Permata Ungu
Summary:
"Pikirkan, Kakak Ipar! Bersamaku adalah pilihan paling aman untuk Rukia," sahut Aizen. Walau masih sopan, ada kepongahan dalam suaranya .AU.
Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.
Chapter 14
.-.-.
Setelah Aizen melamarnya, Rukia merasa waktu yang dihabiskannya bagai berlalu dalam mimpi. Kadang dia sadar dan kadang tak sadar apa yang dilakukannya. Ada perasaan tak percaya bahwa sebentar lagi statusnya akan berubah. Dia tak akan lajang lagi. Gadis itu akan jadi Nyonya Aizen.
Semenjak itu Aizen lebih sering bersamanya: menemaninya makan, ngobrol dan sekedar ada. Seperti malam itu, sehabis makan malam dan mengurus dokumennya, tak dinyana Aizen kembali ke ruang santai. Saat Rukia menginjakkan kaki, dilihatnya pria itu duduk di karpet depan perapian. Pria itu mendongak melihatnya.
"Hai, Rukia," Aizen memberi isyarat lewat gelengan kepalanya supaya gadis itu mendekat.
Ragu-ragu Rukia duduk di sampingnya. Aizen tersenyum dan meletakkan buku yang dibacanya. Dia tampak berpikir, kemudian dengan gerakan cepat menarik Rukia hingga gadis itu duduk di antara kakinya.
Rukia membentur dada Aizen. Belum pulih dari rasa kagetnya, sepasang lengan kokoh sudah memeluknya. Untungnya dia tak menghadap pria itu. Rukia tak ingin pria yang akan jadi suaminya itu tahu wajahnya panas dan seperti kepiting rebus. Tak pernah sebelumnya ada laki-laki yang memeluknya seperti itu.
"Kau makin kurus," gumam Aizen dari atas kepala Rukia. Nafasnya menerpa rambut hitam gadis di pelukannya.
"Tidak," sanggah Rukia cepat.
"Hm. Persiapan pernikahan memang membuat stress," imbuh pria itu. Dia mengangkat tangan dan mulai memijit kepala Rukia.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa Rukia akan mendapati dirinya meleleh karena Aizen. Pria itu tegap dan tinggi. Menempel pada tubuhnya serasa membuat Rukia tenggelam karena posturnya yang memang kecil. Masih dengan rasa malu, Rukia tak keberatan ketika jari-jari pria itu bergerak lembut menekan kulit kepalanya. Agak takut, dia menyadari bahwa sentuhan itu membuatnya tenang.
"Akan kuminta Nel supaya membuatkanmu minuman herbal untuk menambah nafsu makan," lanjut Aizen. Jari-jarinya bergerak ke pelipis Rukia.
"Bukannya laki-laki suka yang langsing?" pancing Rukia. Keenakan dengan pijatan Aizen, dia memejamkan mata.
"Langsing beda dengan kurus kerontang. Aku malah bingung kalau kau tinggal tulang," balas Aizen sembari dalam hati berpikir kalau kulit Rukia terlalu tipis dan menempel pada tulang.
"Tapi Gin kurus kering. Kau tak khawatir, Sousuke-sama?"
Aizen nyengir. Siapa pun yang melihatnya akan heran. Laki-laki tegap ini tak pernah menampakkan cengiran seperti itu. "Jangan salah! Perut Gin seperti Lubang Hitam, menyedot makanan apa pun, tapi tidak jadi daging. Gin sangat sehat."
Rukia agak sebal teringat Gin. Tapi selain karena sudah melukai Renji, Gin tidak salah padanya. Pria kurus, tinggi dan super langsing itu selalu menyapanya dengan sopan.
"Capek, Rukia?"
Pijatan Aizen semakin pelan.
"Iya, sedikit," jawab Rukia pendek. Sejujurnya tak banyak yang dilakukannya. Tubuh kecilnya diukur lagi, jari-jarinya juga. Ada banyak pilihan kain yang disodorkan, tapi karena bingung, dia memilih putih. Yang lebih melelahkan adalah ide-ide dan pemikiran di otaknya. Rasanya berat akan menikah. Dia teringat kakaknya, Shirayuki, Renji dan seorang pria berambut oranye. Diantara kekalutan hatinya, nama Ichigo terselip dalam benaknya. Barusan saja sebenarnya. Ketika galau seperti itu, range yang dipikirkannya hanya sedikit orang namun mencakup banyak hal.
Seperti ada yang memukul dadanya saat itu.
