Permata Ungu

Summary:

Tak peduli seberapa cerdik Byakuya melindungi adiknya, Aizen menemukan jalan untuk mendapatkan Rukia. IchiRuki, AiRuki. AU.

Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.

Chapter 9

.-.-.

Dengan kekalutan luar biasa Renji menyentak Zabimaru supaya berlari secepat angin. Wajah pemuda itu sarat dengan ketegangan. Rahangnya mengeras, matanya awas dan liar. Buku-buku jarinya mencengkeram erat tali kekang Zabimaru. Seumur hidup, baru kali itu Renji didera ketakutan yang sangat.

Renji tidak khawatir dengan keadaan dirinya. Yang paling dicemaskannya adalah nona muda yang saat itu duduk di dalam kereta. Meski begitu, dia merasa sedikit tenang mengetahui bahwa Shirayuki berada di tempat yang sama dengan Rukia. Secuil kelegaan itu bukannya tanpa alasan. Salah satu dari mahaguru yang mengajarinya bela diri adalah Shirayuki. Wanita cantik itu memang berpenampilan feminin, menyembunyikan keahliannya bermain pedang.

Renji hanya berharap mereka bisa mencapai Seireitei secepatnya. Demi Rukia!

Di dalam kereta, Rukia cuma bisa pasrah menatap wajah pias Shirayuki. Wanita yang menjaganya itu kini tampak bagai Putri Salju sungguhan. Wajah Shirayuki sepucat salju, namun mendung jelas-jelas menggelayuti rupa ayunya. Suasana yang ditimbulkan wanita itu membuat Rukia tercekam.

"Berapa lama lagi kita sampai di Kuchiki Manor?" tanya Rukia memecah keheningan.

Shirayuki nyaris terlonjak mendengar gadis itu membuka suara. Matanya melebar sebelum kembali keukuran normal. "Mungkin sebentar lagi," dustanya. Dalam keadaan panik seperti saat itu, waktu memang terasa seakan berlari cepat. Namun sekali lihat ke arah langit yang pekat oleh mendung, Shirayuki tahu masih butuh waktu lumayan lama untuk sampai ke tempat tujuan mereka.

Rukia sama sekali tak merasa terhibur mendengar jawaban Shirayuki. Agaknya gadis itu tahu Shirayuki berbohong. Dengan nanar Rukia menatap pepohonan yang bagai berlari di luar. Dia mendesah sebelum berujar pahit, "Maaf, karena aku kalian jadi repot."

Mata Shirayuki menyipit, menghunjam Rukia. "Jangan pernah lagi berkata seperti itu, Nona!" desisnya pedas. "Memang tugasku dan Renji untuk menjaga dan melindungimu. Tidak ada keterpaksaan dari kami, jadi berhentilah merasa bersalah!"

"Tapi aku memang merasa bersalah," sahut Rukia langsung, suaranya meninggi. Jari-jari kurusnya menyisir rambut hitamnya penuh frustasi. "Pada kalian dan kakakku," lanjutnya parau.

Shirayuki tercenung. Dia menarik tangan Rukia dan menggenggamnya lembut. Selain sebagai nona, baginya Rukia sudah seperti saudara. "Byakuya sangat menyayangimu, Rukia," tegasnya pasti.

"Aku tahu, karena itulah aku benci melihatnya muram karena aku," ujar Rukia. Mata besarnya berkaca-kaca. Gadis itu semakin merasa benci pada dirinya sendiri mengingat dia sudah menyeret orang lain ke dalam permasalahannya.

"Kakakmu hidup karenamu."

Perkataan Shirayuki menyentak Rukia. "Maksudmu?" tanyanya tak mengerti.

Shirayuki menyunggingkan senyum tipis. "Mungkin kau berpikir Byakuya menderita karena berusaha mati-matian menyembunyikanmu. Tapi sebetulnya kaulah tujuan hidupnya."

"Tidak mungkin," sanggah Rukia tak percaya. Matanya melebar.

Shirayuki mengendurkan pegangannya pada tangan Rukia. "Tanpa dirimu, Byakuya sangat kesepian Rukia. Ketika kau pulang atau bertemu dengannya, tidakkah kau perhatikan binar yang menghiasi mata kelabunya?"

Samar Rukia menggeleng.

"Walau tidak terlalu kentara, aku dan Renji bisa melihat dengan jelas rasa bahagia yang menguar dari wajahnya. Itu karena kau, terlepas dari kenyataan bahwa dia terpaksa menyembunyikanmu mati-matian!" tandas Shirayuki.

