GAME OF LOVE
Author : Usagi Yumi
Pairing : Pasti udah pada tau
Summary : Para Hime-sama dan guardiannya, akan bertarung melawan para Ouji-sama dan guardiannya. Kira-kira, siapa lawan mereka?
Author's Teritory
Yumi : Hallo minna! Karena saya lagi males nge-bacot terus kita langsung ajah cekidot!
DISCLAIMER
Vocaloid, Utauloid, dan Voyakiloid bukan milik saya, Zely dan Zelion punya Yamine Alice, tapi para OC juga cerita ini asli milik saya
WARNING
Gaje, Abal, OOT, OOC (maybe?), aneh, typo, dll.
CAUTION
Jika ada sesuatu hal yang menimpa diri anda seperti terkena sakit kepala, sakit perut, sakit jiwa (?), tumor otak (?) dll, tolong hentikan membaca cerita ini dan hubungi dokter (readers : Emangnya apaan?)
HAPPY READING
Chapter 7. Hatsune Michaela Miku VS Shion Kyle Kaito And Akita Neru VS Akita Nero
Holy Bridge
"SEKARANG!"
Miku POV
Aku segera berlari sekuat tenaga. Aku ingin segera kabur dari sini. Aku takut. Aku belum pernah bertarung sebelumnya. Ukh... Kenapa Mikuo nii-san malah ngasih game yang aneh kayak gini sih?
Saat aku sedang berlari, tiba-tiba aku menabrak sesuatu benda dan otomatis aku terjatuh dengan posisi terduduk.
BRUK!
"Ukh... Ittai...", Aku meringis kesakitan. Kepalaku tertunduk dan mataku terpejam menahan rasa sakit.
"Kau adalah lawanku Nona Michaela...", Ucap benda yang ternyata adalah orang yang aku tabrak. Aku mendongakan kepalaku dan mendapati seorang pemuda berambut ocean blue dengan iris berwarna senada dengan rambutnya tengah menatapku.
"Uhm... Anda... Shion Kyle Kaito?", Tanyaku.
"Tebakan anda benar sekali Nona Michaela...", Jawabnya sembari tersenyum tipis. Membuat dia semakin tampak dewasa dan tampan. Eh? Kenapa wajahku panas? Aduh... Miku... Sadarlah! Dia itu musuhmu!
Aku segera bangkit dari posisi dudukku dan mengambil pedangku yang sempat terjatuh. Aku segera memasang posisi kuda-kuda dan menggegam pedangku dengan kedua tanganku. Aku menarik napasku lalu menghebuskannya. Mencoba menenangkan diriku dan menguatkan mentalku.
"Hmmm... Sebegitu niatnya kau bertarung denganku?", Tanya Kaito. Aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
"Kau bahkan tampak seperti tidak pernah memegang sebuah pedang", Ucapnya lagi. Ucapannya itu, cukup membangkitkan emosiku.
"Dugaanmu memang benar Tuan Kyle... Tapi aku tidak akan menyerah!", Ucapku dengan lantang. Terdengar seperti menantangnya. Dia... Menyeringai.
"Lebih baik kau keluarkan senjatamu!", Ucapku lagi.
"Huh! Aku lebih mengandalkan sihir daripada senjata...", Balasnya. Tiba-tiba, di belakang tubuh pemuda tersebut terdapat sebuah tulisan 'Hatsune Michaela Miku VS Shion Kyle Kaito'. Mungkin tulisan tersebut hanya terlihat olehku, Rin, Teto, Luka, dan Meiko. Dan diatas kepala pemuda menyebalkan tersebut terdapat sebuah bar MP dan HP serta pangkat pemuda itu... WHAT?! Captain Class 5?! Sedangkan aku? Aku melirik ke atas kepalaku. Dan pangkatku... ARGHHH! Masih Private Cadet!
"Dan kau tidak akan menang dariku. Ingat itu!", Ucapnya lagi. Cukup! Aku sudah naik pitam!
"Cih! BEDEBAH KAU!", Aku segera berlari kearahnya lalu mengayunkan pedangku. Dia menghindar dengan cara mundur ke belakang.
