Cyaaz : Hehe.. sejujurnya suka semangat saat ada yang review. Jadi bikin cepet. Yang membuat ren telat ntu Warnet. Hehe. Maaf deh sempet salah nyebutin nama wolfy-senpai silahkan tiap waktu mengingatkan bahwa ren typo mulu! Haha

FTS-Peace : sorry. Hehe.. now, I use justify thanks for review ;)

Fuyu Aki : wow, koment nya panjang! *hug aki-san. Makasih~~~ iya. Segi empat cuman belum ada aja adegan Athrun Lacusnya. Hehe. Iya tuh! Athrun cool aja sama cwek. Jadinya kayak g normal. Masukan yang bagus ;) lebih liar ya? Um.. dicoba deh. Hehe. Udah dibaca, tapi belum bisa ngamalin (?)

Asuka Mayu : Aku bertanya-tanya, apa kau bisa bahasa Indonesia? 0.o?

Pandamwuchan : Bikinnya udah ASAP, publishnya males jalan ke warnet. Hehe..makasih nee-chan udah review ;)

NelshAZ : kalau ini sama panjangnya sama yang kemarin lalu. (walaupun mungkin ga panjang seperti apa yang nel-san pikirkan. Opini berbeda. Hehe) semoga typo di sini agak berkurang deh . syukur deh mereka berdua #pandamwuchan n cyaaz# lagi baik. Jadi ga maksa update ASAP.

G punya akun : makasih atas dukungannya G punya akun-san (?)

Kaori suruga : ini pertama review ffc ren ya? makasih udah sempetin ya. Makasih banget.


Yang bikin semangat lanjutin itu review dari kalian, Minna.. arigatou! :)


GUNDAM SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate © SUNRISE

Warning : OOC, Typos, GaJe, dsb.

.

.

Chapter 6 : Perasaan ini..

.

.

Perpustakaan Kota

Cagalli POV

.

Sebulan telah kami lewati sebagai seorang murid dan guru. Dan sore ini pula, kami masih seorang murid dan guru yang duduk berhadapan di salah satu meja yang terdapat di perpustakaan kota ini.

"Cagalli, kau sekolah di mana?" Guruku –Athrun- membuka percakapan saat kami masing-masing sedang sibuk dengan tugas kami.

"Itu rahasia." Jawabku dengan tetap menghitung angka-angka dari soal yang Athrun berikan.

"Kenapa?" Tanyanya merebut kertas yang aku pakai untuk menghitung dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.

"Hey! Guru sialan! Kau mengangguku!" Aku kesal, bukan sekali atau dua kali ia melakukan hal tersebut.

"Bahasa, Cagalli. Ba-ha-sa! Kau ini perempuan, jangan kasar seperti itu! Apalagi pada gurumu." Dia akan mulai lagi 'ceramah'nya. Aku mencoba untuk mengabaikannya, dengan memperhatikan pohon yang 'menari' diterpa angin sepoi-sepoi. Ah, dunia yang damai.

Aku memejamkan mataku, merasakan angin sepoi-sepoi yang telah lebih dulu pohon di luar sana nikmati. Coba saja selamanya seperti ini, aku akan selalu dapat tersenyum. Coba saja seperti dulu, aku menikmati hidupku dengan warna yang indah. Coba saja aku dan Kira bukan…

'Apa sih yang kau pikirkan, Cagalli!' aku memarahi diriku sendiri. Ini saja sudah cukup, aku sekarang memiliki keluarga. Aku seharusnya senang sekali. Lagipula, sekarang hubunganku dengan Kira mulai membaik. Walau pada awalnya kami seperti berpura-pura saat di depan orangtua kami, sekarang kami mulai saling menyapa dan bercanda walau tak sampai mau berangkat sekolah bersama-sama.

Sekolah, terlalu banyak kenangan kami yang terdapat di sekolah kami dulu. Mungkin karena itu, kami belum bisa berinteraksi secara normal di sekolah. Aku bahkan belum pernah melihatnya di sekolah. Berangkat lebih pagi, pulang terakhir. Semua aku lakukan untuk menghindari Kira.

"Ca-ga-lli!"

Aku tersentak kaget. Aku bangun dari 'duniaku' dan mendapati guruku ini sedang menatapku dengan tatapan jengkel.

"Dengarkan apa yang gurumu katakan, Cagalli!" Dia menatapku sebal dan melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.

"Aku tidak merasa kau guruku. Bagaimanapun, kau seumuran denganku. Kau seperti temanku saja, Athrun. Berhenti bermimpi aku akan menghormatimu."

"Teman?" Dia menampilkan ekspresi bingung, membuat aku memikirkan kembali kata-kataku dan ikut merasa bingung.

