Flashback
Hari dan jam telah ditentukan, aku menunggu Changmin disebuah restoran jepang kesukaanku, aku mendecih ini bahkan telah lewat 30 menit dan anak itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Mianhe, aku terlambat, mobilku sedikit bermasalah"
Baru saja aku berdecih, kini sosok namja tinggi dengan perawakan kurus telah duduk didepanku, ia tersenyum sekilas melepas jaket tebalnya.
"Kau ingin memesan?" tanyaku, ia menggeleng
"Aku tidak punya cukup waktu sebenarnya, hanya saja aku harus memberitahumu sesuatu hal yang sangat penting"
Aku berhenti mengaduk ocha milikku, mataku beralih menatap kedalam mata Changmin, aku kenal bahasa ini, Ia juga pernah mengatakannya beberapa tahun yang lalu.
"Ini mengenai Kyuhyun"
"…"
"Ia sakit, ah ani masih sakit hingga kini"
"…"
"Osteosarcomanya semakin memburuk, Ia kini dalam kondisi lumpuh di kedua kakinya.."
Aku menghela nafas, aku memang kalah darinya, beberapa tahun yang lalu, namun kekalahan itu berbuah manis kini. Dendam? Tidak,aku sama sekali tidak menyimpan marah padanya, aku malah prihatin dengan kondisinya, seharusnya ia juga bahagia bersama Siwon. Sepertiku yang bersama Hangeng.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
"Heechul-ssi, aku tahu kau seorang dokter ternama di sini, aku mengikuti semua perjalanan karirmu, ak-"
"Jadi kau men-stalkerku?"
Changmin terkekeh, ia mengangguk.
"Hanya beberapa minggu terakhir ini, Oh iya bagaimana kandunganmu? Chukkae.. untuk pernikahanmu dan bayimu"
"Baik, gomawo.. hanya saja, kau terlalu memujiku jika mengatakan aku adalah seorang dokter ternama"
"Itu kenyataan"
"…"
"Lalu?"
"Hm?"
"Bisakah kau menolong Kyuhyun? Dan Siwon"
Changmin menunduk saat ia mengatakan Siwon, paling tidak aku juga merasakan hal itu beberapa tahun yang lalu. Aku menghela nafas sebentar
"Beri aku alasan kenapa aku harus menolongnya?"
Changmin mengalihkan pandangannya ke arah lain
"Dia spesial, bukan hanya untukku, tapi untuk orang-orang disekitarnya, terutama untuk Siwon"
"…"
"AKu tidak pernah mendengar kisah cinta seperti yang mereka alami, terlalu murni, terlalu polos, terlalu.."
"Akan aku usahakan Changmin-ssi"
Mata Changmin membulat, ia bahkan belum selesai memaparkan semua alasannya.
Flashback End
(HANGENG)
LAUGH
Aku menghela nafas entah yang keberapa kalinya, Setelah pertemuan awkward yang terjadi antara aku, Heechul, dan Yunho beberapa waktu lalu. Aku memutuskan untuk duduk ditaman bersama Yunho, sementara Heechul tengah menemui dokter yang selama ini menangani Kyuhyun serta sekalian mengecek keadaan Kyuhyun.
"Kau tampak sedikit kurus yunho-ah"
Yunho berbalik, tersenyum skeptis.
"Kau jangan bertanya seolah kau menyukaiku Han"
"…"
"…"
"Hahahahahahahahaha"
Tawa kami meledak, aku memeluk Yunho, menepuk bahunya.
"Aku merindukanmu kawan"
"Aku juga"
Yunho melepas pelukan kami, ia menatapku dari ujung kaki hingga ujung rambut, ia menggeleng-gelengkan kepalanya bingung
"Woahh, kau tampak semakin muda saja"
"Karena istriku tentu saja.. dan Bayiku, ingat itu"
"Ck, aku sudah menduga akan seperti ini jadinya, semua orang akan menemukan kebahagiaannya sendiri"
"Hey, bagaimana denganmu?"
