Permata Ungu
Summary:
Rukia menutup mata. Aizen menciumnya lembut, tak mendesaknya. Sensasi hangat mengaliri perutnya. Tangan Aizen yang bebas menyentuh pipinya. Lagi-lagi Rukia merasa terbang ke dimensi lain, di mana eksistensi yang ada hanyalah sentuhan Aizen, deru napasnya yang menggelitik pipi, dan pagutan lembutnya .AU.
Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.
Chapter 13
.-.-.
Rukia dulunya menyangka Aizen tak lebih dari pria jahat yang hobi menghancurkan hidup orang. Tapi setelah beberapa lama di Las Noches, meski tidak rela, dia mengakui bahwa rupanya dia pria bertanggung jawab. Bukan, bukan bertanggung jawab karena bertindak tidak senonoh pada wanita. Bukan pula insaf karena sudah bersikap kurang ajar.
Tak heran jika rumor mengatakan dia pria yang disegani sekaligus ditakuti. Aizen pria yang luar biasa. Pagi-pagi dia sudah berada di kantor, meneliti laporan atau mengamati gambar yang dikirim ke Las Noches sebagai sentra pemerintahan. Ketegasan jelas tampak di rautnya, yang pada akhirnya diakui Rukia termasuk dalam kategori rupawan. Yah, lumayan ganteng, tegas Rukia agak malu. Dibandingkan Byakuya, tentu saja Aizen masih kalah. Sedikit. Uhm. Benar-benar kalah, paksanya dalam hati. Rukia tidak tahu pasti berapa usia Aizen, namun kelihatannya lebih tua dari Byakuya. Tebaknya, Aizen masih di awal tiga puluhan. Benar-benar usia matang yang membuat aura memancar dan mempesona. Ketika berjalan, kakinya yang panjang seolah ringan menapak lantai. Atau tanah. Atau di mana pun pria itu berada. Rambutnya yang ikal kadang dipermainkan angin nakal. Jaket atau jubah yang dikenakannya membungkus tubuhnya dengan sempurna. Kadang kala bahkan ototnya tergambar jelas dari balik baju yang dikenakannya. Tak ingin larut dalam penilaiannya pada fisik Aizen, yang alih-alih membuat Rukia sebal tapi malah membuatnya bingung karena kontradiksi pikirannya, Rukia berhenti menatap pria itu lama-lama.
Gin Ichimaru tak sungkan menyapanya. Wajah mengerikan Gin mengingatkan Rukia pada serigala. Nel meralat perkataannya, bahwa rubah sebenarnya jauh lebih cocok sebagai perumpamaan untuk pria berambut perak itu. Tapi sambil mendengus Rukia menangkisnya. Rubah terdengar terlalu naïf dan manis bila mengingat tanpa ampun Gin sudah membuat Renji terluka. Seolah tak melihat rona pucat dan aura membunuh dari Rukia, Gin tetap menyapanya dengan ceria dan riang gembira. Atau memang Si Kurus itu tak bisa melihatnya karena matanya selalu menyipit. Rukia tidak menyukainya. Walau selalu memasang tampang bengis, Rukia gagal membuat Gin sadar bahwa gadis itu berusaha menakutinya. Bahkan suatu kali dengan sopan Gin bertanya apakah sang Nona Kuchiki itu sakit perut. Namun keberadaan Gin seperti debu bandel yang selalu datang dibawa angin – tak dapat dihindari.
Selain Nel, Tosen adalah orang favorit Rukia. Gadis berambut seterang tinta itu tidak tahu apakah Tosen juga termasuk orang berbahaya, tetapi wajah teduhnya menimbulkan simpati. Sama sekali berbeda dengan rupa tirus Gin atau tampang urakan Grimmjow! Senyum teduh di wajah gelapnya bagai matahari cerah di Las Noches yang kelabu.
.-.-.
