Phenexia
Author : Shirokami Khudhory
Genre : Adventure, Friendship, Action, Romance
Rating : T
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto & Highschool DxD by Ichisei Ishibumi, serta mangaka maupun musisi yang karyanya saya catut di fanfic ini
Warning! AR, semi AU, gaje, OOC, typo, dsb.
Note :
Well... Sebelumnya perkenalkan saya Shirokami Khudhory, kali ini saya akan menghadirkan fanfic crossover Naruto x Highschool DxD. Di cerita ini, sang tokoh utama yakni Sasuke Phenexia adalah seorang high-class devil yang juga merupakan heir dari keluarga Phenexia. Keluarga Phenexia sendiri adalah keluarga cabang dari keluarga Phenex yang terkenal akan regenerasinya.
Summary :
Sasuke Phenexia, seorang high-class devil yang baru mendapat evil piece miliknya dan berusaha mengumpulkan peeragenya sendiri agar bisa menjadi sang jawara rating game serta terlepas dari bayang-bayang nama besar sang kakak. Bagaimana petualangan Sasuke dalam mengumpulkan peerage, serta apa yang akan menghalanginya dalam petualangannya?
Chapter 4 : Broken Paradise Island
Pagi itu, di hari yang baru, Sasuke dan Erza yang sudah bangun sejak fajar menyingsing kini sedang merapikan pakaian mereka kedalam tas ransel dan juga barang-barang pribadi milik mereka yang ia taruh kedalam dimensi sihir penyimpanan miliknya. Hari ini mereka berencana untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju suatu tempat yang dijuluki...
Paradise on Earth, BALI
Saat ini, Sasuke beserta Erza sedang berada di ruang tunggu bandara John F. Kennedy, Los Angeles, Amerika Serikat. Mereka berdua duduk bersebelahan di kursi ruang tunggu bandara menghadap sebuah papan elektronik yang bertuliskan
Flight EMA054 - Emirates Airways - Los Angeles to Denpasar via Jakarta - 10.36 to 23.51 - DELAYED
Yap, tepat sekali. Pesawat yang akan ditumpangi oleh Sasuke dan Erza mengalami penundaan keberangkatan hingga waktu yang belum ditentukan, konon penundaan tersebut terjadi karena cuaca buruk yang terjadi di sepanjang jalur penerbangan. Ahh, betapa sialnya kedua iblis ini, dengan terpaksa perjalanan mereka harus terganggu dan ditambah lagi kepastian keberangkatan yang belum jelas membuat mau tak mau mereka menginap di ruang tunggu bandara tersebut hingga ada kepastian dari pihak maskapai.
Sementara itu di tempat terpisah, tampak seorang pria bersurai hitam pendek berusia sekitar 30an dengan garis keriput dibawah kedua bola matanya tengah duduk bersandar di sebuah kursi kerja yang biasa digunakan oleh seorang bos yang memimpin sebuah perusahaan besar.
"Ahh, akhirnya selesai juga..."
Pria itu menghela nafasnya panjang, sepertinya ia merasa sangat lega sekaligus letih setelah beberapa jam lamanya ia berjibaku melawan tumpukan dokumen yang sempat berada diatas meja kerjanya.
CKLEK... KRIEEETTT...
Pria itu lantas menoleh kearah satu-satunya pintu yang berada di ruangannya. Ia mengangkat sebelah alisnya saat melihat sesosok pria berambut crimson panjang tergerai telah berdiri di depan daun pintu ruang kerjanya. Pria itu melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut dan langsung menutup pintu ruangan itu kembali, sedangkan pria lain yang bersurai hitam hanya bisa memutar bola matanya menatap orang tersebut.
"Hah... Sirzechs, ada urusan apa kau datang kemari?" tanya pria bersurai hitam yang sedang duduk di kursi kerjanya pada pria bersurai crimson yang baru datang.
"Ayolah Itachi... Jangan pasang cemberut seperti itu, nanti keriput di wajahmu bertambah parah lho..." ejek Sirzechs.
"Diam kau, jelas-jelas kau mengganggu waktu tidurku yang amat sedikit dan berharga semenjak aku menjadi maou." keluh Itachi sambil membenamkan kepalanya diatas meja kerjanya.
"Ayolah, aku datang kemari hanya untuk meminta izinmu saja." jelas Sirzechs to the point.
