Chapter 2

Saat waktu mulai bergulir, ia tak akan pernah berhenti, sampai sebuah takdir yang akan menghentikan waktu itu...

Title:

The Time Labyrinth

By:

Ryuzaki Miki

Lenght:

Multichapt

Genre:

Mistery

Adventure

Fantasy

Rated:

T

Casts:

They're waiting for you in this story! ^^

Disclaimer:

The casts belong to Aoyama Gosho
The Story is mine~!

Warning:

OOC, and the other mistakes..

.

Happy Reading~! ^^

Temukan kunci gemini sang penjaga waktu
Dengan sinar rembulan yang menyamarkannya,
Kau akan menemukannya

Temukan sang penjaga waktu di tengah pilar kelabu
Dengan kunci sang penjaga waktu,
Kau buka bejana itu

Semuanya akan kembali seperti semula
Temukan celah jeratmu
Dan bebaskan dirimu

-The Time Labyrinth-
-Chapter 2-

Pintu mengayun tertutup dengan deritan yang sama saat pintu mengayun terbuka. Dan tepat pada saat pintu itu tertutup, ruangan gelap itu menjadi lebih terang dengan sinar matahari yang sudah mulai meremang, sama seperti waktu mereka belum memasuki wahana ini. Hari sudah mulai gelap. Dan cahaya yang ada di sekitar mereka hanya cahaya remang-remang matahari terbenam.

Ran melirik arloji hitam yang tadi diberikan oleh si gadis penjaga pintu depan. Arloji itu unik, menurutnya. Selain memiliki angka-angka romawi satu hingga dua belas, latar arloji tersebut adalah sebuah garis-garis berwarna putih yang beraturan namun tersusun secara acak, seperti bentuk garis pada teka-teki silang atau labirin. Dan sekilas ia melihat ada sinar yang memancar dari salah satu titik di bagian dekat angka enam romawi mengikuti garis berliku yang ada dan berakhir di angka satu romawi. Dan ia menjadi bertanya-tanya apa ia salah lihat atau apa.

Entahlah.

Ran melihat ke depan, dan berdecak kagum. Di depan mereka terhampar sebuah lorong yang diapit oleh tumbuhan hijau yang dipangkas rapi menyerupai tembok datar berwarna hijau. Sedangkan lantainya berupa rumput yang juga terpangkas rapi seperti rumput di lapangan bola kaki. Tapi yang pasti itu bukan karpet. Tepat di kedua sisi bagian depan pembuka lorong panjang itu, ada tiang tinggi dan ada patung yang berbentuk seperti peti harta karun tanpa warna di tengahnya, disangga dengan papan datar yang dikaitkan di pilar itu. Dan tepat di bagian yang seharusnya merupakan lubang kunci pada peti, justru malah membentuk sebuah lingkaran kelabu, di sekelilingnya terlihat ada garis yang mengikuti lingkaran cembung itu, walau tipis Ran dapat melihatnya.

"Nah, kita harus mulai dari mana?" tanya Sonoko buka suara.

Kaito meneliti sekeliling bereka dengan seksama. Begitu juga dengan yang lainnya. Kemudian Kaito menarik senyum simpul dari sudut bibirnya dan melangkah ke arah kanan saat pandangannya menangkap sebuah papan tinggi berwarna cerah dengan gambar seekor kanguru, alih-alih memiliki gambar kantung, kantung itu berwujud nyata dengan selembar kertas yang terselip di sana. Letaknya persis di samping pintu masuk.

Ran memerhatikan papan kanguru itu. Dan saat Kaito mengambil gulungan kertas itu, mata sang kanguru yang awalnya berwarna hitam berkilat menjadi merah. Ran tidak tahu ia salah lihat atau tidak. Tapi ia tutup mulut dan menahan jeritan yang membuncah dalam dirinya. Tapi ia harus jaga sikap, atau tidak Shinichi akan menyeretnya keluar lewat pintu masuk dan mulai menceramahinya tentang keputusannya yang menyetujui untuk pergi ke wahana ini.

Dan ia tak mau hal itu terjadi. Jadi ia memutuskan bahwa dia hanya salah lihat karena sikapnya yang sedikit penakut dan terlalu memikirkan tentang wahana yang suram ini. Ya. Pasti karena suasananya yang menyeramkan makanya menjadi salah lihat, pikir Ran.

"Tentu saja dari sini," sahut Kaito sambil dan melangkah kembali ke arah yang lainnya.

Ran dan yang lain beringsut mendekat ke arah Kaito yang mulai membuka lembaran yang menurut Ran, mirip selebaran. Saat Kaito membuka lembaran itu, di ujungnya terlihat seperti berlapis. Jadi ia menarik lepas lapisan bagian atasnya. Ternyata terbuda dua lembar. Kaito memegang kedua lembar kertas itu di kedua tangannya, masing-masing satu.

Ia menyerahkan satu lembaran pada Shinichi yang berdiri di sebelahnya dan mulai membentangkan lembaran itu di tangannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Shinichi.

Ran yang berdiri di sebelah Shinichi dapat melihatnya dengan jelas. Lembaran itu lusuh, mengingatkannya pada peta harta karun yang sudah lama tak ditemukan berabad-abad. Tapi lembaran itu tetap kukuh dan keras, dan tulisan yang berada di atasnya juga tampak jelas dengan tinta hitam pekat.

