Naruto Masashi Kishimoto

Kau tidak menyukaiku? ghostgirl20

Main Pair SasuSaku

Warning gajeness, ide pasaran, abal, alur cepat, miss typo(s)

Akhirnya, chapter 2 jadi. Hehe

Sebenernya udah jadi bersamaan dengan chapter 1. Cuma aku mau lihat reaksi readers aja. Suka gak? Maaf ya kalau membosankan.

Bocoran? Baca aja deh ceritanya!

Makasih buat yang udah reviews. Dan juga silent reader, makasih banyak.

Ok! Let,s check it out!

Chapter 2 : Cinta yang terlalu cepat

"Lain kali, hati-hati kalau melempar bola!" Aku mendongak.

Ya, Tuhan. Apakah dia malaikat? Karena aku baru pertama kali melihat makhluk super tampan seperti dia.

Dia lebih tinggi dariku. Tangannya masih sedikit melingkari tubuhku. Bahunya lebar, dadanya bidang. Aku dapat tahu karena dia hanya memakai kaos olahraga tipis berwarna putih. Rahangnya lugas. Wajahnya tanpa noda. Hidungnya mancung.

Matanya hitam pekat seakan ada lubang di dalamnya yang siap menyedot seluruh atensiku. Rambutnya berwarna biru gelap dengan poninya yang sepanjang tulang pipinya. Bagian belakang rambutnya mencuat ke atas. Dan di dahinya ada bekas memar-

Memar?

"Dahimu memar!" Pekikku. Sontak 2 cowok berambut merah dan kuning tadi memandangi dahi cowok di depanku ini. Sampai Ino dan cowok rambut nanas mendekat untuk melihatnya.

"Aku tidak apa-apa!" Katanya merasa tidak nyaman ditatap oleh teman-temannya. Aku memandanginya dengan tatapan terharu. Bisa-bisanya cowok ini melindungiku, padahal dia tidak mengenalku.

"Kau ini Shikamaru. Kalau melempar bola yang benar, dong!" Si cowok jabrik memebrikan tanggapannya.

"Iya. Maaf. Maafkan aku, ya! Lain kali aku akan hati-hati!" Katanya senpai yang namanya Shikamaru padaku.

"Te-terimakasih. Sudah melindungiku!" Kataku dengan wajah memanas. Ino memandangi cowok di depanku ini dengan penuh selidik. Lalu memekik.

"Kau Sasuke-senpai yang sekolah di SMP Utagawa kan?" Tanya Ino.

'SMP Utagawa kan SMP ku dulu?', pikirku.

"Kau mengenalnya?" Tanyaku.

"Iya. Dia senpaiku waktu aku masuk klub basket! Benar, kan?"

"Kau mengenal mereka, Sasuke?" Kata cowok berambut merah.

"Mereka kouhai-ku dulu! Sudahlah jangan dibahas!" Katanya lalu berlalu pergi. Kedua temannya hanya melihat dalam keheranan. Tapi aku tak bisa tinggal diam. Dahinya memar karenaku. Kalau terjadi apa-apa, aku bisa dibilang tidak bertanggung jawab.

"Ino, aku akan menyusulnya sebentar. Kau pulang saja duluan!" Kataku.

"Eh, Sakura-" aku sempat mendengarnya memanggil namaku. Tapi tak kuhiraukan. Aku berlari menyusul Sasuke-senpai.

"Senpai!" Panggilku dari belakang. Aku yakin dia mendengar, tapi pura-pura tidak tahu saja. Dengan nekat, kucekal satu tangannya. Berhasil! Dia mengehentikan langkahnya.

"Ada apa?" Tanyanya gusar sambil memegangi dahinya yang memar dengan tangan lainnya.

"Ano-"

"Kalau tidak ada urusan. Cepat sana pergi!" Sewot sekali sih, dia. Aku kan bermaksud balas budi. Niatku hanya membawanya ke UKS dan memberikan obat seadanya. Setidaknya dapat mengurangi memarnya.

"Aku-"

"Kalau kau mau membawaku ke UKS, lupakan saja!"

"Senpai kenapa bisa tahu?"

"Gadis sepertimu sangat mudah dibaca! Sudahlah sebaiknya kau pulang, sana!" Dia mulai berjalan lagi. Tapi tekadku sudah bulat. Walau agak memaksa, aku harus membawanya ke UKS. Kukejar dia dan menghalangi jalannya.

