DOR!
-tetapi entah kenapa tidak ada rasa sakit yang menjalar di tubuhnya. Ketika iris violetnya terbuka, ia langsung terbelalak dan menghampiri pemuda itu –pemuda yang mengorbankan dirinya terkena timah panas itu.
"ARGHH! HITSUGAYA-KUN!"
Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Air mata segera membanjiri pipi mulusnya itu. Ia segera berlari dan mendekap pemuda itu. Rasa bersalah telah menghinggap di hatinya. Ia tak memedulikan tangan dan pakaiannya yang telah tercampur oleh darah segar itu. Yang penting sekarang adalah nyawa pemuda itu. Untungnya, nadi sang pemuda tidak terhenti melainkan melemah sedikit demi sedikit.
"Kenapa!? Kenapa ... hiks ... kau mau ... mengorbankan ... rasa ... sakitmu ... hanya demi aku ... hiks ... hiks ..."
Air mata tidak kunjung habis. Gadis itu terus menangis. Tubuh Rukia gemetar ketika pemuda itu menggerakkan tangannya dan meraih pipi gadis itu, membelainya dan menghapus air mata sang gadis secara perlahan.
Pemuda itu tersenyum sendu-
"Ja ... ngan ... me ... na ... ngis ..."
-dan langsung tak sadarkan diri di dekapan sang gadis.
"HITSUGAYA-KUN!"
.
.
.
Bleach © Tite Kubo
Still Wait
HitsuRuki
Warning : OOC, ga nyambung
.
.
.
Rukia lemas seketika ketika tahu kalau pemuda itu harus dioperasi –walaupun ia sudah menduga hal itu. Ia semakin merasa bersalah dan rasanya ia juga sangat berhutang budi pada pemuda itu karena ia telah mengorbankan rasa sakitnya –atau hampir jiwanya hanya demi gadis itu –gadis yang baru kenal dengannya beberapa bulan ini. Astaga. Sulit dipercaya.
Gadis itu segera duduk di depan ruang operasi, menunggu jalannya operasi Toushiro. Rukia menunduk, entah kenapa pikirannya terus melayang ke kejadian tadi. Semuanya, urutan kejadian itu, ia mengingatnya –sangat mengingatnya. Rasanya bagaikan kaset rusak yang terus mengulang kejadian itu. Astaga ...
Gadis itu kembali termenung. Ia menyadari kesalahannya. Andai saja ia mempercayai apa yang di katakan Toushiro, andai ia tidak membantah andai ia kuat andai ia tahu, andai ... andai ... ah ... terlalu banyak andai yang ia ucapkan. Sekarang hanya tinggal penyesalan yang dapat ia rasakan. Waktu tidak dapat diputar kembali. Roda kehidupan terus berjalan dan tak akan pernah kembali ke masa lalu.
Rukia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sekarang perasaannya bercampur jadi satu antara kesal, takut, cemas, menyesal, dan merasa bersalah.
"Hit –ah Toushiro ... aku ... maafkan aku ..." –tes "Bagaimanapun juga itu adalah salahku ..." –tes "Andai aku mempercayaimu ... semuanya tidak akan begini ..." –tes "Aku ... harus jujur dengan perasaan ini ..."
Rukia menggigit bibir bawahnya, mencoba agar tidak banyak lagi air mata yang jatuh. Bagaimanapun ia harus jujur dengan perasaannya, ia tidak boleh memendam lagi.
"Aku akan mengatakannya saat kau bangun ..." Rukia tersenyum sendu. "Karena itu kau tidak boleh mati ... Hitsugaya Toushiro ..."
-Gadis ini sangat yakin untuk mengutarakan perasaannya.
.
.
.
Kembali ke cerita awal ...
Dan sekarang lah Rukia berada. Duduk di samping pasien berambut putih yang terbaring lemah, tidak sadarkan diri selama sehari penuh. Rukia menghela nafas panjang, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Namun ia tidak pernah bosan menunggu pemuda itu, karena bagaimana pun pemuda itu lah yang telah menyelamatkan hidupnya.
