Chapter 6 – Strange Boy
.
.
.
Main cast :
Park Chanyeol (GS)
Kris Wu
.
Other Cast:
Oh Sehun (GS)
Kim Jongin
Kim Minseok
Choi Minho
.
.
.
HAPPY READING ^^
.
Sore itu matahari bersembunyi di balik awan kelabu tebal yang menggantung di langit, pertanda hujan lebat akan turun membasahi bumi. Begitu bel pulang berbunyi, Chanyeol segera membereskan mejanya.
"Kamu mau kemana? Ke klub?" tanya Sehun heran. "Aku dengar kamu mengundurkan diri."
Chanyeol mengangguk. "Ya, aku tidak sanggup lagi berada di klub sepak bola. Lalu Pak Minseok menawarkan aku untuk menjadi manajer di klub basket. Dan.. aku terima."
Sehun tersenyum senang. "Syukurlah, aku senang. Kalau waktumu banyak tersita pasti kamu tidak akan melamun lagi. Menyebalkan juga melihatmu terus-terusan diam dan muram."
Chanyeol tidak terkejut. "Jadi, selama ini ternyata aku mengganggu kalian ya?"
"Mengganggu sih tidak. Cuma… siapa yang suka melihat temannya terus-terusan melamun. Kamu jadi seperti batu di kelas ini. Ketika yang lain tertawa kamu diam. Ketika yang lain diam, kamu lebih diam lagi. Membosankan. Apalagi matamu selalu menerawang."
Chanyeol terdiam dan tertunduk lesu. Ya, ia merasa bersalah pada Sehun.
Gadis berambut pendek itu menepuk leengan Chanyeol, memberinya semangat.
"Aku yakin kamu akan menjadi manajer yang baik disana. Waktu kamu jadi manajer di klub sepak bola, banyak yang memuji, lho. Mereka bilang, kamu rajin dan pantang mengeluh."
Chanyeol tersenyum lemah, sehingga ia terlihat seperti sedang mengerutkan bibir.
"Sejak SMP kamu selalu bisa menyenangkan orang."
Sehun tertawa. "Tidak juga. Aku hanya ingin kamu tidak terus menerus berbuat bodoh. Diam dan sibuk dengan dirimu sendiri pasti menyebalkan buat orang lain."
Chanyeol menutup tasnya, "Mau ikut aku ke klub, Sehun?"
"Sorry, hari ini aku ada kencan. Jongin oppa sedang menungguku di klub."
Chanyeol tercenung. Jongin oppa dan Sehun berpacaran sejak mereka masuk ke sekolah ini. Ketika mendengar mereka menjadi pasangan banyak yang heran. Bagaimana mungkin Sehun yang cerewet dan suka tertawa tertarik pada Jongin yang pendiam dan serius? Ketua klub fotografi itu dikenal dingin.
"Ah… itu sih biasa. Kalau aku bertemu orang yang sama-sama ramai pasti kencan kami heboh dan berisik. Kalau dengan Jongin oppa kan bisa seimbang. Tapi kadang-kadang aneh juga sih karena aku bisa tertawa lepas sedangkan dia Cuma tersenyum."
Kenangan akan Luhan kembali membayang di benak Chanyeol. Untunglah, Sehun segera menepuk bahunya dan berpamitan. Chanyeol segera mengambil barang-barangnya dan bergegas menuju ruangan klub basket.
.
Aula tempat latihan sudah mulai ramai. Beberapa siswa sedang asyik melatih dribble dan passing, sementara sekelompok siswa lain sedang asyik berlatih tanding.
"Perhatian semua!" Suara Pak Choi Minho, sang pelatih klub basket memecah kebisingan di tengah aula yang padat dan berisik. "Anggota klub basket harap segera berkumpul!"
Tak lama kemudian, semua anggota klub sudah berkumpul di hadapan sang pelatih.
"Mungkin kalian sudah tahu bahwa manajer yang lama, Yuri, sudah mengundurkan diri dari klub untuk persiapan ujian masuk universitas. Sudah dua bulan klub kita tidak punya manajer."
Pak Minho menarik perlahan lengan Chanyeol, mengajaknya ke depan barisan anggota klub basket.
