Chapter 3 – A Deal
.
HAPPY READING ^^
.
.
Satu semester hamper berlalu. Chanyeol merasa bahagia. Saat berangkat sekolah ia selalu berharap akan menghadapi hari yang menyenangkan. Bersama Luhan tentu saja. Dan doanya setiap pagi selalu terkabul.
Sekarang ia tak perlu malu-malu mencari-cari cowok itu. Begitu melihat kelebatnya, Luhan akan berlari mendekat. Dengan senyum lebar dan tatapan lekat, ia akan berjalan disisinya. Chanyeol tak perlu ragu-ragu berjalan disisi Luhan. Walau sebenarnya ia tahu, banyak anak perempuan yang iri padanya.
"Kenapa sih Luhan memilih dia?"
"Iya. Tidak ada hebat-hebatnya."
Semula Chanyeol sedih mendengar kalimat-kalimat jahat itu. Tetapi lama-lama ia terbiasa.
"Mungkin karena Chanyeol menjadi manajer sepak bola."
"Ia memang pintar. Dengan begitu ia tahu kebiasaan Luhan. Huh… tahu begitu dari dulu aku bertahan menjadi manajer dan tidak akan mengundurkan diri."
Dalam hati Chanyeol tertawa. Namun, yang paling mengganggu adalah ketika ia harus bersikap pada Yixing. Ketika semua orang mendengar mereka jadian, Chanyeol merasa gamang saat masuk kelas. Tetapi keraguan itu sirna saat Yixing menyambutnya di pintu kelas dengan mata berbinar.
"Chanyeol sini."
Chanyeol mendekat dengan gelisah. Jangan-jangan Yixing akan melabrak atau marah. Gadis itu menyeretnya ke sudut kelas, meremas tangannya.
"Aku tak menyangka kamu jadian sam Luhan. Selamat, ya. Aku ikut senang."
Chanyeol tak menyangka Yixing akan bersikap seperti itu. Ia menjadi malu telah berprasangka buruk. "Terima kasih."
Setelah berhasil menahan diri dengan membiarkan gunjingan tentang dirinya dan Luhan, Chanyeol sekarang menjadi lebih kuat. Rasanya ia menjadi lebih tegar. Apalagi setelah Luhan meyakinkan bahwa gossip-gosip seacam itu hanya bertahan untuk sementara. Kalua ada kejadian baru yang lebih seru, semua pasti akan membicarakan dan melupakan mereka.
.
Satu semester yang sangat membahagiakan telah melambungkan dirinya. Chanyeol merasa menjadi orang yang sangat berbahagia di dunia. Rasanya seperti bermimpi. Tak terasa, sebentar lagi ada ujian kenaikan kelas.
Siang itu udara panas menyengat. Chanyeol dan Luhan berjalan bersama melewati deretan pertokoan di sekitar sekolah menuju halte bus. Jarak antara sekolah dengan halte cukup jauh.
"Ke café dulu, yuk," ajak Luhan.
Chanyeol tidak menolak.
Café itu tidak besar tempatnya agak di sudut, bangunannya kuno, tapi terawat baik. Diatas pintu masuk ada sebuah papan agak lapuk bertuliskan "The 4th Avenue Café". Ini café pilihan sejak pertama mereka pulang sekolah bersama-sama. Luhan yang mengusulkan.
"Café ini menyenangkan. Tenang dan nyaman," kata Chanyeol sambil mengedarkan pandangan. "Luhan oppa sering kesini?"
Cowok itu mengangguk.
Hampir saja Chanyeol bertanya dengan siapa? Untung pertanyaan itu tak jadi dilontarkan karena Luhan sudah bercerita.
"Dulu ada manajer baru yang suka sama kakak kelas. Waktu itu ia tidak berani mengungkapkannya. Tetapi aku dan dua orang teman tahu bahwa dia suka. Akhirnya dua temanku sepakat untuk mengajak kakak kelas itu ke sebuah tempat. Aku sendiri yang mengajak manajer," kata Luhan. "Karena kebingungan mencarikan tempat untuk mempertemukan mereka, kami mencari tempat seadanya. Akhirnya ketemu café ini. Eh… ternyata tempatnya menyenangkan," Luhan tersenyum, sambil menunjuk tempat di sudut. "Nah, disitu akhirnya manajer dan kakak kelas bertemu. Kami duduk di meja ini."
Chanyeol tertawa, "Lalu mereka jadian tidak ?"
Luhan menghela nafas. "Ternyata mereka sama-sama pemalu. Setelah bertemu di café ini, mereka jadi berani menyatakan. Dua-duanya sudah saling suka sejak lama. Kudengar mereka melanjutkan ke Universitas yang sama."
