Permata Ungu
Summary:
"Pulanglah, Byakuya," ulang Aizen. Wajahnya tanpa emosi. "Tempat Rukia di sini. Percuma menyerangku. Kau tak akan menang dariku." AU.
Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.
Chapter 10
.-.-.
Shirayuki terus terdesak namun dia menolak menyerah. Wanita itu sadar Grimmjow jauh lebih kuat. Yang membuatnya panik adalah keberadaan seorang pria jangkung berambut coklat yang kini berdua di dalam kereta bersama Rukia. Perhatiannya semakin terpecah ketika sesuatu menggelitik kakinya.
Spontan Shirayuki menunduk. Matanya membulat. Nyaris saja dia terpekik.
Seekor kucing kelabu besar bermata kuning dan biru tengah menatapnya. Si kucing menyelinap di antara kakinya kemudian berlari.
Siapa yang tidak heran dengan kemunculan seekor kucing yang entah datang dari mana? Dengan mata berlainan warna pula!
Kelengahan Shirayuki dimanfaatkan Grimmjow. Dari balik lengan bajunya pria itu melemparkan secarik kain yang sudah diberi pemberat. Kain itu mengenai wajah Shirayuki. Beberapa detik kemudian wanita itu roboh.
Kucing besar Grimmjow menggesekkan ekornya pada boots majikannya. Matanya yang berlainan warna memicing.
Grimmjow menunduk dan mengelusnya. "Bagus, Panthera!" ujarnya dengan nada sayang.
Panthera si kucing mengeong senang.
Banyak tumbuhan herbal dan unik -yang jarang ada di daerah lain- tumbuh di Hueco Mundo. Tempat itu tak pernah gersang. Pepohonan dan pinus menghampar di mana-mana, hutan-hutannya kaya akan pakis, jamur dan tumbuhan beracun. Ada sejenis daun berbentuk hati dan berwarna hijau tua yang jika mengenai kulit, akan menimbulkan gatal luar biasa. Minyak apa pun tidak manjur mengobatinya. Siapa sangka penawarnya tak lain dan tak bukan adalah akarnya sekaligus tanah segar yang menempel padanya. Ada juga daun yang jika digosokkan pada kayu atau media lain akan menimbulkan rasa kantuk pada siapapun yang berada dekat situ.
Szayel, si cerdik dan pandai bawahan Aizen, mencampurkan dedaunan itu dan memberikannya pada Grimmjow.
.-.-.
"Engh!"
Renji berusaha bangkit, tapi rasanya otot-ototnya putus. Menggerakkan kaki barang sesenti saja harus dilakukannya dengan mengerahkan segenap tenaga. Pandangannya kabur oleh darah dan kegelapan semakin lama memberati kepalanya.
"Kuakui kau cukup kuat," kata Gin. Suara berat dan liciknya bergema di telinga Renji. Pedang pria kurus itu masih terhunus. Pedang pendek yang tadinya bersih itu kini berlumuran darah.
"T-ting..gal..khan..Ru…kya.."
Bahkan mengucapkan sepenggal kalimat itu saja membuat kepala Renji semakin berputar.
"Wah, kami tidak bisa," balas Gin enteng. Dia maju perlahan mendekati pria muda yang terkapar itu. Dia menyeringai melihat tatapan marah Renji. Gin bisa merasakan semangat sang lawan. Keinginan untuk tetap melindungi nonanya masih bisa dirasakan Gin meski kondisi tubuhnya sudah tak mampu bangun, pedang panjangnya masih berada di tangan semata-mata karena telapak tangannya menempel pada benda itu. "Aku tahu kau setia pada Nona Kuchiki," lanjut Gin tenang. "Tapi perjuanganmu cukup sampai di sini." Dilihatnya mimik muka Renji yang dipenuhi amarah karena kalah, ketakutan akan keselamatan Rukia, serta kesakitan. Bibir pemuda itu berkomat-kamit. Jika saja energi Renji tidak terkuras habis, dia akan melantunkan sumpah serapah.
