CRIMSON PROJECT (CRIPT)

Chapter 3

Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto ya :D

Genre : Science fiction, romance

Pairing : Naruhina, sedikit Sasusaku

Warning : typo, OOC, belibet, gaje dan lain-lain.

.

.

.

Rumah Sakit Konoha, 15 Agustus 20XX

01.07 PM

Naruto duduk di samping ranjang tempat Sakura dirawat. Menatap sendu ke arah gadis musim semi itu, sambil menggenggam tangannya. Pandangannya tak lepas dari wajah Sakura yang tetap cantik walaupun terlihat sangat pucat dengan selang oksigen di hidungnya.

"Kau tahu Sakura-chan, banyak hal yang terjadi. Setelah kecelakaan yang kau alami aku kalut, marah, takut, emosiku meledak. Tapi aku tak tahu kemarahan ini ditujukan kepada siapa. Pelampiasanku dengan kebut-kebutan malah menghasilkan bencana lagi. Aku menabrak seorang gadis kemudian membawanya ke apartemenku untuk bertanggung jawab atas lukanya dengan memanggil dokter Shizune. Gadis ini tidak bisa berbicara bahasa Jepang ataupun bahasa Inggris. Dan anehnya lagi dia membawaku ke hutan Konoha memperlihatkan sebuah benda atau bisa kusebut pesawat yang bentuknya tak lazim. Bagian dalamnya terlihat canggih. Setelah dari pesawat itu, ia tiba-tiba bisa berbicara bahasa Jepang. Entahlah. Aku tidak mengerti." Naruto menghela nafas sambil memijat pelipisnya. Kepalanya terasa pening.

"Lalu setelah itu, Tou-san mengatakan proyek senjata kita harus dihentikan. Alasannya karena pemerintah menghentikannya dan menarik semua dana. Aku tentu saja tidak terima. Antidotenya belum dibuat. Belum ada cara untuk menyembuhkanmu dan proyek itu dihentikan? Tidakkah mereka memikirkan keselamatanmu?!" Naruto menyampaikan segala keluh kesahnya kepada gadis berambut merah muda yang tak kunjung membuka matanya itu. Sungguh rasanya perih sekali melihat orang yang kau cintai dalam keadaan seperti itu.

"Sakura, aku mencintaimu." Curhatan Naruto selama sekitar satu jam itu ia akhiri dengan satu pernyataan cinta. Perasaan yang sudah mulai tumbuh sejak lama. Namun sayang tak pernah mendapat balasan rasa yang sama. Otaknya sadar percuma saja berbicara, Sakura tak akan mendengarnya. Ia tak akan tau perasaan Naruto dan seberapa besar kekhawatirannya. Tapi hatinya berkata lain. Ia terlalu ingin menyampaikan semua yang ia pendam walaupun tidak ada tanggapan dan jawaban yang diterimanya.

.

.

.

Rumah Sakit Konoha, 15 Agustus 20XX

04.45 PM

Naruto mengerjapkan matanya. Kelopak matanya terasa sangat berat untuk dibuka. Setelah sepenuhnya sadar ia melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

"Hah, sudah hampir jam lima? Tiga jam aku tidur di sini?!"

Beranjak berdiri dari duduknya di sebelah ranjang sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena terlalu lama tidur di kursi dengan posisi yang tak nyaman, kemudian Naruto berpamitan pada Sakura. Ketika melangkah keluar kamar rawat, tak sengaja matanya melihat satu buket bunga yang bertengger manis di meja samping Sakura.

"Dari siapa ya? Rasanya saat aku datang tidak ada bunga ini. Tapi kenapa orang yang kemari tidak membangunkanku?" Karena penasaran Naruto meraih buket bunga itu mencari kartu ucapan yang biasanya ada dan mencantumkan nama pengirim.

"Tidak ada nama pengirimnya. Yasudahlah. Aku harus segera pulang."

.

.

.

Apartemen Naruto, 15 Agustus 20XX

05.38PM

"Tadaima."

"Okaeri."

Naruto sedikit bingung. Tidak biasanya ada yang menjawab salamnya. Apa Okaa-san sedang berkunjung dan masuk dengan kunci cadangan? Tapi suara lembut itu bukan suara Okaa-san.

