Cast : Shim ChangMin dan Cho KyuHyun
Genre : Romance, Angst, Drama
Rating : M (aman untuk chapter ini)
Warning : TYPO(S), ngebosenin, YAOI, OOC (Out Of Character)
Bagi yang tidak suka YAOI a.k.a Boy x Boy harap menjauh dari fic ini. Tidak melayani genderswitch!
Dan yang tidak suka jika Changmin dan Kyuhyun berpasangan atau jadi couple harap segera angkat kaki. Silahkan pergi jauh-jauh! Tidak melayani bash atau protes merugikan.
.
Selamat membaca
.
.
.
Chapter 6
.
.
ChangKyu
.
.
"Hyung-ie…!"
Jaejoong mencari sumber suara yang sangat dikenalnya. Mata doe-nya menjelajah kerumunan orang yang juga sedang menjemput kerabat mereka di bandara. Matanya menumbuk surai almond yang sangat dikenalnya. Surai ikal Kyuhyun. Dia segera berjalan menuju Kyuhyun yang sekarang tampak melambai-lambaikan tangannya bersemangat.
"Kyuhyunnie…!"
Jaejoong segera memeluk erat-erat dongsaeng kesayangannya, mengabaikan barang-barangnya tergeletak di lantai. Kyuhyun pun balas memeluk Jaejoong tak kalah eratnya, seolah meluapkan kerinduannya pada hyung satu-satunya.
"Hmm,.."
Jaejoong mengamati Kyuhyun lekat-lekat setelah melepaskan pelukannya. Kyuhyun mengernyitkan dahinya bingung dengan yang dilakukan hyungnya.
"Kenapa, hyung?"
Namja cantik itu menggeleng pelan lalu tersenyum, "Tak apa. Hyung hanya ingin mengecek apakah ada bagian tubuhmu yang kurang, hahaha…"
Sedangkan namja manis yang lebih muda melebarkan matanya, lalu memajukan bibirnya mendengar jawaban hyungnya.
"Tidak penting sekali," desis Kyuhyun acuh.
"Hahaha, sudahlah… Oh, ya hyung sudah membawakan banyak oleh-oleh, lho…" kata Jaejoong sembari memeluk bahu Kyuhyun dan mengacak surai ikal dongsaengnya.
"Yeiy!" pekik Kyuhyun senang.
"Lalu, kau sudah menyiapkan apa untuk kepulangan hyung tersayangmu ini, Kyunie?"
Namja manis itu meringis sembari terkekeh mendengar pertanyaan hyungnya.
"Aku, sudah menyiapkan kulkas dengan bahan makanan lengkap,"
Sekarang gantian Jaejoong yang mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Maksudnya?"
"Ah, hyungie tidak asik! Maksudku nanti malam aku ingin kita masak bersama, hyung. Lagipula sudah sangat lama aku tidak makan masakan Jae-hyung,"
Kyuhyun menggembungkan pipinya kesal dengan ketidak mengertian Jaejoong.
"Oh, hehehe… Baiklah, baiklah. Sudah jangan sok imut begini!" sahut Jaejoong lalu mencubit bibir Kyuhyun yang mengerucut.
"Aw! Appo, hyung!"
"Hahaha, ayo kita pulang!"
.
.
ChangKyu
.
.
Sore di langit Seoul masih tampak cerah meskipun musim sebentar lagi akan mendekati musim gugur. Terlihat daun-daun maple perlahan berubah warna.
Kyuhyun memandangi daun-daun maple yang masih terangkai dengan pohonnya itu dengan minat. Dia membayangkan di sepanjang jalan menuju rumahnya itu pasti akan banyak berserakan daun warna merah terang saat musim gugur nanti. Baginya itu adalah view paling indah dari segala musim. Gugur, musim yang baginya terasa syahdu dan menenangkan.
"Tampaknya pemandangan di luar begitu menarik, sampai kau lebih memilih mengacuhkanku,"
Kyuhyun sedikit berjengit mendengar komentar Changmin yang masih fokus menyetir di sampingnya. Dia agak kaget mendengar suara Changmin, yang baginya tiba-tiba setelah kediaman cukup lama di antara mereka berdua.
"Memang," sahut Kyuhyun asal.
Sebenarnya, Kyuhyun malas menanggapi. Namja manis itu tahu meskipun Changmin masih melihat lurus ke jalan raya, tapi namja tampan dengan surai hitam itu pasti menunggu balasannya.
"Hmm, memangnya ada pemandangannya yang mengalahkan ketampananku?" tanya Changmin dengan mengurai sedikit senyum di sudut bibirnya. Matanya melirik ke arah Kyuhyun yang sekarang sepenuhnya mengalihkan perhatian padanya.
Namja manis itu berdecih kesal dengan pertanyaan narsis Changmin. Sedangkan Changmin terkekeh senang dengan reaksi Kyuhyun.
Namja tampan dengan tubuh jangkung itu menepikan mobilnya tepat di depan rumah Kyuhyun.
"Kita sudah sampai,"
Changmin menoleh ke arah Kyuhyun yang sedang membuka sabuk pengaman. Dia segera bergegas keluar mobil dan membuka pintu mobil untuk Kyuhyun. Namja manis itu terdiam dengan mata caramelnya yang memandang Changmin.
