Chapter 3

Temukan kunci gemini sang penjaga waktu
Dengan sinar rembulan yang menyamarkannya,
Kau akan menemukannya

-The Time Labyrinth-
-Chapter 3-

Ran melirik ke arah kirinya. Sonoko dengan tenangnya berbaring di atas rerumputan hijau yang membuat kakinya gatal. Gadis berambut pendek itu memejamkan matanya dengan tenang. Baru kali ini Ran melihat tidur Sonoko yang tenang. Biasanya kan, yah, rada-rada berantakan. Kali ini kedua telapak tangan Sonoko dijadikan sebagai pengganti bantal.

Ran sendiri hanya duduk dan bertumpu pada kedua kakinya yang merapat ke tubuhnya. Di sekelilingnya hanya kegelapan yang ada. Walaupun dia juga sudah dapat membiasakan diri dengan cahaya remang-remang dari atas sana, dia tetap saja merasa sepi. Sementara teman-temannya yang lain ia tak tahu sekarang ada di mana. Mereka berpisah lantaran banyak cabang yang ada di labirin. Dan karena sama-sama memutuskan untuk cepat-cepat menyelesaikan misi ini dan keluar dari wahana sebelum malam terlalu larut, mereka berpencar.

Ran dan Sonoko berdua. Tentu saja. Sementara Kazuha dengan Akako, Shiho dan Aoko.

Ia menghela napas dan kembali melihat ke depan. Sungai dangkal membentang di hadapannya. Permukaannya memantulkan cahaya bulan dan bayang-bayang daratan yang berjarak beberapa meter di sebarang sana, yang tak kalah gelap dari tempat yang sedang ia duduki. Ia berasa familiar dengan suasana ini. Entah kenapa, dan bahkan kapan ia pernah merasakannya, ia tak tahu. Tapi yang pasti, ia pernah melihat hal ini sebelumnya, situasi seperti dirinya ini.

Tiba-tiba saja pandangan matanya menangkap sesuatu di seberang sana. Sebuah bayangan yang lebih gelap dari pada bayangan benda di sekelilingnya. Bentuknya meninggi seperti batang pohon kembar. Pada awalnya itu nampak seperti pada pohon kecil tanpa dedaunan yang makin tinggi—dan barulah disardari oleh Ran kalau kedua benda itu bergerak.

Bergerak mendekati permukaan air danau—menuju dirinya dan Sonoko.

Matanya membulat. Ia segera mengguncang-guncangkan tubuh Sonoko. "Sonoko! Bangun!" Namun Sonoko bergeming. Ran melirik apa yang dilihatnya tadi. Tapi ia sama sekali tak menemukan apa-apa lagi di sana. "Eh?" bingungnya. Ia menelisik pepohonan di sana—sama sekali tidak ada apa-apa. Apa ia hanya salah lihat?

Mungkin saja, pikirnya.

"Ran?"

Suara yang –dalam pendengaran Ran—seram itu berbarengan dengan sebuah tepukan di bahu kanan Ran.

"K.. KYAAAA!"

"Kau dengar itu?" bisik Kazuha pada Akako yang berjalan di samping kirinya. Suasana di mana mereka berpijak saat ini benar-benar gelap dan hening. Tapi baru saja dipecahkan oleh suara gema jeritan yang entah berasal dari mana.

"Apa?" balas Akako takut-takut sambil menoleh pada gadis berambut cokelat kemerahan itu. Mereka terus melangkah maju di dalam semak-semak belukar tanpa tentu arah. Setelah tadi berpisah dengan Ran-Sonoko-Shiho-Aoko, mereka langsung memasuki sebuah hutan tak berujung seperti ini. Bahkan menurut Kazuha, mereka sepertinya hanya berjalan di tempat, mengelilingi sudut yang sama di setiap waktunya.

Dan waktu. Benar. Ia juga merasa bahwa waktu cepat sekali berlalu. Baik di jam tangannya maupun di tempat ini. Semuanya terasa aneh—janggal. Tak pernah ada matahari yang tenggelam begitu cepat di musim panas seperti ini. Dan jam tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul 11 lewat 45 menit? Yang benar saja!

"Suara jeritan tadi," pekik Kazuha tertahan dengan raut wajah takutnya.

"Aku tak mendengar apa pun!" bantah Akako bersikeras.

Mungkin saja ia benar. Mungkin Kazuha salah dengar. Atau tadi hanyalah suara burung hantu di malam hari. Tapi... ia sama sekali tak melihat sejenis hewan pun selama mereka di sini. Jangankan burung hantu. Semut saja ia tak lihat!

"Mu.. Mungkin aku salah dengar," Kazuha menelan rasa takutnya. Ia tak mau memperburuk suasana dengan rasa takutnya yang berlebihan. Ia harus berpikir positif saat ini kalau tak mau sesuatu yang buruk terjadi—atau membuat dirinya semakin paranoid gara-gara suasana suram ini.

"Sudah pasti," Akako menyetujui dengan cepat. Ia menghentikan langkahnya, menatap ke atas, di mana cahaya bulan merembes masuk melalui sela-sela dedaunan pohon yang tinggi menjulang di sekeliling mereka.

Kazuha mengikutinya. Ia menyipitkan mata. Rasanya ia teringat sesuatu tentang sinar yang memancar dengan pucat tersebut. Sinar yang berasal dari bulan—oh. "Gambar yang ada dalam gulungan perkamen, ingat?" tanya Kazuha.

"Kau memikirkan hal yang sama ternyata," ujar Akako sambil menyunggingkan senyum kecil tanpa menoleh pada Kazuha. "Ayo. Aku teringat syair itu... dan tentang bulan." Ia berjalan ke depan sambil melihat ke atas, memperhatikannya dengan seksama setiap sela yang ada.

Diam-diam Kazuha bedecak kagum pada Akako. Selain cerdas, Akako ternyata pintar menganalisis juga—walau sekarang baru connectnya. Ia mengikuti Akako memperhatikan ke atas. Ia sudah mengira-ngira apa yang dicari mereka di atas sana. Pastilah kunci yang sesuai dengan gambar di perkamen yang mereka dapat itu—yang sekarang ada pada Shiho dan Aoko. Ia juga sudah memikirkannya. Sinar bulan akan membawa mereka pada kunci itu. Dan ia memiliki firasat bahwa mereka akan menemukannya di sini.

