CRIMSON PROJECT (CRIPT)

Chapter 4

Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto ya :D

Genre : Science fiction, romance

Pairing : Naruhina, slight Sasusaku

.

.

.

Namikaze Tower, 16 Agustus 20XX

03.15 PM

"Hah aku lapaar." Naruto menghela nafas lelah setelah beberapa jam berkutat di laboratorium berusaha menyelesaikan antidote untuk Sakura.

"Hei Hinata, maaf membuatmu menunggu lama." Naruto memanggil sambil melepas jas labnya tanpa menoleh ke belakang. Hinata seingatnya masih setia duduk di kursi tak jauh darinya. Namun ketika ia menoleh, Hinata tidak ditemukan di ruangan itu.

"Hinata? Kau di mana?" Naruto mencari di setiap sudut laboratorium, akan tetapi Hinata tidak ditemukan di mana pun. Ia pun bingung dan panik. Hinata belum terbiasa dengan lingkungan bumi. Berbagai pikiran buruk menghantui Naruto. Bagaimana kalau Hinata diusir petugas keamanan karena tidak memiliki tanda pengenal. Kemudian dia sendirian di jalanan dan bertemu orang jahat. Tidak-tidak. Naruto menggelengkan kepalanya. Lebih baik sekarang dia mencari Hinata.

Dengan langkah lebar dan terburu-buru Naruto menyusuri setiap ruangan yang ada di lantai 27 itu. Orang-orang menatapnya heran, namun tidak ada yang berani menegur. Selain karena Naruto terkenal pintar dan merupakan ilmuwan hebat serta berpengaruh di pusat penelitian itu, ia juga merupakan anak dari pemilik Namikaze Corp.

"Permisi Kotetsu-san, apakah Anda melihat seorang wanita berambut biru gelap sepunggung yang memiliki warna mata lavender di sekitar sini?"

"Tidak, Namikaze-sama. Saya tidak melihat orang dengan ciri-ciri yang Anda sebutkan tadi."

Setelah pria yang ditanyainya itu berjalan pergi, Naruto tak dapat menahan diri untuk tidak mengumpat kasar. "Sial, di mana kau Hinata." Naruto kembali menajamkan matanya mengamati setiap orang yang dapat ia lihat mencari sosok berambut biru gelap panjang. Hasilnya tetap nihil.

Ia berpikir, jika Hinata tidak ditemukan di lantai 27, kemungkinan dia ada di lantai lain. Atau bisa jadi ia memilih turun ke kafetaria mencari makanan. Tapi tunggu, Hinata kan tidak membawa uang. Naruto mengacak rambutnya frustrasi. Terus berjalan tak tentu arah membuatnya lelah. Bersandar di salah satu dinding lorong, kepalanya menengadah mencoba untuk berpikir, ke mana tempat yang paling mungkin di datangi Hinata. Tatapannya tanpa sengaja melihat kamera pengawas yang di pasang di dekat langit-langit.

"Bodohnya aku. Kenapa baru terpikirkan sekarang untuk ke ruang keamanan melihat rekaman kamera pengawas."

Naruto kembali melangkah cepat ke arah lift untuk menuju lantai 20, ke ruang pusat keamanan. Ia tentu punya akses untuk masuk ke sana. Akan tetapi tampaknya keadaan kembali tidak memihak Naruto. Setelah ia menekan tombol untuk turun ke lantai bawah, lift yang ditunggu tak kunjung datang. Naruto menggeram tertahan sambil mengetukkan kakinya yang berbalut sepatu mahal ke lantai.

TIINGG

Lift yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Naruto baru akan melangkahkan kakinya ketika netranya menangkap sosok yang sedang susah payah dicari-cari berdiri dengan santai di dalam lift. Spontan Naruto berjalan mendekat dan menarik paksa Hinata untuk keluar dari lift.

"Kau ini ke mana saja?!" tanya Naruto dengan intonasi tinggi nyaris membentak.

"Hanya berjalan-jalan. Aku bosan berdiam diri di ruangan berbau aneh itu." jawab Hinata santai.

"Haahh baiklah. Sekarang aku lapar. Kita makan di restoran dekat sini."

.

.

.

Rumah Sakit Konoha, 16 Agustus 20XX

05.07 PM

"Mau apa kita ke sini? Kau sakit?" Hinata heran saat mobil Naruto berbelok ke rumah sakit dan bukannya ke apartemennya setelah mereka selesai makan di restoran.