Saat mencapai ruang tengah Naruto sedikit kaget mendapati gadis misterius yang menangis di dalam pesawat aneh tadi siang. Ohyaa dia baru ingat membawa seorang gadis tak dikenal ke dalam apartemennya lagi. Dan sekarang gadis itu sedang duduk di ruang tengah sambil menggunakan gadget seperti laptop, namun dengan layar hologram. Naruto sudah tak heran lagi melihat ini mengingat kejadian pagi tadi di hutan.

"Aa kau sudah sadar. Bagaimana keadaanmu?" Naruto mencoba bertanya sambil mendudukkan diri di sofa empuk ruang tengah.

"Baik" gadis cantik itu mengalihkan pandangannya dari layar dan menatap Naruto. "Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena telah banyak merepotkanmu. Mari kita mulai dari awal dulu. Namaku Hinata" Gadis dengan iris mata unik berwarna lavender itu mengulurkan tangannya.

Naruto sedikit terkejut namun tetap membalas uluran tangannya sambil tersenyum ramah. "Naruto Namikaze." Beberapa detik ia terpaku pada mata lavender misterius itu tetapi segera tersadar dan membuang pikiran anehnya.

"Bisakah kau menjelaskan padaku tentang semua ini? Siapa kau? Darimana kau berasal? Dan bagaimana bisa menggunakan alat-alat aneh ini?" Naruto melancarkan pertanyaan yang sudah lama dipendamnya.

"Maafkan aku pingsan lagi di hutan tadi. Padahal sudah berkata akan menjelaskan hal penting. Tapi mungkin kalaupun aku mengatakan yang sebenarnya, kau tidak akan percaya."

"Sudahlah katakan saja. Cukup dengan semua hal tak wajar ini dan sebaiknya kau segera kembali ke keluargamu."

Raut wajah Hinata berubah sedih. Ia menunduk dan berkata lirih. "Aku tak mempunyai keluarga lagi. Tempat tinggalku juga sudah hancur. Aku tak tahu harus pulang kemana."

Naruto gelagapan dan merasa bersalah dengan kata-katanya. "Ah ma-maafkan aku. Aku tidak tahu dan tidak bermaksud."

"Tak apa. Sekarang memang aku harus menceritakan banyak hal. Kuharap kau percaya padaku walau cerita terdengar tak masuk akal."

Naruto mengangguk dan memperbaiki posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Hinata. Mata biru safirnya langsung menatap mata lavender tanpa pupil milik Hinata.

"Aku datang dari tempat yang jauh. Belum terjamah manusia. Bahkan mungkin belum ada manusia yang tahu kalau tempat itu ada. Planet yang sangat mirip dengan bumi. Iklimnya, atmosfernya, keadaan alamnya, makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Hanya saja teknologi di sana jauh lebih maju."

"Kau mau mengatakan kalau dirimu alien? Yang datang dari galaksi lain?" Naruto terbelalak. Ia tak menyangka gadis cantik di hadapannya itu bukan manusia.

"Ya. Bangsa kami sama seperti manusia. Walaupun sedikit berbeda dalam beberapa hal."

"Sama? Berbeda? Dalam hal apa?"

"Bisa dikatakan sama dalam morfologi dan perilaku. Namun sedikit berbeda dalam hal fisiologis. Kami memiliki kekuatan dan kemampuan khusus untuk bertarung." Hinata memejamkan matanya. Ketika kelopak matanya terbuka, pembuluh darah disekitar matanya menegang, memunculkan guratan timbul di sekitar mata yang membuatnya sedikit menyeramkan.

Naruto yang terkejut refleks berdiri dan langsung memasang kuda-kuda defensif.

"Tenang saja. Aku tak akan menyerangmu. Ini salah satu contoh kemampuan kami. Dengan mata ini kami dapat melihat pada jarak jauh dengan sudut 360 derajat dan menembus objek. Kami menyebutnya Byakugan."

Naruto mengernyit setengah tidak percaya. Namun ia tidak berkomentar apapun.

"Di dalam kamarmu ada tiga cup ramen yang belum dibuang tergeletak sembarangan di lantai."

Kali ini Naruto menatap gadis di depannya tak berkedip. Bagaimana dia bisa tahu ada tiga cup ramen dalam kamar Naruto? Padahal gadis itu belum pernah memasuki kamarnya dan Naruto tahu pasti dia mengunci kamarnya, kuncinya masih ada di saku celananya.

