Naruto Masashi Kishimoto

Kau tidak menyukaiku? ghostgirl20

Main Pair SasuSaku

Genre Romance, Hurt, Drama

Rated T+

Warning GAJENESS, IDE PASARAN, ABAL, ALUR CEPAT, MISS TYPO(S)

Don't like , don't read

Click back

Akhirnya, chapter 5 jadi.

Makasih, untuk para pe-review yang sudah memberikan semangatnya. Aku sangat-sangat-sangat berterimakasih dan sangat menghargainya atas segala kritik dan sarannya. Karena kritik dan saran kalian, aku bisa tahu kelemahan dan kekurangan fic-ku.

Untuk silent readers, aku mengharapkan review kalian! Menerima segala bentuk kritik dan saran, asal jangan nge-flame. Gak kuat aku...

Gimana ya rasanya cinta segiempat rangkap terjebak di lingkaran setan? Di Chapter ini, aku coba menggambarkan perasaan masing-masing karakter. Moga nyampei ke hati readers yang terdalam!

Ok! Let's check this out! Happy reading :D

Chapter 5 : HATI YANG BERUBAH DAN CINTA BARU

Sasuke POV

Saat ini, aku sudah kehabisan tenaga. Sudah berkali-kali bola yang kulempar tidak masuk sasaran. Aku membaringkan tubuhku di lantai lapangan basket. Aku tidak peduli jika rambut dan bajuku kotor.

"Sial!" Umpatku di sela napasku yang tersengal.

"Itu, aku...Aku se-sebenarnya menyukai..."

"Menyukai...Ga-Gaara!"

Kupejamkan mataku saat lagi-lagi kuingat apa yang dikatakan Shion padaku kemarin. Aku sungguh sangat terkejut. Shion ternyata menyukai sahabatku, Gaara.

Aku menyukai Shion sejak pertama kali melihatnya. Waktu itu dia hampir terkena lemparan bola dari kakak kelas. Dan tanpa sadar, aku sudah berlari ke arahnya untuk menghalau bola.

Sungguh konyol bukan. Sudah 2 tahun aku menyukainya. Dan beruntung aku selalu sekelas dengannya. Jadi aku bisa tahu kebiasaannya di sekolah.

Caranya tersenyum, caranya berjalan, saat di sedang kesal, saat dia sedang sedih. Aku tahu semuanya. Bahkan, aku tahu kalau dia sering memperhatikan Gaara sejak awal.

Surat yang ditulis oleh Shion kemarin, belum kuserahkan pada Gaara. Aku masih terlalu kaget dan tidak pernah berpikiran bahwa dia akan menyatakan cintanya pada Gaara. Jujur saja, aku belum siap jika mereka jadian. Aku belum menyiapkan hatiku.

"Sasuke-senpai!" Aku menoleh. Di sampingku telah duduk seorang gadis yang beru kukenal baru-baru ini. Haruno Sakura.

Aku memandangnya datar. Mau apa gadis ini?

Dia memang menjadi saksi kejatuhanku. Tapi aku sudah meyuruhnya untuk merahasiakan hal itu. Merahasiakan bahwa aku menyukai Shion.

Wajahnya tampak sendu. Argh! Apa peduliku?

Aku bangkit duduk. Masih mencoba mengatur napasku. Aku ingat, kemarin dia sempat memelukku. Sebenarnya aku malu bertemu dengannya. Tapi, hanya dia yang sepertinya akan diam saja dan tidak banyak bertanya soal aku dan Shion.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya.

"Pernah lebih baik!"

"Senpai tidak pulang?" Lanjutnya.

"Hn, nanti!" jawabku. Kuseka keringat yang mengalir di pelipisku dengan punggung tanganku.

Lama kami hanya terdiam. Akupun tak ingin mengambil inisiatif untuk mengajak bicara. Lalu-

"Apa kau...sudah menyerahkan suratnya pada Gaara-senpai?" Ha! Ternyata dia penasaran juga. Aku salah menilaimu, Sakura.

"Jangan membahasnya!" Kataku sambil mengambil air minum di tas ranselku. Aku menenggaknya sampai habis. Mencoba mengalihkan perhatian, supaya aku tidak tersulut emosi.

"Lalu bagaimana dengan Shion-senpai? Apa yang akan kau katakan padanya? Apa dia tidak bertanya?"

Cukup sudah!