Pertama kali berada di Hueco Mundo, Rukia memang luar biasa sedih, tapi Ichigo tak memenuhi otaknya. Yang bisa diingat Rukia hanya keluarga dan rumahnya. Bila dipikir-pikir, serasa ada yang memblokir otaknya dan tak menyisakan sedikit pun ruang untuk orang yang pertama disukainya itu.
Bukan raga, melainkan batin Rukia yang letih.
Aizen bukannya tak tahu perubahan postur Rukia. Gadis yang terperangkap di antara lengannya itu tegang sejenak. Pria itu tak mengatakannya, tapi bayangan memiliki Rukia sebagai pendamping juga membuatnya grogi. Menikah bukan perkara enteng, terlebih untuk orang nomor satu macam dia, termasuk bila gadis yang akan dinikahinya adalah gadis yang selama ini jadi obsesinya.
Tapi yang diketahui Aizen, dia tak akan membiarkan Rukia pergi. Sejengkal pun dari bumi Hueco Mundo. Tidak bila dia mampu melakukannya!
"Kakakku sudah tahu?" usik Rukia.
Aizen menunduk, balas memandang gadis itu. Matanya yang bulat dan jernih merefleksikan bayangan Aizen. Mendadak pria jangkung itu berharap dia bisa tenggelam selamanya dalam dua danau indah itu.
Dia mengangguk.
Seandainya Rukia tidak mengalihkan matanya, dia akan melihat sesuatu menari dalam mata bening Aizen.
.-.-.
Sebelum pesta digelar, Aizen dan Rukia sudah menandatangani formulir pernikahan mereka di kantor catatan sipil. Pada pesta yang berlangsung sangat meriah itu sendiri, Rukia tidak bisa hadir sampai selesai. Yang diingatnya hanya rasa capek karena terus berganti busana, duduk di samping Aizen dan bertemu banyak orang. Semua berlalu bagai mimpi.
Byakuya datang ketika pernikahan itu sudah terdaftar di catatan sipil. Walau rautnya tak banyak menunjukkan emosi, pria itu luar biasa murka. Baru saja menginjakkan kaki di Las Noches dan disambut Aizen sendiri, Byakuya siap membunuhnya.
"Kau baru memberitahuku saat pernikahanmu sudah resmi?" geramnya dingin.
Aizen memegangi cangkir tehnya. Dia tersenyum. "Tak usah marah begitu, Kakak Ipar!"
Byakuya tetap berdiri. Dengan mantap dia mendekati Aizen. Mata hitam-abu-abunya penuh kemarahan. "Bagaimana aku bisa tenang kalau adikku tiba-tiba menikah dengan orang yang menculiknya?" Byakuya ingin menarik kerah jaket Aizen dan menonjoknya habis-habisan.
Aizen tak beranjak dari duduknya. "Yang terpenting, Rukia adalah istriku sekarang," tukasnya ringan. Dia tak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Jangan bicara seolah Rukia hanya obyek tak berarti!" Ketenangan Byakuya pupus. Dia membentak penguasa Las Noches itu.
Aizen ikut berdiri dan berhadapan dengan Byakuya. Mata coklatnya gelap karena marah. "Kau salah, Byakuya! Aku tak menganggap adikmu seperti itu," ujarnya. Suaranya tetap tenang walau posturnya kaku. Dia selalu beranggapan bahasa menunjukkan kepribadian seseorang. Karena itulah dia tak pernah bicara kasar dan meledak-ledak orang lain.
"Kau memaksa adikku!" Byakuya yakin akan hal itu. Tangannya terkepal erat. Kuku-kukunya menembus telapak tangannya.
""Apa yang kau inginkan sekarang?" Nada suara Aizen terdengar ringan namun menantang. "Kau ingin pernikahan ini dibatalkan dan memberi status baru pada Rukia? Sebagai janda?"
Byakuya menyipitkan mata. Jelas dia benci sekali pada pria licik ini, yang sudah merampas Rukia dan mengundangnya ketika semua sudah diatur dan hanya memberi pilihan pada Byakuya untuk menerima kenyataan bahwa Aizen sudah merentangkan sayap lebih lebar dan menyambar sang adik.
"Tak mungkin aku bisa menyerahkan adikku pada pria culas sepertimu!" sembur Byakuya.
.-.-.
Rukia hampir melompat karena senang. Sedari kemarin dia menanti Byakuya, namun ternyata kakaknya itu baru datang sore ini. Dia berada di ruang santai, ujar Nel memberitahu. Rukia sudah hampir mencapai tangga menuju ruangan itu ketika langkahnya terhenti. Meski gembira, ada kecemasan menemui kakak tersayangnya. Dia takut dengan reaksi Byakuya akan status barunya. Sekarang dia adalah istri Aizen. Mendadak dia muram. Khawatir dan cemas menyapu rasa gembiranya.
