Chapter 2

RENDEZVOUS

Disclaimer BLEACH © Tite kubo

RENDEZVOUS © ChapChappyChan

Genre : absolutly Romance, Drama

Rate : T

Pairing : Ichiruki

Warning : NO FLAME-Typo(s)-OOC-AU

Note : bener-bener dah, gara-gara semua isi review minta lanjut. Saya jadi tertantang#plak!. Tapi emang kurang puas sih sama cerita pertama. Jadi okelah, nggak papa. Saya seneng bisa bikin readers seneng #cium readers satu2#plak!


Special note buat Guest yang mereview ch 1 : I don't care about your tweet. Terserah mau bilang kaya apa. Udah tau di sini NO FLAME. Mana anonymous pula. Pertama, saya mau bilang. Anda adalah ANONYMOUS pertama yang ngflame saya. Dan sekali lagi, I don't care about your tweet. Maaf saja, aku berkarya untuk menyenangkan reader. Aku promosi juga 'hanya' bikin mereka terhibur saat membaca fic ku. Kalo pun mereka review, terus kamu marah? Lucu banget ya? Toh, banyak temen deket aku yang cuma baca tapi gak review. Mereka senang dan bilang kalo mereka senang baca karya saya itu sudah cukup. Coba aja liat. Fic aku yang dapet cuma 5 review ya ada. Sekali lagi aku jadi 'sales' ; promoin fic ku itu cuma biar banyak yang bisa terhibur baca karyaku. Mereka mau review ato nggak, itu urusan mereka dan aku selalu nrima. Kalo pun karyaku kurang mereka sukai, ya udah. Yang pasti aku berusaha memberi hiburan pada mereka. Ibarat kamu buka usaha untuk membuat klien senang, pasti yang sering-sering datang ke usahanmu pertama adalah temen2 mu kan? Sama dengan ini. Jadi, jika kamu pernah sekolah, tolong ilmunya di realisasikan sedikit, terutama pelajaran PKn jenjang SD nya ya dan mungkin bisa belajar baca lagi. N-O NO F-L-A FLA M-E ME. NO FLAME.


Spesial Thanks


First, it dedicate for "Guest"
-Dari 12 review yang aku dapet, yang aku kenal bener cuma 6 orang.
-Udah flame, anonym pula. Tapi aku hargai pengorbanan review nya.
-Jual ketenaran? Kalo udah tenar bisa dapet duit tho? Aku baru tau.
-Arigatou reviewnya.


curio cherry

Kalo idenya, saya dapet pas mudik. Dan saya sempet pernah ngayal sama mantan saya yang LDR, kalo mungkin kita bisa ketemu satu deret kursi di bus. Mungkin idenya monoton ya? Hehe.
Iya, nggak papa. Nggak tau kenapa pingin caps mulu. Oke, arigatou sarannya ya ^^
Wah trima kasih. Dan hontou ni arigatou atas semangat nya. Arigatou Curio-san

darries
udah, biarin aja. Yang penting saya nggak seperti apa yang dia kata. Biasanya dia membicarakan dirinya sendiri. Anonym mah nggak usah ditanggepin.
Darries-san belum ngomen fic kuuuu...

jessi
ini udah aku bikin. Semoga suka. Arigatou reviewya ya :*

airin yukibara
haha...manis'an juga authornya #plak! hehe
Kalo lanjutan, ini udah saya bikin. Tapi belum final ke cita-cita mereka. Arigatou review dan yang penting makasih banget udah ngasih 'semangat' ya ^^

Hanna Koi
Hehe, oke deh, ini lanjutannya. Semoga suka ya, arigatou reviewnya^^

Lya Awlya
Hehe, iya, sama-sama. IchiRuki mah polepel lope dah!
hehe, iya. Sekali lagi makasih atas reviewnya ya ^^

Eghicugik
Nah, ini dah, aku bikin lanjutannya. Semoga suka ya. Dan terima kasih banyak atas 'ganbatte' nya. Arigatou ^^