"Silahkan,"
Kyuhyun membuang arah pandangnya untuk menghindari kontak mata dengan Changmin. Dia tahu Changmin benar-benar penggoda ulung. Tapi entahlah. Jantungnya tetap berdetak di luar kendali otaknya. Detakan itu terasa berkontraksi dengan sirkulasi darahnya. Hingga Kyuhyun dapat merasakan darah banyak mengisi pipinya. Dia yakin pasti pipinya bersemu sekarang.
"Aku bisa membuka pintu mobil sendiri Tuan Shim," kata Kyuhyun agak ketus untuk menutupi reaksi tubuhnya yang tak bekerja sama dengan keinginannya.
"Aku hanya ingin memperlakukanmu dengan baik. Apa itu salah?" tanya Changmin seolah dia melakukan hal yang baik dan menyenangkan.
Kyuhyun hanya memajukan bibirnya jengkel dengan tanggapan Changmin. Tanpa berkata apapun lagi, Kyuhyun segera berjalan menuju pintu rumahnya. Changmin memandangi Kyuhyun dengan senyuman maklum.
Tepat saat Kyuhyun akan menggapai handle pintu rumahnya, dia merasakan seseorang memegang tangannya. Namja manis itu melihat tangannya yang tenggelam dalam genggaman tangan seseorang itu. Dia segera membalikkan tubuhnya dan mendapati Changmin yang mengikutinya.
Kyuhyun mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Mungkin aku akan meminta waktumu sebentar," kata Changmin tiba-tiba sebelum Kyuhyun sempat bertanya.
Namja manis itu diam. Kyuhyun melihat ekspresi Changmin yang tampak berbeda. Dia terbiasa melihat Changmin layaknya seorang cassanova. Selalu menebar senyum menggoda-yang baginya senyuman tak berguna-, memandangnya seolah ingin 'memakannya' detik itu juga, atau tingkah-tingkah semaunya yang sungguh sangat menjengkelkan.
Mata caramel Kyuhyun mengerjap beberapa kali menyadari tatapan Changmin yang lurus menghujam matanya. Dan ekspresi Changmin, sungguh bagi Kyuhyun itu adalah ekspresi keseriusan dan kesungguhan yang bahkan tak pernah dilihatnya dari seorang Changmin. Seolah bagi Changmin, Kyuhyun adalah pusat dunianya sekarang. Kyuhyun merasa gugup dengan semua itu. Dia ingin mengalihkan tatapan matanya dari mata Changmin. Tapi, mengapa rasanya sangat sulit?
Changmin bergerak mendekat pada Kyuhyun yang masih diam. Changmin semakin menggenggam erat tangan Kyuhyun.
Namja tampan itu menghela nafas pelan.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf atas semua tingkah dan sikapku yang, ya… pasti bagimu sangat menyebalkan," mulai Changmin sembari tersenyum.
Kyuhyun tertegun dengan senyuman Changmin. Senyuman macam apa tadi? Kyuhyun tak pernah melihat senyuman setulus itu dari Changmin. Dia bahkan hampir lupa dengan kalimat yang diucapkan Changmin sebelumnya.
"Aku melakukan semua itu, ada alasannya tentu saja. Dan, aku merasa aku harus mengungkapkan alasannya segera. Sekarang. Ya, sekarang. Aku merasa tak tahan lagi,"
Kyuhyun hanya memiringkan kepalanya berusaha mencerna dan menebak-nebak kalimat Changmin selanjutnya.
"Kau tahu, Kyu? Sejak malam itu, aku benar-benar tak bisa melupakanmu. Mungkin kau menganggap itu berlebihan, tapi aku tidak. Aku hanya tak pernah merasakan perasaan di mana aku merasa selalu ingin melihat seseorang dan selalu berada dekat dengannya. Bahkan, aku merasa tak pernah merasa senyaman ini berada bersama seseorang. Perasaan nyaman yang menjadikanku ingin, membuat seseorang itu adalah tujuan hidupku,"
Kyuhyun melebarkan matanya mendengar untaian kalimat Changmin. Mendadak dia merasakan jantungnya berdebar sangat keras. Perutnya terasa diaduk-aduk tak tentu arah dan kepalanya mendadak pusing dengan reaksi tubuhnya yang terasa tak terkendali karena mendengar ungkapan perasaan Changmin.
Kyuhyun tidak bodoh untuk bisa mengerti maksud Changmin. Meskipun Changmin tidak secara gamblang mengatakan perasaannya, tapi Kyuhyun sepenuhnya tahu arti perkataan Changmin.
"Kenapa kau diam saja, Kyu?" tanya Changmin mendapati namja manis di depannya tampak agak syok.
Kyuhyun mengerjapkan matanya berusaha mendapatkan fokusnya kembali. Namja manis itu tertunduk sambil menggigiti bibir bawahnya. Dia tidak memungkiri hatinya yang melonjak-lonjak bahagia. Hingga terasa wajahnya memanas dan dia yakin wajahnya pasti sudah memerah parah. Kyuhyun berusaha meraup oksigen banyak-banyak untuk menenangkan dirinya.
"Aku…"
Kyuhyun sedikit melirik Changmin yang masih menunggu responnya.
"Tapi dengan segala tingkah menyebalkanmu, aku sulit percaya," kata Kyuhyun sembari memajukan bibirnya kesal jika mengingat Changmin yang sering bertingkah seenaknya.