"Kau lawan yang patut dihargai," lanjut Gin. "Nyalimu kuat, hentakan kaki dan ayunan pedangmu pasti, tapi, Abarai," Gin menyeringai. Matanya terbuka. "Kau kurang pengalaman! Pernahkah kau menghadapi penyamun dan mati-matian melindungi diri? Aku berani bertaruh kau belum pernah menebas leher orang."
Renji merinding. Bahkan ketika tubuhnya nyaris mati rasa pemuda jangkung itu masih bisa merasakan rambut-rambut halus di tengkuknya berdiri. Terlebih ketika pria berwajah rubah yang berdiri menjulang di hadapannya membuka mata, Renji merasa terlempar ke dimensi lain di mana hanya ada hawa ketakutan mengisi udara.
Sahabat Rukia itu benci harus mengakui bahwa ucapan Gin benar. Dia berbakat, namun pengalamannya menghadapi musuh secara langsung sangat minim.
Sesuatu menghantam tengkuk Renji.
Tepat ketika hujan mulai membasahi bumi, Renji tidak sadarkan diri.
.-.-.
Rukia mengerjabkan mata. Gadis itu memandang langit-langit kayu di atas kepalanya. Entah kenapa dia merasa ada yang memberati hatinya. Seperti ada sesuatu yang terlewatkan tapi dia tak tahu apa. Ketika mencoba menelan ludah, ada yang mengganjal di tenggorokannya, menimbulkan sensasi sedih. Rukia bahkan tidak mengerti kenapa dia merasakan emosi yang campur aduk.
Mungkin karena baru bangun tidur, bisiknya dalam hati.
Lagi-lagi Rukia berusaha memejamkan mata, tapi sesuatu memberitahunya bahwa sekarang bukan waktunya untuk tidur lagi. Matanya terasa pedih, seperti habis menangis berkepanjangan.
Gadis itu memaksa matanya terbuka.
Dia berada di kamar luas yang segala interiornya dari kayu. Dindingnya terlihat tebal, kayunya dipernis halus dan warnanya mengkilap. Di pojok kamar ada tanaman hidup. Kamar yang ditempatinya indah dan berkesan sejuk. Rukia mengulurkan tangan dari balik selimut yang membungkus tubuhnya. Seketika itu dia menjengit. Udara dingin menusuk tulang mengelus kulitnya. Suasana di kamarnya terang padahal di luar begitu kelabu dan pekat.
Rukia sadar, dia berada di tempat asing.
Pikirannya segera berlari menuju dua orang yang selama ini selalu bersamanya. Di mana gerangan Shirayuki dan Renji?
Kelebatan Zabimaru, raut panik Shirayuki, tubuh Renji yang terkapar berlumuran darah, kilatan biru, ungu dan coklat silih berganti memenuhi kepalanya. Figur seorang pria tinggi berambut ikal dan bermata cemerlang menghantam otaknya seketika.
Aizen!
Shirayuki dan Renji tidak mungkin berada dekat dengannya. Kesadaran bahwa dia diculik membuat Rukia sesak. Teman-teman yang dikasihinya entah sekarang ada di mana.
Rukia menutup mulutnya yang bergetar. Yang diyakininya adalah bahwa dia sudah di Hueco Mundo. Pertolongan mustahil datang ketika dia dalam keadaan terjepit di saat sebelumnya.
Gadis itu benci pada dirinya sendiri. Dialah yang menyebabkan Byakuya menanggung beban menyembunyikannya selama dua puluh tahun lebih. Karena dialah Shirayuki dan Renji menghadapi orang-orang Aizen, demi melindungi dan mempertahankannya.
Rasa tidak berdaya menguasainya. Yang paling diinginkannya saat itu adalah berada di Kuchiki Manor, bersama Byakuya dan melihat teman-temannya. Pikiran kekanakan itu menyeret Rukia pada pemahaman baru, bahwa dia tak ubahnya putri manja yang hanya bisa bergantung pada orang lain dan bahkan untuk melindungi diri sendiri saja dia tak mampu. Manja dan tidak berguna. Hanya bisa bertahan di sangkar emas dan dikelilingi pengawalnya.