Izumi Kagawa
Ini nih lanjutannya. Arigatou reviewnya ya..^^

Zircon
Hai juga Zircon-san,^^
Aku juga selalu mikirin pertemuan yang kayak gini lho! Emang sweeeeeeeet. Kita sehatiiiii #hug zircon-san#plak!
makoto shinkai-sensei ya? Saya belum tau dia #plak! hehe
Walah, apa tu yang bikin kurang nyaman? Aku jadi penasara.
ini bukan sequel, tapi aku bikin multi. Semoga suka. Arigatou review pajangnya ya ^^

Aku bikin multi nih. Arigatou reviewnya ^^

Azura Kuchiki
Hehe, ini aku bikin multichap. Semoga suka. Arigatou reviewnya ya ^^

LETS READING… Hope you enjoy it :3


"Hatccih!"

"Rukia, are you okay?" Ashido ; teman satu fakultas Rukia memakaikan jaket hitamnya ketika melihat gadis di sampingnya bersin. Berharap jika pakaiannya itu dapat memberikan kehangatan yang lebih. Dia baru saja selesai dengan urusannya dan buru-buru menuju bangku di pojok taman tatkala melihat seseorang yang sangat familiar baginya.

"A~h, I guess I hit a cold. This year the weather was supposed to kill me." Jawab gadis yang mungkin sudah beberapa puluh menit duduk di bangku itu sambil membaca buku referensi untuk tugas kuliahnya. Gadis yang sering kali dipanggil Rukia itu mengeratkan jaket bulu milik Ashido. Posisi duduknya sedikit ia geser mengetahui teman lelakinya itu terus berdiri di hadapannya.

"Haha..kau berlebihan, Rukia. Dasar kau saja yang akhir-akhir ini tidak mau makan dengan teratur. Begitu sakit, kau menyalahkan cuaca." Sambil memposisikan duduk, pria dengan rambut merah maroon yang bersanding dengan Rukia itu malah menengadahkan tangannya untuk menangkap sebutir salju yang turun. Merasakan seberapa dinginnya suhu yang dapat membuat Rukia sedikit menderita.

"Tugasku banyak, Kano-kun. Itulah sebabnya aku bisa lebih cepat satu semester darimu." Buku dengan tebal yang mencapai lima belas centimeter, sukses tertutup karena Rukia telah berhasil mengkhatamkannya. Pandangan gadis itu pun mengarah condong ke samping atas gara-gara Ashido sedikit –mungkin banyak—lebih tinggi darinya.

" 'kun'? Hey, sejak kapan aku menjadi pacarmu, Kuchiki-chan?" Rukia melirik tajam Ashido. Seharusnya Ashido tau arti 'kun' di sini. Hmm, mungkin saja karena terlalu lama tinggal di negara lain dan terbiasa dipanggil Ashido, panggilan 'kun' terasa lebih spesial.

"GR. Kalau begitu aku pulang sekarang." Rukia mulai beranjak dan melepaskan jaket penuh kehangatan itu. Tas tangan soft violet yang semula ia biarkan duduk sendiri di sampingnya, tak akan lupa ia bawa. Kuliahnya sudah berakhir beberapa jam lalu, bahkan dia sudah bisa mendapat liburan yang ia minta beberapa hari lalu karena ketuntasannya pada semester ke-4 dengan cepat.

"Be carefull. some bad guy lately playing arround in your apartment area." Walau merasa tak puas ; kau baru datang dan langsung ditinggal pulang ; Ashido masih sempat mengkhawatirkan Rukia.

"Don't worry. I will soon return to Osaka two hours from now."

Ashido terkejut mendengar perkataan Rukia. Gadis itu bahkan tak membicarakan rencananya ini pada dirinya. Mendadak sekali, pikirnya kecewa.

Dia rasa, Rukia adalah gadis yang sedikit tertutup padanya sekali pun dia adalah satu-satunya orang yang paling sering bersama Rukia. Gadis itu cenderung menyendiri dengan berbagai urusan. Dan tanpa disadari, gadis itu telah melejit maju. Menurutnya, Rukia seperti mempunyai tujuan yang sangat kuat. Dimata orang lain, mungkin Rukia adalah sosok ambisius yang hanya ingin mengejar prestasi ; tak peduli dengan orang lain dan selalu menyendiri. Tapi bagi Ashido tidak. Dia malah merasa bahwa Rukia seolah-olah mengejar waktu. Ingin mempersempit waktu yang dia punya. Dan mungkin meninggalkan Amerika ini ,juga meninggalkan dirinya.