Di ujung sebelah kirinya ada tulisan 'girls' yang dicetak cukup besar dan digarisbawahi. Di bawahnya tertera tulisan-tulisan yang disusun secara rapi seperti sebuah bait dari puisi singkat. Di bagian tengah lembaran itu juga sama. Tapi terdiri dari tiga bait, masing-masing bait memiliki tiga baris. Dan di bagian sebelah kanan sama dengan yang di sebelah kiri, hanya satu bait, dan tercetak di bagian paling bawah pojok.

Ada juga gambar-gambar yang mirip ilustrasi yang digambar dengan pena biasa. Di sebelah kiri, di bagian bawah bait itu, ada gambar arloji yang sama dengan yang mereka kenakan saat ini, diwarnai dengan warna hitam latarnya juga berupa garis-garis perak yang membentuk garis labirin. Di bawah gambar arloji ada sebuah gambar kunci yang berbentuk unik, seolah dirancang khusus dengan mata kunci yang berlekuk dan membentuk sebuah kerangka persegi, di balik kunci itu ada gambar lingkaran dan diisi dengan coretan tipis di beberapa bagian. Warnanya sesuai dengan latar lembaran itu, warna kelapukan kuning langsat nan pucat.

Di bagian sebelah kanan, ada gambar sebuah peti kecil dengan lubang kunci di bagian tengahnya, dengan garis-garis yang memperjelas bentuk peti itu. Atap penutupnya yang melengkung ke atas dan diwarnai tipis dengan pensil di beberapa tempat sebagai titip gelap-terangnya. Dan di bawah gambar peti itu ada gambar seekor kanguru kecil yang menoleh ke belakang, ke arah muka lembaran sementara tangannya sedang memegang sebuah handel pintu.

Kertas yang dipegang Kaito juga sama persis. Hanya saja di bagian pojok kiri atasnya tertulis 'boys'.

"Gambarnya bagus sekali," puji Akako yang melihat di balik bahu Kaito.

"Ya. Berarti kita dibagi menjadi dua kelompok," gumam Saguru setelah melihat peredaan dua lembaran itu. "Lelaki dan perempuan harus pisah," tambahnya.

Shinichi menggulung kertas itu seperti perkamen lama dan memberikannya pada Ran. "Ya. Berarti kita enam-enam dan saling membagi tugas," kata Shinichi.

"Tapi aku sama sekali tidak mengerti tentang tulisan-tulisan ini. Lebih mirip dengan syair," sahut Araide dengan raut wajah bingung.

"Tenang saja. Kita akan memecahkannya nanti. Yang penting sekarang kita harus jalan dulu," kata Makoto tenang.

Mereka semua mengangguk setuju dan mulai berjalan masuk melewati kedua tiang yang membuka jalan lebar untuk mereka semua. Ran kembali melirik si kanguru yang berada di dekat pintu masuk tadi. Kali ini ia merasa seolah mata kanguru itu terus mengikuti ke mana ara langkah ia pergi. Ia buru-buru berbalik dan berjalan di sebelah Sonoko yang tampaknya sedikit kecewa dengan bagian pembagian kelompok itu. bukankah itu berarti ia tak bisa menjalani petualangan dengan Makoto? Dan Ran tahu hal itu. Tapi ia tak bisa melakukan apa-apa untuknya. Intruksi yang ditulis di kertas itu cukup jelas. Mungkin memang begitu peraturannya.

Shinichi memerhatikan yang lain dulu saat yang lain memasuki jalan utama labirin. Ia memerhatikan sekitarnya sebelum ia menyusul masuk mengikuti yang lain. Dan pandangan matanya menangkap sesuatu pada tiang yang menjadi jalan masuk menuju labirin. Di bagian atasnya, ada sebuah bidang datar berwarna hitam. Tidak terlalu besar, tapi setidaknya masih bisa dilihat olehnya. Dan saat mereka masuk, benda itu yang awalnya berlatar hitam, kini mulai diisi dengan tulisan—tidak. Angka. Angka-angka yang menunjukkan sesuatu.

"00:00:09," gumam sebuah suara di sebelah Shinichi.

Shinichi terkesiap dan menoleh cepat ke arah kanannya. Dan menemukan Heiji yang berjalan di sampingnya. "Kau melihatnya juga ya," katanya.

"Tentu saja. Kurasa itu waktu yang menunjukkan sudah berapa lama kita mulai memasuki pintu utama lewat dua tiang itu. Karena waktu Kaito yang pertama kali lewat, benda itu baru menunjukkan angka-angka itu," sahut Heiji diselingi penjelasan.

"Ya. Dan lihat arloji yang kita pakai," kata Shinichi sambil menunjuk pada arloji baru yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Rasanya aneh," tambahnya.

Heiji ikut melirik pada arloji itu. "Waktunya? Menurutku memang sedikit aneh. Tapi kelihatannya wajar-wajar saja. Mungkin karena kita terlalu banyak memikirkan yang aneh-aneh."

Dan Shinichi memutuskan untuk membenarkannya saja. Toh, ia sendiri juga masih bingung dan tidak tahu penjelasannya. Itu urusan belakangan saja. Yang penting mereka harus segera keluar dari labirin ini secepat yang mereka bisa sebelum hari menjadi gelap, dan ada kemungkinan mereka tidak dapat melihat apa-apa, selain mereka menemukan sesuatu yang dapat mereka gunakan sebagai penerangan nantinya.