"Bingo," gumam Akako tiba-tiba. Ia sudah berhenti berjalan dan menatap ke atas dengan pandangan berbinar senang. Kazuha mengikuti arah pandang Akako.

Dan di sanalah ia.

Bergelantungan di dahan yang berjarak 5 meter dari tanah. Rantai peraknya berayun seiring angin malam berhembus pelan. Dan sebuah kunci yang samar-samar dapat dikenali Kazuha memiliki bentuk yang serupa dengan yang ada di gambar pada perkamen bergantungan di sela rantai, tertarik ke bawah karena adanya gaya gravitasi bumi, memantulkan sinar pucat sang bulan pada permukaannya yang perak mengkilap.

"Jadi... ada yang bisa memanjat pohon?" tanya Akako tanpa mengalihkan pandangannya dari si kunci perak.

Kazuha membatu. Masa' Akako tidak bisa memanjat pohon? Penampilannya kan... ehm... agak 'berbeda'. Maksudnya, yah, susah untuk dideskripsikan. Pokoknya, Kazuha berpikir kalau ia bisa melakukan apa saja.

"Aku," jawab Kazuha akhirnya. Ia mendekati batang pohon yang berada di sebelah kiri mereka dan mulai mengambil ancang-ancang untuk memanjat.

"Kau yakin?" tanya Akako sedikit ragu-ragu.

"Tentu saja. Sejak kecil aku dan Heiji sering bermain besama. Jadi terkadang kebiasaannya juga menular padaku," sahut Kazuha dan mulai memanjat. Ia tersenyum sendiri mengingat masa kecilnya dulu bersama Heiji.

"Maksudmu, kebiasaannya adalah memanjat pohon?" tanya Akako dengan watadosnya.

Seketika Kazuha tergelak. "Tidak. Bukan begitu maksudku. Kau kan tahu kalau anak lelaki itu hobi manjat pohon waktu kecil. Jadi aku mengikutinya," jelas Kazuha setelah tawanya mereda. Ia sudah mencapai dahan yang ditujunya. Dengan cekatan ia menduduki dahan yang cukup besar itu. Cukup membungkukkan tubuhnya sedikit dan menjulurkan tangan sepanjang-panjangnya, maka ia dapat meraih kalung itu.

"Hati-hati!" pesan Akako.

Kazuha mengangguk singkat dan segera meraih kalung itu dengan cepat. Ia menyengir senang saat mendapati tangannya yang memegang kalung itu dengan erat. "Aku mendapatkannya," seru Kazuha ke arah bawah sambil melambaikan kalungnya.

Akako tersenyum dan mengangguk. "Turunlah!" pintanya.

Kazuha mengangguk lagi dan bergerak untuk menuruni pohon besar itu. Baru saja ia mulai menginjak batang pohon, kakinya tergelincir. Ia melebarkan matanya kaget bercampur rasa takut. Wajahnya pucat seketika saat mendapati tangannya yang terlepas dari dahan maupun batang pohon, dan menjerit sejadi-jadinya saat tubuhnya mulai terjatuh ke bawah, siap menghantam tanah yang berjarak 5 meter dari sana.

"Kazuha!" pekik Akako panik.

.

.

.

Bruk!

"Aww!"

Akako menjerit tertahan dan buru-buru menghampiri Kazuha yang sudah jatuh terduduk dengan posisi yang tidak bisa dibilang bagus. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya panik dan berusaha membantu Kazuha untuk berdiri.

"Ya," jawab Kazuha dengan nada heran. Ia meringis saat mendapati betis kirinya yang terbuka menampakkan sebuah goresan vertikal akibat seretan batang pohon sebelum terjatuh tadi, dan mengucurkan darah tipis sesuai dengan bentuk lukanya. Perih.

Anehnya, saat ia menubruk tanah, ia sama sekali tak merasakan sakit di bagian manapun selain betisnya yang tergores. Ia bahkan sama sekali tak cedera. Patah pergelangan kaki, misalnya. Atau minimal terkilir. Memang sedikit sakit, namun rasanya berbeda saat jatuh di atas tanah pada umumnya, seolah-olah tanah ini adalah sebuah trampolin yang tak dapat memantul seperi karet. Tanah ini lebih mirip seperti...

Srek srek...!

Kazuha dan Akako segera menoleh ke depan mereka, asal suara gesekan semak-semak dengan sesuatu terdengar jelas. Makin lama suara itu makin mendekati mereka dengan cepat. Dan Kazuha mulai merasa takut, sekaligus waspada.

Siapa itu? Atau lebih tepatnya: apa itu? pikir Kazuha. Jangan-jangan makhluk buas yang akan menerkam mereka? Oh—setelah dipikir-pikir lagi pasti bukan. Kalau makhluk buas, pasti akan bergerak secara sembunyi-sembunyi. Bagaimana kalau benar? Ini kan labirin. Siapa tahu sistem hewan berburu di labirin berbeda dengan sistem hewan berburu di hutan? Eh—ini kan hanya labirin, wahana di taman hiburan! Tidak mungkin ada makhluk buas yang dapat memangsa para pengunjung... kan?

Ayolah Kazuha! Berhenti berpikir yang aneh-aneh! Berpikirlah dengan logis.

Hantu?!

Tidak! Ia menggeleng dengan cepat. Tidak mungkin. Dan Kazuha benar-benar berharap kalau makhluk itu memang bukan hantu!

Sementara sesosok bayangan mulai muncul dari arah sana menuju mereka dengan cepat. Makin lama makin jelas, dan ada cahaya yang cukup terang seperti senter mengambang di dekat bayangan gelap itu.

Akako menyenterkan jam tangannya menuju arah sana, menatap dengan curiga dan waspada. Keringat dingin mengaliri pelipis kirinya, Kazuha dapat melihatnya dengan jelas.

Saat bayangan itu sudah sampai tepat di depan semak-semak terdekat—yang berjarak 5 meter dari Kazuha dan Akako berada—ia berhenti. Dengan sinar pada arlojinya juga ia menyinar kedua orang yang menatap bayangannya dengan tajam.

"Sudah kuduga itu kalian. Kalian tidak apa-apa? Aku mendengar suara jeritan Kazuha dan suara gedebuk yang cukup—em, keras," katanya.

Saat Kazuha dan Akako melihat sosok itu lebih jelas—dengan menyinari wajah sang pemilik suara, yang sebenarnya tidak perlu karena Kazuha sangat mengenal pemilik suara itu, mereka menyadari kalau orang itu adalah orang yang mereka kenal.

