Part 2

Junmyeon menatap kosong kearah rak buku yang berada di depan ranjang tidurnya. Setelah pertemuan terakhirnya dengan Kris di lantai teratas gedung kantornya, lelaki bertubuh pendek itu terus saja memikirkan hal yang tidak-tidak. Dan untuk pertama kalinya pula, ia merasa menyesal telah memiliki darah langka bernama AB resus negatif.

Junmyeon terus saja menghela nafasnya, dan tidak sadar bila Byun Baekhyun, sahabat seapartementnya sedang menatapnya heran.

"Ya!" teriak Baekhyun akhirnya, setelah tak tahan dengan sikap Junmyeon yang terlampau aneh hari itu. "Kau kesambet ya?"tanyanya asal.

Junmyeon hampir saja menjatuhkan netbook putih miliknya karena suara Baekhyun yang terbilang nyaring itu.

"Apa ini?" Baekhyun merebut netbook itu. "Surat resign?!"

"Apa kaubilang?!" teriak Jaejoong juga yang sudah mencuri dengar dari balik pintu.

.

.

.

Junmyeon hanya pasrah ketika Baekhyun dan Jaejoong menyeretnya keluar kamar.

"Kau gila mau melepaskan perusahaan besar seperti itu?!" bentak Baekhyun.

Junmyeon menunduk dengan bibir mengerucut. "Maafkan aku."

"Junmyeon-ahh, pikirkan lagi keputusanmu itu."

"Tapi aku tak mau dianggap sebagai parasit yang hanya diterima karena darah langka ini, hyung."

"Coba kau pikir sekarang." Jaejoong memegangi kedua pundak adik sepupunya itu. "Keluarga sekaya Woo, apa mungkin akan mengorbankan bisnisnya demi darah langka? Mereka bisa membeli darah, bahkan mungkin organ langka seperti jantung dan hati bila mereka mau. Hilangkan pikiran tidak masuk akalmu itu, Junmyeon-ahh"

Baekhyun mengangguk setuju. "Dengarkan perkataan Jaejoong hyung itu, babo! Jangan bertindak gegabah dulu. Lagipula, berapa sih jumlah darah yang kau korbankan untuk adik CEOmu itu?"

"Junmyeon-ahh, kau pasti diterima karena kau cocok dengan kriteria mereka. Dan alasan diterimanya kau karena darah langka ini sangat konyol menurutku. Mungkin saja saat mereka mencari darah AB resus negatif malam itu, lalu mereka mengecheck data karyawan, mereka kebetulan menemukanmu."

"Kalo begitu alasannya." potong Junmyeon. "Kenapa aku tidak diminta datang untuk trainee?"

Baekhyun menggebrak meja makan di sampingnya dan hampir membuat kimchi jjigae yang dimasak Jaejoong berantakan. "Kenapa kau keras kepala, ohng?! Menjadi karyawan dari Woonam adalah takdirmu! Meski kau hanya diterima karena darah langka-pun, kau harusnya berterima kasih untuk itu! Pengecut bila kau menyerah karena gosip-gosip yang beredar di Woonam!"

"Eyh, sudahlah sudahlah. Jangan diteruskan lagi omelanmu, Baekhyun-ahh. Sebaiknya kita makan dahulu, atau kimchi jjigaeku akan menjadi dingin dan tak enak lagi."

Junmyeon memandang Baekhyun dan Jaejoong bergantian sebelum ia mengambil mangkuk nasinya dan menyuapkan banyak-banyak ke mulut mungilnya. Baekhyun hampir saja meluapkan emosinya lagi ketika Junmyeon lagi-lagi mengambil sesendok kimchi jjigae yang langsung dilumatnya.

"Wae?" tanya Junmyeon dengan mulut penuh.

"Kau…"

"Benar katamu, aku tidak boleh menyerah, aku harus membuktikan pada mereka kalau aku tak sudi diinjak-injak karena darah langkaku ini." Junmyeon kembali makan dengan lahap.

Dan Baekhyun hanya bisa pasrah menahan amarah sembari memijat kepalanya yang mulai pening.

.

.

.

