Chapter 5 – Love Flies

.

.

Other Cast :

Mrs. Park

Kim Minseok

.

.

.

Happy Reading ^^

.

Tulisan bercetak miring untuk Flashback

.

Entah sudah berapa lama Chanyeol pingsan. Tiba-tiba ada yang memanggil-manggil namanya. Chanyeol menoleh. Oh, itu buka suara Luhan oppa. Tetapi ia ingat betul suara itu sangat dikenalnya. Chanyeol masih mencari-cari Luhan. Tadi ia ada di ujung jalan berkabut. Sekarang kabut sudah lenyap. Seharusnya Luhan ada disana, mengembangkan kedua tangan untuk memeluknya.

Namun… sepertinya ada tangan yang memeluknya dengan hangat. Entah tangan siapa, tetapi Chanyeol sangat mengenal pelukannya, hangat dan membuat tenteram. Gadis itu masih mencari-cari kekasihnya.

"Luhan oppaaaaa!"

Tetap tidak jawaban. Chanyeol menjadi ketakutan. Dia sendirian di tempat asing itu. Sambil menutupi wajah dengan tangan, Chanyeol terisak, "Luhan oppa… aku takut sendirian. Oppa dimana? Datanglah."

Chanyeol baru mengangkat wajah ketika hidungnya mencium bau aneh… yang menyengat. Ia membuka mata. Kini semua kabut sudah lenyap. Bahkan ia bisa melihat sekitarnya degan jelas. Ia berada di sebuah ruangan putih. Baunya tidak lembut seperti hutan pinus tempat Luhan oppa menyuruhnya pergi, melainkan tajam dan beraroma obat. Tubuhnya kembali terasa sakit. Gadis itu berusaha melihat ke seluruh penjuru kamar, tapi tidak ada seorang pun disana.

"Luhan op-pa?"

Dengan suara nyaris tidak terdengar, Chanyeol berusaha memanggil Luhan kembali. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Mama menyerbu masuk ke dalam kamar. Ia berteriak, nyaris histeris.

"Chanyeol sayang, kamu sudah sadar! Oh Chanyeol, syukurlah. Mama cemas sekali. Kamu telah kehilangan kesadaran selama seminggu! Semua menunggumu."

Chanyeol memandang wajah ibunya. Mama kelihatan sangat lelah sekaligus lega. Wajahnya menyiratkan sisa-sisa kekhawatiran dan airmata. Mama kelihatannya kurang tidur.

"Mama, apa yang terjadi?"

"Kecelakaan, nak… kecelakaan. Mobil yang kalian tumpangi menabrak pagar pembatas jalan. Tapi untunglah kamu selamat."

"Luhan oppa… bagaimana dengan Luhan oppa?"

Mama tertegun.

"Maaf, sayang… tapi saat di bawa ke rumah sakit, ia sudah…"

"Sudah… apa, ma?"

Perasaan tidak enak mulai merambati sekujur tubuh Chanyeol. Perutnya terasa sakit, dan jantungnya berdegup amat kencang. Firasat buruk menyergapnya, membuat kepalanya yang sakit semakin berdenyut-denyut.

"Dia… kehilangan banyak darah… dan… tidak tertolong lagi."

Mendengar berita itu, Chanyeol merasa seolah dihempaskan dengan keras. Tubuhnya seperti tersedot jauh kedalam tanah.

"Luhan oppa, Luhan oppa… tidak tertolong, ma? Tidak, tidak mungkin! Pasti salah, ma!"

"Tenanglah, Chanyeol. Mama tahu kamu sedih, tapi ia sudah tidak bersama kita lagi. Tenang, nak. Tidak ada yang bisa kamu lakukan, selain berdoa. Upacara pemakamannya juga sudah berlalu."

"Tidak, ma. Mama pasti keliru! Luhan oppa bukan orang yang lemah. Ia selalu… selalu optimis! Selalu memberiku dukungan. Tidak mungkin orang seperti itu mati kan, ma. Tidak mungkin! Tidak!"

