Disclaimers: Saint Seiya dan Van Helsing BUKAN milik saya!

Dracula (Count Vladislaus Draculeia), Verona, Marishka and Aleera © Stephen Sommers and his companion

Frog Zelos ©Masami Kurumada and Toei Animation

Genre: Humour, Horror, Angst

Don't play around, Marishka! Finish him! (Verona-Van Helsing)

My pleasure…..(Marishka-Van Helsing)

Bagian 3: Petaka

Waktu terasa berjalan lambat di puri megah dan gelap dimana Count Dracula dan istri-istrinya tinggal atau setidaknya itulah yang dirasakan Zelos. Ia merasa ia sudah tinggal di dalam puri itu dalam jangka waktu yang sangat lama. Specter yang pernah menjadi anak bawang bagi Pandora itu kini sedang merenung. Ia tidak tahu mana yang lebih baik tinggal di istana Hades bersama dengan Pandora yang kadang-kadang senang menyiksa dirinya atau tinggal di suatu puri yang gelap, lembab dan berkabut bersama dengan Dracula dan ketiga istrinya yang menakutkan yang sangat senang mengejar-ngejar dirinya hanya untuk bersenang-senang. Jika salah satu dari mereka berhasil menangkapnya, biasanya dua istri yang lain akan mengejar. Satu-satunya penyebab mengapa ia bisa lolos dari Para Pengantin adalah karena mereka bertiga sering berkelahi apabila "permainan" memburu dirinya berlangsung lama dan alot.

Sebelumnya, Specter yang terkenal senang menjilat itu tidak pernah merasakan ketakutan yang luar biasa seperti yang ia rasakan saat ini. Rasa takutnya yang sekarang lebih tebal daripada biasanya. Specter itu punya alasan mengapa ia merasa benar-benar ketakutan. Alasannya adalah karena ia sering menyaksikan kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh keluarga vampir itu. Sebagai contohnya, ia pernah menyaksikan para istri Dracula memangsa bayi. Zelos menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Ia tidak ingin para istri Dracula menemukan tempat persembunyiannya saat ini.

"Kalau aku jalan pelan-pelan dan sesekali bersembunyi. Mungkin aku akan baik-baik saja."

Zelos melangkah di dalam kegelapan dan berusaha menyusuri jalan yang dikelilingi kegelapan. Specter itu berjalan selangkah dua langkah lalu sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia memang sudah lama tinggal di kastil Dracula tapi ia tidak pernah hafal jalan. Maklum, kastil Dracula tidak seperti kastil Hades yang dulunya adalah rumah Pandora Heinstein. Zelos terus berjalan sampai akhirnya ia samar-samar mendengar suara seseorang sedang menangis dan memohon agar ia dilepaskan dari ruangan yang berada di sebelah kirinya. Zelos mengira yang sedang menangis itu salah seorang Pengantin Dracula. Jadi, ia pun membuka pintu ruangan itu sedikit. Setelah pintu itu terbuka ia mendapati seorang wanita muda yang luka parah sedang dicekik oleh Marishka. Tanpa basa-basi dan tanpa peduli pada permohonan si wanita agar ia dilepaskan, Marishka mengigit wanita itu sampai wanita itu tidak dapat menjerit lagi. Melihat itu, Zelos terpaku ditempatnya. Sialnya, sepertinya Marishka menyadari kalau ia sedang mengintip.

"Kau? Sedang apa kau di situ? Kemari! Biar kuhisap darahmu sampai habis!" bentak Marishka sembari menjatuhkan mayat si gadis ke tanah dengan kasar.

Melihat reaksi Marishka, Zelos pun lari terbirit-birit. Ia tahu bahwa Marishka pasti akan mengejarnya dan mungkin ia benar-benar akan mati kali ini. Zelos tahu bahwa Marishka itu tidak hanya kejam tapi juga senang bermain-main. Selama ia tinggal di kastil Dracula, ia seringkali menjadi bulan-bulanan Marishka dan Aleera. Marishka senang mengejar-ngejarnya. Bila ia tertangkap, ia pasti akan dibanting. Apabila ia tertangkap oleh Aleera, ia pasti akan diancam terlebih dahulu sebelum akhirnya ia dicengkram dan dicakar kuat-kuat oleh jemari Aleera yang berkuku panjang.