"Selamat datang di The Time Labyrith."

Suara yang dalam itu menggema di atas mereka. Dan mereka terkejut, berhenti berjalan dan menengadah ke atas, mencoba untuk mencari asal suara. Tapi mereka hanya dapat melihat langit senja yang remang.

"Waktu sudah diputar, dan permainan sudah dimulai. Pecahkan isi syair itu, temukan apa yang harus kalian temukan. Dan hentikan waktu. Dengan begitu, kalian bisa keluar dari sini."

Suara itu melanjutkan perkataannya. Dan mereka masih mencari asal suara itu.

"Selamat menikmati petualangan kalian."

Dan suasana menjadi hening.

"Kurasa itu hanya ucapan salam pembuka," kata Kaito buka suara.

"Dan petunjuk. Ayo, kita lanjut jalan saja," sambung Heiji. Dan mereka pun kembali melangkah.

Setelah berjalan beberapa puluh meter, akhirnya mereka sampai pada persimpangan pertama. Arah yang dituju ada dua, ke kiri dan ke kanan, tepat sembilan puluh derajat untuk berbelok. Di arah sebelah kiri mereka mulai melihat adanya perubahan pada labirin. Dindingnya bukan lagi tumbuhan hijau yang dipangkas rapi dan datar, melainkan tembok semen berbatu dan beberapa langkah ke sana langsung ada tikungan ke kanan lagi. Sedangkah di arah sebelah kanan, dindingnya berupa sulur-sulur tanaman yang nutupin tembok batu, dan beberapa langkah ke sana juga udah ada belokan ke kanan, bertolak belakang sama yang dari sebelah kiri.

"Hem.. Jadi di sini kita pisah jalan," kata Shiho. Ia menoleh ke arah kiri dan kanan jalan menuju masuk labirin yang lebih dalam.

"Yep," sahut Saguru. "Dan menurutku kita harus pergi menurut yang tertulis di kertas itu sebagai petunjuk, seperti yang dikatakan Kudou, kita enam-enam. Cewe-cowo."

"Hm.. Yakin nih, kita pisah?" tanya Makoto.

"Aku juga sedikit ragu," sahut Kazuha. "Di kelompok kalian lebih dominan untuk memecahkan masalah syair ini."

"Tenang saja. Kita pasti dapat memecahkannya! Ini seperti pertarungan antara anak lelaki dan perempuan! Kita bertaruh siapa yang dapat memecahkannya duluan!" sahut Sonoko antusias.

"Tidak semudah itu," sela Heiji.

"Tapi kalau itu mau kalian sih, tidak apa-apa," sahut Shinichi sambil tersenyum tipis.

"Sepertinya bakal menarik," balas Ran percaya diri.

Shinichi menilik Ran sesaat dan kembali tersenyum. Ia tahu gadis itu hanya ingin tampak percaya diri di hadapan yang lain, padahal sebenarnya ia juga ragu. Ia tahu itu. Tapi ia diam saja dan tidak menanggapi ucapan Ran. Biarlah ia mencoba kali ini. Toh, ia tidak sendiri.

"Baiklah. Berarti kita sudah memutuskannya," kata Aoko mengumumkan. "Sekarang tinggal memutuskan ke mana arah yang akan kita tuju."

"Yang lelaki, ke kanan," ucap Kaito langsung.

"Berarti yang perempuan ke kiri," sambung Akako.

"Baiklah. Kita pecahkan apa yang harus kita lakukan setelah ini lewat syair-syair itu, setelah tahu dan mendapatkan apa yang kita cari, kalau bisa, kita bertemu di suatu tempat," kata Makoto.

Yang lain mengangguk setuju dan mulai berjalan terpisah melewati dua jalur yang berbeda sesuai dengan keputusan yang diambil secara aneh itu, menurut Shinichi.

.

"Menurutmu apa kita bisa bertemu dengan mereka lagi lewat labirin ini?" tanya Kazuha setelah mereka berbelok ke arah kanan yang menuju makin masuk ke bagian dalam labirin.

"Mungkin, sih. Labirin ini cukup luas. Mungkin ada jalan yang akan menghubungkan mereka dengan kita," jawab Ran yang berjalan di samping Kazuha di depan bersama Sonoko.

"Tapi itu kecil kemungkinan. Labirin ini luas," tutur Shiho di belakang mereka.

Aoko mengangguk setuju. "Sebaiknya kita juga memecahkan syair-syair itu dulu," katanya.

Ran yang memegang perkamen gulung itu membuka kertas itu lebar-lebar dan mulai membaca, "Temukan satu dari dua, Benda itu bersinar cerah, Secerah bulan." Itu merupakan bait di bagian sebelah kiri kertas.

"Itu mungkin menunjukkan gambar kunci dan arloji kita," gumam Akako.

"Tapi warna arloji kita, kan, hitam?" sahut Shiho.

"Mungkin kuncinya," kata Sonoko sambil menunjuk kunci itu. "Gambar di belakangnya rasanya familiar."

"Eh.. Itu kan..."