Rukia menatap Shirayuki lama. Otaknya berusaha memproses alasan yang dikemukakan wanita yang selama ini sudah mengasuhnya. "Karena akulah keluarga satu-satunya yang tersisa," ujarnya lirih.

"Ada perasaan yang memang tak bisa kita jabarkan, Nona. Salah satunya adalah cinta. Cinta seorang kekasih, orang tua, atau saudara."

Rukia memalingkan wajah ke luar.

"Hei!"

Seruan Shirayuki menyadarkannya dari lamunan pendek.

"Tidak usah dipikirkan! Otak secerdas apapun bahkan tak mampu menelaah perasaan cinta dan ikatan yang tercipta antara kita dan orang yang kita sayangi," cetus Shirayuki.

Wajah Rukia yang tadinya seputih kertas kini agak cerah. "Yang perlu kutahu adalah kenyataan bahwa Byakuya sangat menyayangiku. Dan itu sudah lebih dari cukup," kata Rukia menyimpulkan.

"Ya, kami juga sangat menyayangimu, Rukia," tambah Shirayuki. Dia meraih bahu Rukia dan meremasnya. "Kaulah prioritas kami dan orang-orang di Kuchiki Manor."

"Apa yang bisa kulakukan untuk membalas kalian?" tanya Rukia akhirnya, luluh oleh perkataan Shirayuki.

Pertanyaan itu tidak sempat dijawab. Suara derap kuda yang jumlahnya lebih dari satu mengalihkan perhatian mereka.

Perasaan ngeri dan was was menghinggapi mereka bertiga. Bahkan Rukia menahan napas. Gadis itu seakan mendengar jantungnya berdentum memukul rusuknya, bertalu-talu menyakitkan.

Renji menajamkan pendengarannya. Pemuda itu merutuk dalam hati mengetahui posisi mereka yang tak bisa dibilang menguntungkan. Seireitei masih harus ditempuh selama lebih dari satu jam setengah. Jarak yang jauh itu semakin menyudutkan posisi mereka. Sebisa mungkin tadinya Renji melarikan kereta dengan gerakan yang tidak menarik perhatian. Tidak aneh bukan orang bepergian di pagi ketika matahari beranjak naik dari peraduan dan embun masih melapisi dedaunan dan rumput?

Harapan tipis yang dipunyainya adalah siapapun yang menunggangi kuda itu hanyalah pelancong biasa. Rute yang dipilihnya saat itu bukan jalan besar yang ramai oleh lalu lalang manusia. Sengaja Renji lewat di jalan setapak yang lebih dekat menuju Seireitei, menerobos hutan rimbun yang ditumbuhi pepohonan rapat.

Derap kuda-kuda itu semakin mendekat. Suara hentakan kaki mereka terdengar semakin keras.

Tak bisa dipungkiri Renji merasa cemas dan khawatir. Sejak dulu dia sudah memantapkan hati melindungi adik Byakuya. Namun ketika dihadapkan pada situasi nyata, tak urung pemuda berambut menyala itu didera kalut yang sangat.

Harapan Renji tidak terwujud. Para penunggang kuda di belakang kereta yang dikemudikannya ternyata bukan pelancong atau penduduk sekitar.

Walau terkejut, dengan sigap Renji menarik tali kekang Zabimaru kuat-kuat, meminta kuda itu berhenti. Seseorang telah memblokir jalan di depannya.

Ingin rasanya Rukia menutup matanya rapat-rapat, namun rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Tanpa sadar dia mencengkeram lengan Shirayuki erat, meninggalkan bekas kemerahan di kulitnya.

Gadis Kuchiki itu menangkap dua kelebat bayangan. Yang satu telah melesat ke depan, meninggalkan kilatan keperakan dan kesan langsing, sedang yang satu bertahan di samping kiri kereta.

"Yo!" Gin Ichimaru melambaikan tangan dengan santai. Seringai lebar menghiasi wajahnya.

"Siapa kau?" tanya Renji keras, berharap suaranya tidak terdengar gentar.

"Pentingkah namaku?" balas Gin, suaranya serak dan berat.

"Sebaiknya kau minggir!" kata Renji. Dia menggertakkan gigi. Bisa saja dia menerjang pria kurus di depannya, namun Renji tahu resiko yang bisa saja timbul. Terlebih lagi, ada dua wanita di dalam kereta.