Entah apa tujuannya. Mungkin, ia mempunyai janji dengan orang di luar sana? Ashido tak tau. Namun pria itu tetap..

..suka.

.

.

Sweet

.

.

Bandara internasional yang masih sama ; identik dengan selimut salju itu agaknya tak ada bedanya dengan pasar. Banyak pegunjung. Sekalipun sekarang sudah musim dingin di Amerika, tapi ada-ada saja orang yang ingin bepergian.

Mungkin saja mereka punya urusan yang lebih penting daripada harus mengkhawatirkan dirinya sendiri melihat cuaca benar-benar tak bersahabat. Tapi tidak juga. Bisa saja mereka hanya dipaksa oleh sang ayah untuk menemui rekan kerja dan meminta beberapa dokumen. Contohnya pria yang terus menggerutu di sana. Pria semampai yang baru keluar dari bagian pendaratan luar negeri itu terlihat tak kalah hangat dengan orang-orang domestik Amerika. Lihat saja syal panjang, sweather tipis dan jaket bulu yang ia pakai membuktikan bahwa dia sedikit bermasalah dengan musim dingin di negara adikuasa itu. Hujatan yang mengalun mulus dari bibirnya pun memperhangat suasana –mungkin. Yeah, cukup membuktikan bahwa mood nya sedang diuji.

"Kuso! Ah, hello. Where are you, Sir?" dia langsung merapatkan ponselnya ketika panggilan yang ia buat telah diangkat oleh orang di seberang."It doesn't matter. I'll be waiting." Dia melakukan panggilan dengan masih berjalan keluar bandara."Yes. I'm still in the airport area. Emm..yes. I'll call back later. Thanks. See ya."

Setelah beberapa menit, sambungan terputus. Nampaknya ia sudah membuat kesepakatan dengan seseorang di jaringan telepon tadi untuk menjemputnya. Nafas panjang akhirnya terhela ketika ia telah mendapatkan tempat nyaman untuk duduk dan beristirahat. Pandangannya pun terarah pada langit yang penuh salju. Ah, langit Amerika.

"Hm, biar kubuat mereka sedikit iri." Pria itu berinisiatif dengan ponselnya. Oke, dia ingin berfoto. Kebetulan sekali di belakangnya terdapat tulisan 'Welcome to New York Air Port'. Bukti yang cukup bila ia tengah berkunjung ke negara besar ini. Foto dirinya telah muncul di galeri ponsel metalik hitamnya. Sangat sempurna untuk mulai mengunggahnya ke akun yang senantiasa ia ramaikan selama empat semester ini.

Pria itu sedikit terkikik tatkala foto dirinya telah menjadi avatar pada akunnya di jejaring sosial. Hal yang baru aktif dia lakukan sejak dua bulan lalu ; memasang informasi pribadi di akunnya. Hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Tapi, dia ingin seseorang tau. Tau mengenai dirinya.

"Kau sedang ada di langit yang sama denganku kan?"

.

.

Sweet

.

.

"Hatciiiih. Ah, jadi tidak bisa?"

"Ibu rasa begitu. Sungguh, salju hari ini sangat lebat dan diperkirakan akan lebat sampai besok. Sampai-sampai beberapa penerbangan ditunda."

"Padahal aku ingin segera bertemu dengan ibu dan Nii-sama—hatciiih!"

"Rukia, kau flu?"

"Mungkin. Tapi ibu tak usah khawatir. Setelah ini aku akan beli obat."

"Jaga kondisimu Rukia. Jangan sampai pulang dalam keadaan sakit."

"Akan aku usahakan. Ah, aku rindu ibu."

"Ibu pun rindu kau, Rukia. Selain itu kau ju- apa? Sekarang? Baiklah, tunggu sebentar. Maaf, Rukia. Ibu tidak bisa lama. Nii-sama mu memaksa ibu pergi memilihkan baju untuk Hisana-chan. Dasar, pria."

