Naruto Masashi Kishimoto
Kau tidak menyukaiku? ghostgirl20
Main Pair SasuSaku
Warning gajeness, ide pasaran, abal, alur cepat, miss typo(s)
Akhirnya, chapter 3 jadi.
Makasih, untuk para pe-review yang sudah memberikan semangatnya. Aku sangat-sangat-sangat berterimakasih dan sangat menghargainya.
Untuk silent readers, aku mengharapkan review kalian! Menerima segala bentuk kritik dan saran, asal jangan nge-flame. Gak kuat aku...
Btw, di chapter ini, Sasu agak ooc. Hehe, tapi gak melebihi batas Uchiha, kok!
Ok! Let,s check it out!
Chapter 3 : Pengakuan Si 'DIA'
Selama ini aku tidak pernah mengintip orang. Hanya saja kali ini otakku sedang konslet. Jadinya sekarang aku mencuri dengar pembicaraan yang seharusnya tak kulakukan.
"Ada apa, Shion?" Sepertinya itu suara Sasuke-senpai. Ugh! Hatiku kok berdenyut hanya karena menyebutkan namanya.
"Ano, Sasuke-kun. Kemarin itu..."
Lalu aku tidak mendengar suara lagi selama beberapa saat. Mungkin Shion-senpai gugup. Pesona Sasuke-senpai memang hebat. Ugh! Aku memikirkannya lagi.
"Kemarin itu, bukan siapa-siapa. Dia hanya Kouhai-ku saat SMP. Kalau itu maksud pertanyaanmu!" Suara itu, begitu jernih. Melengking dengan nada sempurna yang membuatku kalut sesaat. Apalgi perkataan yang menyentil hatiku itu.
"Benarkah? Syukurlah!"
Oh! Jadi dia menanyakan statusku? Itu benar. Seperti yang Sasuke-senpai katakan, aku bukan siapa-siapanya. Dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapanya.
Dasar hati sialan! Hati ini terus saja berdenyut nyeri. Kalau bisa, akan kuganti dengan hati baru yang lebih kuat.
"Hn,"
"Oh, ya! Sasuke-kun, nanti sepulang sekolah bisa temui aku di gedung olahraga? Ada yang ingin aku bicarakan!"
"Tentu,"
"Terimakasih!" Shion-senpai tersenyum dengan manisnya. Lalu berjalan pergi. Entah mau. kemana. Tentunya dengan Sasuke-senpai.
Hatiku semakin panas saja. Melihat sepasang muda-mudi itu berjalan beriringan. Sasuke-senpai terlihat nyaman saat Shion-senpai menggaet lengannya.
Ah! Kenapa aku tetap disini kalau begitu? Bikin sebal saja!
.
.
.
.
.
TING TONG TENG TUNG
TUNG TENG TING TONG
Bunyi bel tanda masuk sudah berbunyi. Aku sudah sampai ke kelas sekarang. Dari tempat dudukku yang dekat dengan jendela, aku bisa melihat Ino yang masih saja mengobrol dengan senpai kemarin di depan kelas.
Yang mana? Tentu yang jabrik. Yang namanya Naruto. Ino kan suka dengan cowok yang model kekanakan begitu. Apalagi mereka memiliki kesamaan. Mereka memiliki warna mata yang sama juga warna rambutnya. Sama-sama biru dan pirang.
Aku memandang mereka dengan bosan sambil menunggu sensei datang. Hari pertama menerima pelajaran, senseinya justru datang terlambat. Menyebalkan!
"Hei,hei Naruto. Ayo kembali ke kelasmu di bawah!" Aku lihat seorang sensei yang menenteng buku di pundaknya, mengusir Naruto-senpai yang masih ngobrol dengan santainya. Ino pun sudah kembali ke bangkunya yang persis di depanku.
Rambut sensei itu keperakan. Dia memakai masker yang menutupi sebagian wajahnya. Walaupun begitu, senyumnya sangat khas. Membuat yang melihatnya merasakan keramahannya. Walaupun raut wajahnya terlihat malas.
"O~hayou, Minna!" Katanya membuka awal pelajaran.
"Maaf! Pagi ini aku agak tersesat di jalan yang bernama kehidupan!"
Memangnya ada? Sensei satu ini ada-ada saja!
Siswa yang lain mendengarkan dengan seksama penjelasan dari guru olahraga sekaligus wali kelas kami, Kelas 1-3.
Ia sedang menjelaskan tentang festival olahraga yang akan diadakan 2 minggu lagi. Jadi dia membutuhkan 2 orang dari setiap kelas 1 yang baru masuk untuk bergabung menjadi panitia dengan para senpai.
"Nah, anak-anak. Siapa diantara kalian yang berminat untuk menjadi panitia?"
Tidak ada jawaban sama sekali. Mungkin karena masih tahun pertama, jadi tidak ada yang berani mengajukan diri. Karena jujur saja, menurut pengalamanku sewaktu SMP. Festival olahraga sangat melelahkan. Dibutuhkan berbagai persiapan dan ujung-ujungnya, badan terasa sangat pegal. Tapi jangan lupakan keseruannya juga.