"Heiji?"

Temukan sang penjaga waktu di tengah pilar kelabu
Dengan kunci sang penjaga waktu,
Kau buka bejana itu

"Ya ampun, ini kita enggak bakal nyasar kan?" tanya Kaito sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dengan gusar. Ia dan Makoto sudah melangkah entah berapa lama yang tidak mau repot-repot dicari tahu olehnya lantaran ia menyadari bahwa arloji yang ada di pergelangan tangan kirinya benar-benar barang yang tidak bisa dipercaya. Setelah mengarungi jalur tengah berkelok-kelok dan akhirnya menemukan lapangan terbuka nan luas, mereka memutuskan untuk mencari benda yang mungkin akan mereka temukan di sana. Dan kini malah menjadi keraguan besar bagi mereka untuk menemukan kunci itu karena mereka sendiri pun tak tahu kini mereka sedang berada di mana, terjebak dalam kelebatan rimbun semak-semak dan pohon tak berujung.

"Tidak kalau di dalam perkamen ini ada peta labirin," balas Makoto yang memegang gulungan perkamen lusuh nan kokoh dan memandanginya dengan kesal. Jelas saja. Terjebak di dalam sesuatu yang—menurut mereka— tak berujung seperti ini, siapa yang tidak gusar? Bahkan pembawaan Makoto yang sehari-harinya tenang kini lebih tampak uring-uringan. Padahal kalau menurut waktu di dalam si arloji, mereka baru enam jam dua puluh lima menit di dalam wahana—waktu yang sangat aneh untuk diketahui karena mereka merasa mereka baru saja tiba di dalam sana. Ah, itu juga masalahnya. Waktu yang membuat Makoto gusar. Ia juga merasa aneh dengan waktu yang berlalu begitu cepat.

Namun menurut Makoto, tak ada salahnya memercayai si arloji yang menurut Kaito sangat menipu, merupakan trik lama, kampungan, dan sebagainya—namun Kaito sama sekali belum dapat memecahkan trik dibalik si jam.

"Haah... Kata seandainya memang sangat tepat, tapi sedang tidak dibutuhkan saat ini," gerutu Kaito.

"Aku tak mengerti," sahut Makoto.

Kaito melirik pemuda berkulit gelap di samping kirinya. "Kau tahu maksudku," katanya.

"Kau sendiri bagaimana? Belum bisa menebak trik yang digunakan si arloji untuk menipu waktu yang sebenarnya?" tanya Makoto dengan nada yang sedikit menyindir.

Kaito mendengus kesal. "Tidak. Belum—kurasa. Waktunya tak dapat kuhitung dengan jelas. Begini-begini matematikaku sangatlah buruk," jawabnya.

"Tapi kenapa kau bisa lulus ujian cawu satu?" sahut Makoto heran.

"... Gak penting, ah. Jangan tanya, aku juga tidak tahu," jawab Kaito sedikit ragu.

Makoto menyipitkan matanya, curiga dengan jawaban Kaito. Pasti ada apa-apanya, pikirnya.

"Intinya," Kaito buru-buru melanjutkan, "waktu yang digunakan si arloji sangat sesuai dengan suasana malam saat ini. Yaa, walaupun agak aneh di musim panas yang biasanya matahari lebih lama tenggelam walau waktu sudah menunjukkan tujuh malam. Tapi, jam ini seolah bisa menangkap cahaya malam dan langsung menyesuaikannya dengan waktu yang seharusnya, atau sebaliknya, si cahaya malam yang menyesuaikan diri dengan si arloji. Itu sih, masih perkiraanku saja ya. Belum tentu benar. Aku masih memikirkannya."

"Memangnya kau tidak membawa sesuatu untuk menghitung waktu yang sebenarnya atau apa gitu?" tanya Makoto lagi, mulai tertarik dengan analisis Kaito—yang walaupun sedikit aneh, namun masih bisa ditangkap logika. Dia seperti sangat mengerti teknologi dan sebangsanya yang membuat Makoto penasaran. Kaito mengetahui banyak hal. Lain dengan dirinya yang hanya tahu beberapa perkembangan yang ada dan hanya tidak ikut meramaikan sesuatu yang sedang up to date di Jepang.

"Itu dia masalahnya. Terkadang kita harus menjadi anak penurut kalau tidak ingin ketahuan. Dan aku kali ini cukup ceroboh dengan tidak mempersiapkan sesuatu yang seperti ini. Aku sama sekali tidak menduganya." Kaito menghela napas. "Kau tahu pintu besar yang berderit tadi?" Makoto mengangguk. "Di bagian atas pintu ada detektor logam, aku tak bisa menyembunyikan ponsel atau stopwatch yang kubawa dari rumah. Dan bodohnya aku itu, tak memperhitungkannya sama sekali. Seharusnya aku membawanya! Ini kan hanya labirin biasa, kupikir begitu. Dan dengan cepat pula aku berpikir kalau ini akan menajdi mudah karena ini hanya labirin! Karena labirin atau apa pun itu yang mengandung trik dan lika-liku, orang sepertiku pasti dapat memecahkannya!" gerutu Kaito lagi.

Lama-lama, Makoto merasa kalau Kaito sedang curhat, bukan menganalisis.

Kaito menghela napas lagi. "Dan sekarang apa?" Ia melihat arlojinya dan melebarkan matanya. "Sudah jam satu lewat empat puluh lima menit pagi hari! Ini sudah hari Minggu!"

Mata Makoto ikut membelalak. "Apa?!" ia berteriak tak percaya dan melihat ke arlojinya yang bersinar. Benar saja. Arloji itu menunjukkan si jarum pendek yang berada di dekat angka dua romawi sementara jarum panjangnya di angka sembilan romawi.

"Hebat sekali!" Kaito berseru, sebelum akhirnya mendengar suara teriakan seseorang dan suara ribut semak-semak yang bergesekan dengan sesuatu dengan cepat. Dan suara itu berasal dar arah kanan mereka. Ia dengan capat menoleh untuk memastikan apa itu—apa yang datang menghampiri mereka, atau siapa?

Hm... Waktu ya.., pikir Saguru sambil menatap latar arloji yang bersinar di pergelangan tangan kanannya. Ia menarik senyum miris dalam kebingungannya—sama dengan yang lain, yang juga bingung dengan waktu.

The Time Labyrinth.

Bukan begitu?

