Chapter 7 – Confusion

.

.

.

.

HAPPY READING ^^

.

Sudah sebulan Chanyeol menjadi manajer klub basket. Selama itu ia telah belajar beradaptasi di klub ini. Ia sudah tahu karakter para pemain inti. Hari-hari sibuk membuatnya berusaha memendam semua kenangan bersama sang kekasih yang telah tiada. Walaupun masih sering sedih, sekarang ia lebih bisa melepaskan Luhan. Chanyeol bahkan mencoba menengok kembali anak-anak di klub sepak bola, hanya ingin mencoba seberapa kuat dirinya melupakan Luhan.

"Waaaahh…. Chanyeol! Lama sekali kamu tidak menjenguk kami!" teriak anak-anak klub sepak bola.

Chanyeol tersenyum lebar. Sambutan mereka sangat meriah. Bahkan manajer yang baru datang menyalami.

"Senang sekali di kunjungi. Kata teman-teman Chanyeol sunbae manajer paling baik yang pernah dimiliki klub ini. Semuanya beres kalau ditangani Chanyeol sunbae," kata murid-murid kelas satu.

Chanyeol mengibaskan tangannya, "Tidak. Itu hanya bualan mereka."

Anak-anak tertawa riuh.

"Kamu sudah betah di klub basket?" tanya seorang pemain.

Chanyeol mengangguk lemah. "Kurasa begitu. Pekerjaan disana tidak jauh berbeda dengan tugas disini. Sama-sama megurusi bola, dan mengurusi anak-anak cerewet."

"Apa?! Enak saja ngatain orang cerewet!"

Mereka tertawa terbahak-bahak. Pak Minseok mendekat. Chanyeol langsung membungkuk. "Selamat sore, pak."

"Selamat sore. Sudah lama kamu tidak datang kesini. Tentunya mengurusi anak-anak basket lebih menyenangkan, ya," goda Pak Minseok. "Disini anak-anaknya nakal dan susah diatur."

"Waaa… Pak Minseok menjatuhkan muridnya sendiri."

"Tidak adil!"

Chanyeol hanya tertawa kecil. "Ya, saya suka disana. Terima kasih bapak sudah merekomendasikan saya." Ia membungkuk lagi.

Pak Minseok tahu betul, Chanyeol sudah mengubur kenangan bersama Luhan. "Baguslah. Kamu sudah lebih kuat sekarang."

Chanyeol merasa senang sekali hari itu. Ia masih menyimpan kenangan bersama Luhan., tapi kenangan itu tidak lagi membuatnya sedih. Ia berhasil menyingkirkan rasa sedih yang menerpanya setiap kali ia melewati lapangan bola ini. Ya, ia merasa lebih kuat.

Mereka masih bercakap-cakap sebelum latihan.

"Cahnyeol dicari anak basket tuh. Sudah hampir waktunya berlatih," kata salah seorang anak.

Chanyeol melihat jam tangannya. "Aduh.. hampir saja terlambat. Aku pergi dulu. Terima kasih banyak."

Semua anggota klub sepak bola melambaikan tangan tanda perpisahan. Chanyeol bergegas keluar dan melihat seseorang berdiri di luar lapangan sepak bola. Lho.. itu kan Kris. Cowok itu sedang memandang lapangan sepak bola yang luas. Matanya menerawang. Diam-diam Chanyeol mengamati wajahnya baik-baik. Kris tampak dewasa. Dengan memandang wajahnya, hati Chanyeol menjadi tenang. Tapi kalau sudah kumat usilnya, ia jadi menyebalkan!

"Kris!"

Cowok itu menoleh. Wajahnya yang muram langsung cerah. "Hai, sudah waktunya latihan."

Chanyeol berlari kecil. Kris mengikuti dari belakang.

"Chanyeol." Panggil Kris.

"Ya."

Kris mensejajarkan kecepatan larinya dengan Chanyeol. "Senang ya, bertemu lagi dengan teman-teman lamamu?"

Chanyeol menoleh. Sesaat dilihatnya mata Kris menyiratkan kesedihan. Namun, hanya sesaat. Matanya kembali berseri-seri. Chanyeol hanya menjawab dengan anggukan.

Mereka sudah sampai di aula. Chanyeol segera membuka gudang dan menyiapkan bola. Dilemparkannya bola-bola itu ke sudut lapangan.

