GAME OF LOVE
Author : Usagi Yumi
Pairing : Pasti udah pada tau
Summary : Para Hime-sama dan guardiannya, akan bertarung melawan para Ouji-sama dan guardiannya. Kira-kira, siapa lawan mereka?
Author's Teritory
Yumi : Halo minna!
Kaa-san(?) : YUMI! SELAI STROBERI KENAPA UDAH HABIS LAGI?! KAA-SAN BARU BELI 2 HARI LALU!
Yumi : Hueeeee! Gomen! *mewek*
Rin : Hah... Kejadian yang sama lagi... -_-
Len : Lebih baik kita baca skripsinya aja deh...
DISCLAIMER
Vocaloid, Utauloid, dan Voyakiloid bukan milik saya, tapi para OC juga cerita ini asli milik saya
WARNING
Gaje, Abal, OOT, OOC (maybe?), aneh, typo, dll.
CAUTION
Maaf karena chap ini kurang menarik karena saya buat ini pas bulan puasa ketika saya masih amatiran. Saya tau kalau ini alurnya kecepatan dan kurang menarik tapi saya tidak punya waktu untuk memperbaikinya. Sekali lagi mohon maaf!
HAPPY READING
Chapter 8. Kagamine Rilianne Rin VS Kagamine Allen Len And Kagene Rui VS Kagene Rei
Holy Brigde
Rin POV
ARGHHHHH! SIAAAALLLLLL! (Yumi: Rin... Woles aja kali... *sweatdroped*).
Ukh... Harusnya waktu itu aku mendengarkan apa kata Lily nee-chan...
Flashback
Sebelum pergi ke rumah Miku
"RIN! HARI INI KAN JADWALMU MEMBERSIHKAN RUMAH!" Seorang gadis berambut honeyblonde panjang dengan bondu hitam tengah berteriak. Dia adalah Lily, Kagamine Lily, Kakak ku.
"Tapi... Aku mau menginap di rumah Miku... Nee-chan..." Ucapku dengan lesu. Ya... Hari ini aku mau menginap di rumah Miku sekalian mau bermain game yang dibelikan Onii-san Miku, Hatsune Mikuo (Yumi: Sebenernya Mikuo itu harusnya adik Miku -.-"|Rin: Lu kan yang nulis kenapa lu yang sweatdroped sendiri?!).
"Tapi sebelum pergi ke rumah Miku, setidaknya kau membersihkan dulu rumah..." Ucap Lily nee-chan sembari berkacak pinggang. Ukh... Nyebelin banget sih...
"Baiklah... Aku akan membersihkan rumah..." Ucapku dengan lesu. Aku hanya berjalan gontai mengambil sapu yang berada di dekat pintu.
Tunggu... Pintu? Hehehe... Kesempatan nih...
"Begitu dong... Jadi kan Nee-chan gak perlu teriak-teriak sambil lari-lari ngejar kamu dari tadi..." Ucap Lily Nee-chan sembari memonyongkan(?) bibirnya (Yumi: Because mengerucutkan bibirnya udah terlalu mainstream *didamprat*). Hehehe... Tampaknya nee-chan salah besar nih...
Setelah sampai di dekat pintu, aku segera mengambil tas ku yang kutaruh di sofa yang kebetulan dekat dengan pintu dan aku segera membuka pintu dan keluar serta tidak lupa aku kembali menutup (baca: membanting) pintu dengan keras.
"RIN!"
Ah... Aku selamat...
Flashback off
Waktu itu sih aku selamat... Tapi sekarang, aku malah terperangkap.
Aku berlari menjauhi Holy Bridge. Aku hanya bisa berdoa kepada Kami-sama agar aku tidak mendapat musuh yang menakutkan.
"Leg"
"Ouch!"
Argh! Siapa sih yang mengucapkan mantra?! Aku jadi jatuh begini...
Aku menatap lututku. Ah... memar...
