Chapter 8 – Realize!
.
.
.
.
.
HAPPY READING ^^
.
Keesokan harinya matahari bersinar cerah, menembus masuk ke kamar Chanyeol melalui jendela yang hanya ditutupi gorden tipis berwarna krem pucat. Chanyeol mengedipkan mata perlahan. Silau sekali.
Dengan malas ia bangun. Matanya masih terasa berat dan badannya capek. Pasti gara-gara semalam ia tidak bisa tidur. Dengan malas, Chanyeol menarik jam weker dan melihat waktu yang ditunjukkan disana.
"APAAA?!" Chanyeol berteriak sambil melompat.
Oh, sudah pukul 11.00! Padahal ia harus berada di arena pertandingan sejak satu jam yang lalu untuk membantu persiapan tim.
Chanyeol segera membasuh wajah, menggosok gigi dan memakai seragam. Di ruang makan, diambilnya beberapa potong roti tawar yang di makan tergesa-gesa sambil berlari menuju halte bus.
Chanyeol terlambat sampai di arena. Pertandingan sudah berjalan lama. Dilihat dari angka-angka yang tertera di papan score, tim basket sekolahnya masih unggul beberapa angka dari lawannya. Chanyeol segera mencari Pak Minho yang duduk di tepi lapangan. Ia meminta maaf dan menjelaskan alasannya terlambat. Untunglah pak Minho tidak marah. Sepertinya suasana hati beliau sedang baik karena tim mereka unggul.
Chanyeol langsung duduk di bangku kosong dan menyaksikan pertandingan. Tiba-tiba ia menyadari ada sesuatu yang salah dengan formasi tim mereka. Kris tidak ikut bermain! Dengan harap-harap cemas ia mencari cowok itu di antara para pemain yang duduk di bangku cadangan. Ternyata cowok itu benar-benar tidak ada. Aneh!
Setelah ragu-ragu sejenak, Chanyeol bertanya, "Maaf, Pak Minho tahu Kris ada dimana?"
"Oh, hari ini ia tidak bisa datang."
"Kenapa? Ia kan pemain tim inti?"
"Iya, tapi semalam saat pulang ia mengalami kecelakaan dan sekarang dirawat di rumah sakit pusat. Hei, Chanyeol, kamu mau kemana?"
Tanpa menunggu lagi, gadis itu sudah berlari meninggalkan gedung olahraga. Suara hiruk pikuk penonton (Apalagi suara Pak Minho) sudah tidak terdengar lagi di telinganya. Hanya ada satu hal yang ia pikirkan. Kris!
Chanyeol terus berlari menyusuri jalanan yang padat. Sesekali ia bertabrakan dengan salah satu dari mereka, tapi ia tidak peduli lagi. Matanya terasa panas dan pandangannya kabur. Tiba-tiba butiran panas menetes dari matanya, membasahi pipi. Setetes demi setetes, air mata Chanyeol mengalir. Tapi ia terus berlari menuju rumah sakit pusat.
Ia sudah tidak sabar ingin melihat Kris dan mengetahui keadaannya serta memastikan bahwa cowok itu baik-baik saja. Hatinya penuh rasa takut dan penyesalan. Ia takut kehilangan Kris seperti ia kehilangan Luhan dulu. Oh, kenapa tidak dari dulu ia menyadari perasaannya? Ternyata ia sangat menyayangi Kris! Lebih dalam daripada yang dibayangkan. Lebih lembut daripada kenangannya bersama Luhan. Lebih manis dan mampu menyegarkan perasaannya yang lunglai. Kebersamaannya dengan Kris telah mengobati rasa kosong dan kesepian yang dulu dirasakan. Rasa kehilangan tidak lagi menghantui. Berkat Kris!
Ya, setelah mendengar kecelakaan itu, Chanyeol sadar, ia bukannya takut untuk mulai menyayangi seseorang, tapi takut kehilangan orang yang disayangi. Karena terlalu sayangnya, ia takut berpacaran, takut kehilangan Kris selamanya.
Setelah menyadari perasaannya, Chanyeol menyesal. Oh, mengapa ia tidak berani mengakui? Seandainya ia berani tentu kemarin malam Kris tidak perlu datang kerumahnya dan tidak akan mengalami kecelakaan.
