Permata Ungu
Summary: "Kau ganteng sekali," cetus Rukia tiba-tiba. Aizen terpana. Mata coklatnya membulat karena kaget sekaligus heran. "Ah…Ah…Anu…" Rukia tergagap. Dia blingsatan sendiri. Otaknya segera berputar mencari alasan kenapa mendadak dia memuji ketampanan suaminya. Sayangnya, tak ada satu pun alasan yang nongol. Sekarang dia seperti ikan yang megap-megap karena dilempar ke darat. AU
Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.
Chapter 15
.-.-.
"Kau kelihatan sibuk sekali," tegur Rukia lembut.
Aizen melepaskan kacamata perseginya. "Begitulah, Rukia. Banyak laporan yang masuk karena longsor di mana-mana. Tebing-tebing ambruk, pohon-pohon tumbang ke jalanan."
"Sampai membawa pulang kerjaan begitu," lanjut Rukia.
Suaminya tersenyum kecil. "Tidak cukup waktu kalau hanya mengerjakan ini," dia mengacungkan dokumen dan kertas di tangannya, "…di kantor. Terlalu banyak pekerjaan, terlalu sedikit waktu." Tanpa mengatakannya pun Rukia tahu hal itu. Walau malam sudah menjelang, Aizen tetap berwajah serius. Kertas dan gambar yang masuk kantor Las Noches ditelitinya satu persatu. Kacamata selalu bertengger di hidungnya, mata coklatnya awas. Meski jaket dan celana woolnya menunjukkan bahwa sekarang pria itu (seharusnya) menikmati waktu santai, posturnya yang sigap dan tegak menunjukkan hal yang berlainan. Aizen tetap sibuk dan bekerja.
Perlahan Rukia menghampiri Aizen. Di sudut kamar ada meja panjang dengan kursi empuk. Jelas sekali selama ini Aizen menggunakan kamarnya sebagai tempat istirahat sekaligus sebagai ruang kerja. "Ada yang bisa kubantu?"
"Tidak..tidak… kau tidur saja," sergah Aizen, menggelengkan kepala.
Bukannya duduk di samping Aizen, Rukia malah berdiri di belakang kursinya. Sesaat dia berpikir sebelum menjulurkan tangan dan memijat pundak Aizen. Sang suami tegang, kemudian santai. "Tanganmu kecil tapi mantap," gumam Aizen disela desahannya.
"Hm," balas Rukia. Diam-diam dia mengagumi otot yang teraba jari-jarinya. Aizen lelaki perkasa. Uhm, otot dan punggungnya, maksudnya, elak Rukia malu.
Aizen menangkap jari-jari Rukia dan menariknya sehingga gadis itu menempel di punggungnya. "Hei, kita belum berbulan madu," usiknya.
Rukia kikuk. "Ma-mana mungkin kita meninggalkan Hueco Mundo saat cuaca seperti ini dan kau banyak pekerjaan," ujarnya setengah tergagap. Kata 'bulan madu' terdengar begitu intim dan mesra di telinganya, membuat adik Byakuya itu merasa sensasi aneh.
Aizen mengelus punggung tangan istrinya. "Setelah kerjaan selesai, kita pergi jalan-jalan, ke tempat yang agak jauh. Bagaimana?" tanyanya meminta pendapat.
"Boleh," jawab Rukia.
Penguasa Hueco Mundo itu mendongak dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir istrinya. Ciuman itu tidak lama namun meninggalkan kehangatan di hati pasangan suami istri itu.
"Kau harus istirahat, Sousuke-sama," bisik Rukia. Napasnya menderu lembut menyapu rambut ikal suaminya.
"Iya, setelah aku mengecek laporan-laporan ini," balas Aizen.
Rukia tahu percuma saja meminta sang suami meninggalkan kertas-kertas di mejanya dan tidur. "Baiklah, aku tunggu sambil membaca."
Aizen mengangguk.
Pada akhirnya Rukia tidak jadi membaca. Novel di tangannya terlupakan. Istri Aizen itu malah menatap punggung lebar suaminya. Selama beberapa hari menyandang status sebagai pendamping Aizen, Rukia semakin tahu sisi lain Aizen yang tak pernah disangkanya sebelumnya. Tadinya dia mengira Aizen sebagai pria egois yang meminta orang lain untuk selalu menurutinya. Tidak berperasaan dan jahat. Nyatanya ketika menunaikan kewajibannya sebagai pemimpin Hueco Mundo, Aizen sangat bertanggung jawab. Rukia terus berkedip sementara dirinya bergelung di balik selimut tebal di tempat tidur.