"CEREWET! Ini masalahku, biar aku yang menyelesaikan!" Bentakku. Aku sudah tidak tahan. Aku baru mengenalnya. Tapi dia sudah berani bertanya macam-macam.

"Oh, ya? Yang kulihat, senpai melarikan diri dari perasaan senpai sendiri!" Katanya tegas sambil menatapku.

Aku menatapnya marah. Berani juga gadis ini.

"Memangnya siapa kau? Kau hanya orang luar yang tidak mengerti apa-apa! Dan sekarang kau mendikteku?"

"Aku memang bukan siapa-siapa, tapi setidaknya aku tidak memendam perasaanku! Aku menyukai senpai!"

Aku membulatkan mata sempurna mendengarnya. Bahkan untuk beberapa detik, aku tidak mengedipkan mata sama sekali.

Wajahnya terlihat lebih kurus dari biasanya. Dan juga ekspresinya itu. Aku kesulitan mengabaikan tatapan matanya yang intens.

"Sejak pertama saat kau menolongku saat itu, aku sudah mulai menyukaimu. Setiap hari yang kupikirkan hanya dirimu. Sedangkan Shion-senpai? Melihatmu saja dia tidak pernah!"

Aku marah. Aku benci, karena semua yang dikatakannya adalah benar.

"DIAM!"

Kudatangi dia dan kucium paksa bibirnya.

"Sen~hmp!" Terus saja kupagut kasar, sampai dia kehilangan semua pasokan udaranya. Ia terus meronta dalam dekapanku. Air mata sudah mengalir di kedua pipinya yang memerah. Cih! Aku tidak peduli. Aku ingin menumpahkan segala kekesalanku. Salah sendiri dia memancing amarahku.

"Hen-hentikan!" Katanya lirih. Kemudian tubuhnya merosot ke bawah, terduduk di lantai. Aku measih menggenggam satu pergelangan tangannya. Sedang tangan satunya sedang memegangi bagian dadanya. Meremas kemeja putihnya hingga kusut.

Aku menatap kosong padanya. Aku tidak dapat melihat wajahnya, tapi dapat kudengar isakan tangisnya.

Aku merasakan perih di sudut bibirku akibat ciuman tadi. Kuakui, caraku mencium tadi bukan seperti manusia. Sangat kasar. Dan sekarang, aku merasa sakit di hatiku menjadi-jadi.

Kenapa? Apa karena gadis pinky ini? Atau yang lain?

Aku berjongkok di depannya.

"Sekarang, apa kau masih menyukaiku?" Kataku padanya. Ia mendongak melihatku. Matanya dipenuhi dengan air mata. Aku balas menatapnya.

Lalu entah dengan keyakinan apa, ia mengatakan sesuatu yang bahkan membuatku hampir mempercayainya.

"Aku tidak akan menyerah. Yang tadi itu adalah sisi dirimu yang lain. Dan aku akan terus mengeluarkan ekspresimu yang lain, senpai!"

"Aku akan membuatmu melihatku. Hanya melihatku!" Katanya lagi.

Apa-apaan gadis ini? Dia sudah menerobos masuk dalam hatiku, bahkan sebelum aku menyadarinya. Kata-katanya terus saja, berulang-ulang seperti kaset rusak di kepalaku. Degup jantungku pun mulai tak karuan.

Karena aku tak suka dengan situasi seperti ini, aku pun melangkah pergi. Meninggalkannya sendiri, masih menangis.

.

.

.

.

Normal POV

Pagi ini cuaca cerah. Banyak awan dengan berbagai bentuk uniknya mengambang dan berkumpul di bawah langit. Terkadang berarak melewati matahari dan sejenak meredupkan sinarnya.

Hari ini Sakura sedang berjalan malas menuju stasiun yang jaraknya tak jauh lagi. Ia terus melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju stasiun kereta bawah tanah. Saat sampai, ia segera memasukkan kartu abonemennya ke dalam mesin dan berjalan melewati 2 penghalang yang sudah terbuka untuknya. Setelah lewat, tak lupa ia mengambil kembali kartunya.

Ia melamun di belakang garis kuning di pinggir lintasan kereta. Pikirannya tidak fokus, terlihat dari sorot matanya yang sayu.

"Sekarang, apa kau masih menyukaiku?"