"Tidak. Hanya menjenguk seseorang."

Baru saja Hinata akan membuka pintu mobil ketika Naruto berkata, "Kau tunggu di sini saja."

Hinata mendengus kesal tapi tetap menurut dengan kembali duduk nyaman di kursi mobil. "Semoga orang yang kau jenguk cepat sembuh."

"Terimakasih."

Dua puluh menit berlalu tapi Naruto belum juga kembali. Hinata benar-benar bosan. Daritadi ia hanya sibuk mengganti-ganti channel radio di mobil Naruto dan tidak menemukan satu pun yang cocok untuk didengarkan. Ia jadi berpikir, kenapa hari ini diisi dengan menunggu Naruto terus. Kenapa tidak menyusulnya saja. Oh tidak, Hinata lupa. Tadi dia tidak menanyakan di mana ruangan orang yang dijenguk Naruto. Hinata mengetukkan kepalanya ke dashboard mobil karena kesal. Mau nekat lagi seperti tadi siang, kabur sendiri, nanti malah semakin membuat repot.

Suara mobil yang parkir di sebelahnya membuat Hinata tersadar dan mendongakkan kepalanya. Kebetulan kaca mobilnya memang terbuka. Seorang pria keluar dari mobil itu sambil membawa buket bunga, menoleh ke samping, ia mendapati Hinata yang juga melihat ke arahnya.

"Kau yang tadi siang kan?" Hinata mulai bicara duluan.

Pria tadi, yang diajak bicara, menatap Hinata dan mobil yang ditumpangi Hinata dengan tatapan penuh selidik. Dia sangat mengenali mobil itu.

"Kemana Naruto?"

"Kau kenal Naruto? Dia tadi bilang mau menjenguk seseorang. Sudah lebih dari dua puluh menit dia belum kembali" jawab Hinata sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.

Orang di hadapan Hinata ini tidak menjawab dan malah memberikan buket bunga di tangannya. Hinata yang bingung diberi bunga oleh orang yang baru saja ditemuinya tadi siang, hanya melongo.

"Berikan ini ke kamar A204. Jangan katakan pada siapapun kalau aku datang kemari."

Hinata mengerjapkan matanya bingung, mulutnya sedikit terbuka, ingin mengatakan sesuatu tapi terlalu bingung, kedua tangan yang keluar dari jendela, memegangi buket bunga yang tidak cukup untuk masuk lewat jendela mobil. Tampangnya benar-benar bodoh sekarang. Pria yang membuatnya menjadi seperti ini sekarang malah sudah masuk ke dalam mobil dan bersiap meninggalkan Hinata yang masih sibuk berusaha membuka pintu mobil. Saat Hinata berhasil melepaskan diri dari jebakan buket bunga besar itu, mobil tadi sudah melaju pergi.

"Apa-apaan itu." Walaupun dalam hati ia sangat kesal, tapi Hinata mencoba menahan diri dan tetap sabar. Bagaimanapun, ia tetap harus menjaga tata krama sebagai seorang Hyuuga. Sesampainya di dalam rumah sakit, ia menengok ke kanan kiri, tidak tahu di mana letak ruang rawat inap A204. Seorang suster mendatangi Hinata yang tengah kebingungan.

"Permisi nona, ada yang bisa saya bantu?"

"Ah iya, suster. Di mana letak kamar A204?" jawab Hinata.

"Silakan naik lift di sebelah sana sampai ke lantai 2, setelah itu lurus, kemudian belok ke kanan."

"Terimakasih" Hinata membungkukkan badannya kemudian beranjak pergi sesuai petunjuk dari suster tadi.

