FFC ini Update ASAP special for Wolfy-senpai yang sadisnya tingkat dewa (Cyazz) n nee-chan tersayang yang super nyebelin (pandamwuchan). Mereka memaksa -ralat, SANGAT memaksa. jadi, jika banyak kesalahan... silahkan salahkan mereka ;)
pandamwucha : Kira ga bakalan tau dulu soal perasaan Athrun :) pengen deh nyiksa KiCag.. Biar nee-chan mewek :p . BaMou orang tasikmalaya... sunda :)
Guest : Ini juga ada adegan KiCag.. dikit sih. hehe
G punya Akun : Ini udah agak cepet. Tapi termasuk cepet ga ya? moga kamu g terlalu lama nunggu ya :)
NelshAZ : Nel-san.. maaf ini pendek lagi ;( silahkan salahkan Cyaaz n Pandamwuchan.. eh iya, makasih atas kritik yang membangunnya ya :) ni e-mail udah ren italic ;)
Asuka Mayu : Thanks again :) Oh iya.. Aku tunggu kelanjutan your fanfic ;)
Fuyu Aki : kurang kreatif ni ren nya -_- semoga fuyu masih berkenan membaca.
Cyaaz : Susah nih senpai ilangin typo.. ;(
GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE
Warning : OOC, Typos, GaJe, dsb.
.
.
Chapter 5 : Aku dan Dia adalah sahabat
.
.
Kira POV
Ting tong.. Ting tong..
Suara bel..
Suara bel tertangkap telingaku. Perlahan aku membuka mataku, mencoba memfokuskan pandanganku yang sedikit buram karena baru terbangun dari mimpi.
Yang pertama tertangkap mataku, wajah polos yang terbingkai surai emas. Aku tersenyum, senang rasanya orang yang pertama aku lihat adalah dia. Teringatlah, aku tertidur di tempat tidurnya setelah mencoba membaringkannya yang tiba-tiba terlelap saat kami berpelukan.
'Bukan waktunya melamun, Kira..'
Saat aku mencoba berdiri, pintu kamar ini terbuka dan nampaklah sosok wanita yang sudah biasa aku panggil 'ibu'.
"Kau disini rupanya, Kira. Rumah ini terlihat sepi dari luar, lampu rumah juga belum dinyalakan. Yah.. Kecuali kamar Cagalli. Ibu sempat khawatir jika terjadi sesuatu saat sadar pintu tak dikunci. Syukur kau dan Cagalli baik-baik saja." Ibu melangkahkan kakinya mendekatiku, tepat di samping tempat tidur Cagalli.
"Maaf, bu.. Kami tertidur tadi. Cagalli sepertinya sangat kelelahan hari ini." Aku berdiri dan menghadapnya.
"Kalian terlihat sangat dekat, ya.. Ibu senang kau begitu perhatian dengan adikmu." Ibu membungkukan badannya dan menarik selimut untuk mengahangatkan tubuh Cagalli.
"Tentu saja, dia adik tersayangku, bu.." Aku tersenyum pada ibu, ibupun tersenyum dan mengusap pipiku.
"Ibu akan menyiapkan makan malam jika kau mau, Kira. Ibu dan ayah sudah makan tadi di luar. Ini sudah pukul Sembilan malam, kau lapar?"
"Tidak usah, ibu. Aku rasa, aku akan segera tidur."
"Baiklah, mari kita biarkan adikmu tertidur lelap. Ibu harap, dia bermimpi indah. Sama untukmu pula, Kira.. Bermimpilah yang indah. Oyasumi."
Ibu tersenyum dan beranjak pergi dari kamar ini. Aku tetap berdiri, sampai terdengar langkah kaki dari seseorang yang menuruni tangga. Ibu tentu sudah ke lantai bawah, sesaat aku terdiam, lalu duduk di samping tempat tidur adik manisku.
Aku menatap wajah damainya, rasa familiar ini sudah sangat aku rindukan berbulan-bulan ini. Bukan hal baru untuknya, tertidur dihadapanku. Bukan hal baru untukku, untuk bisa memperhatikan wajah damainya. Aku sangat menikmatinya, tiap 'gambar' yang tertangkap mataku tentangnya. Aku sangat menyukainya, wajah polosnya, wajah marahnya, wajah damainya, semuanya.
Adikku, Cagalli.. Kau selalu bisa membuat kakakmu bahagia tanpa kau sadari hanya dengan melihat kau baik-baik saja.