"Tampaknya ada sesuatu pukulan yang mengenai titik vitalnya dan mungkin itu yang mempengaruhi kenapa ia belum sadar sampai sekarang ditambah tembakannya itu."
Rukia menutup matanya, mengingat perkataan sang dokter. Ia membuka matanya lalu menatap Toushiro dengan tatapan sendu.
"Kenapa bukan aku saja? Seharusnya kau tidak perlu mengorbankan dirimu seperti ini. Padahal ... aku kira saat itu hidupku sudah tinggal beberapa detik lagi tapi ternyata tidak. Tuhan sangat baik padaku sehingga ia mengirim malaikat pelindung, yaitu kau, Histsugaya Toushiro. Terima kasih atas pengorbananmu ... dan aku juga minta maaf atas kesalahan yang pernah ku perbuat."
Rukia tersenyum sendu. Jemarinya mulai membelai surai putih itu dengan perlahan. Ia terkikik pelan ketika mengingat wajah sang pemuda ketika saat tidak sadarkan diri seperti ini. "Sungguh kau lucu ... kau juga tampan ..."
Cklek!
Dengan segera ia menoleh pelan ketika pintu terbuka.
"Rukia-chan?"
"Ah, Matsumoto-nee,"
Matsumoto Rangiku, dia adalah tante muda Toushiro. Dia juga serumah dengan pemuda itu karena tante satu ini masih kuliah dan belum bekerja tetap. Yah, karena masih kuliah akhirnya Rukia dipaksa memanggilnya dengan embel-embel "–nee-san" walaupun mukanya kurang cocok jadi maha siswa, melainkan lebih cocok jadi ibu-ibu #digorok.
"Kau sudah terlalu lama berada di sini, Rukia-chan ..." ucap Matsumoto sambil mendekatinya. "Lagipula ini semua bukan salahmu ... Toushiro pasti mengerti ..."
Rukia menggeleng pelan. "Aku ... tidak mau ... meninggalkannya ..." ucapnya sambil tersenyum. Ia menggenggam tangan pucat itu lalu menempelkannya ke pipi. "Aku tidak ingin melihatnya tertidur terus ... aku ingin melihatnya terbangun kembali ..." ia terisak pelan. "Aku tidak ingin melihatnya menderita seperti ini ... aku ingin dia bangun kembali! Dan meninggalkan alam mimpinya itu!" ia terisak. "Apalagi kalau ia tidur terus dan meninggalkan dunia ini ... aku tidak akan memaafkan diriku sendiri! Aku ingin melihatnya kembali –kembali menjadi dirinya seperti semula. Bukan yang seperti ini, tidur dalam kesunyian! Aku tidak ingin itu semua!"
Matsumoto tersenyum, ia juga mengetahui perasaan gadis itu. Berlaku seperti seorang ibu, ia langsung memberikan pelukan hangat ke gadis itu dan tentu saja gadis itu membalasnya. Rukia terisak pelan.
"Kau harus tegar, Rukia-chan ... walaupun dalam keadaan seperti ini kau tidak boleh meninggalkan urusanmu seperti sekolah. Kau tadi membolos hanya karena Toushiro kan?" Rukia mengangguk pelan. "dan sekarang sudah malam, Rukia-chan ... kau bisa kena marah Byakuya."
"Tapi ..."
"Tidak ada tapi-tapian, Kuchiki Rukia! Lihat! Keadaanmu kusut begitu, pasti Toushiro juga akan berkata hal yang sama denganku." Matsumoto tersenyum. "Kembalilah besok sehabis pulang sekolah."
"... baik ..."
Dengan berat hati gadis itu melangkah pulang.
.
.
.
"Rukia." Suara baritone seseorang menyambut gadis raven itu ketika masuk ke dalam rumah. Rukia mengangkat dagunya dan sedikit terkejut.
"Ah, Nii-sama ..."
Rukia menunduk menghadapi kakak iparnya itu. Ia menunduk, tersirat sedikit rasa bersalah di dalam hatinya. Byakuya menatapnya datar, namun dari sorot matanya terlihat kecemasan.