"Izin?" Itachi mendongakkan kepalanya sedikit keatas melirik Sirzechs yang telah duduk di kursi didepan meja kerjanya, "Izin apa?"
"Kau tau, sebenarnya sebentar lagi adalah awal tahun ajaran baru sekolah di dunia manusia. Jadi aku meminta izinmu untuk mengubah SMA Kuoh menjadi sekolah campuran, agar adikku Rias bisa memasukkan anggota keluarganya kesana." jelasnya.
Itachi lantas mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar di kursi kerjanya, "Heh, kenapa aku? Bukankah kepala sekolah itu si Kuchiki? Lagipula SMA Kuoh kan sekolah yang kau dirikan sendiri, kebetulan saja [knight]ku satu itu menjadi kepala sekolah disana."
"Aku tau, tapi biar bagaimanapun Kuchiki itu [knight]mu juga, jadi sudah sewajarnya aku meminta izin padamu juga." balas Sirzechs.
"Ahh, aku tak terlalu memikirkannya, itu urusanmu dengan [knight]ku itu. Lagipula semua anggota keluargaku memang kubebaskan untuk menjalani karir yang mereka inginkan, yang penting mereka tetap memberi laporan bulanan tentang aktifitas spiritual disekitar mereka berada kepadaku." ucapnya.
"Ya sudah, kalau begitu aku kembali dulu." Sirzechs beranjak dari tempatnya duduk lalu berjalan menuju pintu keluar. Namun saat ia memegang knop pintu, mendadak ia mengurungkan niatnya tersebut dan menoleh ke belakang, "Ahh nyaris saja kelupaan, apa kau tak memasukkan adikmu ke SMA Kuoh. Kupikir selama dia berada di dunia manusia, lebih baik dia dan keluarganya juga mengenyam bangku pendidikan, setidaknya itu bisa membuatnya berbaur dengan manusia biasa."
"Hmm, idemu bagus juga Sirzechs, mungkin dengan begini aku bisa mengawasi adikku dengan lebih mudah selama ia berada di dunia manusia." balas Itachi, "Tak kusangka ternyata kau berguna juga Sirzechs." tambahnya.
"Hoi hoi, apa-apaan dengan ejekanmu itu." keluh Sirzechs. Sedangkan Itachi langsung tersenyum sendiri melihat ekspresi sahabatnya satu ini, dan tak berselang lama kemudian Sirzechs meninggalkan ruangan tersebut.
...
~ Shirokami Khudhory ~
...
"Hah, aku ngantuk sekali..."
Pemuda bersurai raven itu merentangkan kedua tangannya lalu membanting punggungnya ke kursi penumpang pesawat yang ia tumpangi, disebelah kanannya tampak sesosok gadis berambut merah yang sedang tertidur manis dan sedikit mendengkur pelan. Yap, kini mereka berdua sedang berada di dalam kabin pesawat Emirates Airlines yang akan membawa mereka menuju destinasi mereka selanjutnya.
Setelah lebih dari 5 jam lamanya mereka menunggu kepastian penerbangan mereka di ruang tunggu bandara, akhirnya cuaca membaik sehingga jadwal penerbangan kembali seperti semula. Dan sekarang, dikarenakan perjalanan menggunakan pesawat dari Los Angeles menuju Bali akan memakan waktu sekitar 12 jam, jadi Sasuke akhirnya memutuskan untuk ikut tidur menemani [knight]nya yang telah tertidur terlebih dahulu.
"Selamat tidur..." ucap Sasuke pelan sambil menyandarkan kepalanya di bangku pesawat.
NGIIIIINNNGG...
Bunyi desingan pesawat yang hendak mendarat membangunkan sepasang iblis muda ini. Sambil mengusap kedua bola matanya, Sasuke perlahan membuka kedua matanya yang disusul oleh Erza beberapa menit berselang. Ia lantas menoleh kearah jendela pesawat yang kebetulan tepat berada di samping kiri iblis bersurai raven tersebut, di dalam jarak pandangnya ia bisa melihat hamparan sawah yang membentang luas bagaikan sebuah permadani indah.
Tunggu dulu, Sasuke merasakan sesuatu yang ganjil saat ia melihat kearah luar jendela. Ia ingat betul bahwa ia beserta Erza berangkat dari Los Angeles pada siang hari saat matahari mulai condong kearah barat, jika perjalanan menggunakan pesawat memakan waktu sekitar 12 jam, maka seharusnya ia tiba di Bali pada tengah malam, namun mengapa ia tiba di Bali justru di pagi hari seperti saat ini.
