Chapter 4 – First Date
.
.
.
.
Happy Reading ^^
.
Hari itu cerah sekali, matahari bersinar lembut. Segumpal awan tebal menggantung di angkasa seolah menahan agar matahari tidak terlalu terik menyinari bumi. Angina bertiup sepoi-sepoi sejak pagi. Sekarang pukul 10.30. Chanyeol sedang menantikan Luhan datang menjemput.
Sambil melirik jalan di depan rumahnya, sebentar-sebentar Chanyeol melirik jam tangan dan mematut-matut di depan cermin. Ia ingin memastikan penampilannya cukup istimewa, karena ini kencan pertama. Tentu saja Chanyeol ingin tampil sebaik mungkin. Ia sangat gelisah menunggu kedatangan Luhan yang agak terlambat. Tak jenti-hentinya ia membetulkan dandanan dan baju yang khusus ia pakai untuk kencan istimewa ini.
Sejak kemarin ia sibuk membongkar isi lemari. Baru kali ini Chanyeol merasa kekurangan pakaian. "Hmmm, mestinya aku tidak menolak waktu tempo hari mama mengajakku membeli baju baru," gerutunya.
Chanyeol mengeluarkan sepasang kaus dengan rok span warna oranye pastel. Hmmm, ini cocok untuk kencan pertama. Romantic dan feminine. Tetapi kayaknya repot kalau main bowling. Satu per satu pakaian yang tergantung rapi di lemari dikeluarkan. Tempat tidurnya penuh pakaian. Chanyeol jadi bingung. Aduh, pilih baju yang mana, ya?
Akhirnya ia memilih sepasang baju yang menurutnya nyaman untuk dikenakan seharian. Gadis itu berdiri di depan cermin besar sambil mengamati wajahnya dengan sungguh-sungguh. Chanyeol memperhatikan lingkaran hitam di bawah matanya yang timbul gara-gara kurang tidur ketika menghadapi ujian minggu lalu. Untungnya sekarang sudah mulai tidak terlihat. Chanyeol mengusap wajahnya dengan lega.
"Sedikit olesan bedak pasti bisa menutupi."
Bahkan mandi pagi kali ini memerlukan waktu dua kali lebih lama. Chanyeol merasa harus mandi lebih lama dari biasanya. Kencan pertama ini sangat istimewa. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat kencan nanti. Namun, ia berharap bisa menikmatinya sepenuh hati.
.
Sekali lagi ia melirik jam tangannya. Entah sudah berapa kali kepalanya melongok ke luar rumah. Waktu terasa sangat lambat, lebih lambat dari biasa.
Tak lama kemudian terdengar deru mobil diikuti suara klakson pelan dua kali. Dengan sigap Chanyeol berlari keluar rumah, menuju jalan. Ada sebuah sedan baru berwarna hitam mengkilap. Dari kaca jendela mobil itu Luhan tampak sedang membuka pintu.
Chanyeol segera menyambut dengan wajah berseri-seri. Ia lalu duduk di kursi depan, di samping Luhan. Mobil itu pun meluncur melewati jalan perumahan yang sepi.
"Bagaimana Channie, cantik tidak mobil baruku?" tanya Luhan dengan mata tetap lurus memandang jalan. Kelihatannya ia sama sekali tidak memperhatikan gadis itu.
"Ya, keren sih," jawab Chanyeol sambil melempar pandangan ke bangunan rumah di sekitarnya. Ia merasa kesal sekali. Aduh, masa Luhan oppa sama sekali tidak menoleh dan mengomentari dandanannya.
"Kok, Cuma begitu? Aku sudah belajar mati-matian untuk mendapatkan mobil ini, lho."
Chanyeol semakin sebal. Ugh! Luhan oppa ini, pokirnya. Aku sudah capek-capek dandan begini, dilirik saja tidak. Malah ngomonin mobil baru. Dasar! Mungkin begitu ya kalau cowok punya mobil baru. Ia akan mencurahkan semua perhatian pada mobil barunya. Tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Tetapi Chanyeol tak bisa terima. Ini kan kencan, bukan pamer mobil baru.