"Kemana saja kau, Kuchiki Rukia?" Rukia meringis pelan ketika Byakuya membuka mulut. "Seharusnya kau tahu ini jam berapa sekarang. Jelaskan apa alasanmu."
Rukia menghela nafas panjang. Mau tidak mau ia harus menjelaskan semuanya dari A sampe Z tanpa pengecualian. Akhirnya sesi cerita pun dimulai. Saat mendengarkan pernyataan Rukia, Byakuya tetap memasang wajah datar, tanpa ekspresi sama sekali.
"Siapa nama pemuda itu, huh?"
"Hitsugaya Toushiro."
Entah kenapa ada saat itu lelaki itu terkejut saat mendengar nama pemuda bersurai putih itu. Sepertinya aa sesuatu hal yang membuat Byakuya seperti itu hingga membebaskan Rukia dari ceramahnya dan membolehkan gadis itu masuk ke kamarnya kembali.
Tentu saja itu membuat Rukia bingung tetapi itu segera terabaikan. Yang ada di benaknya sekarang adalah tentang siuman Toushiro. Kapan pemuda itu bisa bangun dari tidur lamanya? Kapan? Sungguh Rukia tidak sabar jika pemuda itu bangun kembali. Rasanya ia ingin menangis terharu dan memeluknya erat-erat.
.
.
.
.
.
KRING!
Bel berbunyi kencang. Dengan segera murid berhamburan keluar kelas. Rukia langsung membereskan buku-bukunya dan beranjak pulang. Awalnya ia akan pergi langsung ke rumah sakit tanpa pulang terlebih dahulu, namun ada sesuatu yang menghalangnya ketika ia baru saja akan pergi meninggalkan kelas-
"Ah, kau. Awas."
-Hinamori Momo.
Gadis itu berdiri di depan Rukia sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia menghalangi gadis di depannya yang ingin pulang. Tatapan iris coklatnya sangat tajam. Rasanya Momo seperti ada keinginan untuk menelan Rukia hidup-hidup.
Kesal dengan kelakuan Momo, Rukia segera berkacak pinggang dan menghentakkan kakinya. "Ada apa? Kau membuatku menunggu lama kau tahu!"
Momo menggeram lalu mendorong Rukia hingga jatuh. "KAU! Tidak akan kumaafkan kau telah membuat Shiro-chan seperti itu! Kau benar-benar ..."
Rukia menunduk, menggigit bibir bawahnya lalu mendongak dan berseru, "Tapi setidaknya itu bukan kesalahanku sepenuhnya! Kau dengar Hinamori Momo!" ia berdiri lalu segera melangkah keluar kelas.
"Kau tidak akan kabur kan?" tanya Momo sambil menyeringai tipis. "Jangan hanya dengan karena ini kau akan kabur dari semua masalah."
Langkah Rukia terhenti, sebelah alis terangkat. "Tidak," Rukia menengok ke belakang. "Tentu saja aku tidak akan kabur dari kenyataan. Karena aku bukan seorang pengecut!" ia tersenyum penuh percaya diri. Ia yakin kalau saat ini gadis bercepol itu mencoba memanas-manasinya walaupun sebenarnya Momo tidak tahu kejadian pastinya.
"Huh, percaya diri sekali kau!"
"Tentu, untuk apa aku pesimis? Itu tidak ada gunanya!" ia mulai berbalik namun sebelum itu ia meliriknya dan berkata, "ah, lebih baik kalau kau sama sekali tidak tahu kejadian itu terjadi, jangan sembarang berkata! Itu sama saja dengan perilaku orang bodoh, kau tahu?"
Momo menggeram pelan. Ia kalah lagi dengan gadis itu. Namun dalam hati kecilnya, ia juga berpikir, apakah ia terlalu egois atau tidak? Apakah ia memang dibutuhkan oleh pemuda itu atau tidak? Sepertinya ia perlu berpikir sebelum bertindak.
.
.
.
.
Cklek!