Sepertinya mereka menikah di saat yang kurang tepat, batin Rukia. Gadis itu mendapat perasaan bahwa di hari mereka menikahlah Aizen terbebas dari kerjaannya yang menumpuk. Esoknya pria itu sudah kembali ke kantor dan meneliti laporan-laporan longsor yang masuk. Agak siangan, bersama dengan Gin dan beberapa orang, Aizen meninjau lokasi dengan bencana yang membutuhkan perhatian dan bantuan.
Mungkin karena itulah Rukia selamat.
Untung saja Aizen memunggunginya, karena kalau tidak laki-laki itu akan mendapati istrinya berwajah merah seperti tomat. Selama menikah, Aizen memang mencium dan memeluknya. Tak lebih dari itu. Sudah beberapa hari mereka menikah tapi Rukia masih gadis. Sebelum tidur biasanya mereka akan bercerita. Entah tentang kejadian yang mereka lalui hari itu atau malah tentang memori masa kecil pasangan itu. Rukia tidak pernah tidur dengan pria sebelumnya. Perlu beberapa hari baginya supaya groginya hilang dan nyaman berada di tempat tidur yang sama dengan suaminya.
"Rukia, kau melubangi punggungku dengan matamu," cetus Aizen tanpa berbalik. Ada kegelian dalam suaranya.
"Ti-tidak!" elak Rukia, terlalu cepat. Dalam hati dia berharap semoga suaminya tidak menyadari suaranya yang lebih keras.
"Kalau kau begitu menyukai punggungku, besok gosok yang lembut, ya? Boleh, kok."
Aizen mengajaknya mandi bareng? Tidak. Tidak. Tidak. Iya.
Rukia menarik selimut coklatnya sampai menutupi hidung, hanya memperlihatkan matanya yang membulat dan rambut hitam legamnya. Napasnya memburu. Dadanya berdebar. Kemudian…
Tahu-tahu saja dia mendengar tawa Aizen di atas kepalanya. Sebuah tangan kokoh memeluk pinggangnya. Dada bidang menutupi punggungnya. Dan kecupan mendarat di kepalanya.
Kapan Aizen bangkit dari kursi dan menyelinap ke balik selimut? Rukia tercekat sampai batuk-batuk. Tubuhnya ikut berguncang karena Aizen tertawa di kepalanya.
"Apanya yang lucu?" gertaknya.
Tawa Aizen makin keras. Rukia jadi malu sekaligus sebal.
"Kau yang lucu. Sudah, tidur saja. Kalau kau sampai kaku karena menahan napas begini, kita beneran tidak jadi tidur malam ini," balas Aizen disela-sela tawanya.
Rukia mengerang. Dia memang tegang dan gugup. Dengan hati-hati Rukia menarik napas, pelan-pelan sampai badannya rileks. Tangan Aizen sudah mengendur. Gadis itu merasakan dada suaminya naik turun dengan teratur.
Suaminya tertidur!
Nyonya Aizen itu setengah tak percaya. Setelah membuatnya berdebar, malu dan kesal, Aizen dengan gampangnya terbang menuju alam mimpi. Rukia agak lega.
"Bagaimana kau bisa tertidur secepat ini?" gumam Rukia pelan.
"Karena aku tenang di sampingmu," balas Aizen dengan suara berat dan mengantuk.
Oh oh. Rupanya dia masih belum sepenuhnya tidur.
Anehnya Rukia tidur pulas sekali malam itu. Dalam dekapan suaminya.
.-.-.
Rukia memejamkan mata rapat-rapat. Di kanan kiri keretanya adalah jurang yang tampaknya mengerikan. Pepohonan tumbuh rapat di beberapa tempat sedang di tempat lain longsoran tanah nyaris sampai ke tengah jalan.
"Jangan takut," kata Aizen menenangkan. Dia meraih pundak Rukia dan memeluknya.
Rukia membuka mata. Pandangannya lurus ke depan. "Bagaimana aku tidak takut," bisiknya gemetar. "Bagaimana kalau kita jatuh?"
