Permata Ungu

Summary: "Kau ganteng sekali," cetus Rukia tiba-tiba. Aizen terpana. Mata coklatnya membulat karena kaget sekaligus heran. "Ah…Ah…Anu…" Rukia tergagap. Dia blingsatan sendiri. Otaknya segera berputar mencari alasan kenapa mendadak dia memuji ketampanan suaminya. Sayangnya, tak ada satu pun alasan yang nongol. Sekarang dia seperti ikan yang megap-megap karena dilempar ke darat. AU

Disclaimer: Bleach bukan milik saya. Menulis cerita ini tidak akan membuat hak anime atau manga Bleach jadi milik saya, dan tidak ada uang yang bakal saya hasilkan dari cerita ini. Bleach tetap milik Kubo Tite-sensei.

Chapter 16

.-.-.

Rukia sangat menikmati kehidupan barunya sebagai seorang istri. Banyak yang harus dipelajarinya, seperti menyiapkan baju untuk Aizen dan makanan yang akan mereka makan. Memang sudah ada orang yang mencuci dan menyeterika baju mereka, dan Rukia tak harus memasak. Wanita muda itu bersyukur sekali ada banyak kemudahan yang diterimanya.

"Semuanya baru bagiku," ujarnya sore itu.

"Pernikahan ini dan apa yang kita jalani memang terasa baru," Aizen setuju.

Mereka berjalan mengelilingi taman istana dengan santai. Nyaris tiap hari pasangan suami istri itu kencan sebelum makan malam. Kadang Aizen mengajak Rukia melihat-lihat suasana Hueco Mundo dari gedung tertinggi istana atau sekedar jalan-jalan di taman. Hujan mulai berhenti dan matahari sekarang lebih sering menampakkan diri. Rukia merindukan atmosfir dingin dan kabut seperti yang kerap dijumpainya saat dia pertama kali menapakkan kaki di Hueco Mundo, tapi keadaan yang kering dan terang seperti ini jelas menjadi favoritnya. Tidak ada lagi tempat becek atau jalanan yang licin.

"Apa yang kau lakukan hari ini?" tanya sang suami.

"Aku menanam mawar," jawab Rukia senang. Ada binar di matanya. "Kemudian membaca buku. Yah, begitu sih hampir tiap hari," lanjutnya pelan.

Aizen meraih tangan istrinya dan mengajaknya duduk di bangku taman dekat deretan bunga lili. "Ada yang tidak kau sukai?" tanya Aizen. Pria itu mengamati wajah istrinya dengan seksama.

Rukia menggerakkan jarinya dengan gelisah. "Aku ingin membantumu," sahutnya lirih.

"Membantu seperti apa?" Aizen penasaran.

"Membantu pekerjaanmu. Atau apapun. Aku merasa tidak berguna," tukas Rukia pahit.

Aizen terlihat berpikir. "Katamu tadi kau menikmati peran barumu," ujarnya pelan-pelan.

"Sangat!" timpal Rukia buru-buru. Dia tak ingin Aizen mendapat kesan dia sudah mengalami kebosanan.

Pria itu tersenyum kecil. "Soal pekerjaan, biar aku saja yang menangani," kata Aizen berusaha menenangkan wanita di depannya itu. "Sejak awal aku tak ingin membebani istriku dengan hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan Hueco Mundo. Jujur saja, itu tidak mudah."

"Makanya aku ingin bisa membantu," sambar Rukia cepat.

"Kalau segitunya ingin menolongku, urus saja aku," kata Aizen ringan. Dia tertawa ketika Rukia memandangnya dengan tatapan tercengang. "Urus saja suamimu ini," ulang Aizen. "Kalau pulang, buatkan minum. Kalau capek, pijitin. Aku kerja kan buat kamu."

Aizen selalu saja bisa membuatnya senang! Rukia mengernyitkan hidung, menyembunyikan perasaan riangnya. Dia masih susah mempercayai bahwa pria yang kini mampu membuatnya berbunga-bunga adalah pria yang sama yang sudah menculiknya dari keluarga dan teman-temannya. "Hanya itukah yang kau inginkan dariku sebagai istri?" tanyanya ragu-ragu. Aizen telah memberinya sandang, pangan dan papan. Rukia sadar bahwa pria itu sudah memberinya banyak hal tapi Rukia tak bisa mengingat apa yang pernah diminta Aizen selain mengingatkannya bahwa rumahnya yang sekarang adalah Hueco Mundo. Dan meminta kesediaannya sebagai pendamping hidupnya.

