Permata Ungu
Summary:
Jauh dari orang-orang yang disayanginya membuat Rukia ingin mati. Gadis itu merasa kesepian dan sedih. Terlebih, Aizen selalu menemaninya sarapan. Melihat pria yang menculiknya membuat nafsu makan Rukia menguap seperti air laut di panggang terik matahari. Rasanya ingin muntah saja melihat rupa kalemnya. AU.
Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.
Chapter 12
.-.-.
Aizen berpikir bahwa segala sesuatu memiliki klimaks. Apa pun emosi dan perasaan yang hinggap di hati manusia pasti akan sampai di puncaknya, kemudian surut. Kurva selanjutnya mungkin akan mengalami pasang surut, tapi paling tidak itu sudah mencapai titik tertinggi. Karena itulah dia memilih untuk bertemu Rukia tiap hari. Aizen tahu Rukia memendam amarah akan tindakannya mencuri gadis itu dari keluarga Kuchiki. Dia membiarkan Rukia meluapkan amarah, memuntahkan emosi dan mencurahkan letupan-letupan pikirannya. Biarlah segala galau gadis itu muncul. Jika semua itu sudah berlalu, Aizen yakin Rukia akan tenang.
Sisi lain hati Aizen bersimpati pada gadis muda itu. Tidak mudah berada dalam posisi Rukia. Berada dalam lindungan Byakuya berarti beban sebagai keturunan kelima masih bersarang padanya. Meninggalkan keluarga Kuchiki dan tinggal di bawah langit Hueco Mundo berarti gadis itu sudah menunaikan janji leluhurnya, namun pada saat bersamaan meninggalkan segala yang sudah familiar dengannya: teman, keluarga dan rumah.
Meski terus berkonfrontasi dengan Byakuya, Aizen maklum dan paham bahwa Rukia sangat berarti bagi pria itu. Tiap hari Byakuya datang ke Las Noches, dengan memar di dada, perut dan lengan, dan wajah pucat yang kulitnya robek.
Tak henti-hentinya Byakuya mengajak negosiasi, menawarkan apa pun supaya Rukia kembali ke Seireitei. Ketika ranah hukum diungkit, Aizen memiliki jawaban tersendiri.
"Ya, aku tahu Yamamoto adalah pria tua yang bijaksana, tapi salah jika kau pikir bisa memenangkan permintaanmu," kata Aizen saat itu.
"Pihak ketiga seperti Yamamoto pasti bisa jadi penengah," imbuh Byakuya, yakin akan kebijaksanaan kakek uzur itu.
Aizen menggeleng, tegas. "Keluarga Yamamoto adalah saksi ketika perjanjian itu dibuat. Dokumen yang menyatakan bahwa adikmu harus ke Hueco Mundo ada di tangannya."
Byakuya –pria dingin bertampang acuh- terkejut. Bibirnya terbuka, matanya membesar, jelas sekali pria itu luar biasa kaget. Ekspresi wajahnya sungguh tak ternilai.
"Kelihatannya ada yang terlewat, kukira," ujar Aizen sopan. "Benar, Byakuya, dulu keluarga Yamamoto hadir saat persetujuan itu disepakati. Dilihat dari sisi mana pun, tidak ada yang membenarkanmu," tandasnya.
Fakta mengenai Yamamoto benar-benar diluar dugaan Byakuya. Kakeknya dulu tidak menyinggung mengenai peran Yamamoto. Malah dengan tanpa beban Byakuya sering berkunjung ke rumah kakek itu.
Ditilik dari sisi manapun, Byakuya tidak dalam posisi yang menguntungkan. Segala kepintaran yang dulunya dia banggakan menguap begitu saja ketika berhadapan dengan Aizen. Pria jangkung itu bagai menyerap segala daya dan pikir Byakuya, meninggalkan kekosongan menyergapnya. Tidak mungkin menarik Rukia dengan paksaan. Meski dia membawa Renji atau ajudannya sekalipun, kemungkinan mereka keluar utuh sama besarnya dengan kemungkinan Yamamoto mengumumkan bahwa rahasia awet tuanya terletak pada sorcerer stone hasil penelitian Profesor Mayuri.
