Disclaimer BLEACH © Tite kubo
RENDEZVOUS © ChapChappyChan
Genre : absolutly Romance, Drama
Rate : T
Pairing : Ichiruki
Warning : NO FLAME-Typo(s)-OOC-AU
Note : Hontou ni arigatou. Saya sangat senang bisa dapet respon yang nyenengin hati setelah saya dapet flame. Arigatou Minna-san! Semoga chapter terakhir ini bisa menghibur Anda :3
Special Thanks
White Rabbit
Syukur deh kalo Rabbit-san suka ^^
Kalo kritik kaya trima, kalo flame+anonim. Kesannya dia pengecut. Ah, ya sudahlah.
Aku bener-bener seneng kalo Rabbit-san suka ficnya XD
Hontou ni arigatou udah sempat review^^
unnn
Walah, Anda jatuh cinta? Syukur deh^^
Haduwh, ini juga menurut saya udah panjang XD
Yah, mungkin aja para flamerlah yang numpang tenar #ditabok flamer XD
Arigatou gozaimasu udah review, dikasih ganbatte pula ^^
Izumi Kagawa
Kan banyak yang minta lanjut. Ya udah aku lanjutin XD
Ichi betah karena dia setia XD
Menurut saya, flame emang g bermutu, yang bermutu itu kritik dengan identitas yang jelas :p
So pasti! Pingin di paksa kaya apa juga saya nggak bakal dengerin flame. Makasih ya solidaritasnya :*
Saya akan terus berkarya kok, tenang aja XD
Arigatou reviewnya ya, hihi, dapet ganbatte lagi :*
CAN-CAN
Hehe, saya update kilat juga cuma pas ch 2 ini doang XD
hehe, arigatou ganbatte nya ya..^^
15 Hendrik Widyawati
Hehe, iya nih, Widya-san ketinggalan.. :p
sekali-sekali bikin puyenglah, masa lurus terus, nggak seru XD
arigatou reviewnya ya :*
jessi
Hehe, kali ini mereka sadar kok. Yang sabar ya, soalnya bertahap. Hehe, arigatou reviewnya ya...:*
airin yukibara
Hehe, iya, soalnya banyak yang minta sih..:p
emang di fic ini saya pingin bikin yang anget-anget manis gimanaa gitu #emang wedang?plak!
Oke, ini lanjutannya. Arigatou review dan 'semangat' nya ya :*
oiya, panggil ChapyChan aja, jangan senpai. Saya masih muda #jiwamudaminumextrapiiip#plak
darries
itu b*rn ya? Soalnya flame dia copas dari flame nya Uki-san XD aku ketawa lho pas tau kalo itu copas XD
Soalnya mereka kan sering istilahnya telpon, tapi mereka medianya internet. Nah, itu sama persis kaya saya, LDR, nggak tau tampangnya langsung, tiap hari telponan, ya udah deh, sifatnya kan kebuka semua dan akhirnya mereka cocok trus cinta2an XD
Ashido cuma figura kok. hehe
Arigatou reviewnya ya :*
curio cherry
Hehe, arigatou atas kritik dan sarannya. Emang sih lagi on fire, tapi udah aku edit
hehe, aku juga gatel liatnya #plak
Yup, permainan takdir. Tapi saya kurang deskripsi sih. Saya nggak bisa detail, soalnya saya orangnya nggak sabaran juga. Jadi nggak terlalu greget..
Arigatou 'fighting' nya ya ^^ tenang, saya nggak akan menghiraukan flame+anonim+copas #ngakaksaya
Arigatou review dan kritiknya ya, Curio-san ^^
imamsholkhan
ini-update-bro
tingkyu-reviewnya-ya-bro XD
Lya Awlya
Ini chapter terakhir. Hehe, semoga suka.
Arigatou review and ganbatte nya ya :*
Lets reading..hope you enjoy..
Ichigo's POV
Kota kecilku sepertinya tidak terlalu banyak berubah selama empat tahun ini. Ah, ada café di dekat rumahku. Mungkin aku bisa mengajak Rukia kalau dia berkunjung ke sini. Haha, angan-anganku terlalu jauh ya? Well, tapi aku sangat ingin mengajaknya kemari. Secepatnya.
Aku memang baru pulang dari Tokyo dan sudah dapat gelar. Tapi itu bukan alasan untuk tidak ke Osaka dengan segera. Tidak, Oyaji.. tidak, aku tidak lelah. Sungguh, Yuzu, aku tidak akan sakit. Bagus, Karin tidak berkomentar. Kenapa anggota keluargaku terlalu mengkhawatirkan hal ini? Kalian tahu, aku sudah dua puluh tiga tahun. Dan setiap hari aku selalu minum vitamin. Jadi tak akan masalah kalau hari ini aku berangkat ke Osaka kan? Tidak perlu cemas, aku akan menyewa penginapan di sana dengan tabungan hasil kerja sambilanku.
Besok lusa adalah hari dimana aku berjanji menemui Rukia di Osaka. Kalau ditanya kenapa bisa kami janjian, maka aku akan jawab. Sejak dua tahun lalu, kami mulai berkomunikasi lagi. Yah, karena dia telah menemukan akunku lagi dan dia membuat akun baru di jejaring sosial. Rindu yang mengakar sepertinya mendorong kami untuk saling menghubungi. Memang sih tidak terlalu sering. Dalam satu semester pun dapat dihitung dengan jari. Tapi aku sudah puas akan hal itu. Dan pada akhirnya kami memasang informasi pribadi kami di akun. Bahkan kami malah adu keren antar avatar kami ; dan membuat sedikit banyak orang mengajak berkenalan. Memang sih, banyak yang mengganggu komunikasi kami. Yang paling aku ingat adalah seorang pria dengan ava yang tampan –mungkin- merayu Rukia dengan mengirim puisi-puisi gombal di kronologi bidadariku –membuatku turun tangan. Apa dia juling? Status berpacaran Rukia Kuchiki dengan Ichigo Kurosaki kurang terlihat di matanya apa. Akh, menyebalkan.