Kris mendekat lagi. "Kamu mau kembali ke klub itu?"

Chanyeol mengangkat alis sambil menoleh, "Mengapa kamu berpikir begitu?"

Kris mendengus, "Habis, tadi kulihat kamu begitu gembira. Tapi kalau boleh kusarankan sih, sebaiknya kamu jangan kembali, deh. Kalau kembali kesana lagi… rugi."

"Rugi? Memang kenapa?"

"Tentu saja. Di klub itu kamu tidak akan menjumpai orang yang kamu sukai."

Deg!

Tangan Chanyeol yang hendak melempar bola berhenti di udara. Menjumpai orang yang disuka? Apa maksudnya?

Kris membetulkan tali sepatu. Chanyeol memandangnya dengan sedih. Jangan-jangan kris tahu kalau kesedihan atas kematian Luhan-lah yang dulu memaksanya mengundurkan diri sebagai manajer?

"Apa maksudmu?"

Kris mendongak sejenak, lalu kembali sibuk dengan sepatunya.

"Disana tidak ada orang yang bisa membuatmu berdebar-debar. Tetapi kalau disini kana da aku. Maka dari itu kamu tetap disini saja."

Duk… duk… duk… Bola yang ada di tangan Chanyeol terlepas, menggelinding ke pinggir lapangan. Chanyeol memandang Kris dengan pandangan campur aduk. Ingin tertawa, sebal, tak percaya, dan sedih.

"Aku heran. Kamu ini terbuat dari apa, sih? Kok ada makhluk yang begitu bangga pada diri sendiri," omel Chanyeol.

Kris pura-pura tidak mendengar. Ia mengambil bola di dekatnya dan mulai melemparkan ke teman-teman yang ada di aula. "Kurasa aku memang diciptakan istimewa. Jadi, boleh kan aku merasa bangga pada ketampananku sendiri," jawab kris diplomatis.

Ugh… isi perut Chanyeol serasa berontak. Apalagi melihat gaya Kris yang sok keren saat meninggalkannya.

"Dasar gila."

Kris, dengan caranya sendiri, selalu berhasil membuat Chanyeol menoleh. Saat yang lain tekun menyimak Pak Minho, tiba-tiba ia menggerakkan kepala. Otomatis mata Chanyeol tertuju padanya. Dan selalu saat itu Kris melemparkan cium atau mengedipkan mata dengan genit. Ini yang membuat Chanyeol seringkali tidak tahan melihat gayanya.

Sejauh ini, ia tidak punya perasaan apa-apa terhadap Kris. Tapi mau tidak mau ia harus mengakui, kalau bukan karena keramahan, kesabaran dan kecerewetan Kris, Chanyeol tidak akan semudah ini menghilangkan semua sikap buruknya. Kris sering mengganggu dengan berbagai macam cara. Tapi cowok itu juga selalu baik dan penuh perhatian. Tapi dari semua sikap Kris, yang paling membuat Chanyeol salut adalah kesabarannya.

Sesengit apa pun ia membentak Kris, sekasar apa pun ia mengatai Kris, cowok itu tidak pernah marah. Sebaliknya ia hanya tersenyum manis atau tertawa lepas. Lama-kelamaan Chanyeol jadi tidak tega kalau harus membentak-bentak orang sebaik itu. Perlahan-lahan sikapnya jadi lebih lunak. Kini ia juga lebih bisa diajak berkomunikasi dengan teman-teman lain.

.

Sore itu, seperti biasa tim basket menjalankan latihan rutin. Seperti biasa Chanyeol menjalankan tugas sebagai manajer. Membagikan handuk untuk para pemain yang selesai berlatih, membersihkan bola, atau sekedar menyediakan minuman dingin.

Tapi hari itu, saat latihan basket berakhir tiba-tiba saja Kris datang menghampiri.

"Chanyeol sayaaaaaang.."

"Apa?!" sahut Chanyeol dengan suara agak tinggi, merasa jengkel diperlakukan seperti itu dihadapan anak-anak lain.

"Wuihh, galak amat sama pacarmu yang keren ini!" rajuk Kris.

"Pacar?! Heh, lagi mimpi, ya," ledek Chanyeol.

"Ya, deh, aku ngerti kok kalau kamu malu-malu sayang. Tapi aku minta handuk dan ice tea-nya dong!"

