Phenexia
Author : Shirokami Khudhory
Genre : Adventure, Friendship, Action, Romance
Rating : T
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto & Highschool DxD by Ichisei Ishibumi, serta mangaka maupun musisi yang karyanya saya catut di fanfic ini
Warning! AR, semi AU, gaje, OOC, typo, dsb.
Note :
Well... Sebelumnya perkenalkan saya Shirokami Khudhory, kali ini saya akan menghadirkan fanfic crossover Naruto x Highschool DxD. Di cerita ini, sang tokoh utama yakni Sasuke Phenexia adalah seorang high-class devil yang juga merupakan heir dari keluarga Phenexia. Keluarga Phenexia sendiri adalah keluarga cabang dari keluarga Phenex yang terkenal akan regenerasinya.
Summary :
Sasuke Phenexia, seorang high-class devil yang baru mendapat evil piece miliknya dan berusaha mengumpulkan peeragenya sendiri agar bisa menjadi sang jawara rating game serta terlepas dari bayang-bayang nama besar sang kakak. Bagaimana petualangan Sasuke dalam mengumpulkan peerage, serta apa yang akan menghalanginya dalam petualangannya?
Chapter 3 : Hollywood Shaolin
Seberkas cahaya mentari pagi menembus ruangan tersebut melalui celah-celah jendela yang tak tertutup dengan sempurna, kini sepasang muda mudi telah terbangun setelah semalam lamanya mereka berkutat didalam alam mimpi. Mereka berdua lantas mandi dan mempersiapkan barang-barang milik mereka dikarenakan hari ini mereka harus melanjutkan perjalanan mereka menuju bandara di kota Manchester.
CKLEK...
Tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka dan menampakkan seorang pria yang berdiri di depan daun pintu kamar tersebut.
"Ahh, rupanya kalian berdua sudah bangun ternyata." ucap pria tersebut.
"Iya Mr. Ferguson, kami harus melanjutkan perjalanan kami segera." jawab Sasuke.
"Tak apa, tapi kalau kalian berdua ingin kembali kemari lagi, datanglah... Saya beserta para peerage saya dan para staff akan dengan senang hati menyambutmu, biar bagaimanapun Mr. Itachi punya saham yang cukup besar di klub ini." balas Ferguson. "Kalau begitu saya pergi dulu untuk memimpin para pemain latihan pagi, maaf bila saya tak bisa mengantar kepergian kalian." tambahnya.
"Tak apa, terima kasih atas tumpangannya semalam." ucap Erza.
Mr. Ferguson kemudian pergi meninggalkan Sasuke dan Erza yang masih berada di ruangan tersebut. Mereka berdua kemudian melanjutkan mengemasi barang pribadi mereka lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut, mereka berdua terus berjalan hingga akhirnya mereka sampai di halaman depan stadion. Sejenak Sasuke menoleh ke belakang - menatap tulisan "OLD TRAFFORD" yang terpampang di sisi atas stadion tersebut.
"Manchester, kota yang cukup indah, disinilah aku pertama kali merasakan yang namanya fanatisme manusia." ucap Sasuke.
Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju bandara di pinggiran kota Manchester dengan menggunakan trem yang melintas di tengah-tengah kota. Sesampainya di bandara, Erza langsung memesan tiket pesawat menuju Amerika Serikat. Beruntungnya mereka mendapatkan jadwal penerbangan dimana mereka hanya perlu menunggu sekitar satu jam lamanya, sembari menunggu jadwal penerbangan mereka, Sasuke dan Erza hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama di ruang tunggu bandara.
Seteleh satu jam lamanya mereka berdua menunggu, mereka berdua akhirnya menaiki pesawat dan langsung menempati bangku di dekat jendela darurat. Menurut keterangan yang tertera di tiket mereka, perjalanan mereka kali ini akan menghabiskan waktu sekitar 6 jam sehingga mereka pun memutuskan untuk tidur sejenak.
...
~ Phenexia ~
...
NGIIIIIINNGG...
Suara mesin pesawat yang berderit nyaring terdengar di dalam kabin pesawat tersebut. Bunyi yang cukup nyaring sehingga berhasil membangunkan Sasuke dan Erza dari alam mimpinya. Terdengar pula instruksi dari pramugari dan pramugara agar seluruh penumpang memasang sabuk pengaman masing-masing dikarenakan pesawat sebentar lagi akan mendarat.