Aizen menatapnya serius. "Aku tak tahu harus memintamu melakukan apa selain selalu ada untukku. Karena… Aku ingin hanya aku yang kau butuhkan." Pria jangkung itu mengalihkan matanya pada hamparan bunga di depan mereka. "Sejak aku bisa mengingat, aku sudah terobsesi olehmu."

"Tapi kau hanya mendengar cerita tentangku," balas Rukia terperangah. "Bahkan hanya sedikit yang tahu bahwa aku ada di muka bumi ini."

Aizen menyeringai. "Selalu ada cara, Rukia. Selalu ada cara sampai aku tahu Byakuya punya adik." Rukia melengos. Suaminya memang licik. "Tapi, aku bahagia. Dulu aku hanya memiliki obsesi tentangmu, sekarang aku bahagia sudah memiliki wanita impianku."

Rukia tidak jadi sebal. Ketika Aizen meletakkan tangan kecil Rukia di dada bidangnya, saat itulah wanita itu tahu Aizen berkata jujur. "Aku wanita impianmu?" bisiknya dengan suara parau.

"Satu-satunya wanita yang kucintai," balas Aizen tanpa ragu.

.-.-.

Rukia mengelus map-map tipis yang ditumpuk rapi di kantor suaminya. Isinya dokumen-dokumen property, pengadaan barang dan jadwal kunjungan. Dengan sayang istri Aizen itu menelusuri tanda tangan suaminya di bagian bawah dokumen. Ketika sampai pada map merah polos dan tanpa sengaja isinya terbuka, Rukia terkesiap.

Hanya ada selembar kertas tanpa nama pengirim maupun tanggal, namun jelas-jelas ditujukan pada Aizen. Tulisan-tulisan itu menggunakan huruf balok, seolah menyembunyikan identitas si pengirim. Surat itu surat ancaman sekaligus dampratan pada Aizen, supaya pria itu tidak sombong dan angkuh. Bahwa bisa saja suatu saat dia celaka karena kecongkakannya.

Tangan Rukia gemetar. Keringat dingin mulai muncul di dahi dan punggungnya.

"Rukia?" Aizen mengerutkan kening ketika tak ada suara sama sekali dari meja seberang. Dia bangkit dan menghampiri Rukia yang masih terpaku. Laki-laki itu menghela napas. Dengan gesit dia mengambil kertas dari tangan istrinya. "Tidak usah dihiraukan," sarannya tenang.

"Sousuke-sama, itu surat kaleng," tunjuk Rukia. Wajah kecilnya pucat pasi.

Aizen beranjak dan kembali dengan segelas air putih. "Minumlah."

Rukia meletakkan gelas yang airnya tinggal separuh itu di meja. Air dingin itu memang membuat kerongkongannya agak lega tapi tangannya masih gemetar. Gelas itu mendarat dengan keras di permukaan kayu meja.

"Aku sudah biasa menerima surat berisi omong kosong macam ini," urai Aizen.

"Isinya ancaman," protes Rukia ketakutan. Dia terduduk di kursi.

"Selama ini belum pernah sampai terjadi hal-hal yang membahayakan keselamatanku," tutur Aizen sabar. "Jangan-jangan ini pertama kalinya kau melihat surat kaleng?" Rukia mengangguk. "Aku sudah menerima surat seperti ini berkali-kali. Itu resiko, Rukia. Kau tahu kan peribahasa bahwa semakin tinggi pohon, semakin keras angin yang menghantam? Jauh-jauh hari aku sudah diperingatkan tentang hal-hal macam ini."

"Kau tak takut?" tanya Rukia. Matanya membesar.

Aizen menggeleng.

Mendadak Rukia merasa mulas sekaligus ingin muntah. Selama ini dia selalu mengira orang-orang takut pada Aizen dan tak ada yang berani mengirimkan ancaman padanya. Pikiran bahwa sesuatu bisa terjadi pada pria menjulang yang kini menatapnya dengan pandangan kuatir membuat adik Byakuya itu kalut.