"Haha, tidak apa-apa. Aku juga ingin segera beli obat."

"Kalau begitu sampai jumpa, Rukia. Ibu mencintaimu."

"Hai', jaane."

Tinggal sendiri di apartemen membuat Rukia lebih leluasa dalam melakukan sesuatu. Seperti menelepon ibunya. Tak akan ada yang mengomel karena juga ingin melakukan panggilan dalam waktu yang sama dengannya. Atau yang akan cerewet menasehatinya perkara tarif internasional. Dan untung saja hal itu tak akan pernah ada.

Seusai dengan panggilan tersebut, Rukia akhirnya bergegas menyahut berbagai pakaian hangat untuk menghalau musuhnya ; winter. Hari ini di Amerika pun sama-sama dingin dan menyiksa ; tak jauh beda dengan kota kelahirannya. Benar apa yang ia katakan beberapa jam lalu. Musimlah yang tak bersahabat. Bukan salahnya karena makan tidak teratur. Akh, bahkan disaat seperti ini dia bisa menghujat cuaca. Oke, hentikan. Dia harus cepat jika tak ingin apotek terdekat tutup lebih awal.

.

.

Sweet

.

.

"Untunglah masih sempat." Ia tak menyangka, langkahnya di jalanan bisa membentuk jejak kaki yang dalamnya mencapai sepuluh centimeter. Selain itu.. mungkin ia harus lebih mendengarkan perkataan Ashido mengenai berita yang tengah update di wilayah apartemennya.

Seingatnya, dipersimpangan tadi tak ada segerombol pria-pria yang terlihat menyeramkan. Oh, d*mn. Tak ada jalan untuk memutar. Sekarang yang tak boleh kau lupakan adalah cara untuk berteriak dan menendang, Rukia.

"Tenang…tenang…" lirihnya seraya berjalan santai.

"Woaa… sweety girl walking alone in the snowy streets. Hahaha."

"Would you accompany our night, Sweety? Haha."

"Yes, I will give special service for you, Honey."

"No, thanks. Let me go." Suara lemah itu keluar dari bibirnya yang tertutup oleh masker. Flunya mungkin sudah begitu parah karena nekad keluar apartemen. Tapi jujur, perasaannya tak enak. Ia merasa menyesal karena telah keluar. Kaki Rukia terasa bergetar. Lima pria di hadapannya menyeringai. Dua orang diantaranya mulai mendekat. Membuat Rukia melangkah mundur. Tapi lengannya berhasil tertangkap oleh pria itu. Baiklah, dia bisa berteriak sekarang.

"Ah, what are you doing now? I told you to wait for me on the road before this, remember?" Seorang pria tiba-tiba saja datang."Hey, what's going on? Are they your friends?" lelaki dengan syal yang menutup sebagian wajahnya itu seperti bicara pada Rukia. Owh, dia berusaha menyelamatkannya.

"No." jawab singkat Rukia.

"Sorry, guys. I have an appointment with my girlfriend." Terkejut. Bagaimana tidak? Hello, lelaki ini memang sangat sugoi karena mau menyelamatkan Rukia. Tapi, girlfriend? Dia bisa menyebutnya sebagai teman saja kan?

"O-oh, y-yes. Of course." pria-pria tadi pun melepaskan Rukia. Meski mereka merasa tidak puas karena tak berhasil memenangkan Rukia. Tapi gadis itu langsung menggandeng hero nya tadi ; mengimprov sandiwara dadakan yang ia buat. Mau bagaimana lagi? Dengan hati yang lega, Rukia dan hero nya melanjutkan perjalanan ke arah apartemen Rukia. Semulus itukah aktingnya? Kurasa tidak.

"Hey, man! Wait!" salah satu dari pria brandal tadi memanggil pria yang tengah digelayuti oleh Rukia. Seketika mereka berdua berhenti dan menoleh.

"She's your girlfriend, right?"

Pria itu pun mengangguk.

"So, what is your girlfriend's name?" sepertinya salah satu dari gerombolan itu menyadari bahwa pria tadi adalah pahlawan dadakan yang kebetulan lewat dan menciptakan suatu drama bersama gadis bermasker itu.