Oh, bagaimana kalau Kris pergi selama-lamanya? Seperti Luhan! Ia akan pergi tanpa sempat mengetahui perasaannya yang sesungguhnya. Ia akan selamanya mengira perasaannya pada Chanyeol tidak terbalas. Padahal itu salah! Chanyeol amat menyayanginya.
.
Akhirnya Chanyeol tiba di rumah sakit pusat. Dengan nafas tersengal-sengal ia berusaha menanyakan pada resepsionis kamar tempat Kris dirawat. Ketika sang resepsionis sedang memeriksa data pasien melalui computer, tiba-tiba Chanyeol di kejutkan oleh suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.
"Chanyeol, kenapa kamu disini?"
Kris! Kris yang memakai penyangga kaki dan dibalut lengan kirinya berdiri di hadapannya.
"Kris?!" Chanyeol memekik lega, lalu memeluk Kris.
"Hei…Hei.. apa-apaan ini, malu kan dilihat orang." Dengan wajah malu-malu senang, Kris berusaha melepaskan diri dari pelukan Chanyeol. Kris tentu saja terkejut melihat kedatangan Chanyeol. Tapi ia lebih terkejut lagi melihat betapa emosionalnya Chnayeol.
Chanyeol melepaskan pelukannya. Wah, ternyata orang-orang di lobi rumah sakit sedang memandangi mereka.
Kris segera mengajaknya ke taman di samping rumah sakit yang sepi agar mereka bisa berbicara dengan tenang. Dibawah pohon besar di tepi kolam, mereka pun mulai berbicara.
"Mengapa kamu ke sini? Seharusnya kamu berada di tempat pertandingan untuk mendukung tim basket sekolah kita, iyakan?" tanya Kris.
"Aku cemas! Kudengar kamu mengalami kecelakaan. Jadi aku langsung kemari untuk memastikan keadaanmu," jawab Chanyeol sambil mengusap air matanya.
"Ya, ampun! Aku hanya mengalami luka ringan. Tidak akan mati, kok. Jangan cemas begitu, dong!" kata Kris sambil cengar-cengir.
"Habisnya aku merasa kecelakaan itu salahku juga."
Kris terkejut, tapi ia segera menjawab, "Mengapa kamu berpikir begitu? Aku tidak menyalahkanmu."
"Karena, kamu mengalami kecelakaan setelah pulang dari rumahku. Jadi kupikir…"
Tiba-tiba Kris tertawa terbahak-bahak. "Ha…ha…ha… Kamu pikir aku mengalami kecelakaan setelah pulang dari rumahmu? Ya ampun! Chan-chan, seandainya kamu tahu.."
Kris tidak bisa menahan tawanya. Chanyeol begitu lucu sekarang.
"Jadi, kamu tidak mengalami kecelakaan setelah pulang dari rumahku?" tanya Chanyeol kebingungan.
"Tidak sayang. Setelah pulang dari rumahmu, aku dan teman-teman mampir ke kafe sebentar. Yah, sekedar penyegaran sebelum bertanding. Nah, sepulang dari café itu, aku mengalami kecelakaan. Tadi Pak Minho sudah kesini, memarahi kami habis-habisan. Kami tidak bisa mengelak karena ini memang tindakan ceroboh. Bersenang-senang di café padahal besok paginya harus bertanding. Untung Pak Minho menyiapkan banyak pemain cadangan untuk menggantikan aku."
"Apaaaaaa?!" Chanyeol mendelik terkejut, sampai kedua biji matanya hampir copot.
"Sorry, kalau aku bikin kamu merasa bersalah. Tapi aku senang kok Chanyeol mencemaskanku," kata Kris sambil tersenyum manis. "Karena, selama ini aku selalu mengira Chanyeol membenciku."
"Tidak," bantah Chanyeol. "Aku tidak membencimu, Kris. Aku… aku sangat menyayangimu."
Wajah Chanyeol langsung memerah karena malu.
"Benarkah?!" Kris membelalak tidak percaya.