Sejak pengakuan cinta Aizen beberapa waktu lalu, Rukia makin dihinggapi oleh bayangan-bayangan suaminya. Wanita itu lega bahwa Aizen tak hanya menginginkannya karena cita-cita yang sudah tumbuh tentangnya sejak pria itu masih kecil, namun juga karena dia mencintai Rukia. Tiap ingat pernyataan itu, hati Rukia selalu dijalari kehangatan.

Rukia yakin perasaan cemas yang dirasakannya saat itu karena dia peduli pada suaminya. Sangat peduli. Dia tak ingin sesuatu terjadi pada suaminya. Atau bahkan kehilangan Aizen.

Rukia memejamkan mata rapat-rapat. Mungkin inilah yang namanya rasa menyayangi.

Wanita itu menghambur pada suaminya dan memeluk tubuhnya erat-erat seolah hari itu adalah hari terakhir dia bersamanya. Rukia tak peduli bahwa mungkin dia bersikap kekanakan. Dia masih muda. Hidup dalam persembunyian nyaris seumur hidupnya membuatnya mengalami banyak hal tapi juga minim pengalaman dalam hal tertentu. Yang pasti, dia tak ingin lagi mengalami rasa kehilangan.

.-.-.

"Kau baik-baik saja, kan?" adalah kalimat pertama yang diucapkan Renji ketika dia bertemu Rukia.

Rukia tertawa. "Renji! Aku sehat. Kau?" balasnya ceria.

Renji mengamati kawan karibnya itu. Matanya awas, mencermati apakah Rukia yang menemuinya dengan mata jernih dan wajah bahagia itu memang nyata. Keraguannya bahwa wanita itu pura-pura senang segera menguap setelah dia yakin bahwa Rukia memang sesehat yang ditunjukkannya. "Aku juga," balasnya.

"Aku tak menyangka kita akan bertemu secepat ini," cetus Rukia.

"Aku ada urusan dekat Las Noches. Untungnya Aizen mengizinkanku menemuimu. Setelah pria ceking itu memastikan aku tak berbahaya dan tak bersenjata," imbuh Renji sebal. Dia menunjuk Gin di kejauhan. Seolah tahu bahwa dirinya dibicarakan, pria kurus berwajah aneh itu menyeringai dan melambaikan tangan.

Rukia balas melambaikan tangan.

"Rukia!" Renji memperingatkan. Matanya melotot pada Gin dan sahabatnya sekaligus.

"Gin tidak jahat padaku, kok," sahut Rukia meyakinkan.

Renji mendengus. "Lihat wajahnya! Bikin bulu kuduk berdiri."

"Itu caranya tersenyum, lho," ujar Rukia santai.

Mereka duduk di salah satu gazebo yang ada di taman. Renji menyesap teh hijaunya pelan-pelan sambil mendengarkan cerita Rukia tentang hal-hal yang dikerjakannya tiap hari. "Syukurlah kau senang. Kami semua kangen padamu."

"Aku juga kangen kalian," kata Rukia ringan.

"Kau benar-benar berubah," ucap pria berambut merah panjang itu. "Kau kelihatan benar-benar bahagia." Rukia mengangguk antusias. Renji memperhatikan bahwa tidak ada kesedihan dalam raut wajah Rukia, seperti yang dijumpainya jauh-jauh hari sebelum wanita itu menikah dengan Aizen. Sejujurnya Renji agak bingung dengan perubahan itu. Dikiranya Rukia masih merasa tidak rela sama sekali tinggal di Hueco Mundo. Nyatanya, kawannya itu kelihatan kerasan di rumah barunya. "Byakuya masih kuatir tentangmu."

Senyum sumringah Rukia memudar. "Tolong bilang kakakku, tak perlu ada yang dikuatirkan. Aku baik-baik saja. Sekarang aku punya suami yang menyayangiku. Aku tak sendirian," tukasnya lembut. Senyum yang dilihat Renji pada wajah adik Byakuya itu bukan lagi senyum kekanakan. Tidak dipaksakan. Renji tak tahu harus merasa apa saat disadarinya bahwa Rukia yang sekarang terlihat lebih bijak.

Renji berdehem. Dia melihat sekeliling mereka dan memastikan tak ada yang bisa menguping pembicaraan mereka. Hanya ada Gin di ujung halaman sebuah bangunan, agak jauh dari duo sahabat itu. Yakin bahwa cengiran Gin bukan karena dia bisa mendengar isi pembicaraannya dengan istri bosnya, Renji melanjutkan pelan. "Aku bertemu Ichigo beberapa waktu lalu."