Pintu kamar terbuka. Kosong, tidak ada yang menemani pangeran es di dalam sana. Kemana Matsumoto? Ah, Rukia baru ingat kalau Matsumoto kuliah siang, ia pasti sudah berangkat kuliah sekarang. Secarik kertas mengalihkan pandangan Rukia dan pastinya itu dari Matsumoto untuknya. Rukia membuang kertas itu karena isinya tidak penting dan itu bukan dari Matsumoto untuk dirinya. Ia segera menaruh tasnya di samping kursi dan langsung duduk di kursi tersebut.
Ia menghela nafas panjang lalu menidurkan kepalanya di sebelah lengan Toushiro. "Kapan kau bangun?" ia memejamkan matanya. "Tanpamu semuanya hambar, seperti masakan tanpa bumbu. Sangat hambar, kau tahu? Aku merindukanmu ..."
Jika ada keajaiban, mungkin Toushiro mendengarnya dan langsung bangun. Andai jika benar-benar kenyataan ... mungkin setiap hari Rukia tidak akan mencemaskannya seperti ini. Kau tahu Toushiro? Gadis itu menunggumu ... benar-benar menunggumu ...
Rukia memegang tangan pucat itu. Eh? Ketika itu ia merasakan ada sesuatu yang bergerak. Tangan pucat itu bergerak! Lengkungan bibir Rukia membentuk sebuah senyuman ketika alat itu menunjukkan detak jantung Toushiro mulai kembali normal. Ini adalah hari yang ditunggunya, dimana pemuda itu terbangun kembali! Sebuah keajaiban!
"Ugh ..."
Mata Toushiro mulai terbuka, menampakkan iris turqouise yang sangat dirindukannya. Toushiro mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kesadarannya penuh.
"Hitsugaya-kun!" pekik Rukia. "Akan aku panggil dokter!"
Tangan Toushiro memegang pergelangan tangan Rukia, menghentikan gerak gadis itu. Ia menggeleng pelan. Ketika ia sudah sadar sepenuhnya, ia segera mengambil posisi duduk dan mengedarkan pandangannya. Tentu saja orang pertama yang dilihatnya adalah Rukia. Gadis itu tersenyum senang –sangat senang. Iris violet bertemu iris turqouise. Mereka saling tatap-menatap selama beberapa detik.
"Kuchiki? Kenapa kau-"
Tanpa permisi gadis itu langsung memeluknya erat dan tentu saja itu membuat Toushiro merona dan salah tingkah. Ia tidak tahu harus berbuat apa akhirnya ia membiarkan gadis itu memeluknya. Namun ketika ia merasakan bahunya yang basah, ia tertegun. Gadis itu menangis?
"Kau ... menangis Kuchiki? Kenapa?"
"Bodoh! Kau lama sekali! Tiap hari aku menunggumu! Aku ... sudah takut jika kau benar-benar tidak bangun ... aku sangat takut. Jika kau benar-benar tidak bangun, aku tidak akan memaafkan diriku yang telah membuatmu seperti itu. Kau membuatku menunggu terlalu lama, Toushiro! Hiks ... hiks ... Kau payah! Kau lama, Hitsugaya-kun! Hiks ... hiks ..."
Toushiro mengerti. Ini tentang perasaan gadis itu. Pemuda itu membalas pelukannya. "Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan meninggalkanmu dan akan terus berada di sisimu ... maafkan aku ya ..."
Rukia menggeleng pelan. "Itu semua salahku ... andai saja aku mempercayaimu dulu, andai saja aku lebih kuat, andai saja aku yang terkena tembakan itu ... kau tidak akan seperti ini!" ia terisak kembali. "Aku yang terlalu bodoh!"
"Sudahlah, kau tidak perlu menyalahkan dirimu, Kuchiki." Toushiro melepas pelukannya dan menyeka air mata gadis itu pelan. Ia membelai pipi gadis itu. "Jangan menangis hanya karena aku. Aku tidak suka membuat seseorang menangis hanya karena aku terlebih lagi kau. Kau jelek kalau menangis, makanya jangan menangis lagi, ok?"
Rukia menggigit bibir bawahnya, tandanya ia tidak dapat menyanggupi janji itu.