"Kau belum terbiasa, sih. Gin dan aku sudah biasa lewat jalan seperti ini. Buktinya sampai sekarang kita masih selamat."
"Anda baik-baik saja, Aizen-sama?" teriak Gin dari depan.
"Aku baik-baik saja, tapi istriku yang tidak," seru Aizen.
Tawa Gin menyapu gendang telinga mereka. "Tidak lucu, Gin!" tukas Rukia.
Rukia memaksa ikut suaminya mengunjungi salah satu daerah longsor. Dia ingin tahu bagaimana Aizen bekerja. Akhirnya dia setengah menyesal. Kalau laporan, Rukia biasa saja. Tapi mengunjungi tempat longsor? Itu lain cerita. Rukia benar-benar khawatir dengan keselamatannya.
Sekarang gadis itu tahu bahwa tidak mudah memegang tampuk tertinggi Hueco Mundo. Status sebagai orang nomor satu di tempat itu memang terdengar keren dan membanggakan, tapi kewajiban yang diemban sungguh berat. Setengah enggan, Rukia mengakui dalam hati bahwa dia mengagumi suaminya yang dengan serius menangani permasalahan yang terjadi.
Ternyata tak ada orang yang seratus persen jahat dan tak berperasaan seperti di buku-buku yang biasanya kubaca, pikir Rukia dalam hati. Matanya mengikuti tangan suaminya yang membolak-balik gambar dan laporan tentang kerusakan yang diakibatkan hujan deras beberapa hari yang lalu. Setelah menandatangani beberapa dokumen, Gin, Aizen dan Rukia kembali pulang saat hari sudah malam.
"Capek?" tanya Aizen sambil memberikan secangkir air jahe panas.
"Terima kasih." Rukia menerimanya dengan senang. "Ya, agak capek. Aku tak pernah ke tempat seperti tadi." Begitu sampai di rumah, Rukia segera mandi. Guyuran air panas membuat ototnya yang kaku jadi rileks. Tapi yang lebih melegakan adalah bisa duduk dengan santai di rumah dan bukannya di jalanan licin dengan longsoran yang membahayakan pengguna jalan.
"Mau kupijit?" Aizen menawarkan.
Rukia nyaris tersedak minumannya. "Ti-tidak," tolaknya, gugup. Mendadak dia teringat perkataan sang suami pada malam sebelumnya, bahwa Rukia boleh menggosok punggungnya hari itu, yang nyatanya gagal. Aizen sudah duduk di hadapannya dengan seulas senyum di bibirnya. Pria itu sudah mandi. Rambutnya yang ikal masih basah. Wajahnya tak dihiasi kacamata. "Kau ganteng sekali," cetusnya tiba-tiba.
Aizen terpana. Mata coklatnya membulat karena kaget sekaligus heran.
"Ah…Ah…Anu…" Rukia tergagap. Aduh, rutuknya dalam hati. Dia blingsatan sendiri. Otaknya segera berputar mencari alasan kenapa mendadak dia memuji ketampanan suaminya. Sayangnya, tak ada satu pun alasan yang nongol. Sekarang dia seperti ikan yang megap-megap karena dilempar ke darat.
Aizen menyingkirkan cangkir yang dipegang istrinya. Dengan lembut dia menarik Rukia ke tempat tidur. "Sejak kapan kau sadar kalau aku ganteng?"
Rukia tak bisa mengalihkan wajahnya karena Aizen menatapnya tak berkedip. Bagian tangan suaminya yang kasar karena selalu bersinggungan dengan pena mengelus pipinya. "Sejak—sejak aku tahu kau orang yang bertanggung jawab."
Ada secuil tawa di wajah Aizen. "Bertanggung jawab dengan ganteng tak ada hubungannya, lho," sergah Aizen pelan. "Buatku, aku tahu kau cantik sejak aku pertama bertemu denganmu. Tapi kau yang sebagai istriku lebih indah lagi."
Mata coklat Aizen tak lagi lembut. Ada api di sana yang membuat Rukia merasa sesuatu menuruni perutnya dan membuatnya mendadak merasa jauh lebih hangat. Rasanya udara dipenuhi ketegangan, membuatnya sesak.