Punggung Rukia jadi tegak.

"Kau masih ingat dia, kan?"

"Aku belum lupa pada Ichigo," jawab Rukia lirih.

"Dia menanyakanmu," Renji menurunkan volume suaranya. "Ichigo menanyakan kabarmu. Ketika aku jawab kau sudah menikah dan pindah ke tempat suamimu, wajahnya langsung pias. Pucat."

Rukia merenung. Renji tidak berani mengusiknya. "Menurutmu kenapa dia seperti itu?"

"Jelas, kan? Dia menyukaimu. Ichigo patah hati mengetahui kau sudah jadi istri orang," balas Renji langsung.

Ichigo adalah laki-laki pertama yang disukai Rukia. Tapi entah kenapa wanita itu tidak terlalu sedih mendengar kabar tentang Ichigo. Bahkan sejujurnya, Rukia hanya merasa simpati pada pemuda berambut seperti kulit jeruk itu. Apa yang dirasakannya pada suaminya jauh melampaui apa pun yang pernah dirasakannya sebelumnya: dulunya kemarahan, kegusaran, kebencian, dan sekarang Rukia yakin bahwa dia mulai jatuh cinta pada Aizen. Wanita bertubuh pendek itu tahu pasti jika rasa sukanya pada Ichigo tampak tidak berarti bila dibandingkan dengan rasa sayangnya pada suaminya sampai detik itu. Aizen membuatnya merasakan banyak hal, dan Rukia yakin masih ada perasaan-perasaan lain yang akan muncul karena suaminya.

"Renji," panggil Rukia. "Aku bahagia bersama suamiku. Tidak ada penyesalan atas apa yang pernah kurasakan pada Ichigo sebelum aku ke sini. Aku hanya ingin kau tahu itu," putusnya.

.-.-.

"Terima kasih sudah mengizinkan Renji menemuiku," kata Rukia pada suaminya di kantor, segera setelah dia mengantar Renji melewati pos pemeriksaan.

Aizen tersenyum tipis pada istrinya yang menggandeng tangannya itu. "Aku senang kau senang," balasnya pendek.

Rukia meremas lengan suaminya. "Aku senang sekali," bisiknya gembira.

Aizen menggumam. Pria itu melirik gelang bermata ungu yang menghiasi tangan Rukia. Walau Rukia tidak mengatakannya secara terang-terangan, Aizen tahu wanita itu mulai menyayanginya. Dia tak lagi terbakar cemburu oleh Renji. "Apa pun yang kau inginkan," balasnya dengan sayang.

Rukia memandangnya. Tatapan matanya menyiratkan banyak hal yang membuat Aizen bersyukur kini dia memiliki wanita itu sebagai istrinya.

"Oh, Rukia. Gin juga senang temanmu itu ke sini," kata Aizen kalem.

"Kenapa?" Rukia ingat bahwa Gin melemparkan seringai dan cengiran ke arah mereka ketika itu. "Karena menemukan lawan yang sama-sama kuat?"

"Bukan. Karena Gin suka Renji," jawab Aizen enteng.

Rukia mengerutkan kening, tidak mengerti. Dia memandang suaminya, meminta penjelasan lebih lanjut. Bukannya menjawab, Aizen malah mengedikkan kepala pada tangan Rukia yang melingkar pada lengannya dan menaikkan kedua alisnya. Senyum pria itu terlihat ganjil.

Mata Rukia membulat. "Tidak, Suamiku. Kau tak mungkin serius!" serunya tak percaya.

.-.-.

"Kau tak perlu mengantarku keluar," kata Renji ketus.

"Tak apa, aku tak keberatan," balas Gin ringan. Dia menjejeri langkah panjang Renji.

"Aku tak punya senjata. Aku tak berbahaya. Aku juga tidak berniat untuk menculik Rukia dan membawanya ke Seireitei atau Karakura," sembur Renji panas.

"Ya, ya. Aku tahu kau tak bersenjata," ujar Gin, tidak terpengaruh oleh nada judes kawan istri bosnya itu.

"Aku tadi tidak lewat sini," Renji menghentikan langkah ketika Gin mendorongnya ke arah kiri.