Hanya beberapa menit berselang, pesawat yang mereka tumpangi berhasil mendarat dengan selamat. Sasuke beserta Erza turun dari pesawat dan menapakkan kakinya di bandara John F. Kennedy, Los Angeles, Amerika Serikat. Dengan membawa barang bawaan mereka yang hanya sebuah ransel berukuran besar, mereka berjalan keluar dari dalam bandara tersebut. Mereka berdua dengan mudahnya berhasil mengelabui pihak imigrasi yang bertugas dengan menggunakan energi sihir yang Sasuke miliki untuk memanipulasi ingatan petugas imigrasi bandara.
Sayangnya, mereka berdua sampai di Los Angeles pada awal malam hari sehingga hal pertama yang mereka berdua lakukan adalah mencari penginapan terdekat yang nyaman dan juga tak begitu mahal, meskipun Sasuke adalah heir keluarga Phenexia yang sangat kaya raya namun ia diajarkan oleh kakaknya untuk selalu berhemat dan ajaran tersebut sangat berguna baginya selama berkeliling dunia di dunia manusia. Setelah beberapa menit mereka berkeliling, akhirnya mereka mendapatkan sebuah penginapan atau lebih tepatnya hotel melati di pinggiran kota Los Angeles. Mereka berdua lantas langsung menginap disana dan beristirahat.
~ Keesokan harinya ~
Pagi hari itu, Sasuke dan Erza bergegas meninggalkan penginapan tersebut. Di depan penginapan tersebut, mereka bisa melihat dengan jelas tujuan utama mereka dalam perjalanan kali ini. Sebuah bukit di utara Los Angeles dengan billboard yang merangkai kata "HOLLYWOOD" terpampang di sisi bukit yang menghadap kota Los Angeles. Disanalah, pusat dari produksi film-film berkelas dunia dibuat, tempat yang menjadi trademark kota Los Angeles.
HOLLYWOOD
Mereka berdua kemudian mulai bergegas menuju tempat tersebut menggunakan jaringan kereta bawah tanah yang banyak terhampar di kota ini, kebetulan terdapat sebuah stasiun kereta bawah tanah tak jauh dari penginapan mereka. Di sepanjang perjalanan, Sasuke sempat memikirkan perbedaan mencolok antara dunia manusia dengan underworld tempat dirinya berasal, terutama mengenai cara manusia berpindah lokasi dari satu tempat ke tempat lain. Jika di underworld para iblis lebih menyukai cara instan dengan berteleportasi langsung ke tempat tujuan dengan menggunakan lingkaran sihir maupun terbang menggunakan sayap iblisnya, maka di dunia atas para manusia cenderung lebih suka memanfaatkan transportasi massal seperti trem atau kereta bawah tanah seperti yang ia gunakan saat ini. Yah, walaupun secara kultur budaya, tak terdapat perbedaan berarti antara masyarakat iblis di underworld dengan para manusia di dunia atas.
Setelah 15 menit perjalanan singkat menggunakan kereta bawah tanah, sampailah mereka berdua di stasiun bawah tanah terdekat dengan kawasan Hollywood. Langsung saja mereka bergegas ke permukaan dan langsung disambut oleh berbagai gedung tinggi yang megah di kiri-kanan jalan, terdapat juga beberapa bioskop yang menampilkan beberapa film populer yang tentu saja masih hangat. Tentu saja mereka langsung berjalan memasuki kawasan Hollywood tersebut - berjalan diatas Walk of Fame, jalan setapak utama di kawasan Hollywood yang menampilkan logo bintang emas yang bertuliskan beberapa nama aktor, artis maupun musisi yang diakui kontribusinya dalam dunia entertainment.
Diantara deretan walk of fame yang mereka lewati, terdapat nama-nama besar di dunia akting dunia seperti Tom Cruise, Slyvester Stallone, Arnold Swatchneiger, Andy Murphy maupun musisi-musisi dunia yang terkenal seperti John Lennon, Michael Jackson, Madonna maupun Mariah Carey. Sasuke dan Erza lantas melanjutkan perjalanan mereka menuju kawasan inti Hollywood dimana beberapa film kelas dunia diproduksi.