"Baiklah, aku minggir kalau kau bisa mengalahkanku," gumam Gin.

"Aku tak tertarik," sahut Renji pendek.

Gin menyeringai. "Kalau begitu artinya kami bisa membawa Nona Kuchiki tanpa perlawanan."

Pernyataan Gin mengkonfirmasi tujuan kedatangannya.

Kini tangan Renji menyambar pedang di punggungnya. "Langkahi dulu mayatku!" gertaknya geram.

Gin terkekeh. "Aku bertarung dengan pemuda merah ini, kau yang mengambil alih kereta, Grimmjow!" serunya.

Renji terkesiap. Sesaat tadi dia lupa bahwa pria kurus yang cengengesan di depannya tidak sendiri. Dari ujung matanya Renji mengamati profil rekan Gin.

Seorang pemuda berambut biru tengah menunggangi kuda putih. Sepertinya dia seumuran Renji. Tubuhnya tegap dan tinggi. Matanya sebiru lautan. Raut mukanya tampak garang dan tegas.

"Serahkan padaku!" sahut Grimmjow senang.

Rukia panik. Dia mendengar seluruh percakapan Renji dan Gin. Tangannya tak berhenti gemetar. Keringat dingin mengaliri pelipisnya. "Shi-Shirayuki, bagaimana ini?" tanyanya terbata.

Postur Shirayuki berubah tegang. "Dengar Rukia, aku dan Renji akan menangani orang-orang ini," ujarnya penuh penekanan.

"Kau juga?" Rukia terbelalak tak percaya. Dia percaya Renji, tapi jika Shirayuki ikut bertarung? Rukia tak mampu membayangkannya.

"Tentu saja! Rukia," Shirayuki mencengkeram bahu Rukia. "Apapun yang terjadi, jangan keluar dari kereta ini! Mengerti?"

Rukia menggeleng keras-keras. Dia hendak membuka mulut untuk protes. Tapi sebelum itu terjadi, dengan pedang di tangan Shirayuki sudah menerobos keluar.

Grimmjow sudah turun dari kudanya. Dia nyengir melihat Shirayuki. "Mau melawanku, eh, Nona?" ejeknya. Ketika Shirayuki tidak membalas, Grimmjow melanjutkan. "Huh, percuma saja! Aku yang akan menang," ujarnya pongah.

"Jangan sombong dulu!" tukas Shirayuki datar. Dia memasang kuda-kuda, posisi kakinya siap, pegangan pada pedangnya kokoh.

Gin mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Dia membuat gerakan seolah akan melemparnya ke kereta. Dengan instingnya Renji bergegas turun, yang diikuti Gin. Tubuh pria kurus itu meluncur dari pelana dengan ringan.

"Kau akan melawanku dengan sabit itu?" cemoh Renji. Ada kelegaan menyusup benaknya. Pedang Gin memang kecil dan pendek, berbeda dengan ukuran dan bentuk pedang pada umumnya. Dari wujud pedang itu Renji menyimpulkan kemampuan Gin, yang menurut perhitungannya pasti masih di bawahnya.

"Ini pedang sungguhan, lho," ujar Gin serius. Kakinya sudah bergerak tangkas. Dengan gesit dia menerjang Renji.

Renji menangkis pedang Gin. Dia terkejut. Pedang Gin yang pendek itu rupanya tidak seenteng kelihatannya. Ketika pedang mereka bersinggungan, suara denting yang ditimbulkan sangat nyaring.

Tanpa membuang waktu Renji kembali menyerang Gin. Dia ingin cepat-cepat menuntaskan pertarungan dan segera membawa Rukia ke Seireitei.

Gin terus mundur. Dia hanya menggunakan pedangnya untuk melindungi diri. Dari sekian serangan Renji, dia tidak membalas satu kali pun.

"Kau buang-buang waktu saja," dengus Renji keras.

Seringai Gin makin lebar. Memang benar dia tidak menyerang balik, tapi tanpa disadari Renji, Gin telah membimbingnya menjauhi kereta, menuju sebidang tanah agak lapang. Pohon tidak tumbuh rapat di sana sehingga gerakan mereka tak terhalangi.

Merasa menang, Renji terus mendesak Gin.

"Pedangmu hanya untuk menebas udara, ya?" seloroh Gin.

Darah Renji menggelegak. "Seharusnya kau beruntung aku tidak langsung menebasmu," bentak Renji. "Lagian, itu mestinya kata-kataku," umpatnya.

