"KITTEN"
Wu Yi Fan & Huang Zi Tao
This is Yaoi fict!
If you don't like the pairing, just close this page please!
You've been warned baby...
.
.
.
Hanya sebuah hal sederhana. Amat sangat sederhan yang diminta oleh seorang Yifan Wu kala ia merasa hidupnya mulai-cukup-sangat-amat-terlalu- monoton dan berwarna monokrom.
Ia ingin Tuhan memberikan sedikit warna dan penyegar.
Agar ia, dapat lebih bersemangat menjalani hidupnya.
.
.
.
.
KITTEN
.
.
.
"Ung~"
Hybrid manis bersurai kelam ini melenguh pelan. Tubuhnya menggeliat kecil kala merasakan sinar samar menerpa wajah cantiknya.
Bangkit dari tidurnya dan menatap tempat kosong di sebelahnya.
Ia menghela nafasnya pelan. Meraba bahu kanannya yang telanjang dimana sebuah gambar hitam bagai tato terlukis disana.
"Master~ Hiks.. Hiks.."
Kitten manis ini menangis dalam diam. Meremat sprai putih yang membalut tubuhnya seraya menenggelamkan wajahnya. Diantara kedua lututnya.
.
.
.
"Urus proposalnya... Aku mau dokumen itu selesai siang ini..."
"Rapat dengan direktur Han jam 7 malam nanti.. Tolong periksa kembali jadwalku..."
"Aku akan pergi untuk melihat pembangunan hotel... Siapkan mobilku..."
Kalimat bernada memerintah dan terdengar tak sabar itu terlontar dari belah bibir pria tampan ini sedari pagi. Dengan sepasang darkchoco yang sibuk menatap layar laptop dan bahu yaang mengapit handle telpon.
"Baiklah... Pesan tiket ke Jepang untuk besok pagi... Terima kasih..."
Prak!
Meletakkan handle telpon dengan kasar, pria inipun menghela nafasnya pelan. Memijat pangkal hidungnya dengan lelah.
Cklek
Sesosok wanita dengan jeans dan sweater putih tampak memasuki ruangan itu. Surai kelamnya terkepang satu dan netra karamelnya terbalut kaca mata bundar.
"Mau kopi?"
Yifan Wu mengangguk pelan. Menyandarkan tubuhnya pada kursi singgasananya. Menatap kearah jendela.
"Tidak berniat untuk mengambil cuti Wu? Kau bisa mati muda jika terus memaksakan diri..."
Yun Xiao Zhi. Wanita yang menjabat sebagai sekretaris Wu Empire sekaligus sahabat dari sang pangeran Wu itu berujar seraya duduk di kursi.
Menatap prihatin pada sahabat naganya yang terlihat lelah. Mengingat betapa menumpuknya pekerjaan dan masalah pada perusahaan.
"Aku belum bisa melakukannya Xiao-er... Banyak hal yang harus kuurus.. Kita sedang berada di puncak dan angin sedang berhenbus kencang... Aku harus menjaga pondasi agar tak rubuh.."
"Lalu bagaimana dengan Zitao? Sudah berapa lama kucing manis itu kau abaikan?"
Yifan terdiam. Menatap sahabatnya dengan pandangan tak mengerti.
"Aku tak pernah mengabaikan Zitao..."
Xiaozhi tersenyum. Bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekati Yifan. Menyerahkan segelas kopi pada pria tampan itu, kemudian mengacak surai brunettenya pelan.
"Terkadang apa yang kau katakan, tak selalu sesuai dengan kenyataan Wu.."
Dan setelahnya, Xiaozhi pun melangkah pergi. Meninggalkan Yifan yang terdiam seraya memandang pekatnya kopi dalam genggamannya.
"Zitao... Apakah benar?"
"Apakah aku..."
"Sudah mengabaikanmu?"
.
.
.
Semenjak masa heat yang berakhir dengan sex pertama malam itu, Zitao merasa Yifan Wu adalah detak jantungnya.
Pemuda manis itu begitu bergantung pada Yifan. Tak bisa dipisah lama-lama.