"Nih!" Chanyeol melemparkan handuk tepat ke wajah Kris dan melempar sekaleng ice tea ke perutnya.

"Adu-du-duh," Kris pura-pura kesakitan.

Sementara itu Chanyeol hanya cuek dan meneruskan tugas membagi-bagikan handuk bersih dan minuman pada semua pemain.

Ketika ia bersiap pulang, Kris memanggilnya.

"Hooiii, Chanyeol."

"Huh, Kris? Ada perlu apa?"

"Emh.. Cuma mau tanya. Emh… hari minggu ini kamu sibuk tidak?"

"Memang kenapa?"

"Ya, kalau misalnya tidak sibuk, mau tidak kamu pergi jalan-jalan sama aku?" tanya Kris dengan wajah penuh harap. Tidak ada sebersit pun keinginan menggoda.

Deg!

Chanyeol terkejut mendapat ajakan kencan. Terakhir ia pergi berkencan dengan Luhan. Itu pun berakhir dengan pahit sekali. Chanyeol bingung, tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi ia sebenarnya tidak membenci Kris. Ia malah banyak berhutang padanya. Berkat kris, ia sedikit demi sedikit mulai melupakan kesedihan. Tapi di sisi lain ia masih trauma, trauma dengan kencan pertamanya yang berakhir dengan kematian Luhan. Oh, rasanya ia juga belum siap untuk memulai sebuah hubungan.

"Maaf, aku… sepertinya aku… untuk sementara ini….," Chanyeol tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Ia ingin sekali menolak, tapi ia juga tidak mau menyakiti perasaan Kris.

"Tidak apa-apa," jawab Kris ramah. "Aku mengerti. Jangan terlalu memaksakan dirimu, oke?!" katanya sambil menepuk-nepuk pundak Chanyeol pelan. Kris pun segera berlalu, tanpa memandang wajah Chanyeol lagi. Ingin sekali Chanyeol memanggilnya kembali, untuk menjelaskan. Tapi, lidahnya kelu.

Chanyeol segera berlari di sepanjang trotoar yang menuju ke halte bus dengan perasaan tak karuan. Ia merasa telah berbuat hal yang paling tidak ingin dilakukannya, menyakiti perasaan Kris! Tapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Dan ia sadar sekarang. Ia takut! Takut untuk mulai menyayangi seseorang. Luhan sudah meninggalkan bekas yang sulit terlupakan. Perasaan sayang yang dulu dirasakan Chanyeol kepada Luhan kini ibarat pisau tajam yang selalu menusuk perasaannya.

Tidak! Ia tidak mau merasakan sakitnya menyayangi seseorang lagi. Maka dari itu ia belum mau memulai hubungan dengan Kris ataupun dengan yang lain. Ia tidak mau merasakan sakit yang sama. Kalau ia mengalami sakit lagi, rasanya ia tidak bisa menahan, walaupun mama berada di sampingnya.

Langkah Chanyeol terasa sangat berat. Sepanjang jalan menuju halte bus, batinnya berkali-kali memberontak.

"Cahnyeol, seharusnya kamu tidak boleh membuat Kris kecewa," bisik hati kecilnya. "Lihat, betapa Kris telah menyeretmu keluar dari kesedihan."

Chanyeol menyadari itu. Namun, akal sehatnya masih mengekang keinginan untuk berbaik-baik pada Kris. Ini belum saatnya. Sampai di halte pun Chanyeol masih kepikiran. Matanya menerawang jauh, mencoba berpikir jernih. Kris memang menarik. Dengan gaya seenaknya cowok itu bisa memikatnya. Memikat? Diam-diam Chanyeol mengakui. Ya… ya… aku terpikat pada caranya mendekatiku.

Dengan sabar ia membantuku keluar dari kesedihan. Ia juga membuatku berani mengunjungi klub sepak bola tanpa khawatir akan ingat pada Luhan. Aku… aku berutang budi.

.

Hari ini Chanyeol merasa gelisah. Dia tidak ingin datang ke klub. Setumpuk alasan sudah disusun rapi. Ia bisa saja bilang ada urusan penting yang tidak bisa digantikan di rumah. Atau… pakai saja alasan sakit. Ini paling jitu dan semua orang akan maklum.

Bel istirahat berbunyi. Chanyeol melesat ke kantin. Tadi pagi ia lupa membawa kotak makan siang. Akibatnya siang ini ia harus berdesakan di tengah kerumunan anak yang kelaparan. Benar-benar perjuangan berat. Kalau tidak ingat perut yang keroncongan, malas rasanya berdesakan di kantin.

