Sreeeeek!
Suara tirai yang dibuka dengan beringasan disusul dengan cahaya matahari yang menyelusup tak sopan. Disusul lagi dengan–
"Whoaaa! Senang rasanya telah kembali ke tanah air tercinta." Pria tampan itu menatap apa yang bisa ia lihat dari lantai 78, lantai dimana kamar yang dipakainya berada. Ia meregangkan tubuhnya khas orang bangun tidur. Ia tak memakai kacamatanya sekarang ini, ya. Ia baru saja bangun tidur kan?
"Gaaaah, kau berlebihan Chun." Sebuah suara yang terdengar dengan nada mengantuk itu berasal dari sebuah gundukan yang berada di kasur ukuran raja di tengah kamar hotel yang sangat besar itu. "Tutup lagi jendelanya, aku masih mengantuk." Gundukan itu terlihat menggeliat, membuat Park Yoochun tersenyum aneh.
"Tapi hyung,"
"Atau kau mau ku lempar dari jendela yang kau buka itu, hm?"
"Ti-tidak hyung! Aku tutup, aku tutup." Jawab Yoochun tergesa, ia menutup rapat-rapat jendelanya. Uh, jahat sekali sih hyungnya. Apa ia tak menyadari jika dunia akan kehilangan ketampanan seorang cassanova jika ia mati? Dunia akan berkabung nanti. Sungguh tega.
"Tidurlah lagi, ini hari libur kitra setelah lima hari yang melelahkan kemarin."
"Iya hyung." Yoochun merengut, tapi tak urung menuruti perintah tersebut. Ia mendekati ranjang super besar itu, sebelum termenung dibuatnya. Bagaimana ia mau tidur? Gundukan panjang itu mengisi ranjang dengan posisi diagonal. Lalu ia dimana? Menindih hyungnya gitu? Ah, tak mungkin. Ia masih ingin selamat dari lemparan maut kebawah sana. Pria ini kan anti gay, sedangkan ia mengetahui jika Yoochun seorang gay. Menindihnya akan berarti cari mati. Oh no! Yoochun belum bertemu kekasihnya, ia tak ingin mati, ia tak ingin mati, sungguh Tuhan, bantu Yoochun agar tidak membangunkan macan dalam diri tubuh beruang itu sampai ia bisa bertemu dan menikmati tubuh montok kekasih hatinya itu.
"Ah, aku jadi tak bisa tidur lagi." My, orang yang tidak sepenuhnya sadar bisa berbuat jahat kan? Aduh, Yoochun melakukan kesalahan fatal. Nampaknya, pertemuan dengan kekasihnya dibulan lalu akan menjadi pertemuan terakhir, hiks. Ia harus memantapkan hati untuk dilempar pria yang wajah dan seluruh badannya itu tertutupi selimut, tapi itu bukan manusia selimut loh. Itu manusia tampan berbibir seksi dengan marga Jung dan bernama Yunho. Jika digabung, menjadi Jung Yunho. "Apa rencanamu hari ini?" Eh? Yoochun membuka sebelah matanya untuk mendapat kenyataan bahwa pria selimut itu masih asyik dengan selimutnya. Yosh, syukurlah. Tuhan baik padanya. Ia tak jadi dilempar, hehehe. Oh, pacarnya akan senang melihat wajah tampannya nanti. Karena rencananya hari ini adalah,
"Anu hyung, aku mau pergi kerumah pacarku."
"Pacar gaymu itu." iya, Yoochun tahu ia gay. Tapi disebut begitu rasanya sedikit nyesek gitu. Jangan frontal sih, bisa kan? Sedikit tersinggung tahu.
"Em." Nyeseknya Yoochun berdampak pada turunnya mood untuk bicara, lihat saja jawabannya yang begitu singkat barusan.
"Aku ikut, siapa nama kekasihmu itu? Apakah ia cantik? Secantik orang yang mendatangiku di Jepang kemarin lusa." He? Yoochun melongo. Ia kan mau pacaran, masa iya harus diganggu oleh sepupunya ini sih? Mana bisa ia ehem-ehem jika Yunho ikut. Memangnya Yunho mau menonton adegan rating dewasa ini secara live? Jika pun iya, Yoochun yang tak mau menanggung akibat yang Yunho derita nantinya. Ah tapi, mana bisa ia menolak Yunho, kalau ia diusir dari rumah yang ditumpanginya bagaimana? Kembali kerumahnya di Amerika hanya akan membuat dirinya dan dedek kecilnya menderita. Ia akan susah menemui kekasihnya itu. Hahhh~ mending turuti Yunho saja deh.
Oh, nampaknya Yoochun lupa jika tabungan miliknya memiliki belasan digit nol dibelakang, mengapa ia bertingkah seolah tiket Amerika-Korea akan membuatnya jatuh miskin ya?
"Kekasihku sangat manis dan imut. Ia tak begitu cantik. Lagipula hyung, cantiknya pria dan wanita itu berbeda. Bagiku pria selalu lebih menarik."