Toushiro menghela nafas panjang sesaat lalu tersenyum kecil. "Yang penting aku sudah bangun dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan?" Ia menyengir kecil. "Dan terima kasih telah menungguiku selama ini, Kuchiki."
Rukia mengusap air matanya dan tersenyum kecil.
.
.
.
Semenjak siumannya Toushiro, kamarnya menjadi ramai dan banyak makanan di mejanya. Banyak orang yang datang menjenguknya, tentu saja kerabatnya, guru-guru, dan keluarga. Semua tersenyum merekah walaupun mereka tidak tahu penyakitnya karena Toushiro enggan mengucapkan apa yang sebenarnya terjadi. Pokoknya yang ada di pikiran mereka, Toushiro sudah siuman dan sehat seperti sedia kala.
Rukia tidak pernah absen menjenguknya tiap hari sepulang sekolah. Kan lumayan juga buat diminta tolong untuk mengajarinya pelajaran yang tidak dimengertinya. Kakak iparnya juga entah kenapa tidak pernah melarangnya ke rumah sakit terus.
"Jadi ini bagaimana caranya?"
"Ohh yang ini ... itu ..."
Dan dengan sabar Toushiro mengajarinya pelan-pelan. Walaupun kadang ia juga kesal dengan sikap gadis itu namun entah kenapa rasa kesalnya itu langsung hilang ketika melihat senyumannya. Otak jenius memang harus berbagi ke otak yang membutuhkan.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar diketuk tiga kali, membuat Rukia mengalih perhatiannya. Dengan cepat ia membukakan pintu dan ternyata yang datang kali ini adalah teman sekelasnya, Momo dan Renji. Dengan senyuman, Rukia mempersilahkan keduanya masuk.
"Yo, Toushiro!" Renji mengangkat satu tangannya. "Maaf, ya, baru jenguk sekarang." Cengiran khas Abarai di perlihatkannya.
Toushiro mengangguk. "Ah, kalian berdua pacaran? Kok datangnya berdua?" pertanyaan dengan nada datar diucapkannya.
Momo mengangguk dan menggandeng tangan Renji. "Yap, memang kenapa?"
Rukia mengernyitkan dahinya, tidak percaya. Ia curiga kalau semua itu hanyalah sandiwara belaka. "Benarkah? Sejak kapan?"
"Tiga hari yang lalu." Kali ini Renji yang menjawab. Dan ternyata itu memang bukan sandiwara!
"Cieee ... selamat ya!"
Pipi kedua insan itu segera merah padam. "I-iya." Mereka berdua menjawab dengan tergagap-gagap.
Rukia tersenyum kecil kemudian menoleh pada Momo. "Momo ... aku-"
Momo tersentak lalu menggigit bibirnya dan dengan cepat memotong perkataan gadis it. "Ah, Rukia-chan ... maafkan aku ya! Aku ... aku ... memang egois! Tapi aku mengerti kau yang lebih dibutuhkan dibanding denganku. Aku hanya dibutuhkan sebagai seorang sahabat dan kakak -walaupun itu hanya masa lalu. Setelah kupikir-pikir, ternyata memang kau yang harus berada di hatinya! Bukan aku ataupun orang lain, hanya kau seorang, Rukia-chan!"
Rukia memerah. "Kau bicara apa sih!" ia mengalihkan pandangannya lalu tersenyum kecil. "Tapi aku sudah memaafkanmu, kok."
Kedatangan Momo dan Renji tidak buruk –malah membuat keadaan semakin menyenangkan. Momo tidak tampak seperti orang yang mempunyai masalah dengan Rukia, ia bahkan terlihat sangat akrab dengan gadis itu seperti sedia kala.
Lihat saja sekarang mereka sedang bermain Truth or Dare. Fufufu, pastinya pasangan baru itu sedang merencanakan sesuatu untuk dua orang dihadapannya. Sampai pada akhirnya sekarang giliran Toushiro.
"Hei, Hitsugaya, sekarang kau pilih truth or dare?"
"Dare."
