Tittle : 60 sec
Main cast : Jung Daehyun, Choi Junhong (Daelo)
Length : Oneshoot
Warning : This is YAOI (BOYXBOY) fanfiction. Typos, not EYD.
My eyes go blank and my lips lost all words
My heart stops at the sound of your sighs
I didn't hold onto you, I saw your heart in this not-so-short time
That's the kind of person you are, a story that's enough for me
Your message has been clearly told
You said you were hurting and I let you go – that last time
.
Kim Sunggyu - 60 seconds
"Sebenarnya aku..."
Junhong mencari-cari kemana mata itu menjurus. Mengikuti setiap gerakan Daehyun yang gelisah.
"Aku..."
"Gwenchana i'm not okay, i'm not not not okay~"
"Ya, himchan hyung."
"Baiklah, aku segera kesana."
Junhong memandang sejenak Daehyun yang menyapu tangannya gelisah. Yang kemudian melempar senyum sekan tak ada lagi yang dianggapnya penting.
"H-hyung—"
"Tak apa. Pergilah."
.
.
Sebuah amplop cokelat berukuran besar dan tebal telah tersedia di atas meja. Lelaki paruh baya ber jas hitam itu menatapnya nanar. Aroma kertas-kertas yang menikam hidung mulai merebak di ruangan meski masih tertutup rapat.
"Persetujuan?"
Mata yang tadinya berkobar kini padam. Mengingat 'sejuta' syarat yang harus ia tempuh hanya untuk sebuah dokumen yang bahkan belum diketahui isinya.
"Tuan Choi...itu hanya sebuah syarat yang mudah, bukan? Jangan terlalu dipikirkan, lagi pula ini untuk kebaikanmu, oh, maksudku putramu."
Tangannya mengepal kuat-kuat.
"Let him choose his own way."
Pria paruh baya yang duduk bermuka dengannya kembali menarik amplop itu.
"It means you rejected it, Mr. Choi."
Napasnya memburu.
"Baiklah. Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," lelaki berkumis lebat itu beranjak dari duduknya.
"Just sayin, you've just missed a big chance."
Ia terdiam. Jarum detik yang seakan bergerak cepat memanipulasi suasana. Menertawakan ketidakberdayaannya.
"Mr. Kim!"
.
.
Junhong kalut. Tak biasanya Daehyun sulit untuk sekedar dihubungi dan tak ada di rumahnya. Melihat layarnya yang kejam tak ada pemberitahuan. Sudah beberapa kali Ia mengirim pesan suara namun tak kunjung ada balasan.
Berjalan kesana kemari sambil memainkan ponselnya yang suram. Mendengung sesekali memutar telunjuknya layaknya Harry Potter dan berharap benda itu akan menyala membawa berita.
"Choi Junhong..."
"Aku..."
"Sebenarnya aku..."
Junhong mengutuk bunyi nyaring ponselnya yang mengagetkannya. Namun kembali berseri ketika disana tertera nama yang sungguh dinantinya.
"Daehyun-hyung!"
"Junhong-ah..." suaranya parau.
"A-ada apa? Apa yang terjadi?"
Hening. Kekhawatirannya memuncak kala mendengar isakan jauh disana.
"H-hyung? Kau tidak apa?"
"Ibuku...meninggal dalam kecelakaan..."
Junhong terdiam. Mencerna suara Daehyun yang bagai bisikan.
"Dia...sudah dalam tempat istirahat terbaiknya..."
Bulir-bulir bening itu merdeka. Junhong tak kuasa membendung sakit yang Daehyun rasakan. Sakit yang sama ketika lima tahun lalu menghujamnya.
"Aku...tidak punya siapa-siapa lagi..."
Junhong tahu. Ia tahu dirinya jauh lebih beruntung.
"Aku ini...hidup untuk siapa..."
Lift apartemennya terbuka. Menampakkan sosok yang tak biasa. Kemeja hitamnya lusuh tak beraturan. Rambutnya berantakan. Matanya merah mengalirkan air. Melepas begitu saja benda yang masih tega menyala dari tangannya.