Memasuki Istana Las Noches tidak jauh beda dengan masuk kandang penuh singa dan serigala. Terlebih, di gerbang para prajurit meminta para tamu dari Seireitei itu menanggalkan senjata dan menitipkannya pada mereka. Byakuya, kusir dan bawahannya tak berkutik. Jangan coba-coba menyembunyikan senjata di lengan baju karena para prajurit Aizen pasti menemukannya.
.-.-.
Jauh dari orang-orang yang disayanginya membuat Rukia ingin mati. Gadis itu merasa kesepian dan sedih. Terlebih, Aizen selalu menemaninya sarapan. Melihat pria yang menculiknya membuat nafsu makan Rukia menguap seperti air laut di panggang terik matahari. Rasanya ingin muntah saja melihat rupa kalemnya.
Rupanya Aizen tidak kurang akal. Dia meminta Nel mengawasi Rukia dan mencegahnya melakukan tindakan yang tidak diinginkan. Lebih jauh lagi, dia meminta Nel mencekoki Rukia dengan minuman herbal untuk menambah nafsu makan. Alhasil, walau hanya makan sedikit, Rukia selalu lahap menyantap kue-kue di sela-sela waktu luangnya.
Gadis Kuchiki itu memiliki banyak waktu untuk merenung. Meski masih sakit hati karena dibawa paksa ke Hueco Mundo, dia tak bisa terus-terusan bersikap kekanakan memusuhi Aizen dan secara halus uring-uringan meratapi nasib. Semuanya tumbuh bersama waktu kecuali luka hati. Setelah hatinya mulai tenang, dia perlahan melihat semuanya dengan perspektif baru.
Aizen pria culas berwajah malaikat, namun dia tak pernah memperlakukannya dengan buruk. Pria itu selalu mampu menemukan jawaban untuk tiap pertanyaan Rukia. Dengan tenang dia memberitahu bahwa Rukia tidak usah sungkan meminta sesuatu karena sekarang Hueco Mundo adalah rumahnya. Ketika gadis mungil itu meminta pulang ke Seiteitei, sembari tersenyum Aizen mengatakan dia akan mengizinkannya jika waktu sudah memungkinkan. Harapan Rukia yang semula tipis langsung mengembang. Namun lagi-lagi si harapan kembali ke bentuk semula ketika perkataan Aizen selanjutnya menyatakan bahwa kepulangannya ke Seireitei hanya bersifat kunjungan.
"Kau boleh melanglang buana ke mana pun, Rukia, tapi tempatmu tetap di sini," ujar Aizen tegas.
Dengan kata lain, gadis itu telah terjerat benang halus tak kasat mata yang mengikatnya pada Aizen.
Rukia tak kekurangan apa pun. Aizen membolehkannya melakukan apa saja, tetapi sejauh ini yang dilakukannya hanya mengamati Las Noches. Istana itu sangat luas, bangunannya tak terhitung. Penataannya artistik. Ada gedung yang seluruhnya dibangun dari bata, ada juga yang dari kayu. Bunga dan tanaman hidup lain selalu menghiasi tiap ruangan. Kesan yang tertinggal di hati Rukia adalah bahwa Las Noches sejuk, hijau dan kelabu.
Kamar Nel tak jauh dari kamarnya. Sepertinya wanita jangkung itu menjadi pengganti Shirayuki, bahkan Rukia mendapat perasaan bahwa Nel telah bertransformasi menjadi bayangannya. Bila kamar Rukia luas dan bernuansa hangat, kamar Nel lebih menunjukkan pribadi pemiliknya: intelektual dan aktual. Ada rak buku di sudut kamar, isinya bermacam-macam. Jumlah bukunya hanya sedikit. Rukia menebak bahwa tadinya Nel tidak tinggal di situ. Mungkin dia pindah karena kedatangan Rukia dan mendapat titah untuk mengemongnya.
"Kau mengingatkanku pada seseorang," cetus Rukia.
