menimpanya. Bukannya Rukia menyerah, dia tahu Byakuya akan memikirkan segala cara dan di sisinya ada Shirayuki dan Renji. Posisinya aman dan terlindungi meski sebuah suara di sudut hatinya mengatakan semuanya tidak akan sama lagi. Rukia hanya berusaha berpikir optimis.

"Rukia?"

Gadis itu nyaris tergagap. "Aku bosan pakai topi," jawabnya lirih.

"Lho, dulu kau bilang alergi matahari," cecar Ichigo, mengingatkan percakapannya dengan Rukia di air terjun dulu.

"Sudah sembuh," balas Rukia singkat.

Ichigo manggut-manggut, nada dingin Rukia membuatnya paham gadis itu tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Mata kecilnya menelusuri gadis yang tiba-tiba murung itu, dari rambutnya yang bagai dipintal dari pekatnya malam, sampai dagu lancipnya. "Kau kelihatan lebih cantik begini," cetusnya tanpa direncanakan.

Rukia terbelalak. Tak bisa ditahan, ucapan Ichigo membuat wajahnya panas. Gadis itu berani bersumpah, pasti saat ini wajahnya bersemu merah. Byakuya dan anak-anak kecil di sekitar tempatnya tinggal memang pernah memuji rupanya, tapi saat-saat itu Rukia bisa bersikap anggun dan menanggapinya dengan 'Terima kasih.' Entah kenapa jika pujian itu keluar dari bibir Ichigo, sensasi yang ditimbulkan jadi sangat berbeda.

Ichigo tidak baik untuk kesehatan jantung!

Putra sulung keluarga Kurosaki itu tak kalah kaget. Dia blak-blakan ketika menyampaikan pendapatnya terhadap sesuatu, dia juga jujur saat mengkritik hal yang menurutnya kurang sreg. Tapi ketika sampai pada penampilan fisik atau opini terhadap orang tertentu, pemuda itu masih bisa menahan lidahnya. Tak pelak saat itu dia merutuk dirinya sendiri, menyalahkan lidahnya yang tergelincir.

Ichigo pernah merasakan ketertarikan pada gadis-gadis. Selayaknya pemuda normal lainnya, dia pernah mengalami cinta monyet, naksir seorang gadis dan berusaha merayunya. Tapi mungkin karena seiring pertambahan usianya, Ichigo jadi semakin matang dan lebih bisa mengendalikan perasaannya. Sudah bertahun-tahun dia seperti itu. Menginjak usianya yang mendekati dua puluh tiga, tiba-tiba dia mulai didera perasaan aneh yang membuatnya sering berdebar saat mengingat seorang gadis berambut hitam pendek. Tanpa sadar tangannya mengelus dada bidangnya.

"Ehm, pernahkah kau menyuntik pasien?" tanya Rukia. Tangan kecilnya mengetuk-ngetuk permukaan rotan yang didudukinya dengan gelisah. Sengaja gadis itu mengalihkan pembicaraan tanpa memberi respons lebih lanjut.

Ichigo tersentak. Ada perasaan lega sekaligus kecewa dengan cara Rukia menanggapi pujian tulusnya. Tapi, sepanjang pengamatannya, sepertinya Rukia canggung ketika baru selangkah saja pemuda itu melewati batas obrolan yang biasanya hanya seputar topik ringan mengenai keseharian mereka. Ichigo bisa merasakan bahwa gadis mungil itu tidak biasa berhubungan dengan urusan di luar lingkup 'pertemanan.' Dia hanya bisa membatin bagaimana bisa Rukia melewatkan dua puluh dua tahun hidupnya tanpa kehadiran pria dalam jalinan yang khusus. Bukannya Ichigo seorang pakar asmara, hanya saja, berdasarkan pengalamannya bertemu banyak orang dan menjelajahi banyak tempat, sedikit banyak dia bisa menduga bahwa Rukia masih awam dalam urusan yang satu ini. Memang mereka sering ngobrol, tapi tak banyak yang bisa digali darinya. Bahkan, Ichigo tidak tahu banyak mengenainya, selain bahwa Rukia hanya tinggal dengan Renji dan Shirayuki. Gadis muda itu mengelak jika Ichigo bertanya tentang keluarganya.