"Tidak! Senpai harus ikut aku ke UKS!" Setelah mengatakan itu, aku menyeretnya ke UKS. Untung tadi sempat keliling, jadi aku tahu letaknya dimana.

Anehnya, dia menurut saja. Padahal ia kuseret begitu. Tidak elit memang. Tapi toh dia tidak protes.

Sesampainya di UKS, aku menyuruhnya duduk di ranjang. Tapi ia malah duduk di kursi dekat jendela yang sudah terbuka.

"Di kursi saja"

Kubiarkan saja. Daripada nanti dia berontak tak mau kuobati. Malah aku yang repot!

"Ada tidak, ya? Ah, ini dia!" Aku langsung mengambil salep penghilang memar dari kotak obat yang menempel di dinding dan memutar tutupnya. Bentuknya jeli, jadi mudah digunakan.

Aku menarik sebuah kursi lagi dan memosisikannya di samping kursi Sasuke-senpai.

"Maaf, bisakah senpai lihat kesini!" Mintaku. Langsung saja dia menolehkan wajahnya yang tadi sedang memandang ke luar jendela.

Langit sudah menunjukkan tanda-tanda akan terbenamnya matahari. Dan betapa aku sangat terkagum-kagum dengan wajah tampannya saat bermandikan cahaya jingga dari luar jendela.

Aku sempat mematung melihatnya. Lalu tanpa sadar, ia sudah melambaikan tangan di depanku.

"Kau kenapa?"

"Ah, maaf!" Kataku. Dengan gugup aku mengoleskan salep jeli itu ke dahinya. Awalnya aku kesulitan, karena sebagian memarnya berada di balik poninya. Aku meminta ijin padanya agar boleh menyingkirkan sedikit poninya.

"Maaf, karena ponimu menutupi memarnya. Boleh tidak kalau aku menyibaknya sedikit?"

"Hn," jawabnya singkat. Aku memberanikan diri menyentuh poninya. Dan ternyata sangat halus. Aku sampai malu. Sebagai wanita, rambutku bahkan tidak sehalus itu. Aku berdehem menghilangkan kegugupanku. Lalu mulai mengoleskan salep jeli tersebut.

"Siapa namamu?" Tanyanya.

"Apa?"

"Namamu?" Ulangnya.

"Haruno Sakura," jawabku.

"Hn! Sakura..." Gumamnya sambil menyeringai. Ya Tuhan! Seringaiannya membuatku kaku dan gemetar. Tanganku yang mengoleskan salep jeli, tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Apakah aku jadi suka pada senpaiku ini? Senpaiku yang baru saja kutemui?

"Kenapa?" Tanyanya dengan menatapku heran. Ia menaikkan alisnya sebelah.

Beberapa detik, kami berdua hanya diam saja. Saling melihat satu sama lain tepat di manik mata. Lalu tiba-tiba tangan Sasuke-senpai menggenggam tanganku yang tadi mengolesi dahinya dengan salep jeli. Kemudian ia menarikku lebih dekat dengannya. Dan hendak menciumku.

Wajah kami sudah sangat dekat. Jantungku berdetak tidak karuan. Aku terbawa suasana dan memejamkan mataku. Pasrah menanti apa yang akan terjadi.

Kutunggu beberapa detik. Tidak ada yang terjadi. Belum ada yang menyentuh bibirku. Penasaran, aku membuka mataku. Dan kulihat Sasuke-senpai sedang menundukkan wajahnya sambil membekap mulutnya dengan satu tangannya yang lain.

"Hmph..." Kudengar suara tertahan saat ia mencoba menahan tawanya. Aku langsung malu dan menarik paksa tanganku yang digenggam olehnya.

"Kau!" Aku bahkan sampai bingung mau berkata apa. Mau memakinya, tapi aku kan baru mengenalnya. Mau menjitak kepalanya, tapi tadi aku baru saja dilindunginya dari lemparan bola basket yang nyasar.

Jadinya aku hanya bisa meremas rokku dengan erat. Menahan amarah yang kalau tidak kutahan, sudah siap meledak sekarang.

Selang beberapa menit, dia hanya tertawa geli. Tapi tak bersuara. Hanya terlihat bahunya yang berguncang. Namun, akhirnya ia berhenti. Ia menarik napas panjang sebelum bicara padaku.

