Permata Ungu

Summary:

Bagi Aizen, Rukia adalah tujuan sekaligus obsesinya. AU.

Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.

Chapter 11

.-.-.

Rukia menatap ke luar jendela. Gerimis terus mengguyur Hueco Mundo tak berapa lama sejak dia terbangun. Harapan tipisnya untuk diselamatkan Byakuya, atau bahkan Renji, sudah luruh bersama tetesan air yang dicurahkan dari langit. Byakuya tidak pernah membiarkan Rukia seperti ini. Ke mana gerangan sang kakak ketika dia paling membutuhkannya seperti saat ini? Rukia tidak pernah sampai menunggu lama. Apakah Byakuya sudah menyerah?

Rukia menatap kosong kegelapan di luar sana. Tidak banyak yang bisa ditangkap matanya. Kabut tebal menyelimuti rumah, atau bangunan, Rukia tidak yakin. Dulu Rukia kecil selalu takut kalau-kalau ada hantu yang akan muncul di jendela. Tapi dia tak akan peduli seandainya saat itu ada setan sekalipun.

Pintu kamar membuka dan langkah halus menghampirinya. Rukia mendengarnya tapi tak bisa menoleh. Entah mengapa, dia tak bisa mengalihkan matanya dari kaca jendela, seakan ada magnet kasat mata yang menarik dan menghipnotisnya.

Mungkin itu Nel. Wanita tinggi itu berkali kali memintanya makan. Rukia tidak lapar. Bisa saja Nel akan putus asa melihatnya yang menolak makan. Setelah itu dia akan melaporkannya pada Aizen. Akhirnya Aizen sadar, bukan Hueco Mundo yang Rukia inginkan. Tidak ada gunanya menahannya di tempat ini. Aizen tidak mendapat manfaat apa pun darinya. Pasrah, pria itu akan membebaskannya ke Seireitei. Sesampainya di Kuchiki Manor, Rukia tidak akan menanyakan apapun pada Byakuya. Sesederhana itu.

Bayangan yang jatuh di sampingnya jauh lebih panjang dari bayangan Nel. Wanita berwajah unik itu sangat tinggi, namun kali ini, siapa pun yang berdiri di sampingnya pasti lebih jangkung daripada Nel.

"Sampai kapan kau akan terus seperti ini?"

Refleks, Rukia mendongak mendengar suara berat itu. Aizen tengah menunduk memandangnya.

Mata Rukia terbelalak. "Aizen..."

"Tidak ada yang menarik di luar sana saat cuaca tak bersahabat seperti ini," ujar Aizen kalem.

Rukia tidak menanggapi. Dia kembali mengarahkan matanya pada kabut di luar.

"Aku bisa membawamu jalan-jalan kalau kau mau, tapi tidak sekarang."

Rukia memejamkan mata. Tak sadarkah pria ini bahwa dia adalah orang terakhir yang ingin ditemui Rukia? Benarkah Aizen pria pintar? Jika iya, seharusnya dia tahu kehadirannya di depan Rukia akan semakin mengobarkan rasa benci gadis itu padanya?

"Rukia..."

"Jangan panggil namaku!" desis Rukia gusar.

Aizen balik bertanya. "Bagaimana kalau Nona Kuchiki?"

"Nona Kuchiki? Kau mengakuiku sebagai keluarga Kuchiki! Kembalikan aku ke kediaman Kuchiki!"

Aizen berdiri tanpa kata. Dia hanya memandang Rukia dengan kalem. "Sopankah berbicara tanpa memandang lawan bicaramu?" tanya Aizen tenang. Dia tidak nampak tersinggung oleh balasan-balasan dingin Rukia.

Rukia berdiri dan menghadap Aizen. "Sopankah tindakanmu menculikku?" balas Rukia.

"Aku membawamu kembali," jawab Aizen sederhana.