"Aku menyayangimu.. aku sangat menyayangimu."
Aku mendekatkan wajahku padanya, sungguh hangat nafas yang ia keluarkan. Hidung kami bersentuhan, tanganku menangkup kedua pipinya. Aku tersenyum, lalu memiringkan wajahku dan memberikan kecupan hangat di pipinya.
"Oyasumi, mimpi indah."
.
.
Malam ini akan segera berlalu, aku ingin waktu cepat berlalu dan membawa pergi perih yang dirasakannya. Aku ingin waktu cepat berlalu, lalu datang membawa senyum untuk wajahnya. Aku ingin waktu cepat berlalu, untuk adikku, untuk Cagalli.
.
.
.
ORB High School
07.30
Ini pagi yang normal, seperti biasanya dikehidupan sekolahku. Aku memasuki kelas, saling bersapa dengan teman lainnya, lalu duduk di kursiku. Aku menatap keluar, anak-anak dari klub olahraga seperti biasanya dihari sabtu memulai kegiatan mereka untuk berlari pagi. Ini keadaan sekolah yang normal. Begitu normal, sampai aku sadari ada yang abnormal tentang hari ini ketika mataku mengarah ke pintu masuk kelas.
Aku melihat seseorang berjalan ke arahku, seseorang yang sudah sangat familiar bagiku. Dan padanya, sesuatu yang abnormal terjadi.
Dia sahabatku, Athrun Zala. Athrun Zala, anak jenius yang selalu menarik perhatian orang lain dengan aura kesempurnaannya. Athrun Zala, anak jenius yang selalu nampak serius. Athrun Zala, anak jenius yang biasanya memasang wajah dingin saat berjalan sendirian.
Dan siapakah yang berjalan ke arahku? Dia berwajah dan berfostur Athrun Zala, tapi yang ini… tidak mungkin. Dia tidak mungkin Athrun Zala saat dirinya berjalan kearahku dengan..
..
..
CENGENGESAN!
"Ohayou! Kira!"
Aku terkejut, suaranya pun persis sama dengan Athrun Zala. Dia duduk di sampingku dengan tak menghilangkan blink-blink yang muncul di sekitarnya saat bibirnya tak kembali ke 'posisi' biasanya, dia tetap tersenyum aneh.
"A-apa kau Athrun Zala?"
Aku bertanya gugup padanya, duduk ku tak lagi nyaman saat orang di sampingku ini menggerakkan kepalanya ke kanan-kiri dengan senyum yang semakin lebar.
"Tentu saja. Kau berpikir aku siapa? Alien?"
Dia menatapku, aku membatu di posisiku.
'Ya! Aku pikir kau alien!' itulah yang aku pikirkan.
"La-lalu, jika kau Athrun Zala, kenapa tingkahmu aneh?"
"Woh! Benarkah tingkahku aneh?" dia seperti terkejut, "Maaf, Kira. Aku sedang bahagia hari ini. hehe.."
"Kenapa? Kau tidak pernah se-bahagia ini"
"Kira! Aku bukan Gay! :D " Dia tersenyum lebaaaaarrrrrrrr sekali.
"Heh?!"
Flashback On
KY-Freedom : Ath, apa kau punya versi baru dari Gundam yang baru dirilis minggu kemarin?
AZ-Justice : Aku punya. Kau bisa melihatnya di album fotoku.
KY-Freedom : Thanks!
Beberapa saat kemudian..
KY-Freedom : Oy oy, ada yang aneh dengan album fotomu.
AZ-Justice : Nani?
KY-Freedom : Ada fotomu yang sedang dicium oleh temanmu. Siapa namanya? Dearka?
AZ-Justice : Oh, itu ya.. dia memang anak yang iseng plus jahil.
KY-Freedom : Kau pria yang cantik sejujurnya, Athrun.
AZ-Justice : APA MAKSUDNYA ITU?! :
KY-Freedom : Apa kau gay? #innocent
AZ-Justice : Haha.. jangan bercanda, Kira. Aku masih normal. #aku rasa
KY-Freedom : Aku rasa?
AZ-Justice : Yah.. aku memang kurang tertarik dengan lawan jenisku. Tapi bukan berarti aku tertarik pada sesama jenis.
KY-Freedom : Okey, okey.. itu masalahmu. Aku hanya mengingatkan, aku sudah punya pacar. Dia gadis yang manis, lebih manis darimu.