Sejak siang, gerimis rintik-rintik sudah membasahi bumi Hueco Mundo. Tak banyak yang bisa dilakukan Rukia. Gadis itu mulai bisa menerima keadaannya. Kalau tak sedang berkeliling bersama Nel, dia menanam bunga di petak kecil tak jauh dari kamarnya. Jika hujan seperti hari ini, dia duduk di depan perapian sambil membaca. Nel membuatkan minuman herbal yang membuat tubuhnya hangat. Menakjubkan sekali khasiat rempah-rempah yang ditumbuk dan dihaluskan itu. Selain tubuh terasa hangat, pikiran juga jadi rileks. Atau mungkin karena hawa dingin Hueco Mundo yang membuat orang malas berpikir negatif karena otak mereka beku duluan. Rukia hanya mengangkat bahu.
Dari balik jendela lebarnya Rukia mengamati hujan yang perlahan berubah jadi gerimis rintik-rintik, sebelum akhirnya curahan air dari langit itu berhenti. Dahan pohon-pohon dan batang bunga melambai-lambai tertiup angin. Dirinya yang berada di depan perapian tak merasakan dingin, namun Rukia menduga hawa di luar sana pasti menggigit tulang. Super dingin.
Gadis itu bergerak cepat menuju jendela ketika arakan putih menyerbu halaman. Dia menyangka ada orang yang membakar sesuatu dan asapnya terbawa angin sehingga sampai ke sana. Matanya yang bundar mencari-cari sumbernya, tapi gagal. Takjub, Rukia keluar dari kamarnya dan menuju balkon supaya bisa melihat dengan jelas.
Bahkan aroma yang memenuhi udara sangat unik. Aroma alam bercampur air, daun dan ekstrak lain.
"Kenapa, Nona Rukia?" tegur Nel. Wanita jangkung itu mengikuti Rukia.
Rukie mengedikkan kepala. "Nel, apakah ini…kabut?" tanyanya ragu.
Nel tersenyum tipis. Sebelumnya dia menduga Rukia berlari karena ada sesuatu yang sekiranya berbahaya. Namun, apa sih bahaya yang bisa terjadi di kompleks istana dalam Las Noches? Penyusup tidak memiliki kesempatan masuk karena penjagaan Las Noches berlapis-lapis.
"Benar, ini kabut. Belum pernah lihat?" Nel balik bertanya.
Rukia terperangah. "Kabut yang kulihat tidak seperti ini. Hanya mengambang di udara dan tidak pernah sampai ke tanah seperti ini," urainya.
Mata Nel ikut melihat kabut. Angin membawanya mengisi tempat-tempat di sekitar mereka. Pertamanya seperti asap dari sesuatu yang dibakar, namun kesegaran dan keunikannya menyatakan bahwa si kabut putih kelabu itu alami. Anehnya kabut itu terlihat jernih, tidak kusam.
"Hueco Mundo tempat yang kelabu," cerita Nel. "Daerah sini tergolong dataran tinggi, curah hujannya tinggi dan udaranya ekstrim bila dibandingkan dengan tempat lain, namun itulah keunikannya: menimbulkan suasana mistis dan anggun, menurutku."
"Kelabu," gumam Rukia sambil lalu. "Kukira kelabu sama dengan tempat berpasir yang terlupakan dan tandus."
"Persepsi orang tidak sama, tapi Hueco Mundo ternyata berbanding terbalik dengan bayanganmu," sambung Nel.
Kabut menghilang beberapa saat kemudian, tapi setelah matahari terbenam, pemandangan di luar tampak pekat. Kabut datang lagi. Tempat tinggal kawan-kawan baru Rukia sungguh jauh berbeda dengan rumahnya di Seireitei dan Karakura. Petang itu masih muda tetapi terlihat sudah malam. Gadis bertubuh pendek itu sampai di halaman ketika Aizen menyapanya.
"Mau ke mana?" tanyanya.
Rukia berhenti beberapa langkah di hadapan Aizen. "Melihat kabut," jawabnya singkat.