Nel mengangkat kepala. Buku di pangkuannya terlupakan. Inilah yang disukai Rukia: Nel selalu memberi perhatian penuh tiap ia bicara. "Siapa, Nona?" tanyanya sopan.
"Pada pria yang…" sesaat tenggorokannya tercekat. Dia berdehem untuk mengenyahkan rasa sesak di dadanya. "…yang membawaku ke sini. Pria tinggi berambut biru."
Nel tersenyum. Walau terdapat luka di wajahnya, wanita itu masih terlihat menawan. "Grimmjow, adikku," tukasnya. "Kami memang mirip."
Rukia mengangguk. Agak susah membayangkan bahwa wanita berperangai halus dan dewasa ini bersaudara dengan Grimmjow. Sekilas Rukia mengingat pria itu. Jangkung, kasar dan kelihatan urakan. Kemiripan di antara mereka hanya pada fisik. Rukia curiga bahwa mereka sebenarnya bersaudara namun beda ayah dan ibu.
Sementara Nel membaca, Rukia bermain-main dengan air di kolam teratai. Teratai di istana itu berukuran raksasa. Daunnya sungguh lebar dan bunganya besar. Dengan tubuhnya yang mungil, Rukia yakin dia bisa menyembunyikan diri di balik daun hijau tuanya. Gadis itu membayangkan dirinya sebagai katak. Namun tetap saja mustahil bersembunyi di bawah daunnya dan menunggu sampai Nel pergi. Bisa-bisa dia mati duluan sebelum sempat melarikan diri. Tidak keren sekali jika berita bahwa Rukia tewas di kolam teratai sampai ke telinga Byakuya. Bukannya menarik simpati yang bisa menyeret Aizen sebagai tersangka, kematiannya malah membawa malu pada keluarga Kuchiki.
"Nona Rukia," tegur Nel tiba-tiba. Sepertinya wanita itu mendapat intuisi bahwa pikiran Rukia sudah mengembara terlalu jauh dan dalam taraf membahayakan. "Kau mau jalan-jalan?"
Rukia ragu. "Ke mana?"
Nel menutup bukunya. "Di sekitar sini saja. Tadi malam memang hujan, tapi karena di sana banyak bebatuan, jadi tidak terlalu becek. Berada di sini saja membosankan," tuturnya member saran.
Rukia berdiri dan mulai mengikuti Nel.
Ternyata Nel membawanya keluar dari bagian dalam istana. Hari masih pagi dan angin tidak bertiup kencang, namun tetap saja hawanya menusuk tulang. Rukia mengancingkan jaket tebalnya. Hueco Mundo kelabu karena mendung selalu mengintai dan hujan siap turun. Suasananya benar-benar muram. Bila langitnya kelabu, pemandangannya hijau. Pohon besar maupun kecil tumbuh di mana-mana. Rata-rata daun-daunnya hijau tua.
"Sungai ini kecil," gumam Rukia.
"Ini parit, Nona," sela Nel geli.
Rukia tersenyum malu.
Mereka menyusuri parit itu. Alirannya beriak, airnya jernih. Di kedua sisinya bunga lonceng tumbuh subur. Rukia sering melihat bunga itu di ilustrasi buku dongeng yang dulu kerap dibacanya. Sebelumnya dia membayangkan bunga lonceng adalah bunga berukuran sedang, tapi rupanya imajinasinya keliru. Bunga lonceng yang asli berukuran mini, sangat kecil. Rukia baru sadar bahwa buku yang dibacanya adalah dongeng mengenai peri. Tak heran bila si bunga tampak sebesar lonceng di kuil-kuil.
Pepohonan di tempat itu rapat. Matahari bahkan hanya sanggup menerobos di sedikit cela-celanya. Jalannya penuh bebatuan, tapi jalan setapaknya tetap tanah dan licin.
"Kukira ini hutan mini," ujar Rukia.
"Dulunya begitu," sahut Nel membenarkan. "Tapi kemudian terjamah oleh tangan manusia. Pohon-pohon di sini tidak semuanya tumbuh sendiri atau dibawa binatang. Ah, hati-hati, Nona, kadang ada ular suka lewat," kata Nel memperingatkan.