"Bahkan kau belum tau cara memainkan pedang yang benar", Ucapnya dengan nada mengejek. Arghhhh! Orang ini benar-benar menyebalkan!
"Cih!", Aku hanya berdecih dan meludah kearahnya.
"Hei! Nona Michaela! Apakah kau pernah diajarkan sopan santun?", Tanyanya.
"Aku memang tahu sopan santun, tapi mungkin sopan santun itu tidak berlaku bagi orang sepertimu!", Ucapku sembari menusuknya. Tapi, sayangnya dia menghindar dengan cara bergeser ke arah kiri.
"Grrrrr...", Aku hanya menggeram kesal. Dan... DIA MALAH TERTAWA!
"Hahahaha...", Dia tertawa pelan.
"Apa yang kau tertawakan, huh?", Ucapku dengan kesal.
"Hahaha... Gomen gomen... Kau lucu sekali... Hahaha", Jawabnya. Ukh... Kok aku berdebar-debar sih?
"Grrrrr... BERHENTI MENGGODAKU!", Aku berteriak dengan keras. Membuat dia menutup telinganya. Hahaha... Rasakan itu!
"Ukh... Kau itu teriak keras sekali sih... Bisa-bisa aku tuli...", Ucapnya sembari mengorek-ngorek telinganya yang mungkin kesakitan.
"Hahahahaha... Rasakan itu! Hahahahaha...", Ucapku tertawa puas. Dia hanya berdecak kesal.
"Lebih baik kita lanjutkan pertarungannya", Ucapnya. Aku segera memasang posisi kuda-kuda dan menggenggam pedangku dengan erat lalu berlari kearahnya.
"HYAAAAA!", Aku mengayunkan pedangku. Atas, Bawah, Kiri, Kanan. Aku menyerangnya dengan membabi buta. Tapi, dia selalu berhasil menghindari seranganku. Tiba-tiba, aku ingat perkataan Neru tentang clan The Vocal. Lalu, aku melirik ke arah dedaunan yang sedang berguguran.
"Aaaaaaa~~~ Oh... Leaf... Make cuts on his left cheek~~~", Aku bernyanyi dan tiba-tiba, salah satu daun yang berguguran menggores pipi Kaito hingga berdarah. Kaito sempat kaget lalu memegang pipi kirinya. Tapi, pada akhinya dia tersenyum mengejek.
"He? Hanya segitu kemampuanmu?", Tanya Kaito dengan nada mengejek. Aku hanya membalasnya dengan menggeram kesal.
"Aaaaaaa~~~ Oh... Leaf... Make cuts on his right hand~~~", Aku pun bernyanyi lagi dengan lebih keras dan tiba-tiba, 5 buah daun menggores telapak tangan Kaito. Kaito hanya diam tak melawan. Dia hanya membiarkan daun-daun menyayat telapak tangannya. Dan luka yang dihasilkan kali ini lebih panjang dan dalam.
"... Masih kurang ...", Ucapnya sambil menatap luka di telapak tangannya. Darah segar mengalir deras keluar dari telapak tangannya. Aku membatu. Jujur, Aku takut sekali dengan darah(Yumi : Mirip kayak temen Yumi). Setiap melihat darah, aku selalu merasa pusing.
"Ukh...", Aku merintih. Tanganku refleks memegang kepalaku. Aku membiarkan pedangku jatuh ke tanah.
TRANG!
Pusing... Itulah yang kurasakan sekarang. Aku pun jatuh terduduk. Sakit... Ini sakit sekali!
Sakit, bersalah, takut, senang, malu, geram, kesal, sedih. Semua perasaan itu... Tercampur menjadi satu.
Sakit. Kepalaku sakit saat melihat darah mengalir deras keluar dari telapak tangan Kaito.
Bersalah. Aku merasa bersalah karena telah melukai orang.
Takut. Aku takut melihat darah.
Senang. Aku senang dekat dengan Kaito.
Malu. Aku malu setiap melihat iris ocean blue milik Kaito.
