Naruto Masashi Kishimoto

Kau tidak menyukaiku? ghostgirl20

Main Pair SasuSaku, GaaShion

Rated T

Warning gajeness, ide pasaran, abal, alur cepat, miss typo(s), oocness, sinetronic dll.

If you dislike it, don't read and click back

Jeng-jeng! Chap 6 daaatang!

Terakhir dah. #Huhu#sedih#

Makasih banyak untuk yang sudah menyempatkan waktunya untuk mampir, baca, dan review *apalagi* dan juga untuk dukungan sehingga dapat terselesaikannya karangan abal ini.#dilemparinsandal#

Saya tahu fic ini memiliki kekurangan yang sebajek kerat(?) Tapi, saya sangat menikmati dan cukup pusing saat menulisnya :P

Semoga, para kawan-kawan masih berkenan baca.

Saran dan kritik diterima!

Balas review!

Kitsuri misuka#iya emang dia gak mau! Tapi untung sasuke gerak duluan hehehe. Iya sakura hebat, namanya juga fanfic.

Hotaru keiko# wah, makasih banyak *sukadipuji*keep reading, ya!

Iqma96#makasih iqma-san, untuk jadi readers setia. Aku sampai terharu huhuhu…

Pertiwivivi2#makasih! Pasti lanjutt kok….

Akiraflynologin#makasih akira-san, atas sarannya. Iya, emang ada yang flame, tapi gakpapa kok. Aku akan tetep berjuang menyelesaikan fic ini walau abal…keep reading, ya? Gimana udah lebih baik belum?

Hanazonoyuri#makasih hanazono-chan! Kayaknya kyut dipanggil gitu deh! Hehe….makasih, keep reading, ya!

Sasusakulovers#haha, curang, ya?tapi akhirnya gak gitu kok!makasih udah mampir and review. Keep reading, ya!

Happy reading :P wish you like it!

Chapter 6 : Akhir Bahagia?

Sakura POV

"Bantu aku melupakannya!"

Aku hampir jatuh kalau tidak berpegangan pada tepi tangga. Dia barusan bilang apa?

"Apa?" Aku sampai tidak menyadari nada kalimatku meninggi di bagian akhir.

"Bantu- tidak. Buat aku melupakannya! Apapun caranya! Kalau perlu, aku bersedia menjadi pacarmu!"

"Tunggu! Kau tidak bermaksud menjadikanku…pelarian, bukan?" aku mengelus dadaku pelan. Tercipta rasa sesak kerongkonganku bagai tak dialiri air selama seminggu.

Sasuke-senpai cukup bingung untuk menjawab.

"senpai…?"

TENG TENG TENG

Ah, Bel masuk! Tidak, aku harus mendengar penjelasan dari cowok dingin ini dulu. Aku akan bertanya lagi. Sekali lagi saja. Kalau tidak, aku tidak tahu apa jadinya hatiku nanti.

"Senpai, apa maksudmu tadi?" Aku bertanya lagi. Terkesan buru-buru. Sasuke-senpai hanya tersenyum simpul dan mengacak puncak kepalaku pelan.

"Maaf untuk yang kemarin, sampai jumpa!" Kemudian perlahan, tangannya mulai menjauhi kepalaku. Jatuh ke sisi tubuhnya dan kemudian berpindah ke dalam saku celananya.

Akupun melihatnya menghilang ke dalam kelasnya. Tidak ada yang dapat kukatakan untuk situasi saat ini.

.

.

.

.

Kakashi sensei sedang mengoceh di depan kelas untuk pelajaran homeroom. Pelajaran yang biasanya diisi oleh wali kelas untuk membahas perihal kelas. Kali ini, ia membahas festival yang akan diadakan 4 hari lagi. Para murid dihimbau untuk membantu persiapan agar cepat selesai.

Aku mendengarkan penjelasan Kakashi-sensei dengan separuh nyawa menghilang memikirkan masalah lain.

