Cyaaz : Makasih atas semangatnya! ;) udah agak lesu nih. Hehe..
NelshAZ : Semoga di chap4 ini agak kebayang hubungan Kira-Athrun. ini juga udah sedikit agak panjang. hehe

popcaga : Hehe.. maaf deh.. #ampun.. nih di chap ini ada KiraCaga

blondeprincessa : Tebak-tebak.. belum tentu nih pair-nya maaf update lama.. moga tetep setia nyimak.

Asuka Mayu : thank you so much ;)

reinaryuzaki : Di chap ini termasuk KxL ga, ya? hehe.. moga sedikit memuaskanmu, reina . Eh btw, namaku reni :D

Anonim : makasih banget ya


GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE

Warning : OOC, Typos, GaJe, dsb.

.

.

Chapter 4, Hujan di ORB

.

"Terimakasih sudah menerima tawaranku, Kira-san"

"Tentu, itu bukan masalah jika aku memiliki waktu. Lagipula ini tentang sahabatku, Athrun, kan?"

Gadis berambut merah muda atau kita sebut saja Lacus, tersenyum sedih mendengar jawaban dari lawan bicaranya. Ia menunduk, memperhatikan segelas Cappucino yang tadi ia pesan. 'kenapa rasanya sakit?' Lacus mencoba mengilangkan apa yang ia rasa dan mengangkat kembali wajahnya untuk menemui sepasang bola amethyst di hadapannya.

"Iya, ini tentang Athrun. Kau tahu? aku berasal dari PLANTS, sama sepertinya. Dan lebih dari itu, aku sebenarnya adalah tunangannya."

"Heh? Aku baru tahu tentang itu." Kira terkejut, selama ia mengenal Athrun, ia tidak tahu bahwa Athrun memiliki seorang tunangan.

"Tidak perlu terkejut seperti itu, Kira-san.. memang ini pertunangan yang orangtua kami rencanakan baru-baru ini. Mungkin sebenarnya Athrun belum tahu apapun soal ini."

"Pantas aku tidak tahu. Biasanya ia terbuka padaku, rasanya aneh jika ia tidak menceritakan hal penting ini."

"Begitukah? Kalian benar-benar sahabat, ya?" Lacus tersenyum lembut, memperhatikan pria di depannya.

"Kami baru bertemu selama sekitar dua bulan, tapi kami sudah cukup saling mengenal di sebuah jejaring sosial."

"Jadi kalian saling mengenal di sana?"

"Hu'um. Nama akunnya, AZ-justice. Pertama kami saling menyapa adalah ketika aku memposting sebuah rakitan Gundam. Ternyata kami memiliki kegemaran yang sama. Setelah beberapa kali kami saling share mengenai Gundam, kami mulai menyapa layaknya seorang teman. Kami mulai membahas hobby lain kami, kehidupan sekolah, pelajaran, keluarga, dan lain sebagainya. Entah sejak kapan, kamipun mulai menganggap satu sama lain sebagai sahabat." Kira tersenyum diakhir kalimatnya.

"Kalau begitu, berarti tidak ada rahasia diantara kalian?"

Kira tersenyum sedih saat beberapa hal di pikirannya yang sempat terlupakan, kini kembali teringat. 'Rahasia, ya?' Kira mengalihkan pandangannya, kini yang menjadi fokusnya adalah langit biru di balik jendela café.

" Mungkin ada, kami bukan seperti gadis-gadis yang secara rinci menceritakan semua hal pribadi kami walau pada sahabat. Mungkin ada, beberapa hal yang sempat tak terucap."


Flashback On :

Kira menghampiri laptop silvernya saat didengar bahwa laptopnya berbunyi, tanda e-mail masuk. Dibukanya jendela obrolan yang bisa menghubungkannya dengan si pengirim e-mail.

AZ-justice : Sedang ada waktu luang, kah?

KY-Freedom : Kenapa kau?! Aku sedang menunggu kabar dari dia, sudah tiga hari kami tidak bertemu!