Junhong memeluknya erat. Bersama larut dalam pedihnya malam.
"Kau tidak sendiri, hyung...kau tidak sendiri..."
Daehyun seakan limbung jika saja Junhong tak merengkuhnya. Lututnya sudah tak mampu menahan beban. Beban hidupnya.
"Aku disini hyung...aku bersamamu..."
Junhong menatap dalam. Mata Daehyun yang menghitam. Mengusap aliran yang begitu menyiksanya. Menyaksikan betapa beratnya hidup sebatang kara. Jung Daehyun, tanpa orangtua. Tanpa keluarga.
"Kumohon katakan sesuatu.."
Junhong harusnya malu. Berkata untuk tegar padahal dirinya tidak. Berkata untuk kuat, nyatanya dirinya ikut hanyut dalam siksa.
"Tetap disini..."
Junhong mengangguk. Memaksakan lengkungan itu terlukis pada parasnya yang memerah. Ia tahu. Junhong tahu Daehyun tak pernah sekacau ini. Daehyun seorang pekerja keras. Daehyun yang pantang menyerah.
"Aku bersamamu..."
.
.
"Bukankah itu bagus?"
Himchan mengangguk samar. Yongguk tahu, ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan kekasihnya.
"Jadi...dia akan tinggal bersama kami?"
"Jika kalian tidak keberatan. Aku yakin tidak akan merepotkan."
Himchan menatap ragu, "Tapi dia...aku rasa dia sudah nyaman di sana."
Pria paruh baya itu tersenyum. "Kalau kalian takut akan mengganggu kegiatan kalian, aku akan carikan apartemen."
"Bu-bukan begitu paman—"
"Lagipula hanya untuk sementara."
"Sementara?"
Ia menghela napas.
"Aku harus mengambil keputusan yang berat."
"Maaf paman. Akan kami pikirkan."
"Dia sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri. Terimakasih atas kerjasama kalian."
Keduanya membungkuk hormat sebelum sosok yang begitu disegani itu menghilang dibalik pintu.
"Apa yang kau khawatirkan?" Yongguk memperhatikan gerak-gerik Himchan yang resah.
"Kau tahu kan, aku menyayanginya..."
Yongguk mengusap pundaknya. Ia memahami bagaimana pasangannya begitu peduli terhadap orang lain melebihi pada dirinya sendiri.
"Dia sudah bahagia..."
Yongguk, pendengar paling setianya.
"Aku takut jika hal ini akan merusak kebahagiaannya."
"Percayakan semua padanya."
"Tidak, Bbang. Aku bisa melihatnya..." Ia menerawang jauh, "aku bisa melihat bagaimana senyumannya kembali setelah kejadian beberapa tahun yang lalu."
Yongguk mengangguk taat.
"Entah apa, yang jelas dia sudah cukup bahagia..."
.
.
"Tumben sekali..."
"Eheum. Mau datang tidak?"
"Sepertinya tidak perlu dijawab~" Ia tertawa kecil.
"Aku serius. Aku tidak mau duduk di kafe seharian hanya karena menunggu orang yang tidak pasti kehadirannya."
Junhong tersenyum tipis.
"Iya, iya. Untuk Jung Daehyun pasti datang."
Ia bisa mendengar sorak sorai yang sedikit berlebihan di sana.
"Hentikan. Telingaku sakit."
"Bilang saja suaraku ini seksi."
"Akan aku tutup."
"Hahahaha. Jangan terlambat. Datang lebih awal juga tidak boleh."
"Berlebihan sekali, memangnya kenapa?"
"Nanti kau bisa diculik ahjussi genit yang suka parkir di pinggir jalan. Hahahaha."
"Tidak lucu."
"Baiklah baiklah. Ingat ya, jam tujuh tepat."