'Teman, ya?' Aku tidak pernah merasa bahwa seseorang adalah temanku sebelum mereka mengatakan bahwa mereka adalah temanku. Lalu di sini, aku bersama seseorang yang sebenarnya adalah guruku dan mengatakan padanya bahwa aku menganggap ia teman.

Selama ini, apa aku menganggapnya teman? Tiap seminggu tiga kali, aku tidak pernah menganggap bahwa pertemuanku dengannya adalah hal yang merepotkan. Aku selalu menikmatinya, ini seperti saat aku melakukan kerja kelompok dengan Mirri. Dan Mirri adalah temanku. Jadi, dia temanku ?

"Ya, aku senang kau menganggapku temanmu." Suara maskulin kembali membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya, dia tersenyum lembut padaku.

Seperti dalam sinetron saja, angin tiba-tiba memainkan rambut kami, memberikan kesan lain pada moment kami ini. Aku terpukau, oleh kata-katanya, oleh senyumnya.

"Aku rasa, kau memang temanku." Kataku, tersenyum padanya. Selama sebulan ini, kami duduk di kursi ini tiap seminggu tiga kali. Kami belajar bersama, dan kadang sedikit mengobrol akan hal-hal di luar mata pelajaran. Tidak jarang, kami saling menjahili dan berakhir dengan tawa.

Ditengah tragedy hidupku, aku bertemu dengan dia. Dia yang selama ini membawaku sesaat melupakan Kira. Dia, pria dengan mata emerald yang sejuk itu, berhasil menghipnotisku untuk menganggapnya sebagai temanku. Dia, dengan senyum lembutnya berhasil membuatku nyaman.

Untuk pertama kalinya, di ruangan ini, ada aku dan dia sebagai teman. Bukan lagi murid dengan guru.

.

.

School

Kira POV

.

"Aku gagal lagi untuk kesekian kalinya."

"Maaf merepotkanmu, Kira."

Di belakang sekolah yang sepi ini, aku berdiri bersandar pada pohon rindang dan menatap langit. Gadis bersurai merah muda duduk di atas rumput itu dengan pakaian olahraga khas sekolah kami. Dia mengikat rambut panjangnya yang biasa tergerai bebas dengan pita merah. Selalu di sini, kami sesekali bertemu membicarakan sang topik utama, tunangannya.

"Baru kali ini aku kerepotan karenanya."

"Ma-maaf Kira!" Dia berdiri dan membungkukan badannya.

"Bukan itu maksudku, Lacus. Kau tidak merepotkanku, kok. Dia saja tuh yang menyebalkan." Ucapku dengan senyum.

Dia menatapku dan bernafas lega lalu tersenyum. "Apa Athrun memang susah didekatkan dengan seorang perempuan?" Tanyanya dan mulai bersandar di pohon yang sama.

"Sangat susah. Aku sungguh akan mengira ia gay jika sebulan yang lalu ia tidak mengatakan bahwa ia tertarik pada seorang gadis."

"Apa dia sekarang sudah mencintai gadis itu?" Aku melirik ke arahnya saat aku dengar nada suaranya menurun. Dia seperti sedih, apalagi ia menunduk seperti itu.

"Jangan khawatir, aku rasa ia belum jatuh cinta. Tertarik itu hal yang normal dan biasa,kan?"

"Semoga memang demikian. Mengingat usahamu selalu gagal, mungkin tertarik baginya itu hal yang special. Dia kan jarang tertarik pada seorang gadis."

"Aku rasa bukan itu alasannya mengapa Athrun begitu kebal. Coba ingat-ingat bagaimana usahaku mendekatkan ia padamu."

Flashback On:

Normal POV

Langkah 1 :

Kira dan Athrun sedang berjalan pulang bersama-sama. Memang berbeda arah, tapi sampai gerbang, mereka selalu pulang bersama jika masing-masing tidak ada rencana lain.

"Ath, apa menurutmu ada gadis cantik di sekolah kita ini?"

"Ada."

"Siapa?"

"Lacus Clyne."

"Benarkah menurutmu dia cantik? Kau tertarik tidak padanya?"

"Tenang Kira, aku tidak akan merebutnya darimu. Dia cantik, tapi aku tidak tertarik. Kau tenang saja, jangan cemburu begitu."

"Heh?"

Mereka sampai di gerbang dan Athrun melambai untuk berjalan ke arah apartement nya. Langkah 1, gagal.

.

Langkah 2 :

Kira sedang duduk di kursinya menatap langit biru. Dia sedang berpikir bagaimana caranya agar Athrun mulai memperhatikan Lacus.