Ia menghela napas pelan. Berjalan dalam waktu tak menentu seperti ini membuatnya sama sekali tak dapat berpikir jernih. Dengan suasana yang sedikit canggung seperti ini pun agak mengganggu konsentrasinya. Ia juga memikirkan orang yang ada di sampingnya, takut orang itu malah berpikir bahwa ia mengabaikannya selama di wahana ini, berbicara seperlunya—yang sangat singkat. Bagaimanapun juga, mereka sama sekali tak tahu harus membicarakan apa. Berhubung keduanya memiliki umur yang terpaut beberapa tahun, mereka mungkin belum menemukan sesuatu yang cocok di antara mereka.

"Jadi... kau—eh, sensei menemukan sesuatu?" tanya Saguru basa-basi. Ia berharap dengan mengajak sang dokter mengobrol akan memberikan sedikit pencerahan untuknya.

"Ya? Eh, tidak. Aku tidak tahu," jawab Araide singkat.

This is really awkward. Seharusnya aku tak menyanggupi usulan dari si Kudo itu, gerutu Saguru dalam hati.

"Tapi—" Saguru menoleh pada Araide dengan cepat. "Bukannya aku ingin menakut-nakutimu. Tapi apa kau mendengar sesuatu?"

Saguru memicingkan matanya ke arah samping kanannya—yang merupakan semak-semak gelap yang tak berujung—dengan waspada. Ia menajamkan pendengarannya.

Ah, benar. Ada sesuatu yang bergerak dari arah sana, lain dengan suara desiran semak-semak biasa. Ada seseorang—atau sesuatu—yang bergerak secara diam-diam seolah tak ingin ketahuan jika ia ada di sana.

Saguru mendadak menjadi kaku dan waspada. Ia menoleh pada Araide dan mengangguk kecil, memberitahukan bahwa ia memang mendengar sesuatu dan sudah menyadarinya. Araide balas mengangguk dan mereka bersama-sama menghadap dan menatap tajam ke arah semak-semak, dengan sinar arloji yang mengarah ke arah sana.

Srek.. Srek..!

Suara itu bertambah jelas seiring bergeraknya sebuah bentuk bayangan hitam yang pada awalnya tak mereka sadari kini bertambah besar dan mendekat ke arah mereka. Bayangan itu sama sekali tak berwujud atau membentuk sesuatu yang pasti, seperti hanya dibentuk secara acak dan sangat berantakan.

Tunggu.

Bayangan?

Kenapa sebuah bayangan bisa menyentuh semak-semak? Bukankah seharusnya bayangan itu merupakan wujud tak bernyawa, bermassa, dan kawan-kawannya untuk menyentuh benda padat?

Araide dan Saguru bergidik menyadari hal itu. Kalau bayangan itu dapat menyentuh semak-semak, berarti wujud itu juga dapat menyentuh mereka. Atau, bisa melukai mereka. Dengan apa? Entah. Mereka tidak tahu dan tidak mau mencari tahu. Kalau saja memang bisa, mereka harap itu bukan sesuatu yang dapat melukai mereka dengan parah. Lagipula, ini adalah sebuah wahana di sebuah taman bermain.

Atau jangan-jangan sebenarnya ini adalah sejenis portal yang mengirim mereka ke hutan yang sesungguhnya?

Sesaat bentuk bayangan itu berhenti tepat sebelum semak terakhir yang membatasi antara dirinya dan Araide-Saguru. Mereka menahan napas tak percaya saat mendapati wujud itu berhenti bergerak tepat di sana, seolah sedang menatap mereka dan berpikir bagaimana cara tercepat untuk membunuh mereka. Mereka sama sekali tak dapat bergerak.

Mereka melebarkan mata mereka saat ada bagian dari bayangan itu—yang mereka duga adalah bagian wajah(?) sang bayangan—terbuka dengan warna merah cerah ditambah sinar dari arloji mereka yang menambah kesan horor pada si bayangan aneh.

Kemudian sebuah teriakan tak percaya menangkap indra pendengaran mereka dan menyadari bahwa itu adalah suara yang cukup mereka kenal, berasal dari belakang mereka kini yang berarti menembus semak-semak. Dan dengan kilat pula mereka memutuskan satu hal—

"Lari!" seru Araide. Mereka berbalik dan berlari dengan kecepatan tak terduga menembus semak-semak. Menggunakan cahaya arloji sebagai penerangan dan menemukan dua orang yang mereka kenal di sana—berjarak beberapa meter dari arah mereka berlari saat ini. Dan langkah yang mereka ciptakan mempersempit jarak antara mereka dan dua orang itu.

"Kaito, Makoto!" panggil Saguru dengan raut wajah lega saat melangkah keluar semak-semak dan menginjak rerumputan liar di bawah mereka.

Ia tidak mau mencari tahu apa makhluk itu mengejar mereka. Yang ia lihat saat ini adalah, ekspresi Kaito dan Makoto yang terkejut dan heran mendapati dirinya dan Araide yang kini berdiri di depan mereka dengan napas yang terengah-engah.

"Kau benar-benar menakutiku tadi!" kata Ran kesal pada Aoko yang kini duduk di sebelah kanannya bersama Shiho yang tertawa kecil.

"Dan kau membuatku jantungan dan terbangun dari mimpi indahku!" gerutu Sonoko pada Ran. Ia sudah bangun dari tidurnya dan duduk di sebelah kiri Ran kini. "Aku bahkan baru saja terlelap sekitar lima menit dan sudah mendengar jeritanmu," katanya lagi.

"Salahkan kedua orang ini," kata Ran sambil menunjuk kedua tersangka.

"Hehe... Maaf deh, Ran. Habisnya aku pikir kau tahu kedatangan kami karena tadi kau sempat melihatku dan Shiho yang berjalan ke arah kalian," kata Aoko.

"Ya, ya. Aku memang melihat kalian. Tapi gak jelas karena gelap. Dan yang bikin aku penasaran, kenapa kalian bisa dengan cepat menyebrang dari arah sana ke arahku dengan cepat?" sahut Ran dan menunjuk daratan di seberang mereka.

"Kami kan bisa teleportasi," celutuk Shiho.

"Ngawur," gerutu Sonoko. "Kebanyakan nonton film."

"Gak penting, Sonoko," kata Aoko dan terkekeh. "Mungkin kau tak melihat kami menyebrang. Kami berjalan dengan cepat tadi untuk menghampirimu. Kau saja yang tidak menyadari kami sudah di sampingmu yang sedang membangunkan Sonoko."