Aizen tersenyum kecil. "Kau sudah makan?" Rukia menggeleng. "Di sudut sebelum Las Noches ada tempat makan enak. Bagaimana kalau kita makan di sana? Sekalian menembus kabut."
Rukia tidak tahu pasti apakah pria berambut ikal itu serius dengan ucapan menembus kabut. "Boleh," jawabnya pelan.
Mereka berjalan beriringan keluar Las Noches. Ternyata istana itu jauh lebih luas daripada yang Rukia bayangkan. Beberapa prajurit mengangguk hormat ketika mereka lewat.
Rasanya aneh ngobrol dan berjalan bersama Aizen. Aneh tapi bukannya tidak menyenangkan. Pria di sampingnya tampak santai. Dia tidak mengenakan pakaian resmi. Jaket dan baju hangat berwarna tanah tampak pas sekali dengannya. Rautnya menandakan seseorang yang rileks.
"Tidak apa-apakah kita keluar tanpa Gin atau Grimmjow?" tanya Rukia.
Aizen menaikkan alis. "Aman, kok. Aku juga bisa melindungi diri, lho," jawabnya kalem.
Aizen yang makan mie ini tidak tampak berbahaya sama sekali. Diam-diam Rukia tidak habis pikir melihat pria yang bila bekerja terlihat tangguh kini tampak seperti pria normal. Yah, normal seperti penduduk kebanyakan. Dengan bonus kharisma yang menempel seperti lintah.
.-.-.
Byakuya menarik bibir. Dia lega mengetahui Rukia baik-baik saja di Las Noches. Pria itu tak jemu-jemunya memandang beberapa foto yang terhampar di meja kerjanya. Di sebelah kiri tangannya tergeletak surat dari Aizen telah dibacanya, memberitahukan bahwa Rukia kembali ceria.
Pria berambut hitam itu menarik napas panjang. Mata letihnya memandang lukisan Rukia di seberang ruangan. Kenyataannya, kini dia harus menarik ucapan yang dahulu dilontarkannya pada Renji. Byakuya pernah berkata bahwa gambar Rukia masuk dalam kategori gambar termahal di dunia karena hanya terdapat di ruangan khusus miliknya. Kini potret adiknya itu tidak seeksklusif seperti dulu, karena rupanya Aizen mengabadikan beberapa gambarnya kemudian mengirimkannya ke kediaman Kuchiki sebagai bukti bahwa dia tidak menyakiti gadis muda itu.
Sudah dua bulan lebih berlalu namun semua usahanya membawa Rukia kembali tidak membuahkan hasil. Byakuya mulai putus asa. Di satu sisi dia tak ingin membahayakan Rukia, di sisi lain dia merasa sebagai seorang kakak, kewajiban untuk mempertahankan Rukia gagal. Renji berkali-kali mengutuk dirinya sendiri dan meminta maaf pada Byakuya, tapi sama sekali tak terbersit pikiran untuk menyalahkan Renji.
Pria yang dipungutnya saat kecil itu sudah sembuh. Gin tidak melukai organ-organ vitalnya, namun kaki Renji terluka cukup parah. Pemuda berambut merah itu masih kesulitan menggunakan kakinya untuk sekedar berjalan. Meski begitu Byakuya yakin Renji tidak akan menolak bila dia memintanya pergi ke Las Noches.
.-.-.
Gin menyeringai. Matanya tetap menyipit namun dia memperlihatkan gigi-gigi runcingnya. Dengan tenang Si Rubah itu menghampiri pemuda yang berdiri kaku di depannya.
"Tak kusangka kita bakal ketemu di Las Noches," sapanya ceria.
Renji hanya menatap dingin. "Sebenarnya aku tak sudi melihat mukamu lagi," ujarnya pedas.
Gin malah nyengir. "Hei, aku tersinggung, lho," komentarnya ringan.