Aku tidak berminat untuk jadi panitia. Buang waktu dan tenaga saja. Tapi sepertinya, sahabat pirangku tidak berpendapat sama.
"Eh, Sakura. Kita mencalonkan diri, yuk!" Kata Ino yang menghadapkan tubuhnya padaku. Aku dapat melihat udang dibalik batu di matanya.
"Tidak, ah! Malas, pasti repot!" Kataku.
"Oh, ayolah! Kita bisa mengakrabkan diri dengan para siswa dan senpai yang lainnya nanti," katanya dengan antusias.
"Tidak, Ino. Aku tidak mau," kataku dengan nada sedikit keras. Dan sepertinya membuat Kakashi-sensei mengalihkan perhatiannya padaku dan Ino.
"Kalian berdua, kalian kupilih jadi panitia festival mewakili kelas 1-3!" Katanya dengan senyumnya. Tiba-tiba, aku berubah pikiran tentang senyumnya yang ramah. Ugh! Menyebalkan!
Aku mendengus kesal. Moodku hari ini benar-benar rusak. Dan Ino, dia sedang tertawa riang karena dipilih menjadi panitia. Dengan begitu, rencananya untuk berkenalan dengan senpai ganteng semakin terbuka lebar. Ino bahkan sudah mengacungkan 2 jarinya.
"Peace!" Katanya. Aku memutar mata bosan.
.
.
.
.
.
Aku dan Ino dipanggil ke aula untuk rapat seputar festival olahraga. Saat aku sampai disini, sudah banyak murid lain yang sedang menunggu sambil mengobrol atau bahkan duduk-duduk di pinggir panggung.
"Eh, Sakura! Kira-kira Naruto-senpai, Sasuke-senpai dan Gaara-senpai ikut tidak, ya?"
"Mana kutahu!" Jawabku sekenanya. Sasuke-senpai lagi, Sasuke-senpai lagi!
"Eh, Sakura! Itu..itu!" Katanya sambil menarik ujung lengan kemeja seragamku.
"Apa sih, Ino?"
Mataku mebelalak sempurna saat Sasuke-senpai dan Naruto-senpai masuk ke dalam aula. Naruto-senpai dengan gaya santainya-menyilangkan kedua tangannya di belakanhg kepalanya- dan Sasuke-senpai yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Halo, Naruto-senpai, Sasuke-senpai! Kalian juga jadi panitia festival?" Tanya Ino. Sepertinya dia benar-benar tertarik dengan cowok ceria itu.
"Iya, tentu saja. Aku senang saat bisa jadi bagian dari kegiatan sekolah!"
"Bilang saja kau mau kenalan dengan cewek-cewek!" Sahut Sasuke-senpai. Aku mengalihkan pandanganku pada Sasuke-senpai. Ia berdiri tak jauh dariku. Tepatnya di sebelah Naruto-senpai, yang sedang berdiri di samping Ino.
Aduh! Melihatnya membuatku ingat akan kejadian kemarin dimana Sasuke-senpai mengibaskan tanganku. Dan juga janjinya dengan Shion-senpai tadi pagi.
Janji? Oh, ya! Sepulang sekolah, mereka akan bertemu. Shannaro! Pikiranku ini seperti punya otak sendiri. Selalu memikirkan hal-hal yang tidak ingin kuingat.
Setelah itu, kami hanya diam. Maksudku aku dan Sasuke-senpai. Karena Naruto-senpai dan Ino sedang berbincang. Aku rasa beberapa hari lagi mereka akan jadian. Chemistry sudah cocok, tinggal mengucapkan 'aku suka kamu'. Selesai perkara.
.
.
.
.
.
Rapat tentang festival olahraga telah berakhir. Walaupun rapatnya lama sekali. Hampir 3 jam. Itupun masih akan dilanjutkan 2 hari lagi. Tapi untunglah, sekarang sudah waktunya pulang sekolah.
"Hua, capeknya! Hei, Sakura mau mampir tidak ke Ichiraku? Aku mau makan Ramen!" Ajak Ino saat menuruni tangga menuju ke lantai 2.
"Ramen? Sepertinya boleh juga. Kebetulan aku sedang lapar!" Kataku semangat. Memang betul. Dari tadi perutku sudah bunyi. Rasanya rapat tadi menguras tenagaku.
Aku dan Ino sepakat ke kedai Ramen Ichiraku yang letaknya tak jauh dari sekolah kami. Saat melewati koridor kelas 2-5 -kelas Sasuke-senpai- aku melihat Sasuke-senpai sedang berjalan keluar kelas. Kami berpapasan.
"Ah, Konichiwa! Sasuke-senpai? Sudah mau pulang, ya?" Tanya Ino. Mungkin sekedar berbasa-basi.