Dia mematung. Saat itulah telinganya menangkap pembicaraan dua pria di ruangan yang akan ditujunya.
"Kau!" Byakuya terdengar sangat geram. Dia seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
"Pikirkan, Kakak Ipar! Bersamaku adalah pilihan paling aman untuk Rukia," sahut Aizen. Walau masih sopan, ada kepongahan dalam suaranya.
"Sombong!"
Merasakan suasana tidak menyenangkan, Rukia buru-buru menampakkan diri, tepat sebelum Byakuya melayangkan pukulan.
"Rukia!" Byakuya terkesiap. Dia menyeberang ruangan dan memeluk adiknya. "Kau baik-baik saja? Rukia…"
Sang adik menelan ludah. "Byakuya! Maaf."
Ada secercah rasa lega mendapati Rukia sehat walau terlihat agak pucat. "Aku akan membawamu pulang."
Aizen mengepalkan tangan. "Kau tak berhak, Byakuya. Dia istriku," desisnya keras.
Rukia hanya bisa mengamati dua pria itu bergantian. Keduanya berwajah kaku, teguh dengan keinginan masing-masing. Tak akan ada yang mau mengalah, Rukia yakin itu.
"Aku tak setuju dengan pernikahan ini,"ujar Byakuya dingin.
Aizen mengalihkan matanya pada Rukia.
Rukia bingung. Dia pias.
"Aku akan membawanya ke Seireitei!"
"Tidak, dia tetap di sini!"
Rukia meremas gaunnya kuat-kuat sampai kisut. "Berhenti!" Dia menatap nanar dua orang lainnya. "Berhentilah memutuskan untukku!" serunya, jauh lebih keras dari yang diinginkannya. Sedih, marah dan bingung bercampur di hatinya. "Aku lelah," bisiknya.
"Maaf," Byakuya bahkan terperanjat. Dari luar penampilannya tak menunjukkannya, tapi banyak yang dipunyai pria itu dalam hati.
Aizen mengulurkan tangan tapi Rukia menjauh.
Nyonya Aizen itu menggigit bibir. Dia memberanikan diri memandang si kakak yang sudah dua puluh tahun lebih melindunginya. "Terima kasih, Byakuya." Rukia menyayangi Byakuya, sangat! Bukannya dia tak mensyukurinya, tapi Rukia merasa dia sudah bukan anak kecil lagi yang harus selalu menurut. Jadi dia mengatakannya. Raut Byakuya sungguh tak ternilai harganya ketika mendengarnya. "Sudah saatnya aku memilih jalan hidupku sendiri."
Rukia memandang Aizen. Pria itu balas menatapnya. Matanya tak lepas dari Rukia. "Aku sudah memutuskan untuk menikah denganmu. Ini pilihanku, jadi aku tak akan lari lagi."
Aizen menghadiahinya seulas senyuman.
"Benar, Byakuya, Sousuke-sama," lanjutnya, memberi ketegasan. "Aku lemah, karena itu aku ingin menjadi kuat. Aku tak ingin lari lagi. Aku akan menghadapi pilihanku, apa pun itu akan membawaku entah ke mana. Aku ingin menjalani hidupku sendiri."
Jika ini terjadi beberapa tahun, atau bahkan beberapa bulan lalu, Rukia tidak yakin akan bisa mengatakan separuh dari kalimat panjangnya. Dia bukan lagi burung dalam sangkar. Rukia tak tahu sayapnya kuat atau malah rapuh. Tapi bila memang rapuh, dia ingin membuatnya kuat.
Keyakinan kata-katanya mulai meresap dalam hati Rukia, seolah memompa keyakinannya.
Aizen meraih tangannya. "Kau tak akan sendiri," ujarnya.
Byakuya mengamati adiknya. Baru kali ini dia melihat mata Rukia memancarkan keteguhan seperti itu. Dia sadar, dia sudah kalah. "Kau akan selalu jadi adikku, Rukia." Rukia tidak akan pernah sendiri, entah sang adik membutuhkannya atau tidak.
.-.-.
Rukia lelah.