Aizen menarik kepala Rukia dan menciumnya. Ciuman itu berbeda dari ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Ada desakan tertahan yang perlahan menerobos dalam lidah Aizen. Tangan pria itu menelusuri wajah istrinya, lehernya, bahunya, punggungnya, kakinya. Tahu-tahu saja Rukia sudah mendapati tangan mungilnya di rambut Aizen.
Rukia mengerjab dengan napas memburu. Entah sejak kapan punggungnya sudah menempel di kasur. Susah untuk berpikir ketika dia menyadari bahwa bibir suaminya sudah menuruni lehernya. "Sou-Sousuke-sama…"
Suaminya mengangkat kepala. Dia memandang Rukia dalam-dalam. Ada sesuatu yang mempesona di wajahnya, dalam matanya yang nyaris hitam dan rambutnya yang berantakan karena jari-jari Rukia. "Rukia," balasnya parau.
Rukia gugup. Dia tahu apa yang diinginkan suaminya. Tanpa sadar dia menggigit bibirnya, gemetar. Ada rasa takut sekaligus keinginan yang tak pernah dirasakannya sebelumnya.
Aizen menciumnya lagi. Kali ini dengan pelan, tidak lagi seperti sebelumnya. Ciuman itu menenangkan Rukia.
"Aku akan lembut," ujar Aizen.
Rukia merasakan bagaimana jari-jari besar Aizen menyentuh kulitnya, perlahan melepaskan gaun yang dikenakannya. Jari-jari itu panas dan dingin. Ternyata suaminya juga gugup, sama sepertinya.
Hal itu membuat Rukia tersenyum. Dia memegang pergelangan tangan Aizen yang sudah menyentuh rusuknya.
Aizen memandangnya. Tangannya berhenti. Sekilas Rukia melihat sekelebat rasa kuatir di wajah suaminya. "Kau tidak suka—"
Rukia menggeleng. Sambil tetap memegang tangan Aizen, dia menggunakan siku satunya untuk bangkit. Segera saja wajahnya berhadapan dengan wajah Aizen. Ketika Rukia menggenggam jari-jari Aizen dalam kedua tangannya dan meletakkannya di dadanya, Aizen segera mendekap tubuh istrinya yang sudah tak ditutupi kain apapun. Tangannya yang bebas mengelus punggung Rukia.
Dengan tanpa beban Rukia mengucapkan selamat tinggal pada kata 'gadis' yang disandangnya. Sampai detik itu. "Jadikan aku milikmu seutuhnya malam ini," bisiknya yakin.
.-.-.
Pagi itu Rukia menggosok punggung suaminya. Beberapa kali tangannya tergelincir sabun. Dia tak bisa melihatnya dengan jelas tadi malam, tapi pagi itu Rukia tahu persis bagaimana kokohnya bahu dan punggung suaminya.
"Kok diam? Kau ngiler karena punggungku?" tanya Aizen.
Rukia memerah. Karenanya tak sengaja dia menggosok punggung Aizen dengan keras.
Aizen memutar tubuhnya. Busa sabun menuruni dada bidangnya yang berotot. Ada seringai di wajahnya.
"Tidak," tangkis Rukia. "Punggungmu besar, jadi aku…"
Aizen tertawa. "Baru melihat punggungku saja kau sudah terpana, apalagi melihat yang lain," tukasnya.
Rukia malu. Dia mengalihkan matanya tapi kemudian menutupnya. Aizen sudah menarik tubuhnya dan menciumnya dengan gairah seperti yang ditunjukkannya pada malam sebelumnya.
Rukia urung mengagumi punggung Aizen saja. Wanita itu mengagumi seluruh bagian tubuh suaminya.
Untung saja bak mandi mereka besar.
Siapapun yang mengatakan bahwa berbasah-basahan itu menyenangkan, Rukia setuju dengan mereka.
.-.-.
TBC
A/N: Sebelumnya maaf saya sudah menelantarkan cerita ini lama sekali. Ada banyak alasan yang tidak akan saya utarakan di sini karena terlalu klise. Tanpa banyak kata lagi, saya persembahkan cerita ini untuk teman-teman yang membaca Permata Ungu. Terima kasih atas dukungan kalian dan review serta support yang masuk meski cerita ini sudah tidak diapdet selama beberapa waktu. Selamat membaca!