"Ini, lho, kebun kesemekku," ujar Gin bercerita. Walau tubuhnya kurus dan dipeluk sedikit daging, dia pria kuat. Terpaksa Renji memutar tubuhnya ke kebun yang ditunjuk Gin. "Aku menanam semua pohon itu sendiri," lanjut Gin. Nadanya bangga, seperti bapak yang bangga dan sayang melihat anak-anaknya tumbuh sehat.

"Oke," balas Renji. Matanya memandang pohon-pohon kesemek itu. "Banyak sekali," katanya basa-basi.

Pria yang beberapa senti lebih pendek dari Renji itu nyengir riang. "Kesemek buah paling enak di dunia."

"Itu menurutmu saja," gerutu Renji. Pemuda itu ingat ucapan Gin, bahwa dia lawan yang tangguh bagi Gin, meski pada akhirnya Gin berhasil mencederainya dan membantu Aizen dengan mulus.

Renji nyaris terlonjak ketika dia merasakan ada yang mengelus punggungnya. "Apa yang kau lakukan?" desisnya tajam.

"Bajumu kotor. Ada debu yang nempel," jawab Gin ringan. Jari-jarinya yang kurus dan panjang sudah menepuk-nepuk lengan Renji.

Renji jengah. "Kukira ada setan menyentuhku," timpalnya geram. Dengan gusar dia menepis tangan Gin. "Aku pergi. Tidak, aku tak mau diantar olehmu." Renji mundur ketika Gin sudah melesat di depannya, menghalanginya.

"Aku suka orang yang penuh semangat sepertimu," tukas Gin kalem. Dengan gerakan super cepat Gin mendaratkan bibirnya pada pipi Renji.

Renji terpekur. "K-kau!" serunya marah. Wajah pria muda itu sudah sewarna rambutnya. Baru kali itu ada orang yang menciumnya. Seorang pria pula! Renji luar biasa malu sekaligus ingin menginjak-injak pria berambut ungu keperakan itu sampai rata dengan tanah.

Orang-orang yang melihat Gin saat itu pasti menduga bahwa pria jangkung itu mendapatkan hadiah buah kesemek berbagai ukuran dari seluruh dunia. Wajah tirusnya berseri-seri, namun sedetik kemudian bogem mentah Renji sudah mendarat di pipi kiri Gin.

.-.-.

Rukia gelisah. "Gin dan Renji jalan berdua menuju gerbang?" tanyanya curiga.

Aizen di depannya mengangguk santai, tak terpengaruh oleh kegundahan istrinya sedikit pun. "Tak usah takut begitu," tegurnya tenang.

"Tentu saja aku takut!" seru Rukia cemas. "Aku takut Renji diapa-apakan Gin."

"Kau pikir Gin mesum?" tanya Aizen geli. Dia meletakkan pena dan kertas-kertasnya. Matanya menatap istrinya penuh tawa.

"Bisa jadi," balas Rukia, jelas jauh dari geli. "Ini kawan karibku, Sousuke-sama. Terang saja aku kuatir."

Aizen menarik tangan istrinya dan memijat telapaknya tangannya. "Asal Gin senang, aku biarkan saja apapun yang terjadi," ujarnya enteng.

"Aku tidak senang kalau itu berhubungan dengan Renji," cetusnya, mulai rileks karena pijatan Aizen.

"Gin sudah seperti adik dan temanku sendiri," kata Aizen. "Bahkan kadang aku merasa jadi ayahnya," imbuhnya seraya menggelengkan kepala.

"Aku baru tahu Gin suka laki-laki," balas Rukia.

"Gin hanya suka kesemek dan Renji," ralat sang suami.

Rukia mendongak ketika ada bayangan menaungi tubuhnya.

"Ada apa Gin?" tanya Aizen. Pria itu tak melepaskan tangan istrinya. "Lho, pipimu kenapa?"

Rupanya Gin sudah masuk kantor tanpa suara.

Pria itu nyengir senang meski ada lebam di pipi kirinya. "Tidak kenapa-napa. Saya baik-baik saja," jawab Gin misterius. "Aizen-sama, jika semua urusan kantor dan administrasi sudah beres, saya mau cuti."

"Cuti? Kau mau kemana?" tanya Rukia penasaran. Dalam hati wanita muda itu bersorak gembira melihat lebam kebiruan di wajah Gin. Rukia puas karena dia yakin Renji mampu melindungi diri dan bahkan sukses meninju wajah kurus Gin.