Chanyeol hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Selama ini, aku menyukaimu. Tapi aku terlalu takut mengakui. Maafkan aku."
"Jangan minta maaf. Aku… senang mendengarnya," ujar Kris tersenyum. "Hmmm, sebenarnya waktu bertemu denganmu, aku langsung tertarik. Tapi… aku tahu, ada peristiwa yang membuatmu sedih dan murung. Setelah itu, aku lalu bertekad membuatmu kembali menjadi dirimu yang semula. Aku tidak pernah berharap kau akan membalas perasaanku. Oh, jangan minta maaf. Aku bahagia kau mau membalas perasaanku."
"Jadi kamu sudah tahu tentang Luhan oppa?"
"Ya, tentu saja. Hampir semua orang tahu. Jangan lupa, ia kan cukup popular."
"Berarti, selama ini kamu berpura-pura tidak tahu tentang Luhan oppa agar…"
"Ya, agar kamu tidak terus memikirkannya. Sebab, kalau aku menghiburmu pun percuma. Yah, kupikir lebih baik aku menjailimu. Dengan begitu pikiranmu akan teralih pada hal lain. Ternyata berhasil, kan?" Kris mengedipkan mata dengan nakal.
Chanyeol hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia menatap Kris, seolah mengucapkan 'terima kasih'.
.
Matahari semakin tinggi di atas kepala ketika Chanyeol mengantarkan Kris sampai ke kamar tempatnya dirawat.
Setelah itu Chanyeol memutuskan untuk pulang.
"Aku pulang dulu, ya. Nanti sore aku akan datang lagi dan akan kubawakan sesuatu yang enak, oke?" kata Chanyeol sambil tersenyum.
"Oke, aku tunggu." Jawab Kris.
"Bye.." Chanyeol melangkahkan kaki sampai ke pintu kamar ketika tiba-tiba Kris memanggilnya.
"Chanyeol!"
"Apa?" tanya Chanyeol sambil melihat kearah Kris lagi.
Kris tampak ragu sebelum akhirnya bertanya dengan hati-hati, "Ehm… bolehkah aku memanggilmu Channie?"
Chanyeol tersenyum sangat manis dan kembali berjalan kearah Kris. Kemudian mencium singkat bibir Kris dan berkata, "Boleh! Tapi sebagai gantinya aku akan memanggilmu Kris oppa, bagaimana?" tanya Chanyeol dengan muka merah setelah memberanikan diri mencium Kris terlebih dahulu. Itu adalah ciuman pertamanya. Chanyeol merasa malu tapi juga senang karena dia memberikan ciuman pertamanya pada Kris. Cowok yang sangat disayanginya.
Kris terkejut dengan tindakan Chanyeol. Tapi kemudian dia tersenyum seperti orang idiot dan menjawab. "Tentu saja boleh, sayang."
Tapi senyuman Kris itu tidak selega perasaan Chanyeol. Oh, kini Chanyeol telah menemukan kembali cintanya yang sekian lama hilang. Dan ia juga menemukan seseorang yang menyayangi dirinya, seperti yang ia rasakan,
.
.
.
.
.
THE END
.
A/N : Sebelumnya aku meminta maaf, tapi FF ini selesai sampai disini. Maaf apabila akhir yang tidak menyenangkan. Aku tidak mungkin menggantung cerita ini jadi aku mencoba bertanggung jawab dan aku mengakhiri cerita ini. Terima kasih untuk pembaca yang membaca cerita ini sampai akhir dan terima kasih juga buat yang sudah review, favorit dan follow. Sekali lagi terima kasih dan maaf.
.
Thank's to :
Nandha0627, diaredvelvet92, yousee (guest), Oh Byul, ivieimut, yui (guest), rajwak31, Krisyeol Lover, PCYong, Krisyeolstyle (Guest), Wu Huang She-Lay, abcdexo (guest), Baby Crong (guest), kookies (guest), guest, Double BobB.I, tya yaya (guest), KimSora94, VLynz02, PRae15Cha12, Jell-ssi, guest, ParkMitsuki, Byun Yeol, guest, Kim Sohyun, Parchan17, Viktorya101, secretive girl. (Maaf apabila ada yang tidak disebutkan)