"Woy! Jangan melamun, Kira!" Athrun baru saja duduk di kursinya.

'Ini dia saatnya' pikir Kira.

"Ath, bagaimana menurutmu Lacus itu?"

"Oh, kau melamun memikirkan dia?"

"Heh?"

Bel berbunyi, guru datang. Langkah ke 2, gagal.

.

Langkah 3 :

Kira dan Athrun sedang dalam sebuah ulangan harian. Setelah Kira selesai mengerjakan soal yang diberikan guru Biology itu, ia berencana untuk melancarkan aksinya pada sang target yang duduk terpisah satu bangku dengannya.

"Oy, Athrun.." Ucap kira dengan berbisik. Athrun melirik ke arah Kira dan menampilkan ekspresi bingung.

"Aku mau Tanya sesuatu, Ath."

"Nomor berapa yang tidak kau mengerti, Kira?" Athrun ikut berbisik.

"Ini soal dia."

"Soal nomor tiga?" Ungkap Athrun dan mulai melihat ke lembar soal. "Jawabnnya A" Bisik Athrun dan memberikan senyum 'tanpa dosa' pada Kira yang kelihatan kesal padanya.

"ZALA! YAMATO! Berhenti berbisik!" Bentak guru Biology. Langkah 3, gagal juga.

.

Langkah 4 :

'Kali ini harus berhasil!'

Kira menghampiri Athrun yang sedang membaca di perpustakaan.

"Ath, bicara soal Lacus a-"

Belum sempat Kira melanjutkan kalimatnya, Athrun bersuara. "Kau tahu ini di perpustakaan? Kau jangan berisik. Aku kagum padamu, Kira. Dimanapun kau selalu mengingat dia."

"Heh?! Bukan itu maksudku!" Kira sangat kesal, ia membentak sahabatnya itu.

"Stttttt.."

Semua yang ada di sana menyuruh Kira diam. Lagi-lagi gagal.

.

Flashback Off

.

Normal POV

"Nah, setelah kau mendengar kilas balik soal perjuanganku, kau mengerti maksudku?"

"Hu'um. Aku pikir, Athrun menganggap kau menyukaiku."

"Jawaban yang benar, nona Lacus. Dia si jenius? Dia begitu bodoh bagiku." Kira tertawa memikirkan Athrun yang sungguh tidak peka soal perasaan. Lacus juga ikut tertawa, memang lucu baginya Athrun yang dikenal jenius begitu konyol.

"Ah, Kira! Sudah waktunya aku untuk datang ke lapangan." Lacus manatap jam tangannya dan mulai pergi dari tempat tersebut. Sebelum dia menghilang dari pandangan Kira, dia berbalik dan melanbaikan tangan kanannya. "Sampai bertemu lagi, Kira."

"Ya, dah.. Lacus." Kira hanya merespon lambaian tangan Lacus dengan senyum simpulnya.

Setelah Lacus menghilang dari pandangannya, Kira kembali menatap langit.

'Seperti apa sih gadis yang menarik bagimu, Athrun?'

.

.

Kelas

Normal POV

'Membosankan sekali hari ini. Jadwal kursus juga kosong. Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?' Athrun merenung di kursinya. 'Seandainya saja aku tahu dimana ia bersekolah. Mungkin aku akan nekad menunggunya di depan gerbang hanya sekedar untuk bisa melihat wajahnya.'

"Hobby-mu sekarang melamun, Ath?" Kira menepuk pundak Athrun, dan Athrun nampak terkejut.

"Aku tidak sedang memikirkannya!" Ucap Athrun secara reflex.

Seringai muncul di bibir Kira. "Memikirkannya? Siapa yang kau maksud? Lacus Clyne?"

"Aku tidak memikirkan gadismu, Kira!"

"Dia bukan gadisku, Athrun." Ungkap Kira. Sepertinya, Kira sedang mencoba mempertegas apa yang selama ini menjadi kesalahpahaman diantara mereka. "Aku tidak menyukainya."

"Tapi kau selalu membicarakannya, kan?" Tuduh Athrun.

"Aku hanya berpikir, kau cocok dengannya, Ath." Kira tersenyum nakal pada Athrun.

"Jadi selama ini kau sedang mencoba mendekatkanku padanya?"

"Akhirnya kau mengerti, Ath. Sekarang aku percaya bahwa memang benar kau jenius." Kira tertawa, ia ingat percakapannya dengan Lacus.

"Apa itu maksudnya?" Athrun menatap Kira dengan tatapan curiga.

"Tidak, tidak. Lupakan saja." Kira berusaha menghentikan tawanya.

"Aha! Aku tahu! Kau sedang membodohiku, kan? Kau berpura-pura ingin mendekatkan aku padanya hanya untuk menutupi rasa sukamu padanya?"

