Aku terbangun dengan Siwon yang memelukku erat, semalaman kami bergelung di atas sofa yang menghadap jendela, menikmati sisa malam hingga terlelap. Suara helaan nafasnya terdengar pelan tepat ditelingaku, aku semakin mendekatkan kepalaku pada ujung hidungnya, lama aku seperti ini hingga bibir siwon tertarik dan membentuk sebuah senyuman.

"Morning chagi" Bisiknya mengecup pelipisku, aku hanya tersenyum mengecup pipinya, memeluk lengan kokohnya.

"Manja eoh?" Godanya, aku mempoutkan bibir. Ia terkekeh lalu mengacak kepalaku gemas

"Jja, hari ini apa yang akan kita lakukan baby?"

Aku berbalik menatapnya dengan mata bersinar, jariku mengetuk dagu, berfikir sejenak sebelum meminta siwon mengambilkan note kecil disampingnya.

Aku ingin berjalan-jalan ke taman, menikmati bunga-bunga yang berguguran, lalu minum es krim, lalu..eumm apalagi ya..

Siwon tertawa saat aku memperlihatkan note kecilku dengan mimik berfikir.

"Ne, baby..apapun yang kau inginkan" Ucapnya memelukku gemas, jemari kami saling terpaut, aku menahan haru melihatnya. Siwonku..ya dia adalah Siwonku, Siwonku yang selalu ada dan mencintaiku, selamanya.

"Lalu, mana morning kiss ku baby?"

Aku mencubit perutnya pelan, ia meringis namun kembali tertawa sambil mengecupi seluruh wajahku, aku terkikik geli dengan tindakannya hingga ciuman itu terhenti didepan bibirku, ia memandangnya sebentar lalu mengecupnya pelan, sangat pelan.

"Saranghae baby..always, forever.."

Aku tersenyum, memeluknya erat, menghirup aroma maskulin dari tubuhnya yang bahkan belum mandi hehehehe.

"Jja baby, mari kita bersenang-senang hari ini" Siwon tiba-tiba berdiri menggendongku dengan Bridal style, membuatku nyaris memekik kaget lalu memeluk lehernya, ia tertawa dengan berlari membawaku ke kamar mandi.

(SIWON)

JANGAN BABY-KU

Jika seandainya waktu dapat aku kembalikan dan kuganti dengan yang baru, akan aku lakukan sekarang juga. Sungguh aku tidak akan sanggup menatap Kyuhyun-ku seperti ini

Lihat saja sekarang, Kyuhyun-ku tengah terlelap bersandar pada dadaku, dengan mulut dan jari-jemari yang belepotan ice cream coklat, serta lihatlah tatapan orang-orang itu, kenapa? Apa tidak boleh aku menyayangi Kyuhyun-ku?

"Kyu, aku tahu kau tidak tertidur bukan?" Bisikku, aku sibuk membersihkan mulut dan jari-jarinya dengan ujung lengan bajuku, bodohnya kami karena lupa membawa setidaknya beberapa tissue atau sapu tangan.

"…"

"Bukalah matamu"

Aku menatap Kyuhyun yang membuka perlahan matanya, Dan astaga, sebuah bulir bening jatuh bertepatan dengan berlian kelam itu menatapku. Aku menghapusnya perlahan

"Wae?"

Kyuhyun-ku menggeleng namun pandangannya teralih pada orang-orang yang tengah menatap kami dengan pandangan merendahkan.

"Ssstt, dengarkan hyung, apapun yang akan mereka katakan itu sama sekali tidak akan merubah kita, mereka tidak tahu apa-apa tentang kita, tentang cinta kita dan perjuangan kita, biarkan saja mereka seperti itu"

Jelasku, Kyuhyun menggeleng.

"Chogi.."

Aku dan Kyuhyun sontak berbalik saat seorang yeoja menginterupsi.

Yeoja tersebut tersenyum manja padaku, aku hanya mengernyit bingung.

"Chogi, oppa bisakah kau mengambilkan balon kami? Itu itu tersangkut pada pohon di atas oppa" Ucapnya manja, aku melirik Kyuhyun sekilas, ia hanya tersenyum dan mengangguk. Aku berdiri dengan sangat pelan, menyandarkan Kyuhyun-ku pada kursi taman dan mengecup dahinya sekilas.