Jeritan Chanyeol bergema di seluruh koridor rumah sakit. Ia menangis, meraung sejadi-jadinya. Ia tidak mau percaya bahwa Luhan yang amat disayanginya sudah tiada.

"Ia tadi yang menyuruhku jalan kemari. Ia masih ada!"

Mama mengelus kepala anaknya yang dibalut perban. "Tidak, nak."

"Mama percayalah. Chanyeol bertemu Luhan oppa, ma" isak Chanyeol. "Dia…dia yang menunjukkan jalan supaya Chanyeol keluar dari hutan. Dia… dia juga yang menyuruh Chanyeol untuk kuat dan bertahan."

Mama mengangguk. "Mama tahu Luhan sayang sekali pada Chanyeol. Mungkin karena itu dia ingin Chanyeol kuat dan kembali. Luhan ingin kamu segera sadar, nak."

Chanyeol masih tidak percaya. Di matanya tampak sosok Luhan sedang tersenyum tipis di tengah hutan pinus. Oh, ia tak bisa lagi melihat cowok itu menggiring bola di tengah lapangan hijau. Tidak bisa lagi melihat senyumnya, atau mendengarnya memanggil 'Channie'. Semua itu tidak akan terulang lagi.

Tiba-tiba Chanyeol teringat pada mimpinya yang aneh, saat ia melihat Luhan di hutan pinus. Pasti tempat itu perbatasan antara hidup dan mati. Oh, cowok itu malah menyuruhnya kembali kemari.

"Untuk apa…?" desisnya lirih. "Untuk apa aku hidup kalau Luhan oppa pergi meninggalkanku selamanya?"

Chanyeol menyesali dan meratapi nasibnya. Mengapa waktu itu ia mengajak Luhan oppa ke pantai? Mengapa waktu itu ia sempat berpraduga jelek pada Luhan oppa hanya karena persoalan yang amat sepele? Kenapa waktu itu ia menuruti Luhan oppa memasuki jalan setapak? Oh, andai ia tidak menurut, mungkin ia bisa ikut mati. Mengapa, mengapa dan beribu mengapa lain memenuhi otaknya.

.

Semuanya jelas sekali dan terasa sangat menyakitkan. Mengoyak-ngoyak perasaan, bahkan mungkin kewarasannya. Setiap kali Chanyeol bangun tidur dan membuka mata, ia serasa mendengar suara Luhan bergema di telinganya. Mama harus berjuang ekstra keras menghentikan usaha-usaha Chanyeol untuk menyusul kekasihnya. Chanyeol tahu, betapa pedihnya perasaan mama. Dan betapa pun perasaan hampa menderanya, ia akhirnya berhasil bangkit. Semua berkat mama yang selalu memberinya dorongan semangat!

Ini adalah liburan yang paling pahit dalam sejarah hidupnya. Kalau bukan karena mama, ingin rasanya Chanyeol tetap berbaring di tempat tidur.

"Lihat, matahari sudah terbit. Ayo bangun. Atau… kamu ingin mama mengguyurmu dengan air dingin?" goda mama.

Gadis itu memaksakan diri untuk tersenyum.

"Chanyeol, matahari selalu bergerak dari timur ke barat. Ia tak peduli orang bicara apa. Tetapi ia terus berjalan karena kehadirannya sangat diperlukan," kata mama sambil melipat selimut.

Chanyeol mengangguk pelan, seolah mengiyakan.

"Chan, sebentar lagi sekolah akan dimulai. Kamu pasti akan segera punya banyak teman. Mama tahu, kamu agak pendiam. Tetapi kalau mau, kamu pasti bisa tertawa lagi bersama teman-temanmu yang lain."

Lagi-lagii Chanyeol hanya mengangguk lemah tanpa semangat.