Seporsi besar es krim vanilla rum diantarkan pelayan.
"Ah, bicara soal universitas… jadi ingat ujian," keluh chanyeol.
Luhan berhenti menyuap. "Channie…"
"Ya."
"Kudengar dari guru-guru, katanya nilai-nilaimu kritis, ya?"
Chanyeol memandang Luhan dengan malu. "Ya. Nilaiku memang pas-pasan. Kupikir karena aku sulit beradaptasi dengan pelajaran di SMA elit seperti ini."
Luhan menggangguk. Wajahnya sangat serius. "Bisa jadi begitu."
"Hmmm,, aku janji akan belajar lebih keras. Huff…. Ternyata susah ya jadi pacar siswa teladan," Chanyeol meledek tanpa memalingkan pandangan dari gelas esnya.
Luhan tertawa. "Bukan begitu. Kalau nilaimu jatuh kan yang rugi kamu juga."
"Iya, aku tahu," gerutu chanyeol sebal.
"Ha… ha… ha… marah nih ye?!"
"Ani.. Aku tidak marah."
"Ya deh ya deh. Maafin aku ya, Channie.."
"Aku Cuma sebal kenapa nilaiku jeblok. Aku takut tidak naik kelas, nih."
"Hei, tenang dong. Bagaimana kalau aku membantumu belajar?"
"Bagus, sih. Tetapi tetap saja aku takut."
"Eh, bagaimana kalau kita buat taruhan kecil?"
Tiba-tiba Luhan menatap Chanyeol dengan pandangan nakal dan menantang.
"Taruhan apa?" Chanyeol balas memandang dengan penasaran bercampur curiga. Luhan sudah sering menjailinya selama beberapa bulan ini. Tentu saja bukan hal yang serius atau sungguhan. Hanya kejailan-kejailan kecil, yang sebenarnya menyenangkan juga bagi Chanyeol.
"Begini, orang tuaku berjanji membelikan mobil kalau tahun ini aku menjadi juara umum lagi. Nah, kalau channie berhasil naik kelas dengan nilai rata-rata bagus, aku akan mengajakmu jalan-jalan seharian naik mobil itu. Bagaimana?"
"Be-benar, nih? Kencan?" Tanya Chanyeol dengan mata berbinar kesenangan, nyaris tak percaya.
Walaupun telah berpacaran selama setengah tahun, mereka hamper tidak pernah pergi berkencan. Paling-paling Cuma mampir di café dekat sekolah atau pergi jalan-jalan bersama dengan teman-teman klub sepak bola. Tapi kencan dan benar-benar pergi berduaan, baru kali ini!
"Iya, benar-benar kencan," Luhan senang melihat reaksi Chanyeol. "Mau, kan?"
"Oke! Aku setuju."
"It's a deal, then," Luhan mengacungkan jari kelingking. Chanyeol balas mengaitkan jari kelingkingnya kuat-kuat ke jari Luhan. Cowok itu tertawa penuh kemenangan.
"Tapi, kalau nilai rata-ratamu jelek atau kalau kamu tidak naik kelas, gentian aku yang minta sesuatu ya, Channie."
"Boleh. Memang oppa mau minta apa?" tantang Chanyeol, tanpa menunjukkan rasa gentar.
Sesaat Luhan terdiam dan berpikir. Sebenarnya ia ingin minta sebuah ciuman, tapi mendadak ia ngeri. Ia segera menggantinya menjadi….
"Kamu harus mencuci mobil baruku itu! Sampai bersih, wangi, dan mengilap, setuju?"
"Oke, siapa takut!" jawab Chanyeol mantap. Memangnya ia sudi kalah? Lihat saja, Luhan oppa.
Jari kelingking mereka sekali lagi berkaitan sebagai tanda resminya taruhan.
.
Ternyata janji untuk mendapat nilai bagus tidak mudah. Chanyeol harus bekerja ekstra keras mengejar ketinggalan. Ia harus meminjam catatan sana-sini untuk melengkapi. Hamper seluruh waktunya habis untuk belajar.
"Akhir-akhir ini kamu tak banyak bicara, Channie. Kenapa ?" tanya Luhan ketika mereka pulang sekolah bersama-sama.
Chanyeol memperlambat langkah. "Eh… aku harus segera pulang. Targetku hari ini menyelesaikan latihan soal matematika."
Mata Luhan terbelalak. "Kamu serius rupanya."
"Ya jelas dong, kita kan sedang bertaruh."
Luhan mengacak rambut Chanyeol dengan gemas. "Iya. Tetapi jangan terlau serius. Nanti kamu sakit, lho."