Sementara itu di underworld, saat ini tepatnya di sebuah ruangan kerja yang cukup luas, seorang pria berambut pendek berwarna raven dengan garis kerutan dibawah kedua bola matanya sedang berkutat dalam tumpukan paperwork yang menggunung diatas meja kerjanya. Sepertinya tugasnya sebagai seorang Maou Phoenix memberinya beban baru yang ia anggap bahkan lebih berat ketimbang beban yang dipikulnya saat perang sipil bangsa iblis antara keturunan maou lama dan golongan anti-maou beberapa ratus tahun yang lalu.
"Hah, tugas-tugas ini sangatlah membosankan." keluhnya sambil membenamkan wajahnya kedalam tumpukan paperwork tersebut.
Sayangnya tak berselang lama, sebuah lingkaran sihir kecil muncul diatas meja kerjanya - menampilkan proyeksi holografik seorang pria tua beruban berusia kira-kira sekitar 60-70 tahun.
"Ahh Mr. Ferguson, ada laporan apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya sang maou Phoenix.
"Mr. Itachi Phoenix, saya sudah mengirimkan laporan mengenai aktifitas spiritual di wilayah kekuasaanku selama sebulan terakhir kepada anda." ucap Ferguson.
"Ya, saya sudah menerimanya." balas Itachi sambil memperlihatkan berkas laporan yang dikirimkan oleh Ferguson padanya, "Lalu, apa ada laporan lain yang ingin kau sampaikan?"
"Ada, ini mengenai adik anda, Mr. Sasuke." Itachi terdiam sejenak mendengar laporan dari Ferguson, "Kemarin lusa saya bertemu dengannya saat sedang membasmi iblis liar." lanjutnya.
"Begitu rupanya, jadi bagaimana keadaannya?" tanya Itachi.
"Sangat baik, bahkan adik anda sudah mendapatkan peerage pertamanya." jawabnya, "Tapi dia sekarang sudah pergi dari sini untuk melanjutkan perjalanannya, kudengar darinya bahwa adik tuan akan menuju ke Hollywood, Amerika Serikat." tambahnya.
"Terima kasih atas laporannya." balasnya.
Sambungan komunikasi antara dirinya dan Ferguson telah berakhir, itu artinya ia harus kembali berkutat dengan tumpukan paperwork dihadapannya. Meskipun begitu, setidaknya ia merasa sedikit lega karena adiknya dalam kondisi yang baik-baik saja, bahkan ia turut senang karena adiknya telah mendapatkan peerage pertamanya.
Sementara itu di batas terluar wilayah inti Hollywood, Sasuke dan Erza kini tertunduk lesu. Sejak pagi hari hingga kini matahari hendak terbenam mereka berkeliling kawasan utama Hollywood, tetap saja mereka gagal menemui aktor laga kungfu yang dicari-cari oleh Sasuke selama ini.
"Hah, sudah seharian kita berkeliling, tapi tetap saja dia tak ada." keluh Sasuke.
"Iya tuan, lebih baik kita beristirahat saja, sepertinya hari sudah semakin gelap." sahut Erza.
"Kau benar Erza, ayo kita cari penginapan." ajak Sasuke.
Mereka berdua kemudian mencari penginapan terdekat dan menemukannya di sekitar kawasan industri Hollywood, walaupun dengan harga yang cukup mahal.
...
~ Phenexia ~
...
7 hari telah berlalu semenjak mereka berdua menginjakkan kaki mereka di kota Los Angeles, Amerika Serikat. Sang rembulan baru saja terbangun dari tidurnya dan mulai menyinari terangnya malam di kota Los Angeles, kini Sasuke dan Erza sedang berjalan santai menyusuri kawasan industri utama Hollywood, kepala mereka berdua sejak tadi hanya bisa tertunduk lesu seolah telah kehilangan semangat untuk menghabiskan sisa waktu diawal malam hari itu.
"Hah, sepertinya percuma kita berada disini lebih lama lagi." ucap Sasuke sambil menghela nafasnya pendek, "Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita, ayo kita kembali ke hotel..." ajaknya.
"Baik- tuan, kemarilah... Sini lihat itu..." pinta Erza sambil menunjuk ke suatu arah.