Jessica tersenyum ketika melihat kakak lelaki satu-satunya memakan buburnya. Wanita itu mengetahui jelas kebiasaan kakaknya yang selalu memilih bubur untuk sarapan, dan selalu membawa bekal untuk makan siang di kantornya.

"Kau jadi aneh semenjak melahirkan, Jess."

Jessica memberengut setelah mendengar ucapan kakaknya.

"Oppa selalu tau cara untuk membuat kesal saat sarapan."

Kris sama sekali tak menghiraukan Jessica, sampai wanita itu pergi sejenak ke dapur dan membawa dua box makan siang.

"Kenapa dua?"

Jessica tersenyum lagi. "Well, ini untuk Kim Junmyeon."

"Kau bilang apa?" Kris mengira pendengarannya agak terganggu sekarang.

"Kim Junmyeon sudah memberikan banyak darah untukku malam itu, dan sebagai penderita darah langka aku tahu betul itu tidak mudah untuknya. Jadi, aku sengaja menyuruh bibi Im untuk memasakkan hati babi untuknya. Nanti suruh Sooyoung untuk mengantarkan itu untuk Kim Junmyeon, ok?"

Kris mempertahankan muka stoicnya.

"Tak masalah jika kau menolaknya, aku bisa mengantarkannya sendiri."

"Jangan cari masalah, Jess." Kris merebut dua box makan siang itu. "Changmin bisa menghajarku karena membiarkanmu keluar di masa penyembuhanmu."

Jessica-pun menampakkan wajah penuh kemenangan.

.

.

.

Pagi itu suasana hati Junmyeon kembali membaik. Ia dengan senyum bodohnya terus menyapa teman-teman kantornya—yang jelas-jelas tidak akan menyapanya balik. Eh, tunggu, kita melupakan Chanyeol. Yah, Chanyeol teman trainee Kyungsoo. Lelaki tinggi itu nampak berdesakan di dalam lift bersama Junmyeon.

"Pagi, Chanyeol-ahh."

Chanyeol memandang heran.

"Kau menyapaku?" ia menunjuk dirinya sendiri.

Junmyeon tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja!"

Chanyeol membalas senyuman Junmyeon dengan tak kalah dungunya. "Akhirnya ada juga yang mau menyapaku selain Kyungsoo di sini!" ia menggoyang-goyangkan bahu Junmyeon.

"Eish, kita kan teman sekantor, apa salahnya saling menyapa." balas Junmyeon. "Kau mau ke divisi financial juga, ohng?"

Chanyeol mengangguk.

"Kyuhyun-ssi menelpon ke divisi teknisi dan meminta tolong untuk memperbaiki lampu yang rusak di divisi kalian."

Lift tersebut berhenti dan yang lainnya berhamburan ke luar. Lantai 14 rupanya. Dan hanya Junmyeon serta Chanyeol yang bertahan di lift itu.

"Sebagai anak baru, mereka dengan mudahnya menyuruhku melakukan tugas seperti itu."

Junmyeon menepuk pundak Chanyeol.

"Jangan kecewa, mungkin saja hari ini mereka menyuruhmu mengganti lampu, tapi siapa yang akan tau esok mungkin kau dikirim untuk proyek besar? Akupun juga begitu. Aku bukan lulusan terbaik dari universitas terkenal. Aku hanya lulusan dari universitas kecil di Daegu. Mereka boleh mengolokku, tapi aku yakin, aku akan memiliki karier sebagus mereka yang menghinaku di sini. Kita tak boleh menyerah, Chanyeol-ah!"

Chanyeol berulang kali menganggukan kepalanya disertai dengan senyuman. "Kau benar, Junmyeon-ah! Kita berusaha bersama!"

Lift itu kembali berhenti, kali ini tepat di lantai 20, dimana terdapat divisi finansial.

"Aku duluan, Chanyeol-ah! Hwaiting!"

Oh, ingatkan Chanyeol untuk tidak terus tersenyum bodoh karena Kim Junmyeon.

.

.

.

Wejangan dan omelan dari Byun Baekhyun jelas memberikan perubahan besar bagi Junmyeon hari itu. Meski Kyuhyun memarahinya, lelaki pendek itu nampak tak mengambil hati.

