Chapter 2 – Beautiful Day
.
Other Cast :
Zhang Yixing (GS)
Im Yoona SNSD
.
.
.
LET'S GET STARTED ^^
.
Setelah peristiwa di ruang kesehatan itu, Chanyeol tahu dari teman-teman sekelasnya bahwa Luhan adalah salah satu cowok yang cukup popular di sekolah. Selain ketua OSIS, ia dipercaya oleh guru-guru untuk menjadi asisten pengawas di ruang kesehatan sekolah. Ia juga pemain tengah yang hebat di klub sepak bola sekolah. Rasanya tak ada cowok se-ideal itu untuk dikagumi, pikir Chanyeol.
Gadis itu berusaha menjalani hari-hari SMA dengan normal. Namun, mau tidak mau ia harus mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia mulai tertarik pada Luhan. Tapi ia sadar, saingannya pasti banyak. Chanyeol merasa tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Teman-temannya bilang, wajahnya cukup manis. Tetapi tak ada yang bisa dibanggakan secara keseluruhan. Hidungnya kecil, telinganya lebar, belum lagi tinggi badannya yang melebihi rata-rata siswi SMA umumnya. Tapi untungnya Luhan masih lebih tinggi dari dia.
"Senyum kamu menarik," kata Sehun suatu saat.
"Terima kasih. Sayang cuma kamu yang bilang begitu," kata Chanyeol sambil tertawa.
Sehun ikut tertawa. "Percayalah. Kamu menarik kalau tersenyum. Eh, matamu juga bagus loh. Berbinar seperti bintang."
Ya, Sehun memang sering bilang begitu, sejak SMP. Bukannya tidak percaya pada komentar sahabatnya, tetapi Chanyeol merasa dirinya biasa-biasa saja. Lain dengan Sehun. Potongan rambut bob-nya keren. Ia juga teman bicara yang menyenangkan. Chanyeol senang berteman dengannya. Sehun juga mudah bergaul, sehingga dia punya banyak teman. Sehun dengan senang hati selalu mengenalkan teman-temannya. Apalagi dia tahu Chanyeol agak pendiam dan kurang komunikatif.
Chanyeol selalu memandang Luhan seperti melihat idola yang selalu dikelilingi penggemar. Setiap kali bertemu, cowok itu selalu dikelilingi anak-anak perempuan. Entah memang menemani atau sekedar mendekat atau menyapa. Ia hanya memandang Luhan dari jauh. Biasanya malah cowok itu yang lebih dulu menyapa. Chanyeol hanya akan tersenyum atau mengangguk. Itu sudah cukup baginya.
.
Hari-hari minggu pertama sekolah terasa menyenangkan. Pembagian tempat duduk sudah dilakukan. Sehun terpaksa duduk agak jauh dari Chanyeol. Chanyeol sendiri duduk dibangku dekat jendela, tempat yang menyenangkan, karena ia lebih leluasa memandang ke luar kelas. Pemandangan di luar bisa membuat segar otak yang mulai jenuh. Yah, walaupun kadang-kadang agak mengganggu konsentrasi belajar.
Teman sebangkunya, Yixing, gadis yang pendiam seperti dirinya. Jadi mereka tak banyak bicara. Saking diamnya, seakan mereka sedang bermusuhan dan melancarkan aksi diam-diaman. Tapi Chanyeol tahu, Yixing memang lebih suka diam ketimbang bicara banyak.
Dari tempat duduknya, Chanyeol juga bisa memandang kelas Luhan yang berseberangan dengan kelasnya. Ia bisa puas memandang cowok itu dengan leluasa.
Suatu hari, saat baru masuk kelas, Chanyeol melihat Yixing menatap ke luar kelas dengan pandangan sendu. Chanyeol mengurungkan niat untuk mendekat. Diam-diam ia mengikuti arah pandangan Yixing.
Kelas seberang sedang ramai. Luhan dan teman-temannya sedang asyik mengobrol. Chanyeol seperti disengat lebah. Saat Luhan tertawa, ternyata Yixing ikut tersenyum kecil. Matanya terus mengikuti cowok itu.
Aduh, ternyata selama ini mereka diam-diam memperhatikan orang yang sama. Chanyeol merasa tidak enak. Namun, ia juga tak merasa harus mundur hanya karena teman sebangkunya punya cowok idola yang sama. Itu sah-sah saja. Bukankah Luhan memang punya banyak penggemar ?
"Melamun, Yixing?"
