"Dan, hiduplah dengan baik….tanpaku."

"Aku gagal, Yoo."


.

.

Your voice breaks off
Your tears that slowly build up
and fall over
I hold you with my chest
and stay there for a long time
then slowly push you away

.

.


Title : 60 sec

Cast :

- Jung Daehyun (B.A.P)

-Choi Junhong (B.A.P)

-Kim Myungsoo (Infinite)

-Lee Sungyeol (Infinite)

-Kim Himchan (B.A.P)

-Bang Yongguk (B.A.P)

-Moon Jongup (B.A.P)

Others

Length : Chaptered

Warning: This is YAOI (Boyxboy) fanfiction, Typos, OOC, Not EYD. DLDR.

.

.

No plagiarism!

.

.


Chapter 4

"Jadi, ini putraku. Kim Myungsoo."

Pria berjas hitam itu membungkuk hormat, tersenyum sekilas dengan lesung pipit di kedua pipinya. Sesekali Ia terbatuk, merapikan pakaiannya. Iris matanya tertuju pada sosok pemuda di seberang meja. Sosok yang lebih indah dari bunga-bunga yang menari-nari di sudut jendela. Lebih terang dari cahaya lampu yang berpendar di tengah ruangan.

"Choi Junhong."

Pemuda itu menoleh ke sumber suara. Rambut pirangnya bergerak seiring tubuhnya memberi gestur yang tak berlebihan. Manis.

"Ya?"

Suaranya lembut menyamankan telinga, bibirnya tersungging manis ketika pria paruh baya di sampingnya mengajaknya bercengkrama. Pemuda itu menyadarinya, melihatnya sekilas dengan kilatan yang bahkan Ia tak mengerti menyiratkan apa.

"Jadi, Mr. Choi, bisakah kita mulai pembicaraan ini ke tahap yang lebih serius?"

Pemuda itu terbatuk di tengah lumatannya.

"Terimakasih."

Sekilas senyum untuknya, yang telah dengan cepat memberikan segelas air untuk pemuda dengan nama Choi Junhong itu.

Kemudian hanya diam setelahnya, hanya pembicaraan antar orang dewasa yang berlalu lalang di telinga mereka. Sesekali terdapat konversasi tahu-menahu yang kasual satu sama lain.

Hingga kemudian sampai pada pernyataan yang membuat iris kembali mereka bertemu.

"Bagaimana, Choi Junhong?"

Ia berkedip beberapa kali. Bibirnya hendak berucap ragu-ragu.

Nafasnya tertahan, menunggu jawaban yang menentukan masa depannya kelak.

Masa depannya bersama pemuda yang baru dikenalnya satu jam yang lalu.

"Aku menerimanya."

Ia memberi jawaban dengan tegas, meski tak berani menunjukkan rautnya setelah sekian detik Ia mengatakannya.

Kim Myungsoo tersenyum hangat.

"Baiklah, segera kita mulai persiapannya."

.

.

Tokyo, Musim Dingin

"Ohayou, anata."

Junhong menegakkan tubuhnya dan duduk di tepi kasur. Namun segera pening hebat di kepalanya membuatnya meringis—sedikit kesakitan. "Jangan dipaksakan. Kemarin kau demam tinggi."

Junhong menerima dengan senang hati sarapannya—susu rasa vanilla dan bubur lembut buatan kekasihnya.

"Sudah baikan, tenang saja. Lihat? Aku sudah berkeringat."

Myungsoo menghela nafas. "Kau ini merepotkan."

Rintik-rintik hujan mulai terlihat membasahi kaca jendela ruangan. Myungsoo dengan cekatan menutup kembali ventilasi yang setengah terbuka itu.

"Hyung.."

"Hm?"

"Apa…..kemarin aku mengigau lagi?"

Myungsoo terdiam sejenak. Bohong jika Junhong tak mendengar hembusan nafas beratnya meski kemudian Ia kembali tersenyum—seperti biasanya.

"Maaf."

Lagi.

Setiap hari, setiap menit, setiap detik.

Kata maaf yang tak terhitung bahkan setelah keduanya melalui semuanya.