Dan aku juga tidak bisa menyalahkan Rukia yang marah karena seorang wanita pernah menawarkan servis-?- padaku melalui private message . Karena itulah, di sisi lain aku tidak menyukai profile pribadi.
Tapi karena itu juga aku bisa janjian. Terakhir kali Rukia menghubungiku setelah lulus kuliah, dia mengajakku bertemu di Dōtonbori pukul sembilan melalui kronologiku. Aku memang berjanji padanya akan ke Osaka setelah aku lulus kuliah. Dan dia memberiku nomor ponselnya lewat private message, tapi dia berpesan agar menghubungi nomornya saat hari H saja. Membuatku semakin penasaran. Oh ya, Rukia berkata kalau dia akan memakai dress ungu dan jaket putih. Tunggu, biar kubayangkan. Emm…aku boleh mimisan sekarang?
Baiklah, aku sudah mengepack barang-barangku. Jangan lupa tiket kereta. Ah, dan hadiah untuknya.
"Ichigo, memangnya kau tahu apa tentang Osaka?" Oyaji jenggotan itu nampak mengejekku.
"Osaka adalah sebuah kota di wilayah Kansai. Selain sebagai ibu kota Prefektur Osaka, kota ini ditetapkan sebagai salah satu Kota Terpilih berdasarkan Undang-Undang Otonomi Lokal. Berpenduduk terbesar nomor tiga di Jepang setelah Tokyo dan Yokohama. Kota ini terletak di pulau Honshu, di mulut Sungai Yodo di Teluk Osaka. Kota terbesar di kawasan Keihanshin sebagai pusat industri dan pelabuhan untuk daerah metropolitan Osaka-Kobe-Kyoto. Di sebelah timur, Osaka bertetangga dengan Kyoto dan Nara, dan di sebelah barat dengan kota Kobe. Sudah cukup? Kubilang jangan khawatirkan aku."
"Ah, Onii-chan kenapa bersikeras ke Osaka hari ini sih? Onii-chan kan baru pulang kemarin." Yuzu mengimbuhinya. Kenapa kalian tidak mempercayaiku?
"Pacarnya sangat cantik. Jadi Ichi-nii ingin lekas ketemu." Karin yang –terkesan- tidak sengaja lewat sambil meminum susu pertumbuhan itu menyahut percakapan sebelumnya. Ah, Karin memang pengertian. Tapi, hey! Kenapa pakai nada mengejek segala?!
"Ichigo!" Nada membentak yang tiba-tiba itu membuatku terkejut. Ada apa dengan nada serius Oyaji itu? Dengan sekejap aku menoleh dan melihat Oyaji memasang wajah serius. Ah, benar. Pak Tua itu baru tahu jika aku pergi ke Osaka karena ingin menemui pacarku. Dan apa dia semarah itu? "…berikan aku cucu~" Sial. Apa-apaan mata menyipit muka memerahnya itu ditambah dengan dekapan tangan kosong pada dirinya sendiri. Oh, aku mengerti untuk yang terakhir itu. He-hey!
.
.
Sweet
.
.
Normal POV
"Jadi Senna-chan juga pernah di Karakura ya?" Rukia. Gadis itu baru seminggu yang lalu pulang ke negeri sakura ini. Dia mencoba style yang sedikit berbeda. Umm..lebih dewasa mungkin. Lihat saja, black gawn tali spagetti yang tengah ia kenakan. Rambut yang ia gulung sedemikian rupa serta high heels hitamnya. Oh ya, dia juga mulai memakai lipstick pink nya ketika menghadiri pertemuan yang sedikit formal seperti sekarang ini.
"Benar, saat SMA. Ayah suka pindah-pindah sih. Jadi aku tidak begitu lama disana." Jawab Senna Sousuke ; gadis berkucir satu dengan dress jingga gelap lengan panjang yang tengah duduk di hadapan Rukia.
"Menurutmu, Karakura itu seperti apa?" Rukia mulai tertarik dengan topik ini. Kepalanya ia sangga dengan tangan yang ia letakkan di meja mewah itu dan memperhatikan Senna dengan seksama.
"Umm..tidak berisik. Bebas polusi. Suasananya sangat nyaman dan masyarakatnya ramah sekali."
"Begitu ya.. aku jadi ingin ke sana." Rukia memindahkan pandangannya ke luar jendela kaca di sampingnya.
"Aku juga ingin ke sana lagi."
"Aku ingin bertemu seseorang di sana." Ujar Rukia lirih tanpa bermaksud membicarakannya dengan Senna. Tapi suaranya cukup untuk didengar.
"Pasti kau ingin bertemu dengan Ichigo."
"Rukia. Kami telah selesai. Kita bisa pulang sekarang." Tiba-tiba seorang pria paruh baya dengan setelan jas mewah berambut hitam panjang menghampiri Rukia.
"Baik, Nii-sama. Kalau begitu aku pulang dulu ya, Senna-chan. Kami permisi, Sousuke-san." Setelah memberi lambaian tangan pada Senna, Rukia menghadap pada pria yang ia panggil Sousuke-san ; ayah Senna ; dan membungkuk sedikit diikuti oleh Nii-sama. Lalu dua Kuchiki itu berlalu.