Rukia nyaris terlonjak mendapati seekor ular kecil yang tubuhnya sudah gepeng. Gadis itu ngeri dan lekas menyingkir.
Ternyata berada di alam bebas membuat pikiran lebih jernih. Rukia mulai bisa melihat keadaan dari sudut lain. Dia tetap teguh ingin pulang ke Kuchiki Manor, tapi tak ada rencana hebat yang mampu dipikirkannya. Lagi pula, pikirnya ketika melihat Nel mengawalnya, dia juga tak bisa selalu bersikap sekehendak hatinya. Rukia malu menyadari bahwa orang-orang harus menenangkan dan menghiburnya. Dia merasa seperti anak kecil.
Sedang apa Byakuya sekarang?
Dalam hati Rukia bertanya-tanya. Sudah dua puluh tahun lebih dia merepotkan sang kakak. Dengan keadaan yang sekarang, Byakuya pasti cemas. Rukia yakin Byakuya tak akan tinggal diam. Pantaskah jika kemudian Rukia hanya bersedih, merana dan bergumul dengan perasaan tak berdaya?
Hidup tidak mudah. Rukia terlambat menyadarinya.
Sementara tangan kecilnya mengelus kelopak Kembang Sepatu, Rukia paham bahwa segala sesuatu ada batasnya. Sudah saatnya dia berhenti mengasihani diri sendiri dan memandang ke depan. Jika memang dia harus tinggal di Hueco Mundo, pertama yang harus dilakukannya adalah rela. Huh, sebuah kata indah yang susah dilaksanakan. Entah nantinya kerelaannya menuntunnya kembali pada teman-teman lama dan keluarganya atau tidak, Rukia tidak tahu. Dia berusaha menata hati. Byakuya sudah berusaha keras melindunginya. Pasti bukan perkara mudah membiarkan sang adik dibawa orang. Tapi, Rukia berpikir ulang, adakah cara supaya kakaknya tidak terbebani lagi? Manakah yang akan membuat Byakuya lega, menerima kenyataan bahwa Rukia tetap di Hueco Mundo ataukah menariknya kembali? Mengikhlaskan Rukia memang menyakitkan, tapi tak ada lagi beban mental karena memikirkan cara menyembunyikannya. Berusaha menariknya ke Seireitei jelas akan mengangkat beban moral karena, yah, bukankah kewajiban seorang kakak melindungi adiknya mati-matian?
Rukia dilanda dilema hebat.
Bila memang tak mampu mengubah keadaan, Rukia akan mengubah hati dan caranya berpikir.
Seolah mendapat pencerahan, Rukia tersentak. Ya, itulah yang akan dilakukannya. Sudah terlalu lama dia terpuruk dalam perasaan yang diciptakannya sendiri. Dia sadar, ada beberapa hal yang tidak dilihatnya selama ini. Ada Nel yang dekat dengannya. Ada Aizen yang kelihatannya tak akan menyakitinya. Dia tinggal di rumah baru yang aman dan nyaman. Nona Kuchiki itu berada di antara orang baru yang berbahaya tapi tak membahayakannya.
Nel hanya mengamati sang nona yang dititahkan Aizen untuk dijaga. Sebagai wanita yang hidup lebih lama, dia lebih dewasa dan paham perasaan yang silih berganti bergulir di hati Rukia. Tentu saja bukan haknya untuk mengintervensi dan mendikte mana yang harus dan tidak boleh dipikirkan atau dilakukan Rukia. Melihat perubahan raut dan binar di mata Rukia, Nel tahu sesuatu telah terjadi. Wanita itu yakin kali ini Rukia tidak akan larut dalam kesedihannya.
"Nel," panggil Rukia pelan, namun telinga Nel mendengarnya dengan baik. "Besok temani aku melihat-lihat bunga, ya? Hueco Mundo ternyata tempat yang menarik."
"Tentu, Nona," sahut Nel patuh.