"Makan yang banyak dan cepat sembuh."

Dan selalu berakhir seperti ini.

Pepatah bilang cinta datang karena terbiasa.

Pepatah bilang cinta akan datang seiring berjalannya waktu.

Seiring berjalannya waktu itu, sampai kapankah?

.

.

Seoul

"Jung, ini roti kesukaanmu. Ayo makan!"

Pemuda bersurai hitam kelam itu meletakkan sekantong plastik di meja kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa. Menyalakan televisi yang berisi semut-semut saluran pertanda tidak ada jaringan. Ia mendengus.

"Kau belum mengganti antenamu, huh?"

Ia tahu tidak akan ada jawaban. Lebih memilih memandangi sekelilingnya—rumah sahabatnya—yang kian hari kian menyedihkan.

"Ayolah, Jung. Kau mulai membosankan."

Youngjae mengeluarkan ponsel dari sakunya. Mengetuk beberapa kali dan mencari-cari sebuah nomor.

"Kalau kau tidak keluar, akan aku telfon Junhong dan akan kuberitahu dia betapa menyedihkannya dirimu sekarang."

Jika sudah seperti ini, pemuda yang sunyi senyap itu biasanya akan keluar dari kamarnya dengan wajah kusutnya.

Biasanya.

Meski Youngjae tahu Daehyun yakin ia tidak benar-benar serius akan melakukannya.

Hanya saja, nama itu terlalu sensitif bagi seorang Jung Daehyun.

"Kuhitung mundur ya, satu…."

Belum ada derap langkah yang serabutan.

"Dua…."

Ia berpikir ini mulai aneh. Jung Daehyun tidur dengan mendengkur, dan kali ini suara dengkuran itu tidak ada. Dan itu berarti Ia masih terjaga.

"Tiga…Halo, Junhong-ah."

Nihil.

"Ya Jung Daehyun!"

Yoo Youngjae si Jenius yang berfikir realistis namun disaat seperti ini Ia akan mengesampingkan logika dan mengizinkan nalurinya mengambil alih kendalinya.

"Astaga! Jung Daehyun!"

.

.

"Junhong-ah, kau kenal dengan Moon Jongup?"

Ia terlihat berfikir, kemudian mengangguk. "Ya, dia teman lamaku sewaktu di Seoul. Memangnya kenapa?"

"Dia mitra kerjaku di Seoul. Tiba-tiba saja aku ingat dia pernah menanyakanmu."

Junhong menyesap minumannya. "Oh, begitu."

Myungsoo melonggarkan dasinya. Menaruh beberapa berkas di meja kerjanya.

"Eum…tunggu sebentar. Bagaimana bisa dia menanyakanku?"

"Tidak sengaja saat bertukar nomor. Dia melihat fotomu."

Ia berdengung, mengambil ponselnya. "Aku rasa aku juga masih menyimpannya…"

"O-oh, tunggu. Kau bilang dia mitra kerjamu? Bagaimana bisa?"

"Maksudmu? Dia sedang mengembangkan industri di bidang dunia hiburan."

Ia terkikik geli. Moon Jongup si bodoh yang begitu menggilai pokemon itu sekarang tengah dipuncak kejayaannya.

"Sedang bahagia, eh, Putri Salju? Ada apa? Apa dia salah satu dari mereka?"

Junhong menatap bingung. "Mereka?"

"Yah…bagian dari masa lalumu."

"A-apa? Yang benar saja!"

"Ah, jadi aku benar…"

"Tentu saja tidak!"

Junhong tertawa geli, memukul bahu sang kekasih dengan gulungan kertas seadanya.

"Ah, ya. Besok lusa aku akan mengadakan pertemuan dengannya di Seoul. Aku berencana mengajakmu juga."

Sang pemuda mematung. "S-Seoul?"

"Ya. Kau senang, kan?"

Ia mengukir senyum, menahan suatu gejolak di dalam sana. "Tentu saja."

.

.

"Tuan Kim. Bagaimana kabar anda?" pemuda berpostur tinggi mengambil duduk, menyilangkan kakinya dengan sebatang rokok di tangannya.