Heiji rasa mereka seharusnya tidak mengambil langkah yang terlalu gegabah. Yah, walau sendirinya juga sih. Setelah mereka melangkah memasuki bagian yang lebih dalam labirin sejak berbelok ke kanan pada jalur pertama tadi, mereka menemukan sebuah ruangan tanpa atap yang luas, lebar, dan memiliki beberapa jalur di dinding depan mereka. Sedangkan pada sisi kiri dan kanannya berupa tembok batu.

Ada tiga jalur dari tembok itu. Yang di sebelah kiri mengarah terus ke kiri sehingga mereka tidak dapat melihat ujungnya. Jalur di tengah lurus, dan yang di sebelah kanan sama halnya dengan yang di sebelah kiri.

"Kurasa kita harus berpencar lagi," kata Kaito sambil menggaruk bagian belakang lehernya dengan bingung.

"Ya. Dengan berpencar kurasa kita akan lebih cepat selesai di sini," sahut Araide.

Heiji menoleh pada Shinichi yang berada di sebelahnya sambil meneliti kertas yang berisi gambar dan syair yang tadi mereka lihat. Kemudian ia beralih pada Araide. Ia terlihat sedikit canggung di antara mereka karena ia tidak seumuran dengan Heiji dan yang lain. Yah, walau beda beberapa tahun saja, sih.

"Benar. Menurut tulisan-tulisan di sini dan suara tadi, kita harus mencari sesuatu. Dan menurutku, kita harus cepat kalau mau keluar dari sini, dan kembali bertemu, tentu saja," ujar Shinichi.

"Tapi kita harus mencari apa?" tanya Makoto.

"Kunci," jawab Heiji setelah membaca isi syair itu sekali lagi. "Temukan kunci gemini sang penjaga waktu. Dengan sinar rembulan yang menyamarkannya, kau akan menemukannya. Itu artinya kita harus mencari kunci. Mungkin, dua, karena gemini. Gemini itu zodiak yang lambangnya anak kembar, kan? Tapi syair di samping ini bilang 'Temukan satu dari dua'. Jadi kita hanya perlu mencari satu saja," jelas Heiji.

"Ya. Dan menurut firasatku, mereka juga sudah menyadarinya," sahut Saguru kalem sambil melihat ke arah Barat Laut, seolah menembus tembok batu dan melihat para gadis yang sedang melihat lembaran yang berisi petunjuk.

"Kalian sudah ingat syair ini?" tanya Shinichi pada yang lain sambil menggulung lembaran lusuh itu.

"Ya," jawab Heiji, Saguru, dan Kaito kompak.

"Bagus. Kalau begitu kita tinggal membaginya saja. Saguru, eh, kamu bisa sama Araide sensei, kan?" tanya Shinichi sedikit ragu.

"Tentu saja bisa. Tenang saja," sahut Saguru sambil menoleh pada Araide yang tersenyum tipis.

"Aku akan bersama Shinichi," ujar Heiji cepat. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya untuk bisa menghabiskan waktu dan memecahkan syair itu bersama Shinichi. Belum lagi, dia memang sudah kenal lebih dekat dengan Shinichi ketimbang dengan yang lainnya. Dan cara pikir mereka sudah bisa disamakan satu sama lain. Jadi ia rasa, ia akan mengambil peran sebagai rekan Shinichi kali ini.

"Kalau begitu, aku akan bersama dengan Makoto," simpul Kaito sambil merangkul pemuda yang berdiri di sebelahnya itu.

"Baiklah," kata Shinichi. Ia memerikan gulungan kertas itu pada Makoto, "Mungkin bisa membantu."

Makoto mengambil gulungan itu. "Trims," katanya.

"Nah, ayo pergi," ajak Heiji. Ia sudah tak sabar ingin menyelesaikan ini dan cepat-cepat bertemu dengan yang lain dan segera pulang.

Mereka mengangguk dan mulai berjalan memasuki lorong gelap itu. Heiji dan Shinichi mengambil bagian yang di sebelah kiri, Kaito dan Makoto mengambil jalan tengah, dan Saguru dan Araide mengambil jalan di sebelah kanan.

Heiji memperhatikan tembok batu yang mengapit jalan mereka. Jalan ini jauh lebih sempit dibandingkan dengan jalan utama yang mereka lewati tadi. Dan saat pertama kali mereka berbelok juga ia perhatikan, jalannya tidak selebar jalan utama. Seolah memang sudah direncanakan untuk mereka semua dalam melewati labirin ini. Saling terbagi dan membagi.

Mereka berbelok ke arah lain saat menemui persimpangan pertama. Mereka melangkah ke kiri dan terus berjalan. Mereka juga sempat melihat jalan di sebelah kiri mereka, lurus dan tak nampat unungnya, dan memutuskan untuk tidak melewati jalan itu. Melewati beberapa persimpangan lagi dan terus melaju lurus.

"Hei, Heiji," panggil Shinichi tiba-tiba.

"Ya?" sahut Heiji tanpa menoleh pada Shinichi dan sibuk mengamati sekeliling dan terus berjalan. Hari makin gelap dan tidak ada penerangan sama sekali di sana. Hanya ada keremangan tak berarti yang berasal dari arah barat sana. Walau ini musim panas, entah kenapa rasanya hari menjadi begitu cepat. Padahal seharusnya tidak.

"Sepertinya kita harus menunggu sampai malam kalau kita ingin menemukan kunci yang kita cari," katanya.

Heiji mengernyitkan dahinya. "Maksudmu?"

"Kau tahu maksudku. Syair itu, ingat?" katanya.