"Bagaimana bisa?"

"Seperti yang sudah kukatakan. Penglihatan mata ini bisa menembus objek. Hanya saja gambar yang terbentuk hanya citra negatif, tidak berwarna. Masih banyak kemampuan yang lain."

"Lalu, apa yang terjadi pada planetmu hingga kau sampai di sini?"

Mendengar pertanyaan itu, Hinata tertunduk, mencoba menyembunyikan ekspresi wajahnya yang berubah sedih. Sebenarnya ia tak ingin mengingat-ingat lagi betapa mengerikannya penghancuran planetnya, terutama saat-saat terakhir melihat keluarganya, orang-orang yang dicintainya.

"Hei, kau tak apa? Jika kau tak ingin menceritakannya tak masalah." Naruto menepuk bahu Hinata, khawatir dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba.

Hinata sedikit tersentak dengan tepukan pelan di bahunya. Ia langsung tersedar walau bagaimanapun ia harus menceritakan semua yang terjadi pada Naruto, atau akibatnya akan menjadi sangat buruk.

"Kau memang harus tahu tentang ini" ujar Hinata.

.

.

.

Hiashi Hyuuga, ayah dari Hinata adalah seorang ilmuwan hebat yang terkenal di seluruh penjuru planetnya dengan berbagai temuan di bidang astronomi. Hiashi bahkan sudah bisa menemukan pesawat tanpa awak yang dapat bepergian antargalaksi dalam waktu luar biasa cepat. Dari pesawat inilah ia menemukan adanya planet bumi, planet yang sangat mirip dengan planetnya, dan mempelajari apa saja yang ada di bumi, termasuk keadaan alam, penduduk, dan budayanya. Namun semua pencapaiannya juga mendatangkan kabar buruk. Hasil rekaman pesawat ini menemukan alien penjajah antargalaksi yang ingin menginvasi setiap planet yang memiliki persediaan air melimpah. Diketahui target alien ini berikutnya adalah Planet Shinobi, planet tempat tinggal Hinata.

Hiashi yang mendapat informasi ini tentu tak tinggal diam dan memberitahu pemerintah. Dengan seluruh bukti yang ia punya, Hiashi membuat pemerintah percaya dengan laporan dan segera bertindak. Bersama dengan negara-negara aliansi, pemerintah mengadakan rapat darurat internasional untuk mempersiapkan pasukan dan pertahanan serta menerapkan situasi darurat perang untuk seluruh penduduk.

Namun berselang satu bulan, tidak ada serangan apapun yang terjadi. Situasi tetap aman tanpa gangguan yang berarti. Pihak pemerintah mulai meragukan Hiashi. Hingga ia dipanggil untuk menghadap dewan dan pimpinan aliansi. Hiashi benar-benar yakin dengan temuannya, namun saat ditanya apakah ia menemukan informasi lain atas pengintaiannya menggunakan pesawat buatannya, ia tak mampu menjawab. Bukan karena semua laporannya tentang alien dan rencana invasi itu merupakan kebohongan belaka, namun karena satu-satunya pesawat tersebut ia gunakan untuk mengamati planet Bumi, planet yang kemungkinan besar dapat digunakan sebagai suaka sekaligus target berikutnya dari penjajah planet.

Hiashi tentu sudah memperhitungkan ini. Jika ia terus berkonsentrasi pada pengintaian penjajah, kemungkinan terdeteksi oleh musuh akan sangat tinggi, dan ia juga sudah memperkirakan serangan besar ini mengakibatkan kerusakan masiv sehingga penduduk planet Shinobi mungkin harus dipindahkan. Dan bumi adalah salah satu alternatif pengungsiannya. Oleh karena itu ia juga harus segera memperingatkan penduduk bumi.

Namun sayang, pemerintah dan negara aliansi sudah tak mempercayainya lagi. Semua pasukan pertahanan dan militer aliansi yang menghabiskan dana sangat besar ini dihentikan. Hiashi ditahan, proyek pesawat lintas galaksinya dihentikan. Penduduk yang semula sudah bersiap menghadapi kondisi terburuk kini kembali menjalani keseharian seperti biasa.