Gadis itu tergagap dan salah tingkah. "Eh… tidak. Aku… aku sedang memperhatikan kelas seberang."
Chanyeol merasa dadanya berdetak lebih kencang. "Siapa? Pasti Luhan."
Yixing tertawa kecil. "Kok kamu tahu? Yah, ia memang menarik. Tetapi hanya memperhatikan saja. Aku heran mendengar Luhan selalu jadi bahan pembicaraan. Waktu kulihat gayanya bicara, ternyata ia memang menyenangkan. Tapi… selalu saja ada cewek disekelilingnya."
Chanyeol tersenyum. Jarang sekali Yixing berbicara panjang seperti itu.
Yixing membereskan buku yang berserakan di atas meja. "Aku Cuma ingin tahu saja, kok. Suka juga sih sebenarnya. Tapi aku kan tidak punya apa-apa yang bisa ditonjolkan."
Chanyeol mengangguk. Ia tahu pasti bagaimana perasaan Yixing. Bukankah selama ini ia juga merasakan hal yang sama. Chanyeol kembali melihat ke kelas seberang. Ada tiga anak perempuan sedang bercakap-cakap dengan Luhan. Ketiganya jelas sekali ingin menarik perhatian. Salah seorang dari mereka sangat cantik. Badannya ramping dan rambutnya yang berombak tergerai. Sesekali ia tertawa sambil menyibakkan rambut panjangnya. Menarik sekali. Luhan sepertinya tertarik. Ugh… diam-diam Chanyeol merasa muak.
"Ssst… Chanyeol, lihatlah. Gadis itu cantik sekali, ya. Kalau aku mengidolakan Luhan pasti kalah jauh dech."
Chanyeol tersenyum kecut. "Jangan patah semangat. Belum tentu Luhan suka padanya."
Sedetik kemudian Chanyeol seperti disengat lebah. Luhan tampak mengobrol akrab dengan si cantik berambut panjang. Keduanya menyingkir ke sudut koridor. Entah apa yang mereka bicarakan. Chanyeol menghela nafas berat.
.
Keesokan harinya, tersiar kabar bahwa Luhan diminta mengikuti audisi drama. Yang meminta tentu saja Yoona, si cantik berambut panjang kemarin.
"Sayang Luhan menolak. Padahal ini kesempatan bagus, lho. Kalau lulus, Luhan bisa ikut berperan dalam film drama. Bukan pemeran utama sih, tetapi kan lumayan." Kata seorang anak.
Chanyeol hanya memasang telinga.
"Kabarnya Luhan tidak tertarik hal-hal semacam itu. Maka dari itu dia menolak." Tambah yang lain.
Chanyeol menarik nafas lega. Berarti Luhan tidak tertarik pada si cantik itu. Oh… kayaknya itu kesimpulan yang aneh. Menolak tawaran bukan berarti tidak suka pada si cantik, kan ?!
Chanyeol menguatkan hati. Entah mengapa ia menaruh harapan bahwa Luhan mau membalas perasaannya. Tapi ia sadar tidak boleh berharap terlalu banyak.
Siang itu, saat istirahat ia melihat Luhan berlari-lari menuju kelasnya. Sejenak Chanyeol merasa ge-er. Ia berharap Luhan menjumpainya. Ternyata keliru. Cowok itu hanya lewat di depan kelas. Disana ada anak-anak perempuan yang mengajaknya bicara. Cowok tampan itu hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Chanyeol membalas dengan malu-malu dan sedikit kecewa.
.
Pada awal minggu kedua semester itu, Chanyeol, setelah berpikir keras dan meberanikan diri. Akhirnya memutuskan untuk mendaftar sebagai manajer klub sepak bola di sekolah. Tentu saja agar ia bisa sering bertemu dengan cowok pujaannya.
Setelah melewati seleksi yang cukup ketat, Chanyeol berhasil menjadi manajer klub sepak bola. Ia cukup puas bisa bertemu Luhan, berbincang dengannya, menyediakan air minum setiap kali selesai latihan, dan melihat aksi lapangan Luhan yang menurutnya luar biasa keren.
Tidak ada sesuatu yang menghebohkan dialami Chanyeol dalam menjalankan tugas sebagai manajer klub sepak bola, seperti dalam komik-komik remaja yang pernah ia baca. Luhan sepertinya hampir tidak memperhatikan Chanyeol selain sebagai anak baru yang dulu pernah ia tolong. Itu pun lebih karena kewajibannya.