"Tuan, mari kita turun, pesawat telah mendarat."
Belum sempat ia menyelesaikan analisanya, sebuah kalimat yang terucap dari seseorang yang ia kenal mengejutkannya. Ia lantas menoleh kearah sumber suara yang tak lain adalah Erza yang sedang berdiri sambil mengambil ransel kecil milik mereka berdua yang sebelumnya ditaruh di bagasi diatas kursi penumpang. Rupanya selama ia terhanyut dalam lamunannya, pesawat yang ia dan [knight]nya tumpangi berhasil mendarat dengan selamat.
Dan disinilah mereka berada sekarang, di halaman luar bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar. Yah, lagi-lagi mereka berdua berhasil mengelabui petugas imigrasi bandara dengan sedikit hipnotis menggunakan demonic power milik Sasuke. Mereka berdua kemudian berjalan menuju salah satu taksi bandara yang sedang menunggu penumpang lalu masuk kedalam taksi tersebut setelah sebelumnya mereka menaruh barang bawaan mereka di bagasi. Erza lalu memperlihatkan gambar sebuah pantai di majalah parawisata pada supir taksi tersebut yang dibalas oleh anggukan kepala sang supir taksi.
Setelah sekitar 1 jam lamanya mereka menumpang taksi tersebut, akhirnya mereka berdua sampai di tempat tujuan.
Kuta Beach, Bali.
Sebuah pantai yang berjarak hanya 40 kilometer dari pusat kota Denpasar, sebuah pantai indah nan eksotis yang menjadi surga bagi para peselancar dari seluruh dunia. Mereka berdua lantas langsung memasuki kawasan pantai tersebut, dan sesampainya disana Sasuke langsung berjemur diatas hamparan pasir putih yang membentang di pantai tersebut, sedangkan Erza sendiri langsung berlari ke tepi pantai tak jauh dari tempat Sasuke berjemur - menerjang gulungan ombak yang cukup tenang namun juga tak cukup ganas. Sepertinya Sasuke sangat menikmati liburannya kali ini dikarenakan di underworld sendiri tak ada pantai, jangankan pantai, laut pun tak ada di underworld. hanya dataran yang membentang dimana-mana yang terdapat di underworld.
"Permisi tuan, perlu jasa pijat refleksi ala Indonesia?" tanya seorang wanita bersurai panjang yang diikat ponytail sambil menyodorkan sebotol sunblock dan juga minyak pijat kepada Sasuke yang sedang berjemur.
"Ahh, boleh... boleh..." jawab Sasuke.
Sasuke lalu bangkit sejenak lalu berbaring terlentang bertelanjang dada diatas tikar rotan yang dipinjamkan oleh wanita tukang pijat tersebut. Setelah itu, wanita tersebut duduk di samping Sasuke lalu mulai memijat tubuh Sasuke secara perlahan dimulai dada. Sayangnya tak lama berselang, tiba-tiba Erza datang menghampiri Sasuke dan terkejut karena Sasuke kini bersama wanita lain.
"Tuan..." Sasuke menoleh kearah sumber suara dan melihat Erza yang berdiri dihadapannya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dengan ekspresi wajah yang cemberut, "Ehh, ini tidak seperti yang kau pikirkan Er-chan... Aku hanya sedang berjemur dan wanita ini datang menawarkan pijat refleksi ala negara ini saja."
Erza yang mendengar tuannya memanggilnya dengan nama panggilan yang terdengar imut hanya bisa menghela nafasnya dan memaafkan kejadian yang terjadi saat ini, "Ya sudahlah, aku percaya pada tuan, tapi lain kali jangan memberi kejutan seperti ini." ucapnya sambil membaringkan badannya di bagian tikar yang tersisa, "Tapi sebagai hukumannya tuan traktir aku pijat gratis ini juga."
"Baiklah, aku mentrak-"
"Ahh..."
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Sasuke dikejutkan oleh suara seseorang. Ia lantas menoleh kearah sumber suara dan melihat wanita tukang pijat dengan ekspresi yang tampak sangat terkejut sambil menutup mulutnya.
"Ada apa nona? Apa yang terjadi?" tanya Sasuke.
"Bayang-bayang kakak, kegagalan dalam membina keluarga, tekad untuk melindungi anggota keluarganya." ucap wanita tersebut dengan acak.