"Tidak kok. Aku memang ingin dapat nilai bagus. Supaya tidak ada lagi yang bilang bahwa aku tidak pantas buat Luhan oppa."
Kening Luhan berkerut. "Jangan pakai hal itu sebagai alasan, dong."
"Iya, deh. Tapi supaya bersemangat boleh, kan?"
"Mau ke café sebentar?"
Chanyeol memutar bola matanya dengan serius. "Ehm, boleh juga."
"Huh… dasar iseng, gayanya sok serius lagi, kupikir mau menolak."
Chanyeol hanya tersenyum.
.
Chanyeol meluruskan kaki. Ternyata capek juga berhari-hari belajar keras. Jadwalnya memang cukup padat. Sebelum berangkat sekolah ia menyempatkan diri membaca buku untuk hari itu. Waktu istirahat hanya dipakai untuk makan cepat dan kembali menekuni buku. Pulang sekolah kalau tidak ada kegiatan di klub bisa dipastikan Chanyeol mengajak Luhan bergegas ke halte bus. Soal-soal latihan sudah menunggu di rumah. Dan ajaibnya, ia betah mengerjakan soal-soal itu berulang-ulang hingga larut malam. Bahkan kegiatan klub pun diisi dengan belajar. Setelah menyelesaikan semua urusan untuk latihan, ia duduk dan membaca dengan tekun di pinggir lapangan, walaupun sesekali masih menyempatkan melirik aksi Luhan oppa di lapangan.
Bahkan kesempatan bertemu Luhan pun selalu dipakai Chanyeol untuk menanyakan soal-soal yang tak dimengerti.
"Aduh… yang pacaran, serius amat." Ledek anak-anak klub.
"Ternyata pacaran sama pelajar teladan itu payah ya. Harus belajar dimana-mana."
Chanyeol hanya mendengus kesal. Tapi ia tak pernah marah dengan ledekan mereka.
"Ada kemajuan belajarnya?" tanya Luhan.
Chanyeol menjawab dengan lemas. "Lumayan, sih. Kemarin sewaktu ada percobaan ulangan aku bisa mengerjakan semuanya."
"Semuanya?"
"Iya. Tapi setelah dikoreksi ternyata salah dua dari sepuluh soal," jawab Chanyeol sambil merengut.
"Hebat, dong!" Luhan memberi semangat sambil mengacak-acak rambutnya.
Semangat Luhan membuatnya tak terbebani untuk belajar keras. Bahkan kalau tidak ada taruhan itu, ia pun akan belajar keras. Ia ingin menunjukkan pada Luhan bahwa dirinya bisa dipercaya. Itu saja.
Akhirnya minggu ujian pun tiba. Selama dua minggu berturut-turut Chanyeol berkonsentrasi penuh menghadapi hari-hari yang berat. Untunglah Luhan selalu memberi semangat. Namun, acara ke café tetap dilakukan.
"Kamu tetap ke cafe?" tanya Yixing heran. "Bukannya harus segera pulang untuk belajar?"
Chanyeol menggeleng. "Justru di café itu aku belajar."
Memang, setiap pulang sekolah Chanyeol dan Luhan menyempatkan diri ke café. Semangkok es krim rasanya bisa meluruhkan ketegangan selama sehari. Apalagi di café itu ia selalu mendapat dorongan semangat.
"Tadi tidak terlalu mulus. Aku kesulitan mengerjakan sebagian soal. Entah mengapa aku jadi bingung menghadapi soal ini," kata Chanyeol sambil menunjukan soal ujian.
Luhan membaca sekilas lalu mengangguk. " Ini agak rumit. Tetapi kalau kamu mau cermat, coba lihat. Soal nomor 7, 9, dan 12 sama seperti latihan yang kita kerjakan terakhir. Ini kan Cuma diubah pokok masalahnya."
Chanyeol memperhatikan dengan serius. Benar juga. Setelah dijelaskan, ia baru mengerti.
"Mengapa bukan oppa saja yang menjadi guruku? Pasti aku tidak bingung menghadapi soal-soal ini."
"Ha..ha…ha.. itu bukan karena gurunya. Ini kan Cuma dibalik saja logikanya."
Setelah ketegangan menghadapi ujian cair, baru mereka berjalan ke halte. Setelah keluar dari café itu rasanya selalu ringan dan menyenangkan.
.
Minggu ujian yang sangat melelahkan akhirnya selesai juga.
"Kupikir ujian ini akan berlangsung terus seumur hidupku," Chanyeol menarik nafas lega.
Luhan tersenyum. Dipandangnya wajah Chanyeol. "Kamu capek sekali, ya."
Chanyeol mengangguk jujur. "Seluruh sendi tulangku rasanya copot."