"What is your business?" jawab si hero.

"You don't know your girlfriend's name? hahaha..so, what is your relationship with her? Boyfriend, huh? Hahaha."

Pria yang bersama Rukia itu mulai panik karena tidak dapat mengelak. Pria itu melirik Rukia, meminta isyarat agar memberitahu namanya. Akh, terlambat.

"Yeah,that's right!" salah satu berandalnya mengiyakan.

"Hey, Honey. Back at us. I bet you did not know him." Rukia pun bingung dan kembali khawatir.

"Please don't disturbing her. She didn't want to join you." Merasa punya tanggung jawab yang sudah terlanjur ia buat sendiri, pria bersyal itu harus tetap membela Rukia.

"Ah, shut up!" segerombol pria tak tau etika itu pun mulai marah dengan aksi sok pahlawan dari si pria bersyal. Dan empat diantaranya mulai mengeroyok dan memberikan sedikit sapaan. Sedangkan satu yang lainnya memegang Rukia yang awalnya mencoba untuk lari.

Bagaimana bisa keadaan menjadi seperti ini. Pria bersyal itu cukup bersyukur karena mereka berempat tidak membawa senjata apapun. Tapi awas perutmu!

Hah, itu gampang untuk dihindari. Dia pun mulai membalas dengan tedangan pada kedua sisi. Gotcha! Dua tumbang.
Awas di belakangmu!
DUAK!
"Kuso!" Ouch, pelipismu kena. Dan cukup untuk membuatnya berdarah. Owh, ayolah. Apa cuma segini? Menendang kakinya mungkin langkah terbaik. Dan benar saja. Pria bersyal itu dapat menumbangkan lagi. Dan memukuli wajah si brandal itu dengan brutal.

"Who is next?" payah. Hanya dengan itu, sisanya malah lari terbirit-birit."It's your lucky day, guys. I'm not in the mood to kill you." Kemudian ia dan Rukia pun berlalu dari sana.

.

.

Sweet

.

.

Mereka berdua berada dalam satu apartemen. Bukan hal tabu yang perlu diperbincangkan tetangga. Rukia hanya ingin mengobati luka pria itu untuk balas budi. Semua ini juga terhitung salahnya. Walaupun pada awalnya dia harus memaksa pria itu untuk ikut karena si pria terus saja menolak, tapi pada akhirnya dia mau setelah melihat tekad Rukia untuk balas budi.

"Gomennasai. Tapi aku berterima kasih karena telah menyelamatkanku." Suara lemah itu kembali Rukia perdengarkan dari balik masker. Bahasa dari negara asalnya itu dengan lugas ia pergunakan kepada orang asing yang ia temui di Amerika ini.

"Bagaimana bisa kau tau?" pria itu sedikit bingung akan satu hal. Bahasa.

"Ah, ya. Tadi aku sempat mendengar kau berkata 'kuso'. Aku juga orang Jepang. Kebetulan sekali ya?" Rukia pun duduk di sebelah pria tadi dengan membawa coklat panas dan kotak P3K."Oh ya, maaf tidak melepas maskerku, karena sepertinya flu ku parah."

"Tak apa. I-ittai." Pria itu merasakan sakit tatkala Rukia mulai membersihkan lukanya dengan antiseptik.

"M-maaf." Rukia pun lebih teliti lagi melihat lukanya. Otomatis jarak wajah yang Rukia buat semakin sempit. Dia hanya ingin fokus pada pelipis berdarah itu. Tidak lebih. Hanya saja, tanpa sadar dia menatap wajah pria tersebut. Menamatkan pandangannya akan lekukan yang dihadapnya. Seperti mengenali. dan seketika violetnya terbelalak karena sadar akan suatu fakta penting.

Namun pria itu mengetahuinya ; bahwa dia sedang diperhatikan secara intens.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?"

"M-maaf, kau mirip seseorang." Tapi warna rambutmu…hitam? Rukia kembali fokus pada lukanya, meskipun fakta penting itu kini mengganggunya."Tinggal diplester, dan selesai." Dia berusaha mengalihkan perhatian sebisa mungkin.