"Maafkan saya, Kyuhyun-ssi, akan saya perbaiki sekarang juga."ujar Junmyeon yang baru saja terkena amarah Kyuhyun karena lagi-lagi ia salah menghitung bon pengeluaran perusahaan IT itu.

Junmyeon lalu kembali ke ruangannya setelah berkata "Hwaiting!" dengan suara pelan. Dan segera saja ia menempati mejanya tanpa tahu keempat rekan kerjanya sedang memandangnya heran.

"Eh, apa Junmyeon sedang tidak waras? Kyuhyun-ssi bahkan membentaknya tapi sekarang ia malah bersikap santai seperti tidak ada masalah." bisik Kyungsoo pada Soojung.

Soojung bergedik dengan muka bingung.

"Mungkin dia sedang senang, makanya….."

"Siapa di sini yang bernama Kim Junmyeon?" seorang wanita dengan tinggi semampai memasuki ruangan itu, membungkam mulut Soojung begitu saja. Kyungsoo, Jinri, juga Minseok sudah menganga, sedangkan Soojung hanya memandang wanita yang mereka kenal sebagai Choi Sooyoung dengan tatapan penuh tanya.

"Aku." cicit Junmyeon yang sedang merevisi laporannya.

"Hai, aku Choi Sooyoung, sekretaris Kris sajangnim." Ia lalu meletakkan sebuah bento box tingkat tiga di meja milik Junmyeon. "Ini titipan dari sajangnim. Selamat makan, Junmyeon ssi!"

"APA?!" teriak Kyungsoo, Soojung, Minseok dan Jinri bersamaan.

Junmyeon? Tentu saja ia menatap tak percaya pada bento box di depan matanya.

.

.

.

"Kurasa kau benar, CEO-mu benar-benar ingin kau menjadi sapi perah untuk adiknya." kata Baekhyun asal.

Junmyeon, Baekhyun, dan Jaejoong sendiri sedang berjalan melewati dinginnya udara pertengahan Desember. Junmyeon mengajak ketiganya bertemu dengan Chanyeol. Yah, semenjak pertemuannya dengan lelaki tinggi itu di lift, mereka menjadi akrab. Dan Junmyeon pikir, tak ada salahnya untuk mengajak Chanyeol makan bersama di kafe langganannya.

"Tak masalah, aku-pun sudah tak peduli lagi dengan masalah itu. Aku hanya memikirkan pekerjaanku saja. Lagipula, Jessica-ssi tak mungkin melahirkan sebulan sekali, bukan?" timpal Junmyeon.

"Hng." Jaejoong mengangguk. "Jangan pikirkan apapun, anggap saja kau memang pantas bekerja di perusahan sekelas Woonam. Dan kalau memang adik CEOmu itu meminta darahmu lagi, anggap saja itu bagian dari amal."

Junmyeon memamerkan kedua jempol tangannya.

"Eh, itukah temanmu?" tanya Baekhyun ketika mereka bertiga sampai di depan kafe langganan mereka.

Junmyeon hanya menjawab dengan anggukan.

"Biar aku masuk duluan, aku akan mengetestnya, apa dia cocok untuk menjadi teman kita."

Junmyeon dan Jaejoong bahkan belum menjawab sepatah katapun, tetapi Baekhyun sudah masuk mendahului mereka.

"Aish, benar-benar anak itu." gumam Jaejoong.

.

.

.

Sudah seminggu ini Junmyeon mendapatkan paket makan siang dari CEOnya. Dan parahnya, kali ini ia benar-benar menjadi bual-bualan rekan sekantornya. Bahkan keempat teman satu ruangannya pun, kerap kali menanyakannya hubungannya dengan sang CEO.

"Junmyeon-ahh, kau jujur sajalah, sebenarnya ada apa diantara kau dan Kris sajangnim?" tanya Jinri.

"Aku hanya membantunya sedikit, tak ada masalah lain. Kurasa paket hati babi itu dibuat karena sajangnim merasa berterima kasih padaku, tidak lebih."