Yunho menghela nafas, ia kembali menggeleng
"Sesaat sebelum kejadian ini, aku masih mengharap pengajar TK itu menatapku, tapi sekarang.. Kyuhyun prioritasku"
Aku mengerutkan kening, pengajar TK?
"Jangan bilang kau masih mengejar Jaejoong?"
Yunho menunduk, namun wajahnya tidak bisa berbohong, pipinya memerah.
Ah, harusnya aku tahu namja didepanku ini tidak akan bisa melupakan Namja manis yang selalu tertawa di depan anak-anak kecil itu.
"Masih dan selamanya seperti itu Han, tapi kini aku lebih fokus pada kesembuhan Kyuhyun, apapun dan bagaimanapun caranya"
Aku ikut menunduk, Mengikuti cara berfikir Yunho yang terkadang membuatku bingung. Kyuhyun memang dongsaeng satu-satunya yang ia punya, dongsaeng yang selalu menjadi kesayangan dan kebanggaannya.
"Aku sama sekali tidak tahu kalau Kyuhyun semenderita ini Yun"
Ada helaan nafas lagi dari Yunho, kini ia memandang langit
"Aku juga tidak menyangka dongsaengku akan seperti ini"
"Tenanglah Yun, aku yakin Kyuhyun akan sembuh, ia tidak selemah yang kita bayangkan selama ini kan? Aku yakin Heechul bisa membantu"
Aku menepuk bahu Yunho, memberi sedikit ketenangan jika semuanya akan baik-baik saja, Kyuhyunnya akan tetap baik-baik saja.
(KYUHYUN)
UGH
Jemariku terasa kebas, mulutku juga, mataku terasa berat, aku bisa merasakan semuanya, alat-alat menakutkan itu, merasakan semua sentuhan, dan mendengar semua panggilan.
Kucoba berulang kali membuka mataku, membiasakan sinar mentari memasuki retinanya. Seseorang terkejut melihatku, ia segera berlari keluar, hey, apa aku terlihat menakutkan? Oh kurasa tidak, karena sesaat setelah hal itu terjadi, beberapa orang masuk kedalam lagi dan mendekatiku, aku rasa aku tidak terlalu asing dengan yang satu ini, eum apa dia Heechul? Ah tidak mungkin, Heechul bukanlah seorang dokter.
"Kyuhyun-ah, coba buka matamu baik-baik"
Hhh, aku sepertinya bermimpi, suara itu memang suara Heechul. Sebaiknya aku tidur lagi dan bangun 1 atau 2 jam kemudian.
"Kyuhyun-ah, jangan tutup matamu dulu, coba buka dan katakan 'Aaa'"
Sepertinya aku tidak bermimpi, karena kali ini Heechul menepuk pipiku ringan, aku lalu mencoba membuka mulut, ugh kebas. Aku terdiam, dia juga terdiam, kami terdiam.
"Gwenchana, mungkin masih dalam efek bius, tapi kau jangan tidur dulu ne, aku akan memeriksamu"
Hm? Memeriksa? Apa dia benar-benar seorang dokter?
"Kyuhyun-ah untuk sementara kau jangan sampai tertidur ne, aku akan memanggil keluargamu"
Heechul atau yang kusangka Heechul itu berjalan keluar meninggalkanku dengan beberapa orang yang berpakaian serba putih. Apa mereka malaikat pencabut nyawa?
"Kyuhyun-ah.."
Aku menoleh saat suara yeoja lewat ditelingaku, itu eomma dan appa, serta eomma dan appa choi, eh Yunho hyung juga ada disitu. Mana Siwon?