"Iya, karena kau gay."
Jleb!
Hueh, sabaaar-sabar Chun. Ayo tarik napas, tahaaan~, lalu keluarkan. Sabar ne, sini author puk-puk.
"Pria yang mendatangimu sangat cantik. Dan oh, aku harus segera mandi. Jadi aku beritahu ya, nama kekasihku itu Kim—"
"Jaejoong, yah. Aku juga akan mencarinya. Aku yang mandi duluan, okay." Okey, Yoochun yang tampan, sekali lagi sabar yah. Orang sabar akan semakin tampan, yakin deh. Mungkin sepupumu itu lagi kasmaran.
-oOo-
MISSION O-CYOZORA
Yunho Jung x Jaejoong Kim
Suport cast:
Junsu Kim
Yoochun Park
Hyun Joong Kim
Rated: M
(authors 1st ff with this rate. So gomeeen if the ff gonna be failed too)
Genre:
Romance
Comedy
::BOYS LOVE, NC/LEMON, OOC, OC, AU, MYSS, TYPO::
© Yunho and Jaejoong have each other, the story line and idea pures mine ©
MEMBACA INI DAPAT MENYEBABKAN DOSA ANDA SEMAKIN MENUMPUK, AI WARNING YU!
ENJOY~
-oOo-
"Mengapa kau ikut denganku? Bukan kau akan mencari Kim Jaejoong yang cantik itu?" well, Yoochun itu baik atau playboy? Enteng sekali ia memuji pria lain selain kekasihnya. Oh, telisik wajahnya baik-baik. Lihat ekspresinya yang agh, terlihat jengah walau tak mengurangi ketampanannya. Sepertinya ia hanya menyindir Yunho. Ia tak baik dan bukan playboy, oke?
"Tak boleh?" Yunho menolehkan kepalanya pada Yoochun, namun dengan berani atau nekatnya ia menginjak gas dibawah sana. Yoochun meneguk ludahnya, jika tatapan mata Yunho membuat Jaejoong meleleh, untuknya berlaku sebaliknya. Tatapan mata tajam Yunho membuatnya membeku. Apalagi kecepatan mobilnya ini, Tuhaaaan~ berapa sering Yoochun harus meminta jika Engkau akan menyelamatkan hidupnya hari ini. Sialan Kim Jaejoong, sejak hyungnya bertemu dengan pria itu. Yunho jadi sedikit beringas dan seolah sangat enteng mengatakan hal-hal yang akan menyakiti hati orang lain. Jika ketemu, akan Yoochun bungkus ia memakai karung. Lalu akan dihanyutkan di sungai Nil. Agar Yunho kembali menjadi sepupu yang baik dan kalem, uuu~ sepupu yang menjadi panutannya lahir batin deh.
"Bo-boleh kok. Tapi turunkan kecepatanmu." Yoochun berusaha menenangkan napasnya, gawat jika asmanya kambuh. Ia tak ingin menemui kekasihnya dengan keadaan yang tak baik.
"Kau takut?" Yunho menyeringai.
"Heh?"
"Kau penakut."
"SUDAH MENGATAIKU GAY, SEKARANG KAU BILANG AKU PENAKUT? RUMAHNYA TERLEWAT GARA-GARA KECEPATANMU INI TAHU!" oh, oke. Kesabaran Yoochun habis. Ia melupakan ketakutannya pada Yunho yang dimulai sejak pagi tadi. Ah, biarlah. Toh biasanya ia sering juga meneriaki Yunho. Jikalaupun Yunho membunuhnya sekarang, itu kan perbuatan setan yang merasuki tubuh sepupunya itu. Dibunuh setan yang tembus pandang, mana akan membuatnya mati. Iya tidak?
"He? Begitu ya?" Yunho menggaruk kepalanya yang tak gatal setelah menginjak remnya. "Baiklah, kita berbalik. Oh, nanti bantu aku menemukan Kim Jaejoong ne. Tapi, setelah kau menyelesaikan urusanmu dengan pacarmu itu kok." He? He. Teriakannya barusan mungkin membuat telinga setan yang merasuki tubuh Yunho sakit dan kabur dari sana. Lihat saja, Yunho kembali seperti hyung yang ia kenal.
"Maksudmu?"
"Aku hanya mengetahui namanya, sedangkan aku tak mengetahui alamatnya. Kurasa, kau lebih baik dalam mencari informasi dibandingkan aku."
"Jadi kau mau memanfaatkanku?"
"Iya."
"Jujur sekali kau hyung."
"Aku kan pria jantan. Kau harus segera mencari alamat Kim Jaejoong yang cantik itu ya."
"Ah, hyung. Bolehkah aku memberi saran?"
"Saran apa?"
"Sepengalamanku jadi gay," eaaa~ akhirnya ada juga yang bisa ia banggakan karena menjadi gay. "Pria, secantik apapun ia. Ia takkan sudi disebut cantik."