"Sini kau! Aku ingin bermain-main denganmu hingga kau lemas dan aku bisa meminum darahmu sampai habis tanpa ada yang menghalangi! Ha…ha…ha…." kata Marishka sembari terus mengejar Zelos sambil tertawa-tawa.

Zelos terus berlari sambil sesekali masuk ke celah-celah kecil sampai akhirnya ia menemukan suatu ruangan yang pintunya agak sedikit terbuka. Tanpa berpikir panjang ia masuk ke dalam ruangan itu dan masuk ke dalam sebuah peti. Selama beberapa saat, Zelos menahan napas. Setelah ia yakin Marishka sudah pergi barulah ia bisa bernapas lega dan merasa tenang. Namun, perasaan senangnya itu hilang begitu ia menyadari bahwa ia sebenarnya sedang memeluk sesuatu. Awalnya, ia mengira kalau ia sedang memeluk sesuatu yang empuk seperti bantal, guling atau benda empuk lainnya. Akan tetapi, setelah ia mendongak ia seperti sedang diatatap oleh sepasang mata hitam yang dingin dan tajam. Tidak sampai di situ, ia bahkan seperti mendengar dengusan napas dan suara geraman yang pelan di sampingnya. Seketika itu juga, Zelos menelan ludah dan menyadari bahwa ia dalam bahaya besar untuk yang ke dua kalinya.

Sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, ia pun segera melompat keluar dari peti dan berlari secepat-cepatnya ke tempat yang gelap dan sebisa mungkin bersembunyi di tempat kecil. Zelos tahu siapa yang sedang ia hadapi. Saat ini, ia sedang dikejar-kejar oleh Verona. Tidak seperti Marishka dan Aleera, Verona itu sangat dingin. Tidak seperti dua Pengantin yang lain, ia hanya mengejarnya jika ia benar-benar marah padanya. Meskipun demikian, Zelos tahu bahwa Verona, sama seperti halnya Marishka, tidak akan pernah berhenti mengejar buruannya. Mereka biasanya berhenti mengejar jika ia berlari masuk ke dalam celah-celah sempit yang gelap. Para vampir memang bisa melihat dalam gelap tetapi mereka akan merasa kesulitan jika ingin menangkapnya jika ia sudah masuk ke dalam celah-celah yang sempit dan kecil.

Zelos terus berjalan hingga ia bertemu jalan keluar. Setelah ia keluar dari jalan kecil yang tadi ia lewati, ia melihat ke sekelilingnya dan menemukan dirinya berada di dalam sebuah ruangan yang temaram. Ia berusaha mencari pintu ke luar. Di tengah pencarian, tiba-tiba ia mendengar suara isak tangis dan ratapan seorang wanita. Merasa penasaran, ia pun mendekati sumber suara. Saat ia tiba di sumber suara, ia melihat Aleera yang sedang meratap sembari duduk di atas peti matinya dan membelakangi Zelos.

"Tuan…Mengapa kau tega bersikap padaku? Apa salahku sampai kau tidak mau memanjakanku….."

"Oh, ternyata Countess Aleera sedang menangis dan kelihatannya ia sedang larut dalam perasaannnya. Bagus! Aku bisa menyelinap keluar dan meninggalkan Pengantin gila dan obsesif yang satu ini," kata Zelos dalam hati.

Baru saja Zelos melangkah dua langkah. Tiba-tiba angin menerpanya dari belakang. Ia tidak terpental tapi ia mendapati Aleera sedang berdiri dihadapannya. Matanya masih sembab tapi raut mukanya menunjukka bahwa suasana hatinya sedang tidak baik.

"Mau kemana kau makhluk kecil?" tanya Aleera lembut."Kau mau kabur?" tanyanya lagi.

Zelos tidak menjawab ia berusaha lari ke samping kanan Aleera tetapi sayangnya Aleera bergerak lebih cepat.

"Kenapa kau terburu-buru? Tidak inginkah kau menghiburku sejenak?" tanya Aleera sembari tersenyum.