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke, "Aku tak mengerti maksud ucapanmu sama sekali." tambahnya.
Wanita bersurai pirang itu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia kemudian mulai melanjutkan pijatannya yang sempat tertunda, sayangnya Sasuke sudah terlanjur panik akan situasi yang terjadi secara mendadak tadi.
"Apa kau baik-baik saja nona berambut pirang?" tanya Sasuke.
Wanita bersurai pirang itu menganggukkan kepalanya, "Hanya saja... Jika anda terus memikirkan kegagalan anda untuk membujuk orang itu kedalam kebangsawananmu saat berada di USA, anda takkan pernah maju selangkahpun, seharusnya anda harus move on demi sesuatu yang lebih baik." ucapnya.
Sasuke membelalakkan kedua bola matanya lebar, ia benar-benar terkejut dengan ucapan spontan yang keluar dari mulut wanita bersurai pirang yang sedang memijat tubuhnya, dengan sigap ia beranjak dari posisi berbaringnya dan kini duduk menghadap wanita tersebut. Di lain sisi, Erza juga tampak sangat terkejut karena ucapan wanita tersebut 100% benar.
"Ba-bagaimana bisa kau tau semua itu?" tanya Sasuke dengan terbata-bata.
"Maaf tuan..." Wanita bersurai pirang itu menundukkan kepalanya, "Saat tadi aku hendak memijat kepala tuan, secara tak sengaja aku membaca pikiran dan ingatan tuan." ucapnya, "Aku benci mengatakannya tapi aku memiliki kemampuan untuk melihat pikiran dan ingatan orang lain, untung saja tadi aku segera melepaskan tanganku dari kepala tuan sehingga tak banyak ingatan tuan yang sempat kulihat." tambahnya.
"Berarti kau sudah tau siapa kami?" tanya Sasuke kembali.
"Yap, kalian berdua iblis kan... Dan sekarang kalian berdua sedang berkeliling dunia untuk mencari bidak / peerage bukan?" jawab wanita bersurai pirang tersebut.
Sasuke menghela nafasnya panjang, ia sama sekali tak menyangka kalau wanita tukang pijat yang baru saja ia temui mempunyai kemampuan membaca pikiran seseorang. Namun sejenak ia menyeringai senang di dalam hatinya, sepertinya ia mendapatkan bidak yang potensial lagi. Perlahan ia membuka bibirnya yang sempat terkunci sebelumnya dan berkata,
"Umm nona, kalau boleh tau siapa namamu?"
"Namaku Ni Nyoman Yohanes Ino." jawabnya, "Tenang saja, aku bersedia kok menjadi anggota keluargamu." tambahnya sambil tersenyum kecil.
"Ehh, bagaimana bisa kau tau niatku Ino?"
"Apa anda lupa kalau tadi aku sempat melihat ingatan anda?" Sasuke menghela nafasnya kembali untuk kesekian kalinya, "Karena kau sudah menyetujuinya, ayo kita pergi dari sini, aku tak mungkin melakukan ritual di tengah keramaian seperti ini."
Mereka bertiga kemudian beranjak dari tempat tersebut dan berjalan menuju tempat yang cukup sepi tak jauh dari pantai tersebut. Erza kemudian menyuruh Ino agar berbaring agar ritual bisa dimulai oleh Sasuke, dan pada akhirnya ritual pereinkarnasian pun sukses dan Ino menjadi peerage kedua Sasuke. Setelah itu, mereka bertiga saling memperkenalkan diri satu sama lain. Dan sekarang disinilah mereka berada, di tepi sebuah jalan besar di pinggiran kota Kuta, Bali.
"Hmm Ino, dimana rumahmu? Apa masih jauh?" tanya Erza.
"Tidak kok, sebentar lagi juga sampai, cuma sedikit masuk gang kecil itu saja." jawab Ino sambil menunjuk kearah sebuah gang kecil di sisi kiri sebelum pertigaan jalan tersebut.
Mendengar jawaban Ino, Erza semakin mempercepat langkah kakinya. Dan sesampainya di tempat yang dimaksud, Erza dan Sasuke langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa tempat yang dimaksud adalah sebuah rumah kayu yang cukup kecil dan terletak diujung gang sempit tersebut.
"Selamat datang di rumahku..." ucap Ino saat membuka pintu rumah tersebut dan langsung menyalakan lampu rumahnya, "Maaf kalau sedikit tak terawat, maklum soalnya aku tinggal sendirian disini."