"Oh ya?" Yunho menatap Yoochun dengan pandangan mata bertanya 'benarkah?'
"Iya, hyung." Hueh, rasanya Yoochun ingin terbang, terbang tinggi sekali sampai menembus langit tujuh galaksi. Selama ini ia berguru pada Yunho, dan karana ke-gay-annya, ia bisa membalik keadaan. Ia menjadi murid Yunho tentang hal yang menjadi alasan Yoochun sering merasa sakit hati karena perkataan gurih dari Yunho.
"Tapi, wanita senang bila ku sebut ia cantik."
"Itu kan kodratnya." Oh. Benar juga ya.
"Baiklah, akan ku rayu Jaejoong dengan sebutan tampan saja."
"Memangnya akan cocok?" tidak sama sekali, ketampanan Jaejoong telah tertutupi kecantikan seorang dewi.,
"Ng~ lalu aku harus bagaimana?" yes! Yoochun berada dalam tingkat lebih tinggi dibanding panutan hatinya ini sekarang. Hehehe~
"Nanti ku ajari." Wow, Yoochun pasti keren sekali ketika mengatakannya. Ah, ia ingin sekali berblushing ria.
"Aku harus membuat Jaejoong meleleh karenaku." Oke, oke, biarkan saja keadaan seperti ini. Membuat Yoochun merasa jika keberuntungan ada dipihaknya kan tak apa, sekali-kali. Meski sangat disayangkan jika Yunho tak tahu bahwa dengan menatap Jaejoong penuh cinta ia akan membuat Jaejoong meleleh secair-cairnya.
...
"Hatchiiii!"
"Kau lupa membawa mantel kemarin? Apa di Jepang sedang musim salju? Kau flu ya? Mau ku—"
"Junnie-ya. Bisakah kau berhenti bicara? Tidak, di Jepang sedang musim semi kemarin. Tidak, aku tak memerlukan mantel, satu lagi. Aku tidak flu dan tidak perlu mengambilkanku obat flu." Eh? Padahal Junsu belum menyelesaikan pertanyaan terakhirnya, tapi Jaejoong menjawab telak pertanyaannya. Yah, jika kalian ingin tahu, Junsu selalu bertanya hampir sama persis jika Jaejoong terlihat kurang fit. "Jika ada, ambilkan aku obat untuk mengurangi sakit disini." Jaejoong menepuk pelan daerah pinggulnya.
"Tak ada hyung, kau hanya harus terbiasa." Eh? Loh? Kok Junsu tahu? Myyyyyy~ kemana kepolosan adiknya menguap? Jaejoong tak terima ah, T.T ia akan menghajar pria yang selebar jidat merenggut kepolosan adiknya yang begitu ia jaga. Awas saja jika nanti bertemu.
"Jun—"
"Tuan, ada teman tuan diluar. Ia bernama Park Yoochun." Seorang wanita berpakaian maid menunduk hormat ketika menyela ucapan Jaejoong.
"Eh? Yoochunnie ada disini? Hwaaa, aku merindukannya." Junsu langsung melesat pergi setelah mendengar ucapan dari maidnya yang satu ini, meninggalkan Jaejoong yang juga ditinggalkan maidnya pergi.
"Aw!" sakit, ini sungguhan ya? Park Yoochun itu nama pria kan? Jadi Junsu benar-benar jadi gay? Hyun Joong ternyata sudah menyesatkan adik kesayangannya. "Mati, kau ak-an ma-ti." Jaejoong melirik tajam poster Hyun Jong yang ia gantungkan didekat perapian.
"Hyung, aku akan kekamarku. Kau temani dulu temannya Chunnie sebentar." Ucapan nyaring dari Junsu membuatnya mengalihkan perhatiannya pada pria yang sedang digandeng Junsu ke lantai empat. Lantai dimana kamar Junsu berada.
Saling menatap tak terelakkan dari kedua pria ini. Ow, author tak lupa jika telah membuat narasi jika Yoochun akan membungkus Jaejoong dan Jaejoong akan menghajar pria yang telah menghilangkan kepolosan adiknya yang ternyata bernama Yoochun. Hati-hati~, jangan sampai ada percikan-percikan api yang diakibatkan kuatnya tatapan mereka.
Oh, tak ada? Iya, ya. Yoochun tak menatap tajam penuh dendam kok, tatapannya untuk Jaejoong hanya penyaluran pikirannya yang berbunyi 'Oh, Jaejoong hyungnya Su-ie, aku tak jadi membungkusnya dalam karung untuk dihanyutkan dalam sungai deh.' Dan lalu beranjak karena gandengan Junsu memaksa langkahnya berlanjut ke kamar Junsu.