Geram. Aku geram karena karena Kaito selalu mengejekku.
Kesal. Aku kesal karena Kaito terlalu merendahkanku.
Sedih. Aku sedih karena Kaito adalah musuhku!
Ukh... Apakah ini yang namanya suka terhadap seseorang? Setiap dekat dengannya, jantung kita selalu berdebar kencang? Setiap dekat dengannya, wajah kita selalu memerah? Dan kita tak tega melukai hatinya? Tapi... Sepertinya... Aku tidak menyukainya.
Tidak! Lebih tepatnya... Aku mencintainya...
Shion Kyle Kaito... Cinta pertamaku, sekaligus musuhku. Tapi kenapa? Kenapa cinta pertamaku ada di dunia game sih? Dan kenapa Kaito adalah musuhku? Kenapa? Kenapa?!
Pertanyaan tersebut terus terngiang di kepalaku. Membuat kepalaku semakin pusing.
"AKHHHHHHHH!", Aku berteriak kesakitan. Wajahku terasa panas. Badanku lemas. Aku jatuh terlentang. Nafasku tidak beraturan. Kepalaku terus berdenyut-denyut (?). Aku refleks memejamkan mataku. Menahan rasa sakit yang menjalar di kepalaku. Arghhhh! Aku bodoh sekali! Harusnya aku tidak melihat darahnya! Harusnya aku tidak melukainya! Miku kau bodoh! Bodoh! Bodoh!
CRASH!
Tiba-tiba, aku merasakan suatu benda dingin di pipiku. Benda yang membuat pipiku tergores. Aku merasakan cairan hangat keluar dari pipiku. Mungkin, itu adalah darahku.
Kaito POV
Hatsune Michaela Miku... Fufufu... Tampaknya dia sangat menarik. Suara yang indah dan merdu saat dia bernyanyi. Wajahnya yang memerah sungguh manis. Suara geramannya dan wajah kesalnya sungguh lucu. Ambisinya untuk membunuhku membuatku senang. Semuanya... Aku suka!
Entah kenapa, saat dia menabrakku, aku menjadi berdebar-debar. Apakah ini yang disebut perasaan suka? Apa ini yang disebut perasaan cinta? Hahaha... Yang benar saja? Seorang Pangeran kegelapan menyukai seorang Putri cahaya? Hahaha... Itu sangat lucu!
Tapi... Itulah kenyataannya!
Aku mencintai seorang gadis yang berasal dari White Kingdom. Kerajaan yang telah dihancurkan olehku, saudara-saudaraku, guardianku, juga guardian saudara-saudaraku. Entah kenapa aku bisa terpikat dengan gadis ini.
Tapi, sekarang aku marah! Aku marah dengannya!
Dia... Telah melukai pipi kiriku! Dia juga telah menyayat telapak tangan kananku! Darah segar mengalir dari pipi dan telapak tanganku.
"... Masih kurang ...", Ucapku sembari melihat darah yang mengalir deras di telapak tanganku. Aku ingin sekali membalas dendam. Aku terus melamun menatap tanganku hingga jeritan seorang gadis mengagetkanku.
"AKHHHHHHHH!", Aku mendongakan kepalaku dan melihat Miku sedang menjerit kesakitan lalu jatuh terlentang. Aku tidak tahu alasan mengapa Miku jatuh tetapi aku harus memanfaat kesempatan ini. Dia harus mendapat luka(Luka: Apa?|Yumi: Bukan manggil lu!) yang sama sepertiku.
"WEAPON! ICE BLADE!", Aku mengucapkan sebuah mantra. Tiba-tiba, digenggaman tanganku muncul aura hitam dan selang beberapa detik kemudian, aura hitam tersebut menghilang digantikan dengan munculnya sebuah pedang. Aku lalu berjalan mendekati Miku, dan mengayunkan pedangku.
CRASH!
Sebuah luka goresan kecil terpampang di pipi kanan Miku. Darah segar mengalir dari pipinya.