"Benar-benar lemah," Aku mendengar suara laki-laki dan tiba-tiba, aku melihat sepasang kaki di hadapanku. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat seorang pemuda berambut honeyblonde dan diikat ponytail serta iris mata berwarna azure. Ah... Dia tampan sekali...
Tunggu! Aku bilang dia tampan? Dan... Sebelumnya dia bilang aku lemah?
Aku segera berdiri dan menampar pemuda di hadapanku. Aku benar-benar geram. Masa baru pertama kali bertemu sudah mengejek orang lain?!
"Kau itu punya sopan santun tidak sih?! Setidaknya terhadap orang yang pertama kali kau temui adalah berkata sopan!" Omelku terhadap pemuda dihadapanku. Pemuda tersebut hanya menatapku datar lalu sia membuka mulutnya.
"Kau juga sama saja tidak punya sopan santun, bukankah menampar orang yang baru ditemui itu juga tidak sopan?" Ucap pemuda tersebut sembari tersenyum kemenangan. Sebenarnya siapa sih dia?
Tiba-tiba, di belakang pemuda tersebut terdapat sebuah bar bertuliskan 'Kagamine Rilianne Rin VS Kagamine Allen Len'
Ah... Jadi dia musuhku ya... Tampaknya dia tidak berbahaya...
"Take that Warlock Staff"
... Kutarik kembali kata-kataku. Dia itu berbahaya!
Tiba-tiba, tongkat sihir yang berada di genggamanku, menghilang pindah ke genggaman pemuda tersebut yang ternyata bernama Len.
"Fufufu... Kau memang benar-benar lemah, Nona Rilianne..." Ucapnya sembari menyeringai. Aku hanya membalas dengan menggeram.
Tiba-tiba, aku teringat dengan clan 'The Vocal'. Mungkin... Patut di coba...
"Oh~~~ Bring back that Warlock Staff~~~", Aku mencoba bernyanyi. Mungkin saja bisa...
"Protec the Warlock Staff!" Arghhhhh! Sial! Dia juga mengucapkan mantra!
Kulirik bagian bar yang berada di atas kepala pemuda tersebut... Apa?! MP-nya masih penuh?! Dan pangkat dia... MAJOR CLASS 3?! Dan aku... Ukh... Masih Private Cadet...
"Memangnya kau bisa mengambilnya dengan sihir Vocal, huh?" Tanya Len sembari tersenyum mengejek. Ok! Kalau begitu, satu-satunya cara...
"Oh~~~ I want to eat an orange~~~" Aku benyanyi. Yap! Satu-satunya cara adalah hanya mengisi tenaga dulu dengan makan JERUK!
Dan tiba-tiba, muncul 20 buah jeruk di dekat kakiku.
"KYAAAAA! MY LOVELY ORENJI!" Ok... Kalian bisa bilang kalau aku itu 4L4Y.
Aku segera memakan jeruk-jeruk tersebut(Yumi: Gak di kupas dulu kulitnya, Rin?|Rin: YA DIKUPAS DULU LAH!|Yumi: Woles we atuh... -_-). Sedangkan pemuda yang ada di seberangku cuman bisa speechless. Kenapa dia speechless ya? (Yumi: Eta teh karna anjeun nganeda jeruk pas bertarung, oon!|Translate: Itu karena kamu makan jeruk saat bertarung, oon!).
"Hei... Kenapa kamu malah makan? Harusnya kan kita bertarung..." Ucap Len sembari mengerucutkan bibirnya.
"Mau ngisi tenaga dulu" Ucapku singkat.
"YANG SERIUS OI!" Teriak Len. Tanpa sengaja, Len menginjak jeruk milikku.
Tunggu... Menginjak jerukku? TIDAK!
"Jerukku..."
Len POV
"Jerukku..."
Em... Aku menghancurkan jeruknya ya? Ah! Peduli amat! Dia kan musuhku! Tapi... Sebenarnya dia imut juga...