"Memangnya, kau membantu apa?" tambah Kyungsoo.

Junmyeon menahan rasa sebalnya.

"Bantuan itu, ada hubungannya dengan privasi seseorang." Junmyeon mencoba tersenyum pada keempat rekannya.

"Junmyeon-ahh! Antar dokumen ini ke lantai 17!" teriak Kyuhyun.

Dan tak ada kata lain selain lega di hati Junmyeon. Setidaknya, ia bisa lepas dari pertanyaan-pertanyaan itu untuk sementara."

.

.

.

Acara minum selepas pulang kerja adalah hal yang wajar di Korea. Seperti malam itu, secara ajaib Minah juga Yura mengajak Junmyeon juga Kyungsoo, Minseok, Soojung, dan Jinri untuk minum bersama. Junmyeon-pun menyetujuinya, dengan syarat, ia datang membawa Chanyeol. Setidaknya, Chanyeol adalah teman yang bisa dipercayainya—mengingat Baekhyun dan Jaejoong yang juga sudah akrab dengan lelaki tinggi itu.

Dan benar saja, Junmyeon seperti tidak mengenali Minah dan Yura lagi. Sejak awal, kedua wanita itu sangat-sangat jengah dengannya, bahkan berulang kali ia mendengar Minah dan Yura mencemooh dirinya. Entah Junmyeon harus berterima kasih pada box makan siang dari CEOnya atau justru sebaliknya. Tetapi yang pasti, desas-desus tentang hubungan spesial Junmyeon dengan Kris semakin santer terdengar.

"Junmyeon-ahh." panggil Chanyeol ketika ia berjalan bersama Junmyeon menuju halte bus di dekat bar yang dipiliah Minah dan Yura. Setidaknya Junmyeon bersyukur karena Chanyeol hanya meminum sebotol bir, dan sanggup mengantarkannya walau hanya sampai di halte saja.

"Hmm?"

"Aku, sebenarnya penasaran."

Junmyeon menatap Chanyeol.

"Mungkin setelah ini kau akan sebal padaku, tapi aku tak dapat menahan rasa penasaran."

"Tanyakan saja." Junmyeon menaikkan kedua alisnya.

"Jadi, apakah benar kalau kau dan sajangnim sedang berpacaran?"

Tawa Junmyeon meledak. "Astaga, lelucon apalagi, ini?"

"Aku serius, Junmyeon-ahh."

"Ok, ok." Junmyeon berusaha meredamkan tawanya. "Apa menurutmu, seorang sajangnim akan membiarkan pacarnya menjadi pegawai rendahan? Kalau aku menjadi pacar sajangnim, aku mungkin sudah diangkat menggantikan Kyuhyun."

Chanyeol termangut-mangut.

"Dan lagi, kalau aku menjadi pacara sajangnim, dia akan mengirimkan hati angsa untuk makan siangku, bukan hati babi." tambah Junmyeon, asal.

"Syukurlah, berarti aku…"

"Eh, busku sudah datang!" tunjuk Junmyeon. "Katakan pada Baekhyun untuk membukakan pintu untukku. Aku lupa membawa kunci, dan ponselku habis baterai. Thanks, Chanyeol-ahh!"

Chanyeol mendesah kesal. "Aku bahkan belum mengatakan bahwa aku tertarik padamu."

.

.

.

Junmyeon kebingungan ketika tidak menemukan Jaejoong di sampingnya saat ia terbangun. Sudah lebih dari seminggu ini ia terbiasa melihat Jaejoong sebagai orang yg pertama kali ia temui saat membuka mata. Dan jantungnya berdetak kian kencang saat mendapati koper milik Jaejoong yang berdiri rapi di ruang tamunya.

"Hyung!" teriak Junmyeon.

Rupanya Jaejoong sedang berdiri menatap langit dari balkon apartement itu.

"Oh, kau sudah bangun, Junmyeon-ahh?"

"Apa maksudmu dengan koper itu, hyung? Jangan katakan…."

"Aku akan tinggal dengan pacarku, Junmyeon-ahh."

Junmyeon melebarkan matanya.

"Pacar? Sejak kapan, hyung?"