"Kau ingin bertemu dengan Ichigo Kurosaki kan?"
.
.
Sweet
.
.
Rukia POV
Huft, hari ini cukup melelahkan. Nii-sama mengajakku ke restoran mewah hanya karena kliennya membawa sang anak. Senna Sousuke memang baik. Dan kurasa wajahnya hampir mirip denganku. Yang membedakan adalah warna lensa mata dan sedikit lekukan di sekitar pelipis. Kalau saja warna matanya violet, mungkin Nii-sama akan sedikit susah mengenali kami.
Walaupun menyenangkan, tapi sebenarnya hari ini aku ingin di rumah saja. Aku ingin mempersiapkan apa saja yang perlu kubawa untuk bertemu dengan Ichigo besok.
Akh! Sungguh. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya. Setelah sekian lama menanti, pada akhirnya kami akan bertemu. Pertemuan yang sesungguhnya dengan pacarku yang sama sekali belum pernah kutemui –secara sengaja-. Seorang yang gemuk, pendek dan bermata sangan sipit. Hahaha, oh ayolah. Pacarku ternyata seseorang yang tampan. Aku harus menghajarnya karena telah menipuku.
Umm…tapi aku masih bingung ingin melakukan apa saja dengannya. Memberitahukan tempat-tempat yang ingin kukunjungi besok pada Ichigo mungkin akan memberi beberapa referensi kegiatan bagi kami. Kuharap dia tahu nama tempat yang kuberikan seminggu lalu. Oh ya, jangan lupakan karee pedas. Aku akan membawakannya porsi ektra. Semoga saja dia suka.
Aku tidak mengira bisa menghubunginya secepat itu. Kami memang baru seminggu ini lulus. Sedikit sebal sih. Karena dia bisa menyusul kelulusanku. IP-nya juga hanya selisih 0,2 di atasku. Ugh.
Tapi di sisi lain aku sangat bahagia akan kelulusannya yang cepat, kami jadi cepat bertemu. Padahal aku baru tahu bahwa kemarin lusa dia baru pulang ke Karakura. Sebenarnya aku ingin mengundur pertemuannya sih. Aku tidak ingin dia kelelahan. Namun, apa boleh buat, dia sendiri yang memaksa agar ingin cepat bertemu. Aku tidak keberatan, hanya saja aku akan memarahinya jika dia sampai sakit di Osaka.
Baiklah, katanya ia akan mengenakan jaket jeans hitam dan kaos putih. Dia juga pakai topi coklat hazel. Bisa kalian bayangkan? Oke, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Bagaimana tidak jika kau mempunyai seorang kekasih yang keren? Pantas saja banyak yang mengganggunya di sosial media.
Dan aku akhirnya merasa bahwa aku adalah gadis paling beruntung di dunia.
.
.
Sweet
.
.
Normal POV
"Senna-chan akan segera pindah lagi ya? Sayang sekali."
"Berarti kau harus menyatakan perasaanmu sekarang!"
"E-eh."
"Sebenarnya aku tidak rela, tapi karena kau akan pindah, jadi aku relakan Kurosaki."
"Neliel-chan…"
"Sudahlah, Sousuke-chan. Apa perlu kubantu? Nanti aku ajari cara kissu yang baik."
"Rangiku-chan!"
"Apa kalian yakin? Bagaimana jika Ichigo menolak dan pada akhirnya membenciku?" Seseorang yang di panggil Senna-chan—Sousuke-chan itu agak mendongak, menghadap ke teman-temannya. Meminta pertimbangan akan rencana gila yang hendak ia lakukan. Menyatakan perasaanmu memang tak mudah. Apalagi kau ini seorang gadis. Lawan jenismu mungkin akan berpikir bahwa kau agresif. Ya, setidaknya itu yang Senna pikirkan.
"Kurosaki tidak akan membencimu. Dia adalah pria yang baik. Mustahil baginya melakukan hal itu."
"Ano, sebenarnya bukan itu yang sungguh kupikirkan. Tapi, aku selalu bertanya-tanya. Apa Ichigo masih jomblo?" Senna kembali meminta jawaban pada teman-temannya. Alisnya menaut. Takut akan jawaban pahit yang akan didapat.
"Hahaha…Kurosaki adalah pria yang dingin pada wanita. Tapi itulah yang aku suka darinya. Jadi untuk saat ini aku pikir dia belum punya pacar." Ujar Nel.
"Tapi kurasa tidak. Ichigo mungkin tidak single."
"Kenapa bisa kau berkata seperti itu?"
"Karena kulihat dia sangat akrab pada seseorang dengan nama ChappyChan di jejaring sosial." Senna menampakkan wajah kecewanya ketika teman-temannya mengernyit.
"Entahlah."
"Sampai sekarang aku masih tidak berani mengungkapkannya." Kalimat itu keluar tatkala si pemilik ruangan memancal kasar guling –atau pun benda yang ada di area kakinya dengan kasar. Gadis itu melamun dengan posisi tidur, membayangkan masa lalu yang kurang enak untuk diingat. Menangis dalam diam sebenarnya bukan solusi efektif sih. Tapi hatinya sangat sakit sejak tadi siang.
"Kenapa aku malah bertemu dengannya?!" lagi-lagi kakinya berulah. Bed cover di kasurnya sudah tak karuan lagi. Ia benar-benar menyesali pertemuannya dengan seseorang. Membuatnya ingin memukul orang itu, tapi tidak bisa. Cinta memang kejam. Tak dapat diprediksi. Kapan dia memberi kebahagiaan atau pun kapan ia memberi luka.