Changmin menghela nafas lalu tersenyum, "Bukankah aku tadi sudah bilang semua itu ada alasannya,"
Namja tampan itu menarik tubuh Kyuhyun mendekat padanya. Kyuhyun semakin gugup karena saat ini tubuhnya tak bercelah dengan tubuh Changmin.
Tangan kanan Changmin meraih dagu Kyuhyun dan sedikit mendongakkan wajah manis itu. Changmin ingin melihat mata caramel Kyuhyun hanya fokus melihatnya.
"Aku minta maaf. aku hanya tidak tahu bagaimana bersikap dan bertutur kata pada orang yang aku sukai,"
Kyuhyun meremas seragamnya tak tahan dengan letupan di hatinya mendengar kata-kata terakhir Changmin.
"C-Changmin,"
"Ya?"
"Apa maksudmu?"
Changmin kembali tersenyum, tangannya bergerak mengusap pipi Kyuhyun yang telah sangat memerah.
"Kurasa aku harus dengan jelas mengatakannya, agar kau paham, benar?"
Kyuhyun hanya mengerjapkan matanya kembali. Dia sudah paham. Hanya dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Changmin mendekatkan wajahnya ke wajah Kyuhyun. Namja tampan itu mengecup pipi chubby yang telah berubah seperti tomat matang itu. Kecupan Changmin bergerak merambat sampai ke telinga Kyuhyun yang tak kalah memerah.
"Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun," bisik Changmin lalu mengecup telinga Kyuhyun.
Changmin dapat merasakan Kyuhyun menegang sesaat mendengar pernyataan cintanya.
"Changmin," gumam Kyuhyun.
Mendengar panggilan Kyuhyun untuknya, Changmin mendekatkan kembali wajah mereka hingga hidung keduanya bersentuhan.
"Apa aku perlu mengulanginya lagi?" bisik Changmin dengan bibirnya yang hampir bersentuhan dengan bibir Kyuhyun.
Kyuhyun menggeleng pelan.
Changmin meraih tubuh Kyuhyun dalam pelukannya, lalu mengecup bibir Kyuhyun. Changmin melepaskan kecupannya, dia melihat mata caramel Kyuhyun sejenak, lalu kembali mencium bibir pinkish yang terasa menggoda bibirnya. Kyuhyun segera menutup matanya untuk menyambut ciuman Changmin yang semakin dalam.
Changmin menciumi bibir Kyuhyun berulang-ulang, sesekali mengulumi bibir bawah Kyuhyun yang memerah karena gigitan namja manis itu sebelumnya. Kyuhyun tak menolak dengan apa yang dilakukan Changmin pada bibirnya. Dia hanya merasa perasaannya terasa penuh dengan kebahagian karena ungkapan cinta dari namja yang sedang menciuminya sekarang.
Changmin tersenyum dalam ciumannya atas respon yang diberikan Kyuhyun. Changmin semakin merapatkan tubuh mereka berdua untuk memperdalam ciumannya. Seolah paham dengan maksud Changmin, kedua tangan Kyuhyun bergerak memeluk leher Changmin kemudian mendekapnya erat.
Namja tampan itu sesekali membelai bibir bawah namja manis dalam pelukannya dengan lidahnya. Kyuhyun segera membuka sedikit bibirnya untuk memberikan akses pada lidah Changmin menjelajahi mulutnya. Lidah Changmin segera meraih lidah Kyuhyun. Sesekali lidahnya membelai atau membelit lidah Kyuhyun.
Changmin melakukan ciumannya dengan lembut. Kyuhyun merasa ciumannya kali ini lebih terasa memabukkan, karena dia merasakan Changmin seolah berusaha meyakinkannya dengan ciuman yang diberikannya. Kyuhyun merasakan dirinya melebur dalam perasaanya.
Namja tampan itu melepaskan ciumannya, setelah dirasanya cukup untuk meyakinkan namja manis dalam pelukannya.
"Kyunnie," panggil Changmin pelan.
Kyuhyun membuka matanya dan langsung berhadapan dengan mata Changmin yang memandangnya penuh pemujaan.
"Bagaimana jawabanmu?" tanya Changmin sembari menyatukan kening mereka berdua.
"Changmin, a-aku hanya tidak tahu harus menjawab apa. Semuanya terlalu tiba-tiba,"
Kyuhyun menundukkan kepalanya merasa bersalah dengan jawabannya yang dia berikan.
"Jadi kau butuh waktu?"
Kyuhyun mendongakkan wajahnya melihat ekspresi Changmin yang menyiratkan kekecewaan tetapi tetap berusaha mengulas senyuman itu.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya, "Maaf,"
"Tak apa. Aku mengerti. Hah…. rasanya di sini sangat lega," kata Changmin sambil menepuk dadanya.
Kyuhyun tersenyum dengan kalimat Changmin.
"Sampai bertemu, Baby Kyu…" ucap Changmin lalu kembali mengecup singkat bibir Kyuhyun.
Changmin segera berlari menuju mobilnya dan menancap gas sebelum mendengar Kyuhyun mengomel.