AZ-justice : Berhenti berharap ini e-mail dari pacarmu, Kira! :D

KY-Freedom : Heh?! Apa yang salah dengan berharap e-mail darinya? Dia gadisku :p

AZ-justice : Haha.. aku pikir kau tidak termasuk golongan pria lebay. Ternyata termasuk :D

KY-Freedom : Terserahlah :p yang penting aku bukan pria jomblo forever :p

AZ-justice : Kau menyindirku? Aku hanya belum menemukan gadis yang tepat.:p

KY-Freedom : Akui saja bahwa kau kalah olehku dalam hal ini, Zala :D

AZ-justice : Aku bisa mendapatkan yang lebih dari gadismu, Yamato :p

KY-Freedom :Just in your dream :p

AZ-justice : Katakan seperti apa gadismu itu, maka akan ku dapatkan yang lebih baik darinya :p . Kau hanya mengatakan bahwa gadismu memiliki rambut pirang, apa lebihnya? Banyak gadis yang berambut pirang di dunia ini, Kira. Kenapa begitu mencintainya ?

KY-Freedom : Pria yang tak punya rasa cinta takkan mengerti :p dia segalanya bagiku. Kau akan tahu tentangnya nanti.

AZ-justice : Kapan?

Flashback off.


Kira ingat, percakapan terakhir dengan sahabatnya tentang pacarnya pada saat itu. Sahabatnya tidak tahu siapa pacar Kira di masalalu. Dan mungkin, 'Athrun takkan pernah tahu'.Kira memejamkan matanya, tak peduli betapa ramai suasana di sini, ia merasa sepi. Suatu waktu, ia merasa sangat sepi, seperti saat ini.

"Kira-san?"

Kira tersadar dari 'dunia-nya', ia melihat seseorang yang menyebut namanya. Tentu saja, dia masih di sini, kenapa Kira bahkan melupakannya? rasa bersalah menjalar di hatinya kala melihat 'bola' sapphire yang menatapnya khawatir.

"Kau tidak apa-apa, Kira-san?"

"Tidak apa-apa, Lacus-san."

"Iie..'Lacus' saja, jangan begitu formal Kira-san. Kita kan teman."

"Kalau begitu, kau juga, jangan Kira-san. Cukup 'Kira' saja." Kira tersenyum lembut, membuat gadis di depannya pun tersenyum.

"A-ano…boleh aku meminta bantuanmu, Kira?"

"Jika aku bisa, boleh."

"Arigatou!"

"Jadi apa yang bisa aku bantu?"

"Apa Athrun belum punya orang yang ia suka?"

"Aku rasa demikian."

"Tolong, Kira!" Lacus berdiri, lalu membungkukan badannya."Tolong bantu aku untuk bisa dekat dengannya. Aku sengaja disekolahkan di ORB ini untuk bisa dekat dengan tunanganku. Tapi kelas kami berbeda jauh, aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi jika bukan padamu, Kira. Terlebih, aku dengar kau dekat dengannya."

"Sudah, kembali duduk, Lacus." Lacus pun duduk dan menatap Kira dengan 'harap-harap cemas'.

"Aku akan membantumu, Lacus."

Senyum merekah di bibir Lacus, ia senang bahwa Kira bersedia membantunya. Tapi, senyum itu rasanya tak sepenuhnya dapat ia berikan dengan tulus. Karena sebagian hatinya, entah kenapa tidak merasakan perasaan senang itu. Ia bingung.


Flashback On

Lacus POV

Ini hari ke-2 MOS, aku segera berlari menuju kelas sementaraku saat sadar bahwa waktu sudah menunjukan pukul 08.05. Jelas aku sudah terlambat, keringat sudah jatuh dari keningku. Aku merasa gemetar, takut. Aku tahu, MOS di SMA ini sangatlah ketat, sudah dipastikan bahwa aku akan dihukum untuk keterlambatanku ini.