Sedang kan bagi pria cantik ini, ia juga nampaknya melupakan jika akan menghajar Yoochun, ia lebih sibuk berpikir. Jaejoong seperti pernah melihat pria itu, tapi diman—
"Kim Jaejoong, aku menemukanmu." Suara yang terus melelehkannya itu terdengar. Kyaaa! Yunho, Jaejoong merindukan Yunho. Sampai-sampai ia menghalusinasikannya.
Eh tapi, suaranya bergitu nyata. Sepertinya berasal dari arah belaka—
"Yun?" wow, ternyata tanda merah di perpotongan leher dan bahunya itu canggih juga ya. Yunho benar-benar menemukannya karena tanda itu. Ia harus membuat tanda itu pada Yunho nanti. Yang banyak, supaya signalnya semakin kuat hehehe.
Errr~ sebenarnya, tanda itu tidak—tapi, yasudahlah. Jika niat Jaejoong begitu, author bisa apa?
"Jadi, kau tinggal disini?" Yunho duduk dengan sopan tanpa dipersilahkan di sofa besar di lantai satu ini.
"Iya, kau pulang?"
"Sebenarnya tak bisa disebut pulang." Sebuah suara yang berasal dari tangga menjawab pertanyaannya lebih dulu. "Yunho hyung kembali ke hotel milik ahjussi. Ia tak kembali ke rumahnya, aku ragu jika ini disebut pulang." Yoochun melanjutkan ketika ia duduk bersama Junsu dihadapannya.
"Ya, aku malas pulang. Dirumah pasti sudah ada puluhan wanita yang akan dipasangkan umma padaku. Dan juga, pria jangkung yang memaksaku jadi gay itu" wanita? Puluhan? Entah mengapa, mendengarnya saja membuat Jaejoong tak nyaman. Dan lagi, masih ada satu pria jangkung yang menyukai Yunho, ia tak salah dengar kan?
Ish, mungkin seharusnya ia tak menemui Yunho, atau Yunho tak menemukannya. Seharusnya ia hapus tanda merah dikulitnya akibat perbuatan Yunho ini. Agar pria itu tak bisa melacaknya. Well, Jae-ah, author hanya ingin mengatakan jika tanda merah itu bukan gps okay. Yunho kemari untuk menemani Yoochun yang akan menemui Junsu. Dan kebetulan yang sangat indah untuk Yunho karena kau dan Junsu kakak beradik, serta keberuntungan juga untuk Yoochun karena ia tak perlu susah payah mencari informasi.
Ngomong-ngomong tentang Junsu,
"Sejak kapan kau menjadi gay? Bukankah,"
"Iya hyung, awalnya kupikir gay itu menjijikkan. Tapi setelah menjalaninya dengan Yoochun, aku tahu jika hubungan seperti ini tak begitu buruk. Pantas saja Hyun Joong hyung mempertahankan kekasihnya waktu lalu." Ow, frustasi meter Jaejoong mulai meninggi. Bagaimana bisa Junsu dengan enteng mengatakan itu. Semua orang tahu jika—
"Keluarga Kim butuh penerus untuk kekayaan yang kita punya." Ujar Jaejoong rendah. Jika semua putra Kim membelok, mana akan ada baby lucu yang lahir. Aish~
"Kau kan lurus Hyung. Benarkan? Kau bisa melahirkan penerus-pen, maksudku istrimu bisa melahirkan penerus-penerus Kim. Iya kan hyung?" Sering berkhayal tentang melahirkan anak dari Yoochun membuat Junsu salah memposisikan kalimatnya.
Ng~
"Tik.. tok. Tik... tok. Tik... tok. Lama sekali kau menjawab. Apa kau juga menjadi gay hyung?" Junsu yang lelah dengan keterdiaman Jaejoong mengetuk jam tangan yang dipakainya untuk mendramatisir suasana.
"Apa?"
"Kau lama sekali menjawab pertanyaanku. Hanya ada dua kemungkinan untuk itu. Kau ragu-ragu, dan kau tak tahu. Dan itu merujuk pada orientasi seksualmu yang mungkin sama sepertiku."
O3O
Jaejoong kalah telak, lagi. Sebenarnya, ia sedikit mengharapkan Yunho, hanya sedikit. Tekankan itu. Karena ia berpikir akan menjadikan Junsu kambing hitam untuk melahirkan banyak putra kecil untuk menambah panjang daftar kartu keluarga Kim. Tapi, bahkan kali ini ia didahului lagi. Ish, karma. Sekarang ia yang harus jadi kambing hitam. Hueh, Jaejoong mau manyun saja, supaya emotion diatas bukan bualan belaka.
"Sebenarnya," Yunho menelurkan suara dan mendapat perhatian dari tiga pria lainnya. Diiringi tatapan penasaran dari mata yang berbeda satu sama lain itu ia berdiri. "Aku pikir Jaejoong bukan seorang homo seksual." Lanjutnya, sok tahu dia. Padahal, dia yang membuat Jaejoong ingin menjadi gay. Cih, pria menyebalkan yang tampan! Oh, sepertinya jika di eja seperti itu terdengar layaknya pujian. Lebih enak jika didengar—Cih, pria tampan yang menyebalkan. Hahah~ itulah hinaan :p
"Nah kan, jadi hyung bisa—"
"Jaejoong hanya Yunho seksual Jun,"
Oh,
O.O –Jaejoong yang sedang hobi membulatkan mata, melakukannya lagi
Eh?