Ia kembali mengingat kejadian kemarin. Ciuman pertama yang dengan kasarnya diambil paksa darinya. Pelakunya adalah orang yang disukainya. Tapi, apa benar itu yang diinginkannya?

Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak, tidak begitu. Setidaknya, ia berpikir positif. Itu bagus.

"Aku akan membuatmu melihatku. Hanya melihatku!"

Sakura yakin, kemarin pasti Tuhan membantunya sehingga bisa berkata dengan keyakinan seperti itu. Keyakinan yang dibutuhkan untuk mengubah sesuatu yang kau pikir mustahil. Semangat seperti itu, itulah yang ia butuhkan sekarang.

"Tapi bagaimana caranya, supaya dia hanya melihatku?" Gumamnya sambil memandang beberapa binatang kecil yang terbang mengitari lampu neon tepat di atasnya.

"Mohon untuk menunggu di belakang garis kuning. Kereta akan segera tiba. Mohon untuk tidak berdiri melebihi batas," kata pengeras suara yang terdengar di segala penjuru stasiun.

Sakura pun tersadar dan mundur selangkah. Berjaga-jaga saja supaya tidak terlalu dekat. Dan saat kereta datang dan membuka pintunya, Sakura cepat-cepat masuk dan mengambil tempat duduk tepat di sebelah pintu.

.

.

.

.

"Ohayou, Sakura!" Sapa Hinata, teman sekelas Sakura yang bicaranya sering gagap.

"Ohayou, Hinata!" Balasnya.

Hinata adalah murid yang rajin. Sekolah masih ada 45 menit lagi baru masuk tapi dia bahkan sudah ada di sini.

"Aku keluar dulu, ya!" Kata Sakura. Ia masih belum terlalu mengenal Hinata, walau ia tahu Hinata pasti gadis yang baik. Tapi hari ini, ia ingin sendiri. Dan sepertinya hari ini ia sangat beruntung, karena Ino ijin tidak masuk karena menghadiri pemakaman pamannya.

Ia meyusuri tangga di lantai 3, sebentar menoleh ke arah kanan, ke sebuah kelas dengan papan nama kelas 2-5. Ia menghela napas berat dan kemudian kembali meneruskan langkahnya ke atap sekolah.

KRIEET

"Whuaah! Segarnya!" Katanya sambil berlari kecil ke arah pagar pembatas. Ia pejamkan matanya, merasakan sejuknya hembusan angin yang menerpa wajahnya. Terlebih lagi, hatinya.

Ia tersenyum simpul sejenak. Sesaat setelahnya, Sakura harus menelan kecewa saat melihat Sasuke dan Shion berjalan beriringan melewati lapangan sepak bola dari atas.

Air matanya kembali menggenang. Matanya terasa panas, tenggorokannya terasa kering dan sakit. Apalagi hatinya.

Di bawah sana, kedua sejoli itu bercengkerama hangat. Shion menggerak-gerakkan tangannya sambil berbicara sesuatu yang pastinya tidak diketahui Sakura. Dan Sasuke mendengarkannya dengan antusias walau wajahnya terlihat datar.

Sakura memalingkan tubuhnya dan seketika berteriak-

"SASUKE BODOH! DASAR PANTAT AYAM, BODOH!"

"Nghh..."

"Si-siapa itu?"

"Kau berisik!" Suaranya berasal dari tangga darurat yang berada di sisi kanan gedung.

TAP

TAP

TAP

"Kau tahu? Sebagai perempuan, suaramu terlalu keras!" Kata pemuda itu. Ia berjalan mendekati Sakura yang berada di dekat pagar. Kedua tangannya tersembunyi di balik saku celana.

"Si-siapa, kau? Kenapa kau mun-muncul dari situ?"

"Cih, harusnya aku yang bertanya! Apa yang sedang kau lakukan? Menganggu tidurku saja!"

"Apa kau bilang?"

"Sakura, kan?"

"I-iya! Kok tahu?"

"Kau tidak mengingatku?"

"Ehm, yang mana?"

"Kau telmi! Aku teman Sasuke. Yang bersama Naruto saat kau hampir terkena bola bas-"

"Ah, ya! Aku ingat sekarang! Ga-Ga, aduh, siapa ya?"

"Gaara!" Kata Gaara setengah sebal. Karena Sakura tidak mengingat namanya.

"Ah, ya itu dia. Sedang apa senpai disini?"