"Bantu- tidak. Buat aku melupakannya! Apapun caranya! Kalau perlu, aku bersedia menjadi pacarmu!"

Permintaan macam apa itu? Dia itu sadar tidak sih dengan yang diucapkannya?

'Kalau perlu, aku bersedia menjadi pacarmu!' Tapi kalau aku bersedia menjadi pacarnya, agar supaya ia lupa pada Shion-senpai, apa hal itu baik? Bukannya malah menyakiti kami berdua?

Jika aku menerima tawaran itu, aku hanya akan menjadi pelarian semata. 'Apa benar kau akan melewatkan kesempatan ini? In kesempatan bagus, bukan?', kata Inner iblisku memberi nasehat.

'Jangan, Sakura! Kau bisa semakin menyakiti Sasuke-senpai juga menyakiti diri sendiri. Itu bukan hal yang baik! Kau menyayanginya kan? Maka dari itu kau tidak boleh melakukan ini!', kata Inner malaikatku.

'Ah, Jangan dihiraukan Si Malaikat bodoh itu! Kesempatan seperti ini tidak datang 2 kali, lho! Kalau tidak diambil kau akan menyesal' , kata inner iblisku lagi.

Aku tidak akan menyakiti senpai. Walaupun aku harus berjuang agar diakui, itu akan jadi jalanku.

"Yosh! Begitu saja!", kataku setengah berteriak.

"Apanya yang 'Yosh' Haruno-san?", tanya Kakashi-sensei. Sepertinya aku terlalu dalam tenggelam di pikiranku.

Aku tidak sadar kalau aku sedang berada di kelas sekarang. Teman-teman sekelas juga sedang melihat padaku. Aku celingukan sambil tersenyum aneh pada mereka. Lalu sambil membungkuk meminta maaf, aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

"Ehe...ehe...ehe. Gomen, Minna!" Dan dibalas oleh cengiran teman sekelas juga gelengan kepala Kakashi-sensei.

.

.

.

.

Hari pertama dimulainya persiapan. Seluruh anak di sekolah sibuk membantu disana-sini. Dan aku, jangan tanya. Aku juga pasti sibuk. Aku sedang berada di lapangan, bertugas memberi warna pada spanduk yang nantinya akan dipajang di gerbang sekolah.

"Sakura!" Aku menoleh. Ternyata, Gaara-senpai memanggilku. Aku langsung jadi salah tingkah. Kalau diingat lagi, bukankah ia menembakku kemarin?

"Hai!", katanya saat di depanku.

"H-hai, juga!", jawabku gugup.

"Kau bertugas memberi warna pada spanduk ini?"

"Ya, begitulah!"

"Sendirian?" Suaranya satu oktaf lebih tinggi dari sebelumnya. Sebut saja melengking, tapi bukan yang lebay mode on.

"Kalau senpai membantu, jadi berdua!", godaku. Lihat dan baca baik-baik, hanya menggoda. Tapi, reaksi yang diberikannya ternyata justru terbalik. Dia mulai celingukan seperti mencari sesuatu. Sesuatu itu adalah kuas cat dengan ukuran sedang yang tergolek terlantar di ujung spanduk yang tadi kuletakkan di tanah.

Kemudia ia kembali dan mulai mencelupkan kuasnya dalam kaleng cat. Lalu ikut mewarnai bagian yang lain yang belum kuberi warna.

"Yang ini pakai warna merah juga?", tanyanya padaku dalam posisi berjongkok dan kepalanya mendongak melihatku.

"Eh, senpai serius mau membantuku? Padahal aku kan hanya bercanda!"

"Kau ini, tidak baik menolak kebaikan orang lain. Aku tulus, kok!" Katanya, lalu mulai mengecat bagian huruf F besar dari kata 'festival'.

"Baiklah kalau senpai bilang begitu. Berarti senpai tidak boleh pulang sebelum aku selesai, ya!"

"Hah? Kenapa begitu?", tanyanya dengan wajah yang super imut dan bingung.