CTACK... CTACK... CTACK... KLETACK...
Sasuke menoleh kearah yang ditunjuk oleh Erza. Ia melihat dari celah pintu ruangan mirip dojo yang sedikit terbuka, seorang pemuda berambut hitam pendek tengah berlatih beladiri dengan memukul-mukul sebuah benda kayu yang sepintas lebih mirip gantungan jaket dan topi.
"Hah... Hah... Hah..."
CTACK... CTACK... KLETAK... TAK... TAK... TAK... TAK...
Wajah oriental pemuda tersebut kini dipenuhi tetesan keringat yang mengucur dari pori-pori kulitnya. Meskipun begitu, pemuda tersebut masih berlatih dengan giat. Ia memukul tiang kayu latihan tersebut dengan tangannya, sesekali menendangnya dan bahkan menghujaminya dengan pukulan beruntun yang sangat cepat untuk ukuran manusia normal. Bisa dikatakan, pemuda tersebut sangatlah terlatih.
'Dia kan... Pemuda yang ada di film yang kutonton waktu itu, akhirnya aku menemukannya, dia benar-benar pemuda yang kuat dan berbakat' gumam Sasuke saat melihat wajah pemuda tersebut, "Aku ingin dia menjadi bagian keluargaku." ucap Sasuke pelan tanpa sadar.
"Ada apa tuan?" tanya Erza saat mendengar ucapan Sasuke sebelumnya.
"Ahh tidak, hanya saja- AWAS..."
Sasuke tiba-tiba berteriak saat ekor matanya tidak sengaja melihat salah satu kayu rangka atap dojo yang berada diatas pemuda tersebut patah. Dengan sigap Sasuke langsung melesat kearah pemuda tersebut - merangkul pundaknya dan mendorongnya menjauh dari tempat pemuda tersebut berada.
BRAAAAKKK...
Bagian rangka atap dojo yang terbuat dari kayu ambruk dan menimpa tempat pemuda tersebut berdiri sebelumnya. Beruntungnya Sasuke berhasil menyelamatkannya walau mereka berdua sedikit tersungkur ke lantai dojo tersebut. Mereka berdua kemudian kembali berdiri dengan bantuan uluran tangan Erza yang dengan kecepatan seorang [knight] yang ia miliki berhasil menyusul Sasuke dan pemuda tersebut dalam waktu sekejap mata.
"Are you okay sir?" tanya Sasuke dengan menggunakan bahasa Inggris.
Pemuda tersebut sedikit membersihkan baju latihannya yang agak kotor lalu menoleh kearah Sasuke, "I'm fine, thanks for your help." jawabnya.
"No problem sir..." balas Sasuke.
Tak berselang lama kemudian, beberapa orang yang mengenakan kemeja dan jas datang menghampiri mereka bertiga.
"Lee, apa kau baik-baik saja?"
"Apa kau terluka Lee?"
"Aku baik-baik saja pak sutradara..."
Pemuda bersurai hitam pendek itu menjawab kekhawatiran tiap orang yang datang menghampirinya dengan ekspresi seolah dia baik-baik saja, meskipun begitu kerumunan orang yang ternyata merupakan kru film tetap memeriksa keadaannya. Namun tiba-tiba salah satu orang di kerumunan tersebut menatap tajam Sasuke dan Erza seraya berkata,
"Hey kalian, apa yang kalian perbuat pada Lee?"
"Apa kalian ingin mencelakai aktor kami?"
"Seret saja kedua orang asing itu ke kantor polisi..."
"Ayo!"
"Tunggu dulu, mereka berdua tak bersalah, justru mereka berdualah yang telah menyelamatkanku tadi."
Dengan sigap, pria bersurai hitam itu langsung berdiri dihadapan Sasuke dan Erza - menghalangi kru-kru filmnya untuk menyeret orang yang telah menyelamatkannya ke kantor polisi. Ia lantas menjelaskan semua kronologi kejadian yang menimpanya dan berhasil meyakinkan rekan kru filmnya kedua orang yang berada dibelakangnya tak bersalah. Ia kemudian menyuruh rekan kru filmnya untuk kembali serta meminta waktu sejenak agar bisa berbicara empat mata dengan Sasuke dan Erza.