Rukia tersenyum, senyum yang tulus dan bukan karena terpaksa. Mereka berdua berkeliling di parit dan sungai yang bercabang tak jauh dari sana. Nel meminta Rukia berhenti di depan tebing yang longsor.
Rukia ternganga. Ternyata di kanan kiri tebing penuh oleh timbunan tanah dan rumput yang longsor. Tebing-tebing di sana tidak terlalu tinggi. Tanah yang tidak padat telah luruh ke bawah, mengikis rumput dan pohon kecil. Di antara rumput hijau, tanah yang basah dan kehitaman memberi warna lain.
"Sebaiknya kita kembali, Nona," sergah Nel ketika Rukia beranjak mendekat. "Berbahaya kalau kau dekat-dekat."
Rukia menoleh. "Ini pertama kalinya aku melihat longsor," ungkapnya jujur.
Nel tertawa kecil. "Curah hujan sangat tinggi di sini. Longsor bukan hal aneh."
"Kalau begitu tidak ada banjir?"
"Wah, Nona, kalau Hueco Mundo sampai banjir, daerah lain pasti tenggelam dan jadi lautan."
.-.-.
Di pelataran istana dalam, mereka berpapasan dengan Aizen. Hari masih pagi tapi tampaknya pria itu sibuk. Baju hangatnya yang panjang berkibar terkena angin. Rambutnya ikalnya masih basah, sama seperti saat sarapan tadi. Mata coklat Aizen membesar melihat gadis bertubuh kecil itu.
Rukia menunduk kikuk. "Selamat pagi," sapanya.
"Tuan Aizen," Nel mengangguk kecil.
"Pagi," sahutnya. Walau tergesa, dia menyempatkan berhenti. "Dari mana saja?"
"Saya mengantar Nona Rukia berkeliling," jawab Nel khidmat.
"Kau sibuk?" tanya Rukia berbasa-basi.
Aizen mengikuti pandangan mata Rukia. Dia tersenyum. Aneh sekali melihatnya berkacamata. Tanpa alat bantu penglihatan itu Aizen terlihat licik. Tetapi Aizen yang berkacamata memberi kesan serius dan bijaksana. Sungguh kesan yang kontras. "Begitulah," jawabnya seraya mengacungkan setumpuk kertas di tangannya. "Hari ini ada banyak laporan tentang longsor di mana-mana."
"Tadi kami juga melihatnya," kata Rukia, teringat pemandangan di tebing sebelumnya.
"Longsor memang sering terjadi pada musim seperti ini," cetus Aizen. "Beberapa ruas jalan juga dihiasi pohon yang tumbang karena angin kencang. Aku harus ke beberapa tempat hari ini."
"Anda butuh bantuan saya?"
"Kau tetap di sini, Nel. Ah, bisakah kau panggilkan Gin? Kutunggu di kantor." Aizen memandang Rukia. "Mau melihat-lihat kantorku?"
Keraguan menyapu Rukia. "Baiklah."
Aizen berjalan pelan. Pria itu jangkung, langkahnya panjang. Meski begitu dia tak keberatan menyamakan langkah dengan Rukia yang jauh lebih pendek darinya.
"Aku tak apa-apa sendirian. Aku tidak ingin mengganggu," kata Rukia tak enak.
"Tidak, Rukia," sanggah Aizen halus. "Ini sudah biasa. Lagi pula, aku tak keberatan ada seorang gadis menemaniku."
Rukia semakin merasa tidak nyaman. Kalau saja Byakuya ada di sampingnya, sudah pasti sang kakak akan mengirimkan tatapan setajam pedang dan merajam Aizen dengan mulut pedasnya.
Kantor Aizen berada di bagian lain Las Noches. Gedung itu mendapat sinar matahari lebih banyak daripada di gedung lain. Folder-folder tertata rapi di deretan rak dekat dinding. Kursi empuk yang melingkari meja panjang untuk tamu terlihat nyaman. Semuanya bernuansa coklat atau tanah. Kesan hangat segera terasa.