"Tck, tidak baik membantu orang setengah-setengah!", kataku sambil menggoyangkan telunjukku ke kanan dan ke kiri.

"Ya, baiklah! Aku akan membantumu sampai selesai, tapi kalau sampai malam, berarti aku harus mengantarmu pulang." Kemudian ia berdiri mendekatiku dan mencolekkan sedikit ujung kuas yang terkena cat merah itu ke pipiku.

"Ah, senpai nakal!", kataku sambil memukul-mukul bahunya dari belakang karena dia mendekap dadanya, menghindari pukulanku.

"Eit, aku kan hanya mencoba menjadi calon pacar yang baik," katanya.

"Wah, gombalan seperti itu dapat darimana?"

"Dari TV!"

"Kau tidak bakat menggombal, tahu! Hahahaha!"

"Eh, malah meledekku! Sini, biar kuwarnai wajahmu yang cantik itu!" Kemudian dia mulai mengejarku lagi dengan ujung kuasnya teracung padaku.

"Kya~senpai hentikan!", pekikku dengan berlari menjauh.

.

.

.

.

Sasuke POV

Hatiku sakit. Pasti ada yang salah dengan hatiku. Apa yang kulihat melalui jendela lantai 2 ini begitu aneh. Tidak bisa diterima oleh akalku. Sepasang manusia sedang berkejaran dengan tawa riang menghiasi wajah mereka. Pink dan merah. Sakura dan Gaara.

Sialan! Melihat mereka membuatku naik darah saja. Tanpa sadar aku meremas, mencengkeram erat, bendera-bendera dengan lambang negara jepang yang rencananya akan di tempelkan di sepanjang jendela.

"Sasuke!", panggil Shion. Aku menoleh sedikit. Hanya sedikit. Lalu kuperingatkan agar dia tidak mendekat.

"Jangan kesini!", kataku datar.

"Apanya?"

Dan saat ia memilih untuk tetap mendekat, aku yakin dia akan menyesal. Tentu saja. Lihat mereka yang di bawah itu!

"Kya~senpai hentikan!"

"Sini, biar kuwarnai wajahmu biar sama dengan rambutmu!"

"Tidak mungkin sama! Rambutku kan pink, bukan merah! Kya~senpai, berhenti"

"Sudah kubilang jangan lihat." Kemudian aku memutar tubuhku dan duduk di daun jendela. Membelakangi jendela. Aku menghela napas. Mengeluarkan rasa kesalku lewat hembusan napas.

"Mereka...akrab, ya?", kata Shion. Masih tetap melayangkan pandangan pada Sakura dan Gaara.

Aku tidak menjawab. Kupikir itu hanya pertanyaan retoris semata untuk mengekpresikan kesedihannya.

"Aku ditolaknya". Shion juga ikut memutar tubuhnya dan duduk dengan posisi yang sama denganku. Tatapannya jatuh pada teman-teman yang berlalu lalang di depan kami. Aku memandangnya lewat sudut mata. Wajahnya kelihatan sedih sekali.

"Kau tahu, apa yang dikatakan Gaara saat ia menolakku?", berhenti sejenak, kemudian ia melanjutkan kalimatnya lagi.

"Dia bilang 'maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Lebih baik kau pikirkan perasaan orang yang selama ini selalu peduli padamu, tapi kau bahkan tidak peka untuk menyadarinya'. Aku terus saja memikirkan kata-katanya selama 2 hari ini".

"Nee, Sasuke! Apa kau menyukai seseorang?"

Aku terhenyak sejenak. Kukira, saat suatu saat nanti pertanyaan itu muncul, dalam kepalaku akan muncul wajah Shion. Tapi sekarang, nyatanya di pikiranku bahkan ada Si Pinky itu.

"Hn!", jawabku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Neji-senpai yang berkeliling untuk mengecek persiapan dekorasi kelas.

"Apa dia tahu perasaanmu?", tanyanya lagi. Aku menggeleng sebagai respon.