Sendirian tanpa orang-orang yang familiar dengannya semakin membuat Rukia merana. Apa yang dapat dilakukannya?
Titik-titik hangat mengaliri pipinya. Isaknya tak bisa ditahan lagi. Nona Kuchiki itu sesenggukan. Matanya semakin perih tapi air matanya tetap mengalir deras. Mungkin dia bisa menyelinap diam-diam. Posturnya kecil, di jalan pun orang tidak akan memperhatikannya. Dia bukan tipe orang yang menonjol. Ketika sudah sampai jalan, dia akan pura-pura tersesat dan bertanya pada orang di mana jalan besar yang bisa menghubungkannya ke Seireitei. Dia tak akan memilih jalan setapak. Jalanan yang ramai terdengar lebih aman. Ada banyak orang lalu lalang, sulit untuk memperhatikan seseorang seperti dirinya.
Dengan sekelumit ide yang sudah disusunnya dengan matang dalam waktu singkat itu, Rukia memantapkan diri. Dihapusnya air matanya. Menyatakan diri tersesat dan bermata sembab memang menimbulkan simpati, namun seorang gadis yang berwajah mengenaskan dan berkantong mata tebal justru mencurigakan.
Rukia menegakkan diri dan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Hawa dingin langsung menyerangnya, membuatnya menggigil. Matanya mencari sepatunya. Belum sempat memakainya, Rukia dikejutkan oleh suara derit halus pintu jati kamarnya.
Seseorang membuka pintu.
Jantung Rukia hampir berhenti berdetak. Gadis itu membeku di tempat tidur. Siapakah itu? Aizenkah? Atau orang lain? Wajahnya sepucat kertas. Rukia tidak sekalipun mempertimbangkan akan bertemu orang di kamar yang ditempatinya.
Sesosok wanita cantik menampakkan diri. Tubuhnya semampai, rambutnya seperti rumput laut. Dia tak kalah cantik dengan Shirayuki.
"Sudah bangun, Nona?" sapanya ramah.
Ragu dengan kemampuannya mengeluarkan suara, Rukia menganggukkan kepala dengan kaku.
"Kau lapar? Ada makanan di ruang sebelah. Aku bisa mengantarmu ke sana," lanjut wanita itu.
Rukia tidak lapar. Makan adalah hal terakhir yang ada di pikirannya. Lagi-lagi dia menggeleng.
Wanita cantik itu tersenyum. Dia meletakkan baju hangat yang dibawanya ke meja di dekat tempat tidur Rukia. "Udara di sini luar biasa dingin, jadi kupikir kau akan membutuhkannya. Oh, namaku Neliel," ujarnya memperkenalkan diri.
"Rukia," jawab Rukia otomatis.
"Senang bertemu denganmu, Nona Kuchiki," sambung Nel. Wajahnya kalem, ekspresinya wajar. Sepertinya dia sudah tahu siapa Rukia.
"Apakah ini…Hueco Mundo?" tanya Rukia ragu. Dia berdehem supaya suaranya terdengar jelas.
"Benar. Lebih tepatnya, kau sekarang di Las Noches," jawab Nel membenarkan keberadaan Rukia.
Tangan Rukia mencengkeram seprei, erat sampai buku-buku jarinya memutih. Jadi benar dia tak berada di Karakura ataupun Seireitei. "Las Noches…" ulangnya.
Nel mendekat. "Jika kau memerlukan sesuatu, jangan ragu mengatakannya padaku. Tuan Aizen sudah memintaku untuk melayanimu."
"Bisakah aku keluar dari sini?" Rukia mendongak dan menggigit bibir. "Aku hanya ingin pulang."
Mata Nel menjadi lembut. "Di sinilah rumahmu."