Tunggu... Aku bilang dia imut? TIDAK! TIDAK! Dia itu gak imut dan gak cantik kok! (Yumi: Ngaku aja...). GAK! DIA GAK IMUT DAN GAK CANTIK! (Yumi: Gak usah boong gitu dong Len... Ngaku ajah...). ARGHHHHH! Baiklah aku ngaku! Dia cantik dan imut! Puas? (Yumi: Hohoho... Tentu saja...).
Tapi... Kok tiba-tiba ada hawa gelap ya?
Kulihat gadis yang ada di depanku. Dia tengah menundukkan kepalanya. Aura hitam menguar keluar dari tubuhnya. Aduh... Kok aku merasa bakal ada sesuatu yang buruk ya? Ah... Mungkin itu cuman perasaanku...
"Oh~~~ Lalala~~~ Bring me my Road Roller~~~" Gadis tersebut bernyanyi. Tunggu... Road Roller? Bukannya Road Roller itu besar? Tidak mungkin kan kalau membawanya dengan sihir The Vocal. Pasti akan sangat menguras tenaga.
Kulihat gadis tersebut. Di belakangnya terdapat sebuah road roller berwarna kuning. Gadis tersebut menaiki Road Roller tersebut. Hah... Dijamin dia kecapekan...
Kulihat road roller tersebut berjalan dengan kecepatan tinggi ke arahku. Gadis tersebut menyeringai.
... Kutarik kembali kata-kataku, dia tidak kecapekan, melainkan lebih bersemangat.
"Stop that road roller," Ucapku sembari mengerahkan sihirku untuk menghentikan road roller tersebut.
Tunggu... Kenapa road roller tersebut tidak berhenti?!
"Hihihi... Rasakan ini...," Ucap gadis tersebut sembari menyeringai.
"UAAAAAAA! KAA-SAN! HELEP!"
"Hihihi... HUAHAHAHAHAHAHAHAHA"
Gyaaaaaa! Kenapa malah aku yang dikejar?
30 menit kemudian...
"GYAAAAAAAAAAA!"
"HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHA"
Ukh... Aku capek... Mungkin, ini satu-satunya jalan...
"Lalala~~~ Lululu~~~ Give that girl a frog~~~"
Yap! Satu-satunya jalan, adalah memakai sihir The Vocal!
"GYAAAAA! KODOK!"
Gadis tersebut menghentikan road rollernya lalu meloncat turun.
"HUEEEEE! NEE-CHAN! HELP ME!", Teriak gadis tersebut. Kodok tersebut terus mengejar gadis tersebut.
"Fufufu... HAHAHAHAHAHAHAHA," Aku pun tertawa sambil guling-guling di tanah. Sumpah! Kocak!
10 menit kemudian...
Gadis tersebut masih dikejar kodok. Entah kenapa... Aku agak gak tega juga... Tapi, gak apa-apa... Aku kan musuhnya!
BUK!
Eh? Suara apa itu?
"Ukhhhh..." Kulihat gadis tersebut merintih kesakitan. Tampaknya, dia terjatuh.
Kodok tersebut pergi meninggalkan gadis tersebut. Kulihat dengkul gadis itu berdarah. Dia terluka.
"Ukhhh... Ittai... Hiks... Hiks..." Eh? Gadis itu menangis?
Aku pun menghampiri gadis tersebut. Aku pun duduk di tanah karena gadis tersebut juga duduk di tanah.
"Anata wa daijoubu?" Tanyaku kepada gadis tersebut. Kutatap wajahnya.
BLUSH!
Wajahnya... Sungguh manis.
"Ummm... Hiks... W-watashi wa daijoubu... hiks..." Jawab gadis itu.
"Tidak apa-apa bagaimana? Kakimu terluka..." Ucapku yang langsung menggendong gadis tersebut dengan gaya bridal style.
"UWAAAAAA!" Gadis tersebut kaget atas perlakuanku.