"Ehh, sendirian? Dimana orangtuamu maupun keluargamu yang lain?" tanya Erza.
"Mereka semua sudah meninggal..." jawab Ino sambil mendadak tertunduk lesu, "Dua tahun yang lalu, seluruh keluargaku meninggal karena sebuah insiden teror bom yang meledak di sebuah hotel tempat sebagian besar keluargaku bekerja."
"Ma-maaf karena telah membuatmu mengingat kejadian itu." sesal Erza.
"Tak apa, aku juga sudah merelakannya. Yah, walaupun aku masih bingung dengan motif pelaku teror bom tersebut yang katanya atas dasar agama."
Sasuke mengangkat sebelah alisnya saat mendengar ucapan Ino, "Menggunakan agama sebagai tameng pembenaran atas tindakan terorisme? Sungguh teori yang tak masuk akal, walaupun aku lahir dan besar di underworld sebagai seorang iblis murni, tapi aku yakin tak ada satupun agama yang mengajarkan pengikutnya untuk melakukan tindakan terorisme."
"Menurutku justru merekalah, para pelaku terorisme itu yang memiliki sifat yang lebih iblis ketimbang iblis itu sendiri." sahut Erza.
"Itulah yang terus kupikirkan hingga sekarang, karena menurutku bukan agamanya yang salah, tapi hanya segelintir pengikut agama tersebutlah yang salah." ucap Ino kembali.
"Oh ya, bisa kita ubah topik obrolan kita? Lama-kelamaan aku merasa kepalaku semakin mendidih saja, apa kalian juga merasakannya?" keluh Sasuke.
"Yah, aku juga merasakannya." jawab Erza dan Ino serempak, "Cukup membuat kepalaku sedikit pusing." Ino menambahkan.
"Itu karena kita adalah iblis, dan topik seperti ini cukup tabu untuk dibicarakan oleh kita." jawab Sasuke.
Mereka bertiga kemudian melanjutkan pembicaraan mereka dengan topik yang berbeda dan lebih ringan. Tak disangka waktu telah malam hari dan Ino menawarkan Sasuke beserta Erza untuk menginap di rumahnya selama mereka berada di Bali.
~ Keesokan harinya ~
Malam itu, Sasuke beserta Erza dan Ino sedang berkumpul di ruang keluarga rumah Ino. Mereka bertiga tampak mengenakan pakaian casual yang terkesan rapi dan menambah pesona ketiga iblis tersebut, maklum saja karena malam ini mereka berencana untuk dinner di salah satu kafe yang cukup terkenal di daerah Legian Kuta, Bali untuk merayakan bergabungnya Ino sebagai peerage baru Sasuke. Setelah mereka semua telah siap, mereka langsung berangkat menuju kafe tersebut.
Sesampainya di kafe yang dimaksud yakni Hardrock Cafe, mereka bertiga langsung berjalan menuju satu-satunya meja kosong yang berada di dekat pintu masuk dan memesan hidangan santap malam mereka. Memang, malam itu kafe sangat ramai dikarenakan bertepatan dengan weekend.
Tak perlu menunggu lama, hidangan yang mereka pesan akhirnya tiba dan kini telah tersaji diatas meja tersebut. Sasuke hendak menyantap hidangan tersebut tapi suara parau nan terbata-bata yang terdengar pelan sedikit mengusik indra pendengaran Sasuke, ia lantas menoleh kearah sumber suara.
"Hmm Ino, ada apa? Kenapa kau gugup seperti ini?" tanya Sasuke.
"A-Aku bingung harus me-memulainya darimana? A-aku tak terbiasa memakan hi-hidangan mewah seperti ini." jawab Ino.
"Makanlah, anggap saja semua hidangan ini adalah makanan yang biasa kau makan di-"
Ucapan Sasuke tiba-tiba berhenti dikala ekor matanya secara tak sengaja menangkap image seorang pria misterius yang mengenakan kemeja hitam dan celana kain berwarna hitam memasuki kafe tersebut. Ia terus menatap dengan intens tiap gerak-gerik pria misterius tersebut hingga tepukan tangan seseorang di pundaknya mengalihkan perhatiannya.
"Ada apa tuan?" tanya Erza, "Sepertinya tuan tadi melamun." tambahnya.
"Hmm, tak apa Er-"
DUUUUAAARRR...