"Iya, iya~"
Junhong menutup ponselnya. Dengan iseng membuka galeri fotonya. Ada folder yang cukup tersembunyi di sana.
Ia tersenyum.
Merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang hampir sama panjang dengannya. Menghembuskan nafas yang cukup terdengar. Terusik kala layarnya berkedip sesaat menyuguhkan nomor yang jarang sekali tampak di sana.
'Ayah'
"Dokumen itu sudah datang?"
Ayahnya yang langsung masuk ke inti tanpa basa-basi.
"Dokumen?" Ia berlari tergopoh-gopoh.
Benar. Ada map cokelat yang menerobos bawah pintu apartemennya.
"Pentingkah?"
"Aku...membayar map itu dengan pertunanganmu dan putra Tuan Kim."
Junhong terkesiap.
"Pelakunya ada di sana."
Ia terdiam taat. Meskipun dia tak bisa berdusta ada kecamuk yang menggila di dalam sana.
Hanya sebuah map yang Ia bahkan tak tahu isinya.
"Aku akan segera menemukannya untukmu."
Junhong tak percaya.
Ayahnya sampai hati menukarkannya untuk sebuah map.
Kenapa harus dirinya?
Ayahnya punya cukup harta yang bisa membayarnya.
Kenapa harus dia?
Bahkan tak ada kata maaf yang mengakhirinya.
Junhong mempercayai ayahnya lebih dari siapapun.
Ayahnya yang selalu membela mati-matian keluarganya.
Ayahnya yang selalu memperhatikannya walau dengan cara yang tak Ia suka.
Inikah perhatian?
Inikah kasih sayang?
Junhong meringis.
Kenapa Ia tak bisa menerima begitu saja?
Kenapa Ia tak bisa yakin dengan pilihan ayahnya?
"Ibu..."
Apa dia punya pilihan lain?
Apakah Ia mencintai orang lain?
Junhong menatap nanar map cokelat berukuran folio yang terselip di sela bawah pintu apartemennya.
Map yang telah merampas kebebasannya.
Tangannya gemetar menggapainya. Bersandar pada pintu dan tak mengijinkan siapapun mengganggunya.
Aroma khas kertas menyeruak menikam hidung. Bau kertas lama.
Perampokan 11 Januari 2008.
Junhong tersenyum miris. Dokumen tentang penyelidikan kasus pembunuhan ibunya bertahun-tahun lamanya.
Sekali lagi, ayahnya mengorbankan dirinya untuk membalas kesumat atas kematian ibunya.
Siapa yang lebih Tuan Choi sayang?
Laki-laki yang belum diketahui identitasnya, pukul 21.47 diketahui telah merampok seorang wanita berusia 40 tahun yang saat itu melintasi jalanan Gangnam.
Junhong tak habis pikir. Dokumen yang begitu menyiksanya bahkan tak memuat informasi yang jelas.
Hendak saja Ia mencela ayahnya.
Sebuah dokumen lain mengintip dari amplop yang menganga.
Tersangka Pembunuhan.
Nama : -
Tempat tanggal lahir : -
Ciri-ciri khusus:
-Jaket hitam tebal
-Topi hitam
-Bersenjata tajam
Junhong berkerut. Jantungnya beradu kelewat cepat. Rasa penasarannya memompanya menggoyang-goyangkan amplop cokelat itu mencoba mencari-cari dokumen yang lain.
Ia terkesiap. Darahnya tersirap.
Sebuah foto.
Matanya sayu. Rambutnya hitam kelam tak beraturan. Bibirnya kering seakan kehausan. Junhong bersumpah Ia tahu betul siapa sosok yang salah masuk ke dalam amplop penyelidikan.
"Tidak mungkin..."
Kepalanya berdenyut nyeri. Napasnya terlampau sesak dan keringat dingin mengalir bebas pada pelipisnya.
Melampaui batas dugaannya.
.
.
Amsterdam, 2015.