"Seireitei," jawab Gin lugas.

Rukia terperangah.

"Mau kencan dengan Renji?" Aizen bertanya, yang dijawab Gin dengan tertawa. Rukia benar-benar mulas mendengar tawa Gin yang kedengarannya mesum itu. "Boleh, kau boleh cuti ke Seireitei," sambung Aizen mengizinkan.

"Terima kasih, Aizen-sama," balas Gin. Cengirannya makin lebar ketika dilihatnya Rukia mengirimkan tatapan sengit padanya.

.-.-.

Rukia menyukai bunga, namun yang paling disukainya adalah melihat-lihat bunga di pasar bunga kota seberang dengan Aizen. Mereka berdua akan berjalan lambat-lambat seraya mengamati bunga-bunga dalam pot atau bunga potong di jejeran toko. Pasar bunga di kota itu memang terkenal. Kadang seminggu atau dua minggu sekali Rukia dan Aizen ke sana.

"Kau boleh beli bunga apa pun," Aizen menawarkan.

Rukia melirik suaminya sekilas. Mereka baru saja meninggalkan toko bunga. Di tangan Rukia ada buket mawar merah gelap. Batang-batangnya tampak kontras dengan gelang yang dikenakan wanita itu.

"Kau masih marah soal Gin dan Renji?" goda Aizen.

"Tidak," balas Rukia singkat.

"Maaf tidak memberitahumu sebelumnya. Aku baru sadar Gin suka temanmu itu saat dia datang padaku dan menawarkan diri untuk mengantar Renji masuk Las Noches," urai Aizen untuk yang kedua kalinya.

"Kenapa harus Gin?" sesal Rukia muram.

"Tanya saja sendiri," Aizen tertawa.

"Amit-amit," sahut Rukia ngeri.

"Kau masih tidak memaafkanku?"

"Mana mungkin aku marah lama-lama pada suamiku."

Aizen berhenti. Rukia ikut menghentikan langkah. Wanita itu menatap Aizen. "Sousuke-sama?"

Sinar matahari sore itu memantul lembut di mata coklat Aizen. Sekali lagi Rukia membatin bahwa Aizen memang tampan. Matanya yang tak terhalang kacamata membuat pria itu makin tampak dewasa dan rupawan.

"Kau tahu, para delegasi dari departemen pengadaan barang di pusat kota ini kemarin menggoda dan mengolok-olokku. Mereka bilang, sejak menikah aku jadi ceria, tidak pernah lagi tampak murung," kata pria bertubuh tegap itu. "Aku berjalan dan tertawa seperti orang paling beruntung di dunia."

Rukia tersipu. Wajahnya memerah. Sejak menikah, wanita itu juga merasa dia salah satu orang paling beruntung dan bahagia yang ada di muka bumi. Dia tak pernah lagi merasa sedih. Menurutnya, ajaib sekali ketika di siang hari dia selesai membaca di perpustakaan mini di rumah mereka dan kangen pada suaminya, tahu-tahu saja Aizen sudah menunggunya di ruang makan. Yang membuat Rukia lebih takjub lagi adalah pernyataan Aizen bahwa mendadak dia kangen padanya, meski tiap sore Aizen akan pulang dan bertemu istrinya lagi.

"Itulah kekuatan cinta," balasnya samar.

Aizen mengangguk. "Aku tak bisa lebih setuju lagi," sambungnya. Dia meraih pinggang Rukia, mengajaknya terus berjalan. "Meski seringnya aku yang tak suka kalau ada laki-laki lain yang memandangmu. Barangkali mata mereka tidak bisa melihat cincin kawin besar yang melingkar di jari manismu."

Rukia tidak lagi cemberut soal Gin dan Renji. "Kau cemburu?" tanyanya.

"Tidak juga," elak sang suami.

Rukia mendongak. "Aku cemburu, lho, saat kau membayar mawar ini dan gadis penjual bunga tadi menatapmu tak berkedip."

Aizen terperangah.

"Aku cemburu ketika para wanita cantik melihatmu seolah-olah mereka ingin memilikimu," Rukia meneruskan.

"Kau cemburu?" ulang Aizen.

"Iya. Sousuke-sama, apakah ini yang namanya cinta?" Rukia tersenyum simpul. Dia menatap suaminya penuh cinta.