Renji terkikik pelan ketika Momo membisikinya sesuatu. "Tembak Rukia sekarang juga dan kau akan kena hukuman jika tidak diterima. Tapi nembaknya harus keren, ya!"
"Tunggu! Tunggu! Tunggu!" Rukia menolak tidak terima. "Kenapa aku harus dilibatkan?" pipinya sedikit merona.
"Hei, kau tahu kan kalau aku pacarnya Renji?" Momo tersenyum kecil. "Dan tidak ada perempuan lagi di sini kecuali kita berdua. Dan karena kau yang hanya tidak mempunyai pacar, bukan?"
"Tap-"
"Kau tidak boleh menolak. Atau kau akan kuberi hukuman yang lebih memalukan. Oke? Ah, dan kau harus mengatakan 'ya'. Oke?" Momo tersenyum tapi entah kenapa Rukia merasa ada sesuatu di balik senyumannya Momo. Benar-benar misteri.
"Baiklah." Rukia pun mengalah walau pipinya sudah agak memerah.
Renji menyenggol sikut Toushiro. Pemuda bersurai putih itu berdeham kecil lalu segera menatap iris violet gadis itu. Turqouise kembali bertemu violet. Namun kali ini ucapan yang dilontarkan Toushiro itu terasa nyata –sangat nyata. Intonasinya pun juga serius. Apa mungkin ada sesuatu di balik itu semua?
"Rukia ... aku menyukaimu semenjak dulu, semenjak kita bertemu pertama kalinya. Dan sekarang itu rasa suka itu berkembang terus menerus, tiap saat." Toushiro menghela nafas. Pipinya sudah merah. "Rukia, aku sangat-"
TRIlLILITTT! TRILILILILILLITTTT!
Oke, acara romansa itu telah diputuskan oleh sebuah deringan ponsel yang kencangnya gak main, terlebih lagi suaranya itu cempreng ditambah bergetar! Dan hanya cengiran yang diberikan oleh si pemilik handphone, Momo. Ia langsung menyengir tanpa dosa dan segera mengangkatnya. Rautnya berubah masam ketika ia menjawab telepon tersebut. Ditutupnya dengan cepat.
"Huh! Okaa-san menyuruhku pulang lebih awal atau kalau tidak aku akan kena hukumaan! Dan apalagi hukumannya harus membersihkan gudang! Aaak kesaaal!" Momo mengeluh kesal. Ia mengembungkan pipinya dan lalu mengambil tas selempangnya yang ia taruh di meja kecil dengan kasar.
"Huh, sepertinya kita sampai hari ini aja, ya!" Renji menghela nafas lalu tersenyum kecil. "Kau besok masuk sekolah, kan?"
Toushiro mengangguk. "Tentu saja, aku tidak ingin memperburuk absensi ku."
"Aaah! Tapi sesi penembakannya jadi batal, deh!" Momo menghela nafas panjang. "Ah, tapi Rukia berjuanglah~! Aku yakin dia punya perasaan yang sama~!" ucap Momo dengan girang.
"Begitu juga denganmu, Toushiro~!" kali ini giliran Renji yang berucap seperti itu.
Wajah Rukia dan Toushiro sudah seperti kepiting rebus. Dan akhirnya mereka berduaan. Lagi. Tanpa seseorang sama sekali.
.
.
.
.
.
Suasana canggung pun terjadi. Terlebih lagi setelah Momo dan Renji menyemangati mereka dan akhirnya kedua orang itu pergi. Tambah membuat suasana canggung. Walaupun Rukia tidak suka keadaan canggung, ia tetap memilih diam tanpa kata dan menunduk dengan pipi memerah.
Toushiro meliriknya dan menghela nafas. Apa mungkin gadis itu mempunyai perasaan yang sama? Bagaimana jika tidak? Ia mengacak-acak rambutnya, sedikit frustasi akan perasaannya. Namun, ini harus dicoba! Ya, harus dicoba!
"Uum ... Kuchiki."
"Y-ya, ada apa, Hitsugaya-kun?"
"Err ... bolehkah aku tau jawaban dare yang tadi ... jika dari lubuk hatimu?"