"Tuan Muda Lee. Tidakkah seharusnya anda bisa duduk lebih baik?"

Pemuda itu membuang nikotinnya. Kembali meluruskan kakinya dan melayangkan tatapan dingin menusuk pada pria paruh baya di hadapannya.

"Oh, haruskah aku menggunakan tata krama ketika berbicara dengan lelaki tua brengsek seperti Anda?"

Pria paruh baya itu tertawa, tanpa arti.

"Tunggulah sebentar lagi."

"Kau selalu berkata seperti itu. 'Sebentar lagi', 'sedikit lagi', Apa kau pikir aku hanya akan diam saja dan tidak melakukan sesuatu?"

Pria tua itu berdecak, menghela nafas. "Oh ya? Apa itu?"

"Aku akan segera menyingkirkannya."

Lelaki paruh baya itu tersenyum puas.

"Kalau begitu aku tidak perlu repot-repot."

Pemuda itu berdiri cepat, menarik dasi yang lebih tua kuat-kuat. "Kau begitu brengsek sampai-sampai aku ingin membunuhmu."

Ia kembali tertawa. "Lakukan saja."

Pemuda itu melepaskan cengkramannya.

"Kau merampas semuanya dariku. Kau berhutang padaku."

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Aku pasti…akan menghancurkannya."

.

.

Choi Junhong bergidik mengigil, sesekali meniup-niupkan udara sambil menggosokkan kedua tangannya. Dipandangnya jalanan kota Seoul bersalju yang selama tiga tahun dirindukannya dari kaca jendela. Sekilas senyum terukir di bibirnya, ada kehangatan tersendiri.

"Aku berangkat."

Ia mengangguk, tersenyum ragu.

"Hyung.."

Pemuda beriris cokelat itu menghentikan langkahnya, berbalik.

"Eung…tidak, tidak jadi."

Ia menghela napas, meneruskan langkahnya.

"Kau boleh mengunjunginya. Temui dia dan selesaikan semuanya. Setelah itu kembalilah."

Pintu itu tertutup, sosok itu telah pergi.

"Halo, Mr. Moon, bisa kita bicara sebentar setelah pertemuan? Ah, bukan, ini diluar bisnis."

Junhong tak pernah bercerita.

Cintanya, masa lalunya, kehidupan lampaunya.

Ia tak mau membebani Myungsoo lebih dari ini.

Tapi nyatanya, justru dia lah yang lebih mengetahui dirinya.

Hampir semuanya.

Ia mengetahui apa yang seharusnya tidak Ia ketahui.

Ia tahu bahwa Ia memikul beban bahwa pasangan hidupnya masih terikat dengan masa lalunya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Incoming call: Yoo Youngjae

Pemuda itu menajamkan pandangannya. Ia tidak salah lihat.

Semuanya seakan mengawasinya, membaca pikirannya.

Junhong menatapnya dalam diam, tanpa berniat menjawabnya untuk sekadar memberi ucapan selamat siangatau hanya mendengarkan pembicaraan di seberang sana. Karena Ia tahu, konversasi dengan bagian dari masa lalu tidak akan berjalan dengan mudah.

Hanya akan membawanya kembali kesana.

Ponselnya bergetar kembali, memberi isyarat adanya panggilan masuk. Kali ini bukan dari nomor yang sama.

"Ya, Himchan hyung?"

"A-apa?"

.

.

"Baiklah, semua berkas terlah kami urus. Pertemuan kali ini selesai sampai disini."

Myungsoo bangkit dari duduknya, berdiri di luar ruang pertemuan. Melihat arlojinya sesekali melihat ke dalam.

"Ah, Anda di sini."

Percakapan-percakapan ringan mengiringi perjalanan mereka menuju suatu tempat di sudut kota, sebuah kafe.

"Saya sedikit terkejut karena ini bukan tentang masalah bisnis. Jadi, kita mulai darimana?"

"Begini. Saya dengar Anda teman Junhong."

"Choi Junhong? Ya,—"

"Kim Junhong."