"Oh, ya, perkenalkan, ini Chanyeol, manajer klub basket yang baru. Ia mantan manajer klub sepak bola yang berpengalaman. Semoga kalian bisa bekerja sama. Oke, latihan dimulai lagi."
Setelah mendengar instruksi dari pelatih, semua anggota klub basket segera kembali ke aktivitas masing-masing. Semua, kecuali seorang cowok jangkung berambut pirang. Ia malah berjalan menghampiri Chanyeol.
"Hai, siapa namamu tadi?" sapanya ramah.
Chanyeol menatap sebal pada cowok itu dan menjawab, "Chanyeol!"
"Oh, iya aku lupa tadi. Ehm, kenalkan namaku Kris Wu!" cowok itu menyodorkan tangan untuk bersalaman.
Tapi seolah tidak melihat, Chanyeol hanya berjalan melewati Kris, sama sekali tidak memperdulikan keberadaan kris.
"Hei, sombong sekali. Kata pelatih kamu mantan manajer klub sepak bola, ya?"
Kris mengejar, tapi gadis itu tetap tidak memedulikan dan meneruskan langkahnya.
"Hei, tunggu dulu. Aduh, aku kan belum selesai bicara!" Kris memegang lengan kanan Chanyeol.
"Apa sih maumu?" tukas Chanyeol sengit, berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Kris, tapi sia-sia. Cengkraman cowok itu semakin kuat.
"Aku hanya penasaran, kenapa kamu mendadak pindah dari klub sepak bola ke klub basket?" tanya Kris santai, tidak memperdulikan protes chanyeol.
Gadis itu tidak menjawab. Ia tidak siap ddengan pertanyaan seperti itu. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Maka ia hanya berkata, "Tidak ada alasan apa-apa!"
"Ah, masa? Padahal aku tahu lho alasanmu pindah!" Kris tersenyum jahil.
Deg! Jantung Chanyeol berdebar kencang. Apa benar Kris tahu alasannya pindah karena ia tidak tahan apabila berada di klub sepak bola tanpa Luhan? Mata Chanyeol menatap cowok itu tidak percaya.
"Ya… kau pindah ke klub ini karena…. Kamu ngefans sama aku, kan?" Kris cengar cengir sambil menyibak rambut pirangnya. Gayanya benar-benar dibuat sekeren mungkin.
"What the….?!"
"Iya, kan! Kalau tidak ngefans sama aku yang cool dan keren ini, tidak mungkin kan kamu mau capek-capek pindah klub. Padahal aku dengar kamu berhasil jadi manajer klub yang disukai disana. Nah…. Kalau bukan karena ada sesuatu yang istimewa di klub basket ini pasti kamu tidak akan pergi dari klub lamamu. Dan yang istimewa itu memang benar-benar ada. Ia ada di sini. Di depanmu. Iya, kan?" Kris terus membual dengan penuh rasa percaya diri.
"GILA!" bentak Chanyeol tiba-tiba, membuat Kris terkejut. "Ngefans sama kamu? Mimpi apa aku semalam sampai harus mengejar orang macam kamu ke klub ini. Jangan bercanda! Kamu pikir kamu siapa, hah!"
Dengan kasar Chanyeol berbalik meninggalkan Kris. Untunglah, semua pemain sedang berkonsentrasi di lapangan. Tidak ada memperhatikan adegan menyebalkan itu.
Dengan marah Chanyeol meninggalkan aula tempat klub basket berlatih. Kesal, benci… semua bercampur dalam dirinya. Apa-apaan cowok itu, apa dia pikir dirinya sekeren itu? Mana mungkin aku pindah klub hanya untuk cowok semacam itu, pikirnya. Tanpa sadar air matanya menetes.
Chanyeol menyesal. Oh, kenapa tadi ia tiba-tiba bersikap histeris begitu di depan Kris. Padahal cowok itu pasti hanya bercanda. Namun, karena kepalanya hanya dipenuhi pikiran akan Luhan, maka candaan tadi terasa dihina. Ini yang membuat kesal dan menangis.
Chanyeol menangis di halaman sekolah. Tiba-tiba sebuah tangan yang lembut menyentuh pundaknya. Chanyeol menoleh. Kris berdiri di belakangnya.