Namja manis itu mendesah kesal dengan kebiasaan Changmin yang suka mengecup bibirnya tiba-tiba. Tetapi dia merasa sekarang kecupan itu membuatnya senang. Kyuhyun tersentak dengan pikirannya. Mendadak pipinya kembali bersemu.
Kyuhyun menghela nafas pelan lau menyentuh dadanya untuk menormalkan detak jantungnya yang masih melonjak-lonjak. Sungguh dia tak menduga perasaanya terbalaskan. Jika perasaannya sama dengan Changmin, lalu kenapa dia masih butuh waktu untuk menyakinkan perasaannya?
.
.
ChangKyu
.
.
Kyuhyun menatap hyungnya yang sedang mencoret-coret buku sketsanya. Jaejoong tidak tampak terlalu serius. Itulah mengapa Jaejoong melakukan rutinitas menggambar desainnya di ruang bersantai rumahnya. Yang sebenarnya adalah dia ingin mempergunakan quality time dengan dongsaengnya.
"Ada apa, Kyu? Katakanlah sesuatu jika ada yang ingin kau sampaikan, hmm…"
Jaejoong membuka percakapan ketika merasakan dongsaengnya hanya melihatnya sejak beberapa saat mereka bersantai.
Kyuhyun tidak langsung menanggapi kalimat hyungnya. Dia hanya memberikan cengiran untuk Jaejoong.
Kali ini Jaejoong meletakkan buku sketsanya dan memusatkan perhatiannya pada Kyuhyun.
"Aku boleh bertanya-tanya?" Kyuhyun mulai menanggapi sembari melebarkan matanya yang bulat seperti mata hyungnya. Dia tampak mulai berminat.
Jaejoong mengangguk, "Tentu saja. Tanyakan apapun yang ingin kau ketahui,"
"Emm, bagaimana hubungan Jae-hyung dengan Yunho hyung sekarang?"
Jaejoong mengernyitkan dahinya, "Pertanyaan yang tak terduga. Hmm, baik-baik saja. Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Lalu bisakah hyung menjelaskan bagaimana perasaan hyung kepada Yunho hyung?" lanjut Kyuhyun.
Jaejoong semakin mengerutkan dahinya dalam. Tetapi kemudian dia memilih tak ambil pusing dan meladeni pertanyaan-pertanyaan Kyuhyun.
"Perasaan, ya?" Jaejoong mengalihkan pandangannya sambil sedikit menerawang. Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tentu saja perasaan cinta. Apalagi? Jika kau ingin tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang, itu…. Agak susah dijelaskan, Kyu. Masing-masing orang punya penjelasan sendiri, tergantung bagaimana kisah mereka,"
Kyuhyun memiringkan kepalanya tak mengerti, "Sesuai kisah mereka? Maksudnya, hyung?"
Jaejoong menganggukkan kepalanya.
"Iya. Jika kisah cinta seseorang mulus dan banyak kebahagian, pasti dia akan mendeskripsikan mencintai seseorang itu membahagiakan. Tetapi, jika kisah cinta seseorang itu banyak rintangan atau masalah yang terjadi, dia akan menyimpulkan sebaliknya,"
Jaejoong menjelaskan sembari menepuk-nepuk rambut ikal dongsaengnya.
"Hmm, aku mengerti. Lalu kesimpulan kisah Jae-hyung dan Yunho-hyung sejauh ini bagaimana?" tanya Kyuhyun lagi.
Jaejoong tertawa pelan dengan pertanyaan Kyuhyun.
"Sejauh ini, sangat membahagiakan, hahaha…." Jaejoong tertawa malu-malu.
Kyuhyun mendengus sembari memutar bola mata caramelnya.
"Tentu saja. Kisah kalian sangat mulus,"
Jaejoong tertawa lepas," Hahaha, itu kau tahu,"
Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya lalu tersenyum ikut bahagia. Dia berharap kisah cintanya kelak juga seperti hyungnya.
"Aku jadi bisa menyimpulkan bagaimana cinta yang hyung rasakan. Pasti seperti taman bermain. Hanya ada kata bersenang-senang,"
Jaejoong menghentikan tawanya, meskipun masih penuh senyuman," Bisa jadi,"
"Tetapi ada kalanya tidak seperti itu juga. Kadang juga ada masalah-masalah yang terjadi. Tetapi hal-hal seperti itu adalah pembelajaran kedewasaan dalam suatu hubungan. Jadi sepasang kekasih harus bijaksana menyikapinya," lanjut Jaejoong.
Kyuhyun mendengarkan dengan seksama. Dia sepakat dengan kalimat-kalimat yang diucapkan hyungnya.
"Hhh," Jaejoong menghela nafas sejenak," Tapi berbicara itu gampang. Prakteknya tidak semudah membicarakannya,"
Kyuhyun mengangguk lagi.
Namja cantik yang mempunyai mata doe itu menatap Kyuhyun sejenak.
"Kau sedang jatuh cinta ya?" tanya Jaejoong tiba-tiba.
"Hah?" Kyuhyun tidak siap menanggapinya.
Jaejoong kembali tertawa lepas. Merasa sangat lucu dengan ekspresi keterkejutan Kyuhyun. Dongsaengnya itu hanya diam. Tetapi matanya bergerak-gerak agak gelisah dengan pipinya yang tiba-tiba dirambati semburat kemerahan. Itu adalah bukti telak untuk pertanyaannya.