'o' –Junsu melebarkan mulut dengan imutnya. Sangat imuuut, mirip dengan member gelben yang sedang berpose imut.
Hmm~
^_^ —Yoochun hanya memasang senyum carming. Ia tak mau ketampanannya berkurang dan mengakibatkan Yunho menjadi raja kegantengan in the world. Ia memang kalah dari Yunho, tapi ia tak mau terlalu banyak kalah, apalagi setelah mendapatkan kebanggaan menjadi gay senior yang bisa mengajari Yunho.
Well, sebenarnya, apa bedanya homoseks dengan Yunhoseks? Sama-sama tak bisa melahirkan kan? Kecuali jika ada keajaiban atau katakanlah khayalan tingkat tinggi yang tingginya sampai menembus tujuh lapisan bumi, tujuh lapisan lautan dan tujuh lapisan langit serta tujuh lapisan asteroid yang terjadi dalam ff ini dengan mencantumkan Mpreg sebagai salah satu genrenya. Berdoa sajalah.
Prang!
Apa yang pecah? Apa itu? oooh~
Hanya percahan kaca yang jatuh satu persatu pada lantai yang terpijak. Jaejoong tak terima dengan sebutan Yunho jika ia Yunho seksual. Itu terdengar seperti ia memuja Yunho. Itu terdengar menggelitik ditelinganya, seharusnya ia yang dipuja Yunho. Bisakah Tuhan? Kau membuat Jaejoong menang, sekali saja. Jangan buat ia yang jatuh cinta terlebih dulu, biarkan Yunho yang memujanya lebih dulu. Bisakah? Bisa dong? Pasti bisa. Harus bisa, oke?
Omong-omong, pecahan kaca itu berasal dari vas bunga disamping sofa yang diduduki Jaejoong, ucapan Yunho seolah memberinya kekuatan untuk mengangkat vas yang lumayan berat itu dan melemparnya pada Yunho. Vas itu pasti bisa membungkam omongan besar Yunho.
Sayang sekali, dengan mudah pria itu menghindarinya. Menyebabkan vas itu hanya menghantam tembok. Apa dikehidupan yang akan datang Yunho adalah seorang leader boyband yang mendunia sampai fansnya saja masuk dalam buku rekor dunia? Apa dikehidupan sebelumnya ia adalah penari atau bahkan lead dancer yang terlibat skandal saling mencintai dengan lead vocalnya sehingga gerakannya bisa sebegitu gesitnya?
Ah, haruskah matanya yang bulat dilebarkan lagi?
"Jun-Junnie-ya," suaranya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Terlihat pantulan pecahan vas itu disana. Hueee~ emosi plus harga dirinya akan membuatnya mati menggenaskan.
"Hyung-Jae hyung," ini kakak adik ngapain sih? Nada suaranya dimirip-miripin sama orang ketakutan.
"Itu~" satu kata dari Jaejoong membuat dua seme tampan di sekitar mereka mengerutkan dahi.
"Aku tahu hyung."
"Tahu apa?" Yoochun ikut bergabung.
"Itu vas kesayangan appa!" ucap kakak beradik ini berbarengan.
"Aku, akan mati. Aku mati." Ucap Jaejoong panik.
"Kau akan mati, akan mati." Lanjut Junsu dengan nada sama paniknya.
"Apa? kenapa kau mati?" Yunho mendekati pemilik wajah yang membuat iri banyak wanita itu, mengguncang bahunya perlahan. Ia pun nampaknya tertular kepanikan dua bersaudara ini.
"Appa, akan membunuhku. Otte? Otte? Huee~"
"Aku takkan membiarkan itu terjadi. Percaya padaku."
Jeng.. jeng..
Mendadak latar belakang untuk Yunho adalah gambar mentari pagi buatan anak sd dah entah mengapa kaos yang dikenakannya berubah menjadi kain tipis, elastis dan ketat berwarna biru, celana dalam merah yang dipakai didalam serta jubah untuk terbang tersampir dipunggungnya. Well, itu hanya dalam penglihatan Jaejoong saja sih, Junsu dan Yoochun tak bisa melihatnya.
"Lagipula, vas kaca seperti itu saja mengapa harus membuat appamu membunuhmu." Yunho menunjuk pecahan-pecahan itu dengan sadis. "Rumahmu sepertinya menunjukkan jika kau adalah orang kaya. Kau tak mampu membeli barang itu? hanya vas kaca seperti itu?" tanya Yunho dengan nada merendahkan.
Ha-apa tadi? Hanya vas kaca seperti itu? mudah sekali Yunho bicara.