"Eh?", Setelah aku lihat wajah Miku, Wajah Miku merah. Nafasnya tidak beraturan. Badannya terkulai lemas. Entah mengapa aku merasa khawatir dan pipiku memanas. Tunggu? Memanas? Arghhhh! Masa aku blushing sih?
Aku berinisiatif menaruh punggung tanganku di dahi Miku. Miku lalu membuka matanya dan kaget karena aku menaruh punggung tanganku di dahinya.
"Kau sakit", Ucapku singkat lalu menggendong Miku ala bridal style.
"KYAAAAAAA!", Miku berteriak sambi memejamkan matanya dan mengalungkan lengannya ke leherku. Mungkin dia kaget dan takut jatuh. Aku segera membawanya ke pohon terdekat (?). Aku duduk di pohon tersebut dan mengubah posisi Miku menjadi duduk di pahaku. Lenganku melingkar di pinggang Miku dan lengan Miku masih melingkar di leherku. Aku melihat mata Miku terbuka dan kaget melihat wajahku yang begitu dekat dengannya.
Tiba-tiba, Miku menundukan kepalanya.
"Hiks... Hiks...", Aku bisa mendengar suara isakan Miku. Tunggu! Isakan? Miku menangis?
"Hiks... Hiks... Gomen... Hiks... Hiks...", Miku berkata di sela-sela isakannya. Dia minta maaf? Untuk apa?
"Hiks... Gomen... Telah melukaimu... Hiks...", Ucapnya lagi di sela-sela isakannya. Beberapa bulir air matanya jatuh membasahi celanaku. Aku mengangkat wajahnya menggunakan tangan kiriku lalu menghapus air matanya.
"Ssshhhhh... Kau tidak perlu minta maaf... Sebagai musuh tidak ada salahnya untuk saling menyerang kan?", Aku berusaha menenangkannya. Selang beberapa menit dia berhenti menangis. Lalu mendongakan kepalanya. Dia... Tersenyum. Arghhhhhh! Aku ingin sekali mencium bibirnya! Tapi aku masih bisa menahannya.
Aku menatap luka di goresan di pipinya. Tanpa basa-basi, aku menjilat luka di pipinya.
"K-Kaito? A-apa yang kau lakukan?", Tanyanya dengan sedikit tergagap. Mungkin dia kaget atas perlakuanku. Aku tidak menjawab pertanyaan tersebut dan terus menjilati lukanya.
"Ukhhh...", Dia merintih kesakitan. Mungkin perih.
"Ya! Pendarahannya sudah berhenti!", Ucapku senang.
"Arigatou... Kaito-kun...", Ucapnya. Tunggu? Kaito? Kyaaaa! Jantungku berdebar-debar. Kenapa aku merasa senang saat Miku memanggilku dengan nama kecilku?
"Douitashimashite... Miku-chan...", Balasku. Ah... Senangnya bisa memanggil Miku dengan nama kecilnya...
Tiba-tiba, Miku melihat ke arah tangan kananku yang sedang merangkul pinggangnya. Ah, Gawat! Darahnya menganai baju Miku! Aku menatap Miku yang tengah membatu. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya.
"Miku? Kau takut darah?", Aku bertanya. Dia menunduk. Lalu mengangguk kecil. Aku segera melepaskan tanganku dari pinggangnya.
"Gomen telah mengotori bajumu Miku...", Ucapku dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa kok Kaito... Aku bisa mencucinya nanti...", Ucap Miku sembari tersenyum manis. Mukanya tidak merah lagi. Nafasnya sudah mulai teratur. Tampaknya dia sudah sembuh.
Tiba-tiba, Miku menggenggam tangan kananku lalu mengambil daun yang jatuh di sebelahnya. Dia lalu menaruh daun tersebut di telapak tanganku yang terluka lalu menyanyikan sebuah lagu.
"Aaaaaaa~~~ Oh... Leaf... Please heal him~~~"
Tiba-tiba, daun yang berada di telapak tanganku membusuk. Miku lalu membuang daun itu. Aku melihat tanganku. SEMBUH TOTAL!
"Arigatou Miku...", Ucapku.