Selama sebulan ia tinggal di rumah bersama mama. Walaupun sepi tapi itu cukup menyenangkan. Sementara ini ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Ya, Chanyeol sengaja membiarkan dirinya larut akan kenangan bersama Luhan, dan menenggelamkan diri dalam kesedihan. Chanyeol tahu, semua orang akan berkata padanya agar ia tegar dan terus maju. Ia juga berkali-kali mengatakan hal itu pada dirinya sendiri. Tapi entah kenapa rasanya ia tak sanggup, tak sanggup kalau harus tegar dan melupakan kesedihan. Saat ini hanya itu yang dia inginkan.

Padahal besok liburan berakhir. Mau tidak mau ia harus berangkat ke sekolah dan menghadapi semua sendirian. Tidak ada lagi Luhan yang siap menolong dan memberinya semangat. Juga tidak ada mama yang sabar mendampingi selama sebulan ini.

Masuk kelas 2 rasanya seperti saat masuk SMA setahun yang lalu. Seharusnya ia menikmati sudah menjadi bagian dari sekolah ini. Tetapi kesedihan yang membelenggu membuatnya cemas saat masuk di hari pertama.

.

Hari ini sama dengan hari-hari sebelumnya. Sama buruk, sama kelabu, sama menyebalkan dengan hari-hari lain dimana Luhan tidak lagi bersamanya. Dengan gontai dan tanpa semangat Chanyeol mengayunkan langkah menuju sekolah.

"Aku berangkat," pamitnya pada mama. Ia berusaha tidak menampakkan kesedihan. Mama pasti khawatir sekali, pikirnya. Sudah tak terhitung lagi kerepotan Chanyeol yang membuat mama merasa sedih dan cemas.

Aneh sekali, pikir Chanyeol. Ia menatap jalan. Oh, rasanya begitu kosong dan sepi. Jalan yang penuh dengan anak sekolah dan para pegawai sebenarnya cukup ramai. Tak ada yang berubah. Namun, gadis itu merasa sepi. Langkah-langkah kaki tergesa-gesa tak lagi didengarnya. Ia hanya mendengar langkah kakinya sendiri yang menapak perlahan.

Biasanya setiap pagi Luhan selalu menjemput. Dengan wajah penuh senyum cowok itu selalu memberinya semangat untuk menghadapi hari-hari padat dan melelahkan di sekolah. Dan saat berjalan berdua menuju halte bus, adalah perjalanan yang luar biasa indah.

Saat naik bus menuju sekolah, mereka selalu memilih tempat duduk di deretan kedua sebelah kiri. Selalu di bangku itu. Sepertinya orang tahu bahwa itu jatah bangku mereka.

Chanyeol menyandarkan kepala ke tiang halte. Ia menunggu bus dengan lesu. Oh, saat-saat bersama Luhan terasa sangat menyenangkan. Menunggu bus yang lama pun terasa menyenangkan. Semakin lama bus datang, semakin panjang waktu untuk berduaan.

Ah, semua kenangan itu rasanya baru kemarin terjadi. Tanpa terasa kini sudah dua bulan Chanyeol berjalan seorang diri menuju halte bus. Tak ada lagi suara Luhan yang biasa meledek. Tak ada lagi tangan Luhan yang biasa mengacak-acak rambutnya sampai berantakan.

Siang itu, Chanyeol berdiri di halte dengan sendu. Menunggu bus yang akan membawanya ke sekolah. Akhirnya bus itupun datang. Dengan getir gadis itu naik dan duduk sekenanya di bangku yang ada. Selintas ia melirik bangku favoritnya sudah terisi. Entah siapa yang duduk disana. Chanyeol memandang ke luar jendela.

Namun, dari bangku kenangan itu terdengar suara tawa berat. Hampir mirip dengan suara Luhan. Chanyeol tersentak. Ia langsung mencari-cari si pemilik suara. Ternyata sepasang remaja yang sedang berpacaran. Oh, kenangan akan Luhan serasa bangkit lagi. Namun, gadis itu hanya bisa mendesah.