Aku berusaha mengambil balon yang tersangkut pada dahan yang cukup tinggi, dengan sedikit melompat dan Hup

Bruukkk..

Aku berhasil meraih balonnya namun tubuhku limbung dan menubruk yeoja tadi hingga kami terjatuh dengan aku diatasnya, hal ini tidak yeoja genit itu sia-siakan, dengan cepat ia mengecup bibirku. Mataku membulat lalu bergegas berdiri dan menatap Kyuhyun-ku yang kini mengalihkan pandangannya, bahunya bergetar. Aku yakin ia tengah menangis

"Kyu"

"Oppa, gomawo.."

Yeoja itu lagi, aku menggeram kesal.

"Yak! Bisakah kau lebih sopan pada calon suami orang lain huh? Dasar yeoja genit" Aku membentak Yeoja centil itu, hingga matanya ingin menangis. Tapi aku tidak perduli, Kyuhyun-ku jauh lebih penting dari anak kecil ini.

"Hiks..Hiks.." yeoja tadi berbalik dan berlari, membuat semua pandangan orang-orang kini memandangku.

"Yak! Namja kurang ajar, kau harusnya lebih sopan pada wanita"

"Ne, itu benar, tapi sudah sepantasnya ia seperti itu, lihat saja kekasihnya itu, seorang namja"

"Huh? Apa bagusnya memiliki hubungan dengan namja penyakitan seperti itu, sebentar lagi akan mati bukan? Hahaha"

Semua suara-suara itu mencemohku dan kyuhyun-ku, aku mengepalkan jemariku, melirik sebentar ke arah Kyuhyun yang kini menunduk dengan kepala menggeleng pelan, jemarinya menutup kedua telinganya.

"Kalian tidak akan tahu bagaimana aku.." Lirihku

"…"

"Kalian tidak akan pernah mengerti apa yang tertanam disini, disudut hatiku yang paling dalam, rasa ini.. luka ini.. duka ini.. bahagia ini.. hanya dia, hanya seorang Kyuhyunlah yang mampu mengendalikannya"

"..."

"hanya seorang namja yang kalian katakan penyakitan, namja yang kalian katakan tak akan mampu membuatku bahagia"

"..."

"Kalian salah..karena hanya dia, yang mampu membuatku bertahan hingga kini, karena dia..Kyuhyun-ku"

Aku berbalik menatap Kyuhyun dengan senyuman miris, matanya memerah sendu, lelehan airmata itu masih tercetak jelas, aku berjalan mendekatinya.

"Kajja kita pulang baby" dengan lembut aku menaikkannya pada punggungku, Kyuhyun memeluk leherku erat, wajahnya ia sembunyikan pada ceruk leherku.

Aku berjalan melewati orang-orang tidak berperasaan dengan pandangan menusuk.

"Kalian tahu, aku tidak akan segan-segan membunuh siapapun yang melukai Kyuhyun-ku"

Dengusku, Kyuhyun hanya memukul bahuku pelan.

...

Aku menatap namjaku yang tengah terlelap disampingku, aku menyusuri wajahnya yang pucat, rahangnya yang kian menegas, ceruk hitam dibawah matanya, bibir plummy yang terkatup rapat. Aku menyusuri semuanya dalam diam, perlahan kududukkan tubuhku, wajahku seakan tertarik ke arah kanan, menatap sendu salah satu laci meja nakas, jemariku refleks menariknya sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Sepucuk surat teronggok disana, diantara beberapa kertas-kertas usang lainnya. Aku membuka sampulnya, kubaca lagi sekilas, dadaku bergemuruh.

Osteosarcoma..

Osteosarcoma…

Osteosarcoma….

Ku ulang dan ku ulang lagi sebaris kata di sudut bawah lembaran terakhir surat itu, airmataku menetes, bagaimana mungkin namjaku menderita penyakit mengerikan itu? Aku mengacak rambutku depresi, menghapus kasar airmataku lalu beranjak keluar kamar, takut jika isakanku malah terdengar kyuhyun.