Ia memejamkan matanya saat merasakan kedua tangan yang datang dari belakang itu melingkar pada pinggangnya. Tak perlu melihat, Junhong tahu siapa yang akan memperlakukannya sehangat ini. Sapuan napasnya menggelitik leher jenjangnya. Merasakan hangatnya musim dingin dalam rengkuhan sosok yang sudah setahun bersamanya.
Bergidik kala bibir itu mulai mendarat tepat di perpotongannya. Junhong menikmati musim dingin pertamanya bersama pasangan hidupnya.
Junhong berdengung. Menyesap aroma sejuk yang menguar dari tubuh kekasihnya.
"Sarapan?" tawarnya.
"Hm."
Junhong berbalik menatapnya. Kekasihnya yang masih tampan seperti biasanya. Rambut hitam kelam nan halusnya, mata yang selalu menatapnya memuja dan bibir tipis kemerahan yang selalu menjadi candunya.
"Ingin makan apa?"
Ia menggeleng. Menunjuknya kemudian.
Dan itu sukses membuatnya merona.
"Baiklah akan aku buatkan sup hangat. Tunggu di dalam Tuan Myungsoo yang tidak sabaran."
.
.
"Kenapa?"
Junhong tak mempedulikan. Lebih memilih tengkurap di atas karpet dan mencuri lihat salju yang jatuh mengintip dari langit melalui jendela.
"Bosan."
Hening sejenak. Hanya terdengar suara jendela kayu sedikit bergoyang diayun kencangnya angin musim dingin.
Junhong menaik turunkan kakinya bergantian. Memainkan tangannya seolah jarinya berjalan di atas karpet.
"Berhenti menatapku seperti itu."
"Kau melihatku lagi."
"Wah, berarti benar kau melihatku.."
"Ckckck. Ternyata aku ini benar-benar tampan."
Junhong tersenyum miris. Kristal itu turun bersamaan dengan salju yang menghujam bumi.
"Choi Junhong."
"Hm."
Hening. Hanya helaan napas berat yang terdengar.
Junhong terpejam. Sudah kesekian kalinya Ia memukakan kesedihannya di depan kekasihnya. Junhong tahu tak seharusnya. Ia tahu menangis hanya akan membuat rasa bersalahnya semakin besar. Ia tahu menangis hanya akan melukai dirinya.
Tersadar ketika wajah itu sudah terlihat nyata di hadapannya. Kekasihnya memandanginya dalam diam.
Tangannya bergerak halus mengusap puncak kepalanya. Mengelus surai peraknya yang sedikit basah.
"Bantu aku melupakannya..." membawa tangan itu lembut dan menggenggamnya erat-erat.
"Aku akan berusaha..." Junhong menunduk, "Aku akan berusaha mencintai orang yang tulus bersamaku.."
.
.
"Aku merindukanmu~"
"Ke sini saja, hyung! Ah, lama sekali tidak menemuiku!" Dia tersenyum licik.
"Kenapa aku, hah? Bukannya dirimu sudah punya pengantar penjemput setia? Dasar." Kakaknya masih hangat seperti biasanya.
Junhong terkekeh. "Myungsoo hyung sedang sibuk~"
"Sibuk apa? Sibuk di rumah bersama Choi Junhong yang nakal ini?"
Dia tersenyum.
"Junhong-ah."
"Ya."
"Kau bahagia?"
Hanya sepatah kata, namun dalam. Junhong terdiam. Menerawang jauh menembus segala yang ada di hadapannya.
"Terakhir kali aku melihatmu, rasanya sakit."
Ada beribu maaf yang tak terucap.
"Aku tidak sanggup melihatmu oleh karena itu aku langsung pulang..."
Dia tahu. Ya, dia tahu.
"Maafkan aku..."
Dia yang tidak memperhatikan sekelilingnya atau bahkan mengabsen para hadirin dalam acara 'bahagia'nya.
Dia yang berjalan ragu di atas altar.
Dia yang setengah bahkan tiada hati berada di dalamnya.