Bus berhenti di halte berikutnya. Deg! Jantung chanyeol berdebar kencang saat melihat sosok cowok yang sangat dikenalnya. Luhan! Nafasnya memburu. Ya, itu… itu Luhan! Chanyeol segera berdiri dan memanggil, "Oppa…"

Cowok yang dipanggil menoleh. Ah… ternyata bukan, walaupun wajah dan postur tubuhnya memang mirip. Chanyeol terdiam sesaat dan kembali duduk. Ia tak peduli orang yang tadi disapanya itu kini memandangnya dengan heran. Ia juga tak peduli ketika akhirnya cowok itu duduk di bangku sebelahnya. Pikirannya kembali menerawang.

Siksaan atas kenangan tentang Luhan membuat chanyeol memilih diam. Ia masih melihat Luhan dimana-mana. Di depan kelas, di lapangan sepak bola, di koridor. Cowok itu tampak melambai dan tersenyum. Tetapi ketika Chanyeol mengedipkan mata untuk memastikan penglihatan, sosok itu tiba-tiba menghilang.

Gadis itu teringat hari pertamanya di kelas 2, dua bulan yang lalu. Ia terkejut sewaktu melihat Luhan ada di pintu gerbang sekolah, sedang menunggu. Chanyeol bergegas mendekat.

"Luhan oppa, kemana saja?"

Luhan tersenyum. "Aku disini. Sekarang Channie masuk kelas dulu, ya."

Chanyeol menggeleng. "Luhan oppa juga harus masuk."

Luhan mengacak-acak rambutnya. "Tidak, aku tidak akan masuk. Channie harus masuk sendiri. Harus berani. Mengerti maksudku?"

Chanyeol menggeleng dan menunduk sedih.

"Chanyeol!"

Ah itu suara Sehun. Chanyeol menoleh. Sehun sudah berdiri di sebelahnya.

"Kenapa kamu membungkuk di depan tembok?"

Chanyeol terkejut. "Tembok? Tadi Luhan oppa ada disini. Sungguh, aku baru saja bicara dengannya…aku…aku…"

Chanyeol tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Dadanya sesak dan matanya mulai panas. Tiba-tiba saja airmata sudah berlinang membasahi pipi.

Sehun memeluknya dengan rasa sayang. "Aku tahu kamu masih sedih. Mungkin itu hanya imajinasimu saja."

"Tidak, ia benar-benar ada disini. Dia… dia bilang aku harus masuk ke sekolah sendirian. Dia tak mungkin ikut masuk. Dia meminta aku supaya berani," isak Chanyeol.

Sehun memandang wajah sahabatnya dengan iba. "Kalau Luhan oppa bilang begitu, berarti ia tidak ingin melihatmu menangis seperti ini. Yuk, masuk. Pelajaran sudah hamper dimulai."

Chanyeol menggeleng lemah. "Aku…aku takut… aku tidak sanggup…"

"Aku tahu. Tetapi kamu tidak bisa seharian berdiri disini kan? Yuk!"

Akhirnya mereka pun masuk kekelas baru.

Chanyeol masih ingat jelas waktu itu. Semua mata memandangnya. Ia menggenggam tangan Sehun kuat-kuat. Sehun balas menggenggam tangannya, seperti sedang berusaha menguatkan. Berpasang-pasang mata itu seakan bertanya, ingin tahu banyak. Untunglah, tetman-teman Chanyeol dikelas 1 yang kini sekelas dengannya bisa mengerti. Mereka menyalami dan menghiburnya termasuk Yixing.'

.

CIIIITTT!

Suara rem bus menyadarkan Chanyeol dari lamunan. Dengan gontai ia melangkah turun dari bus dan menyusuri deretan pertokoan di jalan menuju sekolah.