Dan sekarang disinilah mereka bertiga berada, meja nomor 13 di sebuah restoran cepat saji yang terletak tak jauh dari dojo yang rubuh tadi. Mereka bertiga tampak sedang menikmati sebuah burger daging sapi berukuran sedang yang telah tersaji dihadapannya. Merara suasana disana agak canggung, Sasuke membuka bibirnya dan memulai percakapannya.
"Terima kasih tuan karena telah menjelaskan semua kesalahpahaman ini.".
"Tidak tidak tidak, justru akulah yang harus berterimakasih pada kalian karena telah menyelamatkanku tadi." elak pemuda itu, "Jadi, siapa kalian berdua dan darimana asal kalian? Dari warna iris mata kalian, sepertinya kalian berdua bukan berasal dari negara ini."
"Sasuke Phenexia." jawab Sasuke lalu tangannya menunjuk kearah samping, "Dan gadis disebelahku ini namanya Erza Scarlett." Erza sedikit menundukkan kepalanya. "Kami berdua berasal dari Inggris." Sasuke menambahkan.
"Ahh begitu rupanya, namaku Xiao Lee, murid kebanggaan guru Bruce Lee." jawab pemuda tersebut, "Salam kenal..."
"Salam kenal juga..." jawab Sasuke dan Erza serentak.
Mereka bertiga kemudian berbincang akrab satu sama lain. Dalam perbincangan mereka tersebut, terungkap bahwa Sasuke adalah fans dari Xiao Lee sendiri serta tujuan mereka berdua ke Hollywood hanya untuk bertemu dengannya.
Sayangnya, dikarenakan hari sudah mulai larut malam dan Lee masih memiliki jatah pengambilan gambar lagi keesokan harinya, dengan amat terpaksa mereka mengakhiri perjumpaan tersebut. Diakhir perpisahan mereka, Lee memberikan kartu namanya pada Sasuke dan meminta mereka berdua untuk pergi ke gedung studio produksi 5 Hollywood untuk melihat langsung proses syuting filmnya keesokan paginya.
~ Keesokan paginya ~
Pagi itu, sesuai permintaan Lee, Sasuke dan Erza pergi menuju gedung studio produksi 5 Hollywood. Saat ini mereka berdua telah berada di kompleks studio produksi Hollywood dan mencari gedung studio yang dimaksud oleh Lee.
"Tuan, aku tak menyangka bisa melihat langsung proses pembuatan film." ucap Erza.
"Akupun begitu, ayo kita segera kesana!" ajaknya.
Setelah beberapa menit mereka berkeliling kompleks studio produksi Hollywood, akhirnya mereka berdua menemukan gedung studio produksi 5 yang dimaksud. Rupanya studio produksi 5 terletak agak tersembunyi ketimbang studio-studio produksi lain. Sesampainya disana, ia melihat Xiao Lee yang sedang duduk sambil membaca beberapa lembar kertas yang sepertinya merupakan script dialog filmnya.
"Hai Lee..." sapa Sasuke.
"Ahh Sasuke... Erza... Akhirnya kalian berdua datang." balas Lee.
"Yah, sesuai permintaanmu kemarin." balasnya.
Mereka bertiga kemudian mulai berbincang akrab kembali. Yah, walaupun sedari tadi kedua bola mata Lee tak henti-hentinya menatap lembaran script dialog miliknya. Sayangnya hanya beberapa menit berselang sejak mereka mulai bercengkerama, seorang wanita jangkung bersurai hitam menghampiri mereka.
"Tuan Lee, anda disuruh ke ruang rias secepatnya, karena pengambilan gambar akan dilakukan sebentar lagi." ucap wanita tersebut.
"Ahh ya, terima kasih..." jawab Lee, "Sasuke... Erza... Aku tinggal pergi dulu, kalian tetap disini saja." tambahnya.
"Ahh ya, tak apa." balasnya.
Xiao Lee kemudian berjalan bersama kru wanita tersebut menuju ruang rias - meninggalkan Sasuke dan Erza di tempat tersebut. Awalnya mereka berdua ingin tetap diam di tempat tersebut, namun karena rasa ingin tahu Erza yang sangat tinggi, mereka berjalan berkeliling gedung studio produksi tersebut - tentunya mereka berkeliling tiap satu sudut gedung tersebut dengan kecepatan tinggi seorang iblis.