Paling-paling cowok itu menyapa dengan senyum. Atau kalau selesai latihan dan ia melewati Chanyeol, tangannya mengacau rambut Chanyeol. Keakraban itu semula membuat Chanyeol kaget dan bertanya-tanya. Namun, ternyata hamper semua anak klub sepak bola menunjukkan keakraban padanya. Bukan karena ia satu-satunya perempuan disitu. Tetapi…
"Karena tidak ada orang yang tahan lama menjadi manager disini. Biasanya mereka hanya bertahan dua atau tiga bulan dan setelah itu keluar." Jelas Luhan.
"Iya," sahut yang lain. "Mereka tak tahan dengan tingkah anak-anak yang urakan."
"Bukan karena itu," bantah yang lain. Manajer-manajer yang dulu selalu mundur karena tidak tahan mencium keringat kita yang wangi."
"Ha… ha… ha…!"
Chanyeol tertawa. Jawaban-jawaban itu menguatkan Chanyeol bahwa Luhan memang bersikap wajar dan tidak berlebihan. Anak-anak lain juga menunjukkan perhatian sama. Mereka menganggapnya sebagai adik manis yang harus disayang-sayang.
"Kalau tidak begini kamu pasti kabur juga, Chanyeol," kata seorang anak.
"Ah, tidak juga. Aku memang ingin menjadi manajer, kok." Juga, tambahnya dalam hati, karena aku ingin terus berada di dekat Luhan.
.
Suatu hari, di suatu sore yang pengap, saat langit berwarna merah lembayung karena matahari sudah mulai tenggelam, Chanyeol datang dengan berlari-lari dari kantin sekolah. Hari ini juga ia lupa menyiapkan air minum untuk anggota klub sepak bola sebelum ia berangkat ke lapangan. Ah, kenapa aku bisa seceroboh ini, pikirnya. Sebentar lagi latihan usai, tentu mereka kehausan. Dan tidak ada yang lebih mengerikan daripada segerombolan anak laki-laki yang lelah dan kehausan.
Chanyeol segera memborong air mineral. Tak sabar rasanya menerima kembalian uang. Dalam kondisi mendesak seperti ini si penjaga kantin terlihat sangat lamban. Padahal Chanyeol sendiri yang terburu-buru. Sambil membawa air mineral dalam kantong plastic, ia segera berlai secepat mungkin ke klub.
Saat berada di dekat lapangan bola, ia melihat sosok yang sudah sangat dikenalnya sedang berlari ke arahnya. Luhan!
"Hei, Channie, kemana saja kamu? Semuanya pada kehausan, tuh!"
"Oh, maaf, oppa. Tadi aku lupa menyediakan minum buat teman-teman!" jawab Chanyeol sambil mengacungkan kantong plastik. Napasnya masih terengah-engah karena berlari-lari, dan… karena Luhan!
Cowok itu tampak lega. Ia segera mengambil sebotol air mineral dari kantong plastik dan meneguknya sampai habis. Mata Chanyeol tak bergeser dari pandangan indah di depan matanya. Luhan yang kehausan dengan wajah penuh keringat. Cowok itu tampak minum dengan penuh perasaan. Chanyeol tersenyum-senyum.
"Wow, segar sekali!" kata Luhan puas. "Sudah dari tadi kerongkonganku terasa dibakar. Kalau kamu terlambat lima menit lagi, aku pasti sudah dibawa ke ruang kesehatan karena dehidrasi!"
Chanyeol tertawa geli. "Maafkan aku, oppa."
"Oh, aku tidak marah kok, Channie. Tapi tidak tahu ya dengan teman-teman yang lain! Mungkin begitu kamu muncul mereka akan menerkammu!" goda Luhan sambil mengacak-acak rambut panjang Chanyeol.
Chanyeol mengernyitkan kening mendengar sapaan yang telah digunakan berkali-kali oleh cowok itu. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya, seperti ketika cowok itu pertama kali memanggilnya, ketika mereka belum saling kenal.
"Emh, Lohan oppa, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Boleh, apa?"
"Emh… benar, nih. Oppa tidak akan marah?" Chanyeol menunduk sambil memperlambat langkah.
"Memangnya kenapa, sih?"
"Anu… mengapa oppa selalu memanggilku Channie?" Chanyeol memberanikan diri. "Seingatku, sejak pertama kali kita bertemu, oppa selalu memanggilku Channie. Padahal oppa tidak pernah memanggil orang lain seperti itu."
Luhan tertegun mendengar pertanyaan Chanyeol yang tak disangka-sangka. Ia berhenti melangkah, terdiam dan menunduk dalam-dalam, seolah sedang berfikir keras mencari jawaban yang tepat.