Kalimat itu mengingatkan Rukia pada Byakuya saat sang kakak berusaha menenangkannya. Air mata mulai menggenangi sudut-sudut matanya, namun Rukia menolak menampakkan wajah berurai air mata pada wanita di depannya.
"Ini bukan rumahku," bisiknya parau. "Rumahku di Seireitei, bersama kakakku, Renji…" Rukia menggeleng. Mungkin saja dia akan terbangun dari mimpi buruk dan mendapati dirinya di kasur empuknya di rumah Karakura, atau bahkan di kamar besarnya di Seireitei.
Nel mendekat. Mata hazelnya terlihat tenang, seolah dia paham emosi yang bergolak di dada sang gadis berekspresi sedih di tempat tidur. "Kau akan terbiasa di sini, Nona."
"Tidak, aku tak akan terbiasa! Tidak akan!" tepis Rukia keras-keras. Hatinya sudah hampa semenjak ia meninggalkan Seireitei dan tinggal di Karakura. Hanya Seireitei yang mampu mengisi kekosongan yang dirasakannya. Ia tak ingin apapun selain keyakinan bahwa ia akan kembali ke rumahnya.
"Waktu, itulah yang kau butuhkan," tutur Nel lembut.
Rukia mendongak, memandangnya. Dia baru sadar bahwa mata Nel memancarkan kedewasaan dan ketenangan, membuatnya malu sendiri karena sudah terlampau emosi. Untuk beberapa saat luka di dahi Nel dan garis merah di bawah mata hazelnya mengalihkan rasa sesak sekaligus malunya.
"Waktu..." Kata itu memberi kesan getir, menyesaki dada Rukia. Sepatah kata itu bahkan terasa pahit dan berat untuk sekedar diucapkan. "Tahukah kau aku bahkan tidak punya waktu untuk berada di rumahku sendiri?" ujar Rukia. "Bagaimana mungkin aku bisa memaklumi bahwa aku akan butuh waktu di sini? Itu terlalu klise!" Tanpa sadar Rukia menaikkan suara.
Nel tidak berkata apa-apa. Dia diam, mempelajari raut serius Rukia. Sebelumnya dia sudah mendengar cerita tentang Hisana dan Nona Kuchiki kecil itu. Nel hanya bisa bersimpati. Dunia tidak adil, itu memang benar. Sudah lama sekali Nel tahu kebenaran ungkapan itu. Dia tahu mungkin saja Rukia lebih suka berada di Seireitei, tapi kenyataan menghempaskannya di Hueco Mundo.
"Bisakah…" Rukia menelan ludah yang terasa pahit. "Bisakah aku keluar dari sini?" tanyanya memberanikan diri.
"Sayangnya tidak, Nona," jawab Nel. Gelengan tegas kepalanya menekankan fakta itu. "Melarikan diri pun akan percuma," lanjutnya ketika Rukia terpekur. "Hueco Mundo tidak seperti daerah lain. Pepohonan di sini rimbun. Jalanan tidak bisa dikatakan aman untuk orang yang masih asing sepertimu. Daerah sini seperti labirin, tidak teratur seperti tempat lain, Nona."
"Bodoh sekali aku mempertanyakan hal seperti itu," ujar Rukia dingin.
"Lihatlah ke jendela, Nona Kuchiki," sahut Nel.
Rukia mengangkat kepala pelan-pelan, kemudian mengarahkan matanya pada jendela.
"Kabut mulai turun. Langit semakin gelap. Sebentar lagi hujan pasti turun lagi. Jika kau perhatikan, Nona, tidak nampak tanda-tanda awan akan tersibak. Bisa dipastikan hujan akan terus mengguyur Hueco Mundo," jelas Nel.
Rukia mematung. Otaknya berusaha mencerna penjelasan Nel.
"Kemana kau akan lari? Jauh lebih aman jika kau masih di sini."
Rukia menggertakkan gigi, frustasi. Dia menjambak rambutnya. "Aku tidak lebih aman daripada di luar sana," gumamnya.