"Hn," aku sangat gugup saat Sasuke-senpai tiba-tiba menatapku. Langsung saja aku mengalihkan mataku darinya. Pura-pura saja aku melihat dinding di samping kelas. Padahal disana tidak apa-apa. Aku hanya berdoa semoga dia tidak menyadarinya.
"Sasuke, nanti jadi, ya!" Kata Shion-senpai yang keluar dari kelas. Di belakang Sasuke-senpai.
"Hn. Tapi, aku mau ke ruangan klub dulu, sebentar saja!" Kata Sasuke-senpai. Apa itu? Apa itu rona merah di wajah Sasuke-senpai? Ya, Tuhan!
"A-ayo, Ino," seretku pada tangan Ino.
"Eh, eh! Tunggu, Sakura! Jaa, Sasuke-senpai!" Katanya. Duh, bikin aku tambah gugup saja. Dasar Ino-buta!
"Kau ini kenapa sih?" Tanya Ino. Kami sudah melewati gerbang sekolah. Berjalan di sepanjang jalan menuju Ichiraku.
"Memangnya aku kenapa?" Elakku. Mungkin wajahku begitu kentaranya kalau sedang galau. Galau? Apa iya,ya?
"Wajahmu saat memandang Sasuke-senpai itu loh! Kok galau begitu?" Tanya Ino yang sekarang sedang berjalan mundur di depanku. Ia menyelidiki wajahku.
"Apa ada sesuatu yang terjadi, kemarin?"
Kemarin? Sebenarnya kemarin tidak terjadi apa-apa. Hanya aku saja yang terlalu cepat Ge-er. Tapi perlakuan Sasuke-senpai yang membuatku tiba-tiba jadi sering berdebar. Salah sendiri menggodaku.
Lalu yang membuatku sangat kaget. Dia mengibaskan tanganku saat bertemu dengan Shion-senpai. Padahal, selama perjalanan dari UKS menuju kelasnya, dia terus menggandengku. Apa mungkin waktu itu dia tidak sadar, ya?
"Sakura, apa kau mengenal cewek yang bersama dengan Sasuke-senpai tadi?".tanya Ino yang sekarang sudah berjalan normal di sampingku.
Ingatanku tiba-tiba melayang ke kejadian tadi pagi saat aku mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Oh, ya! Sasuke-kun, nanti sepulang sekolah bisa temui aku di gedung olahraga? Ada yang ingin aku bicarakan!"
Mau apa ya mereka di gedung olahraga? Apa Shion-senpai mau menyatakan cinta pada Sasuke-senpai?
Seketika kuhentikan langkah kakiku.
"Kenapa Sakura?"
Aku ingin tahu. Aku penasaran. Sedikit saja aku mau mengetahui apa yang mereka lakukan.
Langsung saja aku memutar tubuhku dan berlari kembali menuju sekolah. Padahal aku sudah lumayan jauh berjalan.
"SAKURA? KAU MAU KEMANA?" Teriak Ino. Aku tidak peduli. Jika Ino mengejarku dan mengetahui maksudku mengintip Sasuke-senpai. Aku tidak bisa mengacuhkan perasaanku yang menggebu.
.
.
.
.
.
Aku sampai. Aku sudah berada di luar gedung olahraga. Napasku tersengal-sengal. Aku membungkukan badanku dan menumpukan kedua tanganku ke lututku.
Tiba-tiba Sasuke-senpai datang dari arah lapangan. Aku kaget dan cepat-cepat mencari tempat sembunyi. Bodohnya aku justru masuk ke gedung olahraga.
Aku celingukan mencari tempat sembunyi. Dan hari ini sepertinya Tuhan sedikit membantuku. Di sampingku ada sekumpulan keranjang besar berisi bola basket, bola voli, dan bola sepak. Aku langsung saja sembunyi di baliknya.
Dari sini, aku bisa melihat Shion-senpai. Aku bisa dengan leluasa melihat gerak-gerik mereka.
Shion, maaf! Tadi ada rapat tentang turnamen basket. Jadi aku..." Tiba-tiba Sasuke-senpai datang.
"Tidak apa. Aku mengerti!"
"Apa yang mau kau bicarakan?"
"Ano, aku..."
Jantungku berdebar. Untung jantungku berada di dalam tubuhku. Kalau tidak mereka pasti sudah mengetahui keberadaanku.
Shion-senpai tampak gugup. Dia mengaitkan kedua tangannya menjadi satu. Lalu berganti meremas rok seragamnya.
"Shion?" Tanya Sasuke-senpai.
"Itu, aku. Aku se-sebenarnya menyukai..."
Aduh, kenapa berhenti? Cepat selesaikan. Kau menyukai siapa?
"Menyukai...Ga-Gaara!"
JEDEERRR
Rasanya aku kaget setengah mati mendengarnya. Si senpai cewek ini menyukai senpai yang berambut merah itu. Jadi...jadi bukan Sasuke-senpai?
-tsuzuku-
Don't forget, to reviews !
Special thanks to
iqma96
hanazono yuri
hidan gila
pertiwivivi2
desypramitha2
arigatou gozaimasu