Suara ledakan yang teramat nyaring menggelegar di dalam kafe tersebut, terdengar pula suara teriakan dan jeritan dari manusia-manusia yang berada didalam kafe tersebut. Sebuah ledakan bom yang sangat eksplosif kembali mengguncang bumi pulau dewata setelah sebelumnya terjadi dua tahun yang lalu.
"Aaarrrgghh, sial... Ledakan yang tadi itu sakit sekali." keluh Sasuke saat ia bangkit dari tempatnya terbaring.
Sasuke mengerjapkan kedua bola matanya, kafe tempatnya dinner bersama kedua peeragenya yang sebelumnya ramai kini sangat sepi senyap. Tampak dengan teramat jelas kondisi kafe tersebut setelah ledakan hancur lebur dengan kobaran api dan mayat-mayat manusia tergeletak dimana-mana. Ia kemudian mengulurkan kedua tangannya - membantu Erza dan Ino bangkit. Meskipun kondisi Sasuke saat ini terbilang sangat tidak baik dengan punggung yang nyaris berlubang serta kepalanya yang masih hancur setengah, namun ia beruntung karena ia mewarisi darah Phenexia yang memungkinkan dirinya untuk beregenerasi apabila dirinya terluka, dan hanya butuh beberapa detik baginya agar tubuhnya telah beregenerasi dengan sempurna. Namun sayangnya hal itu tidak berlaku bagi kedua peeragenya, kondisi Erza dan Ino terbilang cukup parah. Meskipun tak separah dirinya, namun tetap saja luka yang diderita kedua peeragenya cukup fatal.
"Tu-tuan..."
"Bertahanlah, aku takkan membiarkan kalian berdua mati."
Sasuke kemudian membopoh Erza dan Ino keluar dari kafe tersebut, dan ternyata diluar kafe telah berkumpul banyak sekali polisi serta tim medis yang baru saja datang di lokasi kejadian. Tak lupa pula beberapa kru media yang meliput peristiwa ledakan bom tersebut. Setelah dirasa mereka bertiga cukup jauh dari kerumunan massa, Sasuke langsung mengaktifkan lingkaran sihir teleportasi dan berpindah menuju rumah Ino yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi ledakan.
Sementara itu di underworld, tampak seorang pria bersurai hitam dengan garis keriput dibawah kedua bola matanya tengah duduk di kursi kerjanya. Sedari tadi ia hanya melamun sambil memainkan sebilah pulpen yang terselip diantara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Melihat [king]nya sedang melamun, seorang wanita berambut blonde pucat yang diikat twintail kebelakang dengan dua buah aset yang berukuran jumbo menggantung di dadanya langsung menghampiri [king]nya tersebut.
"Itachi-sama... Itachi-sama..." ucap wanita jangkung berambut blonde tersebut sambil melambaikan tangannya dihadapan Itachi.
Itachi yang baru saja tersadar dari lamunannya langsung menoleh kearah [queen]nya yang telah berdiri di samping meja kerjanya, "Ahh Tsunade-chan, ada apa?"
"Kenapa tuan melamun?"
"Entahlah, aku juga tak tahu. Hanya saja entah mengapa firasatku merasakan hal buruk sedang terjadi."
Tiba-tiba saja muncul sebuah lingkaran sihir komunikasi muncul diatas meja kerja Itachi dan menampilkan proyeksi holografik seorang pria tua beruban yang sepintas berumur lebih dari 60 tahun.
" ..." Itachi dan Tsunade menoleh kearah proyeksi holografik tersebut, " berada dalam bahaya sekarang."
"Apa katamu Ferguson? Apa yang terjadi pada Sasuke?" tanya Itachi pada sosok pria tua beruban tersebut.
"Tadi aku tak sengaja menonton berita live report di TV, ada ledakan bom yang terjadi di Bali Indonesia, dan kebetulan tadi salah satu video amatir menangkap yang terluka cukup parah sedang berjalan sambil membopoh dua orang wanita yang salah satunya kukenal sebagai [knight] ." jelasnya.
"Sial... Ternyata firasatku benar, terima kasih atas infonya ."
"Sama-sama ." ucap Ferguson yang diakhiri dengan memutus sambungan komunikasi tersebut.
"Tsunade-chan, ayo ikut aku... Kita jenguk adikku di Bali." titah Itachi.
"Baik Itachi-sama..." jawabnya.