Berkonfrontasi dengan suami dan kakaknya membuatnya letih. Namun yang membuat dadanya masih berdebar adalah kenyataan bahwa sekarang dia berada di kamar Aizen –yang juga kamarnya. Kamar luas itu berada beberapa gedung dari kamar lama yang ditempatinya. Interiornya menawarkan suasana hangat: bercat coklat terang, kelambu polos kuning dan hijau daun. Langit-langitnya tidak terlalu tinggi. Tempat tidurnya besar, empat orang pun muat. Di sanalah Aizen sekarang duduk.
Pria itu duduk bersila. Kacamatanya sudah tergeletak di meja kecil di kirinya. Wajahnya tampak segar. Titik-titik air mengalir dari rambut ikalnya.
"Kemarilah, Rukia! Kau bakal kedinginan kalau terus berdiri," ujar Aizen.
Kalau ada yang sangat disyukuri Rukia detik itu adalah bahwa Aizen masih berpakaian lengkap. Celana tidurnya senada dengan jaket abu-abunya. Sepertinya dia memakai baju beberapa lapis. Udara memang dingin.
Takut-takut Rukia mendekatinya. Jari-jarinya terkepal di punggung. Dia takut, cemas dan gemetar. Bagaimana bila Aizen memutuskan untuk melucuti baju yang dikenakannya? Apa yang harus dilakukan ketika Aizen memegang dan menarik jaket gadis itu? Ah iya, besok dia masih 'gadis' atau tidak? Apakah Rukia mampu melalui malam ini dengan selamat dan masih utuh keesokan harinya? Nel memberinya gaun kuning berbunga-bunga yang menurut Rukia hanya pantas dikenakan saat musim panas karena tipisnya. Rukia sudah melempar gaun itu jauh-jauh ke lemari bagian belakang. Gadis itu bergidik.
"Jangan berdiri sambil melamun," tegur Aizen ringan.
Nyatanya keduanya masih tetap berpakaian lengkap. Kasur Aizen sangat empuk, selimutnya juga super lembut. Di tempat senyaman itu seharusnya bayi pun akan tertidur nyenyak, tapi tidak dengan Rukia. Walau kelelahan menggelayuti pelupuk matanya, dia tak bisa tidur, terlebih jika dia sekasur dengan pria yang tak pernah dibayangkan akan jadi pendampingnya. Pria yang menakutkan sekaligus menawan.
"Tidurlah," kata Aizen.
Rukia memandangnya dari sudut matanya. "Tidak bisa," balasnya pelan. "Kau juga, tidurlah, Sousuke-sama." Sepenuh hati gadis itu berharap Aizen segera terlelap.
Tak ada salahnya dua orang tidur bersama- yah, secara harafiah begitu. Semua aman-aman saja asalkan sama-sama tidur. Nah, baru bahaya kalau tidak tidur.
Rukia menelan ludah dengan cemas, ingat dengan ucapan yang pernah didengarnya.
Aizen menarik selimut sampai dia yakin Rukia merasa hangat. "Tak usah memikirkan kejadian tadi," sarannya pelan, merujuk pada keputusan Rukia pada Byakuya dan dirinya.
"Iya," sahut Rukia, walau dalam hati menyangkal pernyataan Aizen. Dia galau karena hal lain. Sebisa mungkin tak ada anggota tubuhnya yang bersentuhan dengan Aizen meski terlindung tebalnya baju tidur.
"Aku lelah, Rukia."
Rukia menoleh. Kepalanya yang bergerak dan rambutnya menimbulkan suara pelan karena bergesekan dengan bantal. "Kau juga?" tanyanya setengah tak percaya.
Dari dekat Rukia melihat wajah suaminya lebih jelas. Wajah tampan itu tampak lelah. Matanya merah.
"Banyak yang terjadi tapi aku baik-baik saja. Pada akhirnya kau di sini," kata Aizen. Wajah culasnya sudah bertransformasi jadi wajah bijaksana dan rileks.
Malam yang ditakuti Rukia itu jadi malam penuh dongeng. Aizen bercerita awal mula dia bersemangat menggebu-gebu sejak kakeknya memberitahunya perihal Hisana. Bagaimana dia suka meminta sang kakek menceritakannya berulang-ulang dan menjadikan kisah itu kisah favoritnya. Sesekali dia tertawa kecil. Tawanya rupanya mengontaminasi Rukia. Gadis itu nyengir, tertawa kecil dan mengajukan pertanyaan.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul tiga lebih, barulah pasangan itu tertidur saling berhadapan.
.-.-.
TBC
A / N : FFn sedang down. Saya sudah mencoba membalas review dan PM, tapi entah kenapa gagal melulu. Tapi saya tetap berterima kasih pada teman-teman yang sudah bersedia membaca cerita ini. : )