"Apa...kau ingin dia tahu?"

Kalimatnya cukup membuatku terkejut. Apa dia tahu perasaanku? Siapa yang memberitahunya?

Aku memutar kepalaku menghadapnya pelan-pelan. Seakan takut melihat ekspresinya. Dan aku begitu terpaku kalau ternyata, Shion saat ini sedang memandangku juga. Kami tak pernah berpandangan dalam jarak yang dekat seperti ini sebelumnya. Akan menjadi sebuah kebohongan jika jantungku tak berdebar sekarang.

"Aku sudah tahu. Kau...menyukai...ku?", tanyanya. Entah kenapa yang terdengar hanya suara Shion.

Aku tidak tahu apa seharusnya aku merasa malu atau perasaan lainnya yang mengindikasikan perasaan senang.

"Selama ini, aku tidak peka. Mengingat kau selalu berada di sampingku, namun aku tidak pernah menyadarinya sekalipun. Aku seharusnya menyukaimu saja, bukan malah sibuk memperhatikan orang lain. Maaf!", ujarnya.

Apa ini? Di dalam hatiku tidak terjadi apa-apa. Jantungku sempat berdebar sebelumnya, namun setelah itu berangsur-angsur hilang.

"Apa kita bisa memulai segalanya dari awal?", tanya Shion.

"Sasuke-senpai...!"

Di dalam pikiranku justru terdengar suara Sakura, gadis Pinky itu. Tunggu! Sejak kapan aku memberinya julukan? Apa aku mulai terikat padanya. Apa aku menyukainya?

Aku tidak bisa berpikir. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Aku bingung.

Sakura, Sakura, Sakura. Di benakku ada seorang gadis dengan senyum hangatnya sedang memanggilku.

"Aku..."

GRAKKK

Aku langsung menoleh ke arah suara dan aku melihatnya. Menemukan sumber penimbul suara tadi. Sakura berdiri di ambang pintu setelah menggesernya. Di belakangnya ada Gaara.

"Su-sumimasen!", katanya lalu berlari entah mau kemana. Sempat kulihat air mata mengalir dan jatuh ke pipinya sebelum ia hilang dari penglihatanku.

"SAKURA!"aku memanggilnya.

Aku mengejarnya. Aku tidak menghiraukan Shion yang menatapku tidak percaya. Dan juga aku tidak peduli cekalan Gaara di tanganku.

"Minggir!", seruku pada Gaara.

"Lalu Shion?", tanyanya.

"Aku bilang minggir!", kataku. Dan setelah kuhempas tangannya kasar, aku mulai berlari menyusul Sakura. Tidak peduli pandangan aneh dari sekelilingku. Bahkan ada yang berteriak histeris saat melihatku dari jauh.

"Sasuke-senpai! Kyaa~"

"Minggir!", kataku gadis itu. Masa bodoh dia akan berpikir bagaimana.

"SAKURA!"

Sial! Dia tidak mau berhenti berlari. Dengan kecepatan larinya yang pelan itu, bisa saja kukejar dengan cepat. Tapi masalahnya adalah keadaan koridor yang penuh dengan murid yang sedang mendekorasi kelas. Ada juga yang sedang menyapu bahkan mengepel.

Kuliuk-liukkan badanku melewati kerumunan itu. Sampai akhirnya aku melihat bayangan Sakura menuju atap sekolah.

"HEI!"

BRAKKK

Suara pintu ditutup tepat di depanku saat aku sudah hampir mencapai puncak tangga. Aku meraih kenop pintu.

KLEK KLEK

Ia menguncinya. Sial!

DOK DOK DOK

"Sakura! Buka pintunya!", perintahku padanya. Tapi sialnya dia tidak menjawab.

DOK DOK DOK

"Sakura!"

"PERGI!", katanya dari balik pintu.

"Sakura..."

"Pergi. Kembali pada Shion-senpai. Dia sudah tahu perasaanmu, kan? Kau harus menyatakan cintamu sekarang!"