"Tenang saja... aku akan mengobatimu..." Ucapku yang langsung membawanya ke Holy River. Fuh... Untung saja tempat pertarungannya dekat sungai.
Aku mendudukannya di tepi sungai dan mencuci lukanya dengan air sungai.
"Ukh..." Dia merintih kesakitan.
"Tahan ya..." Ucapku mencoba menenangkannya.
"H-hai..." Ucapnya.
Kulepaskan dasi yang kupakai dan kulilitkan di dengkulnya yang terluka.
"Ya! Selesai!" Ucapku senang.
"Arigatou gozaimasu... emmm..." Ucap gadis tersebut yang bingung mau memanggilku apa.
"Watashi wa namae Kagamine Allen Len desu. Panggil saja aku Len" Ucapku memperkenalkan diri.
"Arigatou gozaimasu, Len-kun" Ucapnya sembari tersenyum lembut. Ukh... Wajahku mulai panas...
"Douitashimashite... Anu..." Aku mulai bingung memanggilnya apa.
"Watashi wa Kagamine Rilianne Rin. Panggil aku Rin" Ucapnya sembari tersenyum manis. Ah... Wajahku makin panas.
"Douitashimashite Rin-chan..." Ucapku sambil tersenyum. Tanpa aku sadari, kucondongkan kepalaku.
CHU~
Kucium sudut bibirnya...
"Eh?" Kau tampak kaget. Tubuhmu mengejang. Wajahmu merah merona.
"Itu first kiss mu kan?" Tanyaku. Kau hanya mengangguk pelan.
"Baguslah jika aku yang mengambil first kiss mu..." Ucapku sembari tersenyum senang. Aku pun bangkit dari posisiku. Kau mengikutiku.
"TELEPORT! TO BLACK KINGDOM!" Tiba-tiba, muncul lingkaran hitam dengan lambang hexagon di tempatku berpijak. Lingkaran tersebut mengeluarkan cahaya hitam.
"Chotto matte! Dasimu bagaimana?" Tanya Rin.
"Kembalikan saja... Dipertemuan kita selanjutnya" Ucapku sembari tersenyum. Cahaya hitam tersebut menutup tubuhku dan membuatku menghilang dari sana.
Normal POV
'Kuharap... Kita akan cepat bertemu... Len-kun...'
Di sisi lain... Di saat Rin dan Len bertemu...
Rui POV
Aku memilih diam di jembatan. Ya... Daripada hambur-hambur tenaga, lebih baik dihemat.
Aku mengeluarkan cokelat dari saku bajuku. Kubuka bungkus (Yumi: Yaiyalah dibuka... Masa mau dimakan sama bungkusnya...) nya lalu kumakan cokelatnya.
"Kau tenang sekali Rui..." Ucap pemuda yang parasnya mirip denganku tetapi beda gender. Kalian pasti mengetahui siapa orang itu.
"Tentu saja... Buat apa panik, Rei?" Ucapku masih memakan cokelat tersebut.
"Ngomong-ngomong Rui..." Ucap Rei yang mungkin saja menggantungkan kalimatnya. Dapat kulihat wajahnya memerah. Dia kenapa ya?
"Ada apa? Mau langsung berantem?" Tanyaku dengan tenang.
"Bukan itu... Mmmm..." Jawab Rei. Ni anak GaJe amat sih...
"Mau apa? Cepetan ngomong!" Bentakku yang mulai habis kesabaran.
"Mmmm... Boleh bagi cokelatnya gak?"
GUBRAK!
"Ku kira apaan! Gak boleh!" Ucapku yang buru-buru menghabiskan cokelat yang kumakan.
"Huh! Dasar pelit!" Ucap Rei. Grrrr... Ni anak cari masalah banget sih!
"Apa kau? Nantangin berantem?" Tanyaku sembari men-death glare Rei.
"Gak kok!" Jawab Rei.