"Douitashimashite Kaito!", Ucapnya sembari tersenyum manis. Cukup! Aku tidak bisa menahannya lagi!
Aku segera mencondongkan kepalaku. Miku hanya kebingungan. Lalu, aku mencium bibir Miku. Tubuh Miku bergetar. Mungkin dia shock. Aku segera melumat bibir Miku dengan lembut. Miku hanya diam membatu.
Bibirnya... Begitu lembut dan manis. Selang beberapa menit kemudian, aku menjauhkan bibirku. Aku menatap wajah Miku yang tengah blushing berat. Ah... Manisnya.
Miku tiba-tiba berdiri dari pangkuanku. Aku hanya mengikuti Miku, yaitu ikut berdiri. Aku melihat Miku sedang memegang bibirnya.
"Itu... First Kiss ku...", Ucapnya pelan.
"Gomen Miku...", Ucapku sembari menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa Kaito...", Ucapnya. Aku kembali mendongakan kepalaku. Aku melihat Miku sedang tersenyum kecil.
"Kau kalah Miku... Lain kali, sebelum melawanku, latihan dulu ya...", Ucapku sembari menepuk kepalanya. Miku hanya blushing dengan perlakuanku ini. Aku segera mengecup dahi Miku lalu mengucapkan mantra,"TELEPORT! TO BLACK KINGDOM!". Tiba-tiba, di tanah yang ku pijak, muncul lingkaran hitam dengan lambang hexagon.
"Sampai jumpa lagi di pertarungan selanjutnya, Miku-chan...", Ucapku sebelum cahaya hitam membuatku menghilang.
Normal POV
Miku melihat Kaito menghilang ditelan cahaya hitam tersebut. Setelah Kaito benar-benar menghilang, Miku segera berlari ke arah Holy Bridge.
'First Kiss ku... Dengan Kaito? Ukh... Kenapa aku senang?'
Di sisi lain... Di waktu yang bersamaan disaat Miku dan Kaito bertemu...
Neru POV
Aku berjalan santai menuruni Holy Bridge. Buat apa berlari? Lagian, nanti juga tetap ketemu musuh kok.
"Tampaknya kau santai sekali... Neru...", Ucap seseorang di belakangku.
Aku membalikkan tubuhku. Cih! Ternyata dia.
"Buat apa panik, huh? Dan sejak kapan aku memberimu izin untuk memanggilku dengan nama kecilku?", Aku bertanya dengan wajah datar. Orang itu... Orang yang kubenci...
"Marga kita sama... Jadi tidak enak kan bila kita saling memanggil dengan marga yang mirip... Hal tersebut serasa memanggil diri sendiri...", Jawabnya. Ya! Kalian bisa tebak kan siapa orang yang bermarga sama denganku? Tepat sekali! Dia... Adalah Akita Nero. Orang yang paling kubenci di dunia ini! Dia... Orang yang telah membunuh kedua orang tuaku(Yumi: Neru, sejak kapan kamu punya orang tua?|Neru: Kan elu yang nulis ni fic, kenapa lu yg nanya?).
"Terserah kau saja", Balasku singkat dengan ekspresi datar. Dia tidak merespon. Tapi... Dia malah berjalan mendekatiku.
"Mau menyerangku, huh?", Aku bertanya dengan nada mengejek. Bibirku membentuk senyum miring. Seolah menantang Nero. Nero tidak menjawab. Dia hanya berjalan mendekatiku. Saat jarak kami tinggal 10 cm lagi, dia berhenti.
"Kau masih ingat, tentang kejadian dimana aku membunuh kedua orang tuaku?", Tanya Nero. Aku terdiam. Kejadian tersebut terulang di dalam otakku. Dimana Nero membunuh orang tuaku dengan kejam. Dimana Nero membunuh orang tuaku dengan sadis. Dimana Nero membunuh orang tuaku dengan tidak berperikemanusiaan.
"Aku... Selalu mengingatnya... Aku... Tidak mungkin melupakan hal tersebut...", Ucapku sembari menundukkan kepalaku. Mataku... mungkin saat ini sedang berkaca-kaca.