"Bukan begitu. Kau-"

"Jangan khawatir! Aku bisa membunuh perasaanku padamu, kok! Lagipula kau tidak menyukaiku, kan?", katanya dengan suara yang semakin parau.

Brengsek. Kalau begini, aku tidak bisa mengatakan kalau aku suka padanya. Ya, pada saat ini barulah aku sadar. Kalau perasaan sakit yang kurasakan saat melihatnya dengan orang lain, alasan kenapa selalu ada bayangannya dalam benak dan pikiranku adalah karena aku menyukai Sakura.

Kalau begini tidak ada cara lain. Tangga darurat.

.

.

.

.

Normal POV

DRAP DRAP DRAP

Suara langkah kaki Sasuke yang sedang berlari terdengar di koridor kelas. Ia terus berlari. Kembali melewati rute yang tadi dilaluinya. Kembali melewati kelasnya. Dan bertemu Shion dan Gaara.

"Sasuke!", panggil Shion di ambang pintu kelasnya. Di sampingnya, ada Gaara sedang menyandarkan setengah tubuhnya pada daun pintu.

"Berjuanglah! Aku tahu kau bisa!" Kata Shion.

"Kau memang payah. Tidak peka kalau kau menyukainya. Tapi lebih baik daripada terlambat, kan?", sambung Gaara.

"Kalian, bagaimana-"

"Kami tahu, kok! Sudahlah, cepat sebelum Sakura berubah pikiran". Sasuke mengangguk dan segera melangkahkan kakinya, berlari.

Dua manusia yang sedang patah hati di ambang pintu itu hanya berdiri sambil memandangi sosok Sasuke yang semakin menghilang di antara siswa-siswa yang berkeliaran di koridor kelas.

"Pada akhirnya, tinggal kita berdua," rutuk Gaara yang kini sedang menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

"Jangan mengeluh! Bukankah kita sudah berbuat baik, mempertemukan dua orang yang saling suka? Percayalah suatu hari kita akan menemukan orang yang spesial juga!" Kata Shion.

"Kau ini benar-benar tipe O~hime-sama, ya?!" Setelah berkata begitu Gaara mulai berjalan menjauhi Shion.

"Ha? Apa maksudmu, Gaara-kun? Eh, Kau mau kemana?" Tanya Shion yang berlari kecil menyusul Gaara di belakangnya.

"Kantin. Aku lapar!"

"Boleh aku ikut?" Kata Shion yang sekarang sudah berada sejajar di samping Gaara.

"Hm...tidak boleh! Nanti kau bisa membuatku suka padamu," kata Gaara dengan seringai jahilnya.

BLUSH

.

.

.

.

Sasuke sedang berlari dengan terengah-engah. Paru-parunya seakan menjerit minta diisi udara. Padahal ia sudah mencoba memasukkan sebanyak-banyaknya udara yang bisa dihirup oleh hidung mancungnya.

'Aku harus bicara dengannya. Hari ini atau tidak sama sekali!', pikirnya.

"Hoi! Sasuke...", panggil Naruto, sahabat jabriknya dari kejauhan. Ia sedang mendirikan tenda taman di sekitar lapangan. Sasuke berhenti sejenak untuk mengambil pasokan udara.

"Hoi, Teme! Kau sedang latihan lomba Marathon, ya?", kata Naruto dengan cengiran konyolnya. Sasuke hanya terus bernapas. Tidak menghiraukan Naruto. Saat napasnya sudah agak normal, ia kembali berlari lagi.

"Temeeeee..."

Secepat kakinya bisa melangkah, akhirnya Sasuke sampai ke tangga darurat. Ia naiki pelan-pelan anak tanga itu penuh penghayatan.

Sebentar lagi. Sebentar lagi, ia akan melihat sosok gadis yang membuatnya uring-uringan dan otaknya tak berhenti bekerja untuk memikirkannya.

Satu anak tangga lagi dan sampailah Sasuke ke atap sekolah.