"Aaauu," Chanyeol segera menyingkirkan kaki ketika sebuah kaki bersepatu besar menginjak ujung sepatunya. Sekarang ia ada di tengah-tengah kerumunan. Ugh.. pengapnya! Chanyeol tidak tahan. Dengan menundukkan kepala ia mundur, tidak peduli siapa yang ada di belakangnya. Pokoknya dia harus keluar dari kerumunan. Biar saja perut lapar asal kakinya selamat dari injakan sepatu.

Begitu bisa lepas dari kerumunan, Chanyeol menghela nafas lega. Ia mencari bangku kosong dan menghempaskan tubuh disana. Rambut panjangnya acak-acakkan. Wajahnya pucat menahan lapar. Tetapi saat ini tidak mungkin untuk berdesakan sekedar mendapat roti selai.

"Lapar?" sapa sebuah suara yang sangat ia kenal. Kris!

Chanyeol berdebar-debar, tidak tahu harus berkata apa. "Eh… tidak. Aku…"

"Tunggu disini sebentar."

Tanpa menunggu jawaban, Kris mendesak memasuki kerumunan. Tidak lama kemudian, Kris muncul sambil memegang dua roti sosis dan dua minuman kaleng.

Chanyeol kembali bingung, tidak tahu bagaimana menanggapi Kris sekarang. Mungkin kemarin ia akan tersenyum lebar sambil mengucapkan terima kasih. Tetapi sekarang? Oh… kemarin Chanyeol sudah membuatnya kecewa.

Kris meletakkan satu roti sosis besar dan satu minuman kaleng. Satu? Berarti ia tidak ingin makan disini, pikir Chanyeol sedih. Tiba-tiba ia merasa kehilangan.

"Makanlah. Kamu bisa pingsan nanti saat latihan basket," kata Kris datar.

"Terima ka…"

Namun, Kris sudah berlalu, bahkan sebelum Chanyeol mengucapkan terima kasih. Chanyeol menggigit roti sosis pelan-pelan. Roti sosis yang tadi terbayang-bayang di matanya ketika kelaparan sekarang seperti busa karet. Ia tidak merasakan nikmatnya.

Di sudut kantin terlihat Kris berbicara dengan teman-temannya. Sesekali terdengar mereka tertawa. Suara tawa Kris kadang-kadang terdengar. Ah… cowok itu memang selalu gembira. Bahkan pada saat ia dikecewakan.

Chanyeol tidak ingin menikmati roti berlama-lama di kantin. Dengan cepat diteguknya minuman kaleng sampai habis.

"Chanyeol… sampai ketemu di klub, ya!" teriak salah seorang anak dari kelompok Kris ketika mereka melewatinya.

Chanyeol tahu, itu suara teman-teman seklub basket. Mau tidak mau ia mengangguk. Tidak mungkin ia bilang bahwa siang nanti ia tidak bisa hadir. Mereka pun berjalan bersama-sama. Kris yang berjalan di belakang hanya menunduk ketika melewatinya, sama sekali tidak menyapa.

Chanyeol menjadi sedih. Dibuangnya kaleng minuman ke tempat sampah dengan keras. Klang! Kris terkejut. Ia menoleh. Chanyeol tidak peduli. Dengan langkah gontai dia kembali ke kelas.

Siang ini tidak biasanya Chanyeol membereskan meja dengan malas. Padahal waktu untuk klub basket tidak banyak. Hanya ada beberapa belas menit untuk membereskan meja dan menuju aula. Chanyeol merasa lemas.

Dengan pelan dia berputar melewati lapangan klub sepak bola. Chanyeol tahu, Luhan tidak ada lagi disana. Bukan karena teringat Luhan kalau ia sengaja kesana. Ia hanya malas berangkat ke klub basket. Ia ingin meraih semangat lagi disini, dari teman-temannya.

Chanyeol duduk di bangku dekat lapanagan klub. Dari jaug ia memperhatikan anak-anak melakukan pemanasan. Chanyeol memandang mereka dengan tatapan kosong. Lama sekali ia duduk disitu. Chanyeol berdiri. Sekali lagi ia memandang teman-temannya di lapangan. Mereka tampak bersemangat dan gembira. Chanyeol tersenyum ketika salah seorang dari mereka berdiri dan melambaikan tangan. Chanyeol membalas sambil pergi.