"Minggir!" gertak Renji. Dia bukan tipe pendendam, tapi pemuda itu tak bisa mengenyahkan rasa sengitnya pada Gin. "Aku bukan mau berkelahi denganmu."
"Aku juga tak sudi menyerang kawan yang tanpa perlindungan," sahut Gin.
"Jangan menyebutku 'kawan'!" bentak Renji. Seperti Byakuya, dia juga melewati proses pemeriksaan di gerbang Las Noches. Dia tak membawa pedang atau senjata lain.
Gin terkekeh.
"Kau kelihatannya gembira," sindir Renji. Tawa Gin semakin keras.
"Aku senang bertemu orang yang tangguh," kata Gin.
Sambil melengos, Renji memilih mengacuhkan Gin dan terus masuk ke taman istana dalam. Dengan terpincang-pincang, dia berusaha melewati salah satu orang kepercayaan Aizen itu. Sayangnya Gin menarik bahu Renji. Kemarahan Renji muncul karenanya. Dia melayangkan kepalan tangannya. Sigap, Gin menangkisnya, membuat Renji mengernyit. Ternyata cengkeraman tangan penuh tulang Gin sangat kokoh.
"Meski pada akhirnya kau kalah dariku, kuakui kau kuat," lanjut Gin. Seringainya tak kalah menyeramkan dari serigala.
"Bedebah!" umpat Renji keras-keras.
Bukannya marah, Gin terlihat senang mendengarnya.
Renji sudah siap melontarkan geramannya ketika Rukia muncul.
Kedua pria itu menoleh.
"Renji!" pekik Rukia keras. Mata besarnya berbinar, senyuman lebar terbingkai jelas di wajah kecilnya.
Renji melupakan kepalan tangannya yang sakit. Dengan kasar dia menyentaknya sehingga terlepas dari Gin. "Rukia…" gumamnya pelan. Rahangnya yang keras kini mengendur. Akhirnya dia bisa melihat gadis yang jadi sumber penyesalannya. Dia terpana. Pemuda penuh tato itu bahkan tak bergerak saat Rukia menghambur ke arahnya dan memeluknya.
Diam-diam Gin meninggalkan mereka berdua.
"Aku kangen," ujar Rukia. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Kikuk, Renji mengusap kepala Rukia. Dia tak terbiasa dipeluk. "Aku juga," bisiknya pelan. "Kami semua merindukanmu."
Tanpa bisa ditahan, Rukia menangis. Janjinya bahwa dia tak akan lagi meneteskan air mata malah diingkarinya sendiri. Dia bahagia melihat kawan karibnya itu. Tak hanya rasa senang, gadis itu juga merasa sedih, bingung dan entah perasaan apa lagi yang tak diketahui namanya. Pelukannya di pinggang Renji semakin erat.
"Rukia, kau membuat bajuku basah," tegur Renji walau tak ada nada kesal dalam suaranya.
Rukia tertawa. Baju Renji meredam suaranya. Dia melepaskan pinggang Renji dan mengusap air mata di pipinya. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Rukia.
Renji berdehem. Suaranya parau. "Seperti yang kau lihat," jawabnya. "Kau?"
"Aku sehat," ujar Rukia. Dia menyeret teman kecilnya itu ke bangku terdekat di bawah pohon cherry. Tadi pagi Aizen memberitahunya bahwa keluarga dari Seireitei diperbolehkan menjenguknya. Gadis itu nyaris tak mempercayai pendengarannya. Yang ada di benaknya adalah Byakuya. Tapi dia sama sekali tak merasa kecewa mendapati Renjilah yang datang. Dia cukup paham dengan pernyataan Renji yang mengatakan Byakuya agak tidak enak badan. Pasti ada sesuatu di balik absennya.