"Aku tidak begitu, Ath."

"Kau selalu misterius soal perasaanmu, Kira. Aku tidak percaya padamu soal pengakuanmu tentang perasaan."

"Oh, ayolah Ath. Aku jujur padamu, Lacus bukan gadisku."

"Bukan gadismu?" Athrun terlihat berpikir sejenak lalu bertanya dengan polos pada Kira. "Ngomong-ngomong soal gadismu, kau tidak pernah membicarakannya lagi padaku. Apa kalian putus?"

Beg..

Tawa Kira hilang seketika. 'Apa kalian putus?' suara Athrun yang mengatakan kalimat tersebut terus berputar di kepalanya. Kira menunduk, lalu memalingkan wajahnya. Matanya tertutup oleh rambut cokelatnya, memberi kesan bahwa saat ini siapapun jangan bertanya pada Kira.

Athrun terdiam, dia sadar bahwa ia telah mengucapkan kalimat yang tidak semestinya. Athrun akan segera meminta maaf, saat Kira mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap langit.

"Kami tidak putus, dari awal memang kami tidak ditakdirkan bersama. Maka kebersamaan kami, aku akan menganggapnya suatu mimpi."

Athrun menatap Kira, lalu menunduk. 'Bagaimana kau melakukannya, Kira? Kau sungguh mencintai gadis itu. Bagaimana kau menganggap semua yang telah terjadi adalah mimpi? Apa yang terjadi sebenarnya?'.

'Biarkan saja untuk kali ini. Ini bukan saat yang tepat.' Pikir Athrun.

Tak lama setelah sepasang sahabat itu saling diam, murid laki-laki di kelas itu dengan cepat mendekati kaca jendela.

"Woy lihat! Itu Lacus Clyne. Dia memang seperti putri ya.. Sangat cantik." Ucap salah satu dari mereka.

"Siapa itu yang berambut pirang? Larinya cepat juga."

Athrun tersenyum sendiri mengingat kata 'pirang'. Dia ingat gadis itu.

'Baiklah, mari kita lihat. Apa pirang di sini sama menariknya dengan murid pirangku?' Athrun bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah jendela tepat di samping depan tempat duduk Kira. Athrun memperhatikan gadis-gadis yang sedang berlari di lapangan tersebut. Dilihatnya satu persatu mencari gadis berambut pirang. Ia melihatnya, sedang berlari tepat di depan barisan. Rambut pirang, pirang sebahu.

"Cagalli! Akan aku susul kau!" Teriak salah satu murid perempuan diantara barisan lari.

'Cagalli? Aku menemukanmu!' Athrun menyeringai dan tetap memperhatikan Cagalli yang sedang berlari.

Kira melirik ke arah Athrun. Athrun nampak sedang memperhatikan seseorang di lapangan itu. Kira ikut menatap lapang, mencoba mencari tahu siapa yang Athrun perhatikan. Aha! Ada Lacus Clyne di sana. Kira tersenyum.

"Bukankah Lacus sangat mencolok diantara mereka? Semua hampir memperhatikannya. Kau juga sedang memperhatikannya?"

"Aku sedang memperhatikan gadis yang ada di barisan pertama"

"Barisan pertama?" Kira kembali memperhatikan anak perempuan yang sedang berlari di sana. 'barisan pertama? Mana ya?' saat Kira menemukannya, matanya membulat saking terkejut. Siapa yang ada di sana? Jelas dia orang yang tak pernah Kira sangka-sangka.

'Cagalli…'.

.

.

Kenapa ini? Kenapa aku merasa bahagia bersamanya?

Kenapa ini? Kenapa aku nyaman berbicara dengannya?

Kenapa ini? Kenapa aku senang melihatnya?

Kenapa ini? Kenapa aku merasa cemburu?

Kenapa ini? Apa ini Cinta?

.

.

TBC

.

Chapter berikutnya :

Chapter 7 : Kissu

"Bagaimana rasanya berciuman itu?"

"Apa kau sudah pernah mencium seseorang?"

'Apa kau sudah lupa akan perasaan ini?'

'itu hanya kecelakaan, kami tidak bermaksud melakukannya.'

"Maaf."

Mereka berciuman.

.

.

Yah~~ jika kalian tertarik, silahkan tebak siapa yang berciuman.

special thanks to : Cyaaz-senpai! :D, Danny A.N , jinK 1342, blondeprincessa, Asuka Mayu, Ojou risky, NelshAZ, Popcaga, Fuyu Aki, reinaryuzaki, Anonim, Ga punya akun, Guest, Pandamwuchan-nee, FTS-peace, Kaori suruga.