Heiji mengingat-ingat isi syair pada bait pertamanya itu. "Hm.."

Oh.

"Ya. Kurasa begitu. Benda itu hanya akan muncul pada malam hari. Jadi... kita harus menunggu berapa lama?" kata Heiji.

Shinichi melirik arlojinya. Dan Heiji melakukan hal yang sama. Ia terkesiap. Kini latar arloji itu berpendar dalam sinar putih terang yang cukup menerangi suasana di sekitar mereka. Dan itu membantunya melihat waktu yang ditunjukkan oleh si arloji. Jarum pendek berada di dekat angka delapan romawi, sementara jarum panjangnya berdiam diri di angka sepuluh romawi. Latarnya masih berbentuk garis-garis acak seperti labirin, hanya saja kini garis itu menjadi berwarna hitam pucat. Dan Heiji masih dapat melihat cahaya tipis yang melewati garis-garis itu, dari angka enam romawi hingga angka sebelas romawi. ia tidak tahu apa maksudnya. Mungkin hanya cahaya acak.

Dan ada satu hal lagi yang menurutnya aneh.

"Sudah jam segini?" gumam Heiji tak percaya. Ia rasa baru saja mereka masuk ke dalam labirin itu. dan hari masih belum terlalu gelap. Dan kira-kira, mereka baru saja di sana sekitar sepuluh menitan, lima belas menit, tepatnya. Dan kini waktu menunjukkan pukul tujuh lewat lima puluh menit?

"Bukankah itu agak aneh?" sahut Shinichi di sebelahnya. "Lihat ke depan," sambungnya sambil menunjuk ke depan mereka.

Mereka berbelok pada tikungan ke kanan dan kembali di sambut dinding yang berupa tanaman hijau yang dipangkas rapi sesuai dengan tembok yang baru saja mereka lewati. Dan beberapa langkah di depan sana ada lapangan terbuka yang gelap. Dan Heiji rasa, ia tak akan suka di sana. Dan ia memiliki firasat buruk.

Tapi mereka terus melangkah ke lapangan terbuka itu, sampai akhirnya Heiji merasa dirinya menginjak rumput hijau di bawah kakinya. Dan hamparan yang luas terdapat di hadapannya. Ia melihat pepohonan yang rimbun, beberapa batu besar beserta anaknya yang lebih kecil di sampingnya, dan tumbuhan-tumbuhan liar yang tumbuh di berbagai tempat setelah Heiji menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang ditimbulkan arloji dan retina matanya.

"Ayo, maju terus. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu di sini," ajak Shinichi sambil melaju ke depan tanpa penerangan. Sepertinya ia benar-benar sudah membiasakan pandangannya dengan keadaan sekitar sampai ia tidak memakai arlojinya sebagai penerangan. Sebenarnyya Heiji juga. Tapi ia memutuskan untuk tetap memakai arloji itu sebagai penerangan, untuk jaga-jaga saja. Dan entah mengapa ia rasa Shinichi tak sesigap biasanya, dan perasaannya makin tidak enak.

Baru saja Heiji hendak mengingatkan Shinichi untuk menggunakan arlojinya saja. Tapi Shinichi malah sudah jauh di depannya, menuju pepohonan dan semak rimbun di sana. "Hei! Tunggu!" seru Heiji dan berlari kecil untuk menyusul Shinichi dan mensejajarkan langkah mereka. "Jangan main jalan saja dong!" ujar Heiji setenggah kesal.

"Gomen," ucap Shinichi sambil terkekeh pelan. "Kau takut ya?"

Heiji mendelik padanya. "Baka! Tentu saja tidak!" jawabnya sambil mengambil jarak antara dirinya dengan Shinichi. Sial. Dia jadi merasa risih berada di dekat Shinichi. Terkadang Shinichi itu berpikir yang aneh-aneh.

Shinichi tertawa. "Jangan bereaksi seperti itu. Aku, kan, hanya bercanda," katanya.

Ini efek tidak ada Ran di dekatnya, gerutu Heiji dalam hati. Tidak ada Ran, Heiji pun jadi. Cih..

Heiji mendengus kesal dan mulai melihat sekelilingnya. Tidak ada hal lain selain pepohonan yang tinggi sekitar tujuh meter atau lebih dari permukaan tanah dan memiliki dahan-dahan dan batang yang lebar. Di sekeliling pohon itu juga dipenuhi dengan semak-semak belukar dan rumput-rumput liar beserta ilalang.

Kemudian Heiji mendekati salah satu pohon terdekat dan mulai memanjat pohon itu menuju dahan terendah yang ia rasa cukup kuat untuk menopang dirinya. Kalau tidak bisa, maka ia akan memanjat ke dahan yang lainnya. Mudah saja, kan?

Ia menginjak bagian batang pohon yang dapat ia pijak dan memegang erat bagian yang dapat diraihnya di bagian atas dengan tangannya. Dan dengan itu ia membantu dirinya sendiri untuk menarik diri ke atas dan memudahkannya untuk kegiatan panjat-memanjatnya menuju dahan pertama yang cukup tinggi itu.