"Kakakku pasti akan menolongku," tukas Rukia. Dia ingin terdengar mantap, tapi gadis itu sendiri bisa merasakan secuil keraguan mengaliri nada suaranya.

"Byakuya tidak akan datang lagi."

Telinga Rukia tegak mendengar kata 'lagi'. "Byakuya ke sini, kan?" tanya Rukia putus asa. Dia maju dan mencengkeram baju hangat Aizen. "Kakakku kemari untuk menjemputku!"

Aizen terpaku menatap wajah kecil Rukia. Entah kenapa dia menikmati raut penuh putus asa itu. Rukia sangat ekspresif. Saat dia berpikir, wajahnya akan terlihat serius. Ketika sedih, mata besarnya berkaca-kaca dan hidungnya merah. Dan melihat wajah pias yang penuh pengharapan sekaligus putus asa itu membuat Aizen berpikir, ekspresi apa lagi yang dapat ditunjukkan sang Nona Kuchiki itu. Terlebih lagi, Aizen sampai pada kesimpulan bahwa dialah penyebab gadis itu mengeluarkan berbagai ekspresi. Diam-diam ada rasa bangga dan senang menyusup sanubari pria jangkung itu. Tangan besarnya merangkum tangan Rukia yang meremas bajunya hingga kusut. Seakan menambah penekanan bahwa dia mampu membuat gadis itu semakin tak berdaya, Aizen mempererat genggamannya.

"Tidak, Byakuya menyerahkanmu," jawab Aizen lugas.

Rukia membeku. "Kau bohong," sahutnya sedih. Dia tak akan percaya pada dusta murahan macam itu. Rukia tahu Byakuya sangat menyayanginya. Tak masuk akal jika sang kakak menyerahkan Rukia pada Aizen dengan enteng. Baju Aizen semakin kusut karena kepalan tangannya.

"Kakakmu sadar, bahwa mencoba membawamu ke Seireitei adalah tindakan sia-sia, karena itu dia pasrah," lanjut Aizen. Setitik kegembiraan menyeruak di dada pria itu saat menyaksikan wajah pucat Rukia.

"Tidak…"

Rukia terusik ketika dua tangan Aizen menuruni pergelangan tangannya. Gadis itu tersadar bahwa sedari tadi kulit mereka bersentuhan. Perasaan tak nyaman menjalari lehernya. Rukia menyentak tangannya namun Aizen tak melepaskannya.

"Yang bisa kau lakukan adalah bersikap baik, Nona Muda," ujar Aizen memperingatkan. Suaranya penuh otoritas dan wajahnya mengeras. "Jangan sampai pengorbanan Byakuya tanpa hasil hanya gara-gara ulahmu. Aku tahu keberadaanmu di sini berat bagimu dan Byakuya, tapi mulailah menerima kenyataan bahwa mulai saat ini dan seterusnya Hueco Mundo adalah rumahmu. Siapa tahu nantinya aku akan berbaik hati dan mempertemukanmu dengan Byakuya dan teman-temanmu."

Perkataan Aizen tak dapat dibantah. Rukia merasakan kengerian ketika menyimak ucapan pria tinggi itu. Setiap keputusan Aizen adalah titah yang harus ditaati. Rukia tidak suka akan sensasi aneh yang bergolak di perutnya. Tak pernah sebelumnya dia membayangkan akan berhadapan dengan orang macam Aizen. Ketakutan perlahan merayapi hatinya namun masih ada sejumput keberanian yang tersisa hingga dia berucap lirih, "Tapi suatu hari aku pasti akan kembali ke Seireitei."

Aizen tersenyum tipis. Sayang, senyum itu tidak mencapai mata cemerlangnya. "Jangan coba melarikan diri! Kau tak akan sanggup membayangkan apa yang bisa terjadi pada kakakmu dan dua orang lainnya jika kau melakukannya," kata Aizen datar.