Pria bersurai abu-abu itu tertawa canggung. "Ah, ya. Ngomong-ngomong, berhubung ini bukanlah forum formal, mari kita bicara senyaman mungkin."

"Ah, baiklah. Begini, apa…..kau mengenal seseorang yang bernama Daehyun?"

"Jung Daehyun? Ya, dia teman dekat Junhong."

Alisnya terangkat. "Teman dekat?"

"Entahlah. Aku sendiri tidak terlalu yakin."

"Begitukah?"

Myungsoo menyesap kopinya. "Ceritakan apapun yang kau ketahui tentangnya."

Jongup menggaruk tengkuknya. "Aku tidak begitu mengenalnya. Hanya saja aku sering melihatnya mengantar Junhong latihan ke klub."

Myungsoo mengangguk hikmat.

"Ngomong-ngomong kenapa kau begitu ingin tahu soal ini? Apa terjadi sesuatu?"

"Kau bisa bertanya apapun padaku, Tuan Kim," seseorang menginterupsi.

"Lama tak jumpa, Kim Myungsoo."

Pupilnya menajam, menatap sosoknya tak percaya. Detik berikutnya Ia berkedip canggung, menyimpan pandang.

Moon Jongup menggeser kursi di sebelahnya.

"Kebetulan sekali kita bertemu disini," pemuda itu tersenyum remeh.

Jongup berdehem seraya bangkit dari duduknya. "Maaf, aku ada janji setelah ini. Permisi."

Senyum itu semakin mengembang.

"Katakan apa maumu."

"Kau masih dingin seperti biasanya."

Myungsoo membuang pandang ke arah luar ruangan, enggan menatap pemuda di hadapannya.

"Bagaimana bisa kau bertanya pada orang lain perihal pasanganmu sendiri? Memalukan."

Ia menghela nafas.

"Aku mengetahui semuanya tentangnya. Kau mau tahu?"

Kim Myungsoo memilih untuk bungkam.

"Sebegitu sulitkah kau melupakanku sampai-sampai kau tak mau tahu tentang—"

"Diamlah."

"Oh, atau, kau benar-benar sudah melupakan semua? Kau begitu peduli padanya sampai kau bertanya pada orang lain tentangnya dan—"

"Lee Sungyeol—"

"Kau tidak pernah melakukan hal yang sama ketika bersamaku. Semudah itukah kau menghapus semuanya? Hanya karena takdir berkata kau akan menikah dengan pilihan ayahmu saat itu kau menurutinya dan menyerah begitu saja? Kau bahkan tidak mengetahui apapun tentangnya. Kau menikahi orang asing."

"Hentikan."

"Ya, kau menikahi orang asing yang baru saja patah hati dan masih terikat dengan masa lalunya. Kau terlalu naif."

"Cukup."

Matanya merah darah, menahan amarah.

"Akan kubuat kau menyesal."

.

.

"Aku pu—"

Kim Myungsoo bergerak cepat, memberi tumpuan pada sosok yang melemah di sudut kamar. Tubuhnya menggigil dengan bibir ranumnya yang memucat dan matanya yang meredup. Dipindahkannya dengan hati-hati tubuhnya yang rapuh kedinginan dan membalutnya dengan berlapis-lapis selimut.

"Bicaralah padaku, kumohon.."

.

.

To be Continued

.

.


Haaaaai

Lama ya updatenya? Huhuuu

Laptop enjel rusak jadi filenya ilang semua hikssss

Plus lagi sibuk banget heheeee

Trus, enjel mau jelasin nih sama yg bingung sama keterangan waktunya di prev chap

Jadi gini, enjel kan baru di ffn, jadi enjel maen italic bold aja...yang keterangan waktunya enjel italic, baru taunya pas liat di hp ga work…coba deh read via pc, bakalan keliatan kok. Hehe bingung ya sama alurnya yang maju mundur? Maapin yaa hoho. T-T

Maaf ya kalo dikit, abisnya enjel maunya chap terakhir pas seru serunya (ditabok)

Ntar enjel bales kok reviewnya, makasih yg udah baca+review^^

RnR please…