"Maaf, aku hanya bercanda. Kamu marah?" tanya Kris dengan nada menyesal.
Chanyeol hanya menggeleng perlahan.
"Pasti kamu marah, kan? Kalau tidak, mana mungkin kamu menangis."
"Tidak," jawab Chanyeol singkat.
"Iya deh, kalau kamu tidak mau mengaku juga tidak apa-apa. Yang penting kamu jangan menangis terus. Sekarang masuk yuk. Kami butuh manajer untuk membersihkan bola, nih..hehehe," rayu Kris dengan wajah memelas.
"Hmm, baiklah," jawab Chanyeol lemas. Ia tahu, Kris benar-benar minta maaf. Kalau tidak, mana mungkin cowok itu mau mencarinya dan mengajak masuk. Mereka pun berjalan kembali ke aula olahraga.
Sesampainya di depan pintu aula, Kris menepuk pelan pundak chanyeol dan berkata, "Aku mengerti kok kalau kamu tadi kesal dan malu. Biasa. Cewek kan suka malu-malu kalau naksir cowok. Tapi kalau sama aku tidak perlu malu-malu, deh. Oke?!"
Kris berlari meninggalkan Chanyeol, bergabung dengan anggota klub basket yang lain. Chanyeol hanya melongo. Seumur hidup baru kali ini ia bertemu cowok yang begitu narsistik sampai-sampai ia kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya.
Chanyeol melihat Kris berlari zig-zag diantara para pemain dan merebut bola. Dengan mudah ia menyelip-nyelip pemain lain, dan tahu-tahu ia sudah berada di bawah ring. Dengan satu lompatan ringan ia sudah membawa bola itu diatas ring dan memasukkannya ke dalam keranjang. Plung! Sesaat setelah memasukkan bola, ia menoleh dan melempar cium kearah Chanyeol.
Gadis itu membuang muka. Malu juga ketahuan kalau tadi ia memperhatikan. Namun, cowok itu sepertinya tidak bisa diabaikan begitu saja. Selain warna rambutnya yang mencolok, gayanya yang riang dan agak kekanakan tampak menggemaskan. Susah untuk tidak memperhatikan cowok senorak itu, rutuk Chanyeol. Tapi chanyeol juga tidak bisa berbohong kalau Kris tampan. Hmmm, sepertinya semua anggota klub ini menyukai Kris.
.
Sebenarnya Chanyeol ingin keluar dari aula, tapi karena merasa tidak enak kepada Pak Minseok yang sudah merekomendasikan, maka ia harus serius menjalankan tugas. Satu hal yang dipelajari Chanyeol sewaktu masih menjadi manajer di klub sepak bola adalah seorang manajer harus tahu betul kondisi di lapangan. Ia juga harus mengenal seluruh anggota tim. Karena itu Chanyeol memilih duduk di sudut, memperhatikan para pemain.
Diam-diam ia mencatat beberapa karakter pemain di lapangan. Catatan semacam ini perlu sebagai bahan jika sewaktu-waktu diminta untuk memutuskan persoalan. Yang sering terjadi adalah tiba-tiba seseorang memutuskan mengundurkan diri tanpa sebab. Dengan mengetahui karakter mereka, seorang manajer bisa mendekati dan mengajaknya bicara.
Sore ini para pemain inti klub basket turun berlatih, termasuk Kris. Anggota pemula duduk di pinggir lapangan memperhatikan pemain tim inti. Dengan gayanya yang unik Kris berkali-kali membuat yang lain terkesima. Walaupun di luar lapangan terkesan tidak serius, tapi di dalam lapangan semua itu berubah. Kris bermain dengan serius. Ia jarang gagal baik merebut atau memasukkan bola.
Dalam hati Chanyeol mengaku, permainannya memang bagus. Namun, ada satu hal yang mengganjal. Setiap kali berhasil memasukkan bola ke ring, cowok itu selalu menoleh dan melemparkan cium padanya. Chanyeol semakin sebal. Tapi itu belum seberapa dibanding apa yang dilakukan Kris pada menit-menit akhir latihan.