Langkah yang diambil oleh negara-negara aliansi ini ternyata berujung pada akhir peradaban planet Shinobi. Alien penjajah benar-benar datang, tepat dua bulan setelah penahanan Hiashi, saat tidak ada seorang pun yang sadar bahaya sedang mendatangi mereka. Penduduk planet Shinobi tidak siap dengan serangan mendadak ini. Keadaan menjadi chaos.

Di tengah kekacauan ini Hiashi berhasil keluar dari penjara, kembali ke laboratoriumnya dan menyiapkan pesawat untuk pergi ke bumi. Akan tetapi, semua sudah terlambat. Ia tak bisa menyelamatkan istri dan anak bungsunya. Dengan segala daya yang masih ia miliki, satu-satunya orang yang mampu ia selamatkan adalah putri sulungnya yang sangat ia cintai.

.

.

.

Kirigakure, 15 Agustus 20XX

10.02 PM

DUAAARRR DUAARR DUUAARRR

Ledakan bom yang dijatuhkan dari pesawat tempur mengagetkan seluruh warga Kirigakure, kota kecil negara Konoha yang berseberangan dengan Ame. Bom tersebut dijatuhkan di sebuah tanah lapang tak jauh dari pemukiman penduduk. Orang-orang yang panik berlarian ke luar rumah mencari tempat aman. Suara teriakan menggema beradu dengan bunyi ledakan bom berikutnya yang kali ini dijatuhkan tepat di atas kompleks pemerintahan.

Tak terelakkan lagi, meskipun tidak langsung dijatuhkan ke pemukiman, efek ledakan tetap mengenai penduduk sipil. Rumah-rumah terbakar, puluhan orang tergeletak di pinggir jalan, yang lainnya terjebak di balik puing-puing bangunan dan berhamburan menyelamatkan diri. Sebagian diantara orang-orang yang masih dalam keadaan baik berusaha menyelamatkan yang lain. Mereka yang tak bersalah pun menjadi korban. Tangis, jeritan kesakitan, ketakutan, darah, kota kecil yang semula damai itu berubah menjadi neraka hanya dalam waktu satu malam.

Malam kelam itu menjadi saksi penghancuran Kirigakure. Rasa pedih karena asap kebakaran tak sebanding dengan kepedihan yang dirasakan oleh orang-orang yang kehilangan hal berharga mereka. Tidak hanya harta dan tempat tinggal, namun juga keluarga dan orang yang dicintainya.

.

.

.

Naruto berharap ia segera terbangun dari mimpi buruk. Namun sayangnya ini kenyataan. Semuanya nyata. Mulai dari perang dengan Suna, senjata biologis, kecelakaan Sakura, gadis alien, sampai planet bumi yang akan dihancurkan. Naruto mulai berpikir, apa ini karena dulu ia tak pernah menghiraukan ibunya yang memperingatkan untuk tidak terlalu sering menonton Power Rangers dan Ultraman. Waktu itu ia bercita-cita menjadi pahlawan pembela kebenaran yang menyelamatkan bumi dari monster jahat. Great. Sekarang semua yang terjadi di film anak-anak itu benar-benar akan terwujud.

"Masih bersama kami di Konoha FM. Mohon maaf mengganggu segmen pemutaran lagu mancanegara ini. Berita duka dan mencekam datang dari kota Kiri. Tepat semalam, 15 Agustus 20XX sekitar pukul 10 malam, Kiri telah diluluhlantakkan oleh serangan bom..."

Siaran radio yang ada dalam mobil membuat Naruto tersadar sekaligus terkejut. Daftar masalah kini bertambah lagi. Ah iya, padahal saat ini ia dan Hinata sedang dalam perjalanan menuju Namikaze Tower untuk memberitahukan masalah penyerangan planet bumi kepada ayah Naruto yang notabene adalah salah satu orang kepercayaan Hokage.

.

.

.

Namikaze Tower, 16 Agustus 20XX

09.10 AM

Minato Namikaze menatap dua orang di depannya dengan tatapan menyelidik. Ia merasa semua yang mereka katakan tak masuk akal. Selama ini ia adalah orang yang tidak mempercayai adanya kehidupan lain di luar planet bumi. Namun di sinilah ia sekarang, berhadapan langsung dengan alien yang fisiknya persis seperti manusia. Masih ada perasaan ragu dengan semua laporan yang diterimanya walaupun dengan semua bukti video, foto, dan kemampuan Hinata yang sudah dtunjukkan tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya.