"Jika iya, ikutilah kata hatimu, Kyu. Kau sudah dewasa untuk menentukan kisahmu sendiri,"
Namja manis itu menatap hyungnya yang tersenyum dan menemukan keteduhan dari mata bening Jaejoong. Kyuhyun balas tersenyum lalu menganggukkan kepalanya mengerti.
.
.
ChangKyu
.
.
Sore dengan cuaca agak mendung. Awan-awan yang berarak tampak sekali berwarna agak gelap. Kyuhyun menatapinya tanpa minat. Padahal jika tidak ingin pulang dengan kondisi basah kuyup, harusnya ia bergegas pergi dari tempatnya duduk sejak satu jam yang lalu.
Seperti kebiasaannya jika sedang tak ingin pulang lebih cepat, yang namja manis itu lakukan adalah duduk menyendiri di café langganannya. Memikirkan banyak hal yang mungkin memang sedang dia pikirkan atau mengandai-andaikan sesuatu.
Namja manis itu sejenak merutuki hal yang membuatnya harus merasa gelisah dan tak tenang sejak beberapa hari ini.
"Haaah…."
Kyuhyun menyandarkan dagunya ke meja. Sesekali matanya mengamati lalu lalang para pengunjung café. Mata bulatnya melebar sejenak melihat seorang wanita paruh baya yang tampak sedang memasuki café. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru café mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk menghabiskan waktu santai di sore hari.
Kyuhyun tersenyum lebar mendapati wanita itu adalah seseorang yang ia kenal. Namja manis itu pun melambaikan tangannya tanpa sungkan.
"Ahjumma Song!" panggil Kyuhyun lalu berdiri untuk memperjelas posisinya.
Wanita paruh baya tersebut menoleh ke arah sumber suara ketika merasa namanya dipanggil. Wanita itu menyipitkan penglihatannya dan tak lama dia tersenyum tampak sumringah pada seseorang yang memanggilnya.
"Kyuhyun-ah," sapa wanita itu lalu memeluk Kyuhyun singkat.
"Ahjumma, apa kabar?" tanya Kyuhyun setelah mempersilahkan Ahjumma Song duduk.
"Baik sekali, Nak. Bagaimana denganmu? Terasa sangat lama kita tidak bertemu,"
Kyuhyun tersenyum mendengar kalimat wanita yang duduk di depannya.
"Apa ahjumma melihat ada yang tidak baik padaku sekarang?" tanya Kyuhyun balik.
Ahjumma Song mengernyitkan dahinya sejenak kemudian terkekeh pelan lalu menggelengkan kepalanya.
"Kau mengingatkan pada anak Ahjumma saja," sahut Ahjumma Song dengan sedikit pandangan menerawang. Tampak dari mata beningnya terlihat kerinduan mendalam.
Kyuhyun memiringkan kepalanya tampak tak mengerti.
"Ahjumma tampak sedih. Apakah ahjumma ingin segera pulang saja jika merindukan anak ahjumma?" saran Kyuhyun dengan mengulas senyuman untuk menenangkan wanita paruh baya di hadapannya.
Mendengar kalimat Kyuhyun, Ahjumma Song hanya tersenyum. Tetapi Kyuhyun dapat melihat senyuman di wajah Ahjumma Song adalah senyuman kesedihan. Seketika Kyuhyun merasa bersalah.
"Ahjumma, mohon maafkan aku jika ada kata-kataku yang salah,"
Namja manis itu mengatupkan dua tangannya dan menunduk dalam.
"Hei, hei, kenapa kau melakukan hal itu? Angkat kepalamu, Nak. Aku tidak apa-apa," kata Ahjumma Song cepat.
Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menatap wanita di depannya yang kini telah tersenyum hangat. "Tetapi, ahjumma tampak bersedih. Aku tidak enak karena asal bicara,"
"Gwenchana, Kyuhyun-ah. Kau belum mengetahui apapun tentang ahjumma. Jadi ahjumma memakluminya. Tidak ada yang salah dengan kata-katamu,"
"Lalu kenapa ahjumma bersedih?"
Ahjumma Song kembali tersenyum hangat mendengar pertanyaan Kyuhyun.
"Ahjumma bersedih karena ahjumma sudah tidak tinggal bersama dengan anak ahjumma lagi. Dia memilih tinggal bersama Appa-nya setelah kedua orang tuanya bercerai. Tentu saja setelah banyak kesalahan yang ahjumma buat kepadanya, yang tak mungkin bisa dimaafkannya, dia pasti akan memilih bersama Appa-nya,"
Kyuhyun melebarkan matanya dengan jawaban tak terduga dari Ahjumma Song. Dia kembali merasa bersalah karena telah mengingatkan sebuah kenangan menyakitkan.
"Ahjumma," Kyuhyun bergumam pelan.
"Tidak apa-apa, Nak. Semua sudah sangat lama terjadi. Sekarang ahjumma berusaha hidup dengan lebih baik dan mencoba memperbaiki kesalahan ahjumma padanya. Semua akan baik-baik saja. Kau tidak perlu merasa bersalah. Kadang kau perlu mendengar cerita yang menyakitkan agar kau belajar,"
"Ahjumma sungguh luar biasa," puji Kyuhyun tulus.