"Menyuntik sih..." gumam Ichigo, pikirannya kembali pada pertanyaan Rukia. Jika yang bertanya orang lain, tanpa pikir panjang Ichigo akan meneriakkan 'Itu kalimat retoris!' dengan pedas. "Tentu saja, sebagai perawat aku diajarkan merawat orang, termasuk menyuntik."

"Oh!"

"Kenapa, ngeri ya?"

"Kedengarannya menakutkan, Ichigo. Aku sendiri tidak suka disuntik."

Ichigo terkekeh. "Tidak juga." Dia sadar Rukia sengaja membelokkan obrolan mereka pada topik baru. Kali ini dia menyerah. Hanya kali ini.

"Bagaimana kau belajar menyuntik?"

"Dulu aku dan teman-temanku saling bergantian mempraktekkannya," jawab Ichigo.

"Huh?"

"Suatu waktu aku yang menyuntik mereka, lain waktu, yang terjadi sebaliknya. Memegang benda berjarum ini tidak bisa sembarangan, lho. Kalau salah, orang yang kita suntik bisa lumpuh."

"Ekstrim sekali! Bagaimana kalau mau donor darah? Harus ekstra hati-hati juga?" tanya Rukia lagi, kali ini benar-benar penasaran. Dulu dia berniat mendonorkan darahnya, tapi ditolak mentah-mentah oleh Hanataro karena berat badannya yang ringan bagai bulu.

"Kalau itu jarumnya harus ditancapkan di pembuluh darah di lengan," jelas Ichigo.

Tanpa sadar Rukia mengelus lengannya, yang tidak tertutupi oleh baju kuning berlengan pendek yang dikenakannya.

"Bukan di situ, Rukia," sergah Ichigo yang kebetulan melihat gerakan Rukia. Dia beringsut dan memegang lengan kurus itu, membimbing jari-jari Rukia menemukan titik pembuluh darahnya.

Suasana masih mendung, awan tebal berarak di barat langit, tapi Rukia sangat yakin dia bisa mencium aroma matahari yang samar-samar menggelitik hidungnya. Benarkah matahari memang memiliki aroma? Ataukah perasaan itu datang karena wangi yang menguar dari rambut oranye milik pemuda yang kini menunduk di bawah hidung kecilnya?

Ichigo menegakkan telinga ketika didengarnya suara endusan tajam. Penasaran, dia segera mendongakkan kepalanya, yang merupakan kesalahan besar karena hidungnya malah menumbuk sesuatu yang terasa lembut. Tubuhnya membeku tapi matanya malah terkunci oleh mata bulat dan jernih yang balik memandangnya.

Bibir Rukia menempel di ujung hidung lurusnya!

Tangan besar dan kasar Ichigo masih menggenggam erat lengan dan pergelangan tangan Rukia. Gadis itu bahkan tidak merasakan bahwa Ichigo kini mencengkeram tangan kecilnya. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa dia tengah melayangkan 'ciumannya' pada Ichigo. Di hidung. Bukan di bibir, dahi atau pipi.

"Gyaaa..." pekik Rukia akhirnya, menarik kepalanya dan menendang Ichigo.

.-.-.

Seumur hidup baru kali itu Rukia merasa benar-benar malu. Sebelumnya dia belum pernah mencium atau dicium pria. Giliran saat itu tiba, dengan tidak mesra dia malah mencium hidung seseorang, tidak sengaja pula. Yah, kalau itu bisa disebut ciuman! Sederhananya, bukankah mendaratkan bibir di bagian wajah mana pun bisa dikategorikan sebagai ciuman?

Begitu lengkingan suara Rukia membahana, Renji tergopoh-gopoh keluar dari paviliunnya. Pria itu khawatir sesuatu menimpa nona muda yang harus dijaganya. Betapa terkejutnya dia mendapati Rukia mendekap mulutnya dan Ichigo terkapar di lantai. Bahkan rambut merahnya bisa dibilang warna pastel yang menyejukkan mata bila dibandingkan dengan wajah merah Rukia dan Ichigo.