"Aku sedang tidur! Lalu kau tiba-tiba saja berteriak seperti orang gila!" Nada sinis terselip di antara kata-katanya. Tak urung membuat Sakura mengerucutkan bibirnya.

"Kau sedang ada masalah dengan Sasuke?" Gaara bertanya tanpa basa-basi. Ya, ia bukan tipe orang yang suka berbelit-belit. Langsung to the point dan masalah selesai. Atau tidak?

"Err- itu..." Sakura memandang gelisah pemuda di hadapannya ini. Apa yang harus dikatakannya? Apa ia akan terus terang kalau ia menyukai Sasuke, dan berharap Gaara bisa membantu emndekatkan dirinya dengan Sasuke? Kalau seperti itu, apa bedanya dengan Shion yang memanfaatkan Sasuke untuk mendekati Gaara?

"Kau menyukai Sasuke, ya?" Lagi-lagi bicara blak-blakan. Pipinya merona seketika. Mau mundur juga sudah kepalang tanggung. Pemuda ini pasti sudah membaca gelagat Sakura.

"Iya. Aku menyukainya!" Apa ini keputusan yang baik, mengatakan hal ini pada orang yang baru saja dikenalnya? Dalam pikiran Sakura, masih banyak pertimbangan yang dipikirkannya. Membuatnya bingung.

"Tapi kau tahu kan, Sasuke menyukai Shion?"

"Apa? Senpai tahu juga?" Gaara hanya bisa menghela napas melihat Sakura yang dengan polosnya mengira hanya dia yang tahu tentang hal itu.

"Hanya dengan melihat saja, semua orang juga pasti tahu!" Katanya seraya mendekati pagar pembatas dan menopang dagunya dengan tangannya. Memandang ke bawah, melihat kouhai-kouhai yang sedang bermain sepak bola.

Gaar menunggu reaksi Sakura. Setelah beberapa menit tidak ada jawaban, ia justru dikagetkan dengan sebuah pertanyaan yang tidak ada hubungannya sama sekali.

"Kau...sudah menerimanya?"

"Kalau yang kau maksud adalah surat yang diberikan oleh Sasuke. Aku sudah menerimanya, tapi aku tidak suka padanya!" Jawaban yang singkat, jelas, padat.

"Karena ada gadis lain yang aku sukai!" Ditatapnya gadis di sebelahnya itu. Gadis bersurai merah jambu yang sedang memandang bingung padanya sekarang. Apa dia mengerti yang dimaksud Gaara, bahwa gadis yang disukainya adalah Sakura.

"Ke-kenapa melihatku beg-begitu?"

"Kau benar-benar lamban, ya?"

"Aw!" Sakura meringis saat Gaara menyentil keningnya.

"Aku menyukaimu, jadilah kekasihku!" Kata Gaara, ia sudah membalik posisinya menghadap Sakura. Persis, menjulang di depan Sakura. Tubuhnya yang jangkukng menutupi sinat matahari dan membingkai tubuhnya dengan indah.

Sakura tak bisa berkata-kata. Seakan mulutnya terkunci dan kuncinya hilang entah kemana.

Mungkin karena pengaruh suasana. Gaara tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Sakura dan mencoba menciumnya.

Dekat. Semakin dekat. Bahkan Sakura bisa merasakan napas hangat Gaara di wajahnya.

BRAKKK

.

.

.

.

Sasuke POV

Menyebalkan! Apa dia kira aku tuli tidak bisa mendengar teriakan bodohnya itu?

"Shion, kau masuk kelas saja duluan!"

"Baiklah!"

Masih dengan tas ransel tersampir di punggungku, aku berjalan menuju atap sekolah. Biar ku beri pelajaran lagi pada gadis pinky itu.

Tap

Tap

Tap

Suara kakiku terdengar saat aku mulai menaiki anak tangga. Di depanku, ada pontu yang kalau kubuka, habislah riwayat hidup pinky itu.

Tepat saat aku hendak memutar kenop pintu dan membukanya sedikit, aku mendengar sebuah-ah tidak- 2 suara yang sedang berbicara. Sontak, tanganku langsung membeku. Aku tidak bisa bergerak. Aku terpaku pada pembicaraan kedua orang di balik pintu ini.

"Kau...sudah menerimanya?" Itu suara Pinky.