"Sepatu kalian sama sekali tidak basah," ujar Sonoko curiga sambil memperhatikan kedua pasang sepatu milih Aoko dan Shiho bergantian dengan cahaya arlojinya.

"Kami kan tidak bodoh untuk menyebrang sungai dengan sepatu. Kami melepasnya sebelum menyebrang," balas Shiho kalem.

"Baiklah. Terserah saja," kata Sonoko merasa kalah dengan pendapat tentang sepatu tadi. Tapi sepertinya ia tak melihat Aoko dan Shiho mengenakan sepatunya kembali setelah sampai di sini. Apa mereka melakukannya saat Ran sedang membangunkannya?

Hm...

Ran menggeleng pelan. "Lupakan saja. Sekarang apa? Kita balik jalan nyari yang lain?"

Ketiga temannya menatapnya dengan pandangan yang tak dapat diartikan. Ran merasa risih melihatnya. Ia menyipitkan matanya saat merasakan sesuatu dari arah belakangnya. Menduga-duga apa ia salah mengira dan hanya akan menimbulkan pekikan tak berarti saat menyadari bahwa tak ada seorangpun di belakangnya.

Ia menghela napas pendek. Ia tertegun, menyadari sesuatu. Ia menoleh pada ketiga temannya yang kini masih menatapnya dengan pandangan yang sama, sorot mata mereka bertiga sama: menyiratkan sesuatu yang penting dan waspada. Mereka juga merasakan ada sesuatu berada di belakang mereka!

Ran menelan ludah gugup. Dengan perlahan ia menoleh ke belakang. Batinnya menjerit agar ia tak menoleh. Namun seperti movie-movie kebanyakan, pasti ia akan tetap menoleh walaupun bertentangan dengan jeritan hatinya. Jadi Ran menoleh. Saat melihat apa yang ada di hadapannya, matanya melebar. Dan ia kembali berteriak untuk kedua kalinya pagi itu.

Shinichi Kudo mengumpat. Selama berpuluh-puluh menit ia terduduk di sekitar semak-semak—tempat ia mendarat akibat terjatuh dari ketinggian yang entah berapa meter itu, ia sama sekali belum dapat menerka apa kiranya yang membuat jurang itu menjadi seperti ini.

Ia sama sekali tak merasa terlalu sakit saat terjatuh tadi. Hanya saja tadi ia sempat tergores oleh dahan-dahan pohon yang berasal dai sisi jurang maupun semak-semak tempat ia terjatuh tadi, yang menyebabkan pakaiannya menjadi robek di sana-sini dan lengannya yang kini belepotan dengan darah-darah kering tipis.

Ia menatap ke arah bawah, rerumputan semak yang agak berantakan akibat ulahnya yang terjatuh di atasnya sama sekali tak membantu. Ia membuka katupan tangan kirinya dan menatap kalung berantai perak yang bermatakan kunci berwarna senada. Arloji yang tadinya melingkar manis di pergelangannya sudah ia lepas dan memasukkannya ke dalam saku celana jeansnya. Ribet, pikirnya. Kalau butuh cahaya baru ia akan menggunakannya. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk mencari teman-temannya saja. Siapa tahu mereka mendapat petunjuk dan dapat memberikan pencerahan untuknya.

"Ittai," ringisnya saat ia akan bangkit dari duduknya. Ia menepuk punggungnya pelan dengan tangan kanannya. Dengan cepat ia mengalungkan kalung itu dan berdiri perlahan. Ia jadi teringat bagaimana ia terjatuh tadi. Dengan posisi terlentang dan punggung yang mendarat duluan. Dan ia juga menyadari satu hal saat ia terjatuh. Rasa sakit yang melanda punggungnya kini hanya sedikit. Saat terjatuh tadi, ia merasa bahwa ia sedang membanting-bantingkan dirinya sendiri di atas sebuah trampolin atau apa saja yang bersifat memantulkannya.

Namun ia mencoret dugaan kalau tanah yang ia pijaki saat ini adalah trampolin. Karena kalau memang iya, mereka tak mungkin dapat berjalan dengan normal seperti berjalan biasa. Tanah itu cukup keras namun memberikan kesan nyaman di saat yang bersamaan jika seseorang duduk di atasnya. Seperti kasur.

Shinichi mulai berjalan ke arah depan, meninggalkan semak-semak yang sudah rada rusak gara-gara ulahnya. Tadi ia sempat mendengar suara jeritan samar—dua kali—yang berasal dari arah kanannya. Jadi ia memutuskan untuk mencari siapa saja yang ada di sana. Ia berharap orang yang menjerit itu masih ada di sana. Kemungkinan, sekecil apa pun itu, ia harus mencari kemungkinan itu.

"Tunggu."

Suara itu menghentikan langkah Shinichi. Suara itu gelap, dalam. Mirip dengan suara orang yang mengantar kata pembuka bagi mereka saat masuk ke wahana untuk memulai perjalanan mereka. Ia berbalik, mencari sumber suara.

Di sanalah ia. Berjarak beberapa meter dari Shinichi. Sebuah sosok bayangan yang cukup tinggi dan tak bertuan. Bentuknya tak jelas seperti apa, dan Shinichi mulai menerka-nerka apa makhluk itu yang tadi memanggilnya. Mana mungkin bisa. Namun sosok itu sama sekali tidak ada di sana sebelumnya saat ia melewati tempat itu, semak-semak jarang. Dan sosok itu benar-benar seperti bentuk tiga dimensi jika diperhatikan lebih jelas seperti ini. Suasana yang gelap itu menegaskan perkiraan Shinichi tentangnya. Tapi itu pasti cuma bayangan biasa, pikirnya. Tidak mungkin bisa menyentuh apa pun, termasuk dirinya.

Srek..

Shinichi membulatkan matanya saat bentuk tak beraturan itu bergerak menuju dirinya. Namun bukan itu yang mengagetkannya. Melainkan suara semak-semak yang bersentuhan dengan bentuk itu. Itu berarti bayangan itu dapat menyentuh benda padat. Berarti bentuk itu dapat menyentuhnya juga. Atau lebih parahnya lagi, membunuhnya!