"Ugh!" Rukia mengerang.

Lilin di kamarnya masih menyala, menerangi wajah kecilnya yang lagi-lagi memerah. Berkali-kali gadis itu berusaha menghalau ingatan sore tadi, tapi semakin dia berusaha, semakin jelas gambaran yang didapatnya. Memalukan! Belum lagi alibi yang harus dikarangnya demi menenangkan Renji yang sudah berwajah sangar karena mengira Ichigo berbuat yang tidak senonoh padanya.

Rukia menghela napas panjang. Gadis itu menekuri langit-langit kamarnya kemudian menarik selimutnya melewati bahu sembari berharap kantuk menyergapnya dan ketika bangun keesokan hari, kenangan yang membuatnya enggan bertemu Ichigo bakal lenyap.

"Rukia, kau belum tidur?"

Hampir saja adik Byakuya itu terlonjak di futonnya. Suara Shirayuki di luar menyentaknya keras. "Belum. Masuk saja!" serunya saat berhasil mengatasi kekagetannya.

Shirayuki perlahan membuka pintu, menutupnya dan beranjak mendekati nonanya. Diam-diam Rukia prihatin melihat wajah pucatnya. Shirayuki luar biasa cantik dan berkulit putih. Benar-benar gambaran Putri Salju yang membuat iri banyak wanita. Tapi semenjak terjadinya pertemuan tak diharapkan antara Rukia dan Aizen, Shirayuki lebih banyak terjaga daripada beristirahat. Kadang kekhawatiran terpampang jelas di wajah ayunya, cemas akan keselamatan sang nona muda. Baginya, gadis Kuchiki yang diamanatkan padanya jauh lebih penting daripada dirinya sendiri. Keadaan Renji tak jauh berbeda dibandingkan Shirayuki. Rukia teramat yakin saat ini Renji pasti masih berjaga di luar, berlindung di balik bayang-bayang gelap pepohonan di sekitar rumah dan waspada, jaga-jaga seandainya menemukan sesuatu yang janggal. Barulah ketika fajar hampir menyingsing, dia kembali ke paviliunnya dan memejamkan mata.

Dua orang itu seperti kecapekan, siaga terhadap apapun indikasi yang bisa saja dilakukan Aizen namun setelah beberapa lama, tidak mendapatkan hasil atau apapun yang mencurigakan. Bergumul dengan kecemasan dalam tempo lama sungguh melelahkan!

"Shirayuki?"

Rukia mengeluarkan tangannya dari balik selimut dan meminta wanita yang dipanggilnya supaya duduk di sebelah futonnya.

"Kenapa belum tidur?" tanya Shirayuki.

"Belum ngantuk," jawab Rukia jujur.

"Gara-gara pemuda sengak itu?"

Mau tidak mau ingatan Rukia melayang lagi pada Ichigo. Tidak ada pria yang dikatai 'sengak, tengik dan mencolok' oleh Shirayuki selain Ichigo. "Iya," jawabnya lirih, tidak melihat alasan kenapa harus berbohong pada wanita yang sudah berusaha mati-matian melindunginya.

"Kau suka padanya, ya?"

"A-apa?" Rukia tergagap, suaranya lebih melengking daripada yang diinginkannya.

Shirayuki tersenyum tipis melihat rona merah perlahan menjalari wajah Rukia. Dia mengusap kening gadis itu, lembut. Akhir-akhir ini wanita itu agak sering menyunggingkan senyum pada Rukia, yang sepertinya dimaksudkan untuk menenangkan situasi yang kadang mencekam saat teringat perjanjian kuno yang mengharuskan keturunan kelima Kuchiki untuk kembali ke Hueco Mundo.

"Aku menduga, Ichigo adalah cinta pertamamu," lanjut Shirayuki.