AZ-Justice : Aku tidak mengerti maksudmu…
KY-Freedom : Athrun, aku tahu bahwa aku pria yang menarik dan menawan #PD. Tapi aku sudah memiliki dia, aku tidak ingin mengkhianatinya. Aku juga hanya menganggapmu sahabatku, tolong mengerti, ya..
AZ-Justice : Huek! #Muntah. AKU BUKAN GAY!
Flashback Off
"Kira! Aku bukan Gay! Aku benar-benar bukan Gay!" Athrun terlihat sangat bahagia.
"Jadi? Apa yang membuktikannya?"
"Aku… tertarik pada seorang perempuan." Dia mulai tenang, dia tersenyum dan menatapku. "Ini perasaan yang belum pernah aku rasakan, Kira. Aku sungguh tertarik padanya."
Aku diam terpaku mendengar pengakuannya. Selama ini, dia tidak pernah berkata apapun soal perempuan. Sekarang ia disini, dengan senyum dan mata yang berbinar saat mengatakan hal yang aku anggap tabu baginya. Dia sungguh-sungguh, aku senang bahwa sahabatku akhirnya memiliki seseorang yang ia sukai. Tapi saat aku ingat akan satu hal…
'Tidak! Dia tidak boleh suka pada siapapun! Dia sudah punya tunangan!' aku panik, bagaimana bisa semuanya terjadi begitu cepat? Baru beberapa hari yang lalu saat gadis-gadis mendekatinya ia bilang pada mereka bahwa ia tidak tertarik pada siapapun. Lalu kenapa saat ini ia berkata ia tertarik pada seseorang? Cinta pada pandangan pertama? Konyol!
"Tu-tunggu Athrun, kau benar-benar tertarik pada seorang perempuan? Kau serius? Kau tidak hanya tertarik karna penampilannya, kan? Maksudku, mungkin itu hanya kagum atau apa gitu.."
"Hm.. bagaimana menjelaskannya ya? Aku sudah bertemu dengannya 2 kali, aku merasa penasaran akannya, Kira."
"Seperti apa gadis itu? Dia sangat cantik? Kau, kau tahu Lacus Clyne, kan? Apa gadis itu lebih cantik dari dia?" kenapa denganku? Aku seperti benar-benar panik. Lucu..
"Aku bilang ia menarik, Kira. Lacus itu tipe putri, terbalik dengannya."
"Siapa dia?"
"Itu Rahasia. Aku akan mengatakannya jika aku sudah merasa bahwa aku mencintainya."
"Yokatta!" aku bernafas lega, syukurlah Athrun belum benar-benar mencintai gadis itu.
"Ada apa, Kira?" Athrun menatapku dengan bingung, aku tersenyum lalu memberi isyarat padanya untuk melihat ke depan saat guru pelajaran pertama sudah datang.
'Aku harus cepat bertindak, aku harus mendekatkannya pada Lacus sebelum Athrun benar-benar menyukai gadis itu'
ORB High School
14.00
Normal POV
"Hari ini sungguh melelahkan.." Gadis berambut pirang sebahu menghela nafas panjang.
"Tapi syukurlah sudah waktunya pulang. Kau bisa cepat istirahat di rumah, Cagalli." Gadis yang duduk di sampingnya berkomentar walau ia sibuk membereskan buku-bukunya.
"Kau tahu, Lacus? Aku senang bahwa orang yang sebangku denganku adalah kau."
"Heh? Nande?" Lacus merapikan roknya, lalu duduk manis di kursinya lagi setelah selasai memasukan semua bukunya ke dalam tas. Lacus pikir, mungkin bukan hal yang buruk untuk menunggu temannya yang dengan lesu menatap langit biru itu.
"Aku kurang baik dalam mencari teman. Saat SMP, aku tidak akrab dengan teman sebangku ku karna aku terlalu pendiam dengan orang yang baru aku kenal. Lama kelamaan, mungkin ia bosan menyapaku dan menemukan teman yang lain. Tapi kau berbeda, Lacus. Kau dengan sabar terus menyapaku dan mencoba mengajakku bicara hingga aku terbiasa denganmu. Terimakasih." Cagalli tersenyum menatap Lacus.
Lacus terdiam, jarang untuknya melihat gadis yang sebangku dengannya tersenyum. Lacus ikut tersenyum setelah beberapa detik dan menatap ke depan.