"Lha? Terus ngapain kau milih musuhnya aku kalau gak mau berantem?" Tanyaku yang mulai bingung.
"Aku emang mau berantem, tapi pake cara yang berbeda" Jawabnya.
"Hah? Cara yang berbeda? Sepertinya menarik..." Ucapku yang mulai tertarik.
"Jadi? Bagaimana caranya?" Tanyaku kepada Rei.
"Caranya mudah. Kita hanya perlu bermain JanKenPon. Yang menang, dia boleh menyerang lawan tetapi lawan tidak boleh bergerak ataupun berlindung," Jawabnya sembari menyeringai.
"Baik! Siapa takut?" Ucapku menyetujui perkataan Rei. Hahaha... Begini-begini pun, aku paling jago bermain JanKenPon!
Aku pun menarik napas dalam-dalam. Menguatkan mental. Dengan percaya diri, aku pun memberi aba-aba.
"Baik! Jan Ken Pon!"
Rei mengeluarkan kertas. Sedangkan aku mengeluarkan gunting.
"Aku menang, Rei-san..." Ucapku dengan tenang. Seperti biasa...
"Baiklah, kau serang aku duluan" Ucap Rei dengan wajah datar. He? Dia tidak takut terluka rupanya.
Aku pun menyiapkan panahku, lalu membidiknya ke arah kaki Rei.
JLEB!
Panahku tepat mengenai lutut Rei. Darah segar mengalir dengan deras. Tetapi, kenapa dia tidak mengerang kesakitan? Apa rasanya tidak sakit?
"Hanya segitukah kemampuanmu? Rui?" Tanya Rei dengan senyum miring. Tatapan matanya dan senyumnya seolah mengejekku. Grrr... Sial!
Rei pun mengambil anak panah yang menancap di lututnya dan tiba-tiba, darah yang mengalir dari lututnya berhenti dan lukanya tertutup dengan sendirinya.
Bersih. Seolah dia tidak pernah terluka.
"A-apa? B-bagaimana bisa?" Tanyaku terkejut. Dinding mentalku mulai runtuh. Aku... Mulai ketakutan...
"Tentu saja bisa... Tak ada yang tak mungkin bagiku..." Jawab Rei masih dengan seringainya.
Aku benar-benar takut. Tubuhku bergetar. Aku berkeringat dingin. Tanpa kusadari, aku menjatuhkan panah milikku.
"Ouw... Tampaknya mentalmu mulai menciut..." Ejek Rei.
"U-urussai! M-mentalku tidak menciut!" Teriakku. Ukh... Kenapa dia bisa tahu? Apa terlihat jelas?
"Terlihat jelas dari wajahmu"
SKAKMAT!
Dia... Menjawab... Seolah-olah membaca pikiranku... Dia... MONSTER!
"A-ayo! K-kita JanKenPon lagi!" Ucapku.
"Jan Ken Pon!"
Arghhhh! Sial! Aku gunting sedangkan dia batu! Mati aku...
"Kau kalah. Giliranku menyerang," Ucap Rei. Dia melempar anak panah milikku.
CRASH!
B-bagaimana bisa? Dia membidik anak panah itu seolah memakai busur. Tetapi, itu hanya menghasilkan luka gores di tangan kananku.
"ARGHHHHHHHH!"
Kenapa ini? Kenapa tiba-tiba tubuhku kaku? Kenapa rasanya sakit?
"Panah tadi... Telah kuberi racun," Ucap Rei. Lagi-lagi dia menjawab pertanyaanku seolah-olah membaca pikiranku.
BRUK!
Tubuhku terjatuh ke tanah. Napasku tersenggal-senggal. Tangan kiriku memegang luka gores ditangan kananku. Mataku terpejam. Mencoba menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhku.
"Bagaimana Rui? Kau sanggup melanjutkan pertarungan?"