Sekilas, Aleera memang seperti sedang tersenyum. Namun, jika diperhatikan baik-baik, Pengantin Dracula termuda itu sebenarnya tidak sedang tersenyum padanya tetapi ia sedang menyeringai lebar pertanda bahwa sebentar lagi ia akan menerkamnya dan ternyata dugaannya memang benar. Aleera bergerak secepat kilat dan menyambar lengan Zelos. Kuku-kukunya menancap di lengannya membuat Specter tersebut berteriak kesakitan. Setelah ia merasa puas mendengar teriakan Zelos dan Aleera pun melemparnya ke dinding sebelah kanan.

"Tuanku baru saja menyakiti perasaanku dan aku ingin bermain denganmu. Datanglah padaku dan hiburlah aku, makhluk kecil!" kata Aleera lembut.

Ia terus berjalan ke arah Zelos. Entah karena suatu keajaiban atau keberuntungan sesaat, Zelos yang ketakutan berhasil melompat setinggi-tingginya dan menghantam wajah Aleera membuat Aleera menjerit karena terkejut. Setelah mendarat ke atas tanah, ia pun melompat setinggi-tingginya hingga ia bisa mencapai pintu dan ke luar kamar Aleera. Zelos dapat mendengar suara teriakan marah Aleera yang melengking tinggi. Bulu kuduk Zelos berdiri saat ia mendengarnya. Ia pun menggunakan teknik melarikan diri yang sama saat ia berusaha melarikan diri dari kejaran Marishka dan Verona karena ia yakin Aleera pasti sangat marah sekali karena ia sudah berani menyerangnya.

Zelos terus berlari sampai ia teringat akan suatu tempat di mana para Pengantin dan Count Dracula enggan masuk ke dalamnya: kamar bayi Dracula yang berada tidak jauh darinya. Zelos langsung memasukinya saat ia menemukan tempat penyimpanan kepompong atau lebih tepatnya lagi telur-telur yang berisi anak-anak Dracula. Sesampainya ia di dalam "kamar bayi" tersebut, Zelos menarik napas lega. Ia tahu bahwa sementara ini ia aman sebab ia pernah bersembunyi di sini dan para vampir seperti enggan memasuki tempat bayi-bayi mereka. Awalnya, ia merasa jijik karena telur-telur itu tidak hanya berwarna hijau tetapi juga berlendir tetapi lama-kelamaan ia pun merasa nyaman juga karena telur-telur itu seperti perisai baginya. Zelos ingat sewaktu pertama kali ia memasuki ruangan penyimpanan bayi Dracula dan bersembunyi di dalamnya. Para Pengantin sering kali mengeluarkan suara desisan yang mengancam dan menakutkan. Mereka memang marah tetapi mereka tidak ingin masuk karena mereka lebih berhasrat ingin mencintai anak-anak mereka daripada berhasrat ingin membunuh mangsanya.

"Hmm….Aku yakin para vampir itu tidak ingin masuk karena mereka sangat sayang pada anak-anak mereka yang belum lahir ini. Heh! Aku mau melihat reaksi mereka jika aku menghancurkan telur-telur mereka! Aku juga ingin melihat wajah-wajah anak mereka!" kata Zelos sembari menendang telur-telur Dracula yang menggantung dilangit-langit.

Ia tidak hanya menendang telur-telur itu hingga jatuh dan pecah hingga menyebabkan isinya keluar, ia bahkan menginjak anak-anak Dracula yang tidak bernyawa hingga hancur. Ia terus melakuka aksinya sampai ia mendengar suara teriakan dan tangisan yang menggema di koridor gelap yang tidak jauh dari tempat penyimpanan bayi.

Pekikan kesedihan dan tangisan histeris yang semakin dekat membuat Zelos berhenti menghancurkan telur-telur yang berisi anak Dracula tersebut dan membuatnya panik. Ia semakin panic ketika ia mendengar angin keras bertiup dari arah kiri dan kanan seolah-olah para Pengantin Dracula tengah mengepungnya. Zelos yang ketakutan segera lari ke luar ruangan tempat penyimpanan bayi.

Zelos berpikir ia akan baik-baik saja tapi siapa sangka. Ia justru menghadapi malapetaka yang mengerikan yang tidak akan bisa ia hindari kali ini. Saat ia berjalan ke luar ruangan, tiba-tiba sesuatu yang besar menerkamnya dan membawanya terbang ke bagian puri Dracula yang paling tinggi dan dikelilingi oleh dinding-dinding rendah. Sesampainya di atas, ia dilempar dari atas dan ia pun jatuh tersungkur. Zelos beruntung sebab Surplice-nya melindungi tubuhnya.