Sepanjang jalan cowok it uterus membicarakan mobilnya. Chanyeol berusaha menahan diri untuk tetap menjadi pandengar yang baik. Akhirnya mereka tiba di pelataran parker tempat bowling. Oh, sial. Tempat itu ternyata tutup karena sedang direnovasi.
"Yaaaahhh," Luhan mendesah kecewa saat melihat pengumuman yang terpampang di depan pintu masuk arena boling.
"Kenapa harus direnovasi sekarang?" rutuk Chanyeol.
Kekesalannya semakin memuncak. Masa hari ini tidak ada satupun yang berjalan benar, sih?! Kencan pertama gagal. Percuma kemarin ia memilih baju seharian. Tak ada gunanya mandi berlama-lama. Chanyeol benar-benar merasa disepelekan. Matanya terasa panas dan pandangannya kabur.
Oh, aku tidak ingin kelihatan emosional apalagi cengeng di depan Luhan oppa hanya karena masalah yang kelihatannya sepele bagi cowok itu. Chanyeol menghapus air matanya secara sembunyi-sembunyi.
"Kita ke tempat lain aja, yuk," Luhan menoleh. Gadis itu hanya diam dan menunduk, lalu mengangguk pelan. Dengan suara berat karena menahan tangis ia menjawab, "Bolehlah, ketimbang bengong. Mau pergi kemana?"
"Bagaimana kalau nonton? Setelah itu kita putar-putar di mal sampai sore. Lalu makan malam di pantai. Asyik, kan ?"
"Nonton? Seingatku filmnya tidak ada yang bagus! Memang oppa punya rencana mau nonton?" tanya Chanyeol ragu-ragu. Yang direncanakan saja gagal, apalagi yang tidak direncanakan.
"Yah, kemana pun boleh. Aku kan sudah janji mengajak Channie kencan. Apalagi kamu sudah susah-susah berdandan buat acara hari ini. Minimal kita harus tetap kencan, kan ?" balas Luhan polos, seolah tidak sadar bahwa Chanyeol sedang membelalak kesenangan, hamper-hampir tak percaya.
Oh, ternyata Luhan oppa memperhatikan. Ternyata ia sadar aku sudah berdandan heboh hari ini! Duh, kalau memang begitu bilang donk dari tadi. Jadi aku tidak perlu kesal, pikir Chanyeol.
.
Mobil hitam itu pun meluncur di atas aspal kelabu, menyusuri jalan kecil di tepi pantai. Mereka akhirnya memutuskan untuk melewatkan sepanjang siang itu di sana. Bermain ombak, mencari kerang, naik motorboat, atau sekedar duduk bersantai menikmati hembusan angin dan sinar matahari yang hangat.
Chanyeol sangat menikmati suasana pantai. Acara yang satu ini tidak akan gagal karena cuaca sangat mendukung. Ombak yang merayap mendekati pantai terasa sejuk di kaki. Makin lama pasir di bawah telapak kaki tergerus. Rasanya seperti berdiri di atas bukit yang kena erosi.
"Mau naik motorboat?" tanya Luhan.
Chanyeol menjawab dengan wajah berbinar. Merekapun menyusuri laut dalam di dekat pantai. Berkali-kali Chanyeol terpekik saat motorboat menikung tajam. Tak ada pilihan lain selain berpegang kuat-kuat pada Luhan.
Begitu sampai di pantai sekujur tubuh Chanyeol basah kuyup, tapi ia merasa senang sekali.
"Luhan oppa, kita cari kerang, yuk."
Kerang-kerang yang berserakan beraneka ragam bentuknya. Mereka pun berlomba mencari kerang yang paling unik dan lucu.
"Wah, kerang ini seperti topi ya dan kulitnya seperti tirai kamarku," teriak Chanyeol.
"Bagus yang ini. Lihat, warnanya hitam. Keren. Seperti mobilku."
