Disclaimers: Saint Seiya dan Van Helsing BUKAN milik saya!

Dracula (Count Vladislaus Draculeia), Verona, Marishka and Aleera © Stephen Sommers and his companion

Frog Zelos ©Masami Kurumada and Toei Animation

Too bad…..So sad….

Marishka (Van Helsing)

Bagian 2: Hadiah untuk Para Pengantinku

Angin dingin berhembus kencang di malam yang gelap. Tidak ada seorang pun yang berani keluar malam-malam. Selain karena udara yang dingin, para manusia juga khawatir akan ancaman yang bisa merengut nyawa mereka di dalam kegelapan yang pekat. Ancaman itu tidak hanya datang dari hewan-hewan liar tetapi bisa juga berasal dari manusia serigala dan makhluk penghisap darah: para vampir.

Kala itu, malam tidak hanya gelap karena kepekatannya tapi juga dihiasi oleh suara kepakan sayap yang terdengar keras yang menggema di udara. Bersamaan dengan itu, muncullah bayangan hitam besar yang sedang terbang mengitari langit. Setelah berputar-putar cukup lama, akhirnya bayangan itu mendarat di suatu titik di dekat perairan yang sedikit membeku dan menjelma menjadi seorang pria. Ia berpakaian serba hitam. Rambutnya berwarna hitam dan diikat. Wajahnya tidak muda atau pun tua. Kulitnya putih pucat dan matanya berwarna biru. Tatapan matanya dingin dan kosong. Wajah pria itu tampak agak sedikit kesal.

"Saya harus menemukan sumber energi kehidupan baru selain energi yang bisa saya dapat dari manusia serigala. Jika tidak, istri-istriku akan terus merengek."

Pria berpakaian serba hitam itu mendesah sembari berjalan menyusuri bibir perairan yang agak membeku. Ia terus berjalan menyusuri bibir perairan hingga akhirnya ia menemukan kotak besar berwarna hitam. Awalnya, pria itu merasa tidak tertarik. Akan tetapi, karena ia merasa kotak itu sedikit memancarkan energi hangat. Akhirnya ia mendekati kotak itu dan mencoba membukanya. Setelah kotak terbuka, ia melihat sesosok makhluk kecil yang ia tidak tahu makhluk apa gerangan yang ada dihadapannya itu. Makhluk kecil dihadapannya tampak ketakutan sekali ketika ia melihatnya.

"Kau ini apa? Manusia atau hewan?"

Si makhluk kecil tidak menjawab, ia melompat dari dalam kotak.

"N….n…Namaku Ze…..Ze..Zelos. Frog Zelos! Aku orang kepercayaan nona Pandora dan Dewa Alam Baka Hades. Kamu siapa?"

"Frog Zelos? Dewa Alam Baka? Hades? Menarik! Perkenalkan, nama saya Count Vladislaus Draculeia," jawab Count Dracula sembari membungkuk. Sebuah senyum kaku terlihat di wajahnya.

"M…Mau apa kau?"

"Mau apa? Saya hanya ingin melihatmu dari jarak dekat," jawab Count Dracula tenang. Sekarang ia berjalan mendekati Zelos.

"K…K….Kau harus takut padaku karena aku ini Specter!"

"Specter? Apa itu?"

Count Dracula terus berjalan ke arah Zelos sementara Specter yang malang itu terus berjalan mundur.

"Specter itu adalah bala tentara Dewa Hades dan kami akan menyerang Dunia Manusia sekali lagi!" kata Zelos sembari terus berjalan mundur dan berusaha sebisa mungkin agar terlihat berani.

"Hmm…..Saya tidak pernah dengar tentang Specter!"

Count Dracula terus berjalan mendekati Zelos. Wajahnya tetap tenang dan tatapan matanya sama dinginnya dengan nada suaranya saat ia mengomentari setiap pernyataan yang dikeluarkan oleh Zelos.

"Kalau begitu aku akan mengalahkanmu dan kembali menghadap Dewa Hades dengan membawa kepalamu ke hadapan Dewa Hades!"

Zelos segera berlari cepat ke arah Count Dracula dan berharap jika ia dapat menjatuhkannya.

"Lucu! Kalau begitu coba saja, makhluk kecil!"

"Aku bukan makhluk kecil! Aku Specter!" teriak Zelos sembari berusaha menyerang pria berpakaian serba hitam itu.

Zelos berusaha memukul pria berpakaian serba hitam itu. Namun, ia seperti memukul angin. Pria itu bergerak sangat cepat. Saking cepatnya Zelos sampai kebingungan. Setelah Zelos melemah, Count Dracula mencekiknya.

"Permainan sudah berakhir makhluk kecil! Sekarang saya akan menghisap darahmu sampai habis!" ujar Count Dracula sembari memperlihatkan taringnya yang tajam dan memanjang.

Zelos menutup kedua matanya. Ia berpikir bahwa ia akan segera mati. Ia tidak menyangka bahwa ternyata vampir itu memang benar-benar ada.