Tapi lelaki idamannya itu tidak berpihak di sisinya. Buat apa kau mengharapkannya? Salahkan dirimu yang sudah terlanjur menaruh hati kepadanya padahal jelas-jelas dia tidak memilihmu.
Argh, kejam!
Sudahlah, lupakan sejenak masalahmu. Kau hanya butuh temanmu sekarang. Minuman kaleng.
.
.
Sweet
.
.
"Rukia, daftar belanjanya sudah ibu tulis. Cepatlah kemari." Unohana mengibas-ngibaskan secarik kertas yang baru selesai ia tulisi. Keberadaan Rukia di rumah memang tak terelakkan lagi. Ibu rumah tangga satu itu tidak bisa mengandalkan anak lelaki tampannya. Byakuya boleh saja pandai dibidang listrik, tapi dia sangat payah menentukan kualitas belanjaan yang sertifikatif. Maka dari itu, Rukia adalah satu-satunya malaikat Unohana untuk hal ini.
"Iya, Bu. Daftar bahan untuk karee pedasku juga sudah ditulis kan?"
"Tentu saja. Umm…Ibu jadi ingat pada ayahmu saja. Demi Ibu, dia sampai rela jauh-jauh datang ke kota kelahiran ibu dan adu kendo dengan kakekmu."
"Ah, jadi Ibu menyamakan kisah denganku?" Rukia sedikit terkikik melihat Ibunya yang mulai menggoda."Oh ya, Nii-sama tidak tahu tentang besok kan?"
Dengan acungan jempol dan kedipan sebelah mata, Unohana menjawab, "Sudah pasti. Ibu akan merahasiakan ini darinya. Bisa kacau kalau sampai dia tahu."
"Nii-sama tidak adil sih. Aku saja tidak pilih-pilih ataupun mengomentari Hisana-san. Tapi giliran denganku, dia sangat protektif. Apa itu sifat ayah?" Rukia meghela nafas panjang mengingat Renji yang tiba-tiba saja didatangi oleh Byakuya hanya karena ia melihat Renji mengantarkan Rukia pulang waktu SMP.
"Sedikit." Ibunya tersenyum.
"Ibu…" Rukia mengintimidasi Ibunya.
"Baiklah, baik...itu memang sama persis dengan ayahmu dulu. Ibu jadi kesulitan untuk keluar rumah. Padahal jelas-jelas Ibu mencintai Ayahmu. Ibu sudah pasti tidak akan meninggalkannya begitu saja. Dasar."
"Untung saja Ichigo tidak seperti itu. Hihi."
"Ah, senangnya. Oh ya, Rukia. Jangan lupa belanjaan."
"E-eh, sampai lupa. Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, Bu."
.
.
Sweet
.
.
Barang belanjaan yang dibawa Rukia cukup banyak. Mungkin dia agak kesulitan karena hal itu. Tapi berjalan kaki melintasi banyak pemandangan di kota adalah salah satu alternatif untuk refreshing. Sesekali ia tersenyum dengan apa yang dia lihat. Segerombol anak SD pulang bersama dari latihan kendonya, orang yang tengah bingung di depan mesin minuman kaleng, beberapa pasang kekasih yang tengah bercanda di jalan atau pun di café yang ia lewati dan beberapa penjual makanan yang sedang bersemangat promosi. Di Amerika tidak ada suasana hangat seperti ini, pikirnya.
Hey, kau harus cepat menyeberang sebelum traffic lampnya berganti warna. Dengan membawa barang yang cukup berat, Rukia berlari kecil menuju zebracross. Lampu merahnya tinggal 10 detik lagi berubah warna. Rukia masih berlari kecil, tapi dia tidak tahu satu hal.
KREEEEK…
Tas plastik yang ia pakai tidak sekuat itu. Alhasil barang belanjaannya memencar ke mana-mana.
"Hey, Nona! Lampunya sudah hijau! Menyingkirlah dari jalan!"
TIIIIINN
TIN TIIIIIN
TIIIIN TIIIIIIN
TIIIIIN
Rukia tahu dia harus menyingkir, tapi dia harus memunguti barang-barangnya. Sedikit lagi selesai. Ah, kecap itu yang terakhir. Rukia segera menuju pinggir setelah melihat kecap asinnya yang berada di bagian pinggir jalan. Tapi…
BRAK!
.
.
Sweet
.
.
"Aah! Juice melon memang segar!" Senna berhasil meneguk jus melon kalengnya yang ke lima. Tapi ketenangannya terusik ketika banyak orang yang berlarian dan bergerombol di tengah jalan. Karena tertarik, dia mendekat. Ingin melihat apa yang sedang ditonton oleh orang-orang. Menyelusup ke kerumunan orang.
"Kasihan sekali gadis itu."
"Padahal tadi kulihat dia sudah ingin minggir ke trotoar."
"Yang menabrak juga langsung kabur. Naas sekali."
Senna akhirnya bisa melihat siapa yang menjadi pusat perhatian. Itu adalah gadis yang ia benci ah- ia temui tadi siang.
"Rukia-chan!" Senna langsung mendekat ke Rukia. Ia melihat darah yang ada di tangan kiri Rukia. Sepertinya tangannya terluka. Ia langsung membalut Rukia dengan jaketnya dan buru-buru menghubungi ambulan. Ah, Byakuya- yang ia ketahui adalah kakak Rukia harus dihubungi! Ponsel Rukia. Ia pun menggeledah Rukia dan menemukan ponselnya. Menghubungi Byakuya.
.
.
Sweet
.
.
"Aku sangat berterima kasih karena telah membawa Rukia kemari, Sousuke-san." Byakuya berujar lirih kepada Senna di depan kamar rawat Rukia. Dari depan, Senna bisa melihat Rukia yang masih belum sadar. Di sampingnya ada seorang Ibu yang memegang erat tangan Rukia.