"Tidak, Nona," sanggah Nel. Dia menarik kursi dan duduk di samping headboard tempat tidur Rukia. "Tuan Aizen akan melindungimu. Bahaya tidak akan menghampirimu sejak dia membawamu ke Las Noches."
"Benarkah?" Rukia ingin mencibir, "Justru Aizen menarik bahaya dengan menculikku."
Nel percaya pada tuannya. Aizen telah membuktikan bahwa dia bisa membereskan berbagai masalah dengan caranya. Pria itu cerdas sekaligus licik. "Aku rasa posisi tidak aman itu akan berbalik pada siapapun yang menyerang Tuan Aizen."
Rasa takut menjalari sudut-sudut hati Rukia. Tanpa sadar Rukia bergidik.
.-.-.
Aizen menyambut pria yang baru masuk itu dengan tenang. "Selamat datang di Las Noches," ujarnya kalem.
Byakuya memicingkan matanya yang merah. "Aku tidak butuh sambutanmu, Aizen. Di mana Rukia?" balas Byakuya dingin.
Aizen menuruni tangga menuju ruangan megah itu. Ruangan itu terbuat dari tembok dan kayu terbaik. Di tengah ruangan terdapat meja persegi besar dari kayu dengan kadar air mendekati nol. Semua bahan yang membangun tempat itu sudah dikeringkan supaya tidak lapuk.
Langkah-langkah Aizen menggema. "Adikmu mungkin sedang bercengkerama dengan teman barunya," jawab Aizen ringan.
"Kembalikan Rukia!"desis Byakuya tajam. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya.
"Rukia telah kembali," sahut Aizen, membalikkan kata-kata Byakuya. Matanya yang tadinya ramah mulai menguarkan aura membahayakan. Hawa dingin sore itu mulai terisi dengan ketegangan. "Seharusnya kau tak perlu repot ke sini. Hueco Mundo adalah tempat di mana dia seharusnya berada."
"Mudah bagimu berkata begitu," napas Byakuya mulai memburu karena emosi. Dia adalah pria yang tenang, tak akan kaget oleh tindakan paling drastis sekalipun. Tapi jika itu menyangkut Rukia, Byakuya rela menanggalkan topeng acuh dan dinginnya. "Rukia adalah adikku, keluargaku yang paling berharga. Kau pikir aku akan diam saja membiarkannya ke tempat asing?"
"Justru kaulah yang merenggut Rukia," balas Aizen. Nada bicaranya masih sopan namun tak kalah dingin dari Byakuya. "Seharusnya dia sudah berada di sini jauh-jauh hari. Tapi kau menahannya. Tak terpikirkah olehmu bahwa menjauhkannya dari Seireitei dan membuangnya ke Karakura justru membuatnya lebih menderita? Kau merenggut kebahagiaannya! Andaikan dia di sini, kau tak perlu sembunyi-sembunyi menemuinya. Rukia tak perlu menyamarkan diri."
"Jangan sok! Kau tak tahu apa-apa," komentar Byakuya tajam. "Aku tidak pernah membuang Rukia."
"Tapi di sana dia tak mendapat cinta," potong Aizen. "Kau jauh darinya, hanya ada pengawal dan seorang wanita di dekatnya. Menurutmu tidakkah itu menimbulkan kasihan?"
"Aku berusaha melindunginya." Byakuya mulai geram akan permainan fakta Aizen.
"Perlindungankah yang didapatkannya?" Byakuya bisa mendengar cemooh dalam nada penguasa Hueco Mundo itu. "Menurutmu Rukia aman, tapi aku melihat binar-binar frustasi di matanya. Dia rindu rumahnya. Ah, maaf, maksudku tempatnya lahir. Dia ingin tinggal di Kuchiki Manor tapi kau menjauhkannya. Kau mengingkari keinginan hati adikmu. Kau sama saja dengan membunuhnya perlahan-lahan." Sudut-sudut bibir Aizen membentuk seringai kecil. Matanya tak lagi nampak ramah. Rautnya berubah kejam.