"Ah, mati aku!"

Zelos menutup matanya rapat-rapat. Pasrah akan akhir hidupnya. Satu detik…dua detik…tiga detik…Ia merasa tidak terjadi apa-apa. Penasaran, ia pun membuka kedua matanya dan melihat bahwa Sang Pangeran Kegelapan tampak sedang berpikir.

"Oh, tidak! Saya tidak akan memangsamu! Sebagai gantinya, kau akan kujadikan hadiah kejutan untuk ketiga istriku."

Belum sempat Zelos protes, Count Dracula sudah memasukkannya kembali ke dalam kotak hitam tempat ia pertama kali ditemukan dan menutupnya kembali rapat-rapat agar Specter itu tidak dapat keluar. Setelah ia merasa yakin bahwa Specter itu tidak akan bisa lepas, ia pun mengubah wujudnya menjadi kelelawar besar dan membawa kotak besar yang cukup berat itu dengan kedua kakinya. Setelah terbang sekian lama, Count Dracula pun akhirnya tiba di purinya yang dikelilingi dan ditutupi oleh salju abadi. Sesampainya di dalam, ia pun meletakkan kotak yang berisi Zelos di tengah ruang keluarga.

"Kemarilah Para Pengantinku! Aku membawa sebuah kejutan untuk kalian!"

Para Pengantin segera mendatangi suami mereka dan mengeluk-elukannya.

"Tuan…Tuan bawa apa?" tanya salah seorang Pengantin yang rambutnya berwarna merah menyala.

"Kalian bertiga bukalah kotak itu bersama-sama!"

Ketiga Pengantin yang cantik itu pun membuka kotak besar berwarna hitam itu. Ketika ketiganya melihat ke dalam isi kotak, ketiganya berteriak dan lari ke balik pilar-pilar penyangga bangunan yang letaknya tidak terlalu jauh dari suami mereka dan kotak hitam yang berisi Zelos.

"Mengapa kalian lari, wahai Para Pengantinku? Apakah kalian tidak menyukai apa yang saya berikan ini?"

"Me…Mengapa Tuan membawa dan memberikan makhluk sejelek itu pada kami? Apa Tuan sudah tidak menyayangi kami lagi?" tanya Pengantin yang berambut hitam.

"Saya masih menyayangi kalian, Verona. Untuk itulah saya membawa makhluk kerdil ini pada kalian agar kalian dapat menyantapnya,"

"Menyantapnya? Tidak mau Tuan, kalau kami berubah menjadi buruk rupa bagaimana?" tanya Pengantin yang berambut coklat keemasan.

"Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Marishka!"

"Lalu mengapa Tuan membawanya kemari? Jika kami memakannya bukankah nanti yang paling tersiksa adalah anak-anak kita, Tuan?"

Count Dracula terdiam sejenak dan menghela napas panjang.

"Baiklah, karena kalian tidak ingin memakannya. Maka saya akan membunuhnya. Jika Para Pengantinku tidak bahagia, begitu pula saya!"

Count Dracula melihat Zelos yang berusaha mengendap-endap agar bisa melarikan diri. Dalam hitungan detik, Count Dracula sudah menangkapnya dan mencekiknya.

"Karena Para Pengantinku semuanya menolakmu maka-"

"T..Tunggu dulu, Tuan! Saya berubah pikiran! Bagaimana jika Tuan membiarkannya hidup dan membiarkan kami menjadikannya mainan hidup untuk menghibur kami?"

"Apa maksudmu, Marishka?"

"Hi-hi-hi-hi-Kami merasa kesepian, Tuan. Kami sudah melahirkan banyak anak tetapi mereka semua terlahir dalam kondisi tidak bernyawa. Kami merasa kesepian dan kami merasa bahwa kami perlu mainan hidup!"

Mendengar tawaran Marishka, Verona dan Aleera saling pandang. Mereka berdua tidak menyangka bahwa Marishka yang agak sedikit gila dan senang bermain-main dengan korbannya sebelum ia membunuh korbannya mau mengajukan permintaan seperti itu.

"Begitu? Jika itu memang keinginan kalian. Ambillah!" ujar Count Dracula sembari melempar Zelos ke arah ketiga Pengantinnya yang disambut teriakan dan tawa riang tapi mengerikan dari ketiganya.

Count Dracula melihat makhluk kerdil yang ia tangkap berupaya melarikan diri dari kejaran para Pengantinnya. Sesekali ia mendengar ketiganya berdebat dan seperti bersaing untuk menangkap Zelos. Namun, ia merasa lega karena ketiga istrinya ternyata cukup kompak dalam hal bekerjasama dalam menangkap Zelos yang selalu berusaha melarikan diri. Ketiga Pengantin tersebut tidak menyadari seulas senyum tipis tersungging di wajah dingin dan kaku Sang Pangeran Kegelapan.

"Betapa manis dan lucunya Para Pengantinku," ujarnya perlahan sembari meninggalkan ketiga istrinya yang sedang bermain-main dengan mainan baru mereka.

Bersambung….