Juga tato hitam dengan gambar liong kecil yang terdapat pada bahu kanannya. Muncul dengan tiba-tiba setelah mereka melakukan sex pertama itu.
Entah apa yaang sebenarnya terjadi Yifan tak tahu karena Zitao menolak untuk menjelaskannya.
Kitten hybrid cantik itu hanya berkata bahwa tato itu muncul sebagai tanda kepemilikkan Yifan atasnya.
Pria Wu itu hanya tak tahu bahwa yang memegang kendali atas hidup Zitao adalah dirinya. Karena Yifan adalah nafas bagi kitten itu.
Dan ketika Yifan pergi menjauh darinya, bisa dipastikan jika pemuda bersurai kelam itu akan kehilangan nyawanya.
.
.
.
"Xiao jie.."
"Yes baby Tao?"
"Master Yifan... Kemana?"
Xiaozhi yang tengah menata makan malam menghentikan kegiatannya. Menatap sepasang blackpearl polos Tao yang terlihat sendu.
Meletakkan piring berisi tumisan seafood kesukaan si manis bersurai kelam itu, wanita dengan sepasang manik karamel itupun menghampiri Zitao. Menarik kursi di sebelah pemuda manis itu dan duduk diatasnya.
"Naga idiot itu pergi ke Jepang untuk beberapa hari... Ada hal penting yang harus ia urus disana..."
"Apakah lama?"
Mengusap helaian kelam Zitao dengan lembut, Xiaozhi pun tersenyum simpul.
"Hanya tiga hari Taotao... Kau tenang saja.." ujarnya meyakinkan. "Apakah.. Kau merindukannya?"
Zitao menundukkan kepalanya. Telinga animalnya menekuk sayu dan ekornya terkulai lemah.
"Hiks.. hiks.."
Tanpa Xiaozhi duga, kitten manis itu terisak pelan di tempatnya. Meremat celananya tanpa wanita itu ketahui.
"Tao... Hiks.. Hiks.. Merindukan Master Yifan miaw~ Benar-benar... Merindukannya..."
Xiaozhi merengkuh tubuh Tao dalam pelukannya. Membiarkan kitten itu menumpahkan segala kegalauannya dengan menangis.
'Dasar naga sialan.. Awas saja jika dia mengundur waktu kepulangannya.. Akan kukebiri dia hingga tak bersisa...'
.
.
.
"Terima kasih untuk waktumu yang sangat berharga Presdir Wu... Aku harap kerja sama ini akan berlangsung lama..." ujar seorang pria paruh baya seraya menjabat jemari Yifan yang berada di hadapannya.
Yifan tersenyum. Balas menjabar jemari pria paruh baya itu dengan sedikit menunduk hormat.
"Aku pun merasa sangat terhormat bisa berinvestasi di perusahaanmu Presdir Han..."
Presdir Han terkekeh pelan. Memuji betapa baiknya attitude pria tampan dihadapannya. Menepuk pelan bahu Yifan yang lebih tinggi darinya.
"Omong-omong... Apa statusmu saat ini Presdir Wu?"
"Maaf?"
"Begini, kau masih muda... Umurmu bahkan belum menginjak tiga puluh... Tapi, dari kabar yang kudengar kau masih sendiri... Apakah kau tidak berniat mencari kekasih.. Atau.. Calon isteri mungkin?"
Yifan terdiam. Pikirannya melayang pada sesosok manis yang menghantui pikirannya beberapa hari belakangan. Sosok yang berhasil menyita seluruh atensinya selama satu bulan ini.
Tiba-tiba saja, ia merasakan nyeri di hatinya. Entah karena apa, namun yang pasti rasa itu membuat dadanya sesak.
"Presdir Wu... Kau tak apa?"
Yifan mengerjap pelan. Memandang Presdir Han yang menatapnya khawatir.
"Y..ya? Aku tidak apa..."
"Tapi kau menangis..."
Pria dengan surai brunette ini membola. Meraba pipinya yang tak terlalu basah. Tak percaya.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu Presdir Wu?"
Yifan menggeleng pelan. Berusaha menghilangkan kegundahan yang tiba-tiba menggerogoti hati dan pikirannya.