"K-kenapa?", Aku mendongakkan kepalaku. Bibirku bergetar menahan tangis. Nero hanya menatapku dengan bingung.
"Kenapa kau membunuh orang tuaku?", Aku kembali bertanya. Setetes air mata mengalir di pipi kananku. Kulihat Nero menundukkan kepalanya. Kedua tangannya ia kepalkan erat-erat.
"Gomen... Aku... Tidak bisa memberitahunya...", Ucapnya dengan nada pelan. Hampir tidak terdengar olehku. Cukup! Aku sudah naik pitam! Mana ada orang yang tidak mau memberi tahu alasan kenapa dia membunuh orang lain?(Yumi: Ada kok... *ditabok Neru*).
"Cih! BAJINGAN SIALAN KAU!", Aku mengarahkan tongkat sihirku ke arahnya.
"FIRE SUMMER!", Tiba-tiba, keluarlah bola-bola api dari tongkat sihirku. Bola-bola api tersebut menyerang Nero.
"DARKNESS PROTEC", Nero mengucapkan sebuah mantra. Lalu, terbentanglah shield tipis di sekitar Nero. Bola-bola api yang menyerangnya memantul... KE ARAHKU?! Ukh... Kok jadi senjata makan tuan gini sih?
Dengan sigap, aku segera menghindar dari bola-bola api buatanku. Aku benar-benar kesal dengan orang ini!
"Grrrr... Sialan kau...", Ucap ku geram. Tangan kiriku kukepalkan dengan erat. Mencoba untuk menahan amarah. Shield tipis masih membentang di sekitar Nero.
"SUMMER BLAST!", Aku mengucapkan sebuah mantra sembari mengayunkan tongkatku ke atas. Tiba-tiba, muncul sebuah api yang menjalar (?) ke atas di sekitar Nero. Selang beberapa detik kemudian, api yang aku buat menghilang.
"Kau tidak akan bisa membunuhku..."
APA?! DIA MASIH HIDUP?! Tapi... Bagaimana bisa? Ukh... Padahal itu shield tipis... Tapi susah banget untuk dihancurkan...
"Jangan remehkan shield ini... Meskipun tipis, tetapi shield ini sukar sekali untuk dihancurkan...", Dia berkata seolah-olah bisa membaca pikiranku. Aku hanya berdecak kesal. Aku menatap matanya. Dan dia juga menatapku. Tunggu... Kenapa dia menatapku seperti itu? Kenapa dia menatapku dengan tatapan sendu? Ukh... Kenapa aku merasa kasihan sama orang itu sih?
"Hei! Kenapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu?", Aku bertanya dengan nada yang dibuat-buat kesal. Dia tidak menjawab. Tatapannya tiba-tiba kosong. Arghhhh! Ada apa sih sebenarnya dengan orang ini?!
"Grrr... Dasar menyebalkan!", Aku berlari kearahnya. Bila sihir tidak mempan terhadapnya, maka satu-satunya cara adalah memakai fisik.
"HYAAAAAA!", Aku bisa melalui shield tipis yang ia gunakan. Berarti... Shield ini hanya bisa melindungi dari serangan yang menggunakan sihir.
Aku ayunkan tongkatku ke arah tangan kirinya.
BUAK!
Satu pukulan mengenai tubuhnya. Kulihat tangannya langsung memar. Dia hanya merintih kesakitan. Tapi, tak ada perlawanan.
"Kenapa kau hanya diam?! Kenapa kau tidak melawan?!", Aku bertanya sembari memukulnya berkali-kali. Tangan, Punggung, Kaki, Kepala. Kuayunkan tongkatku keempat tempat tersebut. Dia hanya diam. Luka memar di tubuhnya semakin banyak.
"... Pengecut ...", Ucapku pelan.
"DASAR PENGECUT! PENGECUT! PENGECUT!", Ucapku sembari memukulnya dengan keras. Dia terus diam. Wajahnya tertunduk. Sebegitu pengecutnya kah orang ini?