"Kalau yang kau maksud adalah surat yang diberikan oleh Sasuke. Aku sudah menerimanya, tapi aku tidak suka padanya!" Gaara? Itu suara Gaara. Iya, kan? Sedang apa dia bersama Si Pinky.

"Karena ada gadis lain yang aku sukai!"

"Ke-kenapa melihatku be-begitu?"

"Kau benar-benar lamban, ya?"

"Aw!"

"Aku menyukaimu, jadilah kekasihku!"

Entah kenapa, dadaku bergemuruh. Napasku memburu. Perasaan asing merasuki relungku. Sakit. Kenapa aku merasa perih dan tercabik-cabik saat kudengar Gaara menyatakan suka pada Pinky bodoh itu?

Beberapa menit aku masih mematung di balik pintu. Perasaanku mulai tidak enak. Mereka berdua tidak ada yang berbicara lagi.

"Cih!"

Aku penasaran. Aku harus melihat sendiri apa yang sedang mereka lakukan.

BRAKKK

.

.

Normal POV

Sasuke membelalakkan matanya, melihat dua orang yang dikenalnya sedang dalam posisi yang membuat tidak nyaman saat dipandang.

Gaara meletakkan tangannya ke pundak Sakura dan satu tangannya yang lain menyentuh pipi ranum Sakura.

Sasuke merasa panas melihat ini. Langsung saja ia berjalan mendekati Sakura dan menariknya paksa, menjauhkannya dari Gaara.

"Sasuke-senpai?" Sebenarnya Sasuke masih bingung dengan kelakuannya. Entah kenapa, tubuhnya bergerak sendiri dan tiba-tiba sudah mencengkeram lengan Sakura.

"Apa yang kau teriakkan tadi? Sasuke bodoh?"

"Em, itu..."

"Sudahlah, ayo! Kau harus kuberi pelajaran!"

"Senpai, tunggu! Jangan tarik-tarik begini! Tanganku sakit!" Sakura meronta dalam cengkeraman Sasuke. Tapi Sasuke tetap menyeret Sakura mengikutinya.

"Tunggu!" Kata Gaara.

"Kau tidak lihat dia kesakitan?" Kata Gaara tegas. Sorot matanya tajam menatap iris hitam Sasuke.

"Dia ada urusan denganku!" Sasuke juga membalas dengan tegas. Gaara melangkah mendekati Sasuke dan Sakura. Saat sudah dekat, ia menarik tangan Sakura yang lain, yang bebas dari cengkeraman Sasuke.

"Urusannya denganku belum selesai! Lepaskan dia!" Sekali lagi, nada tajam terselip di antara kata-katanya.

"Tidak akan," balas Sasuke semakin mempererat cengkeramannya. Begitupun dengan Gaara. Seperti orang sedang melakukan lomba tarik tali tambang, dua pemuda ini saling menarik tangan Sakura.

"HENTIKAN!" Kata Sakura. Ia pun dengan jengkel menghempaskan dua tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Dua tangan milik dua pemuda yang berbeda.

"Kalian pikir aku ini barang? Aku juga manusia," ucap Sakura dan lalu gadis itu berlalu meninggalkan kedua pemuda itu yang masih menatap Sakura dengan pandangan bingung.

.

.

.

.

Sakura POV

"Pingky!"

"Hei, Pinky!"

Aku jengkel. Aku marah. Tidak kuhiraukan panggilannya. Aku terus saja melangkah menuruni tangga. Kenapa dengan Sasuke-senpai? Kenapa dia memperlakukanku seenaknya? Mentang-mentang aku menyukainya, dia bisa mempermainkan perasaanku.

Dan lagi, dia bersikap seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Tepat saat satu belokan lagi untuk sampai di area kelas 3, dia memanggil namaku.

"Sakura!" Aku menghentikan jalan cepatku. Tapi tidak menoleh padanya. Biar saja! Lagipula, aku juga bingung harus menatapnya bagaimana?

"Apa yang kau bicarakan dengan Gaara tadi?" Mau tahu saja dia!

"Hei, jawab aku!" Aku tidak tahu bagaimana, tiba-tiba tubuhku sudah ditariknya sehingga aku berhadapan dengan dia. Sasuke-senpai berdiri di hadapanku. Wajahnya lebih terlihat santai daripada kemarin. Aku dapat mencium bau parfumnya yang khas.

"Tidak ada. Hanya ngobrol biasa!"

"Begitukah? Kenapa yang kudengar lain?"