Ah. Kenapa malah berpikiran seperti itu sih? Berpikirlah logis, pikir Shinichi. Namun tetap saja perasaannya tak enak. Jangan-jangan suara jeritan tadi pun diakibatkan oleh makhluk tak jelas ini. Ia menghela napas. Setengah tak percaya apa yang telah dipikirkannya, namun sebagian dari dirinya menyatakan bahwa pernyataannya barusan memang benar. Langkah berikutnya yang tidak ia duga adalah bahwa dirinya berbalik, dan mulai berlari sekencang-kencangnya.

Ia berlari dan terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Salah satu hal yang ia pelajari adalah, saat berlari, tidak boleh menoleh ke belakang karena itu akan memperlambat lari kita dan membuyarkan konsentrasi kita untuk melihat ke arah depan. Ia menemui jalanan menanjak dan terus berlari. Dalam jarak sekitar dua puluh meter di depan, adalah sebuah pintu masuk menuju labirin lagi. Ia memutuskan untuk masuk saja ke dalam. Siapa tahu ia dapat menemui teman-temannya lagi. Mungkin saja. Semoga saja.

Ia tak tahu lagi harus berpikir bagaimana. Ia hanya dapat fokus untuk berlari dan segera menemukan teman-temannya dan keluar dari wahana ini secepatnya. Sama sekali tak ia pikirkan lagi punggungnya yang sedikit sakit. Yang ia tahu hanya berlari melewati lorong demi lorong bertembok batu abu-abu dengan keputusan kilatnya. Pikirannya kacau.

Kali ini ia sempat menoleh ke belakang, memastikan bahwa makhluk itu jauh dari dirinya. Ia tak menemukan apa pun. Namun bukan berarti ia akan memperlambat langkahnya. Napasnya sedikit terengah. Sementara si kunci perak mengetuk-ngetuk bagian depan dadanya yang terbuka akibat kemeja putihnya yang sudah robek sana-sini.

"Kau tidak akan bisa berhenti."

Suara gelap itu terdengar dari arah belakang Shinichi. Tapi ia sama sekali tidak menoleh dan tetap berlari di tengah pagi buta itu.

Ia melihat ke depan. Tembok batu menghalangi jalannya. Jadi ia menarik kesimpulan kilat untuk berbelok ke kiri dari dua jalur itu, dan tetap berlari.

Dheg!

Shinichi berhenti dan membelalak saat melihat tembok batu lainnya menghalangi jalannya. Ia melihat sisi kiri dan sisi kanan tembok pada kedua sisinya.

Tembok batu menutup seluruh jalannya.

Jalan buntu.

Sementara, makhluk itu tetap mengejar di belakangnya.

"Kuso!" rutuk Shinichi.

-The Time Labyrinth-

Present

"Shinichi!" Panggilan dengan suara familier itu membuat Shinichi berbalik. Dan menemukan Ran, Sonoko, Aoko, dan Shiho berdiri tak jauh darinya, di jalur menuju kanan yang tadi tak jadi ia lewati.

"Ran!" serunya lega.

"Lewat sini! Cepat!" panggil Shiho.

Tanpa ba-bi-bu lagi Shinichi segera berlari ke arah mereka dan mengikuti arah langkah Aoko yang berlari di depan. "Apa kalian juga dikejar-kejar oleh makhluk aneh berbentuk bayangan seperti tadi?" tanyanya sambil berlari.

"Tidak. Tapi makhluk itu memberi tahu kami bahwa sudah saatnya menuju bait kedua," jawab Sonoko. "Kemunculannya membuat Ran berteriak. Dan makhluk itu memberi tahu kami dengan suaranya yang menyebalkan itu untuk menuju ke bait dua. Entah apa maksudnya. Kemudian ia menyuruh kami untuk menemukanmu."

"Begitu?" ujar Shinichi. Ternyata makhluk itu menghampirinya untuk mengatakan sesuatu. Bukan untuk membunuhnya. Ya ampun. Pemikiran macam apa itu untuk seorang detektif seperti dirinya.

"Ya. Dan kau tampak berantakan sekali," balas Ran.

"Ough. Ya. Aku jatuh tadi," jelas Shinichi. Tak mungkin ia mengatakan bahwa ia jatuh dari jurang kan? Tidak akan ada yang percaya bahwa ia masih hidup. Tahu-tahu saja keempat gadis itu bakal berteriak histeris dan berlari meninggalkannya karena menyangka dirinya ini hantu. Jadi dengan kata jatuh saja ia rasa sudah jelas.

Ia kembali berpikir. Makhluk itu menyampaikan petunjuk. Menuju bait kedua. Berarti misi untuk bait pertama sudah selesai. Dan kini mereka harus menuju bait kedua, memecahkannya, ke bait tiga, lalu pulang. Hm..

"Oh ya, selain mengatakan kami harus mencarimu, makhluk itu juga bilang kalau kita semua akan bertemu di bagian tengah labirin. Makanya Aoko dan Shiho yang tadi melewati jalur ini tahu ke mana harus pergi," ujar Ran lagi.

Shinichi mengerutkan keningnya. "Bagian tengah?" tanyanya.

"Yap. Kalau lewat sini kita bisa ke sana. Tadi aku sempat melewatinya. Dari sana kita bisa kembali ke pintu utama," jelas Shiho.

"Itu mereka," ujar Aoko dari depan. Shinichi beralih ke depan dan menatap ruangan terbuka itu. Matahari yang mulai terbit dengan cahaya ramang-remang membantunya melihat ke sana. Ruangan itu cukup luas dan berbentuk bundar. Tiap sisinya ada jalur baru menuju sisi lain labirin. Dan di sana menunggulah ketujuh temannya yang lain dengan wajah cemas, dan langsung berubah cerah saat melihat mereka datang.

"Aku pikir kau sudah mati!" kata Heiji yang langsung menghampiri Shinichi.

Shinichi mengedikkan bahunya. "Tapi aku masih hidup kan, sekarang?"

"Oke. Semuanya udah ngumpul. Tapi aku mau tanya. Kenapa kita bisa ngumpul secara serempak di sini?" tanya Kaito.

"Makhluk aneh tak berbentuk memberitahu kami untuk ke sini. Jadi aku langsung menarik Kazuha dan Heiji untuk ke sini. Karena sebelum kami mendapati diri kami di hutan aneh, kami melewati jalur ini," jelas Akako.

"Kami juga. Kami bertemu dengan Ran dan Sonoko, lalu diberitahu makhluk aneh yang langsung menghilang setelah memberitahu kami untuk menemukan Shinichi. Jadi kami ke sini setelahnya," sambung Aoko.