Dalam hati Renji lega. Rukia tampak sehat. Matanya tak kehilangan sinar. Gadis itu adalah salah satu dari sedikit orang yang istimewa bagi Renji. Melihatnya terluka bisa mendorongnya bertindak kejam. Namun, Rukia yang berceloteh tak henti-hentinya meyakinkan Renji bahwa nonanya itu baik-baik saja.
Tak kalah bersemangat, Renji menjawab semua pertanyaan Rukia. Dia memberitahunya bahwa dia dan Shirayuki tak kembali ke Karakura dan memutuskan tinggal di Seireitei. Tentu saja Renji tidak menambahkan bahwa butuh waktu sebulan lebih supaya dia pulih dari luka-luka yang ditorehkan Gin.
Bagi Rukia, waktu terasa cepat berlalu. Tahu-tahu petang menjelang. Matahari sudah bergulir ke arah barat. Sudah waktunya Renji pulang, tapi dia tak rela melepasnya pergi.
"Renji…" panggilnya lirih. Matanya kembali sedih.
Wajah Renji tak kalah murung, namun bagaimana pun dia adalah laki-laki tangguh. Renji menghela napas berat. Sekali lagi diamatinya gadis muda di sampingnya. "Andai saja aku bisa membawamu ke Seireitei saat ini juga, apa pun akan kulakukan," ujarnya pelan. "Tapi keselamatanmulah yang paling utama. Maafkan aku Rukia, aku belum mampu melakukannya."
Barulah Rukia tersadar, dia sudah membuat Renji khawatir. Dia benci mengakuinya, tapi lagi-lagi Rukia merasa kekanakan. Karena itu, sambil memaksakan senyum, dia menggeleng. "Aku baik-baik saja, Renji."
Renji agak tercengang. "Kau berubah, Rukia," tukasnya. Rukia yang dulu pasti sudah merengek dan memaksanya.
Rukia mengangkat bahu, yang terasa berat. "Aku tambah tua, Renji, sudah seharusnya juga tambah dewasa."
Renji memberi nona itu seulas senyum. Teringat sesuatu, dia merogoh sakunya. "Ah, Rukia, aku punya sesuatu untukmu." Dia mengeluarkan kotak kecil dan mengeluarkan perhiasan kecil.
Mata Rukia membulat.
Renji dilanda was-was. Dia menimang gelang emas dengan mata ungu di tangannya dengan ragu. "Aku tak tahu kau suka atau tidak…"
"Ini untukku?" tanya Rukia tak percaya. Matanya tak lepas dari gelang itu, sebelum akhirnya menatap Renji.
"Bukan, ini untuk Aizen," sergah Renji datar. "Kan aku sudah bilang, ini untukmu." Tanpa menunggu Rukia bereaksi lebih jauh, Renji memakaikannya di pergelangan tangan kiri Rukia. Pemuda itu kikuk.
"Ini cantik sekali," gumam Rukia. Jari-jarinya mengusap mata ungu hiasan gelang itu.
"Anggap saja sebagai hadiah dariku," kata Renji. "Aku tak pernah memberimu apa-apa sebelumnya."
"Renji, aku tak minta sesuatu darimu!" potong Rukia cepat. Napasnya memburu. Mata besarnya menyipit.
Renji memberinya senyum kecil. "Aku tak butuh banyak uang. Sedikit sekali yang kubutuhkan."
Mata Rukia nanar menatap gelang yang tersemat menghiasi tangannya. "Terima kasih," ujarnya lirih. "Kau akan datang lagi, kan?"
Sejujurnya Renji tak tahu apakah kesempatan itu akan datang lagi. Tapi dia tak ingin mengecewakan gadis itu. Karena itu dia berusaha terlihat semantap mungkin. "Iya, Rukia, dilain , jangan terlihat sedih, dong," pinta Renji.
Rukia benar-benar merasa diuji. Menyaksikan sahabatnya akan kembali ke Seireitei sungguh menyiksa hatinya. Gadis itu sudah mulai nyaman tinggal di Hueco Mundo, tapi mendapat kunjungan dari teman dekatnya tak pelak membuatnya ingin berada di rumahnya lagi. Namun, sisi lain hatinya meneriakkan bahwa dia tak boleh hanya menuruti hatinya.