"Hahaha, kau hanya mengetahui sedikit tentangku, Nak. Jangan cepat menyimpulkan," kata Ahjumma Song dengan gelengan pelan.
"Sudahlah. Mari kita membicarakan masa depan," lanjut Ahjumma Song.
Kyuhyun tersenyum menanggapinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Kyuhyun-ah?" tanya Ahjumma Song tak terduga.
"Hah? Maksud ahjumma?"
Kyuhyun mengernyitkan dahinya dalam tak mengerti dengan pertanyaan Ahjumma Song.
Ahjumma Song tersenyum hangat lalu menepuk pelan tangan Kyuhyun, "Kau tampak sedang memikirkan sesuatu yang berat. Ahjumma bisa melihat kegelisahan di matamu,"
Mata caramel Kyuhyun bergerak pelan memandang obyek di luar café. Dia ingin mengelak. Tetapi perasaannya juga ingin segera mendapatkan kenyamanan. Berhubungan dengan perasaan terutama mencintai orang lain yang bukan keluarga adalah hal pertama kali yang pernah dia alami selama hidupnya. Dia tak banyak menemukan jawaban harus bagaimana bertindak untuk mengatasi masalah perasaan. Ini sangat membingungkan dan merepotkan tentu saja. Ingin mengabaikan, tetapi hatinya juga ingin mengklaim perasaan tersebut.
"Berceritalah, Nak. Berbagi bukanlah pertanda kau lemah. Tetapi ada kalanya beban itu juga harus dikurangi, kan?"
Kyuhyun memandang Ahjumma Song kembali. Dia tersenyum dan seolah mengucapkan terima kasih atas pengertiannya bahkan ketika Kyuhyun tak mengucapkan apapun.
"Apakah Ahjumma boleh menebak, hmm?" tanya Ahjumma Song sembari menepuk pelan tangan Kyuhyun. Namja manis itu balas tersenyum, lalu mengangguk pelan.
Ahjumma Song menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kemudian memasang pose berpikir. Kyuhyun cukup terhibur dengan tingkah Ahjumma Song. Dia tersenyum sembari menunggu wanita paruh baya tersebut menebak masalahnya. Kyuhyun merasa tiba-tiba hatinya menghangat dengan suasana seperti ini. Suasana layaknya keluarga. Bercengkrama dengan seorang ibu. Membagikan masalahnya, kemudian ibunya akan menenangkannnya atau memberikan nasehat-nasehat sederhana. Mungkin belum tentu membantu, tetapi dapat didengarkan dan mendapat senyuman penuh ketenangan dari seorang ibu, entah berapa lama dia tak merasakannya? Sejak perceraian itu dan ibunya memilih menikah kembali, semuanya berubah.
"Hei, Nak. Kenapa malah melamun?" kata Ahjumma Song.
Kyuhyun agak tersentak dengan pertanyaan Ahjumma Song. Dia kembali memfokuskan perhatiannya.
"Bagaimana, Ahjumma?"
Ahjumma Song tersenyum lagi, "Hmm, tentu aku tahu masalah anak muda sepertimu. Pasti tidak jauh-jauh dari masalah percintaan. Benar, kan, Kyuhyun-ah?" tanya Ahjumma yang seketika membuat pipi chubby Kyuhyun memerah. Namja manis itu terdiam. Tebakan yang memang tepat sasaran.
"Hahahaha, aku benar ternyata. Kenapa dengan percintaanmu, Kyu-ah?"
Kyuhyun menunduk dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dia merasa panas di wajahnya. Kenapa juga dia harus bereaksi seperti ini?
"Kenapa kau jadi malu-malu begini? Ceritakanlah, Ahjumma adalah pendengar yang baik," lanjut Ahjumma Song.
"A-aku, aku merasa bingung, Ahjumma," jawab Kyuhyun masih menunduk.
"Bingung?"
Kyuhyun menganggukkan kepalanya. "Ada seseorang yang mengatakan cintanya padaku, tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Harus menerimanya atau tidak. Dia adalah orang yang sangat menyebalkan!"
Namja manis itu memajukan bibir bawahnya tampak kesal meskipun tetap dengan pipi yang memerah. It's cute.
Ahjumma Song terkekeh dengan apa yang diucapkan Kyuhyun. Lalu ekspresi namja manis itu sungguh menghibur.
"Pertanyaanlah adalah, apa kau juga mencintainya, Nak?"
Lagi-lagi pertanyaan Ahjumma Song membuat Kyuhyun terdiam. Benar. Selama beberapa hari ini dia tidak memikirkan hak tersebut. Yang Kyuhyun pikirkan hanyalah dia menerima cinta yang ditawarkan Changmin atau tidak. Ahh, memikirkan nama Changmin membuat jantungnya berdetak lebih dan lebih cepat.
"Ahjumma…." Kyuhyun merajuk tanda dia sendiri pointless dengan dirinya sendiri.
"Pertanyaan Ahjumma adalah hal terpenting, Kyu-ah. Cobalah kau memikirkannya. Meskipun kau bilang dia menyebalkan. Apa alasan dia menjadi menyebalkan, hmm?"
'Aku tahu jawabannya. Changmin telah mengatakannya.' Batin Kyuhyun.
"Apa kau sudah mendapatkan jawabannya?" lanjut Ahjumma Song.
Kyuhyun mengangguk pelan.