Di bola matanya terpantul bayangan gadis dengan surai merah jambunya yang berterbangan tertiup angin. Bayangan itu begitu indah di matanya namun, satu hal yang disayangkan. Wajah gadis itu sedang bersedih. Sasuke berjalan mendekati gadis itu.

"Sakura..", panggilnya lirih saat sudah berada beberapa meter di hadapan Sakura.

Gadis itu meringkuk di lantai. Memeluk lututnya yang tertekuk. Kepalanya tertunduk dalam di antara kakinya.

"Sakura..", panggil Sasuke lagi. Kali ini ia berjongkok di hadapan Sakura dan menyentuh helaian rambutnya.

Sakura terkesiap dan mendongak. Menampilkan sepasang mata hijau yang indah namun memandang dengan sayu.

Sejenak Sakura tersanjung melihat Sasuke ada di depannya di saat ia paling menginginkannya. Tapi setelah ia mengingat alasan mengapa tadi ia berlari sambil menangis ke atap sekolah, langsung saja ia palingkan wajahnya, matanya, perhatiannya dari sesosok mahluk mirip malaikat di hadapannya ini.

"Pergilah! Untuk apa Senpai disini?" katanya kemudian.

"Entahlah. Minta maaf barangkali?" jawab Sasuke sambil mengangkat kedua bahunya.

"Haha, saat begini bisa juga kau melucu!" kata Sakura sarkastik.

"Sakura," panggil Sasuke untuk ketiga kalinya pada gadis yang tidak mau menatapnya ini.

"Hei, lihat aku!" Katanya tidak sabar dengan nada kesal karena tidak dihiraukan.

"Apa?!" Jawab Sakura masih dengan nada sarkastik. Masih tidak mau menatap Sasuke.

"Entah kau akan berpikir apa setelah aku mengatakan ini, tapi-" ia menghentikan kalimatnya, mencoba merangkai kata-kata yang menurutnya pas jika diucapkannya, daripada nanti dia mengeluarkan kata-kata yang berbanding terbalik dengan hatinya.

"Aku ingin kau tahu, kalau kau tidak perlu membantuku melupakan Shion lagi!"

DEG!

Jantung Sakura sakit bagaikan dipukul-pukul. Seperti ada sebuah gada raksasa yang menghantamnya saat ini. Ia mengigit bibir bawahnya keras sambil menahan tangis yang akan tumpah kembali.

"Aku tahu! Aku tidak perlu membantumu lagi karena kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Ya, kan?" Kata Sakura sambil menghapus air matanya yang mulai meleleh lagi. "Ya sudah! Aku mengerti. Sekarang pergilah! Tidak perlu menghiburku!"

Sasuke mendadak bingung terhadap sikap Sakura yang belum berubah. Mugnkin kata-kata yang ia gunakan terlalu sulit dicerna oleh otak dan hati Sakura. Maknanya terlalu tersirat. Mungkin Sakura tidak mengerti.

"Aku tidak menghiburmu. Kau pasti tidak mengerti yang kukatakan, kan?"

"Senpai!" Sergah Sakura.

"Kalau kau kesini cuma mau menggodaku dan lalu setelah itu pergi. Lebih baik tidak usah!" Kata Sakura marah lalu bangkit berdiri. Ia berniat pergi dari sana. Tidak ingin lama-lama lagi berada di dekat orang yang sudah punya 'pacar'.

Sasuke menjadi semakin bingung. Ia yakin, Sakura pasti salah mengerti. Tapi berbicara secara gamblang tentang perasaan bukan kebiasaannya dan ini membuatnya panik. Tapi ternyata seorang Uchiha yang terkenal cool dan pendiam serta cuek bisa juga kalah terhadap keinginan hati kecilnya.

Keinginan untuk merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Walaupun ia tak dapat menjanjikan kehangatan abadi.

Segera saja kaki, tangan Sasuke bergerak tanpa komando. Kaki yang melangkah ke depan, dan tangan yang akan segera meraih tubuh gadis musim semi di depannya.