Chanyeol sedang menulis catatan ketika tiba-tiba sebuah bola melintas tepat di sampingnya, disusul selembar handuk penuh keringat dan berbau menyengat, hinggap di kepalanya. Dengan jijik, ia menyingkirkan handuk jorok itu dan segera mencari pelakunya yang ternyata Kris.
Cowok itu menahan tawa sambil berkata dengan gaya disombong-sombongkan, "Cuci yang bersih ya manajer." Tapi sebelum Chanyeol sempat memaki-maki, Kris sudah kabur ke kamar ganti.
Setengah jam sebelum bubar Chanyeol membereskan semua bola dan perlengkapan. Tinggal satu bola yang tadi di pegang Pak Minho. Gadis itu baru saja memasukkan bola terakhir ke dalam gudang. Ia bermaksud mengumpulkan barang-barangnya dan bersiap pulang. Saat itulah tiba-tiba Kris menghadang.
"Kamu naik apa?" tanyanya.
"Naik bus," jawab Chanyeol singkat.
"Haaah! Sesore ini mau naik bus? Jangaaaann! Bagaimana kalau kuantar? Aku bawa motor, kok."
"Terima kasih. Tidak perlu, aku naik bus saja," balas Chanyeol sambil berlalu.
"Oke, deh. Aku tidak akan memaksa, tetapi kalau kamu berubah pikiran temui aku dikantin, ya. Aku mau makan dulu."
Kris berlari kecil ke pintu aula. Chanyeol hanya memandang punggung cowok itu menhilang di balik keremangan malam. Ia berbalik lalu berjalan menuju loker untuk mengambil barang-barang dan beranjak menuju gerbang sekolah.
Dengan tergesa-gesa Chanyeol berjalan menyusuri deretan pertokoan, menuju halte bus. Hari sudah semakin gelap dan kelihatannya hujan akan turun. Ia ingin segera berada di rumah sebelum hujan turun.
Saat hendak melewati 4th Avenue Café, dadanya terasa seperti diiris-iris. Sekuat tenaga ia berusaha tidak menoleh. Kenangan yang bertumpuk di kafe itu membuat hatinya perih.
"Tidak. Aku tidak boleh menoleh. Aku harus kuat," bisik chanyeol pada diri sendiri.
Saat melangkah di depan café, ia menegakkan kepala. Godaan untuk menoleh sangat kuat. Chanyeol memutuskan untuk berjalan terus dan… ia berhasil. Sebuah niat untuk tidak menoleh sebenarnya tidak berat. Namun menjadi berat saat kita punya kenangan luar biasa. Rasanya seperti ujian keteguhan. Chanyeol bangga bisa melewatinya.
Apalagi hari ini sudah genap sebulan ia berhasil melewati café itu tanpa sedikit pun menoleh. Chanyeol berdiri menyandar di halte. Setengah jam lebih ia berdiri, menunggu bus kosong yang lewat dengan sia-sia. Tapi dari tadi semua bus yang lewat sudah di penuhi penumpang. Sementara mendung semakin hitam.
"Duuhhh! Jangan hujan dulu dong," keluhnya.
Tadi pagi sebelum berangkat mama sudah menyiapkan payung di atas meja. Tetapi karena Chanyeol gelisah soal surat pengunduran diri menjadi manajer, payung itu lupa dibawa. Benar-benar sial.
Tes! Setetes air hujan jatuh di lengannya. Chanyeol panic. Bus yang lewat sudah penuh penumpang. Ini memang jam sibuk, saat para pegawai pulang kantor. Tes! Tetesan berikut turun lagi.
"Aduh… jangan turun dulu, dong!" bisik Chanyeol penuh harap sambil menatap ke langit. Pipinya mulai basah oleh tetesan gerimis.
Ciiitttt!
Sebuah motor berhenti mendadak di depan halte. Chanyeol melompat mundur karena kaget. Pegendaranya memakai helm teropong dan jaket kulit hitam. Tetapi Chanyeol mengenali celana yang dipakai si pengendara. Itu seragam sekolahnya. Orang itu segera melepas helmnya. Kris! Senyumnya melebar ketika melihat Chanyeol cemberut.