Ah… cukuplah untuk memompa semangat. Tanpa harus bertegur sapa dengan kris mungkin ia akan merasa latihan kali ini berbeda. Tetapi jangan sampai tugas sebagai manajer terbengkalai.

Saat Chanyeol masuk ke aula, semua sudah ada di lapangan.

"Kemana saja? Kupikir kamu tidak datang, Chanyeol," tegur Pak Minho.

"Maaf, saya masih harus singgah ke tempat lain," jawab Chanyeol sambil membungkuk minta maaf. Ia segera ke ruangan mengambil handuk dan minuman.

"Hei Chanyeol… Kris kemana?" tanya Pak Minho.

Chanyeol terkejut. "Kris? Saya tidak tahu pak."

Pelatih itu mendengus kecil. "Kupikir kalian tadi sedang ada perlu. Kris belum pernah terlambat."

Chanyeol merasa tidak enak. Kedekatannya dengan Kris ternyata ditangkap juga oleh pak Minho. Tetapi biarlah. Toh selama ini sikap Kris memang seperti itu. Kepada manajer terdahulu yang sekarang mengundurkan diri juga sikapnya seperti itu. Chanyeol tahu itu dari teman-teman.

Saat Ia bermaksud keluar untuk mencari Kris.

"Eiit."

Sampai di pintu hampir saja ia bertabrakan dengan…. KRIS! Cowok itu masuk dengan tergesa-gesa sambil menenteng sepatu. Dengan cepat pula ia masuk ke ruang ganti untuk mengganti seragam sekolah dengan baju basket. Sampai sebegitu dekatpun Chanyeol tidak bisa menyapa Kris. Kris yang sedang terburu-buru memakai sepatu itu seperti tidak menyadari kehadirannya. Padahal tadi hampir saja mereka bertabrakan.

Sesaat kemudian Kris keluar lagi dari ruang ganti menutup pintu dengan keras. Braaak! Pintu menutup di depan hidung Chanyeol. Oh, baru kali ini Kris berbuat kasar seperti itu. Pasti ia merasa sangat kecewa. Chanyeol menjadi sedih telah kehilangan teman terbaiknya.

Selama latihan, mereka sama sekali tidak bertegur sapa. Kris juga tidak mencuri pandang kearahnya. Bahkan setelah memasukkan bola ia tidak melempar cium seperti biasa. Chanyeol hanya memandang dengan sedih.

Namun, tidak mungkin untuk tidak menegur. Teman-teman yang lain pasti akan heran dan banyak bertanya. Karena itu di depan mereka, Chanyeol dan Kris masih tetap berbicara walau hanya sepatah dua patah kata. Tapi di luar itu, mereka hampir-hampir tidak pernah bicara. Mereka terlihat seolah saling menghindari, seperti tidak ingin menyakiti perasaan masing-masing.

.

Hampir sebulan Chanyeol mengalami keadaan tidak mengenakan ini. Setiap kali pulang latihan, ia harus memaksa diri berpamitan. Ini berarti ia harus menyapa Kris. Berat rasanya.

Pernah terjadi, saat itu mendung tebal mulai tampak saat latihan baru dimulai. Dan ketika latihan selesai hujan mulai rintik-rintik. Chanyeol kebingungan. Pagi tadi udara sangat cerah. Ia tidak menyangka hari ini hujan. Sebenarnya ia ingin minta tolong Kris untuk mengantarnya. Yah, minimal sampai di halte. Namun, cowok itu sama sekali tidak memedulikan. Bahkan ketika Chanyeol berpamitan, ia hanya mengatakan, "Ya."

Akhirnya Chanyeol memakai tas untuk menutupi kepala, nekat menembus hujan. Makin malam, makin susah kendaraan menuju rumahnya.

Sesaat didengarnya suara motor Kris menyala. Tetapi tidak lama kemudian motor itu di matikan lagi. Chanyeol berlari menuju halte. Ia sangat sedih, kesal, dan kecewa. Padahal biasanya Kris pasti akan mengajaknya pulang bersama di saat seperti ini.

Ketika sampai di halte, Kris mengurangi kecepatan motornya. Mungkin ia ingin mengajak Chanyeol pulang bersama-sama. Tetapi gadis itu terlanjur jengkel. Ia membuang muka ketika Kris menoleh kearahnya. Untunglah saat itu bus datang. Chanyeol langsung meloncat masuk.