"Aku baru ingat jika ada hal penting yang harus kukerjakan... Terima kasih untuk hari ini Presdir Han... Aku permisi..."
Dengan cepat Yifan melangkah. Meraih ponsel pintarnya dan mendial seseorang.
Sayangnya, nomor itu tak dapat dihubungi sama sekali. Membuatnya berdecak kesal, kemudian mencoba mendial nomor lainnya.
"Shit! Yun Xiao Zhi angkat telponnya!"
Pria Wu ini hampir berteriak marah jika tak sadar bahwa ia masih berada di kantor relasinya. Dengan tak sabaran, ia melangkah menuju mobilnya. Memasukinya kemudian melajukannya cepat.
Kembali menekan beberapa nomor pada ponsel pintarnya.
"Pesankan aku tiket... Penerbangan darurat ke Beijing... Cepat atau kupastikan kau akan kuusir dari kantorku..."
Setetes air mata kembali turun meembasahi pipi pria tampan ini. Hanya mengalir. Tanpa ada isakan.
"Zitao... Tunggu aku..."
.
.
.
"Hiks.. Hiks.. Sakit..."
Zitao meraung diatas ranjangnya. Terengah hebat seraya meremat bahu kanannya dimana gambar liong yang terlukis disana tampak memerah.
"Master... Hiks... Hiks... Tolong Tao..."
Kitten ini tak tahu lagi harus bagaimana. Ia sendirian dirumah.
Xiaozhi meninggalkannya untuk menghadiri rapat penting. Wanita itu bahkan terlihat begitu terburu.
Sekarang ia hanya seorang diri. Kesakitan dan tak dapat meminta pertolongan siapapun. Bahkan untuk bangkit pun ia tak mampu.
"Arrgggghhhhh!"
Kitten ini menjerit sekuat yang ia bisa. Semakin meremat bahu kanannya yang terasa remuk. Dadanya terasa sesak dan nafasnya mulai putus-putus.
Zitao merasa nyawanya akan pergi meninggalkan raganya. Pandangannya perlahan memburam. Bagai berputar dan tak berhenti.
Satu-satunya hal yang dapat ditangkap oleh inderanya adalah suara pekikan nyaring dari lantai bawah. Disusul oleh derap langkah dan dobrakan pintu.
Dan seketika, semua gelap.
.
.
.
Prak!
Yifan mengerjapkan kedua matanya. Nafasnya memburu dan peluh membasahi dahinya.
Melihat sekelilingnya dan mendapati suasana ramai pada kabin tempatnya duduk.
"Presdir Wu sudah bangun?"
Tepukan hangat pada bahunya segera mengambil alih atensinya. Membuatnya menolehkan kepala dan mendapati seorang wanita cantik tersenyum padanya.
"A..ah.. Apakah aku tertidur? Jam berapa sekarang?"
"Presdir sudah tertidur sejak kita berangkat tadi... Sekarang pukul delapan malam dan lima belas menit lagi pesawat akan mendarat... Apakah ada hal yang Presdir inginkan? Teh hangat mungkin?"
"Tidak... Aku baik-baik saja..."
Pria Wu ini menoleh kearah jendela di sebelahnya. Mendapati pemandangan kota Shanghai yang terlihat indah oleh lampu-lampu yang menyala.
"Jadi tadi aku bermimpi?"
"Tato itu... Ada yang tidak beres dengan Tato itu..."
AKHIRNYA KAU BERHASIL ANAK MUDA!
MENJADI SEDIKIT PEKA MENYENANGKAN BUKAN?
KUCING HITAM ITU KUHADIAHKAN UNTUKMU..
DIA SEDIKIT NAKAL DAN SUSAH DIATUR..
AKU HARAP KAU BISA MERAWATNYA DENGAN BAIK...
DIA BISA MATI JIKA KAU ME...AL..NYA..
SELAMAT MENIKMATI HARIMU!
TERTANDA: NENEK LIU
Ingatan Yifan tertuju pada surat usang milik nenek Liu. Bagian yang hilang itu menjadi fokusnya kini. Membuatnya merasa terganggu dan dilema.
"Aku harus menemuinya.. Nenek Liu pasti tahu tentang Tato itu..."