Namun, acara berkeliling mereka sempat terhenti dikala ekor mata Sasuke tak sengaja menangkap image seorang pria misterius yang mengambil sepucuk pistol yang tergeletak, membuka magazinenya dan mengisi beberapa butir peluru kedalam magazine tersebut - memasangnya lalu menaruhnya kembali keatas meja dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Setelah orang itu pergi, Sasuke dan Erza buru-buru kembali ke tempat awal karena dari kejauhan ia melihat Lee keluar dari ruang rias.
"Ahh, ternyata kalian masih berada disini, maaf kalau aku tadi sedikit lama." ucap Lee.
"Tak apa, kami bisa maklumi hal itu." balas Sasuke.
Kini Xiao Lee tampak seperti orang lain, rambutnya tampak lebih acak-acak dengan sebuah luka goresan yang melintang diagonal dari bawah mata kirinya hingga sisi pipi kanannya. Entah siapa yang membuat riasan seperti ini, tapi dapat diakui bahwa luka gores di wajah Lee tampak sangatlah nyata. Selain tampilan wajahnya yang memberi kesan liar, Lee juga mengenakan celana pendek berwarna krem yang semakin menambah kesan liar padanya.
Lee kemudian mengajak Sasuke dan Erza menuju tempat ia akan mengambil adegan film selanjutnya. Dan disinilah tempat mereka berada, di sisi lain gedung studio tersebut dimana saat ini mereka bisa melihat banyak kru film yang bersiap di depan alat-alat produksi film yang cukup canggih dan juga gulungan kabel yang membentang dimana-mana, namun dari semua itu yang paling menarik adalah sebuah layar background berwarna hijau cerah yang berukuran cukup besar.
"Nah Sasuke... Erza... Kalian berdua tetap berada disini, jangan ganggu kru-kru film disini." pinta Lee.
"Baik..."
Lee kemudian berjalan menuju layar background berwarna hijau untuk pengambilan gambar kali ini - meninggalkan Sasuke serta Erza di tempat tersebut.
"Ok Lee, kita ulangi adegan kemarin, nanti anggap saja kau sedang berkelahi melawan beberapa orang dan akan ada orang yang berakting menembak bahu kirimu." ucap sang sutradara.
"Baik..." jawabnya.
"Ok KAMERA... ROLL... SCENE 51 TAKE 3 ACTION..." teriak sang sutradara.
Bersamaan dengan aba-aba yang diteriakkan sang sutradara, Lee langsung beraksi seolah sedang berkelahi melawan beberapa orang sekaligus. Sasuke dan Erza yang melihat aksi dari Lee cukup kagum dengan keluwesan gerakan Lee, namun Sasuke mendadak terperanjat saat melihat salah satu aktor pendukung yang mengambil sepucuk pistol dari atas meja dan mengarahkan moncong pistol tersebut kearah Lee. Sasuke ingat betul kalau pistol yang dipegang orang tersebut adalah pistol berisi peluru yang ia lihat sebelumnya. Merasa nyawa teman barunya berada dalam bahaya, Sasuke lantas mengambil sebuah nampan besi yang tergeletak diatas meja didekatnya dan langsung melemparnya kearah sisi depan Lee.
"Lee, AWAS..."
DORR... TANG... GLONTANG...
Ajaibnya, nampan besi yang dilempar oleh Sasuke tepat sasaran dan tepat waktu menyelamatkan nyawa Lee dan terlempar ke lantai menghasilkan bunyi cukup keras.
"Ahh, CUT..." teriak sang sutradara.
"Sasuke, apa yang kau lakukan? Kau merusak syutingku tadi." gerutu Lee yang kesal pada teman barunya itu.
"Tenanglah Lee... Dan, aku baru tau kalau adegan penembakan seperti itu menggunakan peluru asli." ucap Sasuke sambil berjalan pelan menghampiri Lee.
"Apa maksudmu?" tanya Lee.
Erza kemudian menghampiri Sasuke sambil membawa nampan besi yang dilempar oleh Sasuke sebelumnya dan memberikannya pada Sasuke. Sasuke lantas menerima nampan tersebut dan memperlihatkannya pada Lee serta kru film yang lain.