Aku memilih berbaring telentang menghadap langit malam di taman belakang.

1..2..3..4.. Ah banyak.

Jemariku mencoba menggambar wajah kyuhyun dengan deretan bintang-bintang yang terpencar, mengulaskan sebaris senyum sebagai sentuhan akhir.

"Bintang pun tahu kau sangat manis baby.." ucapku entah pada siapa, kembali berkutat menggambar kyuhyunku dengan pose berbeda. Aku tersenyum, begitu banyak kyuhyun yang sekarang melayang dihadapanku, terpahat disemua bintang yang mampu tertangkap retina mataku.

Aku masih tersenyum yang entah mengapa terasa semakin miris ketika beberapa bintang itu bergerak dan membuat senyum kyuhyunku memudar.

"kau tidak akan seperti bintang itu kan baby?" Aku kembali bertanya entah pada siapa

"Kau akan tetap bersamaku kan?" suaraku semakin serak, mataku memanas

"Kau jangan pernah meninggalkanku.. jangan pernah" Ucapku memejamkan mata, membiarkan lelehan airmata membasahi pelipisku.

(KYUHYUN)

MAAF

Aku terbangun saat dingin menyerang punggungku, jemariku terangkat mencari sosok Siwon yang biasanya sangat posesif memeluk perutku, aku berbalik saat jemariku tak menjamah tubuhnya, mataku membulat sempurna saat siwon tidak ada disebelahku bahkan disekitar kamar. Aku berusaha bangkit, sayang sekali kursi rodaku berada jauh dariku, aku mendecih ini pasti kerjaan siwon, dengan susah payah aku berusaha berdiri dengan menumpukan beban tubuhku pada pinggiran meja nakas, aku menghela nafas saat keseimbanganku terlihat bagus, kucoba melangkahkan kakiku sedikit dan fyuh satu helaan nafas lagi berhasil lolos, aku mencoba berulang kali hingga tubuhku mampu terduduk di sofa depan jendela, aku tersenyum, bahagia dengan kemampuanku sendiri.

'Eh, itu bukannya siwon hyung? Apa yang ia lakukan?' bathinku, saat kulihat siwon terbaring di atas rerumputan dengan jemari terangkat seolah-olah menari diantara angin, aku menatap mawas setiap pergerakannya hingga dapat kulihat bulir airmata menetes dari balik matanya yang kini terpejam.

Dadaku bergemuruh, detakannya menusuk tepat dijantungku, aku tahu ini akan terjadi juga, cepat atau lambat. Siwon.. aku tahu ia ingin bahagia, dan denganku bukanlah orang yang tepat.

Aku meremas dadaku, merasakan betapa egoisnya aku, harusnya hingga detik ini siwon masih mampu tersenyum bahagia, harusnya aku mampu berbaring bersamanya disana, menyanyikan sebuah bait indah dan menghitung bintang disana, atau bermain trampolin yang kini rasanya mustahil mampu aku lakukan.

Aku menatap sekilas refleksiku di cermin besar yang menempel tepat disampingku, sebuah foto terlampir di ujung atas, terselip diantara cermin dan bingkainya, itu fotoku, beberapa tahun lalu, aku mulai membandingkan dengan ragaku kini, hanya satu kata..menyedihkan.

"Ugh.." Aku merasa sesuatu seakan membelah 2 tubuhku dari belakang, rasanya semakin menusuk.

"Arggghhh.." Aku merosot hingga ke lantai, sakit itu menyusup hingga ke saraf kepala belakangku, membuat kepalaku terasa dihantam berulang kali, tulang hidungku melinu dan..

Tes..tes..

Dua tetes darah terlihat kontras pada lantai marmer kamarku, hidungku mengeluarkan darah, mataku memburam.

"Baby!" Suara itu, siwon berlari kearahku, mengangkatku spontan dan meletakkan tubuhku pelan di ranjang, diraihnya tissue dan menyeka darah yang masih mengalir dari hidungku

"Baby..Baby..kau kenapa?"

Aku menatapnya dengan sendu, bayangannya memburam, lalu semakin menghilang..hilang..dan hilang hingga hanya terdengar suara saja tanpa bayangan apapun, hanya ada gelap dan gelap.