"Arigatou sudah mengobatiku."

"Tak apa, ini semua kan karena salahk—"

KRUCU~K

"Ahaha, maaf. Aku memang belum makan dari pagi." Pria itu pun tersenyum kikuk. Rukia hanya bisa tertawa kecil.

"Oh ya, aku ada karee pedas. Baru kubuat sebelum pergi tadi. Kebetulan masih hangat."

"Hontou? Tapi kurasa waktuku tidak banyak. Maaf, aku harus segera pergi."

"Kalau begitu tunggu sebentar." Rukia pu segera berlari ke dapur dan kembali dengan sekotak penuh nasi karee."Ini untukmu. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya."

"Aku juga berterima kasih atas karee nya. Kalau begitu aku pergi sekarang. Jaa."

"Jaa."

.

.

Sweet

.

.

"Meskipun samar, tapi aku ingat kalau dia mirip dengan Ichigo yang kutemui di kereta. Arrrrgh!" erangan frustasi itu entah sudah berapa kali Rukia ucap ketika pria tadi sudah meninggalkan kediamannya. Seusai memasang penghangat ruangan, Rukia memang langsung berguling di tempat tidurnya."Tapi yang kulihat, Ichigo berambut oranye! Atau mungkin dia menghapus cat rambutnya dan rambut hitam tadi adalah rambut aslinya? Argh, rambut Ichigo sebenarnya berwarna apa sih? Bodohnya aku tidak menanyakan namanya tadi!"

Penyesalan memang tak mau antri di urutan paling depan. Dia akan selalu bersabar dan mengantri di bagian belakang. Yeah, penyesalan yang sangat menyiksa kenapa matanya menjadi perih.

"Cih. Pasti aku salah orang. Mana mungkin Ichigo di Amerika. Dia sekarang pasti masih duduk manis di Tokyo."

Air matamu mengalir.

"Aku rindu padamu, Ichigo."

.

.

Sweet

.

.

Takdir masih berpihak padamu. Tenang saja. Tunggulah musim semi dengan sabar.

Salju yang lebat mungkin juga berpihak padamu. Meskipun harus menghabiskan banyak tisu. Tapi obat infuenza nya ikut tersenyum.

Terima kasih.

.

.

Sweet

.

.

"Ittadakimasu." Lirih pria bersyal yang baru saja mendapat sekotak penuh karee dari Rukia.

"A, Ichigo. How can youget that curry? It is look very yummy."

"Long story."

"Owh, right." Seorang pria bule yang sempat menanyai Ichigo itu pun berlalu. Meninggalkan Ichigo yang hendak menikmati karee nya. Satu sendokan telah lolos masuk ke indra perasanya. Tapi ia malah berhenti. Tiba-tiba matanya terasa perih.

"Kenapa mirip dengan buatannya?"

Air matamu mengalir.

"Sulit dimengerti. Tapi aku yakin ini buatannya. Arrgh! Kuso! Kenapa tadi aku tidak menanyakan namanya?! Kenapa dia harus memakai masker segala?!" Dia menggebrak meja yang ia tempati. Lalu ia bergumam."Tapi ini sangat enak."

.

.

Sweet

.

.

Osaka. Tak banyak yang berubah selama dua tahun ini. Leganya saat tau jika suhu mulai hangat.

"Okaeri, Rukia!" dengan sekali sentakan ibu bernama Unohana itu menerjang Rukia yang baru membuka pintu rumahnya.

"Ibu, jangan begitu. Rukia pasti lelah." Nii-sama yang juga baru sampai karena menjemput adik sulung keluarga Kuchiki itu mengingatkan ibunya.

"Ah, maaf ya, Rukia."

"Tidak apa-apa, Bu. Aku juga ingin memeluk ibu."

"Ah, itu bisa di lakukan nanti. Kalau begitu cepat bawa barang-barangmu ke kamar dan segera mandi. Makan malamnya akan siap sebentar lagi."

"Baiklah kalau begitu. Aku madi dulu." Dengan di bantu Nii-sama, Rukia membawa barang-barangnya ke kamar. Entah kenapa ada yang sedikit mengganjal dan ia ingin memastikannya.

.