"Dia suka padamu, kan?" Tanyanya lagi.

"Lalu, kenapa?" Tantangku. Aku ingin melihat reaksinya.

"Bukankah kau menyukaiku?"

"Aku memang menyukaimu. Tapi, kok kesannya kau melarangku bergaul dengan Gaara-senpai," aku menjawab dengan penuh keyakinan. Ada sedikit rasa senang di hatiku. Tapi aku tetap bersikap biasa, siapa tahu nanti aku jatuh dari ketinggian. Saat dia ingin melanjutkan, kualihkan pembicaraan ke hal lain.

"Senpai sudah memberikan suratnya, ya? Ternyata senpai sungguhan mau membantu Shion-senpai padahal senpai sendiri tersakiti saat melakukannya!" Kataku mengalihkan pembicaraan.

"Cerewetmu kambuh lagi rupanya," katanya dengan ekspresi terluka.

"Apa senpai mau jadi pengecut yang hanya bisa tersenyum pahit saat melihat gadis yang kau sukai menyukai orang lain? Apa senpai mau jadi orang bodoh yang berada di balik pintu, menunggu gadismu datang padamu?"

Oke, aku keterlaluan kali ini. Tapi kata-kata itu sudah terlanjur terucap sebelum aku dapat menghentikannya.

"Lalu kau sendiri bagaimana? Apa kau merasa benar telah berkata begitu?" Katanya. Tuh, kan! Sekarang aku kena getahnya. Gara-gara mulutku yang sembrono ini sih!

"Apa kau merasa kau lebih baik dariku karena kau sudah menyatakan perasaanmu padaku?"

"Aku tidak merasa begitu kok! Aku hanya tidak mau melihatmu terpuruk, nanti!"

"Sudahlah, kau mana mengerti!" Kataku. Aku meninggalkannya. Aku menapaki anak tangga, terus saja turun.

"Bantu aku melupakannya!"

Aku hampir jatuh karena terpeleset. Dia barusan bilang apa?

"Apa?" Tanyaku. Aku sampai tidak sadar, nadaku melengking saat bertanya.

"Bantu- tidak. Buat aku melupakannya! Apapun caranya! Kalau perlu, aku bersedia menjadi pacarmu!"

Gimana Minna, Sudah lebih baik, gak? Aku minta maaf banget kalau ceritanya mbulet. Tanpa aku sadari, konflik di ceritaku gak berkembang.

Tapi, aku akan berusaha untuk buat cerita yang lebih baik. Karena itu, jangan sungkan untuk memberi kritik dan sarannya! Diterima kok!

Iqma96: makasih ya! Udah ceritanya aneh tapi masih tetep ngikutin. Makasih banyak!

Hanazono yuri: makasih ya! Huhu, udah mau baca terus!

Kitsuri mizuka: makasih! Udah mau baca terus walau ceritanya banyak banget kekurangannya!

Pertiwivivi2 : makasih banyak! Udah mau terus baca!

Akira fly no login: makasih banyak sarannya senpai! Aku tertolong banget. Emang sih, ceritanya gak berkembang, apalagi aku ceritanya detil banget. Tapi keep reading ya, dan tetap berikan saran-saranmu biar aku belajar!

Sakuraita: yah maaf kalo basi. Kan aku udah warning sebelumnya kalao idenya pasaran. Btw makasih udah baca sampai chap 4. Keep reading ya, berikan aku saranmu yang banyak lagi!

Ai: haha, bosan ya! Tapi aku nulisnya gak. Maaf kalau ceritanya membosankan. Untuk ke depannya, semoga lebih bisa diterima. Makasih udah review!

Riyuuleeonew: makasih udah review! Iya, sasu kasian tapi dibalik kesengsaraan pasti ada kesenangan kan! Hehehe, keep reading ya!

Anti mainstream: yang pertama, makasih udah baca plus kasih review. Kedua, maaf kalo ceritanya abal, tapi aku kan udah kasih warning di atas. Tulisannya aku tebelin malah! Ketiga, kalo masalah discontinue, itu aku gak mau. Berarti aku nyerah saat ceritaku seharusnya bias lebih baik berkat saran-saran dari viewers. Keempat, kalau ngomong yang sopan. Aku gak terima flame. Hanya kritik dan saran. Btw makasih idah baca and nyempetin flame. Aku akan berusaha lebih baik!