"Terlihat membosankan?" tanya Aizen. Dia duduk di kepala kursi.
"Tidak," tangkis Rukia. Dia ikut duduk di kursi, yang ternyata jauh lebih empuk daripada kelihatannya.
Aizen mendongak. "Jika interior kuubah dan catnya diganti ungu, bagaimana menurutmu?" tanyanya sambil lalu.
Rukia terbelalak. Coklat sudah amat sesuai dengan Aizen. Ungu akan membuat ruang kerja ini terlihat konyol. Gadis muda itu bahkan tak sanggup membayangkannya. Pasti aneh jika tirai coklat tanah ini diganti dengan kelambu ungu. Kursi kayu dan meja ini mungkin akan terlihat terlalu elegan bila kain sofa bukan warna coklat yang memberi kesan damai. Oh, bingkai coklat tua ini tidak tampak sebagus ini jika cat dinding terlalu kontras.
Nona Kuchiki itu menyukai ruang kerja Aizen sebagaimana adanya saat itu. Meski sofanya memberi kesan berat, empuk dan nyaman, meja kayunya berkaki ramping, memberi keseimbangan yang pas. Ada vas besar dengan bunga Anthurium merah pucat dan menyala di sudut ruangan. Dinding kecoklatannya dihiasi lukisan pemandangan berbingkai kayu berpelitur mengkilap. Tidak ada kesan kaku.
Aizen kembali berkutat dengan gambar-gambar dan laporan di tangannya. Sesekali kacamatanya melorot ke ujung hidung mancungnya. Sedikit kerutan di dahinya menunjukkan keseriusannya.
Di kejauhan Rukia melihat Nel berjalan bersama Gin. Ada rasa marah melihat pria sekurus cacing itu. Darahnya menggelegak mengingat Gin telah membuat Renji terkapar bersimbah darah.
"Ah, Tuan Aizen, aku keluar melihat-lihat. Lagi pula, Nel hampir sampai," kata Rukia seraya berdiri.
Aizen mendongak. Mata tajamnya menatap Rukia lekat-lekat. "Di sini saja!"
Rukia menggeleng. "Aku tidak ingin mengganggu."
"Tidak, Rukia…"
"Aku merasa tidak enak. Sampai nanti," potong Rukia cepat. Tindakan yang kurang sopan, dia sadar itu. Terlebih jika itu dilakukan pada orang nomor satu di Hueco Mundo. Rukia bermaksud menunggu Nel di dekat kolam ketika dia melihat seseorang di ujung taman. Gadis itu bergegas menghampirinya.
"Tuan Tosen," serunya terkejut.
Seorang pria dengan rambut dikepang rasta dan memegang tongkat menegakkan telinga.
"Ini aku, Rukia. Kita pernah bertemu di air terjun," sapa Rukia bersemangat.
Kaname Tosen tersenyum kecil. Ujung-ujung matanya yang tertutup berkerut karena pergerakan bibirnya. Dia memutar badan sehingga menghadap gadis yang lebih pendek darinya itu.
"Iya, aku ingat, Nona," balasnya ramah. "Aku hanya tak menyangka kita akan bertemu secepat ini," imbuhnya.
Senyum Rukia pudar. "Jadi, kau sudah tahu tentangku?" tanya gadis itu. Suaranya tiba-tiba tercekat.
"Tentu saja," jawab pria berkulit gelap itu ringan namun sopan. "Kau Nona Rukia Kuchiki yang sedang heboh dibicarakan orang-orang."
Rukia tidak tahu harus merasa senang atau galau menjadi topik pembicaraan warga Las Noches. Tetapi ketika ungkapan itu keluar dari bibir pria yang belakangan diketahuinya sebagai salah satu bawahan Aizen, Rukia mendapati dirinya tersenyum kecil. Walau memiliki kekurangan, Tosen tetap terlihat berwibawa. Air mukanya tenang dan bahasa tubuhnya menyiratkan orang yang percaya diri, apapun yang terjadi.