.

Sweet

.

.

Sesampainya di Bandara Tokyo, dia langsung teringat pada pria yang ia beri karee kemarin. Setelah itu, ia bermaksud mengecheck akun yang dulu Ichigo gunakan. Ah, untung saja komputer di kamarnya terawat dengan baik oleh sang ibu. Jadi hanya butuh waktu sebentar dan dia bisa membuka akun jejaring sosialnya. Akh, akunnya sudah diblokir. Benar saja. Ia tidak pernah membukanya selama dua tahun. Terpaksa ia membuat akun baru.

Sekali lagi tak butuh waktu lama. Ia akhirnya mencari akun pacarnya. Black Sun.

'Searching is No Match'

"Hah? Ada apa dengan akun Ichigo? Apa miliknya juga telah diblokir?" diblokir? Mouse yang ia pegang pun seketika tergeletak ke lantai. Jika akun mereka sama-sama terblokir. Maka, tak ada harapan lagi. Mereka akan benar-benar lost contact. Hal terakhir yang bisa diharapkan adalah menanti Ichigo ingat untuk menghampiri Osaka.

Tapi bagaimana? Osaka luas. Bagaimana bisa Ichigo menemukan Rukia sedangkan perantara komunikasi satu-satunya telah hilang?

Biarkan air mata ini mengalir. Deras dan semakin deras. Sakit hati ini sangat terasa. Memukuli dadamu sendiri mungkin akan meredakan sakitnya?

Apa kau akan menghujat takdir lagi? Dan setiap hari? Benang kalian mungkin sudah putus. Kau yang membuatnya putus sendiri.

Tapi kenapa disaat seperti ini udara hangat bertiup? Hey, jangan menyerah!

"Ini belum selesai! Aku yakin. Tapi.."

Tangan Rukia bergetar. Ia meposisikan mouse nya lagi dengan benar. Mengarahkan kursor pada kotak search. Dia ingin mengetik, tapi ragu.

Jangan ragu!

"Ini tidak mungkin, tapi aku harus mencobanya." Ia hendak melakukan yang sedikit tak mungkin baginya.

Dia mengetik 'Ichigo Kurosaki'. "…tidak mungkin. Ichigo tidak akan menggunakan nama aslinya. Tapi tidak akan tau jika tidak dicoba kan?" ucapan itu terdengar hanya sebatas penghibur diri sendiri. Dari awal mengenal lelaki itu, Rukia tau benar jika pacarnya tidak akan mencantumkan hal-hal pribadinya. Tak terkecuali dengan panename. Rukia yakin jika Ichigo tak akan memampangkan nama aslinya. Tapi tak ada salahnya untuk dicoba kan? Jemarinya sudah siap untuk menekan tombol enter. Dan setelah tombol keramat itu tertekan, maka hanya ada dua kemungkinan. Harapanmu terwujud atau malah, pita merah diantara kalian akan hilang. Tombol itu…

.

.

..tertekan, dan

"…"

Monitor yang tengah ia lihat tiba-tiba menjadi hitam kelam.

"Kenapa listriknya harus padam sekarang sih!" teriak Rukia cukup nyaring. Dia benar-benar kesal dengan keadaannya. Air mata kembali mengalir karena hatinya sudah benar-benar sakit memikirkan kemungkinan tadi. Mentalnya tak kalah diuji dengan adanya opini yang tak mungkin terjadi itu.

"Rukia…apa kau sudah selesai mandi?" terdengar suara ibunya dari luar kamar.

"Belum. Sebentar lagi." Ia menyahut panggilan ibunya dan langsung pergi ke kamar mandi yang masih terhubung dengan kamar. Rasa kesal sedikit terlampiaskan dengan bantingan pintu hingga berdebam keras. Kau harus sabar, Rukia.

.

.

Sweet

.

.

Selesai mandi, tanpa basa-basi Rukia menuju ruang makan. Di sisi lain, rasa laparnya juga meronta. Terkadang ia rindu dengan masakan Jepang, terutama masakan ibunya.

"Kau rindu masakan Jepang kan?" Ibunya tersenyum manis menyambut Rukia. Nii-sama juga sudah ada di situ.