"Sudah kuduga," desis Chanyeol pelan.
"Tidak ada bus kosong ya?" tanya Kris ramah.
"Nanti juga ada," sahut Chanyeol tak acuh.
"Nanti keburu hujan. Sudah ikut aku saja," Kris berkata seolah tidak memedulikan penolakan Chanyeol.
Tiba-tiba hujan turun dengan deras, mengguyur mereka.
"Tuh kan, hujan! Ayo naik," ajak Kris lagi.
Tidak ada waktu untuk berdebat. Kris menarik lengan Chanyeol. Dengan terpaksa gadis itu naik ke motor Kris. Sebenarnya dia enggan pulang diantar Kris. Tapi, daripada berdiri kehujanan dan menunggu datangnya bus kosong yang entah kapan, diantar Kris bukan pilihan yang buruk.
Chanyeol mendekap tas erat-erat. Angin dingin menampar wajahnya.
"Menunduk, Chanyeol!" teriak Kris.
Chanyeol tak mendengar. Kris menoleh sambil membuka kaca helm. Dengan suara putus-putus ia berteriak. "Menunduk! Sembunyi di punggungku! Biar tidak basah."
Gadis itu mengikuti apa yang dikatakan Kris. Ia merunduk di belakang punggung Kris. Wajahnya tidak lagi ditampar air hujan. Motor melaju dengan kencang diantara hujan. Kris mengendalikan motornya sedemikian rupa hingga ia berhasil lolos dari kemacetan jalan dan akhirnya tiba di sebuah kawasan yang masih asing bagi Chanyeol.
"Rumahku bukan di daerah sini!" teriak Chanyeol di tengah derasnya guyuran hujan.
"Aku tahu," balas Kris. "Tapi hujan deras begini sebaiknya kita tidak ke rumahmu. Terlalu jauh. Mampir dulu saja di rumahku sampai hujan reda, nanti kuantar pulang."
Chanyeol kesal mendengarnya. Tapi ia diam saja dan tidak membantah ketika Kris membelokkan motor ke halaman sebuah rumah mungil. Chanyeol heran, bagaimana cowok itu tahu kalau rumahnya bukan di daerah sini. Dan tadi katanya…. Terlalu jauh… jadi dia tahu jalan kerumahku? Ah entahlah, chanyeol malas memikirkan.
Walaupun dongkol dengan keputusan Kris yang seenaknya itu, tapi harus diakui alasan itu masuk akal juga. Rumah Chanyeol memang jauh. Setelah memarkir motor di garasi, Kris mengajaknya masuk ke rumah. Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi bersih dan rapi.
"Ayo, silahkan masuk. Duduklah disini, aku buatkan teh dulu."
Chanyeol duduk di sebuah ruang tamu mungil dan sederhana. Disana hanya ada sebuah meja kecil dan empat kursi. Di dinding hampir tidak terpasang apa-apa kecuali jam dinding. Wah, sudah pukul tujuh lebih seperempat.
"Maaf kalau tehnya tidak enak," Kris meletakkan sebuah teko besar yang mengepulkan asap dan sebuah cangkir kecil di meja.
Chanyeol mengambil teh itu dan meneguknya sedikit. Hmmm, sedap, walaupun agak terlalu manis.
"Orang tuaku tidak tinggal disini, jadi teh ini aku buat sendiri. Rasanya aneh, ya ?" Kris menyodorkan sebuah handuk kering.
"Enak, tapi terlalu manis," jawab Chanyeol, menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah.
"Oh, baguslah. Soalnya yang kubuat kemarin pahit, sih. Eh, kamu tidak lapar? Sekarang sudah jam makan malam, kan?"
"Masih kenyang, kok," jawab Chanyeol. Padahal sejak tadi perutnya keroncongan dan terasa melilit saking laparnya.
"Jangan begitu, dong. Sejak sore tadi kamu di klub terus dan tidak makan apa-apa. Nanti sakit perut, lho. Kubuatkan mie instan, ya. Kalau untuk satu itu aku bisa. Tunggu, ya."