Ahjumma Song tersenyum lega. "Lihat, sesederhana itu, kan?"
Kyuhyun ikut tersenyum. Perasaannya hanya butuh jawaban dari dirinya sendiri.
.
.
ChangKyu
.
.
"Argh! Kau sungguh menyebalkan!"
Eunhyuk menatap heran dengan dahi mengerut ke arah Kyuhyun. Dia melihat wajah temannya itu yang dipenuhi aura kemarahan. Akan sangat berbahaya jika menyentuh Kyuhyun sedikit saja. Belum puas dengan pekikan penuh kekesalan tadi, Eunhyuk mendengar temannya itu menggumamkan makian lagi sambil mengutak atik smartphone-nya. Sesekali smartphonenya berpindah menempel di telinganya, tapi kemudian diutak atik lagi dengan penuh emosi. Untungnya itu benda layar sentuh, jika ponsel sekarang masih dipenuhi tombol-tombol, Eunhyuk yakin sekali tombol-tombol itu akan rusak dengan perlakuan jari-jari Kyuhyun.
"Kyu?" panggil Eunhyuk pelan. Tangan Eunhyuk waspada jika tiba-tiba mendapat serangan.
"Apa?!" sahut Kyuhyun tak bersahabat.
"Kau kenapa?" tanya Eunhyuk mencoba ingin tahu.
"Tidak penting! Dan jangan ganggu aku!" ucap Kyuhyun ketus dengan mata menatap tajam ke Eunhyuk.
Eunhyuk diam. Ya, lebih baik diam saja kalau tanggapannya sudah seperti itu.
Kyuhyun kembali menekan icon berwarna hijau untuk melakukan panggilan. Tetapi seperti yang telah terjadi beberapa kali, nomor yang dia coba hubungi hanya tersambung dengan suara operator. Namja manis itu mendesis jengkel. Dia segera masuk ke aplikasi pesan dan kembali mendapati pesan yang dia kirim semuanya masih berstatus 'pending'. Kyuhyun mengepalkan tangannya emosi.
Ini sudah lebih dari satu minggu sejak terakhir kalinya dia bertemu dengan namja bernama Shim Changmin. Sekaligus terakhir setelah pernyataan cinta dari namja jangkung itu. Pesan terakhir dari Changmin yang masuk ke inbox-nya adalah dia akan memberikan waktu pada Kyuhyun untuk berpikir mengenai jawabannya. Setelah itu, namja tampan itu seperti hilang tak berbekas.
Tentu saja ini berarti adalah hal yang sangat diinginkan Kyuhyun. Hanya saja itu adalah dulu. Namja manis dengan mata caramel itu seolah merasa ada yang kurang dengan pagi harinya, ketika dia tidak mendapati Changmin yang telah menunggu dengan gaya sok keren di samping mobilnya. Dulu dia sudah sangat terbiasa dengan ponselnya yang tak pernah berdering berisik karena chat di media social atau panggilan-panggilan dari temannya. Dia merasa ingin hidup tenang. Tetapi, sekarang dia merindukan panggilan-panggilan yang sering mengganggu pagi dan malamnya dari seorang Changmin. Apalagi kegiatan chatting mereka, yang meskipun selalu ditanggapi Kyuhyun secara sadis dan penuh sarkasme, Changmin adalah orang yang sangat sabar menanggapi itu. Bahkan sering kali memutar sarkasme tersebut menjadi rayuan gombal bahkan kalimat-kalimat chessy.
Namja manis itu merasa hidupnya berjalan apa adanya sebelum Changmin datang dan membuatnya hari-harinya berisik. Namja tampan itu seolah masuk dalam rutinitasnya, mengubahnya, membuat dirinya menjadi bagian dari rutinitas Kyuhyun, hingga Kyuhyun merasa ingin namja tampan itu hilang saja, karena itu sungguh mengganggu. Kyuhyun tak pernah memberi ijin. Tetapi dengan cara yang Kyuhyun tak tahu, Changmin sukses membuat dirinya menjadi rutinitas Kyuhyun. Hidupnya yang berjalan apa adanya, tanpa sentuhan tangan orang lain, kini tidak sama lagi. Namja manis itu jadi mengerti apa itu perhatian dan kasih sayang yang lama tak dirasakannya. Meskipun ya dengan cara Changmin yang aneh.
Dan sekarang, Changmin benar-benar hilang dari rutinitasnya. Harusnya dia merasa kembali tenang. Dia bisa hidup dengan apa adanya lagi bukan? Tapi dia merasa hatinya kosong. Pikirannya tak bisa berpikir sama lagi seperti saat sebelum Changmin datang. Bisakah dia menyebut bahwa dia merasa kehilangan? Kyuhyun tak habis pikir dengan dirinya yang harus mengalami hal rumit begini.
Kyuhyun bersandar di kursi untuk menghela nafas dalam. Dia masih memandangi smartphone-nya. Pesannya masih pending dan panggilannya masih dijawab suara operator. Kyuhyun bersumpah jika dia bertemu Changmin, dia akan memukul namja tampan itu habis-habisan karena telah berani membuatnya seperti ini.
.
.
ChangKyu
.
.