"Kau itu tuli atau apa sih? Atau... Mentalmu sudah menciut? Ah! Aku tahu! Jangan-jangan... Kau merasa takut denganku? Iya kan? Kau takut denganku karena kau telah membunuh orang tuaku kan? Hahaha... Sungguh lucu! Hahaha...", Tanyaku sembari tertawa garing.
KLANG!
Aku membuang tongkat sihirku ke tanah. Lalu menampar muka Nero.
PLAK!
"Dasar... Tak kusangka orang yang telah membunuh kedua orang tuaku dan juga orang yang telah menghancurkan kerajaan White Kingdom... Adalah orang selemah ini", Ucapku. Aku mengepalkan kedua tanganku erat-erat.
"Kukira... Kau adalah orang yang kuat...", Sambungku.
"... BAKA ...", Aku menatap Nero.
"Hahaha... Kau benar-benar BAKA...", Ucapnya lagi. Orang ini sebenarnya mau apa sih?
"Apa maksudmu, huh?", Tanyaku dengan nada kesal. Dia mendongakan kepalanya. Tatapannya... Masih tatapan sendu... Bibirnya... Membentuk senyuman tulus. Tunggu... Kenapa aku jadi berdebar-debar?
"Harusnya... Kau senang karena aku tidak melawanmu bukan? Harusnya kau senang karena kulitmu yang indah itu tidak ternoda oleh darah...", Jawab Nero sembari menundukkan kembali kepalanya. Dia bilang kulitku indah? Apa-apaan ini? Dan... Kenapa wajahku memanas sih?
"Justru... Aku tidak suka... Bila musuhku tidak melawan... Menurutku... Itu serasa tidak adil... Iya kan?", Aku bertanya kepada Nero. Tetapi, dia tidak merespon. Dia tetap menundukkan kepalanya.
Sebenarnya, apa yang dikatakan Nero itu benar. Setiap orang pasti senang jika di dalam pertarungan, musuh kita tidak melawan. Hahaha... Aku gadis yang aneh ya?
"Setidaknya... Berikanlah aku, satu perlawanan saja...", Ucapku dengan lirih sembari menundukkan kepalaku. Tiba-tiba, aku mendengar sebuah langkah kaki berjalan menghampiriku. Aku masih tetap menunduk. Lalu, aku melihat sepasang kaki yang aku yakini adalah milik Nero.
"Baiklah... Aku akan memberikanmu perlawanan... Tapi jangan menyesal ya...", Ucap Nero.
Nero POV
BAKA! Dasar Neru BAKA! Harusnya kau senang bila kau tidak terluka! Harusnya kau senang kalau aku tidak melawanmu! Dan lagi... Kau itu benar-benar gadis yang tidak peka. Aku itu... Tidak melawanmu karena aku tak tega. Aku... Mencintaimu. Aku itu sayang padamu.
Tapi, kau malah memohon kepadaku agar aku melawanmu. Sungguh gadis yang aneh. Tapi... Entah kenapa di pikiranku terbesit pikiran-pikiran kotor. TIDAK! Aku tidak mau memperlakukan Neru seperti itu! Aku tidak ingin Neru makin membenciku!
"Setidaknya... Berikanlah aku, satu perlawanan saja...", Kau berkata dengan lirih. Aku mendongakkan kepalaku. Ku lihat kau tengah menundukkan kepalamu. Aku berjalan mendekatimu.
Tidak! Tidak! Jangan lakukan hal tersebut! Aku mencoba mempertahankan hawa nafsuku. Tapi apa daya. Nafsuku lebih besar daripada tekad ku.
"Baiklah... Aku akan memberikanmu perlawanan... Tapi jangan menyesal ya...", Ucapku. Kau mendongakan kepalamu. Tanpa basa-basi lagi, aku melingkarkan lengan kiriku di pinggangmu yang ramping sedangkan lengan kananku aku gunakan untuk mendekap kepalamu lalu aku tekan wajahmu.