Rukia tak mampu beranjak dari tempatnya berdiri. Matanya terpaku pada pria yang memberi peringatan sekaligus ancaman halus itu. Kaki Rukia gemetar. Dia ingin pingsan. "Jangan sakiti mereka," bisiknya. Suaranya parau oleh rasa takut dan sedih. "Kumohon!"

Aizen sepertinya tahu cara menghipnotis orang. Meski matanya memancarkan ancaman yang tak main-main, Rukia tak sanggup mengalihkan pandangannya. Dengan mempertahankan kontak mata, Aizen semakin menggenggam ketakutan orang yang ditatapnya.

.-.-.

Nel berhasil membujuk Rukia untuk makan malam meski gadis itu hanya menelan beberapa suap. Setelah itu Nel menyajikan secangkir minuman herbal. Entah karena khasiat minuman itu atau kondisi Rukia yang lelah lahir dan batin, malam itu Rukia tertidur tanpa terbangun. Kadang mimpi buruk menghampirinya, namun setelah membuka mata selama tiga detik, matanya tertutup dan tertidur lagi. Dia tidak terbangun ketika seseorang berdiri di samping tempat tidurnya.

Cahaya lilin di sudut kamar menerangi ruangan itu. Penerangannya tidak terlalu terang, namun Aizen mampu menelusuri garis-garis wajah Rukia.

Bagi pria itu, Rukia adalah tujuan sekaligus obsesinya. Ketika kakeknya menceritakan kisah Hisana, Aizen kecil terkesima dan bersumpah akan membawa keturunan kelima ke Hueco Mundo. Kepala anak kecil itu dipenuhi berbagai imajinasi. Dia hanyalah anak kecil polos dengan imajinasi dan ide luar biasa. Beranjak dewasa, Aizen tak hentinya melakukan pencarian. Beberapa hal mulai mengusik nalarnya. Ada beberapa hal yang disadari otak cerdasnya, namun hasrat menemukan Rukia kemudian menjadi obsesi yang harus diraihnya. Sekarang mendapati gadis itu di Istana Las Noches, Aizen mengalami pergolakan batin.

Ada rasa bangga tersemat di dadanya mengetahui bahwa ikrarnya dulu sudah terwujud. Sedikit rasa sadis menyeruak tiap kali dia melihat wajah sedih Rukia. Namun setelah itu, ada perasaan lain lagi yang membuatnya bingung. Perasaan itu jauh berbeda dengan yang dirasakannya ketika dia melangsungkan negosiasi dengan pejabat lain daerah. Lain sekali dengan menghadapi masalah pelik yang mengharuskannya merogoh uang untuk memuluskan rencananya.

Aizen menghela napas.

"Kalau saja kau sudah berada di Hueco Mundo sejak dahulu kala, kau tidak akan merasakan sedih seperti ini," ujarnya beberapa saat lalu.

"Karena, itu artinya aku tak punya apa-apa," sanggah Rukia pelan. Jika dia tinggal di sini sejak awal, Rukia mungkin tidak akan kenal Renji atau Shirayuki. Dia hanya mengenal Byakuya lewat nama, atau bertemu dengannya sesekali jika nasibnya lebih beruntung. Benar, tak ada rasa sedih. Dia yang tak punya apa-apa tidak akan merasa kehilangan.

Wajah Rukia mencerminkan kegalauan hatinya. Alis gadis itu berkerut dan rautnya sedih. Aizen hanya mengamatinya. Rukia akan terbiasa, bisiknya dalam hati. Aizen tidak mengenal rasa bersalah. Dia puas telah berhasil membuat pihak Kuchiki memenuhi janji yang dibuat beberapa generasi sebelumnya. Masih banyak yang lebih kejam daripada dirinya, masih banyak kemalangan yang lebih menyedihkan daripada sekedar berpisah dari keluarga.

Dengan pemikiran itu, Aizen melirik Rukia untuk yang terakhir kalinya kemudian melangkahkan kaki meninggalkan kamar itu.

.-.-.

TBC