Jaejoong tersenyum pada pelayan yang baru saja mengantarkan pesanannya. Setelah menyesap sedikit cappuccino-nya, dia kembali mengetik sebuah pesan balasan untuk kekasihnya yang sedang dalam perjalanan menuju restoran tempat sekarang Jaejoong berada.
Tidak menunggu lama, Jaejoong mendengar lonceng kecil di pintu masuk berbunyi. Mata doe-nya melihat kekasihnya melambaikan tangan dengan senyuman menawan. Cukup untuk membuat para wanita di restoran tersebut terpana. Tapi Jaejoong tak peduli, itu bukan hal yang penting.
"Hai, sayang," sapa Yunho lalu mencium bibir Jaejoong tanpa basa-basi.
Jaejoong dapat mendengar pekikan kecil dari para wanita yang tak putus melihat pesona kekasihnya sejak masuk restoran. Namja cantik itu hanya memutar bola matanya dengan keacuhan kekasihnya.
"Astaga, Yunnie… Bisakah kau perhatikan di mana kau sekarang?"
Yunho hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Harusnya kau sadar, sayang. Aku hanya ingin memberi tahu orang-orang di sini bahwa kau sudah ada yang memiliki. Lihat tatapan para lelaki yang seolah ingin mengajakmu berkenalan," balas Yunho lalu mengambil tempat duduknya. Namja tampan itu memanggil seorang pelayan lalu memesan makanannya.
Jaejoong mengedarkan matanya ke beberapa sudut restoran dan didapatinya beberapa pria menatapnya penuh minat dengan senyuman menunjukkan keterpesonaan. Yunho benar juga. Tetapi sebenarnya situasi macam ini, bukan hal yang baru. Mereka sering seperti ini. Jaejoong menganggapnya hal yang biasa saja. Tetapi Yunho tak bisa menganggapnya hal remeh.
"Baiklah kekasihku yang tampan. Terima kasih pengingatannya," kata Jaejoong lalu kembali meminum cappuccino-nya.
"Sama-sama, sayang. Aku melakukannya dengan senang hati," sahut Yunho lalu tersenyum.
"Oh, iya. Aku sudah berbicara dengan Umma dan Appa mengenai rencana pernikahan kita. Ternyata mereka sudah menunggu sejak lama untuk kabar itu. Kata mereka tak perlu ada tunangan, langsung saja menikah," lanjut Yunho. Mata musangnya memandang kekasihnya yang sekarang juga melihatnya.
"Benarkah? Aku merasa berdosa karena selalu menolak tawaranmu untuk menikah. Ah-"
Jaejoong memekik kecil.
"Ada apa?" tanya Yunho khawatir.
"Aku belum membicarakan ini dengan Umma dan Kyuhyun," jawab Jaejoong cepat.
"Yunnie, kau tak mengatakan akan membicarakan rencana pernikahan kita sekarang, jadi kau jangan menyalahkan aku karena belum memberi tahu keluargaku!" lanjut Jaejoong. Namja cantik itu melipat tangannya di meja dengan bibir mengerucut kesal.
Yunho tertawa merasa terhibur.
"Belum juga tidak apa-apa, Boo. Tapi, tentu saja kau harus segera mengabarkan rencana pernikahan kita pada keluargamu. Agar kedua keluarga bisa segera bertemu untuk membahas tanggal pernikahan,"
"Ah, tentu saja. Kau tampak sangat bersemangat, Yunnie,"
Yunho meraih tangan Jaejoong lalu menggenggamnya, "Tentu saja aku bersemangat. Hidup bersamamu adalah hal yang sangat aku inginkan, Boo,"
Jaejoong tersenyum merasa sangat bahagia mendengar kalimat kekasihnya. Dia bersyukur Tuhan memberikannya kebahagian yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Yunho melepas genggaman tangannya saat ponselnya berdering. Dia melihat ponselnya dan mendapati rekan kerjanya menelpon.
"Sebentar ya, sayang? Aku jawab telponnya dulu," kata Yunho meminta ijin.
Jaejoong mengangguk memakluminya. Namja cantik itu mulai menikmati makan siangnya sambil sesekali melihat ke suasana di luar restoran yang dibatasi kaca.
Perhatian Jaejoong teralihkan oleh keributan kecil di seberang jalan. Matanya melihat seorang ibu paruh baya yang terjatuh setelah seorang pria menabraknya cukup kencang. Barang-barangnya tampak berhamburan. Sepertinya barang-barang belanjaan. Tapi pria yang menabraknya berlalu begitu saja tak peduli. Jaejoong mendesis jengkel dengan perlakuan pria tersebut. Dia hampir saja beranjak dari tempat duduknya, saat seorang pemuda menghampiri ibu tersebut dan membantunya mengambil barang-barangnya. Namja cantik itu mendesah lega karena mendapati masih ada seorang pemuda yang baik hati menolong orang lain.
Ibu tersebut mengucapkan sesuatu. Jaejoong yakin itu ucapan terima kasih. Pemuda itu berdiri membelakanginya sehingga Jaejoong tak bisa melihat jelas wajahnya. Setelah ibu itu berlalu, Jaejoong melihat pemuda penolong itu membalikkan tubuhnya dan tepat memandangnya. Namja cantik itu melebarkan mata doe-nya. Sedangkan pemuda itu tersenyum tipis padanya.
"Changmin?"
TBC
Thanks for read and review
/deepbow/