"Maaf karena merahasiakannya padamu. Aku, dan Hyunjoong sudah berhubungan setahunan ini. Pekerjaankupun, sebenarnya Hyunjoong yang membantuku untuk mendapatkannya. Semalam aku dan Hyunjoong kembali berbicara pada eomma perihal ini. Bagaimanapun juga, aku tak enak terus-terusan merepotkanmu dan Baekhyun."

"Hyung, kau sama sekali tidak merepotkan kami." Junmyeon memegangi tangan Jaejoong, erat.

"Sudah saatnya aku mandiri, Junmyeon-ahh. Aku sudah membicarakan perkara ini pada Baekhyun semalam, dan ia menyetujuinya."

Junmyeon baru sadar bahwa Baekhyun juga sudah menghilang di hari sepagi itu. Dan setelah dipikir-pikir, hari itu adalah hari Minggu, dimana Baekhyun biasa bertemu dengan editornya. Kecamuk di hati Junmyeon terhenti saat ponsel Jaejoong berbunyi.

"Hyunjoong sudah ada di halte depan, ayo antar aku."

Segera saja Junmyeon mengambil coat dan memakai bootsnya, dan berjalan beriringan dengan Jaejoong.

.

.

.

"Pokoknya kalau hyung kenapa-napa, segera hubungi aku."

"Eung.."

Junmyeon terus saja mengomel kalau matanya tak sengaja menangkap dua sosok pria di lapangan basket yang tepat berada di depan apartementnya. Jaejoong mau tak mau-pun mengalihkan pandangannya, mengikuti arah mata Junmyeon.

"Temanmu?"

Junmyeon mengangguk.

"Astaga Cool Hun, tampannya!" bisiknya.

Rupanya Sehun menyadari keberadaan Junmyeon dan malah mengayunkan tangannya, menyapa pria mungil itu.

"Hushhh." Sehun mengisyaratkan agar Junmyeon tak mengganggu konsentrasi Kris yang sedang berusaha melakukan dunk. Junmyeon-pun membalasnya dengan kode ok di tangannya.

"Ayo kita pergi, hyung." ujar Junmyeon tanpa mengalihkan pandangannya dari Sehun.

"Kau menyukainya?" tandas Jaejoong saat mereka cukup jauh dari Sehun dan Kris.

Junmyeon memegangi kedua pipinya. "Apa begitu kentara?"

Jaejoong mengangguk.

"Dia adalah Direktur Kreatif di Woonam, dan tidak ada yang tidak menyukainya di kantor. Dia baik terhadap siapa saja. Dan kau tau hyung? Dia yang mengantarkanku pulang saat aku mendonorkan darahku untuk Jessica-ssi."

"Aku sudah menduga dia adalah orang baik. Tatapan matanya menyiratkan hal itu."

Tak terasa mereka akhirnya sampai di halte, dimana Hyunjoong memarkirkan Porsche putihnya.

"Jangan pernah menyerah, Junmyeon-ahh. Siapa tahu Cool Hun-mu itu akan balas menyukaimu." Jaejoong menepuk-nepuk punggung tangan Junmyeon.

"Hmm. Hyung juga."

"Aku pergi dulu, kau jagalah dirimu."

Junmyeon memandang pacar hyungnya yang berada di balik kemudi. Semoga saja hyungnya benar-benar bahagia dengannya, kata Junmyeon dalam hati.

.

.

.

Kris sedang menikmati makan malamnya ketika Jessica mengeluarkan suara nyaringnya yang memekakkan telinga itu.

"Oppa, minggu depan aku akan membuat pesta perayaan kelahiran Yoojung."

"Hmm." Kris melahap sepotong samgyeopsal tanpa menghiraukan adiknya itu.

"Aku ingin oppa membawa pasangan."

Changmin yang sedang menikmati makannya-pun akhirnya menatap istrinya, tak percaya.

"Oppa, Tiffany baru saja pulang dari US, bukankah kalian berteman baik saat masih di sana? Apa aku perlu mengundangnya secara khusus untuk menemanimu?"

Kris terus memakan nasinya dalam diam.