Baru kali itu Rukia melihat wajah Aizen seterang dan sebahagia itu. Walau culas, cerdik dan tanpa kompromi, nyatanya pernyataan cinta secara lisan dari sang istri adalah hal yang selama ini dinanti Aizen.

"Tentu saja itu cinta," jawab Aizen, sangat senang. Dia mengajak istrinya berbalik ke toko bunga yang tadi mereka datangi.

"Mau beli bunga apa lagi?" tanya Rukia heran.

Sambil merangkul pundak Rukia, dengan lugas Aizen berkata pada si gadis muda penjual bunga, "Aku beli semua bunga yang ada di toko ini."

Butuh beberapa detik sampai si gadis penjual bunga pulih dari kekagetannya. "Semua, Tuan?"

"Semua. Tolong antar ke Las Noches dengan kereta, saat ini juga," lanjut Aizen diplomatis.

"Untuk apa bunga sebanyak ini? Mau ada perhelatan apa?" Rukia bertanya, tak sabar.

"Apa ada acara besar, Tuan?" si gadis memberanikan diri bertanya. Itu pertama kali ada yang memborong semua bunga di tokonya tanpa sisa.

Aizen memandang istrinya kemudian mengalihkan matanya pada si gadis. "Tidak ada acara formal. Aku hanya ingin membelikan banyak bunga untuk istriku," jawab Aizen mantap.

Rupanya itulah cara Aizen berterima kasih pada si gadis penjual bunga. Dialah yang membuat Rukia cemburu dan tanpa sadar mendorong istrinya untuk menyatakan rasa cintanya pada Aizen.

Rukia hanya bisa berdiri dengan takjub.

.-.-.

.

.-.-.

.

Epilog

.

Aku senang Rukia yang sekarang adalah Rukia yang berbahagia. Dia tak lagi gadis yang dulu kukenal. Kini dia menjelma menjadi wanita tegas yang mampu membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Banyak hal mengejutkan keluar darinya, tapi yang terpenting sekarang adalah bahwa dia berada di tempat yang aman, bersama orang yang membuatnya juga merasa aman dan nyaman.

Penyesalan yang dulu kurasakan kini mulai berkurang. Perlahan aku bisa menerima bahwa semua tak akan sama lagi.

Seseorang memanggil namaku ketika aku menginjakkan kaki di sebuah rumah besar yang selama beberapa waktu kutinggali.

"Renji."

Aku menoleh. Rupanya kakak Rukia. Walau ekspresi wajahnya sama ekspresifnya dengan tembok, aku menangkap ada kegembiraan dalam mata gelapnya. "Rukia akan datang berkunjung minggu depan," jawabnya ketika aku bertanya.

Aku ikut bersuka cita. Wajar saja Byakuya gembira. Kalau dipikir-pikir, akulah yang lebih sering bertemu Rukia, bukan dia, kakaknya.

Meski masih sulit, rupanya Byakuya mulai menerima kenyataan bahwa Aizen adalah suami Rukia. Terlebih ketika beberapa minggu lalu aku menyampaikan pesan dari sahabat karibku itu bahwa tak ada yang harus dikuatirkan Byakuya.

"Aku akan menyampaikan hal ini pada Shirayuki, biar dia menyiapkan makanan dan semua yang disukai Rukia. Mumpung masih siang," gumamnya seraya berjalan kembali menuju rumah. Aku akan berbelok ke paviliun yang jadi tempat tinggalku ketika dia memanggilku lagi. "Dalam suratnya, Rukia juga bilang Gin akan ikut bersama mereka. Dia ingin menemuimu. Aku baru tahu kalau kau dan pria dari Hueco Mundo itu akrab."

Mendadak aku geram, gusar dan gemetar. "Kami tidak akrab," tegasku keras. Byakuya menolak permintaanku untuk tidak menerima Gin Ichimaru di tanah Seireitei.

Permasalahan soal keturunan di antara keluarga Kuchiki dan Aizen memang tuntas meski masih ada perasaan jengkel dari pihak Byakuya. Tapi rupanya tidak bagiku. Masalahku baru saja dimulai. Dengan Gin Ichimaru. Oh. Oh.

.-.-.

The End

.-.-.

Zang's Note: Akhirnya, selesai. Terima kasih untuk teman-teman yang telah membaca Permata Ungu dan memberikan respons.