"Lihat matamu cekung dan kamu kelihatan kurusan."
Chanyeol tersenyum lemah. "Kepalaku agak pening. Aku mau langsung pulang. Aku mau menikmati mandi air hangat lalu tidur siang yang menyenangkan sebelum pengumuman keluar."
Luhan tahu, Chanyeol sangat lelah. Ia merangkul pundak kekasihnya dan meletakkan kepala Chanyeol dibahunya. Chanyeol terkejut.
"Sssshhh… diam saja. Kalau begini peningmu mungkin berkurang."
Chanyeol merasa badannya hangat. Nyaman sekali rasanya saat tangan Luhan memegang pundaknya. Beberapa anak yang melewati berdeham-deham. Luhan dengan cueknya malah balas berdeham. Chanyeol memejamkan mata. Kepalanya pusing. Ia hanya mengandalkan tangan Luhan yang membimbing langkahnya. Cowok itu memandang wajah Chanyeol yang agak pucat karena lelah. Ingin rasanya ia mengecup keningnya.
Begitu sampai di halte bus, Chanyeol merasa jauh lebih enak. Semilir angin memmbuatnya 'hidup' kembali.
.
Hari ini Chanyeol merasa cemas hingga dadanya berdebar-debar. Ia harus segera melihat papan pengumuman. Ia takut nilainya jeblok.
Dengan kecepatan tinggi, gadis itu berlari melewati koridor kelas. Halaman depan masih sepi. Tapi di depan papan pengumuman sudah banyak anak yang berkumpul. Chanyeol langsung meletakkan tas di kelas, lalu keluar lagi. Papan pengumuman di depan kelas seperti magnet yang menyedot anak-anak untuk menancapkan pandangan mata ke daftar nama.
Chanyeol bersusah payah menyelip-nyelipkan di antara teman-teman sekelas yang berkerumun di depan papan pengumuman. Akhirnya ia bisa berada di deretan terdepan.
Dengan teliti dan sabar diperiksanya daftar nama itu, satu per satu. Nama Luhan tercantum di urutan paling atas. Chanyeol tidak perlu sudah-sudah mencari. Cowok itu mendapatkan nilai terbaik untuk seluruh siswa kelas 2.
Betapa kagetnya Chanyeol saat melihat namanya berada di peringkat 50! Ya, peringkat ke-50 dari seluruh siswa kelas 1 yang berjumlah 270 orang. Itu berarti, ia tidak akan tinggal kelas dan mendapatkan nilai rata-rata yang cukup baik untuk ujian akhir tahun ini. Dan yang lebih penting lagi, ia menang taruhan dengan Luhan. Mereka akan pergi kencan berdua!
Chanyeol keluar dari kerumunan, sepertinya ia malah dengan senang hati memberikan jalan apabila ada yang meninggalkan kerumunan. Ia berlari menyusuri lorong sekolah, menaiki tangga, menuju ruang kelas 2C, kelasnya Luhan!
Chanyeol melongok ke dalam kelas dengan bersemangat. Luhan sedang ngobrol dengan beberapa temannya.
"Luhan oppa," panggil Chanyeol dari ambang pintu kelas.
Cowok itu mendongak. "Oi, Channie. Sudah melihat papan pengumuman?" katanya sambil menghampiri. Ia tersenyum-senyum melihat gadis itu terengah-engah dan tampak bersemangat.
"Sudah!Aku ada di peringkat 50! Tidak jelekkan ?"
"Wah selamat ya. Kamu menang taruhan!"
"Tentu saja," jawab Chanyeol agak sengit. "Siapa juga yang mau menghabiskan waktu sepanjang hari untuk memandikan mobil barumu!"
"He…he…he… sudah memutuskan mau kencan dimana, Channie ?"
"Ssstt…," Chanyeol memberi isyarat agar cowok itu tidak terlalu keras bicara. "Aku ingin main bowling, lalu kita makan di restoran di tepi pantai!"
"Oke!" Luhan tampak senang walaupun kalah taruhan.
.
.
.
.
.
TBC...
.
.
A/N : Halo semua,, masih betah baca cerita ini.. hehehe. Buat para Krisyeol maaf ya belum munculin Kris, tapi tenang di chapter 4 selanjutnya, bakal menjadi chapter terakhir Luhan muncul dicerita ini. Dan chapter depan mulai ada sad . so, harap sabar ya buat krisyeol shipper, aku juga sudah gag sabar kok lihat Chanyeol ketemu Kris… ^^
Dan gag bakal ada capeknya aku ngucapin terima kasih buat yang sudah follow, favorite dan review cerita ini.. #bow
.
.
.
.
.
Review and comment, please !