"Oppaaaaaaaaaa." rengek Jessica.

"Aku sudah selesai makan." Kris berdiri setelah meneguk air putihnya, meninggalkan Jessica yang jengkel setengah mati.

"Sudah kubilang, tak ada gunanya untuk membicarakan hal itu dengan Kris."

Jessica menatap sebal suaminya itu.

"Kau tak tau betapa kesalnya aku saat ini, love."

"Aku memang tak tau." Changmin kembali memakan makanannya. "Eh, kau serius mau mengundah Tiffany di pestamu, love?"

Demi Tuhan, suaminya itu tau betapa sebalnya Jessica pada Tiffany saat mereka masih tinggal di US! Jessica yang kesal lalu menggambil segenggam ayam dan dijejelkannya pada mulut Changmin.

"KAU MASIH BERANI BERTANYA?! Aish, kenapa semua orang membuatku kesal malam ini!"

.

.

.

Sehun menenteng kotak makan siang Junmyeon, dan untungnya mereka berpapasan di saat Junmyeon sedang berjalan dengan teman-temannya menuju kantin kantor mereka.

"Junmyeon-ahh."

Junmyeon menoleh, dan betapa hatinya kecewa setelah mendapati Sehun yang berjalan kearahnya, memegang kotak makan siang tiga tingkat yang dipastikan isinya adalah hati babi. Ok dia tau hati babi bagus untuk darah langkanya, tapi sudah lebih dari seminggu ini ia memakan itu, dan ia mulai bosan. Ditambah lagi dengan pandangan orang-orang saat melihatnya memakan itu sendirian di ruangannya.

"Ah Cool Hun, ada apa?"

Parahnya lagi, Sehun menarik tangan Junmyeon untuk menjauh dari teman-temannya.

"Ini makan siangmu."

"Hmm, terima kasih."

Junmyeon menerimanya dengan terpaksa.

"Dan ini tambahan dariku." Sehun memberikan sebiji apel pada Junmyeon. "Terima kasih karena kau tidak memanggilku kemarin. Kris sangat tidak suka kalau ada karyawannya yang memergokinya sedang bermain basket denganku."

Junmyeon termangut.

"Tak masalah."

"Yasudah, cepatlah makan sebelum jam makanmu habis."

"Hmm."

.

.

.

Selepas itu, Junmyeon segera memutar otaknya, dan ia melompat girang saat mengingat lantai paling atas, tempat dimana ia bertemu Kris. Oh, dia-pun teringat akan mantel bulu Kris yang masih tergeletak di sudut kamarnya.

"Semoga sajangnim gila itu tidak mendapatiku makan di sini." ujar Junmyeon yang mulai membuka kotak makannya satu persatu.

Lelaki ceroboh itu segera memakan hati babi—kali ini dimasak dengan saus hong kesukaannya, walaupun rasanya tidak seenak daging samcan yang biasa ia makan di restoran China. Lalu bergantian ia melahap bayam rebus yang sudah dicampur dengan jamur enoki.

"Makan di sini lebih enak, setidaknya tidak ada yang memandangiku dengan aneh, seolah-olah aku adalah babi yang sedang memakan saudaranya sendiri.

Namun Junmyeon tak tau, ada sepasang mata tajam yang memandangnya sedari tadi.

"Menarik" kata orang itu.

TBC

.

.

.

HELLOOOOOOOO!

LONG LONG LOOOOOONGGGGGGGGGGGGGGGG TIME NO SEE!

Sejujurnya aku lupa loh punya fanfic ini -_- draftnya bertahan di laptop berbulan2, bahkan hampir setaun.

Entah kalian masih inget apa enggak sama fanfic ini ;A;

Well, aku cuma mau ngucapin terima kasih sama semua yg udah ngereview, ngelike dan ngefollow fanfic ini ~ YOU'RE MADE MY DAY, GUYS!

Kalo responnya masih bagus, aku bakal ngepost part 3nya akhir minggu ini jg guys ~ wkwkwkwkwk

btw, ada yg mau temenan sama aku di line? (modus biar ada yg ngobrak aku update, aku lupaan soalnya xD)