"Hup," gumam Heiji sambil berusaha mendudukkan dirinya di atas dahan yang menghadap le arah datangnya mereka tadi dengan perlahan. Dan, di situlah ia berada, duduk dengan santai sambil memantau keadaan di sekelilingnya dari atas. Sejauh matanya memandang hanya ada kegelapan tak berujung dan tembok-tembok labirin yang baru saja mereka lewati tadi dan sekeliilingnya. Langit gelap tanpa bintang dan awan tebal yang menyelimuti di beberapa bagian. Dan mungkin saja juga menutupi satu-satunya cahaya yang akan menerangi mereka malam ini.

"Heiji!" panggil Shinichi dari arah bawahnya.

Heiji menoleh ke bawah. "Ada apa?" tanyanya, sama sekali tidak berpikir untuk turun ke bawah mendengarkan Shinichi berbicara. Biarlah ia berteriak, pikir Heiji. Ternyata ia masih merasa jengkel dengan Shinichi.

"Apa yang kau lihat dari sana?" tanya Shinichi, masih dedngan suara keras agar terdengar Heiji di atas.

"Gelap," jawab Heiji sekenanya, balas berkata keras juga. Dan ia menyadari betapa hausnya ia sekarang. Kerongkongannya berasa kering dan minta untuk dialiri cairan tak berwarna bernama air.

"Ya, itu aku juga tahu. Di bawah sini juga gelap," balas Shinichi.

Heiji tak terlalu menggubirsnya dan kembali melihat-lihat. Awan di atasnya bergerak dengan sangat lambat karena tidak ada angin yang berhembus kencang. Hanya angin sepoi-sepoi pada mala hari di musim panas. Dan itu makin membuat Heiji merasa gerah dan makin haus. "Hei Shinichi, kau punya air?" Akhirnya ia bertanya pada temannya yang berada di bawah.

"Tidak. Semua barang yang kita bawa, kan, diambil saat di pintu masuk tadi," jawab Shinichi.

Benar juga. Bodoh sekali dia, sama sekali tidak terpikir tentang hal itu sedari tadi, dan malah bertanya pertanyaan konyol pada Shinichi. Heiji merutuk dririnya sendiri dalam hati dan mengumpat.

"Haus?" tanya Shinichi.

Heiji kembali mendengus kesal. "Tentu saja. Kalau tidak haus mana mungkin aku meminta air minum padamu," katanya.

"Yah, tahu saja kau hanya ingin membuka pembicaraan padaku. Aku juga haus tahu. Jangan berpikir kalau hanya kau yang haus," balas Shinichi.

Tidak di mana pun, Shinichi selalu seperti itu. Mungkin dia lapar, makanya perkataannya jadi meracau. Dan membahas soal makanan, Heiji jadi mengingat makan siang mereka tadi. Bento paket spesial.

Kruyukk...

Sial.

Heiji mengumpat dalam hati. Kenapa dia jadi ikut-ikutan lapar? Pasti gara-gara membayangkan makan siang tadi. Hh.. Mungkin ia harus menghilangkan bayangannya tentang makanan. Lagi pula, sepertinya sekarang bukan saatnya untuk memikirkan soal makanan. Ini seharusnya bukan jam makan malam!

Heiji menoleh ke bawah dan melihat Shinichi yang sedang berjalan di tengah semak-semak belukar dan memerhatikan sekelilingnya. Entah apa yang ia cari, Heiji tak tahu. Dan ia mengurungkan niatnya untuk bertanya, menghindari jawaban ngawur yang nanti bakal menjadi jawaban Shinichi.

Jadi ia memutuskan untuk beristirahat sebentar. Ia bersandar pada batang pohon yang luas, menjulurkan kakinya lurus di atas dahan, dan melihat sekeliling secara seksama sekali lagi, mencari kemungkinan adanya sesuatu yang baru.

Awan masih bergerak begitu lambat, menutupi satu-satunya akses penerangan yang ada, sepertinya begitu, Heiji mengasumsi. Ia dapat melihat pendar cahaya tipis dari balik awan itu. Hanya tinggal menunggu awan berjalan melewatinya, maka benda di baliknya itu pasti akan terlihat di tengah langit malam yang gelap.

Angin berhembus perlahan di dekatnya, memainkan anak rambutnya sesaat, dan kembali menghilang. Dan entah sejak kapan, ia sudah menutup matanya, meninggalkan dunia nyata menuju dunia mimpi.

"GYAAA!"

Srakk...! Srakk...!

Seruan itu menyentakkan Heiji. Ia kira baru saja ia menutup matanya. Ia terduduk tegap dan melihat sekeliling. Ia tak terlalu mendengarkan suara siapa yang meneriakkan namanya itu. Jadi ia memutuskan untuk mengabaikannya dan menganggap ia hanya bermimpi. Lagi pula, kesadarannya dari terbangun tadi hanya setengah. Ia kembali menutup matanya karena merasa masih mengantuk.

"HEIJI!"

Kali ini suara itu begitu keras, dan kembali menyentakkan Heiji yang baru saja akan terjun ke alam mimpi lagi. Dan kali ini Heiji merasa dirinya sudah sepenuhnya sadar, dan segera melompat menuruni pohon yang menjadi tempat sandarannya. Ia tahu suara itu, tentu saja. Itu adalah suara Shinichi.

"Shinichi?!" panggilnya. Ia berjalan ke bagian luar pepohonan menuju tanah lapang luas yang masih gelap itu. Menoleh ke sana kemari sambil menyenterkan arlojinya ke segala arah untuk mencari Shinichi. Tapi nihil.