"Kamu…..Apa yang sudah kau lakukan pada bayi-bayi kami yang masih tidur? Ayo katakan!" bentak Verona sembari meraih Zelos dan membantingnya ke samping. Mata hitam Verona menatapnya tajam.

Belum sempat Zelos bangkit, tiba-tiba Marishka menghampirinya dan mencekiknya.

"Aku penasaran bagaimana rasa darahnya," kata Marishka sembari menjulurkan lidahnya dan menjiilat Zelos. Wajah Zelos memucat saat ia merasa lidah Marishka menyentuh wajahnya. Selama ini ia memang senang menjilat Pandora dengan kata-kata yang manis sehingga ia bisa lolos dari hukuman tetapi ia tidak pernah membayangka bahwa ia akan merasakan dijilat oleh monster sebelumnya. Ia benar-benar merasa jijik sekarang. Saat Zelos merasa jijik, tiba-tiba ia merasa ditarik dan dicengkram dengan keras oleh seseorang dari belakang.

"Lepaskan dia Marishka! Makhluk kecil ini bagianku! Biar aku saja yang memakannya! Dia sudah melompat ke wajahku! Aku tidak terima diperlakukan seperti itu!" geram Aleera.

Aleera rupanya masih dendam pada Zelos yang sudah menghantam wajahnya dengan badannya. Saat ketiga Pengantin itu berebut ingin memberi hukuman pada Zelos tiba-tiba sesosok besar berwarna hitam melayang dan mendarat tepat dibelakang ketiganya dan berubah menjadi Count Dracula.

"Para Pengantinku tenanglah!"

Suara Dracula menggema di langit malam yang terang karena cahaya bulan purnama membuat ketiga Pengantinnya melihat ke arahnya.

"Tuan?"

"Apa yang sedang kau katakan Vlad? Makhluk tengik ini sudah membunuh anak-anak kita! Sebelumnya, ia bahkan sempat memelukku! Sementara kau tahu bahwa aku ini milikmu!" ujar Verona sembari melempar Zelos ke arah Dracula. Dracula dapat melihat tatapan mata istri-istrinya tajam tapi sedih.

"Dan ia sudah berlaku kurang ajar padaku! Ia tadi menghantam wajahku dengan tubuhnya!" timpal Aleera.

"Aku tahu, para Pengantinku…" jawab Dracula tenang sembari memandang Zelos tajam. Nada bicaranya lembut tetapi tatapan matanya tajam dan dingin.

"Makhluk kecil, kau sudah membuat kesabaran kami jatuh ke titik paling nadir. Oleh karena itulah, kami akan menghabisimu," kata Dracula sambil tersenyum dingin dan kejam.

Ia dan ketiga Pengantinnya bergerak perlahan namun pasti ke arah Zelos yang mulai panik. Zelos yang panik berusaha melompat ke sisi kanan di mana ia melihat ada jurang dan ia berpikir ia bisa lolos. Namun sayang,Verona bergerak lebih cepat dan menutup jalan. Ketika ia berlari ke sisi kiri dan hendak melompat, Aleera menghentikannya dengan mencengkram kakinya dan melemparkannya kembali ke tanah.

"M…Maafkan aku! Tuan Hades! Nona Pandora! Tolonglah aku!" teriak Zelos ketika ia mendapati bahwa jarak para vampir sudah semakin dekat dengan dirinya.

Namun sayang, tidak ada yang mendengar teriakannya itu lantaran ia berada di tempat yang sangat tinggi. Setelah keempat vampir benar-benar sudah mengepungnya, Zelos sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Empat vampir kuat yang memendam amarah tengah mengepungnya. Kini ia pasrah akan takdirnya yang paling menyakitkan akan segera tiba.

Kesunyian malam pecah ketika tiba-tiba saja serigala-serigala atau bahkan para manusia serigala melolong secara bersahut-sahutan sesaat setelah mereka mendengar lolongan kesakitan yang menggema dari bagian teratas puri Dracula.

TAMAT