Sejak kematian Luhan, gadis itu merasakan banyak perubahan pada dirinya. Ia telah berubah menjadi muram dan pemurung. Ia tidak pernah memedulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Bahkan ia merasa teman-teman di sekolah yang semula bersimpati sekarang mulai menjauhi. Mungkin mereka tidak tahan dengan sikapnya yang sekarang, atau mungkin sudah lelah menghibur, entahlah. Yang jelas, hidup ini sudah tidak berarti lagi sejak cowok itu pergi meninggalkannya.

Hari ini Chanyeol memutuskan mundur dari manajer klub sepak bola. Ini keputusan sulit karena ia terlanjur akrab dengan anak-anak klub. Apalagi semua tugasnya sebagai manajer sudah dikuasai. Chanyeol membayangkan anak-anak klub pasti terkejut. Namun, sejak semalam ia sudah menimbang-nimbang. Ketika pertama masuk kembali sebagai manajer, ia sangat tersiksa karena ia melihat Luhan ada dimana-mana. Konsentrasinya terpecah dan kesedihannya menggumpal. Kalau tetap ada di klub pasti kesedihannya tidak akan hilang. Semua mengingatkan pada cowok itu.

Chanyeol melangkah ragu-ragu ke ruang guru. Dengan hati-hati ia merogoh tas dan mengeluarkan surat pengunduran diri dari klub sepak bola yang semalam ditulisnya di rumah.

"Permisi," kata Chanyeol pada pak Minseok, guru olahraga sekaligus Pembina klub sepak bola sekolah.

"Oh, Chanyeol silahkan masuk! Ada keperluan apa?"

"hmmm, ini, pak," suara chanyeol hampir tak terdengar saat ia menyodorkan amplop putih. "Saya…" ia tidak sanggup melanjutkan. "Sebaiknya Bapak baca saja," sambungnya lirih.

Pak Minseok menarik nafas dalam-dalam. Entah kenapa, Chanyeol merasa gurunya sudah tahu isi surat itu bahkan sebelum membaca. Ternyata benar, tanpa membaca pun Pak Minseok berkata, "Dengar Chanyeol, bapak mengerti kamu masih merasa terpukul dengan kepergian Luhan yang mendadak. Yah, kita semua juga terpukul. Bapak juga mengerti kalau kamu tidak mau menjadi manajer klub sepak bola. Tapi bapak rasa itu bukan solusi yang baik."

Chanyeol hanya menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menghindari tatapan mata gurunya.

"Bapak rasa tidak baik kalau kamu terus tenggelam dalam kesedihan. Kamu harus punya kesibukan yang berarti agar tidak terus memikirkan hal ini. Karena kamu sudah memutuskan mengundurkan diri sebagai manajer sepak bola, bagaimana kalau kamu menjadi manajer klub basket saja? Mereka butuh manajer yang bisa diandalkan. Apalagi sebentar lagi mereka harus mengikuti kejuaraan mewakili sekolah."

Chanyeol hanya menunduk perlahan tanpa berkata-kata. Baginya, menjadi manajer klub atau tidak, tidak menjadi masalah. Toh semuanya sudah tidak berarti lagi. Tapi ia tahu, pak Minseok bermaksud baik. Akhirnya ia mengangguk.

"Baiklah. Bapak akan tuliskan surat pengantar untuk Pembina klub basket."

Setelah menerima surat pengantar, Chanyeol mengucapkan terima kasih dan segera berlalu menju kelas.

.

.

.

.

TBC….

.

A/N : Halooo,, aku benar-benar update 2 chapter sekaligus…hehehehe. Entahlah, aku ingin update 2 sekaligus hari ini, aku tau ceritaku membosankan, ya semoga kalian masih menikmatinya… #pesimis

Ok, dichapter ini Chanyeol dipindah ke klub basket. Pasti tahukan artinya basket…hehehe

So, ditunggu review dan commentnya. Dan terima kasih banyak buat yang sudah mau baca… ^^ #Bow