GREEPP

Tubuh Sakura tersentak saat Sasuke memeluknya dari belakang. Apalagi hatinya sekarang sudah jumpalitan, berjingkrak-jingkrak seperti orang yang sedang nonton konser Metalica dengan musik hard rocknya.

"Bukan. Bukan begitu maksudku!" Kata Sasuke.

"Apa maksudmu?"

"Dengar! aku bukan orang yang bisa dengan mudah mengutarakan apa yang kurasakan," katanya lirih di dekat telinga Sakura.

"Aku juga bukan laki-laki yang romantis. Memberikan bunga dan segala hal-hal yang membuat wanita senang. Aku hanyalah pemuda bodoh yang tidak mengerti harus berbuat apa,"

Sakura mendengarkan penuturan Sasuke dengan seksama. Bukan dengan konsntrasi penuh seperti saat memperhatikan Anko-sensei menjelaskan tantang teori archimedes, tapi mendengarkan dengan hati.

"Aku tidak tahu bagaimana masa depan nantinya, tapi kupastikan, bahwa sekarang, saat ini, aku menyukaimu dan ingin memilikimu!" Kata Sasuke panjang lebar. Itu kalimat terpanjang yang sampai sekarang baru saja dikatakannya.

"Senpai..."

Sasuke memutar tubuh Sakura menghadapnya. Dipaksanya manik Emerald itu menatap manik Onyxnya. Diselami segala perasaan yang ada di mata Sakura yang sekarang sudah basah karena air mata.

"Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kukatakan. Jadi aku tidak mungkin bergurau!" Kata Sasuke sambil menghapus aliran air mata di pipi Sakura dengan ibu jari tangannya.

Sakura masih saja menangis dan bahkan aliran air matanya lebih deras sekarang.

"Kau bahagia sekali, ya? Sampai menangis seperti itu?" Sindir Sasuke.

Sakura menggelengkan kepalanya.

"Bukan. Aku pikir aku bermimpi sekarang!" Jawabnya.

Sebuah senyum tipis tampak di wajah tampan Uchiha bungsu ini. Lalu ia segera memeluk gadisnya dan mengecup keningnya barang sebentar.

"Aku akan menganggap itu sebagai jawaban iya."

"Aku suka padamu!" Kata Sakura.

"Aku..ju-ga!"

Sasuke masih tidak dapat mengungkapkan kata-kata picisan seperti itu. Tapi itu malah membuat Sakura terkikik geli dan tersenyum bahagia.

Pada akhirnya, Sakura yang sebelumnya beranggapan Sasuke tidak menyukainya, sekarang meraih mimpinya untuk menjadi pacar seorang Uchiha Sasuke.

Karena ia tak berhenti percaya, bahwa keajaiban di antara kesengsaraan itu pasti ada.

Namun…..

"Hm, umpan menarik!' seseorang di susut, tersembunyi oleh halangan tembok menyeringai licik pada sepasang sejoli yang sedang bahagia itu.

o0oTSUZUKUo0o

AUTHOR'S note:

Wah...KABUR#dikejarparareadersyang marah karenaficabal ini#

Sebenarnya, cerita ini mau saya tamatkan di chap 6. Tapi karena ada saran dari teman dan tiba-tiba ide lain bermunculan, jadi saya teruskan.

Oh, ya! ada yang nyadar saya tidak menyebutkan#gaktahukalauternyataada#bahwa Sakura atau Sasuke tidak menyebut cinta satu sama lain. Hanya menyukai. Kenapa saya tulis begitu? Karena mereka baru mengenal dan saya yakin cinta yang sampai benang kusut seperti di animenya tidak akan datang pada mereka secepat itu.

Tapi itu hanya menurut saya, anggap saja keterbatasan pengarang.

Seperti biasa, kritik dan saran sangat diterima. Walau terkadang ada yang agak menyakitkan kata-katanya.

o0oTerimakasiho0o

Ghostgirl20