CHU~
Tubuhmu mengejang. Shock atas perlakuanku. Kulumat bibirmu dengan lembut. Manis. Itulah yang kurasakan.
Neru... Berontaklah! Kenapa kau tidak memberontak? Seolah menerima dan menikmati perlakuanku.
Kutekan-tekan lidahku... Meminta jalan masuk. Entah kenapa, kau malah membuka mulutmu dengan senang hati. Lidahku langsung menerobos masuk ke dalam mulutmu. Mengabsen gigi-gigi mu. Menyapu langit-langit mulutmu. Mengajak lidahmu untuk bertarung. Dan tentu saja pertarungan tersebut dimenangkan olehku.
"Nggg...", Kau mengerang pelan disela-sela ciuman panas kita. Kutekan kepalamu untuk memperdalam ciuman ini. Selang beberapa menit, kujauhkan bibirku. Seutas benang saliva menjuntai dari mulutmu. Kulihat wajahmu memerah. Deru nafas yang memburu. Dan mulutmu sedikit terbuka.
"Kau kalah... Neru...", Ucapku sembari melepaskan lenganku dari pinggang Neru.
"Jika itu first kiss mu, gomen jika aku telah merebutnya. Aku... Tidak bisa melawan hawa nafsuku. Dan jika kau makin membenciku, itu... Tidak apa-apa", Ucapku sembari menundukkan kepala.
"... Aku tidak pernah bisa membencimu"
Aku mendongakan kepalaku. Kulihat wajah Neru tengah blushing. Ah... Imutnya...
Tiba-tiba, aku merasakan suatu benda hangat nan lembut di pipiku. Tunggu... NERU MENGECUP PIPIKU?!
"Kali ini, kau menang. Tapi, di pertarungan selanjutnya, aku pasti akan mengalahkanmu", Ucapnya lalu berlari meninggalkanku. Aku hanya diam membatu. Mukaku panas. Pasti kali ini aku sedang blushing berat.
"Ukh... Dasar Neru BAKA", Ucapku pelan lalu mengucapkan sebuah mantra.
"TELEPORT! TO BLACK KINGDOM!", Tiba-tiba, muncul lingkaran hitam dengan lambang hexagon di tempatku berpijak. Lingkaran tersebut mengeluarkan cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut lama-lama menutupi tubuhku lalu lenyap.
~TBC~
Yumi : Huaaaaa! Maaf kalau jelek! *nangis*
Miku : *blushing*
Kaito : *blushing*
Neru : YUMI!
Yumi : Apa?
Nero : AKU DAN NERU ITU SAUDARA KENAPA MALAH MESRA-MESRAAN KAYAK GINI?! DAN LAGI KENAPA ADEGANNYA LEBIH HOT DARIPADA SI MIKU DAN KAITO?!
Yumi : Terserah aku... Lebih baik aku ngebalas review dulu...
Hatsune Adelia
Ah... Saya ingat kok... Adelia-san...
DivaLyn
Salam kenal juga :)
Yami Nova
Hohoho... Tentu saja... Tapi ada beberapa pair yang tidak sesuai seperti,
Kaito x Miku harusnya kan yang bener Kaito x Meiko
Lalu Akaito x Meiko harusnya kan Akaito x Neru
Ya begitulah...
SoraNoFuyu
Oh iya! Bener kata anda Sora-san! Harusnya Teleport... Tampaknya saya memang sudah pikun...
A-ano... Harusnya saya yang manggil anda senpai... Arigatou telah mengingatkan!
Chalice07
Tentu saja sesuai pairingnya... Tetapi, ada sebagian yang tidak sesuai pairing...
Chang Kagamine
Tampaknya masih agak lama...
Yamine Alice
Tentu saja akan kukabulkan... *smirk* dan Zely... Ummm... Gomen jika kau harus berpasangan dengan Zelion tapi ini terpaksa...
Icchi-chan
Eh? Memang Namine Ritsu itu cowok ya?
Yumi : Ya, segitu saja. Arigatou bagi yang sudah review... Akhir kata,
REVIEW PLEASE DAN SAYA MENERIMA FLAME ^_^