"Tak masalah. Sudah seharusnya aku melakukan ini. Ano, kalau begitu, aku permisi dulu. Semoga Rukia cepat sembuh." Setelah membungkuk kepada Byakuya, ia akhirnya berlalu dari para Kuchiki itu.
Hatinya terasa kacau. Ia ingin senang, atau malah sedih? Di sisi lain, mereka berteman. Memang pertemanan yang sangat singkat. Tapi di sisi lain dia sangat tidak suka dengan Rukia karena cinta. Karena ia adalah kekasih Ichigo.
Setelah sampai di depan rumah sakit, ia berhenti. Mengeluarkan sesuatu yang beberapa waktu ini menjadi familiar. Ponsel ungu metalik Rukia. Benda itu ada di genggamannya sekarang. Entah dorongan dari mana, tapi dia ingin mengambil ponsel itu. Bukan karena masalah ekonomi. Tapi, entahlah. Ia juga tidak yakin.
Baiklah, ia selalu melihat aktivitas Ichigo –dan tentunya bersama Rukia di jejaring sosial. Ia tahu jika besok Ichigo akan bertemu dengan Rukia di Dōtonbori . Dan sudah pasti hari ini -Sabtu- Ichigo sudah ada di Osaka.
Setelah mengetahui itu, ia punya ide gila. Ya, benar-benar gila.
.
.
Sweet
.
.
Unohana sangat sedih mengetahui kondisi Rukia. Kata dokter, Rukia tak mengalami luka parah. Hanya saja lengannya tergores sehingga memar dan berdarah. Tapi tidak mengalami patah tulang.
Wanita paruh baya itu memandang mata tertutup Rukia, Rukia sudah pingsan selama tiga jam. Itu karena kondisi tubuhnya kurang baik dari awal. Ia kekurangan vitamin dan akhir-akhir ini Rukia memang terlihat lelah. Ia jadi merasa bersalah karena menyuruhnya berbelanja tadi.
Selain Rukia, Unohana juga megkhawatirkan satu hal.
Ichigo.
Bagaimana dengan pertemuan anaknya itu? Ia ingin menghubungi Ichigo. Tapi ia tak tahu harus menghubungi pacar anaknya itu lewat apa. Ia tak ingin kisah cinta anaknya berakhir menyedihkan. Sungguh. Ia tak mau.
.
.
Sweet
.
.
Minggu pagi memang hari yang paling indah. Apalagi ini musim semi. Banyak orang yang pergi berjalan-jalan dengan keluarganya, ada juga yang dengan kekasihnya. Ugh, Ichigo jadi iri melihatnya.
Hey, ini baru jam setengah sembilan pagi. Tapi kenapa dia sudah sampai di sini?
Baiklah. Dia bosan di apartemen sendirian. Apalagi dia sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya. Lagi pula melihat pemandangan kota lebih menyegarkan matanya.
.
.
.
"I-Ichigo?" seseorang tiba dan memanggil Ichigo. Menghentikan aktivitas Ichigo yang tengah mengelus manja anjing puddle yang tak sengaja berlari ke arahnya. Seketika Ichigo menoleh ke asal suara. Sejenak Ichigo diam. Memperhatikan seseorang itu. Dan setelah memandang mata violet si gadis, Ichigo berani berujar.
"Rukia? Benar kau Rukia?" Ichigo tersenyum sumringah melihat gadis dengan rambut sebahu dan bermata violet itu. Ia tidak menyangka akhirnya bisa bertemu dengannya. Ichigo lekas berdiri dari tempatnya duduk dan melangkah maju pada gadis di depannya. Hendak memeluknya."Rukia, aku sangat-" Ichigo menghentikan gerakannya."Ah, maaf. Aku tidak boleh memelukmu sekarang ya." Ichigo malah meringis. Dan memposisikan dirinya agar tegak kembali.
"Ichigo sangat ramah ya- eh maksudku aku sangat senang bisa bertemu dengan Ichigo!"
"Hey, ada apa dengan bahasamu itu? Belajar bahasa aneh di Amerika, hm?" Ichigo mengernyitkan alisnya."Tapi kenapa kau pakai baju itu?"
"A-apa kau tidak suka? Kurang seksi ya? Maaf.." Ichigo tambah bingung dengan perkataan Rukia.
"Kau bilang akan memakai dress ungu dan jaket putih kan? Emm..kau tahu kan jika aku tidak menyukai hal seperti itu." Ichigo kembali duduk dan memperhatikan Rukia lagi. Ia merasa kalau itu bukan Rukia.
"Maaf, tapi aku habis kecelakaan dan kepalaku terbentur. Jadi, aku agak susah mengingat."
"Kecelakaan?! Mana yang terluka? Kau tidak apa-apa kan? Satu ditambah satu berapa?" Ichigo sangat khawatir dan langsung mendekat pada Rukia. Bahkan ia melontarkan pertanyaan konyol padanya.
"Emm, lukaku tidak terlalu parah. Tentu saja jawabannya dua."
"Yokatta… aku sangat takut jika terjadi apa-apa dengamu. Eh, tapi. Rukia, kenapa matamu memerah?"
"Benarkah? Kalau begitu aku ke toilet sebentar ya."
"Oke, aku tunggu."
.
.
Sweet
.
.
Wanita yang dari tadi di sebut Rukia itu mengaca pada wastefel di toilet umum. Ia membelalakkan matanya dengan jarinya dan mengeluarkan sesuatu dari matanya. Contac lens berwarna ungu. Dan memperlihatkan lesa asli matanya, oranye cerah.