Srakk..!

Heiji berbalik dengan cepat, menuju arah datangnya suara dari balik kerimbunan tumbuhan ilalang di sana, di balik pepohonan yang tadi Shinichi lihat. "Shinichi? Kaukah itu?" tanyanya was-was.

"Heiji! Di sini! Tolong aku! Cepat!" balas Shinichi panik.

Heiji segera berlari menuju asal suara dan melihat ke kiri dan ke kanan di tengah kerimbunan ilalang dan semak-semak, menghasilkan bunyi gesekan antara dirinya dan semak-semak itu. Ia mencari Shinichi yang entah ada di mana. Ia menjadi heran sendiri. Apa Shinichi berencana mengerjai dirinya? Tidak. Kalau Shinichi berusaha untuk mengerjai dirinya, ia tak mungkin berteriak dengan nada panik seperti itu.

"Heiji, aku di bawah sini," panggil Shinichi dari arah bawahnya.

Heiji segera menoleh ke bawah dan melihat samar-samar sosok seseorang yang sedang menggantung di sana. Shinichi berpegang pada sebuah dahan tipis yang kira-kira dapat menahan bobotnya sekitar beberapa menit lagi sebelum patah. Ia cepat-cepat bergerak ke bawah dan menjulurkan tangannya untuk menarik Shinichi.

Ia tak tahu kalau ada jurang juga di sini. Bagaimana mereka membuatnya?

Shinichi dengan susah payah melepas genggaman tangan kanannya dari dahan dan meraih lengan Heiji yang berada di atasnya. Dan dengan kekuatannya, Heiji menarik Shinichi secara cepat ke atas permukaan tanah. Shinichi menengadah melihat Heiji, dan terlihat sedikit terpaku saat sinar bulan di atas langit berpendar terang setelah ditinggal awan tebal. Shinichi menopang kakinya pada dahan yang tadi menjadi tumpuan tangannya, dan mendorong dirinya menuju ke atas. Tepat pada saat itu, dahan tersebut patah dan menggantung dengan selapis kulit dahan yang tipis sebelum akirnya jatuh ke bawah.

Heiji menghela napas lega dan menatap Shinichi yang duduk di sampingnya sambil mengatur napasnya secara teratur. Sinar bulan yang kini menerangi lingkungan di sekitar sana dengan cahaya remangnya membantu Heiji melihat ke arah Shinichi.

"Arigatou," ucap Shinichi sambil menoleh pada Heiji.

"Tidak apa," balas Heiji singkat. Ia tak tahu harus mengatakan apa.

Shinichi menghela napas sekali lagi, dan beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah samping Heiji.

"Ada apa?" tanya Heiji sambil mengikuti arah jalan Shinichi. Ternyata ia berhenti di bawah pohon di samping Heiji, tepat di pinggiran jurang yang tadi tempat Shinichi bergantung tadi—hanya berjarak setengah meter— dan mulai memanjat. "Hei!"

"Tunggu saja di situ. Aku melihat benda bagus," ujar Shinichi sambil terus memanjat sampai dahan kecil ke dua, yang berjarak sekitar empat setengah meter dari permukaan tanah. Ia bergerak menuju ujung dahan kecil panjang yang mengarah ke arah jurang dan hendak meraih sesuatu di ujung itu.

Saat itulah Heiji melihatnya. Sebuah kunci bermata berbentuk persegi berwarna perak dengan rantai yang menggantung di ujung dahan.

Oh ya, tentu saja. Syair itu, ingat?

Dengan sinar rembulan yang menyamarkannya,
Kau akan menemukannya

Sinar bulan hanya menyamarkan benda itu, tapi sekaligus memberitahu bahwa benda itu berada di sana. Kunci itu akan bersinar pada saat sinar bulan mengenai permukaannya. Dan Shinichi melihatnya pada saat Heiji menariknya.

"Hati-hati!" Heiji memperingati.

Shinichi mengangguk mengerti dan melangkah pada dahan itu dengan merangkak di atas dahan. Ia merangkak secara perlahan beberapa langkah sampai akhirnya tangannya dapat meraih kunci berantai perak itu. "Got ya," gumam Shinichi sambil tersenyum puas.

Heiji hanya tersenyum melihatnya. Misi pertama mereka telah selesai. Dan satu masalah terpecahkan.

Krak...

Suara itu mengagetkan Heiji dan Shinichi. Tapi mereka sudah terlambat saat menyadari apa yang sedang terjadi. Tidak mungkin Shinichi harus melompat untuk menyelamatkan diri. Jaraknya dari permukaan tanah jauh, apa lagi dia juga sedang berada di dahan panjang itu.

Krak..!

"Uwaaa!" pekik Shinichi saat dahan itu patah sepenuhnya dan menghantar dirinya ke arah bawah sana.

"Shinichi!" seru Heiji.

Dan dalam beberapa saat, Heiji tak lagi mendengar apa pun. Hanya semak-semak yang mendesir saat angin pelan berembus. Ia tahu. Seharusnya mereka tidak mengambil langkah yang gegabah. Mereka terlalu terburu-buru. Dan seharusnya mereka tidak perlu melakukan tindakan yang dapat menyebabkan hal seperti ini terjadi.

Heiji mengumpat kesal. "Kuso!"

.