Sekarang yang ada di pikirannya adalah bagaimana menjelaskan ke pasien di kamar A204 tentang siapa yang mengirim buket bunga ini. Bisa saja Hinata mengaku kalau ia hanya petugas yang mengantarkan buket bunga pesanan orang. Tapi kalau pasiennya terlalu penasaran hingga bertanya nama pemesan atau ciri-ciri pemesan, Hinata harus jawab apa. Pria yang seenak jidatnya tadi itu melarangnya untuk bicara dan Hinata sebagai orang yang terlalu baik, tentu merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan amanat tersebut. Karena terlalu larut dalam pikirannya, ia baru sadar bahwa ia sudah sampai di kamar rawat A204. Lewat celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat seseorang yang terbaring di ranjang pasien, dan seorang lagi yang duduk di sebelahnya dengan menunduk. Sepertinya orang itu menunggui pasien hingga tertidur. Tunggu, sepertinya Hinata mengenal orang yang tertidur itu. Rambut jabrik kuning cerah, tubuh tinggi tegap, bahu lebar, itukan Naruto. Hinata reflek tidak jadi memasuki kamar itu. Akan semakin sulit menjelaskan pada Naruto bagaimana ia bisa di sini. Pria yang tadi di parkiran kan mengenal Naruto. Sampai hafal mobilnya pula. Akhirnya setelah memantapkan hati, Hinata mengendap-endap masuk ke kamar itu, meletakkan bunga di nakas samping tempat tidur dan langsung kabur kembali ke parkiran. Jangan sampai ketahuan Naruto. Ia tak mau menjelaskan panjang lebar, apalagi sampai berbohong karena ia tak suka berbohong.

Setelah kembali duduk di dalam mobil Naruto, Hinata segera menyalakan AC dengan suhu terendah sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. Naruto kembali di saat yang sangat tepat saat Hinata sudah dapat kembali menormalkan nafasnya sehingga tidak tampak mencurigakan.

.

.

.

Apartemen Naruto, 16 Agustus 20XX

07.57PM

Dalam hati Hinata penasaran dengan orang yang dirawat di kamar A204 tadi dan apa penyakitnya. Kenapa sampai merepotkan dua orang pria dan sekaligus merepotkan Hinata juga. Ia pun memutuskan untuk bertanya pada Naruto yang sedang menata makanan di meja makan yang tadi mereka pesan melalui jasa delivery.

"Naruto, sebenarnya siapa yang kau jenguk? Ia sakit apa? Kenapa lama sekali?"

Naruto melirik sedikit ke arah Hinata. "Sahabatku. Ya sebenarnya aku ingin lebih dari sahabat. Tapi dia..." Naruto menggantungkan kalimatnya, membuat Hinata menoleh ke arahnya. Terlihat sorot kesedihan di wajahnya.

Suasana di antara mereka menjadi berubah canggung. Hinata benar-benar merasakan perubahan ekspresi wajah Naruto yang tadinya datar, sekarang menjadi sedih dan seperti menanggung beban yang berat. Hinata mencoba mulai bicara untuk membuat ketegangan di antara mereka memudar.

"Ano, Naruto. Kalau kau tak keberatan, kau bisa menceritakan masalahmu. Mungkin bisa sedikit meringankan beban. Atau mungkin aku bisa membantumu."

Naruto menghela nafas kasar. Ia sangat lelah hari ini. Sepertinya Hinata benar. Ia harus membagi masalahnya dengan orang lain. Mungkin bisa menjadi jalan keluar.

"Namanya Sakura. Ia sahabatku, rekan kerjaku. Sebuah kecelakaan menimpanya. Bisa dikatakan sekarang ia terkena infeksi virus dan bakteri sekaligus yang belum ditemukan antidotenya. Ceritanya panjang dan rumit. Ini juga ada kaitannya dengan berita penyerangan yang kau dengar tadi pagi di radio, juga dari kata-kata ayahku di kantornya. Dan yah sebenarnya aku menyukainya. Tidak, aku mencintainya. Sudah lama, sejak kami masih sekolah. Tapi, ya begitulah." Naruto tersenyum getir. Ia melanjutkan kembali ceritanya dan Hinata menyimak dengan serius.

Semuanya sudah ia ceritakan, kecuali alasan kesibukannya siang tadi di lab yang sebenarnya untuk membuat antidote untuk Sakura. Ia merasakan beberapa bebannya seolah terlepas, dan membuatnya sedikit lebih lega. Ketika ia melihat ke depan, Hinata sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.

"Hei, kenapa kau yang menangis?" tanya Naruto.

"Aku tidak menyangka masalahmu begitu rumit. Ancaman perang dari negara tetangga, senjata biologis yang memakan korban yang salah, ancaman serangan alien, laporanmu yang tidak dipercayai oleh ayahmu sendiri. Ini tidak hanya menyangkut dirimu sendiri bukan? Tapi juga semua orang di bumi. Mungkin ini salahku juga yang tiba-tiba datang padamu mengadukan masalah yang tidak masuk . Dan ak-aku jadi teringat keluargaku. Hiks.."