Pintu kelasku terbuka, dengan nafas ngos-ngosan, aku segera memasuki kelas itu dan mendapati suasana sunyi. Semua menatap ke arahku, aku membatu.

"Hey anak baru! Baru hari ke-2 saja kau sudah telat"

"Ma-maaf!"

Aku membungkukan badanku, aku sangat ingin mengatakan alasan kenapa aku telat, tapi tentu itu hanya akan dianggap sebagai sebuah alibi murahan. Aku hanya berharap, kakak kelas yang sedang membentakku merasa iba padaku dan memutuskan untuk tidak menghukumku. Tapi itu tidak terjadi, dia menghukumku untuk berlari sepuluh putaran di lapang basket sekolah ini.

Maka segera aku lakukan, walau dengan tenaga yang hampir habis, aku berjalan dengan salah satu kakak kelas untuk melaksanakan apa yang menjadi hukumanku.

"Aku lihat, kau sangat kelelahan. Kau ingin aku membebaskanmu dari hukuman ini?"

Langkahku terhenti mendengar kakak kelasku –salah satu anggota OSIS- yang aku tahui bernama Shanny mengatakan hal tersebut. Ia berbalik, mungkin menyadari bahwa aku berhenti melangkah.

"Kau mau?" tanyanya tersenyum, sepertinya ada salah satu dari mereka yang kasihan padaku. Tentu saja harusnya demikian, kondisiku saat ini tidak memungkinkan, terlihat dari nafasku yang masih tidak teratur dan keringat yang membanjiri wajah dan leherku.

"Tapi dengan satu syarat," Senyumku hilang seketika, apalagi saat ia melanjutkan kalimatnya. "Berkencanlah denganku"

Oh tidak, tentu ada diantara mereka yang mengambil kesempatan dari adik kelas mereka. Contohnya dia.

"Tidak seharusnya anda sebagai anggota OSIS melakukan hal seperti itu. Anda salah satu yang terbaik dari angkatan anda, bukan? Anda yang terpilih, bersikaplah layaknya kedudukan anda, jangan mengotori jabatan anda dengan hal seperti itu."

Aku mendengar suara maskulin dari belakangku, siapa yang mengatakan hal itu? Walau perkataannya benar, dia hanya menggali kuburnya sendiri untuk saat ini jika ia salah satu siswa tahun ajaran baru ini.

"Kau! Berani-beraninya pada kakak kelasmu mengatakan hal itu!"

'Pada kakak kelas? Berarti dia seangkatan denganku?'aku segera membalikkan badanku dan mendapatkan sosok pria berambut cokelat menghadap kami. Seingatku, ia adalah anak yang duduk di depanku. Apa yang ia lakukan disini? Kenapa ia mengatakan hal seperti itu tadi?

"Kau akan mendapatkan hukumanmu bocah!" kakak kelasku ini sepertinya benar-benar marah, namun pria di hadapanku tetap menatapnya datar, betapa beraninya ia.

"Dengan alasan apa?" entah perintah dari mana, tubuhku tiba-tiba bergerak untuk melangkah mendekati pria ber-tag name Kira Yamato dan bersembunyi di belakang punggungnya karna takut akan aura yang kakak kelas itu keluarkan.

"Bisa-bisanya kau tidak sopan dengan kakak kelasmu!"

"Tidak sopan? Apa yang saya katakan salah? Lalu dengan alasan itu anda menghukum saya? Tentu anda yang salah jika anda melakukan hal itu. Anda tahu? Saya kesini atas persetujuan Heine-senpai untuk menggantikan Lacus-san atas hukuman yang ia terima. Heine -senpai adalah ketua OSIS di sini, bukan? Dia marah saat mendengar Lacus-san yang dalam keadaan tidak memungkinkan malah dihukum untuk berlari sepuluh putaran."

"Ba-bagaimana ia tahu?!" kakak kelasku sepertinya mulai panik.