Chanyeol menunggu dengan deg-degan.
Dahi cowok itu berkerut ketika ia berkata, "Kamu tidak suka dipanggil begitu?"
"Eh? Bukan, bukan begitu. A… aku cuma…" Chanyeol tidak bisa melanjutkan. Lidahnya terasa kelu. Masa ia harus mengaku bahwa selama ini ia menaruh harapan begitu besar justru karena cowok itu selalu memanggilnya 'Channie'. Tentu saja ia tidak bilang begitu. Ia tak ingin mengakui perasaannya! Memalukan, dan sangat menakutkan. Ia takut, takut perasaannya bertepuk sebelah tangan. Takut bahwa setelah ia mengakui perasaannya, cowok itu malah akan menjauhinya. Mestinya aku tadi tidak bertanya soal itu, sesal Chanyeol.
"Eh… oppa. Kalau pertanyaan tadi tidak ingin dijawab juga tidak apa-apa. Aku cuma iseng," kata Chanyeol akhirnya. Ia sudah menyerah seandainya jawaban Luhan meleset dari dugaan. Juga andai cowok itu tidak mau menjawab dan mengatakan ia Cuma iseng memanggil begitu. Sudahlah….
Luhan kelihatan salah tingkah. Tangannya memutar-mutar botol minuman. Kentara sekali ia kerikil ditendangnya. Setelah menarik nafas ia menjawab,"Begini, Channie. Aku memang tidak pernah memanggil orang lain dengan nama panggilan lucu seperti itu. Sebab.. aku ingin kamu tahu. Kamu adalah orang yang paling istimewa buatku."
Sore yang pengap seakan diterpa badai salju. Mengagetkan dan membuat panik. Chanyeol hanya membelalakkan mata menatap Luhan yang menunduk malu dengan wajah merah padam.
"A-apa?" tanyanya, seolah tak mendengar apa yang baru ia dengar. Ia tak percaya, pasti salah dengar. Ada yang tidak beres dengan telinga dan otakku. Jangan- jangan saking sukanya pada Luhan oppa, aku mulai mendengar hal-hal yang tidak benar, pikirnya.
"Iya, aku akan mengakui," Luhan memasang tampang serius yang belum pernah dilihat Chanyeol. Ia memandangnya lurus dan langsung ketika mengucapkan kata-kata berikutnya. "Aku memang menyukaimu sejak pertama kita bertemu di upacara penerimaan murid baru."
Chanyeol masih terbengong-bengong. Suara Luhan yang baru saja menyatakan suka seolah terdengar berkali-kali di kepalanya, bagaikan lagu yang diputar ulang berkali-kali. Apakah ia sedang jatuh pingsan dan bermimpi?
"Aku tidak tahu bagaimana harus menyatakannya, maka dari itu aku memanggilmu Channie, agar kamu menyadari perasaanku."
"Ah…" Chanyeol tergagap, wajahnya memerah lagi. Otaknya serasa lumpuh, tak mampu lagi berpikir jernih.
Luhan memperhatikan raut wajahnya yang kelihatan sangat bingung dan tidak percaya. Cowok itu jadi salah sangka. "Aku benar-benar minta maaf kalau hal itu mengganggumu selama ini," ia membungkukkan badan dalam-dalam meminta maaf, lalu berjalan pelan menjauhi Chanyeol.
"Tunggu, Luhan Oppa!" Cahnyeol berteriak sekeras-kerasnya sebelum Luhan pergi menjauh. "Aku… selam ini… a-aku bukannya terganggu oppa memanggilku begitu. Aku… aku malah berharap oppa memanggilku begitu karena oppa menganggapku lebih dari sekedar teman biasa! Aku… dari dulu juga suka pada Luhan oppa!"
Akhirnya, Chanyeol berhasil menyatakan perasaannya. Ia merasa sangat lega, seakan akan beban yang sangat berat terlepas dari pundaknya.
Luhan berbalik. Wajah tampannya yang semula lesu berubah menjadi cerah. Sebuah senyum manis tersungging di bibir. Ia berlari dengan cepat kearah Chanyeol dan memeluknya erat-erat.
"Ya ampun, padahal aku sudah mengira kamu marah. Ternyata…"
"Aku juga," jawab Chanyeol jujur. "Padahal selama ini aku mengira perasaanku bertepuk sebelah tangan!"