"Lihat... Ada proyektil peluru menancap di nampan besi ini." ucap Sasuke sambil menunjuk proyektil peluru yang tertancap di nampan besi yang dipegangnya, "Proyektil peluru inilah yang harusnya menghujam tubuhmu Lee seandainya tak ada nampan besi yang menghalanginya, ini adalah percobaan pembunuhan berencana yang berkedok kecelakaan saat syuting. Jujur saja, siapapun yang merencanakan pembunuhan ini, rencana ini tersusun dengan sangat rapi." lanjutnya.
Lee beserta kru film yang berada di tempat tersebut terkejut. Bagaimana tidak, ada sebuah percobaan pembunuhan terjadi di depan mereka disaat syuting film tengah berlangsung.
"Dan akupun sangat yakin bila masih ada beberapa butir peluru didalam magazine pistol yang dipegangnya." ucap Sasuke sambil menunjuk kearah seorang pemeran pendukung yang memegang pistol tersebut. "Kalau kalian masih tak percaya padaku, aku mohon pada pria itu untuk memperlihatkan magazine pistol tersebut sebagai bukti otentik." tambahnya.
Sasuke lantas berjalan perlahan menuju pemeran pembantu yang memegang pucuk pistol. Erza, Lee, dan kru film tersebut menatap kearah Sasuke akan melangkah. Dapat terlihat dengan jelas raut wajah santai tergambar di wajah Sasuke, sedangkan sebaliknya raut wajah panik dan takut tampak sekali tergambar di wajah pemeran pembantu tersebut.
DOORRR...
Sebuah tembakan terdengar menggema di ruangan tersebut, salah seorang pemeran pembantu yang memegang pistol baru saja menembak dada Sasuke dengan pistol di tangannya.
"A-Apa yang kau laku-"
DORR...
Belum sempat sang sutradara menyelesaikan ucapannya, sebutir peluru menghujam bahu kirinya dan membuatnya tersungkur. Sontak saja seisi studio tersebut panik, kru-kru film berusaha mengevakuasi sang sutradara yang tertembak, sedangkan pria pemeran pengganti tersebut mengarahkan moncong pistol tersebut kearah Lee dan DORR...
Pria tersebut kembali menembak kearah Lee, beruntungnya Erza dengan sigap sudah berada didepan Lee dan menangkis peluru tersebut dengan sebilah besi di tangannya.
"Selamatkan dirimu Lee, pria itu mengincar nyawamu." ucap Erza.
DORR...
Mendengar bunyi tembakan didekatnya, Erza langsung memegang tangan Lee dan berpindah ke belakang pria penembak tersebut. Erza kemudian memukul tengkuk leher pria penembak tersebut hingga membuatnya pingsan seketika.
"A-Apa yang baru saja terjadi? Bagaimana bisa kau berpindah secepat itu?" tanya Lee.
"Jika kau ingin mengetahuinya, ikutlah dengan kami nanti." jawabnya.
"Ahh, syukurlah kalian berdua selamat..."
Sasuke rupanya datang menghampiri mereka berdua, dibelakangnya tampak beberapa polisi yang langsung menangkap pria penembak yang telah pingsan tersebut. Sebagai bukti atas kejadian yang terjadi, Sasuke juga menyertakan rekaman salah satu kamera yang ternyata masih menyala selama insiden penembakan terjadi kepada pihak kepolisian.
...
~ Phenexia ~
...
Dan kini disinilah mereka bertiga sekarang berada, di kamar apartemen milik Lee. Yah, setelah insiden penembakan terjadi, mereka bertiga langsung diperiksa oleh penyidik kepolisian setempat sebagai saksi kunci insiden tersebut hingga awal malam menjelang. Sehingga hal pertama yang mereka lakukan adalah beristirahat di kamar apartemen milik Lee.
"Sasuke, bukannya tadi dadamu tertembak? Tapi kenapa kau bisa pulih seperti tak terjadi apa-apa?" tanya Lee, "Dan Erza, bagaimana bisa kau bergerak secepat itu? Dalam sekejap kedipan mata." tambahnya.
"Lee, aku ingin bertanya padamu. Apakah kau percaya akan keberadaan makhluk spiritual seperti iblis?" tanya Sasuke.