"Akhirnya kau sadar chagi, eomma sangat mengkhawatirkanmu" Eomma duduk disampingku, eomma choi menggeser dokter-dokter yang kuanggap sebagai malaikat pencabut nyawa tadi. Yunho berdiri di kakiku, ia tersenyum sementara Appa berusaha menahan tangisnya dibelakang Yunho. Aku mengernyit, menggoyangkan jariku dalam genggaman eomma, membuat simbol huruf S ditelapaknya.
"Siwon?"
Aku mengangguk, mereka saling berpandangan. Membuat bulu kudukku meremang, kejadian ini seperti sebuah dejavu.
"Siwon..eum..dia.."
"Baby.."
Di tengah suasana gugup itu, suara Siwon menggema bagiku, ia muncul dari balik pintu dengan setelan jas hitam lengkap dengan dasinya. Aku mengernyit bingung, terakhir kali aku melihatnya seperti ini saat ia berhenti dari pekerjaannya dan lebih memilih menghabiskan waktu denganku. Kali ini ia kenapa?
"Eomma , appa, aku sudah siap"
Aku melirik semua orang yang ada disitu, mereka menyingkir untuk memberi Siwon dan seorang lagi ruang didekatku. Aku semakin mengernyit bingung ketika Siwon meraih jemariku, menggenggamnya erat lalu mengangguk pada seorang lagi yang sejak tadi hanya diam. Siwon melemaskan jemariku yang terasa kaku, ia mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya, sebuah kotak putih.
"Cho Kyuhyun, would u be my wife?"
Aku tersentak, alat pendeteksi jantung tiba-tiba berbunyi nyaring membuat salah satu dokter segera melepas kabel penghubungnya dari dadaku. Semua tersenyum, aneh.
"Kau hanya perlu menjawab Yes baby, tidak usah kau tanya apa dan kenapa"
Aku termenung sesaat, mataku memutar di ruangan itu, menatap satu persatu orang-orang yang berdiri disekitarku.
"Disini ada kedua orang tua kita, ada pastor, dan dokter-dokter itu sebagai saksi kita, dan jangan lupakan Hangeng dan Heechul"
Aku hendak berucap namun dadaku terasa belum siap. Kulirik Yunho yang mengangguk sambil tersenyum, kedua belah pihak orang tua, dan terakhir Heechul yang tersenyum. Aku tidak bermimpi bukan?
Kugerakkan jariku diatas genggaman Siwon, ia tersenyum senang. Dan ritual sakral pun terlaksana, di sebuah Rumah Sakit, tanpa Cake besar, tanpa Hiasan dimana-mana, tanpa undangan, dan tanpa sebuah Kecupan. Hhh pernikahan yang terlalu aneh buatku, namun aku bahagia. Choi Kyuhyun.
(SIWON)
WONDERFUL WORLD IS YOU
Aku duduk dengan memangku Kyuhyun di halaman belakang rumah baru kami, sembari memandang mentari yang sebentar lagi tugasnya akan digantikan rembulan, aku menatap jari kami yang saling bertautan, kemilau sepasang cincin di jari manis kami membuat sebuah kesan tersendiri bagiku.
Kukecup berulang kali pelipis istriku, kupeluk tubuh kurusnya lembut, kurapikan beanie birunya.
"Hyung.. apa kau tidak lelah bersamaku?"
Aku mengutuk setiap pemikiran seperti ini yang bersemayam di benak Kyuhyun, bagaimana bisa aku lelah bersamanya? Tidak, itu tidak akan pernah terjadi.
"Kenapa kau bertanya seperti itu lagi baby? Ingat, kau sekarang istriku" aku menaikkan selimut kecil yang membungkus tubuh kami berdua.
"Chullie pernah memberitahuku sesuatu di rumah sakit" Kyuhyun mengeratkan genggamannya.
"Apa itu baby?"