"Saya yang melapor padanya." Kira-san menyeringai, sepertinya ia bukan anak biasa yang tunduk pada hukum di dunia ini jika ia merasa, ia benar diatasnya.

"Cih..awas saja kau! Kau bisa bebas untuk kali ini, Yamato!" setelah matanya tertuju pada tag name Kira-san, ia beranjak pergi meninggalkan kami. Aku bernafas lega, sepertinya aku mendapat istirahat sejenak untuk tubuh penatku ini.

"Baiklah, sepertinya aku harus segera menyesaikan hukumannya agar aku bisa kembali ke kelas."

Aku terkejut, dengan cepat ia berlari menuju lapang basket out door, meninggalkan aku yang masih berdiri terpaku setelah kepergiannya. Aku ingin mengejarnya, tapi tiba-tiba aku merasa sangat lelah dan tak mampu berlari. Aku hanya menatap punggungnya, lalu tersenyum.

'Kau pria yang sangat bertanggung jawab, kau bisa saja lari atas hukuman yang kau ambil. Kau malah menerimanya? Kenapa kau menolongku, Kira-san? Jika kau ingin mendapatkan perhatianku, harusnya setelah argument itu kau berbalik padaku dan menanyakan keadaanku, bukan malah langsung berlari untuk menuntaskan hukuman itu. Dasar aneh, , terimakasih banyak untuk dirimu. Aku akan selalu ingat akan hari ini '

Flashback Off


Sejak saat itu Lacus mulai memperhatikan pria yang duduk di depannya, hingga masa orientasi siswa berakhir dan mereka terpisah. Hanya sampai saat itu, ada hal yang berharga bagi Lacus, setidaknya ia dan Kira sudah mulai berteman dan bertukar nomor ponsel. Tapi sungguh disayangkan, Lacus tidak berani memulai untuk menghubungi Kira lebih awal. Saat ini, tunangannya menjadi jembatan penghubung bagi Lacus untuk menghubungi Kira. 'Bolehkan, aku berteman baik dengan sahabatmu ini, Athrun?'


***IDK***

Hibiki's Home

"Bisa-bisa aku gemuk jika tiap kursus seperti ini." Athrun berbisik saat ia mulai merapikan barang-barangnya karena kursus hari ini telah selesai.

"Hey kau! Aku mendengarnya! Seharusnya kau bersyukur ibuku berbaik hati menyiapkan cemilan untukmu!" Cagalli memberi Death-glare pada sang guru.

"Tapi tak sebanyak itu juga, dan tak seharusnya memaksa tamu untuk memakannya." Ternyata sang guru tidak merasa bahwa muridnya daritadi memberi Death-glare padanya. Ia tetap santai membereskan barang-barangnya.

"Kau!"

pletak!

"Hey! Apa-apaan itu?" Athrun terkejut atas tindakan muridnya –Cagalli- yang beberapa detik lalu memukul kepalanya dengan buku yang ia gulung. "Kau tidak sopan pada gurumu!" Athrun sedikit kesal, ia melotot pada gadis di depannya yang telah berdiri dan berkacak pinggang seraya memanyunkan bibirnya.

'aku menemukannya lagi, ekspresi lainmu, kesal.'Athrun tersenyum menatap gadis yang kini memalingkan wajahnya yang masih terlihat kesal. Kemudian, Athun berdiri dengan menggendong tas hitamnya dan berjalan mendekat ke arah Cagalli.

Senyum Athrun tak hilang ketika gadis didepannya tak menyadari kehadirannya di samping kiri si gadis, saat si gadis 'sibuk' memalingkan wajah ke arah kanan. Sangat dekat, hanya satu jengkal jarak antara Athrun dengan Cagalli. Athrun menggenggam pergelangan tangan Cagalli, Cagalli terkejut dan langsung melihat ke arah kanan dimana bola amber-nya bertemu emerald.

"Apa?" tanyanya pada tuan pemilik bola emerald itu.