"Tunggulah Tao.. Aku akan segera menemuimu.."
.
.
.
Hari kian larut. Langit pun kelam karena tertutup awan kelabu. Pertanda hujan akan datang.
Yifan melangkah memasuki Yu Garden. Melihat sekelilingnya yang tampak begitu sepi. Mendekati sebuah danau buatan yang biasa didatanginya dulu untuk berdoa dan berdiri disana.
"Kau mengabulkan doaku... Menjawab keinginanku.. Dan memberikan warna dalam hidupku..."
"Tapi aku merasa ada yang aneh dengan itu semua... Nenek Liu, Zitao, tato liong kecil itu dan persyaratan yang hilang itu..."
Menghela nafasnya pelan, Yifan mulai memejamkan kedua netranya. Meresapi angin malam yang menyapa tubuhnya.
"Lama tidak berjumpa anak muda..."
Kedua netra Yifan terbuka kala mendengar suara tenang itu. Menoleh kesebelahnya dan mendapati sosok misterius yang selama ini dicarinya. Namun seketika ia membola saat melihat sosok kitten mungil berbulu kelam yang tertidur dalam dekapan wanita tua itu.
"Nenek Liu?! Kenapa Zitao bisa ada padamu?!"
Nenek Liu tersenyum lembut. Mengusap puncak kepala Zitao pelan. Memberikan kenyamanan pada si manis yang masih bermimpi itu.
"Sebagai majikannya terdahulu, aku bisa merasakan jika terjadi sesuatu pada kucingku.. Dan sore tadi, aku benar-benar merasakan hal yang buruk akan terjadi pada kucing manisku..."
Pletak!
"Awshhh! Nenek apa yang kau lakukan?!"
Yifan memekik kesal. Menatap tajam seraya mengusap-usap kepalanya yang dipukul tiba-tiba oleh nenek Liu.
"Kau masih berani bersikap kurang ajar setelah menelantarkan kucing manisku selama hampir satu bulan hah?!"
CEO Wu Empire ini melongo. Terkejut dan tak menyangka bahwa wanita tua yang ia pikir begitu ramah dan bersahaja itu bisa mengamuk juga.
"Aku tidak pernah menelantarkannya nenek... Aku hanya terlalu sibuk bekerja dan mengurus masalah di perusahaanku... Aku juga tersiksa karena tidak bisa menghabiskan waktuku bersamanya..."
Nenek Liu menghela nafasnya pelan. Menatap wajah frustasi Yifan kemudian beralih pada danau tenang dihadapannya.
"Layaknya seekor kucing.. Ia akan merasa tak berguna jika diabaikan... Begitu pula Zitao..."
"Gambar Liong kecil itu memang tanda bahwa ia telah menjadi milikmu seutuhnya.. Namun selain itu, tato itu juga bisa membunuhnya..."
"A..apa?!"
Yifan menatap nenek Liu tak percaya. Merasa aneh dengan segala sesuatu yang diutarakan oleh wanita tua itu.
"Itu tidak masuk akal nek! Apa hubungannya tato dengan nyawa seseorang?!"
"Karena yang seperti Zitao diciptakan untuk melayani Tuannya... Jika sang Tuan tidak puas dan tak lagi menganggap kehadirannya, hidupnya akan berakhir..."
"Tepat pada saat kau memilikinya seutuhnya, tubuh, pikiran, dan jiwa kalian berhubungan erat.. Dan Zitao akan bergantung padamu... Jadi saat kau bertindak seolah menolaknya, tubuhnya akan bereaksi.."
"Jangan seklipun mencoba meninggalkan dan mengabaikannya... Zitao merasa bahwa kau bosan padanya... Dan dirimu yang kurang memperhatikannya membuatnya semakin sedih..."
Yifan mengangguk paham. Mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh nenek Liu.
"Apakah zitao baik-baik saja?" tanyanya lirih seraya memandang sedih kitten manisnya.
"Tentu saja baik... Dia hanya stress.. Dan tidak menyadari kalau ia harus membagi tubuhnya untuk satu nyawa lain yang mulai tumbuh di perutnya..."