Dia yang hampa, dengan semuanya yang berlalu begitu saja.
"Aku...hidup dengan baik hyung..." menggenggam ponselnya kuat-kuat, "kumohon jangan khawatirkan aku."
Hey, Junhong tidak selemah itu.
"Aku hanya merasa dunia ini tidak adil. Aku hidup dengan bahagia bersama pilihanku sendiri. Sedangkan—"
"Maaf hyung, aku harus pergi."
Junhong menggigit bibir bawahnya. Menahan desakan yang kian berat untuk tertahan.
"Syukurlah jika kau memang bahagia..."
Ucapan rela, namun terdengar berat.
Nadanya masih sama.
Tak ada kegaduhan setelahnya. Sambungan itu berakhir mengoyak luka yang hampir saja tertutup sempurna.
Junhong terdiam. Bibirnya mengeluarkan darah.
Sekuat apapun Ia menahannya, dan bagaimanapun caranya,
Dia tetap saja kalah.
Lengkungan yang seharusnya indah jika saja tak terbalik. Kedua sudutnya seakan menerima peluh dan lelehan tangisnya.
Ya, Junhong harus pergi.
Pergi jauh dari masa lalunya.
.
.
Seoul, 2014
'Selamat berjuang!'
Ia tersenyum mengiyakan. Menatap bayangannya pada cermin memastikan penampilannya haruslah sempurna. Tak ada sedikitpun yang boleh merusaknya. Bahkan kantung matanya susah payah Ia hilangkan untuk beberapa hari. Demi hari ini.
Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Sekali lagi mengecek barang-barang berwarna dominan merah jambu di atas mejanya. Sempurna.
Detik detik terasa kian mencekam. Sepuluh menit lagi jarum jam akan menyentuh tepat angka tujuh. Tak bisa dipungkiri ada debar yang menggila di dalam sana. Yang bahkan jauh lebih cepat dari jarum detik yang sedari tadi menari-nari menggoda.
Tersadar dari lamunannya ketika pintu rumahnya diketuk tidak sabaran. Berjalan dengan senyum yang tiada henti-hentinya terukir pada parasnya. Membuka pintu perlahan seakan membuka jalan hidup barunya yang bahagia.
Ia terdiam taat.
Rambutnya jauh dari kata rapi. Pakaiannya kusut dan basah oleh air. Mukanya merah padam menahan sesuatu. Dadanya kembang kempis antara kelelahan dan bersiap untuk menguakkan ungkapan tertahan.
Dia di sana, berdiri di ambang pintu dengan luka.
"Pembunuh."
Sosok itu membulat. Waktu seakan beku membuatnya terdengar lebih lambat dan begitu tajam. Menusuk sampai urat-urat nadinya.
"Pembohong."
Map itu jatuh. Bergeser dihembus angin hingga menganga dengan sadis di hadapannya.
Dia membukanya.
Mendapati kenyataan yang demi apapun Ia sudah menghapusnya.
Mengubur dalam-dalam riwayat dirinya.
Dirinya yang pernah merenggut nyawa tak berdosa.
"Tahu siapa?" suaranya melengking hampir habis.
Tak ada sepatah kata. Menatap nanar dokumen yang mengikatnya kembali dalam temaramnya masa lalu.
"Dia ibuku."
Sinis.
Matanya merah darah. Napasnya kian memburu.
Peluhnya jatuh beradu dengan bulir yang lolos tanpa tertahan. Udara menghimpitnya hingga sesak luar biasa. Tubuhnya kehilangan satu detaknya. Meninggalkan kepayahan dalam dirinya.
"Katakan ini semua tidak benar..." Mencengkram kuat kerah putih bersih itu dan mengguncangnya tiada maaf. "Katakan..."
"Katakan bahwa kau bukan pembunuh..." ada sesuatu yang tak terungkapkan.
Terdiam pasrah. Tak kuasa menatap raut kesedihan yang menghujamnya.
"Aku mohon..." Ia menunduk.