Memaksakan senyum sekali lagi, Rukia meyakinkan dirinya bahwa dia tak ingin membuat Renji atau Byakuya khawatir terus-terusan. Sepertinya hal ini membuat hatinya tak lagi keruh. "Aku senang kau mengunjungiku," ujarnya tulus. "Kita pasti bertemu lagi." Rukia optimis mendengar ucapannya sendiri. Binar kembali menghampiri wajahnya. Dia meremas tangan besar Renji.
Kelegaan memancar dari mata Renji. "Benar, aku bisa merasakannya. Cepat atau lambat kita akan bertemu lagi, Rukia."
.-.-.
Aizen tidak suka.
Darahnya menggelegak melihat kebahagiaan di wajah Rukia. Sisi sadis pria itu ingin menghapusnya. Tidak, dia tak senang melihat Rukia sedih, tapi pria itu juga gusar memahami bahwa Rukia luar biasa gembira karena kehadiran Renji. Aizen sudah mempertimbangkan dengan matang dampak undangannya pada orang dari Seireitei. Sengaja yang diperbolehkannya menjenguk Rukia adalah sahabat karibnya. Sengaja dipilih Renji, bukan Byakuya. Rukia yang mulai tegar pasti akan luruh jika kakak yang sangat disayanginyalah yang muncul. Aizen sudah berbaik hati mengundang Renji, tapi kebaikan hatinya cukup sampai di situ.
Jika Rukia gembira, itu harus karena dirinya, bukan karena Renji, Byakuya, atau orang lain.
Rukia menyampaikan rasa terima kasihnya tapi Aizen tak hanya menginginkannya. Yang diinginkan Aizen tak hanya rangkaian kata-kata. Dia menginginkan lebih.
Pria itu terkejut sendiri. Selama yang bisa diingatnya, dia selalu berjuang mendapatkan apa pun. Tapi kali ini, hasratnya untuk memiliki sesuatu –atau lebih tepatnya seseorang- begitu kuat.
Ketika melihat gadis itu makan di seberang, Aizen meniliknya dengan seksama. Rukia tampak kecil dan cantik. Cahaya lampu membuat siluetnya terlihat jelas. Dia rapuh sekaligus kuat. Perpaduan yang tak biasa. Sekelebat keemasan terlihat ketika ujung lengan bajunya tersibak. Mata Aizen menyipit namun dia tak berkata apa-apa.
Selesai makan malam, Rukia hendak beranjak namun urung ketika Aizen menatapnya serius. Postur pria itu tetap tenang tapi mata coklatnya seolah membakar Rukia, membuatnya gelisah dan terpaku.
"Rukia, kau cukup makan, kan?" tanya Aizen.
Hati-hati Rukia mengangguk. "Iya," jawabnya pendek. Dia tak pernah kelaparan di Las Noches.
Aizen menyunggingkan senyum. "Kau juga tak kekurangan baju?" lanjutnya.
Rukia tak perlu khawatir soal pakaian karena baju baru selalu sudah tersedia di lemarinya. Seorang wanita sudah mengukur tubuhnya sehingga baju-bajunya selalu pas. "Aku tak kekurangan apa pun, Sousuke-sama."
Nama itu lama-lama akrab di telinga dan lidah Rukia. Atas permintaan Aizen sendiri, Rukia akhirnya tidak memanggilnya dengan nama keluarganya.
"Kalau ada yang kau inginkan, katakan saja," imbuh Aizen. "Aku bisa memberimu apapun, kau tahu, bukan?"
Walau percakapan mereka terdengar kalem, aura keseriusan perlahan mengisi ruangan itu.
Mata Rukia tak bisa lepas dari Aizen. "Aku tahu," sahutnya pelan.