Dengan cepat Rukia mendongak lalu menatap iris turqouise itu dengan kaget. Sungguh ia kaget. Apa mungkin lelaki ini ...? haah, mungkin Rukia terlalu berharap jika mengharapkan itu terjadi.
"Eh ? K-ke-kenapa? Itukan hanya sebuah permainan."
"Bagaimana jika perkataanu itu benar? Aku benar-benar serius, Rukia! Apa yang akan kau katakan?"
Rukia menahan nafas sesaat. Pipinya semakin merona parah. "Kau ... memangnya kau ..." Ia tidak pernah menyangka kalau semuanya akan begini. Perasaannya telah dibalas oleh pemuda itu.
"Ya, Kuchiki Rukia. Aku memiliki perasaan itu. Kau pasti ingat tentang waktu itu, saat aku mengatakan kau orang spesial, kan?"
Memori Rukia berputar menuju saat itu, dimana Toushiro mengatakannya kalau Rukia adalah orang spesial baginya dan akan selalu melindunginya. Ah, ia mengingatnya.
"Itu karena kau special dari siapapun. Aku akan melindungimu … karena aku sudah berjanji pada seseorang … tetapi itu bukan berarti aku hanya bergantung dengan janji, ya!"
Rukia tersenyum kecil. "Ya, aku ingat. Dan aku mengerti maksudmu waktu itu, Toushiro." Ucapnya dengan pipi merona. "Terima kasih. Aku mempunyai rasa yang sama sepertimu."
Toushiro tersenyum lalu memeluk gadis itu. "Terima kasih ya, Rukia. Aku akan benar-benar melindungimu ... seperti kemarin." Ia terlalu bahagia karena akhirnya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Rukia memendam kepalanya di pelukan hangat itu. "Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu. Aku tidak perlu dilindungi. Kau terlalu bodoh jika melindungiku seperti kemarin!" gadis itu melepas pelukannya.
"Dasar keras kepala!" ucapnya dengan intonasi yang lembut. "Oh iya ucapakan terima kasih dan salamku pada kakak iparmu itu, Ok?"
"Eh? Nii-sama?"
Toushiro mengangguk lalu tersenyum kecil. "Dulu ia yang telah membantu merawatku sejak aku amnesia dulu. Ia yang membiayai pengobatanku, operasi, rumah sakit dan sebagainya. Aku sungguh berhutang budi padanya."
Rukia mengangguk. "Lalu bagaimana dengan amnesiamu? Kau sudah bisa mengingat Momo?"
"Ya sedikit."
"Kenapa hanya sedikit? Haah~ Jawabanmu tidak memuaskan~"
Toushiro tersenyum kecil lalu mengacak-acak rambut gadis itu.
"Hei! Hentikan kebiasaan mengacak-acak rambutku! Aku bukan bocah!"
"Kau memang bukan bocah, siapa yang bilang kau seorang bocah?"
"Tidak ada. Tapi kau memperlakukanku seperti bocah~!"
"Ah, masa?"
"Iyaaa."
"Memang kau sudah dewasa?"
"Tidak aku masih remaja, kakak."
"Hahaha ... raut polosmu benar-benar lucu~ hahaha!"
Rukia memukul pelan pundak Toushiro dan lalu mencium pipi kirinya dengan cepat. Toushiro terdiam dan merona. Ia tidak percaya kalau kecupan itu nyata.
"Balasan untukmu! Hihihihi ..."
"Dasar." Tidak ada kemarahan di dalam ucapan itu yang ada hanya kelembutan.
Akhirnya kisah mereka pun dimulai dari sini dan akan terus menjadi sebuah untaian cerita yang penuh kehangatan.
.
.
.
-End-
.
.
.
A/n:
Ga tau kenapa jadinya kayak gini X_X
AAH makasih banyak reader sama reviewer #Hug Maaf ga bisa bales satu-satu. Pokoknya saya berterima kasih deh buat semua ;)
Saya tau pasti banyak typo, maafkan sayaa dan ketelatan cerita ini TTTATTT
Ada yang minat review? Review dong, pleasee