Dia bukan Rukia. Dia Senna Sousuke.
Kemarin dia memang mendapat ide gila. Ia ingin berkencan dengan Ichigo dan menyamar sebagai Rukia. Memanfaatkan kecelakaan yang dialami Rukia. Dia yakin bahwa untuk sekarang pun Rukia pasti belum siuman. Dan panggilan dari ponsel Rukia tadi pagi semakin mendorongnya untuk melakukan hal ini. Ia menerima panggilan dari Ichigo melalui ponsel Rukia yang ia ambil secara diam-diam. Kejam? Ya, dia memang kejam. Karena cinta juga kejam kepadanya.
.
.
Sweet
.
.
Ruki—Senna pun kembali dari toilet dan berjalan pelan ke arah Ichigo. Ia memandang punggung Ichigo yang duduk membelakanginya. Pria oranye itu sangat berbeda dengan yang terakhir kali ia temui. Yang ia tahu, Ichigo adalah lelaki yang cuek pada semua gadis. Ia paling menghindari yang namanya gadis. Tersenyum pun ia jarang. Bahkan Senna tak pernah melihatnya tersenyum. Apalagi tersenyum padanya. Itu akan jadi hal termustahil yang pernah ia bayangkan. Tapi beberapa menit lalu ia baru saja mendapatkan hal mustahil itu. Ichigo tersenyum padanya. Pria itu sangat perhatian, bahkan humoris. Senyumnya yang merekah itu membuat hatinya mengembang. Tapi apa benar semua itu ditujukan untuknya?
"Ah, Rukia." Rukia? Aku Senna!
"Ayo kita mulai kencannya." Senna tersenyum pada Ichigo dan berusaha menggandeng tangan Ichigo. Ichigo yang melihat tangan Senna terulur, dengan segera meraihnya. Meraihnya dalan gandengan yang erat dan nyaman.
Tapi, walaupun begitu. Ichigo merasa ada yang aneh. Jantungnya tidak berdegup dengan kencang. Tidak seperti ketika mereka berbicara jarak jauh setiap harinya. Tidak juga ketika ia tahu bahwa ia membawa sapu tangan Rukia. Dan tidak seperti saat ia memakan nasi karee buatan kekasihnya itu. Entahlah.
"Kita akan kemana, Ichigo?" Senna merajuk manja pada pria yang sedang ia gelayuti.
"Bukankah kau sudah membuat daftar tempatnya? Kepalamu terbentur begitu keras ya?" Ichigo kembali mengernyit.
"A-ah, aku lupa. Memang terkadang menjadi pusing sih."
"Benarkah?" Ichigo terus memperhatikan Senna ; yang ia anggap Rukia ; dengan baik lagi. Ia memperhatikan sorot mata yang dipancarkan Senna. Ada sesuatu yang ganjil. Ichigo tidak tahu pasti. Tapi…
.
.
Sweet
.
.
"I-Ibu.." kelopak mata itu serasa berat untuk terbuka. Mungkin kantuk sedang menyerangnya. Rukia melihat siluet Ibunya di dekat jendela. Ia sekarang ada di kamar ya? Apa yang tadi terjadi?
"Rukia!" Unohana dengan cepat mendekat dan mengelus Rukia. Rukia hendak duduk dan ia membantunya.
"Tadi, aku tertabrak ya? Lengan kiriku terasa perih."
"Syukurlah kau sudah siuman. Maafkan Ibu karena menyuruhmu berbelanja, Rukia." Unohana menangis seraya memeluk Rukia.
"Ini buka salah ibu. Ini salahku karena terlalu ceroboh menyeberang, Bu. Oh ya, ini jam berapa, Bu?" Rukia mencari-cari petunjuk pukul berapa sekarang. Ia menatap sinar oranye yang masuk melalui kaca jedelanya. Dan ia ingat akan satu hal.
"Ibu, ini hari apa?" Ibunya diam. Ia mengerti apa maksud anaknya. Unohanya hanya bisa memeluk Rukia dalam diam. Jika dia mejawab, Rukia pasti akan terkejut. Ini sudah hampir malam. Tidak mungkin Ichigo akan menunggu Rukia selama ini. Rukia berusaha memandang Ibunya. Tapi Ibunya berpaling.
Rukia tahu, ia terlambat.
Dengan sisa tenaganya, ia beranjak dari kamar, meraih jaket putih tebalnya dan berlari keluar dengan gontai.
"Rukia!"
.
.
Sweet
.
.
Rukia POV
A-aku harus berbuat apa? Apa Ichigo sudah pergi? Bagaimana jika dia marah padaku? Bagaimana jika ia mengira kalau aku mempermainkan dia untuk ke sini. Jauh-jauh datang ke Osaka hanya untuk dibohongi? Bagaimana ini?
Aku tidak bisa berhenti menangis. Menyesali apa yang terjadi padaku. Aku tidak ingin Ichigo marah dan menjauh dariku. Bagaimana ini? Apa Ichigo masih menungguku?
.
.
"Tidak ada?" lututku lemas. Bagaimana tidak. Ichigo benar tidak ada. Aku tak menemukan pria dengan ciri-ciri yang Ichigo bilang. Bahkan aku sudah megelilingi tempat ini empat kali. Bagaimana ini?
19.34
Itu yang tertera di arlogi tengah kota. Kemana lagi aku harus mencarinya? Bagaimana jika ia langsung pulang ke Karakura? Seharusnya, aku sudah di Tonbori Water Park bersamanya sekarang. Tonbori. Apa mungkin?
.
.
Sweet
.
.