"Aku tak ingin mendengar analisamu lebih lanjut," Byakuya setengah menggertak. Hatinya mendidih mendengar pengungkapan Aizen.
Aizen tersenyum simpul. Ia bisa merasakan kemarahan dalam diri pria yang lebih pendek darinya itu. Aizen tahu Byakuya sudah mengupayakan yang terbaik untuk Rukia. Dari luar pria Kuchiki itu seolah tanpa perasaan, tapi jauh dalam lubuk hatinya, dia sama menderitanya dengan Rukia. Melihat Byakuya sekilas pun Aizen tidak meragukan niat tulusnya.
Begitu mendapati Renji dan Shirayuki yang sudah kalah, Byakuya segera melesat mengejar Aizen. Ujung-ujung jubah abu-abunya kotor, menandakan ketergesaan Byakuya untuk cepat-cepat sampai Las Noches. Rambut hitamnya berantakan dan kusut. Wajahnya kuyu. Sebaik apa pun Byakuya menyembunyikan ketakutannya akan keadaan adiknya, Aizen masih dapat melihat celah yang luput karena kecemasan Byakuya.
"Pulanglah!" ujar Aizen pendek.
"Aku tak akan pulang tanpa Rukia," bantah Byakuya. "Meski aku harus menumpahkan darah sekali pun, aku tak akan peduli."
"Jika begitu, kau mengharapkan hal yang sia-sia," sahut Aizen. Dia berbalik untuk keluar dari ruang pertemuan itu.
Byakuya tak akan membiarkan pria itu pergi begitu saja. Dia sudah mengorbankan banyak hal supaya keberadaan Rukia tak bisa diendus Aizen, yang nyatanya sia-sia. Kakak mana yang rela menyerahkan adiknya pada orang asing, terlebih pada pria yang mati-matian berusaha dihindari keluarganya?
Aizen merasakan hentakan kaki mendekatinya. Sigap, dia menangkis pukulan Byakuya. Tinju penuh tenaga itu dihindarinya dengan mudah. Byakuya tak bisa melukainya barang sehelai rambut pun. Sebaliknya, Byakuya tak mampu berkelit ketika Aizen mengarahkan lututnya pada perutnya. Masih mengerang, sebuah pukulan sudah mendarat di wajah Byakuya. Aizen tak menunjukkan belas kasihan ketika Byakuya sudah sempoyongan. Lagi-lagi kepalan tangan kuatnya bersarang di wajah dan dada Byakuya.
"Pulanglah, Byakuya," ulang Aizen. Wajahnya tanpa emosi. "Tempat Rukia di sini. Percuma menyerangku. Kau tak akan menang dariku."
Byakuya berusaha bangkit tapi kemudian roboh lagi. Bibirnya berdarah. Kulit wajahnya lebam dan robek terkena kepalan tangan Aizen. Darah mengalir di sisi kiri dan kanan wajahnya. Wajah itu membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri.
Aizen mengelap darah di tangannya ke jubahnya. Dia telah mendapatkan seseorang yang sudah seharusnya milik Hueco Mundo. Tak peduli apapun, Aizen tak akan melepaskan Rukia, pada kakaknya sekali pun.
Pengawal Byakuya yang sedari tadi menunggu di gerbang tergopoh-gopoh masuk dan memapah tuannya kembali ke halaman. Sang pengawal cemas melihat Byakuya bersimbah darah dan kesakitan. Dia punya firasat buruk bahwa menghadapi Aizen dan orang-orangnya akan sama berhasilnya dengan terjun ke danau dan berusaha mengambil bulan yang terpantul di permukaan airnya.
.-.-.
TBC
A / N : Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca, mereview, mengalert, mengfave dan menominasikan Permata Ungu di IFA. Saya senang sekali karena cerita ini masuk nominasi. (^_^)
Inilah update terbaru. Selamat membaca!