"Kalau begitu, carikan aku satu. Berapapun harganya akan kubeli. Bahkan dua kali lipat dari uang yang kau keluarkan." Nah loh, kalo Jaejoong bisa bicara seperti itu, berarti bukan uang masalahnya. Sebenarnya apa yang membuat Jaejoong kelabakan?
Yunho mendekati pecahan itu berada, kebetulan yang baik diciptakan author dengan mata tajamnya melihat pecahan besar bibir vas yang memiliki cetakan huruf-huruf disana. Yunho bergegas mengambilnya dan melihat rangkaian huruf tersebut.
"Ah," Yunho mengusap tengkuknya. Memang bukan masalah uang jika berhubungan dengan vas ini. Tapi masalah orang yang membuatnya. Vas bening yang ternyata dibuat dari diamond itu hanya ada satu buah didunia, karena pengrajinnya sangat keras kepala. Ia tak mau membuat lebih dari satu dari setiap karyanya. Kan supaya mahal, barang langka pasti selalu mahal dong? Cerdas kan?
"Kau bisa?" Jaejoong dengan pandangan mata yang tak enak melihat Yunho.
Nah, Yun. Apa jawabanmu? Jika mengatakan tidak, harga dirimu akan ludes terlalap api. Jika mengatakan ya, ia tak bisa berjanji. Pilih mana?
"Oke, aku akan siapkan. Tapi mungkin aku butuh waktu." Yunho memilih mengiyakan saja. Jika seniman itu ingin vas ini hanya ada satu saja, takkan masalah jhika ia meminta membuatkan satu lagi. Toh yang lama kan sudah almarhum.
"Oh, kau akan membelikannya untukku?"
"Ya, aku akan membelikannya sebagai mas kawin untuk pernikahan kita."
"Uhuk!"
"Uhuk-uhuk!"
"Apa?!" nah, jika dua sejoli mengalami hal yang sama, yang berteriak kaget tentu bisa tertebak siapa dia.
"Kalian kenapa?" Yunho mengerutkan dahinya. Ada batuk karena tersedak berjamaah disana. Memang ucapannya salah? Tidak kan?
"Kau menikah dengan hyungnya Su-ie?" Yoochun bertanya dengan ekspresi yang menyisakan sedikit ketampanannya.
"Iya."
"Tapi kau kan bukan gay." Iya juga yah, tadi pagi ia masih senang mengejek Yoochun, masa tiba-tiba Yunho mau menikahi Jaejoong? itu berarti dia akan berubah haluan, menjadi g—tidak~ ia hanya Jae seksual kok XD
"Aku—"
"Baiklah, vas itu harus ada saat nanti kita menikah." Yay! Jika ia dan Yunho menikah lebih dulu, maka Junsu yang harus melahirkan bayi-bayi. Hehehe, yosh. Keberuntungan sedang berada dipihaknya. Sebentar, vas itu memang mahal dan hanya ada satu didunia. Tapi, kesannya kok sepeti Jaejoong menjual tubuhnya, hatinya, dan semua yang ada pada dirinya pada Yunho seharga vas itu. Dan lagi, sejak kapan ia bisa mengatakan 'yosh' untuk pernikahan dengan sesama pria? Ia bukan gay kaaan? Coba tolong jawab wahai pemilik alam, Jaejoong bukan gay kaan? Seharusnya ia histeris sekarang, ayolah. Supaya kelihatannya ia sangat terpaksa menikah dengan Yunho. Supaya harga dirinya aman gitu. Ayo histeris. Teriak-teriak seperti orang—Ah sudahlah, lupakan hal itu. memangnya ia gila. Ada hal yang lebih penting untuk sekarang ini kan? "Tapi, aku tak bisa disini dan tak bisa pulang ke apartmentku sebelum vasnya jadi. Appa akan menemukanku." Iya kan? Jaejoong harus cari aman dulu.
"Hyung, kau bisa membawa Jaejoong pulang." Usul Yoochun. "Kau bisa memperkenalkannya pada umma. Wanita-wanita itu pasti akan langsung diusir, pria itupun akan mundur dengan sendirinya."
"Benar juga, oh Jae. Aku akan membujuk kakek-kakek itu, berapa harganya kita bagi dua saja oke?" Yunho kembali melangkah, kali ini ia duduk disamping Yoochun.
"Bukankah kau bilang akan membelikannya untuk Jaejoong hyung sebagai hadiah pernikahan?" tanya Yoochun bingung. Kenapa hyungnya jadi terlihat pelit begini? Tak biasanya.
"Kau lihat Jaejoong itu cantik? Aku mendengar ada ramalan jika biasanya wanita cantik itu sangat suka menghamburkan uang. Kulihat di tv, ada seleb cantik yang menghamburkan uangnya hanya membeli boneka gorilla, patung kuda, figure Iron Man dan jam tangannya saja berharga miliaran rupiah." Ujarnya dalam bisikan ditelinga pria tampan yang lebih pendek darinya itu.