"Jika begitu, anggap saja ini sebagai olah raga di hari mendung dan berkabut," ujar Gin ringan.

Pria kurus itu mengacungkan pedang dan mulai menyerang.

Dari gerakan kaki Shirayuki, Grimmjow tahu wanita yang dihadapinya bukanlah wanita lemah dan gemulai seperti yang diperlihatkannya. Hentakan kaki Shirayuki kokoh dan tegas. Matanya fokus dan awas.

"Sebenarnya aku tak suka melawan wanita," ujar Grimmjow sambil lalu.

"Aku tak keberatan," dengus Shirayuki pendek.

Dia mengayunkan pedang, yang ditangkis Grimmjow dengan cepat.

Grimmjow menikmati tiap suara dentang pedang yang terdengar. Shirayuki memang lebih kecil darinya namun tenaga yang mengaliri pedangnya tak bisa diremehkan. Grimmjow bersemangat. Jika tadinya dia agak ogah-ogahan menghadapi wanita cantik itu, kini dia mengerahkan seluruh kemampuannya.

Shirayuki menyerang dan bertahan. Meski begitu dia tetap berada di dekat kereta.

Grimmjow terus mendesak pertahanan Shirayuki sehingga wanita itu perlahan mundur untuk melindungi diri.

"Tsk!" decak Shirayuki. Grimmjow bukan lawan yang enteng. Yang diinginkannya adalah menyelesaikan perlawanan itu selekas mungkin, namun melihat keadaan yang terjadi Shirayuki tahu itu adalah hal yang sulit. Terlebih didengarnya umpatan Renji dan tawa Gin di seberang.

Grimmjow mengerahkan tenaga untuk menebas lengan Shirayuki. Wanita itu berkelit dan berhasil menyobek lengan atas Grimmjow. Darah tipis mulai merembes di baju putih gading Grimmjow. Tak terima dengan luka yang terbilang kecil bagi pria bermata dan berambut biru itu, Grimmjow memperbarui serangan dan menyabet pedang Shirayuki. Gerakan tak terduga itu membuat beberapa helai rambut panjang Shirayuki terpotong.

"Mulai kewalahan?" ejek Grimmjow, mengolok Shirayuki yang terengah-engah.

"Simpan kata-katamu untuk dirimu sendiri!" bentak Shirayuki. Dia memang lihai bermain pedang namun Grimmjow ternyata lebih kuat dari penampilannya. Dia berusaha mendesak Grimmjow, yang sayangnya gagal dan malah membuatnya mati-matian melindungi diri.

Ketika Renji dan Shirayuki bertahan dari lawan masing-masing, derap kaki kuda baru terdengar. Sayangnya sudah terlambat untuk memperhatikan dan kembali ke dekat kereta.

Sousuke Aizen muncul dengan kuda besarnya. Surai kuda itu coklat keemasan, menimbulkan kesan gagah pada sang kuda dan penunggangnya. Pria itu mengamati empat orang yang sedang bertarung kemudian mengalihkan mata coklatnya pada kereta. Senyum simpul muncul di bibirnya. Dengan wajah tenang dia turun dan melesat menuju kereta.

Rukia menjerit tertahan ketika sesosok pria tinggi besar membuka pintu kereta dan duduk di hadapannya.

"Halo, Nona. Kita bertemu lagi," sapa Aizen. Nada suaranya ramah, seakan menyapa teman lama yang dirindukannya.

"K-kau…" Rukia merapat di kursinya, kehilangan kata.

"Kita pernah bertemu, kalau kau masih ingat," lanjut Aizen kalem. Wajahnya tampak bersahabat, matanya jernih dan cemerlang.

"Aizen…"

"Ya, itu namaku."

Jika dulu Rukia senang bertemu pria itu, kini gadis itu dilanda ketakutan hebat. Aizen di hadapannya tidak mengeluarkan ancaman namun aura pria itu membuatnya lupa cara bergerak. Tangannya mencengkeram erat jubah kuningnya. Perutnya mual.

Aizen mengawasi mata besar yang terbelalak kaget itu. Pria itu maklum dengan keadaan Rukia yang terpaku. Untuk sesaat dia bersimpati padanya.