"Kalau begitu, tak ada salahnya kalau kau jadi milikku," ujar Aizen. Wajahnya berubah serius.
Rukia memerah. "A-apa maksudmu?" tanyanya tergagap. Kata 'milik' nyaris membuat keningnya berkerut.
"Menikahlah denganku."
Saat itu seolah seluruh dunia berhenti. Rukia tak melihat apa pun selain pria yang kini mengulurkan lengan panjangnya dan merangkum tangan kecil Rukia dalam tangan lebarnya. Gadis itu hanya mampu berkedip. Tubuhnya serasa lumpuh. Yang mampu dirasakannya hanyalah jari-jari Aizen.
"Tidak ada ruginya untukmu, Rukia," lanjut Aizen. "Aku bisa memberimu perlindungan dan naungan. Kau tak perlu mencemaskan apa pun karena ada aku."
"Uhm…" Rukia ingin berkata sesuatu tapi tak tahu apa.
"Kau tak akan ke mana-mana. Sejak kau menginjakkan kaki di sini, Hueco Mundo telah jadi rumahmu. Sejak saat itu dan seterusnya. Selamanya." Aizen mengusap punggung tangan Rukia dengan ibu jarinya, membuat pola lingkaran kecil.
Rukia tak pernah sekali pun membayangkan akan dilamar oleh seseorang. Terlebih jika orang itu adalah Aizen. "Kenapa…kenapa harus menikah denganmu?" tanyanya terbata.
"Karena aku tak akan meninggalkanmu."
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Jantung Rukia bertalu-talu memukul rongga dadanya. Telinganya hanya mampu mendengar detaknya.
"Dan karena kau tak akan meninggalkan Hueco Mundo."
Tangan Rukia mulai bergetar. Jari-jarinya yang mulai kebas dalam genggaman Aizen juga perlahan gemetar.
Mata Aizen seolah menghipnotisnya. Walau tubuhnya panas dingin, Rukia tak mampu sekedar menunduk atau memalingkan wajah. Dia seakan tertarik oleh kejernihan mata itu.
Aku pria yang tepat…
Perlindunganku tak terkalahkan…
Kau membutuhkanku…Tak akan kekurangan apa pun…
Hueco Mundo adalah rumahmu…
Kalimat-kalimat itulah yang terngiang-ngiang di telinganya. Mata Rukia mengikuti Aizen yang perlahan beranjak dan menuju dirinya. Kepalanya mendongak. Tak sekali pun Aizen melepaskan pandangannya. "Bagaimana, Rukia Kuchiki?" bisiknya sebelum menunduk dan menyarangkan bibirnya ke bibir Rukia.
Rukia menutup mata. Aizen menciumnya lembut, tak mendesaknya. Sensasi hangat mengaliri perutnya. Tangan Aizen yang bebas menyentuh pipinya. Lagi-lagi Rukia merasa terbang ke dimensi lain, di mana eksistensi yang ada hanyalah sentuhan Aizen, deru napasnya yang menggelitik pipi, dan pagutan lembutnya.
Ketika ciuman yang entah berapa lama berlangsung itu usai, Aizen menarik wajahnya, tapi tetap menjaganya beberapa senti dari Rukia. Matanya yang biasanya coklat jernih berubah gelap, hampir sewarna dengan sang pupil.
Segala pikiran seperti melesat meninggalkan kepala Rukia. Yang diketahui nona muda itu, otak maupun hatinya berputar mengelilingi pria yang tetap mengganggam tangan dan pipinya itu.
Suara serak yang keluar dari bibirnya terdengar asing.
"Aku bersedia."
.-.-.
TBC
A / N: Setelah chapter ini, progress Permata Ungu tidak akan lambat. Jalan cerita akan berjalan cepat karena sandungan-sandungan, bebatuan dan kerikil sudah dilewati Aizen dan Rukia. Terima kasih untuk teman-teman yang masih berkenan membaca cerita ini (^_^).