Tanpa menunggu jawaban chanyeol, Kris langsung menghilang dari ruang tamu, menuju dapur. Chanyeol merasa senang dengan perlakuan ramah Kris. Kalau tadi di aula ia kelihatan sangat usil dan kekanakan sekarang tidak lagi. Keramahan itu tidak dibuat-buat.
Di depan Kris, Chanyeol merasa tidak harus berpura-pura. Kalau mau marah ya marah saja. Mungkin ini karena sikap cowok itu yang apa adanya. Walaupun usil ia ternyata ramah. Chanyeol merasa sudah lama mengenalnya. Padahal baru hari ini mereka bertemu dan berkenalan. Ia juga heran. Kenapa Kris bisa begitu sabar menghadapi semua sikap ketusnya? Chanyeol terus bertanya-tanya.
Lima belas menit kemudian, cowok itu muncul kembali membawa semangkuk mie instan yang masih hangat.
"Aduuh, maaf. Aku hanya bisa membuat ini. Mudah-mudahan kamu suka."
"Tidak apa-apa. Terima kasih. Ini sudah cukup," balas Chanyeol malu-malu.
Kris hanya tersenyum.
Uap hangat yang mengepul dari mangkuk membuat Chanyeol merasa nyaman. Dihirupnya aroma itu. Oh, sudah lama sekali ia tidak makan mie instan. Dan mie instan kali ini tercium begitu harum.
"Hmm, sedap," gumamnya pelan. "kamu tidak makan?"
"Aku sudah kenyang. Tadi kan aku makan di kantin."
Gadis itu mulai menyantap, diikuti mata Kris. Wajah Chanyeol memerah. Ia pun memakannya pelan-pelan.
Hujan mulai reda. Ketika Chanyeol selesai makan, hujan sudah mereda. Kris lalu mengantarnya pulang. Ia menyodorkan jaket. "Pakai saja. Dingin."
Kali ini cowok itu menjalankan motor dengan kecepatan normal dan memilih jalan-jalan pintas yang sepi agar cepat sampai di rumah. Mungkin tadi ia ngebut agar kami tidak kehujanan, pikir chanyeol.
"Eh… Kris, dari mana kamu tahu rumahku? Sepertinya aku belum pernah menunjukkan alamat rumahku," tanya Chanyeol hati-hati.
Punggung Kris menegang. Lalu ia menjawab, "Kamu kan temannya Sehun. Aku juga kenal Sehun. Aku tahu beberapa teman dekatnya." Ia masih menggumamkan jawaban. Chanyeol tidak seberapa jelas mendengar. Tetapi mendengar nama Sehun, Chanyeol merasa lega.
Akhirnya mereka sampai di rumah Chanyeol. Kris menghentikan motor tepat di depan rumah Chanyeol.
"Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang."
"Aaahh, tidak apa-apa!" Kris tersenyum bangga. "Aku yang harusnya berterima kasih."
"Kenapa?"
"Ya, karena kamu sudah mau main ke rumahku. Aku senang sekali. Aku pulang dulu. Bye."
Kris segera melaju dan menghilang di belokan jalan. Chanyeol hanya menatap asap motor dengan pandangan tak mengerti. Mengapa harus berterima kasih hanya karena aku kerumahnya? Dasar aneh.
Malam itu, ketika hendak tidur, chanyeol kepikiran. Hari ini benar-benar penuh kejutan. Setelah mengundurkan diri dan disarankan menjadi manajer klub basket, ia bertemu Kris. Ia benar-benar dibuat bingung oleh sikapnya yang sabar dan pengertian. Ditambah lagi kata-kata terakhir Kris sebelum pulang tadi. Ia senang karena Chanyeol mau mampir ke rumahnya. Heran, apa sih yang dicari cowok itu dariku?
.
.
.
.
TBC…
.
A/N : Halooo semua,, akhirnya krisyeol ketemu juga. Bagaimana? Suka atau tidak?
Respon dari cerita ini semakin menurun, kalau masih tetap sedikit responnya aku kan menghentikan cerita ini. Maaf, aku memang sadar cerita ini semakin membosankan dan bahasanya amburadul. Tapi, tetap aku ucapkan terima kasih buat yang masih mau baca cerita ini dan kasih review, sekali lagi terima kasih banget.
Ditunggu review dan commentnya, please ^^