Mengamati dua orang yang sangat dikasihinya melawan rekan Aizen dari dalam kereta sudah membuat nyali Rukia menciut. Gadis itu pedih menyaksikan bagaimana Gin dan Grimmjow mendesak dan melukai Shirayuki dan Renji. Rukia semakin benci pada dirinya sendiri karena dia hanya bisa melihat semua itu dengan pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Apa yang dapat dilakukan gadis bertubuh kecil yang bahkan tak becus memegang, apalagi menghunus pedang? Yang bahkan harus ada orang lain untuk melindunginya? Bodoh! Rukia terus merutuk dirinya sendiri.

"Aku dan kawan-kawanku," ujar Aizen seraya mengibaskan tangannya menunjuk dua pria jangkung di luar, "datang menjemputmu."

"Menjemput?" Rukia menemukan suaranya meski parau. "Aku menolak," tukasnya memberanikan diri.

Aizen hanya tersenyum. "Aku juga boleh menolak penolakanmu," balasnya ringan.

Secuil keberanian yang muncul bagai nyala lilin yang tertiup angin. Rukia merasa berani sekaligus takut oleh Aizen. Laki-laki itu cuma duduk dan bercakap-cakap dengan nada ramah padanya, namun mata cemerlang itu membuat Rukia merasa terintimidasi dan menciut.

Denting besi beradu kembali membuat Rukia menoleh ke luar.

Matanya terbelalak mendapati Shirayuki telah roboh ke tanah.

"Shirayuki! Tidak!" jeritnya kalut. Airmata membanjiri pipi pucatnya. Gadis itu terisak. Takut, marah, benci, dan perasaan tak berdaya silih berganti mengisi relung hatinya. Dilihatnya Shirayuki tak bergerak sedang Grimmjow mengibaskan tangannya.

"Kenapa…kenapa…" isaknya. Dengan geram Rukia mengalihkan matanya pada Aizen. Entah keberanian macam apa yang membuatnya melupakan rasa takutnya. Dengan tangan terkepal Rukia meninju dada Aizen. "Kenapa kau lakukan ini?" pekiknya gusar.

Aizen menangkap pergelangan tangan Rukia ketika gadis itu mengayunkan tangannya untuk yang kedua kali. "Temanmu tak akan terluka kalau saja kau ikut bersamaku dengan sukarela," tuturnya datar, nadanya berubah sehangat es.

"Tanpa perlawanan? Kau mimpi!"

Aizen mempererat tangannya. Barulah Rukia sadar posisinya yang berada di pangkuan Aizen. Dia menarik tangannya, yang rupanya sia-sia. Wajah kecoklatan Aizen hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.

"Harusnya kau sudah berada di Hueco Mundo bertahun-tahun lalu, Nona," desis Aizen tajam. Matanya mengeras. "Kalau Byakuya pikir dia bisa menghalangiku membawamu ke sana, dia yang mimpi!"

"Apa gunanya aku ke sana?" balas Rukia, suaranya jauh melengking dari sebelumnya.

"Bukankah sudah kukatakan, yang berasal dari Hueco Mundo akan kembali?" ulang Aizen.

"Untuk apa? Memenuhi sumpah leluhurku?" desah Rukia putus asa.

"Tepat sekali!"

Saat itu tanpa sengaja Rukia melirik ke luar.

Gin berdiri dengan pedang pendeknya. Beberapa langkah di depannya Renji sudah ambruk, tubuhnya bersimbah darah.

Jika dalam keadaan normal mata Gin selalu tertutup, kali ini dia balik menatap ke arah kereta dengan mata kelerengnya.

Mengetahui Shirayuki kalah oleh Grimmjow sudah membuat Rukia nyaris pingsan. Melihat Renji terkapar dan menyadari bahwa dua orang yang selama ini sangat dekat dengannya sudah tanpa daya, Rukia tak mampu berpikir lagi. Dia menyambut kegelapan yang perlahan merangkulnya.

Aizen menangkap tubuh Rukia yang limbung sesaat sebelum gadis itu pingsan.

.-.-.

TBC

A/N: Tak terasa sudah kira-kira dua bulanan saya tidak mengupdate Permata Ungu. Banyak hal yang terjadi, tapi saya rasa tidak terlalu penting bagi pembaca dan teman-teman sekalian untuk ikut pusing dengan saya (nyengir). Chapter depan perlawanan Renji dan Shirayuki yang terlewat oleh Rukia akan saya tulis. Ah, iya, di chapter selanjutnya Rukia sudah berada di Hueco Mundo, thanks to Aizen dkk. Saya sempatkan nulis chapter ini sebelum saya ke luar kota selama beberapa hari, jadi, sampai jumpa!