"Aku mendengarmu Yun," ujar Jaejoong yang entah sejak kapan berada disampingnya. "Aku bukan wanita cantik tahu! Meski aku memang suka menghamburkan uang sih." Tambahnya malu-malu.
"Nah kan, ramalan itu benar. Aku bukannya pelit, aku hanya ingin menyimpan uangku untuk Jaejoong ketika ia menjadi istriku." Ujarnya mantap. Tak ada yang menyemprot cat warna merah pada Jaejoong yah, merah diwajahnya mungkin hanya karena ia terlalu banyak makan stroberi dan ceri.
"Oh, untung saja Su-ieku itu manis. Ia tak suka menghamburkan uang. Iyakan sayang?"
"Tentu saja." Jawab Junsu bersambut dengan gesekan-gesekan manis pada pipinya dari pipi pria yang dicintainya.
"Tuan," maid yang tadi memberi tahu kedatangan Yoochun kembali lagi. Ia tak memperdulikan kegiatan yang sedang Junsu dan Yoochun lakukan, hal itu sudah sangat biasa baginya. Ia melanjutkan langkahnya pada Jaejoong yang berada disamping Yunho. "Tuan besar menelepon." Ia menyodorkan gagang telepon tanpa kabel itu pada tuan mudanya yang kini sedang melirik-lirik Yunho gelisah. Namun, ia tetap menerima benda yang disodorkan padanya itu.
"A-anyeong, appa?"
"..."
"Begitu yah?"
"..."
"Kapan?"
"..."
Prak!
He?
"Junnie, appa akan pulang besok. Aku benar-benar harus pergi."
"Baiklah, sembunyi saja dirumahku. Kupastikan vas itu akan ada tak lebih dari seminggu."
"Ung," Jaejoong menyambar ponsel yang diletakkannya. Ia juga berlari menuju lantai tiga untuk mengambil koper yang bahkan tak sempat ia buka ketika pergi ke Jepang kemarin lusa. "Junnie-ya, tolong bantu hyung! Buat appa tak menyadari jika vasnya telah tiada."
"Hyung tak perlu panik seperti itu, aku akan mengantarmu kerumah Yoochunnie."
"Itu rumahku. Yoochun hanya menumpang tahu!" Hehe, ada yang tak terima dengan ucapan Junsu.
-oOo-
Oh, hari ini rumahnya terlihat sepi, mungkin calon mertua Jaejoong tak sedang mengundang gadis-gadis untuk disejajarkan dengannya lalu berucap 'Kalian serasi, ayo menikah.' Atau 'Kau tak begitu cocok, pulanglah.'
Baguslah jika begitu. Hari sabtunya kali ini akan terjalani dengan damai sentosa.
Errr~ hanya ingin mengatakan jika jangan berharap kedamaian terlalu cepat jika sedang berada dirumah ini. Yah, meski Jaejoong, Yunho, Junsu dan Yoochun belum memasuki rumahnya sih, hanya baru sampai di depan rumah yang tak kalah mewah dengan milik Jaejoong. Karena apa? ya, tentu saja karena itu, tuh.
"Hyung! Yunnie hyung~!" gah, Yunnie? Membuat Jaejoong merasa sedang hamil tiga bulan mendengarnya. Ia mual, sungguh.
Siapa sih pria jangkung yang seenaknya memanggil Yunho dengan nama yang manis seperti itu? seharusnya hanya ia yang memanggil Yunho dengan nama itu. Menyebalkan.
"Hosh. Aku dengar da, hosh~ ri bibi kau akan pulang hari ini. Jadi aku cepat datang kemari." Pria itu berbicara meski napasnya sedang berkurang.
"Kemana mobilmu? Kau berlari dari rumahmu?" Yoochun berekspresi bingung karena keadaan yang di alami pria jangkung itu. Napas tak teratur, dan ia datang dengan berlari. Padahal pria ini bukan orang yang akan kesulitan membeli beberapa mobil mewah sekalipun.
"Iya, aku lupa dimana kunci mobilku, jadi kuputuskan untuk berlari."
"Untuk apa kau berlari? Kau bisa mencari kunci mobilmu dan kemari dengan itu." kini Yunho yang bertanya dengan wajah jengah.
"Aku tak mau bibi dan salah satu wanita yang dibawanya mendahuluiku."
"Mendahului apa?"
"Hyung! Kau harus jadi pacarku. Kau harus menjadi istriku Yunho hyung." Oi, bocah. Berani sekali berbicara begitu. Tak melihat jika akan ada pembunuhan yang akan membuatmu menjadi korban. Dan tersangkanya adalah pria cantik yang bernama Kim—he? Duo Kim yang sedari tadi terdiam kini semakin terdiam dengan wajah melongo. Jaejoong bahkan merasa ada semen basah yang menyiram tubuhnya dan akan mulai mengering, akan membuatnya menjadi patung cantik. Jadi, Jaejoong tak memiliki keinginan untuk membunuh bocah tiang ini ya?