Rei POV
"Bagaimana Rui? Kau sanggup melanjutkan pertarungan?" Tanyaku sembari menghampirinya. Fufufu... Bodoh sekali dia. Mau-maunya saja dia menyetujui permainanku. Dengan begini, aku lebih mudah membunuhnya.
Dia tidak menjawab. Dia hanya mengerang kesakitan.
"Cepat jawab BAKA!" Bentakku sembari menendang tubuhnya.
"GRAAAAAAAAHHHH!" Teriaknya kesakitan.
"S-sialan kau Rei!" Ucap Rui.
"Tampaknya kau tak mampu melanjutkan pertarungan..." Ucapku sembari menduduki peruk Rui.
"Khhhh... A-apa-apaan kau?! B-berat!" Bentak Rui. Wajahnya tampak terlihat bahwa dia sedang menahan sakit.
"Karena kau kalah, biarkan aku membunuhmu," Ucapku sembari menyeringai. Dia tampak shock. Tapi dia kembali tenang.
"Bunuh saja," Ucapnya dengan tenang.
"Fufufu... Tampaknya kau memang benar-benar mau mati, Rui..." Ucapku.
"Ya... Aku memang mau mati. Aku mau mati karena aku telah gagal," Ucap Rui.
Kalian mau tahu maksud dari perkataan 'gagal' yang diucapkan Rui? Maksudnya adalah, dia telah gagal mengabdi kepada White Kingdom karena kalah olehku. Daripada dia malu, lebih baik dia mati.
... Sungguh gadis bodoh.
Kuambil busur yang telah kuberi racun. Kulihat Rui memejamkan matanya. Pasrah bila aku membunuhnya. Kulihat setetes air mata menuruni pipinya.
DEG!
A-apa? Kenapa dadaku sakit? Apa... Perasaan itu terbuka kembali?
Tidak! Aku tidak boleh memiliki perasaan itu!
Kenapa perasaan ini terbuka kembali? Padahal aku sudah membuang perasaan ini.
Aku benci ini... Aku benci jika perasaan ini kembali...
Ya. Sebenarnya, Aku mencintai Rui.
Tapi, aku dan Rui, berada di lain pihak.
Benar-benar... Takdir ini, begitu kejam.
Entah kenapa, tanganku menjadi lemas. Anak panah yang kupegang terjatuh. Dan tiba-tiba, aku memajukan wajahku... Dan mempertemukan bibir kami berdua.
Kau membuka matamu. Agak terkejut. Tetapi mulai memejamkan mata lagi.
Hal ini belangsung selama 3 menit. Setelah 3 menit, aku melepaskan bibirku dari bibirnya.
"Aku... Tidak bisa membunuh Rui..." Ucapku pelan.
"... Kenapa?"
"?"
"Kenapa... Kau tidak bisa membunuhku? Kenapa... Kau malah menciumku?" Tanya Rui. Tubuhnya bergetar. Mencoba menahan tangis.
"Aku hanya ingin menyembuhkanmu..." Ucapku sembari menundukkan kepalaku. Ya... Bila kalian lihat, tubuh Rui sudah mulai membaik dari yang sebelumnya.
"Gomen... Jika caraku salah... Tapi, itu cara satu-satunya..." Ucapku. Kudekatkan bibirku ke telinga Rui.
"... Aishiteru, Rui..." Ucapku pelan yang terdengar seperti berbisik. Tiba-tiba, Rui memelukku dan menangis.
"Hiks... Hiks... A-aishiteru, mou Rei... Hiks... Hiks..." Ucap Rui. Apa? Dia juga mencintaiku? Jadi, selama ini perasaanku...
"Ssssttt... Sudah jangan menangis lagi..." Ucapku membalas pelukan Rui. Mencoba menenangkan orang yang kucintai.
Mulai sekarang, aku tidak akan membuang perasaan ini lagi. Aku... Akan tetap mencintaimu, sekarang dan selamanya...
Normal POV
"Gomen, Rui. Aku harus kembali ke Black Kingdom," Ucap Rei sembari melepaskan pelukannya.