.

Tanpa terasa, sebulan berlalu tanpa ada yang mau menyapa. Keduanya sama-sama sibuk, karena tidak lama lagi tim basket harus menghadapi babak penyisihan kejuaraan basket antar sekolah.

Sabtu sore itu, para pemain inti tim basket baru selesai menjalankan latihan terakhir menjelang pertandingan penyisihan pertama. Pertandingan itu akan diadakan pada hari minggu pagi. Dan kini, mereka sedang mendengarkan instruksi sang pelatih.

"Besok adalah hari yang amat penting untuk tim kita. Saya harap kalian bisa bermain seoptimal mungkin. Dan bagi anggota tim yang tidak terpilih bertanding, saya harap kehadirannya untuk memberikan dukungan bagi para pemain inti."

Setelah itu Pak Minho terdiam, lalu menatap tajam seluruh anggota tim. "Saya sadar, tidak semua anggota klub bisa turun di lapangan. Tetapi, itu tidak berarti kalian tidak berpartisipasi. Kalian bisa memberikan semangat, itulah bagian kalian untuk mendukung kesuksesan tim kita."

Semua anggota tim terdiam. Mereka tahu, ucapan Pak Minho benar. Keheningan mengisi aula, sampai akhirnya Pak minho berkata, "Sekian pengarahan dari saya. Nah, sebaiknya kalian segera pulang dan beristirahat untuk besok. Bubar.!"
semua anggota tim segera berlari ke kamar ganti dengan bersemangat. Demikian pula Chanyeol. Ia segera membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang. Setengah jam kemudian, ketika Chanyeol sedang menuju rumah, ia melihat ada seorang sedang berdiri di depan pagar rumahnya. gadis itu mempercepat langkahnya. Ia membelalak terkejut.

"Kris? Sedang apa kamu disini?"

"Menunggu kamu pulang."

"Menungguku? Ada perlu apa?"

"Ada sesuatu yang amat penting yang perlu kusampaikan padamu," jawab Kris sambil menatapnya tajam.

"Apa itu?" tanya Chanyeol penasaran.

"Begini, besok pertandingan yang sangat penting buat tim basket kita. Juga buatku karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri," jawab Kris, tanpa mengalihkan pandangan matanya.

"Janji apa?"

"Kalau besok sekolah kita memenangkan pertandingan, aku akan menyampaikan sesuatu padamu."

Sekujur tubuh Chanyeol tiba-tiba menggigil. Sepertinya ia bisa menduga apa yang akan disampaikan Kris. Ia tidak menyangka Kris berdiri disini hanya untuk mengatakan itu. Ia merasa tidak enak dan tidak berani menatap cowok itu lebih lama lagi.

Kris menghela nafas. "Sepertinya kamu bisa menduga kata-kataku. Tapi tidak apa, aku akan tetap menunggu sampai besok. So, see you later!"

Kris lalu meloncat naik ke motornya dan melaju hilang dari pandangan. Tinggallah Chanyeol sendirian, ketakutan, di depan rumahnya.

Malam itu, ia hampir-hampir tidak bisa memejamkan mata. Jam weker merah jambu di meja kecil mununjukkan pukul 02.30, tapi ia masih tidak bisa tidur. Sebentar-sebentar ia terbangun, gelisah memikirkan hari esok. Bagaimana kalau tim basket mereka memenangkan pertandingan? Bagaimana kalau Kris menyatakan perasannya? Bagaimana ia harus menjawab? Sampai sekarang ia masih belum tahu apakah saat ini sudah siap untuk memulai kembali sebuah hubungan baru. Ia juga masih belum bisa memastikan perasaannya pada Kris.

Oh, bagaimana pula kalau besok mereka tidak bisa meenangkan pertandingan? Tentu saja ia tidak berharap begitu, tapi kemungkinan itu tetap ada. Kalau itu terjadi, bukankah segala sesuatunya akan jadi semakin sulit? Apa harus ia berpura-pura tidak tahu keingininan Kris? Semua pertanyaan itu berkecamuk di benaknya.

.

.

.

.

.

TBC…

.

A/N : Maaf untuk Bahasa yang amburadul dan typo dimana-dimana.

.

.

.

Review and Comment, please!