Sedangkan duo seme tampan disana hanya mengedipkan mata mereka perlahan. Oh, wow! Pria gila mana yang akan membuat Yunho jadi seorang istri? Semestinya, berkaca dari pengalaman Jaejoong yang gagal dalam misinya kemarin, pria ini harusnya mengetahui jika Yunho adalah ultimate seme yang tak mungkin kata 'Yunho menjadi istri' akan terselip dikamus hidupnya. Jaejoong menelisik pria itu. pantas saja, wajahnya saja seperti bocah, pasti ia awet muda. Itu bukan pujian oke, itu sebuah hinaan kejam dari Jaejoong.
Yah, jika tak mau merasakan manisnya kegagalan, serta asinnya patah hati sebaiknya telan saja harapan dan keinginan itu bulat-bulat. Okay? Lupakan!
-...-
Wkwkwk, Chapter tiga nih :3 ada yang masih suka sama ff ini setelah baca chapter ini. Ah ya, aku menerima kritik, saran dan masukan untuk kelanjutan ff ini loh. Eh, eh, adakah reader ff ini yang memiliki nama Korea dengan marga Kim? Aku butuh satu OC perempuan, jika berminat dan menerima segala konsekuensinya, silahkan hubungi kotak review. Kalo nggak, yah masa aku harus ngubah Lee jadi Kim sih, nanti aku dipelototin Key *digetok YunJae*
Makasih untuk yang review, review kalian kocak-kocak. Tertular ffnya ya? *slap* makasih loh, aku senyum-senyum sendiri bacanya.
Aku pasti lanjut ff ini, aku nggak bakal ninggalin hutang didunia per-ff-an kok, Yunjae nikah ya? Gimana yah? Aku mikir-mikir dulu deh ya cindyshim07, Guest1 & yoon HyunWoon. Baidewei hei everadit aku orang bertanggung jawab kayak Papi kok. Tapi aku nggak suka dangdut loh *boong* kekeke, sama-sama pemalas seperti aku yah, males ngitungin bulu Jiji sama Taepong. Tapi yah, anggep aja Jeje tuh pinter-pinter oon. Pinter bikin Yjs delusional dan bahagia dalam kedelusionalannya *ditabok stan karena minjem kata-katanya lagi* tapi oon jadi paketannya. Oonnya di ff ini aja kok :p hehehe, makanya malah nyerahin diri secara nggak langsung dengan modus balas dendam seperti kata kamu YunHolic.Masalah bahasa, itu gara-gara aku lagi doyan fandom yang menaungi kopel RivaEren, jadi tertular deh cara nulisnya. Ncnya juga gitu, nggak eksplisit tapi nyerempet-nyerempet. Aku nggak bisa bikin Nc cobaa Lady Ze.
Makasih udah suka ya, EMPEROR-NUNEO. Yap, kan Jejenya udah balik ke Korea, mereka pasti ketemu lagi Riska0122. Yosh, uke yah uke. Terima nasib itu lebih membahagiakan tau. Sayang Jeje belum sadar. Iyakan jae sekundes, ifa. , yunnielicius*gigit/slap* Yuno, kan jentelmen :p papi aku gituloh. Masalah haluan, Jeje dan Uno disini itu gx ada yang gay, lihat deh chappie ini. Apa yang bakal dibilang Uno 3kjj, dan Guest2 mereka error karena satu sama lain. Deh, jodoh kan emang gitu. Iya nggak? Otot Jeje masih adakan sampe sekarang? Tapi tetep aja dia jadi ukenya beruang yang ototnya entah dicuri siapa :p
Geh, hari mature itu ada tau. Beranda aku sampe penuh ama gambar lima cowok yang lagi topless. Hari Kartini mana bisa cowok-cowok topless? Yang ada pada pake kebaya semua. Yah, walau Jeje mah pasti cantik walo pake kebaya juga sih. Hihihi, aku juga ketawa-tawa bayangin chara Jeje disini. Iya, iya. Aku udah jelasin juga kok ke yang reviewnya hampir sama tentang bahasa dan cara menulisnya :3 itu kata ff ret EM yang aku baca kok. Kalo juling kan nggak berkabut. Tapi matanya menatap seluruh cakrawala *eaaa* sip deh PhantoMirotic.
Khamsahamnida reviewnya, salam rindu plus manis semanis gula salju buat silent err tellen-?- reader yang ngeledek aku masalah tanggal bagus dan bilang nggak usah ngasih review reply supaya cepet-cepet update. Penasaran banget ya sama chapter tiga? Nih, nih, dateng. Ditanggal bagus, ya secara harfiah aja sih. Kan semua hari itu bagus. Itulah kata orang yang bersyukur. Aku kan anak baik yang suka bersyukur *yang diseberang muntah-muntah* Oke :p
O-Cyozora