Aku terbatuk.

Inikah saatnya?

Aku tidak merasakan apapun sejak itu, hingga saat aku membuka mata dan merasa kepalaku berputar-putar, aku ingin menyamankan posisiku namun terhalang beberapa 'benda' asing disekujur lengan bahkan dadaku, aku mengedarkan pandangan, ugh ini rumah sakit lagi.

Cklek..

Pintu terbuka menampakkan sosok Yunho hyung, matanya terbelalak lalu secepat kilat menghampiriku.

"Kau sudah bangun? Apa yang kau rasakan? Tubuhmu masih sakit? Bagaimana tulangmu?" Tanyanya berulang kali, aku hanya tersenyum lirih lalu menggeleng.

"Ah syukurlah, tunggu sebentar aku akan memanggil eomma dan appa" Yunho tersenyum, lalu bangkit meninggalkanku sendiri.

Aku merasa sedikit aneh, tubuhku tidak bereaksi apapun pada rasa sakit, bahkan rasa sakit itu terasa sedikit menghilang. Ada apa ini?

"Kyunnie?" Eomma menatapku dengan wajah nanar, matanya membengkak. Ia memelukku pelan, sementara appa mengelus rambutku. Yunho berdiri diantara mereka, aku mengedarkan pandangan, mana siwon hyung?

"Kyunnie, akhirnya kau sadar chagi, kau tahu, kau nyaris membuat eomma mati berdiri"

Aku tersenyum sangat pelan pada eomma, seakan menyalurkan rasa bersalah tepat pada iris matanya.

"Kau tahu, kau itu tidak sadarkan diri hampir 1 bulan lamanya" Kini appa yang menatapku dalam, apa? 1 bulan? Selama itu? Aku mengangkat jemariku pelan yang segera digenggam eomma.

"Eo-Eomma..si-siwon" Ucapku tergagap, lidahku masih terasa beku sama seperti terakhir kali aku menggunakannya.

Seketika suasana mendadak hening, eomma menatap yunho dan appa bergantian, lalu kembali menatapku.

"Siwon sedang pulang, seminggu ia menemanimu tanpa tertidur" Eomma mengelus lenganku, aku mengernyitkan dahi.

"Si-siwon" hanya itu yang terus terucap dari bibirku, yunho tampak menunduk. Appa berbalik dan melangkah sedikit menjauh, pandangannya mengedar kebalik jendela. Eomma masih setia mengelus lenganku pelan, namun matanya nampak tengah menyembunyikan sesuatu.

"Si-siwon hyung?"

Eomma menatapku lesu, matanya memerah.

"Mianhe kyuhyun-ah.. siwon..siwon sudah.." Appa bergumam lirih, ditundukkannya kepalanya

"Siwon mencangkokkan tulang belakangnya untukmu, operasinya berhasil, namun siwon.."

Yunho mendekatiku, ia duduk disisi kananku, membelai rambutku

"Mianhe kyu, Siwon tidak bisa tertolong.."

Prang...

Andwee, siwon hyung? Andwee ini tidak mungkin terjadi, siwon hyung tidak mungkin meninggalkanku..

"Andwee!"

Aku berteriak, keringat mengucur deras dari pelipisku, dadaku naik turun mengatur nafas. Jemariku terkepal dalam genggaman seseorang, huh? Seseorang? Aku melirik ke arah lengan kokoh yang begitu setia menemaniku.

Grep..

Aku memeluknya, memeluk siwon hyung yang tertidur dengan jemari yang menggenggam tanganku erat. Aku bisa merasakan ia terkejut lalu balas memelukku, mengusap punggungku.

"Ssssttt..kau sudah sadar kyu? Gwenchana, tenanglah, kau bermimpi buruk eum?" Siwon berbisik pelan padaku, aku mengangguk.

"Siwon hyung.. aku mohon jangan pernah tingalkan aku, aku mohon.."

Deg..

Siwon melepas pelukannya ia menatapku tidak percaya

"Ba-baby..kau bisa berbicara lagi?"

TBC..

G bisa banyak ngomong lagi..

aku nangis..