"Rumahmu dimana? Aku akan mengantarmu!" Katanya. Aku masih marah padanya. Bisa-bisanya dia menggodaku begitu. Hasilnya, aku tidak menghiraukannya.

"Kau marah padaku?" Tebaknya.

"Pasti begitu!" Dia kembali tersenyum jahil. Ya iyalah marah. Aku kan wanita. Kau sudah membuat jantungku hampir copot dan kau malah bertingkah seolah tak bersalah.

"Ayolah! Sudah hampir malam!" Katanya lalu menarik tanganku keluar dari UKS. Ia mengajakku ke lantai 2 gedung sekolah. Mungkin ke kelasnya. Dan ternyata benar.

Dia tetap menggandeng tanganku saat memasuki kelasnya. Tangan besarnya mampu menggenggam seluruh pergelangan tanganku yang kecil. Aku merona malu karenanya. Tapi kucoba menutupinya. Kalau tidak, dia bisa tertawa lagi.

Sasuke-senpai menghentikan langkahnya, ketika ia melihat ada seorang gadis di dalam kelas.

"Shion?" Kata Sasuke-senpai. Mungkin itu nama gadis itu.

"Sasuke-kun! Kau kemana saja? Kau meninggalkan tasmu disini," katanya.

"Itu siapa?" Tanya Shion.

Apa dia pacarnya? Secara tidak sadar, aku bergerak mundur selangkah.

Sasuke langsung saja melepas genggamannya di tanganku. Atau mungkin bisa kusebut mengibaskan tanganku.

Sungguh, rasanya begitu kecewa. Aku tidak menyukainya, kan? Tapi, kenapa hatiku rasanya sakit? Aku memberanikan diri memandang wajah Sasuke-senpai.

Bertambah sakitlah hatiku. Pandangannya begitu lembut dan sendu. Kualihkan pandanganku pada si gadis. Sama. Ia juga melihat Sasuke-senpai dengan pandangan sendu.

Tiba-tiba aku merasa berada di antara mereka berdua. Apa aku merusak hubungan mereka? Karena tatapan shion berubah menjadi tatapan yang sulit diartikan.

"Senpai, terimakasih sudah menolongku tadi! Aku bisa pulang sendiri," Kataku. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku mengatakan itu. Tapi sepertinya itu yang terbaik.

Aku langsung berbalik keluar dari kelas dan berlari menuruni tangga.

Apa aku menyukainya? Bukankah ini cinta yang terlalu cepat?

.

.

.

.

.

Aku berjalan gontai ke arah gerbang sekolah. Hari ini aku sengaja minta berangkat sendiri Hitung-hitung, mengalihkan perhatianku dari kejadian memalukan dan menyakitkan kemarin.

Menyakitkan? Kenapa aku bersikap seolah-olah Sasuke-senpai adalah milikku. Aku kan baru saja mengenalnya kemarin.

Aku berjalan malas ke arah tangga. Kelasku ada di lantai tiga. Di gedung yang sama seperti kelas Sasuke-senpai. Untuk menghindari bertemu Sasuke-senpai, aku berjalan memutar dan naik lewat tangga sebelah barat. Tangga itu jarang dilalui orang.

Takut? Tidak. Aku tidak pernah pusing memikirkan hal-hal seperti hantu ataupun makhluk tak kasat mata lainnya. Toh, mereka tidak bisa kulihat.

Kakiku rasanya malas sekali digerakkan. Mungkin efek dari kejadian kemarin, yang sampai sekarang masih teringat jelas di pikiranku.

Sampai sejauh ini, aku belum bertemu siapapun. Kecuali beberapa anak yang menggosip dan sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Dasar! Bikin moodku makin buruk saja.

Aku sudah akan naik ke tangga yang akan membawaku ke lantai 3. Saat aku menginjakkan kakiku ke anak tangga pertama, aku mendengar suara yang kukenal. Takut-takut, aku memutar tubuhku dan berjingkat ke belakang tembok.

Selama ini aku tidak pernah mengintip orang. Hanya saja kali ini otakku sedang konslet. Jadinya sekarang aku mencuri dengar pembicaraan yang seharusnya tak kulakukan.

-tsuzuku-

Don't forget, reviews !

Makasih buat iqma96

arigatou gozaimasu