"Jadi, ketika kau mengundangku ke Hueco Mundo, kau sudah tahu aku akan datang ke sini?" tanya Rukia lagi, ingat dengan undangan Tosen yang tempo dulu dikiranya hanya basa-basi.
Tosen mengangguk. "Benar. Selain itu, Hueco Mundo tempat yang indah. Kurasa kau akan menyukainya, Nona Rukia," katanya.
Rukia tidak menjawab. Dia hanya mengamati pria itu. Meski udara dingin, dia malah mengenakan baju tanpa lengan. Barangkali Tosen sudah kebal dengan gigitan udara.
"Kau sedang apa?"
Pertanyaan Tosen menghentikan lamunan Rukia. "Hanya berjalan-jalan," jawab Rukia pendek.
Tosen mengangguk. "Aku lahir dan besar di sini, jadi aku hafal Hueco Mundo seperti punggung tanganku sendiri, uhm, meski aku tak pernah melihat seperti apa tanganku," ujarnya seraya melambaikan tangan gelapnya. Wajahnya sedikit menyeringai, membuat Rukia tak bisa menahan senyum. Semua hal yang tampak ironis berubah jika pria itu yang mengatakannya.
"Kau bisa saja," sahut Rukia geli.
"Jadi, kau sudah bertemu Tuan Aizen?" tanya Tosen. Rukia tahu, bahwa dengan kata lain pria yang tidak bisa melihat itu menanyakan pendapatnya tentang Aizen.
Gadis itu melirik tongkat Tosen. Tongkat mengkilat itu sama dengan yang dilihatnya di air terjun. Kata Justice-Keadilan, dapat dilihatnya dengan jelas. "Ya, aku sudah bertemu dengannya," jawab Rukia berat.
Tosen tersenyum kecil. "Dia pasti memperlakukanmu dengan baik," ujarnya yakin.
Rukia mengangguk walau kemungkinan Tosen melihat anggukannya sebesar angka nol. "Benar. Omong-omong, apa pendapatmu tentang keadilan, Tuan Tosen?" tanya Rukia sopan.
Tosen agak terperanjat. "Kau tidak sekedar iseng bertanya, bukan?" dia balik bertanya. Keheningan memberitahunya bahwa jawaban non verbal Rukia bernada positif. "Keadilan harus ditegakkan, Nona," jawabnya sederhana.
"Benarkah?" tantang Rukia. Pria berambut gelap ini terlihat lebih baik hati daripada Aizen, karena itu Rukia memberanikan diri berargumen dengannya.
"Seringnya, keadilan tidak terasa adil," tukas Tosen hati-hati. Dia mengarahkan badan dan wajah sehingga tepat berhadapan dengan Rukia. "Bagi pihak yang satu, tindakan yang telah diambil memberikan rasa aman karena memang seharusnya itulah yang diterimanya. Bagi pihak lainnya, bisa saja dirasa tidak adil karena mereka punya pemikiran sendiri. Kemudian, jika ini terjadi, pihak ketigalah yang harus objektif menilai, benarkah keadilan yang dituntut sudah tepat?"
Rukia terpekur. Tosen memang tidak menyebutkan contoh, tapi nona muda itu telah mendapatkan gambaran.
"Kau masih muda, Nona Rukia Kuchiki, namun aku tahu kau mampu menelaah bahwa kadang kenyataan menyodorkan hal yang kejam untuk dijalani. Tapi kau harus melihat dari sisi lain. Mungkin itu yang terbaik, hanya saja kau belum menyadarinya."
Mata Rukia meredup. "Ya, aku belum menyadarinya," ungkapnya jujur. Pengakuan itu terasa menyakitkan dan pahit. "Aku…tidak tahu banyak, tidak mengerti banyak. Aku lemah."
Tosen memainkan tongkatnya untuk mendapatkan perhatian Rukia. "Tidak, Nona," tepisnya.
Rukia menggeleng. "Aku bahkan tak bisa memperjuangkan hidupku sendiri," lanjutnya merana. "Selalu ada kakakku dan teman-temanku melindungiku. Bahkan aku membuat mereka terluka. Renji, Shirayuki! Semoga kakakku tidak."