"Kau memegang buku ku, Cagalli."

Cagalli melihat ke bawah untuk melihat bahwa tangan kanannya memang sedang menggenggam sebuah buku, yang jelas milik Athrun Zala.

"Hanya mengambilnya, tidak perlu memegang tanganku."Cagalli menatap Athrun dengan tatapan kesal.

"Tante Via itu sangat baik, aku bukan tidak suka dengan perlakuannya padaku, aku hanya tidak ingin merepotkan. Ingat? aku digaji olehnya."

"Kau mengatakan hal itu untuk apa? Aku tidak perlu tau apa yang kau pikirkan."

"Aku hanya tidak ingin kau kesal karena aku. Kau kan sempat kesal saat aku seperti tak menghargai kebaikan ibumu." Athrun tersenyum, Cagalli tersenyum kecil dan bergumam kata 'terimakasih' pada Athrun.

"Antarkan aku ke depan. Tante Via tadi keluar, kan? Jadi aku tak perlu ijin pulang pada beliau. Dan sampaikan salamku padanya, ya?"

Athrun tetap menggenggam pergelangan tangan Cagalli dan mulai berjalan menuju pintu keluar. Cagalli tak melawan, ia masih bingung akan perlakuan pria ini. Cagalli memperhatikan Athrun dari belakang, 'Athrun ternyata tinggi, ya? Mungkin lebih tinggi dari 'dia.' Cagalli tersenyum sedih mengingat 'dia'.

"Nanti untuk selanjutnya, kita kursus di tempat lain saja, oke?" Athrun berbalik dan menghadap Cagalli saat mereka telah sampai di depan pintu rumah Hibiki.

"Tempat lain? Kenapa?"

"Sudah aku bilang tadi, aku tidak ingin merepotkan tante Via."

"Tapi dimana jika bukan disini?"Cagalli sedikit memiringkan kepalanya.

"Seperti di perpustakaan kota? Itu tidak begitu jauh dari sini, kan?"

"Terserah, hubungi saja aku."

Seringai muncul di bibir Athrun, sebuah keberuntungan menyertainya. "Menghubungimu? Lewat apa? Ponsel? Nomormu?"

"He? Haruskah aku memberikannya?"Cagalli mengerutkan keningnya.

"Itu ide mu."

"Baik,baik! Lepaskan dulu tanganku!"

Oh iya, Athrun baru sadar bahwa ia masih memegang pergelangan tangan Cagalli. Dengan pelan, ia melepas tangan Cagalli dan mengambil bukunya.

Mereka bertukar nomor, Cagalli tersenyum jahil saat mengetik sebuah nama untuk kontak baru di handphone-nya itu. 'AZ-Baka', itulah nama yang cagalli pakai untuk nomor baru tersebut. Dilain pihak, Athrun pun tersenyum jahil membaca nama yang ia pakai untuk kontak baru, 'Murid Bodoh'.

"Saatnya pulang, Jaa…"

"Jaa…."

Athrun pulang, dia tersenyum kecil saat ia meninggalkan kediaman Hibiki dan sempat berbalik untuk menemukan gadis berambut pirang masih berdiri di depan pintu tersebut. Ah, gadis itu sungguh sopan menunggu tamunya hingga hilang dari pandangannya. Perasaan hangat Athrun rasakan, hari-harinya takkan membosankan atas warna yang gadis pirang itu janjikan lewat mata amber-nya. Esok harus segera datang, 'aku ingin menceritakan tentangnya pada Kira'.


***IDK***

Hibiki's Home

Clek..

Diluar baru saja turun hujan, Kira segera membuka pintu rumahnya saat ia sampai. Dia pikir rumahnya akan terkunci melihat suasana sepi dari luar, seperti tak ada satupun penghuni di dalamnya. Ternyata tak dikunci, 'siapa di rumah?' pikir Kira saat ia menelusuri sepinya tiap ruangan.