Normal POV
"Ichigo, kenapa diam saja?" Senna yang sedang duduk bersandar pada Ichigo mulai berujar karena tidak betah dengan kesunyian yang ada. Ichigo dari tadi memang melamun. Memandang jernihnya air yang membentang dan pantulan lampu-lampu kota. Entah kenapa dia tidak suka pada Rukia yang ia temui sekarang. Apa ini adalah sifat asli Rukia? Apa selama ini Rukia bersandiwara kepadanya?
"Aku malas."
"Ichigo." Senna menangkupkan kedua tangannya pada Ichigo. memaksa wajah Ichigo untuk memandang wajahnya. Begitu lama. Ichigo hanya diam. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya."..cium aku." Senna pun memejamkan matanya dan mulai mendekatkan wajahnya. Semakin dekat dan dekat. Dan tangan Ichigo meraih tangannya. Wajah Senna semakin memerah merasakan hal itu. Namun,
"Kau bukan Rukia."
Satu kalimat itu meghentikan gerakannya. Membuatnya beberapa jengkal menjauh dari Ichigo.
"Ketahuan ya." Senna menunduk dalam. Ia kembali mundur dari Ichigo. Ichigo memandangnya sinis, tapi dia hanya diam."Sudah lama aku ingin menciummu, kau tahu?" Ichigo mulai berdiri. Ia hendak pergi. Muak dengan apa yang terjadi padanya hari ini. Tapi langkah kakinya ditahan oleh tangan seseorang yang masih duduk di bawah."Kau bahkan tidak mengingatku kan?"
"Untuk apa aku mengingat orang sepertimu." Ichigo melangkah kasar, melepaskan cengkraman Senna pada jeansnya. Tiba-tiba saja Senna berdiri dan memeluk Ichigo dari belakang. Tapi Ichigo memberontak dan berhasil melepas Senna. Senna tak menyerah, ia menghadang Ichigo dari depan. Ia tidak ingin Ichigo pergi. Ia ingin mengatakan perasaannya.
"Aku sudah lama menyukaimu, Ichigo! Sejak pertama kali aku bertemu denganmu di SMA Karakura. A-aku.." Senna terisak. Ichigo sama sekali tidak peduli. Ia benci dibohongi."..AKU MENCINTAIMU, ICHIGO!" teriakan keras itu menggema di sepanjang kawasan Tonbori. Dan membuat si pemilik suara sedikit puas. Kini ia harap Ichigo mau melihatnya.
"Senna-chan?" suara parau itu mengalihkan pandangan Ichigo dan Senna. Seorang gadis yang terlihat rapuh berdiri agak doyong di hadapan mereka. Piyama yang dibalut dengan jaket putih tebal itu terlihat jelas. Rambutnya yang acak-acakan dan engahan nafasnya membuktikan bahwa ia baru saja berlari jauh.
Ichigo tertegun melihat sosok itu. Sosok yang tersenyum tipis padanya. Ichigo perlahan maju, maju dan akhirnya berlari ke arah gadis itu.
"Rukia!" pria itu berhasil memeluknya.
"Akh, i-ittai." Gadis yang dipanggil Rukia itu mengerang kecil karena balutan di tangan kirinya tersentuh.
"Rukia? Ada apa dengan lenganmu?!" Ichigo dengan segera melepaskan sentuhannya pada lengan kiri Rukia.
"Tak apa." Rukia lagi-lagi tersenyum lemah."Bagaimana bisa kau tahu jika aku Rukia?"
Ichigo membalas senyuman itu dengan amat lembut."Karena aku mencintaimu. Kekuatan cinta, kau tahu?" Pria itu sedikit terkikik.
"Ichigo, aku takut. Aku takut kau meninggalkanku. Aku takut kau kembali ke Karakura. Aku takut kau membenciku! Aku benar-benar takut. Aku takut kehilangan dirimu." Rukia menitikkan air matanya. Ia sungguh takut. Ichigo memandangnya lembut. Menghapus air mata yang dengan mulusnya menetes.
"Aku tidak akan melakukan itu. Bodohnya aku jika sampai membencimu, Rukia."
"Arigatou, Ichigo."
.
.
Senna hanya bisa terpaku melihat pemadangan di depannya. Ichigo benar-benar mencintai Rukia. Tidak ada celah untuknya. Tidak ada.
.
.
Sweet
.
.
"Kemarin Rukia memang pingsan karena tertabrak motor. Aku begitu bingung karena tidak tahu harus menghubungimu lewat apa, Ichigo-kun. Gomen." Suasana ruang makan keluarga Kuchiki memang selalu hangat. Di meja makan itu terdapat dua orang yang tengah behadapan, saling bercengkrama sejak satu jam lalu.
"Bukan salah Oba-san. Ini semua memang takdir. Tapi aku bersyukur pada akhirnya bisa bertemu dengan Rukia dan lukanya juga tidak terlalu parah." Ichigo tersenyum pada Unohana. Rukia tidak di sana, karena dia sedang sibuk di dapur memasak karee pedas.
"Nee, Ichigo-kun. Aku masih tidak percaya jika kalian pacaran jarak jauh begitu. Apa kau… tidak merasa digantung oleh Rukia?"
"Entahlah, Oba-san. Aku merasa bahwa aku ingin hidup bersama dengan Rukia. Jadi aku sanggup menunggu selama itu."
"Kau romantis sekali, Ichigo-kun! Aku merestuimu! Kuserahkan Rukia padamu. Jaga dia baik-baik ya~."
"O-Oba-san.."