Setelah sedikit berkonsentrasi untuk mencari letak aura milik adiknya, Itachi langsung menciptakan lingkaran sihir besar berlambang burung phoenix berwarna hitam dibawah kakinya. Setelah itu ia beserta [queen]nya, Tsunade berdiri diatas lingkaran sihir tersebut yang langsung meneleportasikan mereka menuju tempat tujuan.
Di lain tempat, tepatnya di salah satu kamar tidur di rumah Ino, Sasuke sedang duduk disamping ranjang tidur sambil memegang tangan Erza dan Ino. Ia terus menyalurkan energi iblis miliknya pada kedua wanita yang sedang terbaring dihadapannya, tak peduli betapa lelahnya ia saat ini. Ia sadar betul bahwa kedua wanita dihadapannya ini lebih butuh perawatan dikarenakan ledakan tersebut ketimbang dirinya.
Tak berselang lama kemudian muncul sebuah lingkaran sihir di belakang Sasuke yang memunculkan sesosok pria bersurai hitam pendek dan wanita berambut blonde pucat yang diikat twintail kebelakang. Sasuke yang menoleh kearah belakang sontak terkejut dengan kedua sosok familiar yang menghampiri dirinya.
"Itachi-nii... Tsunade-baachan..." sapa Sasuke dengan nada terkejut.
Itachi yang melihat kondisi Sasuke dan kedua wanita yang tengah terbaring diatas ranjang sontak terkejut dan bertanya, "Sasuke-kun, apa yang terjadi?"
Sasuke kemudian menjelaskan apa yang terjadi dengannya, dimulai dari rencana dinnernya bersama kedua peeragenya yang sedang terbaring lemah diatas ranjang hingga ledakan bom yang terjadi secara tiba-tiba saat mereka bertiga sedang menyantap dinner saat itu. Itachi dan Tsunade yang mendengar cerita dari Sasuke hanya menganggukkan kepala pertanda mereka mengerti atas apa yang terjadi.
"Ya sudah Sasuke-kun, sekarang kau beristirahatlah-"
"Tapi..." sela Sasuke di tengah-tengah ucapan kakaknya.
"Tenang saja, perawatan keluargamu kita ambil alih." ucap Itachi, "Bukan begitu Tsunade-chan..."
"Ha'i..." Tsunade menganggukkan kepalanya, "Keluarga Sasuke-sama juga keluarga Itachi-sama..." lanjutnya.
"Baik Itachi-nii..."
Sasuke kemudian membaringkan badannya di samping Erza dan Ino lalu beristirahat untuk memulihkan tenaganya dan mempercepat proses regenerasi tubuhnya secara total. Sedangkan Tsunade mulai mengambil alih proses pemulihan Erza dan Ino. Itachi sendiri? Ia sedang berada di ruang tamu dan berkomunikasi dengan [bishop] miliknya, Konan agar mengambil alih pekerjaannya sebagai seorang maou untuk sementara.
AN:
Chapter 4 Broken Paradise Island, dan jujur chapter kali ini terinspirasi dari tragedi Bom Bali 1 dan Bom Bali 2 yang mengguncang Bali beberapa tahun yang lalu, mengambil sudut pandang cerita seseorang yang kehilangan seluruh anggota keluarganya akibat tragedi terorisme tersebut.
Ada 1 opini yang aku secara pribadi sebagai author yang ingin kusampaikan di chapter kali ini bahwa,
AGAMA BUKANLAH PEMBENARAN ATAS SEGALA TINDAKAN TERORISME
Oh ya, saya butuh saran dari reader semua untuk memberi saran peerage untuk Sasuke, kalau bisa beserta latar belakangnya
Jika ide anda menarik, insya allah akan saya gunakan sebagai materi fanfic saya
Terima kasih...
Review :
Keris Empu Gandring :
Jujur sebenarnya sfx unik yang ada di setiap fanficku ini adalah kebiasaan lama yang gak bisa hilang, hehehehehe...
Nampan besi?
Pernah lihat nampan yang biasa digunakan sebagai wadah makanan di dalam penjara?
Bukankah itu terbuat dari besi?
Dan soal masuk timeline DxD, mungkin chapter 5 sudah masuk kehidupan di Kuoh
tapi setahun sebelum Issei jadi iblis alias saat tahun ajaran baru dan Rias + Sona masih kelas 2 SMA
Bagaimana fanfic dari saya, semoga memuaskan anda selaku reader...
Overall, Shirokami Khudhory logout dulu...