"Untuk saat ini aku belum bisa benar-benar mempercayai kalian. Mungkin kita harus menunggu dulu untuk bisa mengambil tindakan yang tepat. Konoha sedang dalam keadaan tidak stabil. Kalian tentu tahu kota Kiri yang semalam diserang dan Suna dicurigai sebagai dalang dari semuanya."

"Tapi ayah, bukankah akan lebih beresiko jika kita tidak mengantisipasi ini?"

"Kita tidak bisa memutuskan sendiri. Semua harus disampaikan ke Hokage."

"Kalau begitu ayo ke kantor Hokage sekarang."

"Saat ini tidak bisa. Hokage sedang ada rapat darurat menenai kota Kiri."

Dengan jawaban tersebut, Naruto hanya menatap ayahnya tajam kemudian beranjak keluar dari ruangan tanpa mengatakan apa-apa lagi diikuti Hinata di belakangnya yang sempat membungkuk hormat kepada Minato sebelum mengikuti Naruto keluar.

Naruto terus melangkah. Ia berjalan menuju laboratorium yang dulunya digunakan untuk Crimson Project. Tujuannya sekarang adalah berusaha membuat antidote untuk Sakura. Ia tidak akan begitu saja membiarkan wanita yang ia cintai menderita dan terus ada di ambang kematian. Walaupun nanti laporannya tentang penjajahan planet ditolak dan planet bumi berakhir seperti planet Shinobi, setidaknya ia telah berusaha. Berusaha menyelamatkan Sakura, dan berusaha menyelamatkan bumi. Dengan caranya sendiri.

.

.

.

Laboratorium Khusus Namikaze Tower, 16 Agustus 20XX

11.10 PM

Sudah hampir dua jam Naruto bekerja di laboratorium ini, dan hampir dua jam pula Hinata diam di sana hanya memperhatikan setiap gerak gerik Naruto. Hinata sudah bosan. Berkali-kali ia terkantuk-kantuk. Setiap kali bertanya pada Naruto apa yang dilakukannya, apa yang ingin ia buat, apakah ada yang bisa dibantu, hanya satu jawaban yang Naruto berikan, "Kau tak perlu tau. Diam dan tunggu saja."

Sekarang Hinata sudah benar-benar lelah dengan jawaban itu. Tanpa seizin Naruto yang sedang sibuk dengan mikroskop, Hinata diam-diam mengambil sebuah jas laboratorium yang dilengkapi tanda pengenal dan keluar dari ruangan itu.

Setelah berhasil keluar, Hinata berjalan berkeliling. Ia yakin tak akan tersesat karena punya Byakugan. Beberapa orang sempat menatapnya aneh, mungkin karena ia terlihat asing dengan matanya yang unik. Tentu saat ini ia tidak mengaktifkan Byakugannya karena akan semakin terlihat mencolok dan mengundang perhatian.

Langkah Hinata membawanya ke jalan buntu di satu lorong. Hanya ada satu pintu yang bentuknya sangat berbeda dengan pintu-pintu lain di gedung itu. Hinata yang penasaran berusaha masuk ke dalam.

"Ah kenapa terkunci sih." Keluhnya sambil menatap ke dinding di samping pintu.

"Mungkin ini bisa kugunakan untuk membukanya." Tak kehabisan akal, Hinata menggunakan kartu tanda pengenal yang ada di jas labnya untuk mencoba membukanya. Dan...

"Berhasil!"

Perlahan pintu geser itu terbuka menampilkan ruangan dengan peralatan canggih dan seorang pria berambut raven yang duduk membelakanginya.

"Siapa kau?"

.

.

.

TBC

.

.

.

Hayoloh Hinata ketemu Sasuke :o

Saya menyampaikan permohonan maaf karena update yang sangaaatt lamaa. Lagi banyak urusan nih *soksibuk*padahaltidurmulu*bilangajamales*

Untuk semua yang udah review follow favorite, makasih bangeett itu nambahin semangat. Sekarang udah tau kan siapa cewek yang ditabrak Naruto? :D

FYI saya masih kelas 12 (3 SMA) haha. Bentar lagi ujian T-T. Doakan saya ya biar bisa masuk PTN yang saya impikan. Semangaatt !