"Nandemonai Rei! Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi kan?" Tanya Rui penuh harap.
"Tentu saja Rui..." Jawab Rei sembari mengecup kening Rui.
"Pinky swear?" Tanya Rui sembari menjulurkan jari kelingking kanannya.
"Pinky swear!" Jawab Rei membalas juluran kelingking Rui dengan sebuah tautan jari kelingking miliknya.
"Nah... Aku harus pulang ya..." Ucap Rei sembari melepaskan tautan tangannya dan beranjak dari duduknya diikuti Rui.
"Eh? Chotto matte, Rei!" Panggil Rui. Ia memasukkan tangannya kedalam saku bajunya. Tampak mengambil sesuatu.
"Nani, Rui?" Tanya Rei. Rui pun kembali mengeluarkan tangannya dengan membawa sebatang cokelat.
"Ini cokelat untukmu!" Ucap Rui sembari memberi cokelat tersebut ke Rei.
"Arigatou, Rui-chan!" Ucap Rei sembari mengambil cokelat pemberian Rui.
"Douitashimashite, Rei-kun!" Balas Rui sembari tersenyum manis.
"TELEPORT! TO BLACK KINGDOM!" Ucap Rei. Tiba-tiba, muncul lingkaran hitam dengan lambang hexagon di tempat Rei berpijak. Lingkaran tersebut mengeluarkan cahaya hitam.
"Sayounara Rui-chan... Mata ashita..." Ucap Rei. Cahaya hitam itu menyelimuti tubuh Rei dan perlahan-lahan menghilang.
'Cepatlah kembali... Rei-kun...'
~TBC~
Yumi : Hueeeeee! Maaf kalau GaJe! *nangis*
Len : *blushing*
Rin : *blushing*
Rui : *blushing*
Rei : *blushing*
Yumi : Hiks... Hiks... Baiklah, saya akan membalas review dulu...
Icchi-chan
Eh? *cek Utau wikia* beneran cowok... Ummm... Soal battlenya, ya... Ini kan baru awal-awal... Jadi saya buat romantis dulu XD
Arigatou sudah review
Yami Nova
Ohohoho... Tentu saja! Mereka kan belum melatih kemampuan mereka...
Ini sudah lanjut
Kuroshi Chalice
Ehehehe... Anologi yang anda bilang... Saya rahasiakan XD #tabok
Ini sudah update
Yamigane Alice
Itu? Maksudnya kamu:P
Ohohoho... Kalau disekaligusin, nanti kepanjangan XD
Hai! Arigatou atas dukungan dan reviewnya!
Fuyuuki Rivaille
Ehehehe... Kok tau setiap battle semuanya bakanl di kissu? XD
Soal yang log in duluan... Itu saya kurang tau... Tapi, aku kalau manggil senpai berdasarkan umur bukan berdasarkan siapa yang log in duluan...
Nee, arigatou sudah review!
Chang Kagamine
Kemungkinan besar Rinto x Lenka... #cek list pertarungan# Chap 12... #digampar
Tapi arigatou telah review!
Hatsune Adelia
Maaf ya gak bisa update guntur... Ini sudah update!
Guest
A-ano... Maaf gak bisa update kilat u.u
LopeVoca
Maaf gak bisa cepet update... Pair nya gak akan saya ubah! XD
Byakko Hiyorin
Maaf gak bisa cepet update...
Ah... Sama-sama...
Silahkan fav XD
Hanariko Momoko
Arigatou atas pujiannya...
(anda boleh fav kok XD)
3
Hai! Arigatou! XD
MatsuOichi 022
Salam kenal juga...
Ummm... Chap ini LenRin dengan ReiRui...
Arigatou atas pujiannya XD
18
Ini sudah lanjut XD
Yumi : Hiks... Hiks... Arigatou gozaimasu bagi yang telah baca dan review fic GaJe saya... Akhir kata
Mind to RnR?