"Tentu saja percaya, mereka pasti ada walaupun kadang kita tak menyadarinya. Kenapa kau menanyakan hal itu?" balasnya.
"Bagaimana jika... Kedua orang yang berada dihadapanmu sekarang ini adalah seorang iblis." Sasuke bertanya balik.
"Apa maksudmu kawan? Kalian berdua tak mung-"
BSAAATTT...
Mendadak sayap api milik Sasuke dan sayap iblis milik Erza mengepak tepat dihadapan Lee. Sontak saja Lee terkejut melihat penampilan kedua temannya itu sekarang dan tak bisa berkata apa-apa.
"Yap, kami adalah seorang iblis. Dan sebenarnya kami sedang dalam perjalanan keliling dunia untuk mencari anggota keluargaku." ucap Sasuke, "Jadi Lee, apakah kau bersedia menjadi salah satu dari kami dan menjadi bagian dari keluargaku ini?" tanya Sasuke to the point.
Lee memasang pose berpikir ragu, di satu sisi ia berhutang nyawa pada kedua teman barunya ini, tapi di sisi lain ia tak mau menjadi seorang iblis begitu saja. Terlebih, selama ini image seorang iblis terbilang sangat buruk di mata orang awam, dan parahnya ternyata kedua teman barunya yang telah menyelamatkannya dari percobaan pembunuhan adalah seorang iblis.
"Jika kau tak bersedia, tak apa. Aku takkan memaksa kehendakmu, semua pilihannya ada di tanganmu sekarang." ucap Sasuke.
"Maaf Sasuke... Erza... Tapi untuk saat ini aku masih belum bisa menerima tawaranmu, sekali lagi aku minta maaf." jawab Lee sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Tak apa, toh itu semua sudah menjadi pilihanmu, tapi..." Sasuke tiba-tiba merogoh saku celananya dan memberikan 5 lembar kertas sihir permintaan miliknya pada Lee, "Tolong terimalah pemberianku ini dan bawalah kemanapun kau pergi, anggap saja ini sebagai tanda persahabatan antara kita."
Lee kemudian menerima barang pemberian Sasuke tersebut dan menyimpannya kedalam saku celananya. Setelah itu, Sasuke pamit ingin pergi kembali ke hotel penginapannya dikarenakan hari sudah semakin larut malam.
TAP TAP TAP
Bunyi langkah kaki menemani perjalanan kedua insan iblis muda ini menuju hotel tempat ia berjalan dengan santai, sedangkan Erza berjalan sambil membaca sebuah majalah travelling yang baru saja ia beli.
"Jadi, apakah tak apa tuan membiarkannya begitu saja?" tanya Erza.
"Tak apa, toh itu sudah menjadi pilihannya." jawab Sasuke dengan santai.
"Lalu, kemana kita akan pergi selanjutnya?" tanya Erza kembali.
"Entahlah, aku tak tau. Apa kau punya saran?" Sasuke balik bertanya.
"Ada." jawab Erza. Ia lalu memperlihatkan sebuah halaman majalah travelling yang sedang ia baca pada Sasuke, "BALI, PARADISE ON EARTH"
to be continued...
AN:
Chapter 3 Hollywood Shaolin, jujur chapter ini terinspirasi dari kisah nyata pembunuhan Brandon Lee, anak dari Bruce Lee yang tewas tertembak dalam sebuah syuting film di Hollywood. Brandon Lee tertembak tepat di bagian jantungnya saat sedang mengambil adegan untuk film yang ia bintangi, pihak polisi menyatakan bahwa tewasnya Brandon Lee murni karena kecelakaan kerja, namun beberapa pihak lain yakin adanya sabotase dibalik kejadian tersebut. Karena barang properti untuk syuting seharusnya sudah terjamin keamanannya bagi pemeran film itu sendiri.
Dan sampai saat ini, misteri dibalik tewasnya Brandon Lee belum terkuak secara sempurna.
Terima kasih...
Review :
michaelgabriel455 :
Hahahaha, cari sensasi yang berbeda donk...
arafim123 :
Terima kasih atas sarannya, ini sudah saya perbaiki.
Bagaimana fanfic dari saya, semoga memuaskan anda selaku reader...
Overall, Shirokami Khudhory logout dulu...