Wanita tua itu menyerahkan si manis Zitao pada Yifan. Mengabaikan wajah idiot sang Presdir Wu yang berusaha memahami ucapannya.
"A..apa maksud nenek?"
Tersenyum ramah, nenek Liu pun menepuk bahu Yifan bangga. Melangkah menjauh seraya berujar pelan.
"Kucingmu itu sedang mengandung.. Dan akan jadi sangat menyusahkan nantinya... Aku akan mengunjungi kalian jika punya waktu senggang.. Semoga kalian berbahagia selalu..."
.
.
.
"Unghhhh"
Pemuda cantik dengan sepasang telinga animal hitam ini melenguh pelan. Merasa terganggu dengan kecupan-kecupan pelan di bahunya.
"Wake up peach.."
Mengerjapkan kedua blackpearl indahnya perlahan. Zitao dapat melihat dan merasakan sosok tampan yang tengah mendekapnya. Erat dan hangat.
Seketika kitten hybrid ini beringsut bangkit dari tidurnya. Menatap tak percaya soso Yifan yang berbaring disebelahnya.
"Ma... Master Yifan?"
"Yes babe.. I'm here.."
Mengusap pelan wajah tampan itu. Seakan menemukan harta terpendam yang berharga.
"Tao fikir Master tidak akan pulang.. Tao fikir Master tidak akan pernah mau menemui Tao lagi.."
"Hiks... Hiks..."
Isakan pelan berhasil lolos dari belah bibirnya. Menutup wajah manisnya dengan kedua tangannya.
"Shhh... mengapa menangis sayangku? Hmm?"
Mendudukkan dirinya dan membawa si kitten duduk di pangkuannya. Kembali memeluk dan mengecupi bahu Zitao yang telanjang.
"Zitao... Hey... Jangan menangis sayang... Aku disini..."
"Hiks.. Hiks.. Apa... Hiks.. Apakah master... Hiks.. Membenci Tao?"
Yifan menggenggam kedua lengan Tao. Menjauhkannya dari wajah manis kitten hybrid itu. Menampilkan pahatan cantik yang mampu membuatnya tersenyum.
"Kenapa berkata seperti itu sayang?" tanyanya seraya menyingkirkan helaian surai kelam yang menutupi kening Zitao.
"Master.. hiks... Mengabaikan Tao.. hiks.. hiks.. Tidak.. Sayang lagi pada Tao..."
Terkekeh pelan, pria Wu ini mengecup gemas pipi gembil kucing manis itu. Berkali-kali hingga akhirnya isakan Zitao berhenti.
"Dengar... Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membencimu.. Aku mencintaimu Zitao.. Dengan segenap hatiku... Jadi kau tak perlu khawatir ataupun takut... Karena aku adalah milikmu... Wu Yi Fan adalah kepunyaan Huang Zi Tao... Kau mengerti kucing nakal?"
Balckpearl Zitao menatap dalam sepasang darkchoco milik Yifan. Mencari setitik kebohongan yang berujung sia-sia.
"Benarkah? Master Yifan milik Tao seorang miaw?
"Mutlak milikmu Baobei.."
Sebuah senyuman indah terbit pada wajah cantik Zitao. Menampilkan jejeran gigi mungil berhias taring yang begitu menggemaskan.
"Kalau begitu... Tao mau cium Master... Boleh?"
Kembali terkekeh melihat tingkat malu-malu kittennya, Yifan pun mengangguk. Merengkuh pinggang ramping Zitao dan mengikis jarak diantara mereka.
Zitao mengarahkan telapaknya pada wajah Yifan. Menangkup kedua sisi rahang tegas pria Wu itu kemudian mendekatkan wajahnya.
Chu~
Mengecup pelan bibir tebal Yifan. Beberapa kali hingga membuat pria Wu itu tertawa pelan.
"Tao mencintai Master miaw~"
"Aku pun begitu mencintaimu sayang... Aku amat sangat mencintaimu..."
Kitten manis itu pun memeluk tubuh Yifan erat. Mengusakkan pipi gembilnya pada ceruk leher Masternya. Membiarkan dirinya tenggelam dalam kenyamanan yang begitu ia rindukan.
Bersama Yifan, nafas hidupnya.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