Aduh… ternyata pikiran Luhan oppa masih ke mobilnya. Diam-diam Chanyeol menjadi sebal dengan mobil baru Luhan. Tetapi ia tidak ingin suasana ceria di pantai tercemar akibat kejengkelannya. "Ah, biarlah. Aku juga pasti akan memberikan perhatian lebih pada benda idamanku yang baru. Apalagi ini didapat karena prestasi hebat di sekolah," pikirnya.
Akhirnya, walau agak terpaksa, Chanyeol mau juga berdamai dengan rasa jengkelnya.
.
Mereka mengobrol santai sambil menikmati lagu dari radio mobil. Benar-benar menyenangkan. Chanyeol sangat menikmati saat berdua seperti ini. Diliriknya Luhan yang melipat tangan sambil menengadah. Chanyeol jadi iri melihat cowok itu begitu santai menikmati kencan ini.
"Eh, Channie," kata Luhan tiba-tiba sambil memutar tubuh menghadap Chanyeol.
"Apa?"
"Apa cita-citamu setelah lulus SMA?"
"Oh, aku belum memikirkan sampai sejauh itu. Tapi aku ingin mendaftar di akademi saja. Aku tidak sanggup kalau harus kuliah. Pasti berat."
"Tuh, kan. Selalu begitu! Pesimis amat, sih. Waktu ujian kemarin nilaimu bagus, kan!"
"Iiiihh.. cerewet amat! Terserah aku mau daftar dimana. Memang Oppa punya rencana apa selulus SMA?"
Luhan menambah kecepatan. Mobil melaju semakin cepat.
"Aku ingin menjadi arsitek. Aku akan kuliah dengan sungguh-sungguh supaya cepat lulus dan menjadi arsitek terkenal."
"Sepak bolanya?"
"Ya berhenti, dong! Sebenarnya di kelas tiga ini aku sudah berencana berhenti dari klub. Aku kan harus berkonsentrasi untuk ujian masuk perguruan tinggi. Itu pasti akan menguras tenaga."
Chanyeol tercengang mendengarnya. "Oh, oppa yakin? Kabarnya ada beberapa klub sepak bola terkenal yang ingin merekrut oppa, kan ?"
"Sama sekali tidak terpikir kea rah sana, kok. Sejak awal aku ikut klub hanya untuk hobi, tidak ada keinginan menjadi pemain sepak bola."
"Kenapa? Padahal oppa jelas berbakat di lapangan bola. Sayang kalau di tinggalkan."
"Sudah jelaskan? Supaya aku bisa masuk universitas yang bagus. Lulus dengan cepat dan…" ucapan Luhan tiba-tiba terhenti, wajahnya menjadi lebih serius. Setelah menarik napas panjang ia melanjutkan, "Setelah lulus, aku ingin hidup bersama dengan Channie. Kamu mau, kan ?"
Belum sempat Chanyeol mencerna ucapan itu, tiba-tiba ia dikagetkan oleh bunyi klakson yang nyaring dan memekakkan telinga. Sebuah truk besar telah menghadang di depan mobil Luhan. Truk it uterus menekan klakson untuk meminta jalan. Jarak kedua mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi itu semakin dekat saat Luhan membanting setir ke jalan kosong untuk mencegah terjadinya tabrakan. Tiba-tiba dari arah belakang muncul sebuah van, langsung menyeruduk sisi kanan mobil, membuat mobil hitam itu meluncur dengan kecepatan mengerikan. Tanpa kendali, mobil Luhan terhempas di tepi jalan sebelum akhirnya menabrak pagar pembatas.
BRAAAKKKKK!
Chanyeol merasa dirinya terlontar ke depan. Namun, badannya yang terikat sabuk pengaman membuat tubuhnya kembali terjerembab ke kursi. Hal terakhir yang dilihatnya adalah dasbor mobil. Lalu ia tidak ingat apa-apa lagi. Semuanya menjadi gelap…. Sepi dan dingin.
.
Aneh sekali. Gelap yang pekat membuat chanyeol tidak bisa melihat apa-apa. Kepalanya terasa pusing sekali. Ia berkali-kali mencoba membuka mata, tetapi tidak bisa. Sekelilingnya gelap dan dingin, suasananya terasa lain. Bahkan sekarang sekujur tubuhnya terasa sakit. Perlahan-lahan ada sesuatu menyentuh sebagian wajahnya. Setelah beberapa saat, Chanyeol baru sadar ada yang menepuk-nepuk pipinya.