"Saat pertama datang ke ORB, aku ragu bahwa aku akan betah di kota ini dengan bibiku. Aku memang tidak sulit untuk bergaul, tapi tentu saja aku orang yang selektif dalam memilih teman dekat. Aku ingin, dia menjadi orang yang akan melengkapi kekuranganku dan memberi warna lain di hidupku yang tak aku miliki. Aku berharap, teman dekatku berbeda denganku agar kami bisa saling berbagi. Dan kau duduk disana, sendiri dan menatap langit. Tiba-tiba saja kakiku bergerak sendiri mengarah padamu. Aku selalu percaya pada instingku, maka aku duduk di kursi ini dan bertekad akan menjadi temannya. Teman dekatnya, teman dekat seseorang bertag-name Cagalli Yula Athha."
Cagalli tak percaya akan perasaannya, perasaan hangat yang mengalir di hatinya kala gadis bersurai merah muda itu terlihat jujur akan perasaannya. Cagalli, untuk pertama kalinya setelah kehilangan Mirri merasakan kepingan puzzle-nya kembali ditemukan. Cagalli tersenyum lega, dia percaya pada gadis yang ada di hadapannya itu. Cagalli percaya pada senyum dari pemilik bola sapphire nan indah itu.
"Mari kita berteman baik, Cagalli. Mari kita saling berbagi hingga tak ada lagi yang berbeda diantara kita."
Lacus menghadap Cagalli dan mengangkat jari kelingkingnya. Cagalli sempat menatapnya, lalu mengangkat jari kelingkingnya juga dan mengaitkannya pada jari kelingking Lacus. Sumpah jari kelingking.
"Hu'um. Mari menjadi teman, Lacus."
Senyum merekah di bibir kedua gadis ini. Pada hari sabtu itu, mereka bertekad bahwa mereka akan mencoba untuk saling mengerti dan menjadi sahabat selamanya. Apapun yang terjadi, mereka akan selalu menjadi sahabat. Apapun, bahkan untuk hal yang sebenarnya belum mereka ketahui. Siapa Lacus? Siapa Cagalli? Mereka mengikat janji dengan orang yang baru mereka tahui namanya saja. Mereka tahu itu, namun baik Lacus ataupun Cagalli, percaya semuanya akan baik-baik saja.
.
.
.
Athrun-Kira, Lacus-Cagalli. Mereka adalah dua pasang sahabat yang sedang mencoba untuk benar-benar menjadi sahabat. Banyak hal yang tidak mereka ketahui di dunia ini. Ah, jangankan di dunia ini, banyak yang tidak mereka ketahui akan apa yang terjadi pada orang yang dekat dengan mereka.
Apa yang tidak mereka ketahui? Athrun tidak tahu siapa yang menjadi pacar Kira di masalalu.
Apa yang tidak mereka ketahui? Kira tidak tahu siapa gadis yang menarik perhatian Athrun.
Apa yang tidak mereka ketahui? Cagalli tidak tahu bahwa sahabatnya memiliki tunangan dan orang itu adalah gurunya.
Apa yang tidak mereka ketahui? Lacus tidak tahu Cagalli akan menjadi saingannya soal Kira ataupun Athrun.
Apa yang tidak mereka ketahui? Banyak hal yang TIDAK atau BELUM mereka ketahui.
.
.
TBC
Chapter Berikutnya :
Kira sedang berusaha mendekatkan Athrun dengan Lacus.
"Athrun, bagaimana menurutmu soal gadis-gadis yang sedang belari di lapangan itu?"
"Pendapatku? Soal apa?"
"Bukankah Lacus sangat mencolok diantara mereka? Semua hampir memperhatikannya. Kau juga sedang memperhatikannya?"
"Aku sedang memperhatikan gadis yang ada di barisan pertama"
"Barisan pertama?"
'Cagalli…'.
.
.
.
Ren coba nulis panjang untuk chapter ini, tapi hasilnya nihil. Ide ren hanya sebatas ini. Maaf Minna… ;( Semoga kalian masih berkenan menyimak walau makin GaJe n Monoton.
special thanks to : Cyaaz-senpai! :D, Danny A.N , jinK 1342, blondeprincessa, Asuka Mayu, Ojou risky, NelshAZ, Popcaga, Fuyu Aki, reinaryuzaki, Anonim, Ga punya akun, Guest, Pandamwuchan-nee ;)