Kudou Shinichi

Mouri Ran

Hattori Heiji

Toyama Kazuha

Kyogoku Makoto

Suzuki Sonoko

Kuroba Kaito

Nakamori Aoko

Hakuba Saguru

Koizumi Akako

Tomoaki Araide

Miyano Shiho

_Tsuzuku_

Mini Glosarium :

Gomen: Maaf

Baka: Bodoh

Bento: Bekal

Kuso: Sial

.

Yohoo, minna tachi! ^o^

Saya balik dengan chapter dua! Dan sebelum itu... hontou ni gomennasai atas keterlambatannya yang begitu lama!*Bow Udah tiga bulan kan ya? O.o Lama banget ya? ^^"

Ehehe.. Apa boleh buat. Sebenarnya habis Ujian Nasional, aku lagi ngikut lomba nulis di projek ulang tahunnya Yamada Ryosuke(cek di google bagi yang engga tahu. xD Sekalian Hey! Say! JUMP. xD*promosi#plak). Dan ternyata tenggang waktunya dipercepat dan aku ga tahu. T.T Jadi terakhirnya gitu deh. Ahaha.. xDTerus, habis itu, aku disibukin sama urusan sekolah, dll. Sampai liburan, pingin lanjut fic,itu komputer malah rusakk, CPUnya gak mau jalan! ;A;*tendang CPU Sampai akhirnya, hidup lagi. Terus sekarang malah ga hidup-hidup! Ya udah, aku lanjutnya pake laptop nee chan, yang terus-terusan dipakai. Hari ini deh, baru bisa lanjut, sama kemarin malam, mati lampu pula! -_- Untung cuma bentar. Hehe.. xD

Lha, kok malah curhat ya? xD Udahlah, lanjut!

Yang chapter ini, aku ga tahu mau ngomen apa. ._.v Ini rumit. Mana sempat mampet di tengah jalan. T.T Dan jujur, ini melenceng dari ide awal. ;A; Gegara sibuk sama sekolah, jadi lupa, jadi aku hanya berusaha untuk menyambung-nyambungkan ide-ide yang ada di otak waktu lanjut fic ini. '.'/

Jadi, kalau misalnya pada bilang fic ini kurang seru, aku ngaku salah. '.'/*bow

Dan, gimana ujian semester duanya? xD Nilainya pada bagus semua kan? =D Ada yang dapat ranking? X3*eh

Udahlah, lanjut! xD, Sekarang, balasan REVIEW! xD Sankyuu banget yang udah Review fic gaje ini! Ahaha..! xD

Conan-chan dan Conan-san mentantei :

Yohoo! Yoroshiku mo ne! ^^ Ah, itu, bukan. ^^ Itu maksudnya bertudung. 'v'! Mungkin aku salah ketik. Ahaha.. Gomen ne! ^^" Itu, maksudnya mereka pakai jubah bertudung yang kaya Dementor di film Harry Potter. xD Tapi ini warna ungu gelap. =D Lalu, apakah kalian adalah orang yang sama? Soalnya isi dan waktu reviewnya sama. ^^/ Sankyuu yah, udah baca fic dan mereview ini. =D

Toyama Ichiru chan :

Yo! Ichiru chan! xD Gimana? Ini udah update! Haha.. x3 Dan, sankyuu udah ngoreksi! xD Membantu sekali! ^^ Sankyuu juga udah ngefollow n baca Fic ini, dan reviewnya tentu saja! xD

Hi-chan :

Hai, Hi chan! xD Iya, ga papa. =D

Iya dong! xD Aku mau masukin rokoh-tokoh yang jarang keliatan di komik DC. Hehe.. ^^ Tapi di chapter ini mereka ga banyak muncul juga ya? -_- Soalnya tokoh utamanya pan Shin sama Heiji. xD*eh Sankyuu pujiannya. xD Apa chapter ini masih misterius? X3 Oh iya, cliffhanger itu apa ya? xD

Ini udah update! Hehe.. xD

Sankyuu udah baca dan review! ^^

Aster-bunny-bee :

Wah! xD Aster-chan juga ujian? Kelas IX juga? X3 Eh... Ini udah lebih panjang dari chapter satu. Bagaimana? xD Masih kurang panjang? X3 Sankyuu sarannya! xD

Eh? Justru aku yang mesti bilang sankyuu udah baca dan review Fic gaje ini. xD Sankyuu ya! Dan, salam kenal juga! X3

Guest :

Wah... Kelas 9 juga! X3 Bagaimana ujiannya? Bisa? X3

Sankyuu semangatnya! ^^ Bagaimana? Sudah baca chapter pertamanya? Ahaha.. Ini malah udah chapter dua lho! X3 Dan, ga papa kok, kalau reviewnya panjang. xD Aku senang sekali kalau ada yang review! X3

Sankyuu yah, udah direview! =D

.

Nah, sekian untuk chapter dua ini! xD

Aku gak janji bakal lanjut fic ini dalam waktu dekat lho! ^^ Tergantung pada kondisi (CPUnya jalan, laptop lagi dipakai atau engga, internet connect, ide cerita, dan pulsa) yang ada. xD Tapi mungkin para readers bakal nunggu lama lagi nih. ^^"

Bisakah kalian menunggu chapter selanjutnya? X3

Dan...berkenan memberi review lagi? xD

Review, readers tachi? ^o^/

.

-Ryuzaki Miki-

.