"Berarti semuanya sama ya, diberitahu oleh si makhluk aneh," sahut Makoto.

"Yep. Oke. Sekarang lanjut. Kita harus cari di mana si pilar kembar ini," kata Saguru.

"Pilar kembar?" tanya Araide.

"Ya. Perhatikan syairnya. Temukan sang penjaga waktu di tengah pilar kelabu. Dengan kunci sang penjaga waktu, Kau buka bejana itu. Cukup jelas bukan? Kita ada dua kunci penjaga waktu. Jadi pilar yang ada bejananya juga pasti ada dua!" jelas Saguru.

Yang lain mengangguk setuju dan mulai berpikir di mana kira-kira mereka melihat ada pilar kembar.

"Pintu masuk labirin," gumam Aoko tiba-tiba.

"Hah?" tanya yang lain.

"Benar. Pintu masuk labirin," ujar Kazuha. "Saat kita masuk ke jalur utama labirin, ada dua tiang tinggi di sana."

"Lalu syair pendek satu lagi itu," ujar Kaito. "Banyak jalan menuju Roma, Satu jalur menuju jalan pulang, Find behind me!"

"Sebenarnya kedua kunci itu berada di tempat yang jaraknya tak terlalu jauh dan masih dilingkungan yang sama. Itu sudah terbukti bagaimana caraku menemukan Kazuha dan Koizumi," ujar Heiji.

"Satu jalur menuju jalan pulang. Seperti saat ini. Kita berkumpul dan akan kembali ke jalan utama bersama dengan satu jalur," ujar Shinichi.

"Kalau begitu ayo! Jalur mana yang harus kita ambil untuk kembali ke jalur utama?" sahut Shiho.

..

"Bejana, berarti kotak kan? Apa kita mesti nyari kotak di tiangnya?" tanya Sonoko sambil memperhatikan salah satu tiang di sebelah kiri dari pintu masuh utama wahana.

"Apa maksudnya patung peti harta karun ini ya?" tanya Shiho yang berdiri tak jauh dari Sonoko.

"Mungkin saja," ujar Shinichi dan mulai memperhatikan sisi-sisi kotak itu dengan teliti bersama kelima pemuda lainnya.

"Ah, lingkaran di bagian tengan ini," ujar Ran. Ia menyentuh sisi bundar itu dan menggesernya ke atas.

Benar saja. Di balik bundaran itu ada sebuah lubang berbentuk persegi panjang berbentuk vertikal yang ukurannya pasti sangat tepat dengan ukuran kunci yang kini ada pada Shinichi dan Kazuha.

Shinichi melepas kalung yang dipakainya dan memasukkan mata kunci itu ke dalam lubang itu. Hal yang sama dilakukan oleh Kazuha dengan kuncinya. Mereka menoleh dan mengangguk, lalu memutar mata kunci itu agar kotak itu terbuka.

Tik.

Kotak itu tak terbuka. Hanya terdengar suara 'tik' barusan.

Heiji menengadah, melihat layar hitam yang sempat dilihatnya bersama Shinichi saat pertama kali melewati pilar itu. "01.50.01," gumamnya. Ia menarik senyum tipis. Sudah berhenti, pikirnya. Ia melihat arlojinya, pukul empat pagi lewat empat puluh lima menit.

Semuanya akan kembali seperti semula
Temukan celah jeratmu
Dan bebaskan dirimu

Lalu semuanya tiba-tiba berubah. Langit yang awalnya sudah mulai terang dengan sinar matahari pagi mulai memudar menjadi gelap kembali. Suasana kembali gelap dengan cahaya gelap malam.

"Terima kasih sudah berpetualang di wahana ini. Semoga kalian menikmati waktu-waktu yang telah terlewat. Silakan datang lagi di lain waktu." Suara yang waktu itu menyambut mereka kembali bersuara sebelum suasana kembali hening.

"Lho, kenapa ini?" tanya Kaito.

"Sudah selesai," gumam Shinichi.

"Lihat arlojinya!" seru Akako.

Semuanya segera melihatarloji masing-masing kecuali Shinichi yang sibuk merogoh-rogoh saku celananya. "Wah, aku menjatuhkannya," katanya.

Jarum jam pada arloji itu bergerak melawan arah jarum jam yang semestinya!

"Cahayanya juga mulai memudar. Kita harus cepat menemukan pintu keluar sebelum benar-benar gelap dan kita tidak akan bisa melihat apa-apa dalam keadaan gelap seperti ini!" kata Araide.

Mereka mengangguk dan mulai mencari pintu keluar di sisi-sisi manapun yang memungkinkan. Namun pintu yang mereka temukan hanya pintu besar yang menjadi jalan masuk.

"Muri dayo," ujar Kazuha cepat. "Pasti ada pintu keluarnya. Kalau kunci tadi memang untuk membuka pintu keluar, seharusnya pintu ini terbuka."

Sementara itu suasana kembali menjadi lebih gelap dan sinar di arloji mereka mulai sepenuhnya menghilang, tinggal keremangan seperti sinar pada layar ponsel.

"Di mana perkamennya?" tanya Akako. "Bukankah di sana masih ada gambar?"

"Kangguru," sahut Ran cepat. Ia buru-buru berjalan menuju tempat Kaito menemukan dua lembar perkamen dan menggeser si kangguru ke samping. Ran menyinari bagian belakang kangguru dengan sisa cahaya arloji, di balik kanguru itu, terdapatlah pintu berukuran biasa berwarna cokelat. Ia menekan handel pintu ke bawah, dan terbukalah pintu itu, menuju dunia luar, dan disambut dengan senyuman manis kedua gadis bertudung yang waktu itu menyambut mereka di pintu depan.

..

"Tidak apa-apa kan, aku menjatuhkannya saat aku berlari-lari tadi?" tanya Shinichi saat gadis yang mengambil barang-barang mereka tadi mengembalikan barang-barang mereka.

Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Tidak apa-apa kok." Ia menyerahkan ponsel, dompet, dan jam tangan Shinichi. "Kalian hebat. Kalian adalah pengunjung pertama yang menyelesaikan wahana ini dalam waktu satu jam lima puluh lima menit. Kalau yang lain sangat lama, bahkan sampai setengah hari."

"Ah, kami dibantu kok," sahut Kaito merendah.

"Dibantu?" tanya gadis yang satu lagi.

"Iya. Sama sosok yang mirip bayangan aneh itu lho," jawab Sonoko.