"Dia mengatakan kalau aku sangat beruntung mendapat suami sepertimu, tapi aku? Aku sepertinya bukan istri yang baik untukmu, aku seharusnya seperti dia, yang telah membuat suaminya bahagia dengan buah hati mereka"
Aku terkekeh, Sepertinya Kyuhyun sedikit cemburu dengan perkataan Heechul, walaupun ia sendiri tahu kalau kini Heechul telah bersatu kembali dengan Hangeng dan sekarang tengah mengandung anak mereka.
"Dia benar baby.. kau memang beruntung mendapat suami tampan sepertiku"
Kyuhyun mencubit perutku pelan, aku mengaduh sebentar lalu kembali terkekeh.
"Tapi.. aku jauh lebih beruntung menemukanmu sayang"
Kyuhyun memutar tubuhnya menatapku.
"Kau adalah makhluk terindah yang aku miliki, makhluk teristimewa yang aku punya, hanya kau..dan akan selamanya seperti itu"
"…"
"Apapun itu, suatu saat nanti.. apapun yang terjadi selalu ingat ini, bahwa aku Choi Siwon adalah namja paling beruntung karena menemukan seorang malaikat sempurna sepertimu, Choi Kyuhyun"
Bulir bening menetes dari balik kelopak mata Kyuhyun, ia memelukku seakan dalam gerakan slow motion, begitu lembut.
"Gomawo hyung..Gomawo"
"Ceonma nae baby..eum, Hyung ingin bernyanyi untukmu, spesial untukmu, kau mau dengar?"
Kyuhyun melepas pelukannya lalu mengangguk cepat, aku menyamankan posisi, menyandarkan Kyuhyun didadaku, memeluknya dengan protect, mulutku tepat di telinganya.
Whenever I'm weary
From the battles that raging my head..
You make sense of madness
when my sanity hangs by a thread..
I lose my way but still you seem to understand
Now and forever
I will be your man..
('aku tahu Kyuhyun tidak akan bertahan lama lagi bukan?'
'Hyung?'
'buat ia bahagia siwon, buat kyuhyun bahagia di sisa usianya, hyung mohon'
'Ani hyung! Kyuhyun tidak akan pergi, ia akan sembuh'
'Siwon'
'Yunho hyung, Kyuhyunku akan baik-baik saja')
Sometimes I just hold you
Too caught up in me to see..
I'm holding a fortune
That heaven has given to me..
I'll try to show you each and every way I can..
Now and forever
I will be your man..
('Kyuhyun tidak bisa bertahan lama lagi Siwonnie, kanker di tulang belakangnya telah menyebar bahkan pada titik-titik syaraf pusatnya'
'tapi apa tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk kesembuhannya, ani..paling tidak agar ia bisa bertahan'
'mianhe Siwonnie')
Now I can rest my worries and always be sure
That I won't be alone anymore..
If I'd only known you were there all the time
All this time..
Until the day the ocean doesn't touch the sand..
Now and forever..
I will be your man..
('Kau tahu ia segalanya untukku chullie-ah, dia segalanya untukku'
'aku tahu Wonnie-ah, aku bisa melihat semuanya dari tatapan kalian'
'lalu kenapa kau tidak bisa membantuku menyembuhkannya? Aku mohon chullie, aku mohon'
'Aku hanya bisa berusaha, Tuhan penentu segalanya')
Now and forever..
I will be your man.. (Richard Marx – Now an forever)
Prok..Prokk..Prookkk..
Seperti biasa Kyuhyun akan selalu bertepuk tangan jika mendengarku bernyanyi, ia terlihat menyeka airmatanya dan juga airmataku
"Kau cengeng hyung"
"Kau juga baby"
Kyuhyun mengerucutkan bibirnya, aku tertawa dengan mencubut pipinya. Ia semakin merajuk
"Jja baby, kita masuk saja,sudah malam"
Aku menggendong Kyuhyun yang masih sedikit mengerucutkan bibirnya.
Cup
"Jangan seperti itu, aku bisa memakanmu"
"Hyuuuuunnng.."
...
TBC..
=_= T_T