Sunyi kian menggerus waktu. Keduanya sama-sama membuang pandang. Lebih memilih berperang batin daripada berkoar-koar dalam api kemarahan.
"Bodohnya aku yang selalu bercerita tentangnya pada seseorang yang bahkan telah merenggut nyawanya."
Ia meringis menahan sakit.
"Bodohnya aku yang mempercayai seseorang yang terlihat baik...di mataku." Kata terakhirnya terdengar begitu tajam.
"Bahkan lebih dari itu."
Dia berlutut. Mendongak mendapati pemuda sok tegar yang enggan menanggapi perangnya.
"Semua ini...harus dibayar dengan pertunanganku."
Napasnya tertahan. Sesuatu telah mencelos dadanya.
Ada yang hilang.
"Dan kau tahu? Awalnya aku tidak bisa menerima..." nyanyian pilu itu mulai menggema dalam telinganya.
"Aku yang memiliki hidupku. Aku yang berhak menentukan pilihanku..."
Jelas.
Dapat Ia lihat dengan jelas betapa rapuh dirinya.
Mengutuk tangannya yang bahkan tak kuasa untuk sekedar memberinya usapan yang menenangkan seperti biasanya. Seluruh tubuhnya membisu, terbungkam oleh realita.
"Dan itu adalah kau. Jung Daehyun yang selama ini aku percayai lebih dari seorang teman."
Bagai pena yang menulis perih jauh di sana.
Menggoreskan luka yang lebih dalam dari tajamnya.
Nyatanya mereka sama.
Kebenaran yang bahkan Ia ketahui dalam detik-detik yang amat menyiksa.
Dan masih terdiam dalam air mata.
"Tapi aku sadar sekarang tidak ada lagi pilihan untukku."
Dan inilah rasa dari kehilangan.
Kehilangan kesempatan, yang bahkan disebabkan oleh dirinya.
Kesalahan masa lalunya.
"Dan aku harus mengambilnya..." terdengar menyakitkan.
Ia berdiri kepayahan. Tanpa bantuannya, tanpa uluran tangannya.
Dia yang masih membisu entah karena ego atau ketidakberdayaannya.
Mata itu menatapnya sendu.
Sendu yang melebur dalam amarahnya.
"Pergilah," Ia tersenyum getir.
"Pergi sebelum ayahku menemukanmu."
Masih ada hati untuknya.
"Dan...hiduplah dengan baik...tanpaku."
Dingin.
Dia yang sekeras batu.
Meskipun Ia bersumpah Ia tahu bagaimana dia mengusap kasar air matanya.
Dia yang berusaha kuat, dia yang berusaha tak terlihat lemah di hadapannya.
Dan itu cukup membuatnya benar-benar tersiksa.
Bukan lambaian tangan,
Bukan senyum cerah yang mengiringinya,
Bukan pula 'selamat tinggal' dan langkah pelan yang tidak rela sedetikpun kehilangannya.
Namun hanya punggung yang terlihat putus asa.
Hanya kepala yang tertunduk dan langkah terburu menjauhi dirinya.
"Aku gagal, Yoo..."
.
.
To be Continued
.
Haloooooo
hehehehe
maap enjel baru bisa update sekarang huhuhu
as always tugas lagi keroyokan
MAKASIH BUAT YANG UDAH REVIEW DI CHAPTER CHAPTER SEBELUMNYAA
MAAP BELUM BISA BALES, TAPI NANTI DI CHAP TERAKHIR INSYA ALLAH ENJEL BALES KOK (KEDIP CANTIQ)
MAKASIH BUAT DAEHYUN YANG UDAH MAU SENYUM LAGI SAYANGGGG
MAKASIH BUAT ROOMATE NYA YANG ENTAH BAGAIMANA BISA BIKIN DIA BALIK LAGI MUAHHH
MAKASIH BUAT PARA MEMBER SEKALIANNNN
MAKASIH POKOKNYA MAKASIHHH
RNR JUSEYOOO