"Benar. Sudah dua tahun. Rasaya aku ingin makan semua menu khas Jepang. Hehe."

"Saat jalan-jalan tadi aku membeli ini." Nii-sama menyodorkan sebuah bungkusan.

"Waa, takoyaki. Arigatou, Nii-sama!"

"Doita. Oh ya, dimana ibu meletakkan remote tv? Aku tidak boleh tertinggal satu berita pun." Nii-sama mulai beranjak menuju ruang tv karena makanannya sudah ia habiskan lebih dulu.

"Ada di dekat vas bunga. Dasar kau ini."

"Memang listriknya sudah nyala lagi?" tanya Rukia antusias.

"Sudah sekitar sepuluh menit yang lalu."

"Kalau begitu aku ke kamar sebentar ya, Bu!"

"Rukia, chotto matte! Dasar, aku tidak mengerti anak-anak jaman sekarang."

.

.

Sweet

.

.

Apa yang akan terjadi setelah melihat apa yang disajikan oleh monitornya?

Kebahagiaan yang melegakan? Atau malah penyesalan yang tidak akan berakhir?

Lututnya terjatuh dengan kasar di depan komputer. Monitor yang awalnya kelam, kini memancarkan sinarnya lagi. Apa yang Rukia khawatirkan pun telah terjawab. Di sana terpampang…

… satu buah akun yang bernama 'Ichigo Kurosaki'.

"Ichigo? Ini miliknya?" dia hendak tertawa, tapi isakan tangis lebih mendominasinya. "Di-dia, memasang informasi pribadinya? Dan ava ini…"

Di pojok kiri atas dari akun tersebut terdapat sebuah foto pemilik akun. Syal panjang, jaket bulu dan sweather ; pakaian yang sama persis dipakai pria itu kemarin. Ah, di belakangnya ada tulisan 'Welcome to New York Air Port'. Yang tak pernah terlupakan adalah senyuman itu. Rambut hitam yang sedikit mencuatnya memang seperti yang kemarin. Jadi, lagi-lagi Rukia membuatkan Ichigo sebuah karee pedas?

Bagaimana tidak Rukia menangis? Ini sebuah takdir yang amat manis.

.

.

Sweet

.

.

[ Rukia Kuchiki…

…..]

"Ichigo, siapa dia? Matanya indah sekali."

"Tapi sayang, sebagian wajahnya tertutup masker."

"Coba buka informasi umumnya!"

"Avatar nya sungguh imut walaupun dia memakai masker!"

"Hey, Ichigo. Kapan-kapan kenalkan padaku ya!"

.

.

"Ternyata benar. Sekali lagi kau membuatkanku karee yang lezat. Dan gadis bermasker yang sedang di ganggu berandal itu memanglah kau. Rukia Kuchiki."

.

.

Sweet

.

.

Obat influenza itu kembali tersenyum. Musim dingin yang ekstrim mengeratkan kalian. Karee pedas yang sebenarnya tidak bermaksud untuk dimakan, kembali mempersatukan kalian.

Bersabarlah dalam menanti dentingan jam atau pun suara lonceng. Karena untuk kedua kalinya kalian harus menanti.

Sampai jumpa,

di rendezvous terakhir.

Chapter 2 : OWARI


Oke deh. Ini adalah fic yang sangat spesial karena :

Ini fic pertama yang kena flame.
Ini fic pertama yang selesai dalam sehari.
Ini fic oneshot pertama yang dapet review 10 dalam dua hari.
Dan ini fic pertama yang bikin aku bisa dowload lagunya Aqua Timez /A/

Oke, ini Cuma akan ada 3 Chapter –mungkin- jadi diharapkan untuk sabar menanti.

Oh ya, dan sekali lagi saya tekankan.

Saya membuat fanfic semata-mata ingin menghibur readers. Saya nggak butuh ketenaran di DUNIA MAYA, yang saya butuh adalah teman. Dan kalo mau mengkritik, silahkan cantumkan nama Anda, itu akan lebih berharga dari pada berkoar-koar tapi takut ketahuan.

Sekali lagi, ARIGATOU MINNA-SAAAAAAN! :*