Dengan bersusah payah, ia berhasil membuka mata. Ternyata Luhan.
"Channie, bangun!" wajah cowok itu kelihatan cemas, hingga keningnya berkerut. Kenapa, ya? Pikir Chanyeol. Apa yang terjadi?
"Luhan oppa…" Chanyeol menjawab dengan suara lemah.. "ini… dimana? Apa yang terjadi?"
Perlahan-lahan Chanyeol bangun. Pemandangan di sekitarnya tampak asing, mirip hutan. Kanan kirinya ditumbuhi pepohonan pinus lebat, tapi anehnya semua berkabut. Samar-samar tercium bau wangi yang lembut. Bau yang mengingatkannya pada suatu kenangan. Tapi Chanyeol tidak ingat. Ia Cuma tahu, bau itu sangat tenang dan damai.
"Kamu tidak perlu tahu. Kamu tidak seharusnya berada disini, Channie. Pergilah! Pergi kesana!" seru Luhan sambil menunjuk sebuah jalan setapak kecil yang diapit pohon-pohon pinus. Wajah tampannya kelihatan sangat cemas. Sungguh, belum pernah Chanyeol melihatnya seperti ini. Apa yang dipikirkan Luhan oppa, sih? Ia sendiri ada disini, lalu mengapa aku tidak boleh? Chanyeol bingung. Kepalanya semakin sakit ketika ia mencoba untuk berpikir. Berdenyut-denyut dan menyiksa sekali. Chanyeol jadi mengantuk.
"Luhan oppa sendiri bagaimana?"
"Aku tidak apa-apa, Channie. Selama kamu selamat, aku tidak apa-apa. Nah, pergilah sebelum terlambat!" Luhan sekali lagi membimbingnya menuju jalan itu.
Chanyeol jadi semakin bingung. Terlambat untuk apa? Apa maksudnya? Namun, ia mau juga bergerak ke jalan itu. Selama ini Chanyeol memang percaya. Luhan tidak mungkin menjerumuskan dirinya. Gadis itu pun berjalan.
"Bagus, Channie. Jalan terus," Luhan memberi semangat.
Chanyeol ingat, semangat semacam ini selalu diterimanya setiap hari ketika ujian. Karena itu ia makin yakin dengan jalan yang ditunjukkan cowok itu. Walaupun terasa berat, ia terus melangkah.
Di ujung jalan, Chanyeol berhenti sejenak sambil menatap Luhan. Ia tidak mengenal jalan itu, yang kelihatan sangat mengerikan. Chanyeol jadi enggan.
"Aku takut, oppa. Kalau harus pergi sendirian aku takut. Kumohon oppa, ikutlah bersamaku."
"Itu tidak bisa, Channie. Maafkan aku, mulai sekarang kamu harus berani menjalani semuanya sendirian,"Luhan tersenyum tipis.
"Tapi…," Chanyeol hendak membantah saat ia menyadari kabut semakin pekat. Ia tidakbisa melihat apa-apa lagi! Luhan,, jalan setapak, maupun hutan pinus, semua lenyap ditelan kabut. Bau lembut yang sangat dirindukannya juga tak tercium lagi.
"Luhan oppa! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Aku taku! Aku tidak bisa hidup tanpa oppa! Luhan opppaaaa!"
Chanyeol meneriakkan nama Luhan ditengah lautan kabut sampai akhirnya ia kembali kehilangan kesadaran.
.
.
.
.
TBC…
.
A/N : halooo,, masih ada yang mau baca cerita ini.? Maaf kalau semakin lama semakin membosankan. Terima kasih yang udah review. Aku mau update ganda hari ini kalau kalian gag keberatan sich..hehehe
Sekali lagi terima kasih buat readers yang masih betah baca cerita yang membosankan ini dan gag bosan juga aku bilang 'ditunggu review dan commentnya ya'.. ^^