"Tidak, kok!" sanggah Rukia buru-buru. Wajah gadis itu semakin memanas meski udara lumayan dingin.

"Hei, tidak ada salahnya jatuh cinta. Kau sudah lebih dari pantas untuk merasakannya," tukas Putri Salju memberi semangat.

Rukia terdiam. Dia menelengkan kepala supaya bisa menatap Shirayuki lebih jelas. "Benarkah?" tanyanya takut-takut.

"Kau tidak pernah salah karena mencintai seseorang, Rukia. Nikmati saja perasaanmu."

"Kukira kau akan menegurku. Suka pada seseorang di saat keadaan genting seperti sekarang."

Shirayuki menggelengkan kepala. Masih ada ketakutan akan apa yang bisa terjadi pada Rukia, tapi dia tidak setuju sepenuhnya dengan ungkapan 'genting' yang diucapkan sang nona. Karena itulah secara halus dia menyarankan Rukia untuk menikmati apa yang dipunyai dan dirasakannya sekarang. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Selain waspada, tidak ada kelirunya mensyukuri apa yang dimiliki saat ini.

.-.-.

Ichigo masih sering datang ke kediaman mereka bertiga. Awalnya suasana masih agak canggung antara dia dan gadis yang mencium hidungnya, tapi lama kelamaan perasaan kikuk itu mencair. Selain memiliki warna rambut yang mencolok, kerutan di dahi dan perangai yang tidak halus, Ichigo pemuda yang menyenangkan dan enak diajak ngobrol. Bahkan di suatu malam yang kebetulan cerah dan hujan tidak turun ketika pesta kembang api -yang biasanya hanya dirayakan di malam musim panas- tiba-tiba diadakan, Ichigo mengajak Rukia menontonnya. Tentu saja 'pengawal' gadis itu tidak mau melepaskan pengawasan mereka barang sekejab pun terhadap Rukia. Renji dan Shirayuki berjalan tidak jauh di belakang mereka. Lagipula, menikmati hiburan ringan bisa mengendurkan urat saraf yang tegang.

Lapangan luas tempat pesta kembang api itu tidak jauh dari rumah, hanya tinggal jalan kaki tujuh belas menit. Banyak orang sudah memadati tempat itu ketika mereka berempat tiba.

Rukia nyaris terjerembab ke depan ketika seorang wanita gemuk menabraknya dari belakang.

"Hati-hati!" seru Ichigo tajam.

Si wanita minta maaf berkali-kali, rupanya ia tidak sengaja.

Rukia hendak berjalan lagi ketika Ichigo menarik bahu kecilnya.

"Kau kurus sekali, sih. Disenggol sedikit eh, bakal jatuh," tegur Ichigo.

Gadis itu cemberut dikatai kurus. Meski begitu, ada perasaan senang mendapati tangan Ichigo di bahunya. Tapi tangan itu tidak lagi hinggap di sana. Rukia hampir kecewa sampai kemudian dia merasakan jemari Ichigo menggenggam jemarinya. Rasanya detak kencang jantungnya nyaris terdengar bertalu-talu di telinganya. Tanpa sadar dia menengadah, menatap Ichigo.

Ichigo ragu-ragu menunduk. "Boleh, kan?" tanyanya agak takut-takut.

Bukannya menjawab, Rukia meremas jari-jari panjang itu.

Ichigo tersenyum, mengerti isyarat Rukia bahwa sang gadis mungil tidak keberatan. Sepanjang malam itu, Ichigo tidak melepaskan tangan Rukia.

Beberapa langkah di belakang mereka, Shirayuki dan Renji diam-diam mengawasi.

"Shirayuki, bagaimana kalau aku merangkulmu?" tanya Renji main-main.

Yang ditanya malah melemparkan tatapan sedingin es. Bahkan Renji yang jauh lebih tinggi darinya bisa mengkerut sambil mengucurkan keringat sebesar jagung. "Jangan coba-coba, Anak Muda!" ujarnya judes.

Renji tertawa kecut.

"Guru!"