Rukia gadis yang ceria ketika situasi memberikan keamanan dan kenyamanan. Dia gembira saat berkumpul dengan keluarganya. Namun sering dia bersikap sangat serius saat memikirkan bahwa dia berada di pengasingan dan Byakuya berusaha mati-matian memikul tugas demi melindunginya. Memang manusia makhluk yang sangat kompleks. Tak ada yang terus-terusan riang, tak ada menderita seumur hidup.
"Kau kuat, karena kau pernah lemah," pungkas Tosen tegas. "Kau jauh lebih kuat daripada yang kau kira."
"Aku bukan orang yang kuat karena aku hanya diam," sanggah Rukia sedih. Tanpa sadar kepalanya tertunduk.
"Diam tidak berarti tidak melawan, bukan?"
Kalimat itu menyentak Rukia. Dia tak menyangka Tosen akan mengatakannya. "Tapi kau tegar, Nona. Kau tegar dengan tragedi yang menimpamu, dan kau berbesar hati menerimanya. Itu hal yang sulit namun kau memilih menjalaninya dan tidak melakukan hal bodoh."
Gadis pendek itu ternganga. Semangatnya yang kendur kembali terangkat mendengar uraian Tosen. Pria itu memang memiliki kekurangan fisik, namun dia seorang motivator handal. Dia tahu cara membesarkan hati orang lain.
"Wow, aku mendengar banyak petuah hebat hari ini. Aku memang bodoh." Ketika dilihatnya Tosen hendak membuka mulut, Rukia buru-buru menambahkan. "Karena bodoh, aku pintar!"
Bahkan Tosen tertawa mendengarnya. Menyadari kekeliruan pilihan katanya, Rukia ikut menyumbang derai tawa.
"Mendung tidak selalu menaungi Hueco Mundo. Ada saatnya matahari bersinar hangat dan tempat ini ramah," komentar Tosen disela-sela tawanya.
.-.-.
Aizen mengira Rukia akan histeris. Pria jangkung itu sudah melihat banyak kasus dimana orang yang tidak kuat menahan penderitaan hati akan pingsan dan histeris. Mereka menangis dengan ekspresi kesakitan, berteriak-teriak dan menggelepar.
Tapi gadis muda yang terlelap itu tampak tenang. Tidak seperti kemarin-kemarin, sekarang tidak ada lagi kerutan di antara dahi kecilnya. Ekspresinya rileks, seolah beban yang tadinya bersarang di pundaknya terangkat. Pria itu sudah mempertimbangkan meminta obat penenang dari Szayel bila ternyata Rukia mengalami histeria. Di luar dugaannya, ternyata nona muda itu memiliki ketegaran menerima keadaannya. Rukia tidak banyak berinteraksi dengan orang, sehingga Aizen memiliki praduga terburuk yang mungkin saja terjadi pada detik gadis yang diculiknya itu berada di Las Noches.
Lampu temaram di sudut ruangan membuat bayangan-bayangan perabotan berebut menempati kamar itu. Aizen tersenyum kecil. Nyaris tiap malam dia menengok Rukia yang sedang tidur. Gadis itu terlalu letih karena kondisi emosinya, atau memang langkah Aizen yang tidak menimbulkan suara di karpet mahal dan tebal di lantai, tapi dia tidak pernah terbangun.
Aizen tidak pernah merasa bersalah. Dia tidak menyesal melakukan apapun supaya keinginannya tercapai, baik sebagai tokoh utama Hueco Mundo atau sebagai Sousuke Aizen. Dia telah banyak belajar bahwa dalam hidup ini, jika kau tidak mengambil sesuatu, maka yang jadi milikmulah akan akan diambil. Dia tak pernah melalaikan tugas-tugasnya, karena itu tanpa ragu Aizen juga mengambil yang seharusnya jadi haknya.
Apapun yang terjadi, tak peduli betapa depresi gadis itu, atau negosiasi bahkan ancaman Byakuya, Aizen tak akan membiarkan Rukia lepas dari tangannya.
.-.-.
TBC