Naruto perlahan mendekati Hinata dan mengelus kepalanya dengan lembut. Seperti menenangkan adik kecil yang menangis. "Sudahlah. Ini bukan salahmu. Kau datang ke sini justru untuk memberi peringatan pada kami. Tenang saja, semua masalah ini pasti akan selesai dan bumi akan selamat."

"Ki-kita harus meyakinkan ayahmu lagi. Entah bagaimana caranya. Aku akan membantumu untuk mencari bukti-bukti lain yang akan membuat beliau percaya."

Naruto membalas ucapan Hinata dengan tersenyum lembut. Malam itu Hinata menghabiskan waktu untuk mencari bukti tentang penyerangan alien, sementara Naruto, entah apa yang dilakukannya di dalam ruang kerjanya.

.

.

.

Namikaze Tower, 17 Agustus 20XX

08.00 AM

Hari ini Hinata kembali mengikuti Naruto ke Namikaze Tower. Naruto memberikan ID card padanya dan mengizinkannya berjalan-jalan keliling gedung tinggi itu ke mana pun yang ia suka asalkan tidak mengganggu orang lain. Hal ini karena Hinata yang tidak mau ditinggal sendiri di apartemen Naruto. Naruto juga berpikir tak ada salahnya Hinata ikut dengannya. Jadi, di sinilah Hinata, berdiri di salah satu balkon menikmati terpaan angin sambil menatap kesibukan ibukota Konoha yang sudah ramai di pagi hari.

Ia mengingat-ingat berbagai kejadian yang menimpanya. Mulai dari kehilangan keluarganya, planetnya yang sudah hancur, sampai saat ia bertemu Naruto dan banyak dibantu olehnya. Tanpa sadar air mata mulai mengalir dari sudut matanya, mengenang ibunya, ayahnya, adiknya, keluarganya yang sangat ia sayangi kini semua telah tiada. Kadang ia berpikir, kenapa ia juga tidak menyusul mereka saja. Bukannya akan lebih baik dari pada hidup sendirian di tempat yang benar-benar asing seperti ini. Butiran bening semakin deras mengalir di wajahnya dan hembusan angin pun menerpa semakin kencang. Hinata berusaha menenangkan dirinya, menata kembali perasaannya. Ia teringat, ayahnya berusaha keras untuk menyelamatkannya, mengirimnya ke bumi. Itu artinya ayahnya berharap dia hidup dan menyelamatkan lebih banyak nyawa di bumi. Hinata tersadar, ia memiliki alasan untuk hidup, sesuai dengan harapan dan tanggung jawab yang telah dilimpahkan sang ayah kepadanya. Ia kembali memantapkan hatinya, ia harus bisa menyelamatkan bumi.

Hal lain yang jadi fokus pemikirannya saat ini adalah, bagaimana cara membalas budi pada Naruto yang sudah banyak membantunya. Tidak mungkin kan dia terus bergantung pada Naruto. Dan sebuah ide cemerlang muncul di otaknya. Setelah merapikan penampilannya yang berantakan karena menangis, buru-buru Hinata berjalan menuju ruangan yang ditemukannya kemarin. Ia yakin pemilik ruangan itu sudah ada di sana dan pasti mau membantunya.

Diam-diam Hinata masih menyimpan ID card yang menempel di jas lab yang diambilnya dari lab Naruto kemarin. Apalagi setelah mendengar cerita Naruto kemarin. Pemilik ID card ini bernama Haruno Sakura. Hinata menduga Sakura ini juga punya hubungan dengan seorang pria yang ada di ruangan yang ia tuju sekarang.

Pintu itu terbuka otomatis setelah Hinata menggunakan ID card tadi untuk membuka kuncinya. Seperti dugaannya, di dalam sana telah ada seorang pria yang tampak sibuk melakukan kultivasi bakteri dengan teknik spread plate. Ia hanya menoleh dan tidak mengatakan apa-apa saat Hinata masuk. Mungkin takut bakterinya terkontaminasi. Hinata masih setia menunggunya dengan berdiri tak jauh dari pintu masuk. Selesai dengan cawan petrinya, pria berambut raven itu berdiri, melepas masker dan sarung tangan karetnya, kemudian mendekati Hinata.