Kedua gadis di hadapan mereka mengerutkan kening mereka dengan raut wajah bingung.

"Program yang kami lakukan hanyalah membentuk labirin dan mengatur waktu siang dan malam pada arloji dan wahana," ujar gadis yang menyerahkan barang-barang.

"Ya. Kami menerapkan sistem seperti yang ada pada movie The Hunger Games," jelas yang satu lagi.

Oh. Perasaan familiar itu ternyata dari sana! pikir Ran. Waktu itu ia pernah menontonnya berasama yang lain. Salah satu trik yang ada di sana memang seperti itu kalau tidak salah. Waktu matahari terbit dan terbenam diatur oleh si pihak penyelenggara permainan bubuh-membunuh yang disebut berusaha bertahan hidup itu.

"Dan seingat kami, di sana tak ada jenis bantuan apa pun selain perkamen yang ditemukan di kantung kagguru," katanya lagi.

"Tunggu," ujar Saguru. "Jadi... yang kami lihat itu...?"

"Tidak mungkin," sahut Shinichi.

Ya. Tidak mungkin. Karena bentuk bayangan itu dapat menyentuh semak-semak dan menimbulkan desir seman-semak dengan ributnya. Namun bagaimana Shinichi menjelaskan cara makhluk itu yang bisa muncul di mana saja dalam waktu dekat setelah menyampaikan pesan ke satu temannya ke teman yang lainnya? Bagaimana ia menjelaskan perkataan Aoko yang mengatakan bahwa makhluk itu langsung menghilang setelah mengatakan pesannya?

Mungkin saja hologram! Tapi hologram tak mungkin dapat menyentuh sesuatu!

Tidak.

Ia tidak tahu.

Masa ia kalah dengan taruhan (bohongan) nya dengan Ran?

Hantu itu tidak ada kan?

Iya kan?!

The Time Labyrinth
Chapter 3
The Last Chapter
End

Mini dictionary:

Sensei: Sebutan untuk orang yang berpendidikan tinggi seperti guru, profesor, dokter, dll

Ittai: Sakit

Kuso: Sial

Muri dayo: Mustahil, tidak mungkin

.

Aaaaaa! Akhirnya ini selesai juga!*tebar konfeti, bakar ikan, makan ikannya

Dan, sekali lagi—dan mungkin untuk terakhir kalinya (di cerita ini) saya ucapkan maaf yang sebesar-besarnya pada para readers sekalian karena sudah menunggu sangaaaaat lama pisan sekali (mubazir dikau nak). ^^"v

Empat bulan lho! Empat bulan! Tapi syukurlah akhirnya ini fic kelar dengan sendirinya di hari libur ini. =D Tapiiiii, sekali lagi, ini fic beneran sumprit bikin pusing. _ Mana alurnya maksa banget kan ya? ;A; Jadi kalau misalnya ditemukan segala keanehan dan lain-lain bla-bla-bla lainnya, mohon dimaklumi, ah, enggak. KRITIK aja semau kalian! Saya ikhlas kok. ._.v

Miki ucapin terima kasih sebesar-besarnya kepada pembaca semua, baik yang review maupun yang enggak review. =D Moga kalian puas ya, sama ending yang gaje ini. Wahahaha...*evil laugh

Oke. Sekian cuap"nya. xD

Ini dia balasan reviewnya! =D

YuzutsuraTerumi - san:

Yohoo! ^^ Ini lanjutannya—sekaligus last chapt! xD Sankyuu ya, udah ditunggu dan dibaca, direview lagi! ^^

Hi-chan:

Hi channnn~! =D Ini update lagi. xD Yey! Sankyuu udah dibilang kece ficnya. Hehe.. =D Dan yap, si Shin sama Heiji di sini emang rada-rada 'akur'. xD(?)

Oh... Itu toh, cliffhanger. Hehe.. =D Sankyuu. Kali ini engga cliffhanger kan? xD (Udah kelar ficnya) Apa kali ini feelnya masih ngena? X3 Hehe..

Ganbatte! xD

Saya Sendiri a.k.a Toyama Ichiru – chan:

Iya! Ini update lagi! ^^ Last Chapt lho. Aku gak nyangka. U.U Ngomong" gimana scene ceweknya? xD dan si CPU masih gak mau jalan, akhirnya aku lagi-lagi melanjutkannya dari laptop nee-chan. Wkwk..

Yey! Ganbatteimasu yo! Ichiru chan juga! =D

Hoofie – san:

Hai! =D Wah.. Maaf ya, kalau deskripsinya berbelit. ^^" Habisnya aku mesti detil. Soalnya yang ada pada chapter sebelumnya adalah untuk chapter ini juga. Seperti yang pada bejana itu. hehe.. =D Karena Shiho dan Araide adalah tokoh terakhir yang muncul di fic ini. =D Maksudnya, tokoh terakhir yang ketemu sama Shin dkk. X3

Hehe.. Apa kali ini masih seru? ._.v Sankyuu ya, udah dibaca & review. ^^

Angel Ran – san:

Engga sesuai harapan ya, updatenya lelet banget! ^^" Tapi akhirnya ini kelar dan ga usah nunggu" lagi. =D Sankyuu ya, udah menyempatkan diri ke sini. xD

Yolandari Putri Edogawa:

Hai..! =D Sankyuu ya. =3 Aku juga berpikiran begitu. Haha.. Apa lagi bagian yang ada cewek bertudungnya. Itu sebenarnya deskripsinya kuambil dari ciri" Dementor lho. Hehe.. =D

Wah... Aku gak janji nih, ada PoVnya Ran. Tapi scenenya aja boleh engga? Hehe.. =D Dan ini updatenya. Haha.. xD Maaf lagi-lagi tak sesuai harapan. ^^"

Sankyuu ya, udah mampir. =3

Guest:

Ini lanjutannya. At last! Haha.. xD

Nah, sekian deh, untuk Chapter 3 sekaligus The Last Chapternya. Hahaha..

Setelah menghapus fanfic-fanfic lain yang pernah kupublish di akun ini dengan alasan yang belum dikeahui(?), aku mesti cepat-cepat ngisi yang kosong. Haha.. Tapi gak janji di fandom anime lagi lho. Soalnya aku punya projek buat fanfic RPF. X3

Oke lah. Sekian untuk Fanfic ini. =D

Sampai jumpa di fandom dan Fanfic lain? =D

At last,

Review, readers tachi? ^o^/

.

-Ryuzaki Miki-

.