Kaki Kira menaiki tiap anak tangga menuju lantai dua untuk dapat sampai di kamarnya. Rambutnya basah karena hujan, tapi syukur pakaiannya tidak begitu basah berhubung hujan mengguyurnya hanya dari garasi rumahnya menuju pintu depan. Yang ia pikirkan saat ini, hanya sebuah handuk yang bisa mengeringkan rambutnya dan satu set pakaian yang hangat.

Sebentar lagi sampai, ia sudah dapat melihat pintu kamarnya yang berhadapan dengan pintu kamar lain, kamar adiknya. Tunggu dulu, kamar itu terbuka. Kira menengok ke dalamnya, menemukan seorang gadis dengan rambut pirang sebahu sedang menatap luar yang mana jendelanya ia buka. Itu adiknya, dengan baju kuning lengan pendek dan celana selutut.

"Kau sedang apa?" Kira memutuskan untuk bertanya, si pirang berbalik, mereka berhadapan dengan jarak yang lumayan jauh.

"Langitnya gelap." Gadis itu menjawab, tapi bukan jawaban dari pertanyaan yang Kira ajukan. Kira mengerti bahwa sang adik sedang memperhatikan langit. Ia melangkah mendekati tempat sang adik berdiri dan menutup jendela kamarnya.

"Kau itu mudah kedinginan, jangan sengaja membuka jendela saat suhu rendah." Kini mereka berhadapan, dekat.

"Kau basah, Kira." Gadis itu –Cagalli- menyentuh rambut cokelat milik kakaknya.

"Ya, Bagaimana kursus mu? Apa berjalan lancar?"

"Begitulah, apa yang ia terangkan mudah aku pahami." Sang adik menyentuh pipi si kakak. "Kau kemana saja?"

"Bertemu seseorang."

"Laki-laki? Atau perempuan?" Mata mereka bertemu. Amber menatap amethyst dengan lekat. Pemilik mata Amber itu seolah sedang membaca hal apa yang terjadi pada pemilik mata amethyst tersebut. Akankah ada yang kakaknya sembunyikan? saat mata mereka bertemu, tak ada celah bagi mereka untuk berbohong.

"Perempuan."

Kakaknya tidak berbohong, matanya mengatakan hal itu. "Oh.." tangan sang adik turun ke bawah dengan lemas.

Hujan tetap mengguyur sebagian kota ORB pada sore itu. Hujan yang sepertinya tak akan reda dalam waktu yang cepat. Angin menghembus cukup kencang, memaksa siapapun dalam kuasanya untuk segera menghangatkan diri agar lebih nyaman.

"Kau kedinginan." Tanpa respon, tanpa persetujuan atau penolakan, sang kakak semakin mendekatan diri pada adiknya dan memeluk tubuh kecil sang adik. Erat, sangat erat.


***IDK***

.

.

Hujan di ORB, seorang ibu berambut cokelat tidak bisa pulang dari rumah temannya karena khawatir akan ada badai di tengah jalan.

Hujan di ORB, seorang dokter spesialis anak ber-tag name Hibiki Ulen sibuk dengan beberapa pasiennya.

Hujan di ORB, gadis bersurai merah muda duduk termenung di depan perapian, berharap bisa mendapatkan kehangatan.

Hujan di ORB, pria bermata emerald duduk di kasur apartementnya memandangi sebuah nomor di layar ponselnya.

Hujan di ORB, kakak beradik mencoba berbagi kehangatan.

Hujan di ORB, dua insan yang pernah terikat di masalalu mencoba saling mengerti dengan arti kehangatan yang mereka beri pada masing-masing dari mereka.

Hujan di ORB, kapan akan berakhir?

.

.

TBC

.

.

special thanks to : Cyaaz-senpai! :D, Danny A.N , jinK 1342, blondeprincessa, Asuka Mayu, Ojou risky, NelshAZ, Popcaga, Fuyu Aki, reinaryuzaki, Anonim.