"Ibu…" Rukia keluar dari dapur dan membawa satu panci penuh karee pedas. Dia tidak sengaja mendengar percakapannya dengan Ichigo. sedangkan sang Ibu hanya bisa tersenyum melihat wajah merah Rukia.
Kini mereka bertiga ada di meja makan, Rukia mengambilkan satu porsi nasi untuk Ibunya dan Ichigo.
"Oh ya, Ibu. Aku ingin kau memarahi Ichigo karena telah membohongiku." Rukia tiba-tiba saja berujar.
"Memang aku berbohong apa?" Ichigo bingung seraya memandangi Rukia.
"Bu, dia bilang, dia adalah lelaki dengan pipi tembam, berat 86 kg, tinggi 160 cm dan mata yang sangat sipit. Tapi nyatanya dia adalah lelaki yang sangat jelek. Bagaimana ini, Bu?"
"Ah? Hahahaha… Ichigo-kun tidak boleh berbohong seperti itu. Hahaha.." Unohana tertawa melihat wajah Ichigo yang memerah. Dan Ichigo melirik Rukia, dia hanya menjulurkan lidahnya.
"Ibu, tawamu terdengar sampai hala- , siapa dia?" Aura dingin menguar. Kedatangan pria tampan tersebut sangat tidak terasa, tapi wujudnya yang sudah terlihat sekarang begitu mencolok. Apalagi setelah ia melihat seorang pria berambut oranye duduk bersama Ibu dan adiknya di meja makan.
Seseorang yang dimaksud pun lekas berdiri, sedikit membungkuk pada seseorang yang menanyainya.
"Ichigo Kurosaki. 23 tahun. Pacarnya Rukia. Yoroshiku onegaishimasu."
"Pacar?" tanya Byakuya sengit.
Rukia menggelengkan kepalanya lirih melihat ekspresi Byakuya. Mulai lagi. Sementara Unohana hendak melerai. Sepertinya Ichigo tidak mau kalah dengan deathglare yang di berikan Byakuya.
.
.
Sweet
.
.
"Hiiiiiaaaaat!"
KREETEK
TRAANG
"Tidak akan kubiarkan kau menang!"
BRAAK
KREETEEK
"Coba saja kalau bisa."
"Hiaaaat!"
"Mati kau!"
"Kau yang mati!"
Rukia meminum coklat panasnya sambil duduk memandangi halaman belakang yang memperlihatkan dua orang pria yang sedang adu kendo. Jaket putihnya memperhangat suasana. Sementara ibunya yang kebetulan lewat memutuskan untuk bergabung dengan Rukia.
"Persis seperti ayahmu dulu."
"Huft, Nii-sama keterlaluan."
Tapi pada akhirnya ia tersenyum. Pria yang selama ini jauh darinya, sekarang begitu sangat dekat dengannya.
Takdir.
Kereta.
Note book.
Sapu tangan.
Obat flu.
Karee pedas.
Kalian saling berpencar kan? Memang. Tapi pada akhirnya kalian bisa bersatu. Takdir pada awalnya menekan, menghujat, tertawa melihatmu.
Tapi sejak awal ia ingin tersenyum melihat kalian. Kalian spesial karena bisa membuat takdir tersenyum.
Hal indah butuh jalan setapak yang panjang. Cinta juga butuh sabar dan pengobanan.
Percaya satu sama lain.
Dan kalian tidak perlu menangis lagi.
Kalian sudah benar-benar bertemu, di rendezvous penantian panjang.
Rendezvous : OWARI
Kisah cinta yang bener rumit. Berawal dari jarak dan waktu. Tapi semakin dekat, dekat dan pada akhirnya bertemu dan saling mengenali.
Bayangkan saja, betapa setianya Ichigo pada Rukia. Itu kesan pertama yang ingin aku munculin. Hehe, udah owari nih. Padahal masih ulangan. FIRE! Haha.
Oh ya, Minna-san. Saya minta doa dong buat UTS saya. semoga nilai saya stabil. Amiiiiin :*
Ya udah deh, saya misi dulu ya…jaaaaa :* #jangan lupa doanya#kedip2
Extra Story
"Terima kasih karena telah 'melamar'ku di depan kakak. Yah, meski kau harus adu kendo dengannya dulu. Tapi syukurlah kau bisa menang." Rukia menggandeng erat lengan Ichigo. Membuat perjalanan mereka untuk pulang semakin indah saja.
"Bukan apa-apa. Sudah seharusnya aku berbuat begitu kan?" Ichigo mengarahkan pandangannya ke bawah, menatap Rukia lekat.
"Dan cincinnya sangat indah. Aku suka." Kini Rukia memamerkan pemberian Ichigo pada dirinya sendiri. Memandangi cincin silver yang sederhana tapi manis itu."Bahkan kau tak takut memakaikan ini di depan Nii-sama."
"Untuk apa aku takut pada Byakuya-nii. Aku akan lebih takut jika kehilanganmu."
"Mulai lagi."
"Aku serius, Rukia. Ah, sudah sampai."
"Sudah sampai?"
"Tadaima…"
"Ah, Onii-chan sudah pulang!"
"Konnichi wa."
"Kyaaa…pacarnya Onii-chan!"
"Apa?"
"Onii-chan membawa pacarnya, Ayah!"
Isshin ; ayah Ichigo pun keluar dari singgasananya dan memandangi Rukia secara intens. Ada pandangan intimidasi juga di sana.
"Konnichi wa, Oji-san." Salam Rukia di sertai senyum.
"Kau bisa kendo?"
"Ke-kendo?" Rukia menoleh pada Ichigo yang ada di belakangnya. Ichigo hanya tersenyum dan mengangkat bahunya.
.
.
BRAK!
"Kendo."
Owari