"Ada perlu apa kemari? Kau yang kemarin masuk seenaknya dan bertemu lagi denganku di rumah sakit kan?" Tanya pria yang tak lain adalah Uchiha Sasuke itu setelah berdiri di depan Hinata dan menatapnya dengan pandangan mengintimidasi.

"Y-ya. Aku minta maaf karena tindakanku yang tak sopan kemarin." Hinata sedikit gugup dengan sikap pria di hadapannya ini namun tetap pada pendiriannya untuk terus bicara pada Sasuke.

"Hn."

Dan Hinatapun menceritakan tujuannya untuk membantu Naruto dengan membuat antidote untuk Sakura, namun ia tidak menceritakan kalau sebenarnya ia adalah alien dari planet lain yang menumpang tinggal di apartemen Naruto. Ia hanya mengatakan ingin balas budi pada Naruto dengan menolong orang yang berharga untuk Naruto. Sasuke yang mendengar itu hanya bisa tertegun sejenak. Ia dapat melihat ketulusan yang dipancarkan Hinata melalui mata lavendernya yang indah. Dan yang lebih membuatnya kaget adalah bagaimana Hinata bisa tahu kalau ia ada hubungannya dengan Sakura, Naruto, dan antidote tersebut.

"Kenapa kau malah ingin membuat antidote itu denganku? Saat ini Naruto mungkin juga sedang membuat antidote yang sama." Sasuke kembali melihat gadis di depannya penuh selidik. Ia masih berdiri di sana dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.

"Naruto sedang sibuk melakukan hal lain yang juga penting. Aku tak mau semakin merepotkannya. Dan aku menduga Sasuke-san sedang membuat antidote itu."

Sasuke kembali dikejutkan oleh kalimat yang dilontarkan Hinata. Tapi ia berusaha mempertahankan sikap datarnya dan menyembunyikan keterkejutannya. Dalam hati ia berpikir, cerdas juga gadis ini, tebakannya sangat tepat. Ia juga sedang membuat antidote. Dan alasannya tak mau bertemu Naruto dan tidak menjenguk Sakura terang-terangan adalah ia ingin bertanggung jawab dengan kecelakaan yang menimpa Sakura dan tak ingin memicu pertengkaran dengan Naruto.

"Dari mana kau tahu?"

"Melihat apa yang kau kerjakan kemarin dan hari ini. Sikapmu saat di rumah sakit. Dan juga cerita Naruto tentang proyek senjata yang kalian lakukan serta kecelakaan itu. Aku bisa menyimpulkannya."

"Lalu, apa yang bisa kau lakukan? Apa kau mampu melakukan berbagai eksperimen untuk pembuatan antidote ini?"

Hinata menjawab dengan mantap, "Ya, aku cukup ahli di bidang Biochemistry dan Biomedicine." Hinata pun menunjukkan kemampuannya pada Sasuke.

Sasuke melihat sesuatu yang unik pada Hinata. Ia juga merasa Hinata adalah gadis misterius dan punya banyak hal mengejutkan yang ia simpan sendiri. Dan itu membuat Sasuke tertarik. Apalagi melihat kemampuan Hinata di lab, membuat Sasuke semakin yakin untuk bekerjasama dengan Hinata.

"Baiklah, aku menerimamu untuk bekerjasama denganku membuat antidote ini, nona..." Sasuke baru tersadar, ia bahkan belum mengetahui nama gadis ini.

"Hyuuga Hinata."

.

.

.

TBC

.

.

.

Author's note

Cerita ini lebih menitikberatkan pada Naruhina dibandingkan Sasusaku. Jadi saya minta maaf kalau porsi Sasusakunya memang sedikit. Saya agak sulit sih nulis Sasusaku karena kurang dapet feelnya ngga tau kenapa. Dan di sini akan ada love cycle Hinata-Naruto-Sakura-Sasuke, biar agak rumit ajasih. Karena itu, mungkin bakal ada sedikit momen Sasuhina dan Narusaku. Tapi pairnya tetep Naruhina Sasusaku kok.

Terima kasih untuk para pembaca, dari yang masih silent reader, sampai yang sudah review, follow, dan favorite. Maaf belum bisa balas review satu-satu. Sekali lagi terima kasih banyaak. Saya kelas 12 nih, mau UN, SNMPTN juga. Mohon doanya ya