"Channie, sebenarnya selama ini aku ingin menunjukkan perhatian lebih dekat. Tetapi aku masih ragu-ragu apakah kamu bisa menerima. Aku hanya bisa mengacak rambutmu. Padahal .. aku ingin sekali menunjukkan bahwa kamu orang yang istimewa."
Chanyeol tidak menjawab.
"Waktu kamu memutuskan menjadi manajer, aku langsung setuju. Sehari sebelumnya aku pernah ke kelasmu. Aku ingin kamu menjadi manajer disini. Tetapi saat itu ada beberapa anak yang menyapa dan mengajakku berbicara. Dan begitu cepat bel berbunyi. Untunglah esoknya kamu mendaftarkan diri menjadi manajer. Mungkin aku memang sedang beruntung ya?"
Chanyeol melepaskan pelukan Luhan dan mengangguk perlahan tanpa melepaskan pandangan dari wajah Luhan. Cukup lama juga keduanya berada dalam posisi itu sampai akhirnya terdengar sorakan dari para anggota klub sepak bola.
"Oiii…! Chanyeol sama Luhan lagi asyik, nih!"
"Pacaran, ya!"
"Ha..ha..ha.. ketahuan, tuh!"
"Pantas, aku sudah curiga. Masa beli minuman saja lama amat. Ternyata pacaran!"
"Ya, Ka-kalian ini!" seru Luhan pada teman-temannya dengan wajah merah padam menahan malu. Sementara Chanyeol hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah.
"Wah… manajer kita ini memang perlu dihukum. Masa kita dibiarkan mati kehausan seperti ini?!"
"Iya, nih. Chanyeol jadi teledor."
Cahnyeol membungkuk dalam-dalam. "Maaf. Tadi aku lupa menyiapkan minuman jadi aku ke kantin sebentar."
"Sebentar?! Huh.. memang yang kalian lakukan tadi apa sampai tidak tahu waktu?!" seorang anak dengan gaya galak pura-pura memarahi Chanyeol. Yang lain ikut-ikutan.
Gadis itu tersenyum malu, dan mengangsurkan botol-botol minuman pada mereka. Anak-anak langsung menyerbu seperti segerombolan kucing kelaparan. Dalam sekejap mereka sudah lupa pada kejadian Luhan dan Chanyeol, sibuk berebut minuman.
"Aduh… segarnya!"
"Ini baru namanya setetes air di tengah gurun pasir."
Luhan sepertinya bingung. Tidak mungkin ia meninggalkan Chanyeol, tetapi anak-anak sudah hamper pulang. Padahal ia harus memberi evaluasi tentang latihan tadi.
"Chanyeol…," panggilnya ragu-ragu.
Chanyeol tersenyum. "Tidak apa-apa. Luhan oppa kan harus bersama mereka. Aku nanti menyusul."
"Eh, nanti aku tunggu di gerbang, ya."
"Oke!"
Luhan lari meninggalkan Chanyeol. Di tengah jalan ia berhenti dan berbalik. Sambil melemparkan senyuman manis pada Chanyeol, ia melambaikan tangan. Gadis itu membalas dengan tawa renyah dan lambaian.
Kini ia sendiri dengan kantong plastik kosong di tangan. Matanya berkaca-kaca. Ya, hari ini benar-benar membahagiakan.
.
.
.
.
TBC…
.
.
A/N : halo semua, terima kasih buat yang udah baca and review di chapter 1. Banyak yang tanya ini Luyeol apa Krisyeol pasangan utamanya … hehehe yang pasti Chanyeol tokoh utamanya. Maaf gag bisa kasih tau nanti gag surprise jadinya.. hehehe pokoknya buat krisyeol shipper harap bersabar ya, pasti keluar kok, gag mungkin gag soalnya aku juga krisyeol shipper. Untuk chapter selanjutnya bakal banyak moment luyeonya. jadi buat yang suka sama krisyeol harap bersabar. Kris masih diumpetin ma sehun kayaknya..hehehe
Dan juga, kenapa aku pasangin luhan disini dengan chanyeol bukan sehun atau kai yang mungkin dilihat dari posturnya cocok dengan chanyeol. Aku hanya menyamakan hobi, kepribadian si tokoh dan cocok dengan luhan, maka dari itu jadilah Luyeol. Memang agak gimana gitu, tapi disni chanyeol cewek jadi anggep Luhan lebih tinggi dari Chanyeol. Okey.. ^^
Sekali lagi terima kasih buat yang sudah baca cerita yang mungkin pasaran ini dan masih banyak typonya. Gomawo chingu… ^^
.
.
.
.
Review and comment, please!