Renji menoleh, mencari sumber seruan melengking itu. Segerombolan anak laki-laki berlari ke arahnya, menerobos kerumunan orang dewasa. Ternyata mereka murid-murid Renji.

"Guru, sama siapa?" tanya seorang anak berambut hitam legam.

Renji menunjuk wanita cantik di sampingnya. Mereka ber'oh' ria.

"Guru, besok latihan di dekat sungai, ya!" pinta anak yang lebih kecil.

"Masa di rumah Guru terus! Omong-omong, kakakku ingin kenalan dengan Guru, lho. Orangnya cantik banget. Beneran!"

Teman-teman si anak yang mempromosikan kakak perempuannya kini bersuit-suit. Bahkan Shirayuki tertawa kecil.

Renji cuma bisa nyengir sambil menggaruk leher bertatonya.

.-.-.

Keesokan harinya, langit kembali kelam. Mendung bergelayut memadati langit, tidak menyisakan setitik pun biru.

Byakuya baru saja keluar ke halaman luasnya ketika seorang kurir mengantarkan sepucuk surat untuknya. Tangan pria itu gemetar ketika melihat huruf timbul di amplop tebal itu. Surat resmi dari Aizen!

Dengan perasaan tidak enak Byakuya merobeknya, hati-hati sekali seolah takut kerusakan yang disebabkan tangannya bisa memperburuk berita apa pun yang akan menyambutnya. Di sana, di perkamen tebal itu, tulisan tangan Sousuke Aizen yang rapi menari-nari.

'Aku telah memberimu waktu tapi rupanya kau berani bermain-main dengan kesabaranku. Sudah sebulan berlalu namun tak ada berita kepastian kapan keturunan kelima Kuchiki akan ke Hueco Mundo. Kuinformasikan saja, Byakuya Kuchiki, tenggat waktunya telah habis. Aku tidak akan berbaik hati lagi dengan memberimu kesempatan untuk menyampaikannya pada Rukia dan mengantarnya ke keluarga Aizen. Oh iya, aku tahu semua tentang adikmu! Menemukan tempat tinggalnya bukan perkara sulit. Sepertinya kau tidak akan sempat mengucapkan salam perpisahan padanya.'

Hanya satu hal dan satu nama yang berkelebat di kepala Byakuya. Keselamatan adiknya.

Rukia!

.-.-.

Di sebuah rumah besar di Karakura, Renji -yang kelelahan karena pesta kembang api tadi malam- pagi itu keluar dari paviliunnya. Masih setengah sadar, dia berjalan agak sempoyongan ke gerbang. Seorang kurir tengah menantinya dengan sabar. Renji agak heran, biasanya kiriman atau berita apapun untuknya selalu dialamatkan ke kediaman Hanataro. Barulah kemudian Hanataro yang akan mengantarnya sendiri atau dia yang akan mengambilnya di rumah dokter berperawakan kecil itu.

Setelah mengucapkan terima kasih, buru-buru Renji mengamati amplop apik itu. Sulur-sulur bunga keemasan menghiasi permukaannya. Pemuda itu terkesiap mendapati nama Aizen yang dicetak dengan tinta emas di belakangnya. Tanpa membuang waktu, dia segera merobeknya. Hanya ada sebaris kalimat ambigu di perkamen itu.

'Yang berasal dari Hueco Mundo, akan kembali ke Hueco Mundo.'

Kalut, Renji segera melesat ke dalam rumah induk. Dia tak peduli dengan tatapan tidak suka Shirayuki karena menggetarkan engsel pintu samping.

"Mana Rukia? Segera masuk ke kereta! Kita akan ke Seireitei secepatnya," perintahnya tegas. Ada nada mendesak yang tak bisa dibantah dalam suara paraunya.

Shirayuki menatap nanar amplop dan secarik perkamen di tangan Renji. Dia tak berkata apa-apa lagi selain menerjang pintu kamar Rukia dan menyeretnya menuju kereta mereka.

Rukia, Shirayuki maupun Renji tahu makna yang tersirat dalam kalimat itu.

.-.-.

TBC